Yuk, wujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah

Friday, April 17, 2009

Anak-anak Adalah Cermin

Dalam kehidupan sehari-hari kita terkadang terkejut, tiba-tiba anak-anak melawan diri kita sebagai orang tua. berani memaki-maki, membentak atau marah-marah. Dalam kesendirian kita sebagai orang tua merenung dan suka ada pertanyaan yang terlontar, sebenarnya apa yang terjadi pada anak saya? Jika ada pertanyaaan seperti itu, Jawabnya anak-anak kita adalah cermin dari kualitas antara ayah dan ibu. Jika hubungan orang tua tak ubahnya sawah atau ladang dimana tumbuh padi dan sayuran dengan tanah yang subur, dirawat penuh cinta kasih maka sawah atau ladangnya akan menghasilkan padi dan sayuran yang segar.

Seorang anak memiliki kepekaan didalam dirinya, merasakan hubungan antara ayah dan ibunya dengan segenap jiwanya. Jika anak dipenuhi oleh vitamin-vitamin cinta kasih, anak akan tumbuh dengan cinta kasih didalam hatinya.

Cinta kasih di dalam keluarga kami, biasanya kami gunakan untuk berkumpul, belajar mengaji bersama anak-anak Amalia, atau kami naik motor keliling komplek rumah dimana kami tinggal. Biarpun agak berdesakan, Hana memilih duduk didepan sambil bernyanyi-nyanyi dengan riangnya. Sesampai dimasjid yang ada ayunannya Hana minta turun. Icha dan Hana berlarian untuk maen ayunan.

Kebahagiaan seperti inilah hadir ditengah keluarga kami. Kami merasa nyaman seolah menemukan harta yang sangat berharga. Kumpul bersama dan berbagi bersama bahkan semua aktifitas dengan anak-anak Amalia juga melibatkan seluruh keluarga, saya, istri dan anak-anak. Saya menyadari, orang-orang dalam kehidupan kita jauh lebih berharga daripada kesenangan atau kegiatan apapun. Dalam keluarga kita memang perlu merelakan waktu, energi, segala bentuk kegiatan. Kesadaran inilah yang membuat saya menjadi lebih dekat dengan anak-anak dan keluarga. Betapa berharganya mereka bagi diri saya.

Terbayangkah oleh anda bahwa hubungan kita dengan pasangan hidup kita adalah sesuatu yang sangat penting untuk memberikan rasakan aman bagi anak-anak kita? Bila kita berharap anak-anak menghormati kita sebagai orang tua hingga kelak mereka dewasa maka kita harus menghormati pasangan hidup kita. jika kita berharap anak-anak mencintai kita sebagai orang tuanya maka kita harus mencintai setulus hati pasangan hidup kita. relasi hubungan kita dengan pasangan hidup kita akan sejalan dengan relasi hubungan kita terhadap anak-anak kita. Itulah yang disebut dengan 'anak-anak adalah cermin'.

--
'Kullu mauludin yuuladu ‘alal fithrah, fa-abawaaHu yuHawwidaaniHi aw yunashshiraaniHi aw yumajjisaaniHi' yang artinya 'Setiap anak dilahirkan atas dasar fithrah, kemudian kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nashara atau Majusi' (HR. al Bukhari no. 1358, Muslim 8/52-54 dan lainnya).

Post a Comment

Home

AGUSSYAFII BLOG
2006
Proudly powered by : Blogger