Yuk, wujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah

Monday, February 25, 2008

Cara Mudah Memahami Makna Al- Quran

Awalnya saya agak susah membaca Qur’an jika sekaligus disertai dengan memahami maknanya.Istri saya memberikan kiat yang menarik bagaimana membaca Qur’an sekaligus memahami maknanya.

Katanya, “Kalo mau baca Qur’an dengan makna, sebaiknya mas agus membacanya runut mengikuti dari ayat pertama turunnya wahyu, kemudian wahyu berikutnya dengan asbabun nuzulnya.”

Ternyata kiat membaca seperti itu enak juga ya..Mau coba?

Untuk teman-teman yang pengen membaca buku tentang asbabun nuzul/ Sirah Nabawiyah silahkan download di http://www.megaupload.com/?d=9KH1OOGB

Sunday, February 24, 2008

Kala Matahari Memancarkan Sinarnya

Ketika ayam berkokok bertanda pagi hari telah tiba. Saatnya matahari memancarkan sinarnya. Sinarnya matahari menghangatkan seluruh tubuh yang membuat diri kita terasa segar. Kesegaran diri kita juga menjernihkan pikiran. Pikiran yang jernih membuat perilaku menjadi terarah namun sebaliknya pikiran yang kotor membuat perilaku kita menjadi ngawur.

Dalam perkembangan psikologi pada masa pasca perang dunia kedua, psikologi memiliki tiga misi yaitu pertama, membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Kedua, menyembuhkan manusia dari penyakit mental dan yang ketiga, mengidentifikasi dan menumbuhkan bakat-bakat yang ada pada diri manusia, tetapi pada saat itu para akademisi banyak yang mendapatkan uang jika mereka melakukan riset seputar masalah patologi dan hasil riset adalah berbagai kelainan psikis yang semula tidak dikenal bagi umat manusia. (seligman & Csikszentmihalyi 2000).

Terbayangkah oleh anda ketika riset psikologi didominasi dengan patologi tentang kecemasan, kemarahan, depresi, alienasi yang sangat tepat disebut dengan “terapi negatif.” sehingga seorang psikolog bisa memandang Indonesia nan indah sebagai rumah sakit jiwa yang besar yang di dalamnya dihuni oleh pasien-pasien yang sedang sakit jiwa.

Itulah sebabnya Psikofitrah mengajak anda masuk ke dalam diri. Mengajak anda mengubah penekanan disiplin ilmu dari gaya penyakit menuju gaya hidup sehat sebab tujuan utama dari Psikofitrah adalah melihat, mendengarkan, melangkah ke dalam diri dan menerima kehidupan yang membuat diri kita menjadikan hidup lebih sehat, indah dan bahagia. Demikian juga dengan ilmu pengetahuan yang lainnya seperti ilmu ekonomi, sosiologi, politik, budaya, hukum juga diharapkan turut serta terjadi perubahan dengan lebih memfokuskan kepada peningkatan kualitas hidup manusia menjadi lebih baik dengan membangun emosi yang positif.

Kualitas hidup manusia tidak ditentukan oleh materi, kualitas hidup manusia sangat ditentukan oleh bagaimana mengelola emosi. Mengelola emosi menjadikan emosi positif memiliki kolerasi terhadap peningkatan kualitas hidup seseorang seperti yang diungkapkan oleh Seligman (2002) bahwa nilai-nilai spiritual cukup memiliki peranan dalam mengatasi masalah dalam kehidupan manusia sehari-hari. Sebagaimana yang terjadi pada nenek moyang bangsa Indian ketika ada masalah, kemudian duduk ditempat yang nyaman dan masalah tersebut teratasi karena perabotan itu mampu mendekat diri kepada Tuhan. (Seligman, 1999).

Demikian halnya dengan Pak Haji yang tak jauh dari tempat saya tinggal. Diusia yang senja selalu saja giat membantu orang lain. Sewaktu adik saya menikah beliau yang mengurus ke KUA. Pernah juga ada yang meninggal, Pak Haji yang paling duluan menggali kubur. Sampai saya pernah bertanya padanya, “untuk apa pak haji melakukan itu semua?” Jawabnya, “Ada kepuasan batin disaat saya melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain.”

Kepuasan batin itulah yang disebabkan karena perbuatan yang dilakukan oleh pak haji tersebut, sebuah konsep iman dan amal. Konsep iman dan amal adalah sebuah konsep yang disebut dalam al-Qur’an, “Bertaqwalah kamu dengan kemampuan optimalmu..” (Al-Taghabun, 16).Iman menjadi landasan dari tindakan-tindakan (amal) yang berguna bagi orang lain, seperti mengeluarkan harta untuk membantu fakir miskin atau membantu dengan tenaga untuk orang-orang yang sedang kesusahan yang secara langsung tidak pernah mendapatkan keuntungan materi namun memberikan emosi yang positif dengan wujud kepuasan batin.

---------------------------------------------------
Sudah saat matahari memancarkan sinarnya yang berarti sudah saatnya tiba ilmu pengetahuan bukan hanya psikologi namun juga pengetahuan yang lain mesti turut serta membangun emosi positif di dalam diri manusia dengan demikian akan meningkatkan kualitas hidup menjadi lebih baik, lebih sehat, lebih indah dan lebih bahagia bagi kehidupan umat manusia.

Thursday, February 21, 2008

Ketika Daun-Daun Berguguran

Saat musim berubah, tiba saatnya daun-daun berguguran. Angin berhembus dingin terasa menyengat. Kelahiran dan kematian datang silih berganti bagai roda yang selalu berputar. Kelahiran selalu disambut dengan riang gembira pertanda datangnya kehidupan yang baru pada satu generasi. Namun ketika kematian tiba, derai air mata mengalir tiada henti, isak tangis terasa memilukan hati itulah saatnya tiba daun-daun berguguran.

Kemaren malam saya berkunjung ke rumah sakit, salah satu kerabat sedang dirawat. Ditengah asyik sedang membezuk, dikamar sebelahnya nampak dua gadis cantik berkerudung sedang khusyuk membaca al-qur’an. Lelaki tua terbaring lemah dengan tangan diinfus. Seorang ibu tertidur di bawah lantai.

Tak berapa lama terdengar isak tangis, kedua gadis itu memeluk sang ayah sambil mengucapkan, “ayah, ucapkan La ilaha illallah..” “ucapkan ayah..”kata gadis satunya lagi. Sang ayah mengikutinya, “La ilaha illallah” dengan nada terbata-bata. Suara jerit tangis terdengar menggema, lelaki tua yang dipanggil kedua gadis itu dengan sebutan ayah akhirnya tiada. Rasa haru menyelimuti didalam dada saya.

Ditengah perjalanan menuju pulang tanpa terasa air mata saya menetes, terbayang wajah Hana bagaimana kelak dewasa ketika saya menjelang senja. Mampukah saya mendidiknya menjadi anak yang sholehah? Apakah ketika detik-detik saya terakhir Hana juga mengingatkan saya untuk mengucapkan kalimah tauhid?

Ditengah lamunan itu saya teringat Sabda Nabi SAW Kewajiban ayah dan ibulah untuk mendidik anaknya untuk menjadi anaknya yang sholeh. Sebagaimana yang disabdakan Nabi SAW, “kullu mauludin yuladu ‘ala alfitrah, fa abawahu yuhawwidanihi au yunasshironihi au yumajjisanihi.” Artinya ”setiap bayi yang terlahir dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah mereka menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.”

Dari kejauhan nampak Hana datang berlari menyambut saya sambil memeluk seolah sudah lama tidak ketemu. Senyum manis menghiasi dibibir mungilnya, Hana terlihat cantik. Wajah dan cara berjalannya mirip dengan saya.

-------------------------------------------
Hidup ini menjadi indah jika diri kita mampu mendidik anak-anak kita menjadi anak yang sholeh, sebab kehidupan tetap berjalan datang silih berganti kelahiran dan kematian hanya tiga hal kebaikan di dalam hidup ini yang menjadi bekal kita yaitu anak yang sholeh, ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah.

Monday, February 11, 2008

Suara Itu Menggetarkan Jiwa

Seringkali kita mendengarkan suara, seperti suara kendaraan bermotor, suara kereta, juga suara kekasih yang terdengar merdu namun berbeda dengan suara dari jiwa yang masih suci yaitu suara anak-anak kita yang mampu menggetarkan jiwa. Suara tangisnya, suara tawanya bahkan teriakan-teriakannya seolah mampu membelah bumi.

