Yuk, wujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah

Thursday, November 30, 2006

Permintaan Seorang Anak

Saya punya seorang teman yang kepala sekolah SMP negeri, dia memiliki ibu yang berjualan di pasar. Pada usia lanjut Ibunya berjualan peniti, jarum, benang, kaca, bedak, sumbu kompor. Pada satu kesempatan dia meminta ibunya untuk pensiun berjualan selain tidak tega melihat ibunya terkena panas matahari namun juga demi keselamatan sang ibu. Dia bersedia mengganti uang penghasilan ibu berjualan setiap harinya.

Kata ibunya, “Emang kamu pengen liat ibu cepet mati ya?”

« Astaghfirullah ibu, bukan begitu maksud saya. Saya cuman pengen ibu istiharat menikmati masa tua. » jawab sang anak.

Ibunya bertutur bahwa baginya kehidupan dan kebahagiaan dirinya adalah berjualan sebab dari berjualan itulah dia bisa beramal dan bersilaturahmi dengan orang lain. Kalo dirinya diminta berhenti berarti dirinya tidak ada aktifitas beramal dan bersilaturahmi.

Penjual Peci

Setiap kali saya bertemu orang seperti berenang dilautan kearifan. Kearifan itu seolah menjadi satu pada diri sosok yang biasa dan tidak bernama. Pertemuan dengan orang lain buat saya berarti sama halnya mendidik diri sendiri, berempati bahkan juga terlibat dalam pergumulan batin yang melahirkan pencerahan.

Pencerahan itu juga saya dapatkan ketika saya bertemu dengan penjual peci yang beberapa hari menjelang lebaran yang lalu. Sosok raut mukanya berseri, dia bertutur bahwa sudah hampir 35 tahun dirinya berjualan peci. Saya bertanya padanya, “Bapak apa yang menarik dari menjual peci?”

Katanya menjual peci adalah pekerjaan yang mulia yang memiliki makna untuk selalu mawas diri. “adek tau apa artinya peci?” tanya si penjual peci. “Tidak pak.” Jawab saya. “Peci itu artinya pikiran suci, Maknanya agar kita menjaga kesucian pikiran kita dari belenggu dan kotoran-kotoran hawa nafsu.” Kata si penjual peci itu.

Kalah Dari Setannya Sendiri

Pernah satu malam saya dimasjid ada seorang mubaligh muda yang sedang gelisah dengan pak haji. “Pak haji, kondisi umat sekarang sangatlah memprihatinkan, banyak kemaksiatan dan susah diajak ke jalan yang benar. Itulah sebabnya saya berhenti untuk berdakwah.”kata mubaligh muda seperti kehilangan gairahnya.

Pak Haji itu mengatakan, “anak muda, kenapa umat engkau salahkan? Bukankah semakin canggih engkau berdakwah, semakin canggih punya setanmu menggoda dirimu? Jika engkau berhenti berdakwah berarti itu kekalahan diri dari setanmu sendiri.”

Komentar aja dikit, setan dan malaikat selalu melekat pada diri kita. Sewaktu kita bodoh setannya juga bodoh. Semakin kita pintar setannya juga semakin pintar. Kenapa jika ada kesalahan dan kekalahan kita selalu menyalahkan orang lain? Cobalah tengok ke dalam diri kita, begitulah kata Ebiet G Ade. Barangkali bisa menemukan semua kesalahan diri kita.

Jangan Lompat Pagar

Setiap sholat berjamaah biasanya selesai sholat berdoa bersama setelah itu bersalam-salaman. Ada salahsatu jamaah yang sepuh selalu mengatakan, “kalo keluar masjid jangan lompat pagar ya..”

Buat saya agak aneh sebab masjid ditempat saya pagarnya terbuat dari besi dan pintu masjid terbuka lebar, kenapa mesti lompat pagar. Begitu pikir saya. Karena saking seringnya jamaah yang sepuh itu mengatakan membuat saya bertanya jamaah yang lainnya. “Apa sih maksud dari perkataannya, Jangan lompat pagar? Bukankah pintu masjid tidak pernah dikunci.” Tanya saya.

