Pencuri

Ketika saya sedang mengajar, salahsatu cerita pengantar yang saya paling suka adalah cerita Nasrudin Hoja yang berjudul pencuri. Konon Nasrudin kedatangan seorang pencuri. Nasrudin ketakutan dan bersembunyi kedalam peti besar. Sang pencuri keheranan kenapa dia bersembunyi. Kata Nasrudin, dirinya malu sebab didalam rumahnya tidak ada yang bisa diambil oleh pencuri itu.

Begitulah dalam kehidupan kita sehari-hari. Seringkali kita membiarkan pencuri dari luar untuk mengambil dari dalam diri kita yang berharga yaitu rasanya malu. Bahkan kita juga malu ketika masih memiliki rasa malu itu sendiri.

Ditengah lajunya bis kota, segerombolan anak muda berteriak-teriak lapar, mau makan tidak punya uang. Berharap belas kasihan orang dengan cara membentak-bentak orang, sudah menjadi tontonan tiap hari dalam bis kota. Juga tak mau kalah seorang tokoh ormas yang sibuk mempertontonkan libido kekuasaannya padahal pemilu masih juga lama. Sementara dirinya diam seribu bahasa ada masyarakat yang terendam lumpur panas. Dan tak kalah dahsyatnya bagaimana televisi kita mengajarkan anak-anak SD untuk tidak malu-malu lagi untuk berpacaran. Seolah berkata, Ayo anak-anak buang jauh-jauh malu kalian.

Dalam kesendirian seringkali mendidik diri sendiri dengan mematikan mesin keinginan agar tidak mengundang pencuri diluar diri merampas sesuatu yang sangat berharga yaitu rasa malu, tentunya sangat sulit dan tidak mudah. Namun juga harus dilakukan sebab dengan rasanya malu itulah yang membentengi diri kita menuju hidup dilembah nistapa bagai hidup didalam neraka.

0 Response to "Pencuri"

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel