Yuk, wujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah

Monday, November 30, 2009

Air Mata Umar

Cerita favorit anak-anak Amalia adalah air mata Umar Bin Khattab. Air mata Umar Bin Khattab mengisahkan tentang kebiasaan Umar Bin Khattab, sang khalifah yang pada malam hari suka berkeliling di kota Madinah untuk memantau keadaan rakyatnya. Sampailah pada suatu malam, tiba-tiba mendengar suara tangisan anak-anak disebuah gubuk., karena penasaran Umar mendekati gubuk itu,

'Assalamu'alaikum,' salam Umar Bin Khattab. Dari dalam rumah terdengar menjawab salam, Wa'alaikum salam,' jawab seorang perempuan tua dengan lembutnya sambil mempersilahkan masuk. Alangkah kagetnya Umar menyaksikan tiga anak yang terus menangis sambil memegang perut diatas dipan yang sudah reot. Melihat keadaan seperti itu air mata Umar Bin Khattab mengalir begitu saja tanpa terasa. Kemudian dia bertanya kepada perempuan tua itu. 'Mengapa mereka menangis?'

'Mereka kelaparan, kedua orang tuanya sudah tiada sementara saya sudah tidak sanggup lagi untuk membeli makanan untuk mereka. Sejak kedua orang tua mereka meninggal sudah tidak ada lagi yang menjenguknya,' ucap perempuan tua dengan wajah bersedih. 'Bukankah ibu sedang menanak makanan?' tanya Umar terheran. Lalu perempuan itu menjawab, 'Saya telah membohongi mereka, bukan gandum yang saya tanak melainkan batu agar mereka berhenti menangis.' Umar nampak terkaget-kaget.

'Batu?' kata Umar tak lagi mampu menahan perih didadanya, hatinya terluka bagai disayat menyaksikan penderitaan yang dialami anak-anak yatim paitu dan seorang nenek tua itu. Air mata itu tak terbendung lagi, Umar Bin Khattab bergegas pamit meninggalkan mereka. Disaat di rumah Umar segera mengambil air wudhu untuk sholat dan berdoa, 'Ya Alloh, ampunilah hambaMu ini yang telah melalaikan mereka, Izinkan hamba menebus semua kesalahan.' Dengan secepatnya Umar Bin Khatttab mengambil sekarung gandum, sekantong roti dan susu segar untuk diserahkan kepada anak-anak yatim piatu dan nenek yang membutuhkannya. Tak lama kemudian ketiga anak itu disuapinya oleh neneknya. Anak-anak terlihat lahap makannya. Nenek itu bercerita, ketika kedua orang tua masih hidup cinta dan kasih sayangnya kepada mereka bertiga senantiasa disuapi. Setiap suapannya dihasi dengan senyuman yang indah dari ayah dan ibunya. Sejak peristiwa itu Umar Bin Khattab berjanji tidak akan pernah ada lagi penduduk dinegerinya yang kelaparan.

Dari kisah air mata Umar Bin Khattab ini memiliki pesan bahwa perasaan bersalah pada diri Umar karena merasa lalai karena ada penduduk negerinya yang kelaparan. Perasaan bersalah inilah yang kemudian ditebus oleh Umar dengan tekadnya untuk memperbaiki sistem yang ada. Konon di masa Umar Bin Khattab inilah Baitul Mal sebagai lembaga negara berfungsi dengan baik untuk membantu mengentaskan kemiskinan pada waktu itu. barangkali banyak hal teladan dari Umar Bin Khattab yang masih relevan untuk negeri kita yang tercinta bagaimana kita menghadapi krisis dewasa ini.

Sunday, November 29, 2009

Keberkahan

Ada salah satu kerabat dekat, beliau seorang hafidz (penghapal al-Quran 30 Juz) karena sakit kemudian menderita kebutaan. Sampai pada suatu hari saya bertemu dengan beliau dan sempat bertanya, kenapa tidak berobat? bukankah sekarang teknologi sudah canggih bisa menyembuhkan kebutaannya?' Beliau hanya menjawab dengan senyuman dan berkata, 'Jika saya bisa melihat, nanti malah kebanyakan nonton maksiat, disyukuri aja..semua ini keberkahan agar hapalan saya terjaga.'

Pesan beliau yang saya tangkap adalah kekurangan yang ada pada dirinya bukanlah dianggap sebagai musibah atau bencana melainkan sebuah keberkahan yang patut disyukuri karena dengan tidak melihat berarti beliau bisa menjaga hapalan al-Qurannya selama 24 jam. Untuk sekedar menghapal al-Quran sangatlah mudah namun menjaga hapalan tidaklah mudah. Bahkan menurut salah satu riwayat, Imam Syafii pernah hapalan al-Qurannya hilang karena tanpa sengaja melihat betis seorang perempuan. Barangkali alasan itulah saya bisa mengerti gangguan penglihatan bagi beliau justru dianggapnya sebagai suatu berkah yang membuatnya mampu memaksimalkan waktunya dan lebih berkonsentrasi pada hapalan al-Qurannya.

Sejarah juga mencatat, banyak orang yang memiliki kekurangan fisik namun malah menjadikan keberkahan dalam hidupnya seperti Stephen Hawking menderita penyakit ALS atau degenerative disease yaitu sebuah penyakit langka yag muncul akibat kerusakan sel-sel syaraf pengontrol otot-otot tubuh, seharusnya istirahat total tetapi Stephen Hawking malah memilih tetap berkarya dan meraih sejumlah penghargaan. Stephen Hawking mengatakan selalu berusaha hidup senormal mungkin, tidak memikirkan rasa sakit maupun keterbatasan fisiknya.