Salahsatu jamaah menerangkan pada saya. Bahwa orang itu mengingatkan pada kita setelah selesai sholat keluar dari masjid janganlah kita melanggar norma-norma agama. Itulah maksudnya jangan melompat pagar.

Monday, November 27, 2006

Dzikir Destruktif

Ada seorang tamu yang datang kerumah, dia bertutur salah satu kerabatnya sangat rajin berdzikir, karena begitu bersemangatnya berdzikir kerabatnya itu kemudian menjadi gila. Tamu itu bertanya pada bapak kenapa bisa begitu.

Bapak menjawabnya, “Setiap perbuatan tergantung dengan niatnya. Demikian halnya berdzikir jika dipenuhi dengan keinginan dan berbagai hawa nafsu dzikir itu menjadi dzikir destruktif sehingga berakibat fatal bagi yang berdzikir. Dzikir yang sehat selalu bersamaan dengan berpikir dan beramal dengan diniatkan karena mencari ridha Allah SWT semata. Jika berdzikir, berpikir dan beramal telah berkelindan menjadi satu maka itu menjadi perbuatan yang produktif.

Dirikanlah sholat

Pernah suatu hari ada ustad mengisi pengajian dengan remaja masjid, ada salahsatu remaja yang bertanya, “Kenapa ada orang yang rajin setiap hari kelihatan tekun sholatnya namun suatu hari dikejutkan bahwa dia korupsi?”

“Didalam Islam perintah sholat bukan perintah mengerjakan sholat semata, namun perintahnya adalah “dirikanlah sholat. Perintah itu adalah perintah agar sholat menjadi bagian dari diri kita. Jalan kita, tidur kita makan kita, kerja kita bermain kita adalah sholat kita. Jika sholat bagian dari diri kita korupsi takkan terjadi.” Jawab ustad tersebut.

Istri Yang Penurut

Ada seorang suami yang jarang pulang, sang istri selalu mengingatkan bahwa dirinya sebagai suami memiliki tanggungjawab. Oleh sebab itu istrinya meminta untuk selalu pulang ke rumah setiap pulang kerja. Karena tak digubrisnya istri membiarkan suami jarang pulang ke rumah. Lama kelamaan istrinya-pun jarang pulang juga.

Pada suatu hari suaminya pulang tak dijumpai sang istri di rumah. Di saat istrinya pulang, suaminya marah-marah. “Kamu ini bagaimana suami pergi, kamu malah juga ikut pergi.”kata sang suami.

“Dulu sewaktu kamu jarang pulang, saya selalu mengingatkan dan tak pernah digubris. Ketika aku mengikuti apa yang kamu lakukan, dirimu malah marah-marah. Kalo gitu mana yang harus aku ikuti.” Kata istri yang penurut.

Sekedar catatan bagi para suami bahwa perbuatan kita lebih bermakna daripada seribu kata-kata. Jika perbuatan itu adalah perbuatan baik atau perbuatan buruk semuanya akan menjadi teladan bagi istri dan anak-anak kita.

Bagaimana menurut anda

Diluar Tembok Masjid Berkubah Emas

Pergilah ke Depok yang ada masjidnya berkubah emas, anda akan berdecak kagum, bagaimana tidak, selain kubah dengan menara emasnya juga ada lantai yang terbuat dari marmer. Halaman masjid yang luas dengan taman dan berbagai tanaman berbagai buahnya.

Ada seorang teman yang tinggal diluar tembok masjid berkubah emas, dia bertutur ada yang membuat saya lebih kagum, yang kekaguman saya melebihi dari masjid berkubah emas itu. “apa itu?”tanya saya.

“Tepat diluar tembok masjid berkubah emas, saya menyaksikan ada seorang ibu yang mengasuh anak-anak yatim dengan memanggil bunda, bunda dengan tulusnya, perempuan yang dipanggilnya bunda itu menciuminya anak-anak yatim dengan lembutnya. Adakah perbuatan yang lebih mengagumkan daripada memuliakan anak yatim?” Tutur teman

Tuesday, November 21, 2006

Guru Kehidupan

Saya pernah diundang oleh pengajian ibu-ibu disalahsatu mushola. Saya bercerita bahwa orang baik dan orang jahat adalah guru kehidupan buat kita. Bukan hanya orang baik yang mengajarkan arti kehidupan namun juga orang jahat terkadang juga memperkokoh aqidah kita, tergantung bagaimana kita mampu memetik hikmah pada setiap kejadian yang kita alami. Jika kita pandai mensyukuri nikmat, kejadian yang kita anggap sebagai musibah bisa berubah menjadi berkah.