Begitu juga Hana, putri saya. Setiap Hana memanggil saya, “ayah..” suara itu menggetarkan jiwa, suaranya mampu mengiris hati. Terbayang Hana yang masih bayi, mulai tumbuh merangkak, berjalan sampai pernah jatuh dari meja karena saya lalai menjaganya dan jidatnya menjadi benjol. Ibunya marah-marah karena tidak tega melihat tangisnya Hana yang sakit. Hati saya terasa perih mendengar Hana menangis yang kesakitan.

Keperihan hati seorang ayah adalah wujud cinta dan kasih sayang kepada putrinya. Ikatan batin seorang ayah dengan putrinya begitu indah, seindah wujud kasih sayang itu sendiri. Saya teringat satu kisah Nabi SAW, ketika Nabi di Thaif, sekelompok anak anak kecil dan juga orang dewasa berlomba menimpuki Nabi dengan batu dan kotoran unta, Fathimah yang masih sangat belia tampil dengan perangai seorang ibu yang cemas dengan putranya.

Dibersihkan kotoran dan darah yang berada pada pada wajah ayahnya. Air mata nabi tak mampu beliau sembunyikan ketika melihat putri tercintanya. Seorang anak yang sepatutnya sedang asyik bermain dengan teman seusianya sekarang justru berada dipangkuan ayahnya, menghalangi siapapun yang akan melukai rasulnya. Fathimahpun menangis melihat keaadan ayahnya, dengan suara bergetar penuh keharuan nabi meyeka tiap butiran air mata yang mengalir dipipi mungil putrinya sambil berkata, ' habibati Fathimah la tabki',' belahan jiwaku Fathimah janganlah engkau menangis'.

Begitulah ucapan Nabi ketika tangan suci putrinya menyeka darah yang mengalir dikeningnya. Ummu Abiha, ibu dari ayahnya adalah gelar yang Rasulullah peruntukkan kepada putrinya. Satu satunya gelar yang belum pernah ada dalam sejarah kecuali untuk Fathimah Azzahra as. Duka dan kesedihan selalu mengiringi kehidupan keluarga nabi, akan tetapi Fathimah senantiasa menyembunyikan kedukaannya selama sang ayah berada disampingnya. Kecintaan assayyidah Fathimah begitu tinggi terhadap ayahnya dan begitu pula Rasul saaw kepada putrinya hingga beliau bersabda, “Fathimah adalah belahan jiwaku, siapapun yang mencintai Fathimah berarti dia mencintaiku.”

----------------------

Suara-suara indah yang mampu menggetarkan jiwa hanya mampu ditangkap oleh hati yang jernih, yaitu hati seorang ayah dan seorang ibu dengan tulus mencintai anak-anaknya sepenuh hati yang menjadikan rumah seindah surga.

Sunday, February 10, 2008

Untaian Bunga Melati

Untaian Bunga melati sebuah lambang suci ikatan sebuah perkawinan, menantikan hari indah itu tiba membuat hati menjadi berdebar-debar seolah berdetak lebih kencang dari biasanya. Apapun yang dikerjakan terkadang bisa menjadi serba gugup dan menggetarkan jiwa, sekujur tubuh berkeringat karena semua mata memandang kearah dirinya. Itulah Untaian bunga melati lambang suci ikatan sebuah perkawinan.

Ketika jumat pagi, prosesi pernikahan Mono dan Sheilla dilaksanakan di bandung. Pagi-pagi sekali saya sudah berangkat dari rumah, saya bergegas menuju Masjid Istiqlal. Teh Dedah sempat menelpon saya sudah sampai dimana, saya katakan padanya saya sedang menuju masjid Istiqlal.

Bus Patas AC Ciledug-Senen seolah melaju kencang. Tak terasa jam 7 pagi sudah sampe di Masjid Istiqlal. Tampak Irene juga sudah sampai. Tak lama Teh Dedah juga sampai dengan Mas Amru. Dilanjutkan dengan menjemput Yessy. Perjalanan Jakarta Bandung begitu menyenangkan, kami bercerita bahwa tidak menyangka bahwa Sheilla dan Suharmono yang sama-sama anggota Tahajjud Call sampai akhirnya mereka bisa menikah. Buat Teh Dedah perkawinan mereka adalah sebuah keajaiban yang seolah tidak begitu mudah dipercaya karena Teh Dedah tahu betul proses dari perkenalannya, curhatnya sheilla bahkan sampai persiapan pernikahannya teh Dedah juga turut peran serta.