Selesai pengajian ada seorang ibu menghampiri, ibu tersebut bertutur bagaimana dirinya dan suaminya menemukan guru kehidupan dari orang yang jahat. Suami seorang pengusaha namun tidak pernah beribadah, termasuk tidak pernah menjalan ibadah sholat lima waktu. Sampai pada suatu hari usaha bangkrut karena krismon, hampir setiap hari didatangi debt collector untuk menagih hutang. Karena ketakutan terus diterror, suaminya menjadi rajin sholat lima waktu, puasa senin kamis bahkan sholat malam untuk memohon kepada Allah SWT supaya terlepas dari musibah. “Alhamdulillah tidak begitu lama, kami bisa melunasi hutang dan sampai sekarang suami saya tetap taat beribadah karena penagih hutang yang berwajah bengis itu.”kata ibu pengajian.

Hikmah dari cerita diatas bahwa penagih hutang yang awalnya dianggap jahat ternyata mampu merubah sikap orang yang awalnya lupa kepada Allah SWT menjadi hamba Allah SWT yang senantiasa sujud memohon pertolongannya dan berserah diri diharibaanNya. Pada kehidupan sehari-hari untuk bisa merubah perspektif terkadang kita memang butuh kondisi kritis. Yang menjadi pertanyaan, apakah perubahan perilaku itu mesti menunggu kondisi kritis dulu? Bukankah teramat mahal untuk sebuah perubahan?

Ikan Pedak

Setiap bertamu pada rumah teman, sahabat atau kawan dekat selalu memiliki ciri yang bebeda. Sewaktu di triple aiti, ada seorang pengurus yang suka menjamu mulai makanan pembuka, pengisi perut bahkan pencuci mulut. Ada seorang teman yang mengatakan kebiasaan orang timur tengah menjamu tamu memang seperti itu. Tidak peduli kawan dekat atau kawan jauh. Saudara atau tetangga selalu dijamu dengn hormat.

Selain itu saya juga bertandang pada seorang mantan guru SD yang hidupnya penuh kesederhanaan. Kebiasaannya kala makan siang menyuguhkan tamunya selain ada sayur asem, sambel, lalapan, tahu tempe dan yang tidak ketinggalan ikan pedak.

“Kita seharusnya hidup ini seperti ikan pedak ini.” Kata sang tuan rumah. “Bagaimana pak maksudnya?” tanya saya.

“Ikan pedak ini hidup dilaut tapi tidak membuat dirinya menjadi asin. Begitu juga diri kita hidup ditengah kemungkaran dan kemaksiatan tak membuat kita hanyut pada kemungkaran dan kemaksiatan itu.”

“Itulah kenapa sebabnya kenapa ikan itu dinamakan ikan pedak. Untuk selalu mengingatkan kita harus selalu menjaga Perut dan Dada dari barang yang haram.” Kata yang tuan rumah.

Bagaimana menurut anda?

Jagoankah Kita?

Suatu hari Nabi Isa berjalan bersama tiga orang muridnya, ketika melewati perempatan jalan mereka menjumpai bangkai binatang yang sangat besar dan baunya menyengat. Setelah sampai tujuan, mereka ditanya oleh sohibul bait, apakah mereka melihat sesuatu di perempatan jalan. Yang satu menjawab bahwa ia melihat bangkai besar sekali, yang satu lagi mengaku melihat bangkai yang baunya sangat menyengat, dan yang satu lagi mengaku melihat bangkai yang seram dilihat mata.

Giliran Nabi Isa, beliau menjawab bahwa ia melihat bangkai yang giginya sangat putih. Dari empat jawaban itu mengindikasikan adanya “isi jiwa” atau pusat perhatian yang berbeda-beda. Jadi pada dasarnya siapa itu seseorang dapat dilihat apa yang dikatakan, apa yang dilaporkan dan apa yang dikeluhkan. Kata-kata mutiara tasauf berbunyi ; Kullu wi`a in bima fihi yandloh, wa kullu ina in bima fihi tarsyuh, artinya jika ada cipratan dari gelas, pasti isi gelas itu sama dengan yang mencipratnya, dan jika ada suatu wadah rembes, pasti isi wadah itu ada kesamaannya dengan yang merembes. Bagaimana akidah seseorang, bagaimana tingkat iabadah seseorang dan bagaimana kualitas akhlaknya dapat ditengarahi dari apa yang keluar atau yang dikeluarkan olehnya.

Memang manusia bisa berpura-pura, tetapi keaslian seseorang akan muncul ketika mengalami keadaan puncak; sangat gembira, sangat sedih, sangat takut, sangat berkuasa, sangat terpojok dan sangat leluasa. Fenomena yang sering memperlihatkan keaslian seseorang antara lain adalah ketika kehilangan sesuatu, ketika ditinggalkan sesuatu, ketika ditimpa sesuatu.

Nabi bersabda; laisa as syadidu bis shur`ati innama asyadidu man yamliku nafsahu `indal aghodlobi. Artinya; jagoan itu tidak diukur dari kemampuanya bertarung, tetapi yang sebenarnya jagoan adalah orang yang tetap mampu menguasai dirinya terutama ketika sedang marah.

Monday, November 20, 2006

Masa Kalah Ama Setan?

Pernah saya menjadi pengurus remaja masjid dikampung saya tinggal, biasanya tiap malem senin kami selalu mengadakan pengajian remaja. Setiap pengajian kadang banyak yang ngaji bahkan pernah tidak ada yang datang sama sekali. Kalo pas lagi yang datang banyak hati rasanya senang sekali tapi kalo pas yang ngaji nggak ada yang datang rasanya sediih banget.

Barangkali saking sedihnya terlihat diekspresi wajah saya. Ada seorang Pak Haji yang memperhatikan wajah saya bertanya, “kenapa kok keliatan loyo?” “Ini Pak haji, anak-anak nggak ada yang dateng pengajian.”jawab saya.

“Wah, yang ngaji nggak ada yang datang aja keliatan loyo. Masa kalah ama setan?” kata Pak Haji. “Maksudnya bagaimana Pak Haji?” tanya saya.

“Setan aja pantang menyerah sampai mereka mampu menjerumuskan manusia ke jalan yang sesat. Masa kita yang berjuang menyeru dijalan Allah malah mudah menyerah...”kata Pak Haji.

Akhirnya saya pikir-pikir ada benarnya juga ya, masa saya kalah ama setan?

Kelebihan Orang Itu

Dirumah kami yang biasa mengaji hampir rata-rata anak orang yang tidak mampu, anak yatim juga ada satu dua anak orang yang berada. Salahsatu orang tua dari anak itu ada yang teramat istimewa buat bapak saya. Dia selalu diperlakukan istimewa. Buat saya agak aneh, bagaimana mungkin orang itu begitu istimewa. Tinggalnya masih ngontrak, bapaknya penjual sayur, ibunya ibu rumah tangga. Anaknya banyak. Bahkan dibilang keluarga itu keluarga miskin.

Saya sempat bertanya pada bapak, apa yang membuat bapak mengistimewakannya. Bapak menjawabnya. “Pertama, dia orang miskin yang tidak pernah mengeluh karena kemiskinannya. Kedua, karena kemiskinannya tidak menyebabkan dia mengambil hak orang lain, makanya dia bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Ketiga, kemiskinannya tidak menghalangi untuk tetap rajin beribadah. Oleh sebab itu kita harus mengistimewakan orang yang seperti ini”

Keberhasilan Seorang Guru

Sewaktu lebaran kemaren ada seorang santri pengajian dirumah yang datang berkunjung. Setelah selesai kuliah dengan gaya yang berapi-api dia mengkritik gaya pengajian yang sudah dianggapnya gagal didalam karena tidak mengikuti yang menggunakan metode atau sistem pendidikan. Setelah santri tersebut berbicara banyak bapak sebagai guru ngajinya balik bertanya, “apakah kriteria keberhasilan seorang guru mendidik muridnya?” Dia sebutkan semua teori yang dia tahu namun menurut bapak tidak satupun ada yang benar.