Siang jam 11 WIB kami sampai ditempat mempelai. Akad nikah dilaksanakan setelah sholat jumat. Ketika setelah sholat Jumat nampak banyak orang keluarga Sheilla dan keluarga Mono sudah nampak hadir. Dari kejauhan disebelah pengantin perempuan disebelah kiri terlihat Teh Dedah mendampinginya. Prosesi pernikahan berlangsung khidmat dan berjalan dengan baik.

Itulah sebuah potret sekilas dari prosesi pernikahan Sheilla dan Mono, untaian bunga melati lambang suci sebuah prosesi pernikahan, tentunya anda juga pernah melewati indahnya masa-masa itu. Masa-masa indah yang tak terlupakan.

____________

Pesan buat Sheilla dan Mono selamat mengarungi bahtera perkawinan, jadikan perkawinan yang kokoh sebab perkawinan yang kokoh akan melahirkan generasi yang kuat, tangguh dan pembangun kejayaan peradaban umat.

Monday, February 04, 2008

Bunga-Bunga Cinta Di Dalam Hati

Di dalam hati kita selalu memiliki bunga-bunga cinta. Bunga-bunga cinta itu adalah kenangan indah tentang masa kecil kita, tentang ayah ibu kita, tentang perjalanan asmara kita, tentang anak-anak kita yang mampu membuat anda dan saya bisa menangis dan tertawa ketika kita teringat masa itu. Kenangan itu begitu mendalam dan membekas di hati sehingga kita menyebutnya bunga-bunga cinta.

Semalam disaat Hana pulas tertidur disamping ibunya, bayangan indah seperti film yang memutar kembali perjumpaan saya dengan istri, acara pernikahan kami, semuanya berlangsung begitu cepatnya sampai kabar gembira itu datang dengan kehamilan istri saya. Perjalanan hidup kami begitu indah sebab kami berdua melewatinya dengan penuh canda dan tawa. Sesekali juga kami bertengkar. Pertengkaran itu kami berdua menikmatinya sebab kami tahu pertengkaran itu memang diperlukan.

Saya ingat sebelum Hana terlahir, sepulang kami berjalan pagi, istri saya sedang hamil tua pengen tape uli, saya membelikannya dua tape ketan hitam. Nampak lahap dia memakannya, sorenya perut istri saya mules dan ternyata sudah bukaan ketiga. Pada adzan Isya’ Hana terlahir dengan suara tangis merdunya. Suara tangisnya mampu membuat air mata saya menetes namun juga membuat hidup saya menjadi bersemangat. Tak terasa Hana sudah hampir menginjak usia 3 tahun. Setiap kali pulang dari kantor, Hana memiliki kebiasaan memeluk saya seolah sudah lama tidak berjumpa. Tiap pagi atau hari libur selalu mengajak saya berjalan-jalan atau sekedar menemani Hana maen.

Itulah bunga-bunga cinta yang saya miliki, tentunya anda juga memiliki bunga-bunga cinta yang jauh lebih indah. Bukalah hati anda dan temukan bunga-bunga cinta di dalam hati anda. Biarkanlah diri anda menikmati indahnya bunga-bunga itu tumbuh mekar dan menyebarkan semerbak harum mewangi seiring keajaiban hidup yang senantiasa layak anda miliki.

-------------

Dengan hati yang tulus saya berdoa semoga bunga-bunga cinta di dalam hati anda tumbuh mekar, semerbak harum mewangi membuat hidup anda dan keluarga menjadi lebih indah dan bahagia.

Sunday, February 03, 2008

Keajaiban Itu Hadir

Pernahkah dalam hidup anda terjadi sebuah keajaiban? Jika anda berpikir hidup anda penuh keajaiban maka setiap hari anda akan mengalami keajaiban. Keajaiban hadir ketika diri kita berpikir bahwa hidup ini penuh keberkahan yang mesti disyukuri.