Akhirnya bapak mengatakan, “keberhasilan seorang guru dalam mendidik muridnya adalah ketika seorang murid sudah berani mengkritik pendapat gurunya, dengan begitu dia akan mengemukakan pendapatnya sendiri.”

Catatan penulis dari cerita diatas bahwa seorang guru tidak perlu risau jika muridnya sudah berani menyalahkan pendapatnya karena itu bukti sang guru telah berhasil menjadi pemantik bagi muridnya untuk berpendapat sendiri.

Derajatnya Lebih Rendah Daripada Batu

Ada orang yang baru lulus kuliah datang ke rumah minta kepada bapak untuk diberikan azimat supaya dia cepat dapat pekerjaan. Tidak sampai 5 menit tamu itu diusirnya. Dengan mengatakan, “Tidak ada orang yang butuh azimat, melainkan mereka orang yang derajatnya lebih rendah daripada batu.”

Saya tanya pada bapak maksud ucapannya apa. Bapak menjelaskan bahwa manusia oleh Allah SWT diberikan akal untuk berpikir dan bertindak logis. Jika dia tidak mampu berpikir dan bertindak logis dengan meminta bantuan azimat berarti dia menghilangkan peran akal. Dan itu menurunkan derajatnya sebagai manusia, yang lebih rendah daripada batu.

Thursday, November 16, 2006

Pindahan ke Depok

Mulai hari sabtu besok saya menjadi warga Depok, sebab sudah dapet rumah di Depok. Tepatnya di Permata Depok tapi dikampungnya. Pas jam 8 pagi kita mo pindahan rame-rame sekeluarga (saya, istri dan Hana, si kecil). selamat tinggal Ciledug..!

Berubah Bacaan

Saya suka sekali membaca sebab membaca berarti bertambah ilmu juga bertambah wawasan, sewaktu saya hendak disunat mendapatkan hadiah dari kakek sebuah buku yang berjudul Bulughul marom, bukan main senangnya. Banyak juga orang yang suka membaca.

Salah satu orang yang saya kenal dengan baik profesinya sebagai tukang becak. Dulu hampir tiap hari dia suka sekali membaca Kho Ping Ho, belakangan saya ketemu bacaannya sudah berubah buku-buku Imam Ghozali sempat saya tanyakan kenapa bacaannya berubah. Dia katakan kalo membaca buku kho ping ho bertambah umur tidak akan membuat dia jadi pandai bersilat namun jika membaca bukunya Imam Ghozali bertambah umur semakin bertambah iman & ilmu agamanya.

Ladang Amal

Ada seorang kyai yang identik dengan kehidupan malam seringkali keluar masuk ditempat maksiat dan bertemu serta dengan para pekerja malam. Saya bertanya padanya, “untuk apa keluar masuk tempat-tempat maksiat itu?” Jawabnya,“tempat-tempat seperti itulah yang menjadi ladang amal buat kita.”

“Kenapa memilih tempat maksiat?” tanya saya.

“Didalam kehidupan selalu ada tempat yang baik dan tempat yang buruk, ada tempatnya orang mukmin ada tempatnya orang kafir, ada tempatnya orang sholeh, tempatnya orang maksiat. Tugasnya orang mukmin, juga tugasnya orang sholeh adalah membujuk, merayu dan mengajak orang-orang tidak benar untuk kembali ke jalan yang benar. Hanya orang yang tidak bersabarlah menggunakan kekerasan atau ancaman agar orang kembali ke jalan yang benar. Dan itu sangat dibenci oleh Allah SWT.” Jawab sang kyai.

Beberapa tahun kemudian sang kyai meninggal, yang melayatnya dari rumah hingga ke makamnya penuh lautan manusia yang melepas kepergiannya. Selamat jalan Pak kyai, Terima kasih atas pencerahannya selama ini..

Buat Apa Sekolah?

Pilihan untuk tidak melanjutkan sekolah sepatutnya juga dihargai sebagaimana pilihan anak untuk melanjutkan sekolah. Itulah yang saya alami ketika ada anak pengajian yang memilih untuk tidak melanjutkan sekolah SMAnya.

“Apakah kamu yakin dengan pilihanmu untuk tidak melanjutkan sekolah?” tanya saya. Anak itu menjawabnya, “kalo orang lulus sekolah untuk kerja, saya tidak sekolah juga bisa kerja. Lantas buat apa sekolah?” Katanya penuh keyakinan.

Saya mengingatkan padanya betapa pentingnya sekolah itu namun dia tetap memilih untuk tidak sekolah. Sampai sekarang ditetap bekerja seperti yang diinginkannya bahkan kini dia sudah berkeluarga. Keyakinannya buat apa sekolah barangkali juga benar.

Kelebihan Orang Tua

Dulu saya pernah ngajar disalah satu SMK swasta di Jakarta Selatan. Pada suatu hari ada salahsatu orang tua siswa ngotot meminta anaknya untuk dipindahkan ke pesantren. Saya bertanya padanya kenapa begitu bersemangatnya memindahkan anak ke pesantren.

Orang tua itu bertutur kalo selain karena khawatir dengan kondisi pergaulan sekolah, dia juga bercerita sewaktu masa kecil orangtuanya hendak memasukkan ke pesantren tapi dirinya tidak mau. Makanya sekarang dia sangat berkeinginan memindahkan anaknya ke pesantren karena dirinya merasa menyesal kenapa dulu tidak dipesantren. Akhirnya kami terpaksa menyetujuinya.

Setelah selesai semuanya, ada salahsatu teman pengajar berkomentar tentang kejadian itu bahwa itulah kelebihan orang tua daripada anaknya. “Apa itu pak?”tanya saya. “Kelebihan orang tua dari anaknya karena orang tua melakukan kesalahan yang tidak dilakukan oleh anaknya. Orang tua tadi merasa melakukan kesalahan karena sewaktu kecil tidak dipesantren. Dia ingin anaknya tidak ingin anaknya melakukan kesalahan Makanya anaknya dipindah ke pensantren.” Tutur teman pengajar.

Benarkah itu?

Tuesday, November 14, 2006

Berkedok Agama

Sebagai seorang guru ngaji bagi anak-anak saya memiliki kedekatan emosional. Dari tahun 91 kalo dihitung sampe sekarang tentunya sudah ratusan anak jika dikumpulkan biasa dulu sering mengadakan buka puasa bersama atau waktu lebaran suka mengadakan halal bi halal dirumah.

Kedekatan emosional itu juga terjadi dengan dika salahsatu anak pengajian yang dari pulang sekolah tidak langsung pulang ke rumah gara-gara ketakutan akan dibaiat dengan sekelompok pengajian.

Dika bertutur, awalnya dia pengurus rohis disekolahnya. Dia diajak oleh temennya untuk ikut pengajian tapi ketika naik mobil matanya ditutup. Begitu dia turun dia diceramahi untuk bergabung dengan pemerintahan yang Islami. Demi perjuangan dia harus menyetor terlebih dahulu uang baiat. Dika jika nggak punya uang boleh mengambil uang orang tuanya tanpa ijin karena mereka itu kafir.

Kemudian dika saya suruh istirahat dirumah dan saya pergi ke rumah orang tuanya menceritakan kejadian yang membuat dika takut. Akhirnya masalah bisa selesai dengan baik.

Dengan kejadian ini saya hanya menyarankan berhati-hatilah orang yang berkedok agama, karena banyak orang yang tidak bertanggungjawab menggunakan agama sebagai alat yang paling ampuh untuk mengeksploitasi orang lain demi kepentingan materi atau kepentingan kekuasaan.

Anda pernah mengalaminya?

Jika Hidup Penuh Cinta

Saya mengenalnya beberapa ramadhan yang lalu bersama istri dan mas Verry DJ dimasjid pondok gede. Waktu itu ada pesantren anak jalanan. Belakangan saya tahu banyak orang bermasalah yang datang padanya. Entah masalah keuangan, masalah cinta, bahkan rumah tangga. Setiap masalah selalu saja mampu terselesaikannya. Dia bagai bengkel reparasi. Setelah itu ditinggalkan begitu saja.