Pada Jumat malam yang lalu. Ditengah hujan deras dan jalanan Jakarta digenangi banjir. dari Cipulir sampai Jalan Haji Mencong saya berjalan kaki sambil melewati deras luapan air di tiga titik, sungai Pesanggarahan, Deplu Budi Luhur dan Puri Beta 2. Mas Herry sempat telp saya dua kali sampai dimana saya. Saya katakan padanya, saya sedang menikmati indahnya Jakarta ditengah genangan air. Untungnya saya tidak sendiri, saya bersama puluhan orang yang menyeberangi genangan air sampai sepinggang orang dewasa.

Saat itu saya bisa merasakan keajaiban hidup, ketika saya berpikir bahwa hidup ini indah, ditengah kesulitan perjalanan yang jauh saya tidak merasakan capek bahkan saya masih sempat menggendong seorang anak kecil dan menuntun seorang ibu yang kelelahan yang sempat terpeleset ketika menyeberangi deras air di depan puri beta 2.

Sesampai dirumah, istri saya bertanya “tadi naik apa mas?” “
“Dari Cipulir sampai rumah jalan kaki” Jawab saya.
“Hah! Jalan kaki..” kata istri saya menatap tidak percaya.

-------

Keajaiban itu hanya hadir bagi mereka yang memiliki kepasrahan mengikuti sunatullah dalam jiwanya. Apapun yang ditanam itulah yang dipetik. Apapun yang kita lakukan, kitalah yang menikmati.

Friday, February 01, 2008

Pilihan Terbaik

Pada ujung hadis Nabi di muka berbunyi, pilihlah wanita yang “memiliki” agama, maka kalian akan beruntung, fadzfar bizatiddin, taribat yadaka. Hadis tidak menyebut fadzfar mutadayyinatan (orang beragama) tetapi bidzatiddin, orang yang memiliki agama. Kata dzatiddin disini mengandung arti substansi (jauhar) atau sifat (`ardl) , jadi wanita atau lelaki yang dzatiddin adalah orang yang beragama secara substansial atau dapat dilihat sifat-sifatnya sebagai orang yang mematuhi agama.

Lalu apa substansi agama itu? secara vertikal orang yang memiliki agama itu mengimani, meyakini sepenuhnya adanya Alloh SWT sang Pencipta Yang Maha besar, Maha Adil, Maha Pemurah, Maha Pengampun, yang oleh karena itu sebagai manusia atau hamba Alloh SWT, ia tidak sanggup untuk sombong, sewenang-wenang, kikir . Secara horizontal orang yang beragama secara substansial akan berusaha secara maksimal menjadikan dirinya memberikan kemanfaatan maksimal kepada manusia dan makhluk lain, karena manusia tak lain adalah pengejawantahan kasih sayang Alloh SWT. Nah bayangkan memiliki suami atau isteri yang karakteristik keberagamaanya seperti itu pastilah janji Rasul akan terbukti, yakni memperoleh keberuntungan.

Wanita atau pria bizatiddin, belum tentu yang lulusan pesantren, atau IAIN, belum tentu yang setiap hari berjilbab rapat, belum tentu yang pandai berkhotbah agama, karena hal itu baru indikator lahir. Karakteristik bidzatiddin akan terasa dalam berkomunikasi, dalam berinteraksi, dalam bertransaksi, yakni subtansi agamanya akan terasa menyejukkan, menentramkan, membangun semangat, menumbuhkan etos, “mengagumkan” , terkadang seperti tidak rasional tetapi setelah direnungkan justeru sangat rasional, dan susah dimusuhi, susah pula dipropokasi. Dalam realita kehidupan ada orang yang beragama lebih menonjolkan syari’at lahir sehingga agamanya nampak “gebyar-gebyar”, tetapi setelah sering berkomunikasi, lama berinteraksi dan berkali-kali bertransaksi, lama-kelamaan “gebyar-gebyar” agamanya tidak bisa diapresiasi, hilang kekaguman, hilang respect, meski tidak sampai menjadi musuh.

Sebaliknya ada orang yang nampaknya sangat sederhana keberagamaanya, bahkan seperti mualaf atau seperti abangan saja, tetapi setelah lama berkomunikasi, berinteraksi dan bertransaksi, kekaguman muncul, sangat respek dan menjadi sumber inspirasi dalam menghayati keindahan hidup, dan itulah karakteristik dzatiddin yang sebenarnya dari calon isteri atau suami.
AGUSSYAFII BLOG
2006
Proudly powered by : Blogger