Dalam kapasitas saya sebagai orang biasa jika membayangkannya-pun saya tidak sanggup menghadapi berbagai masalah orang lain. Toh, dia bagaikan bapak bagi banyak orang. Pada satu kesempatan saya bertanya padanya, “apa resepnya untuk menghadapi begitu banyak orang yang masalah dan menyelesaikannya?”

Katanya, “Jika hidup kita penuh cinta, hidup terasa indah, masalah akan hadir bagai bunga kehidupan.”

Berebut Taubat

Pada satu kesempatan saya diajak teman ketempat pengajian. Setelah bertemu dengan Pak Kyainya berbasi-basi kedatangan kami akhirnya teman mengajukan pertanyaan pada sang kyai. Kata teman, “Pak Kyai bagaimana sih taubatan nasuha yang diterima oleh Allah SWT itu?”

Pak Kyai itu nampak raut muka berubah, dan mengatakan. “Seharusnya yang mengajukan pertanyaan itu bukan anda tapi saya lho...” Perkataan itu membuat kami agak aneh. “Maksudnya kyai bagaimana?”

“Kedatangan anda kemari kan untuk mendapatkan jawaban saya, itu berarti saya adalah orang yang dianggap selalu bisa memberikan jawaban tentang kebaikan. Tapi kenyataannya sering kali saya punya niat jahat dari kejahatan yang anda lakukan. Anda pun tidak mencurigai saya.”

“Bukankah itu saya yang seharusnya bertaubat?”Tanya sang kyai.

“Bukan kyai, saya yang seharusnya bertaubat.” Jawab teman sambil merebut tangan sang kyai untuk diciumnya.

“Tidak, saya akan bertaubat.” Kata kyai sambil menarik tangan.

Monday, November 13, 2006

Istri Yang Membawa Ke Surga

Pada satu kesempatan kami kedatangan tamu seorang pemuda yang ingin mencari seorang istri, bertanya pada bapak, “Pak, bagaimana ya ciri-ciri istri yang bisa kelak membawa kita ke surga?”

Bapak menjawab, “jika anda menginginkan istri yang membawamu ke surga carilah istri yang bawel, judes, males dan kurang ajar. jika sudah berumah tangga dan anda bisa bersabar menghadapinya dan mengarahkannya ke jalan Allah SWT, maka istri seperti inilah yang akan membawa anda ke dalam surga.”

Menghukum Mulutnya

Seringkali saya mendapatkan pencerahan dari perbuatan aneh orang yang secara formal di menyandang predikat ditengah masyarakat. Demikian juga halnya dengan seorang ustad beranjak populer dikampungnya, yang menolak setiap permintaan mengisi pengajian. Yang saya dengar ustad itu sedang menjalani puasa membisu.

Pada suatu hari saya bertemu dengan adiknya, bertanya apakah benar penolakan mengisi pengajian itu karena sedang puasa membisu atau karena hal lainnya. Katanya adik ustad itu, “Tidak benarnya gosip sedang puasa membisu atau amplopnya terlalu kecil. Yang benar pak ustad sedang menghukum mulutnya karena sudah terlalu banyak bicara.

Sunday, November 12, 2006

Baju Baru Lebaran

Setiap orang selalu punya kenangan terindah dalam hidupnya, disaat menjelang lebaran. Demikian halnya dengan saya sewaktu saya masih kecil sewaktu sekolah Dasar, seminggu menjelang lebaran sudah bermimpi untuk mendapatkan baju baru.

Takbir berkumandang. Malam itu terasa indah. Saya bertanya pada bapak, apakah baju baru saya telah selesai dijahit. Maklum saja bapak saya pekerjaanya memang tukang jahit. Belum, begitu jawab bapak. “Sekarang sebaiknya kamu ikutan takbiran aja dulu ntar kalo udah dijahit bapak kasih tau ya?”

Malam telah larut, takbiran membuat saya kelelahan. Saya sudah nggak tahan dengan ngantuk. Sayup-sayup terdengar suara mesin jahit sebagai pengantar tidur saya. Tengah malam saya terbangun, masih terdengar suara mesin jahit. Terlihat bapak yang sedang menjahit. Saya bertanya apakah sudah selesai dijahit baju baru saya. Bapak bilang belum, tidur aja lagi. Sayapun tidur lagi diantara suara orang bertakbir dan mesin jahit. Ditengah lelap saya tidur, terasa tubuh saya seperti digoyang-goyang. “Gus, baju baru udah selesai nih..”terdengar suara bapak.

Dengan mata terkantuk saya terbangun untuk melihat baju baru. Bapak menyuruh saya bergegas mandi untuk sholat ied. Rasanya dunia indah dengan memakai baju baru.

Bagaimana dengan pengalaman lebaran anda sewaktu kecil?

Bagai Membuang Kotoran

Kepribadian seseorang tidak dilihat tinggi rendahnya pendidikannya namun pribadi yang menarik selalu saja mengundang orang. Hampir saya melihatnya dirinya selalu sibuk mulai dari peminta-minta yang selalu datang ke rumahnya sampai penjabat tetap dilayani dengan baik. Begitu mudahnya dirinya berbuat baik pada orang lain, seolah tidak terbebani apakah orang yang ditolongnya akan membalasnya atau tidak. Toh, dia tetap melakukan kebaikan itu pada orang lain.

Pada satu kesempatan, kebiasaan kami untuk selalu diskusi keilmuan saya berkesempatan, saya gunakan untuk bertanya, bagaimana sih caranya agar kita mudah berbuat baik pada orang lain?”

“Lakukanlah kebaikan itu bagaikan kita membuang kotoran. Kalo kita membuang kotoran apakah mungkin kita korek-korek kembali? Lakukanlah kebaikan itu dengan setulus hati dan jangan pernah pengenangnya kembali.” Begitulah jawabnya.

Amal Kita

Seringkali dalam kehidupan kita sehari-hari jika melihat istri marah-marah dianggapnya sudah tak cinta lagi. Atau seorang guru yang memarahi muridnya karena tidak mengerjakan PR dianggapnya gurunya galak. Bahkan jika sedang naik kendaraan umum ditengah jalan kecopetan, kita beranggapan nasib sedang sial.

keyakinan kita terhadap satu peristiwa sangat bergantung dari bagaimana kita memaknai dari peristiwa itu sendiri. Jika kita menanggapinya sebagai nasib sial dicopet maka kesialan itulah yang menimpa kita namun jika kita menganggap sebagai keberuntungan bisa bersedekah dengan sembunyi-sembunyi maka itu sebagai dihitung sebagai amal pahala kita.

Demikian halnya dengan penjual bubur ayam yang saya kenal, setiap kali berjualan jika tidak laku dengan riangnya dia membagikan buburnya pada tetangganya. “saatnya beramal..” Katanya,

“apa tidak bangkrut kalo terus-terusan begitu pak?” tanya saya.

“Bagaimana bangkrut?, rizki diatur oleh Allah SWT. Bayi yang didalam kandungan aja diberi rizki apa lagi kita yang masih mau berusaha..”jawabnya.

Anak Selalu Mencontoh Ortu

Disekolah pada waktu sholat para siswa diwajibkan untuk sholat berjamaah. Ada seorang siswa yang tidak pernah mau sholat berjamaah. Karena sudah yang keempat kalinya sekolah terpaksa memanggil orrang tuanya. Setelah bertemu dengan ibunya, wali kelas menceritakan kondisi siswa yang tidak disiplin dengan tidak sholat berjamaah. Sebelum ibunya sampai menjawab pertanyaan dari bapak guru. Tiba-tiba si anak berdiri dan setengah berteriak.

“Ayah dan mamah aja tidak pernah sholat. Jangan pernah nyuruh adek sholat.” Siswa itu berlari meninggalkan ruangan. Sang ibu bercerita sambil meneteskan air mata bahwa suaminya sangat sibuk sampai tidak pernah sholat, demikian juga dengan dirinya.

Cerita diatas yang bisa dipetik hikmahnya bahwa ayah dan ibu merupakan sosok idola bagi anak. Seribu pelajaran disekolah akan tidak berarti jika dirumah tidak ada teladan dari para idola sang anak.

Mungkin anda punya cerita yang sama?
AGUSSYAFII BLOG
2006
Proudly powered by : Blogger