Tentunya banyak diantara kita secara fisik, kecerdasan, bakat yang mengagumkan namun seringkali mudah menyerah dalam kehidupan karena hanya sebagian kecil dari kita yang bersedia memanfaatkan segala potensi yang ada dengan penuh kegigihan. Sementara beliau yang seorang hafidz ataupun Stephen Hawking merupakan teladan orang-orang yang penuh semangat yang luar biasa memanfaatkan kekurangan dan keistimewaannya untuk terus berkarya. Barangkali itulah yang disebut sebagai keberkahan.

---
Melimpahnya keberkahan dari sisi Alloh Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Mulk: 1-2).

Pesan Qurban

Pagi di hari Ahad anak-anak Amalia wajahnya tersenyum cerah. 2 ekor kambing dari dermawan terasa kebahagiaan untuk anak-anak Amalia. Tak lama kemudian Lita menyampaikan apa saja kegiatan Qurban Untuk Amalia. Diawali oleh pembacaan ayat suci al-Quran oleh Ari dan terjemahan oleh Melly. Ada Cerdas Cermat dan Tebak Makna oleh Kak Yusman bersama Kak Rani dan Kak Nia. Tibalah waktu saya menyampaikan Pesan Qurban bagi anak-anak Amalia. Wajahnya berbinar-binar mendengarkan cerita.

Ditengah kerinduan Nabi Ibrahim untuk menemui Siti Hajar, istri tercintanya dan Nabi Ismail, putranya ditengah gurun tandus. Nabi Ibrahim bertemu dengan keduanya, saling menumpahkan kerinduan yang selama ini terpendam. Tempat pertemuan Nabi Ibrahim dengan istri dan putranya sekarang di kenal dengan Padang Arofah. Sesudah mereka melepas kerinduan, mereka kembali ke Mekkah. Nabi Ibrahim nampak kelelahan. Di dalam tidurnya Nabi Ibrahim bermimpi mendapatkan perintah oleh Alloh SWT agar menyembelih putranya Nabi Ismail sebagai kurban. Ketika terbangun dari tidur Nabi Ibrahim hatinya berdebar-debar, itulah ujian yang datangnya dari Alloh SWT.

Ujian ini adalah ujian yang terberat bagi Nabi Ibrahim bila dibanding dengan ujian disaat Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Alloh SWT untuk meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail di gurun yang tandus, tidak ada tanaman dan sumber air. Bagaimanapun beratnya ujian harus dilaksanakan. Kemudian disampaikanlah perintah Alloh SWT kepada putranya Nabi Ismail.

Anak-anak Amalia terlihat mendengarkan dengan khidmatnya. Tak lama terdengar suara Dani, 'Nanti Nabi Ismail diganti dengan domba..' 'Dengerin Kak Agus tuh..' kata Ari menyuruh Dani. 'Terus gimana Kak?' Tanya Egi.

Nah, selanjutnya Nabi Ibrahim menyampaikan pesannya kepada putranya Nabi Ismail. 'Hai Ismail! Tadi malam aku diperintahkan oleh Alloh SWT untuk menyembelihmu, bagaimana menurutmu, nak? Nabi Ismail menjawab tanpa ragu, 'Wahai ayahanda, sekiranya itu perintah Alloh SWT maka laksanakanlah apa yang telah menjadi perintahnya.' Ketika Nabi Ibrahim sudah menyiapkan pedang yang akan digunakan untuk menyembelih putranya, pedang itu sudah hendak digunakan, tiba-tiba digantikan dengan hewan ternak dan akhirnya Nabi Ismail selamat.

Pada akhir cerita saya menyampaikan untuk anak-anak Amalia bahwa Pesan Qurban dalam keterangan Surat Ash-Shoffat, 100-113, kita haruslah meneladani ketabahan seorang ayah dan putranya dalam keimanan dan berpegang teguh serta taat terhadap perintah Alloh SWT. Sekalipun sebelum peristiwa Qurban Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sudah sering diuji oleh Alloh SWT. Nabi Ibrahim yang harus diuji dengan kobaran api namun Nabi Ibrahim berserah diri kepada Alloh SWT dan selamat. Sementara Nabi Ismail dan Siti hajar, ibundanya ditinggal sendirian ditengah-tengah gurun yang tandus tanpa bekal apapun dengan penuh ketabahan dan keyakinan kepada Alloh SWT dan juga selamat. Demikian halnya kita, bila kita tabah dan yakin akan pertolongan Alloh SWT, Insya Alloh kita juga akan selamat.

------
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS Ash-shoffat:110)

Monday, November 23, 2009

Teladan Nabi

Pada suatu malam di Rumah Amalia ada salah satu anak yang bertanya kepada saya, 'Kak Agus, apakah Nabi Muhamad suka membantu orang-orang miskin dan anak yatim?' Saya kemudian menjelaskan padanya bahwa Nabi Muhamad SAW selalu menolong orang-orang miskin dan anak yatim. Kemudian saya menceritakan padanya, Pada suatu ketika ada langkah sepasang kaki terhenti oleh sesegukan gadis kecil di tepi jalan. 'apakah gerangan yang membuat engkau menangis anakku?' lembut menyapa suara itu menahan beberapa detik segukan sang gadis.

Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang menyapanya, matanya masih menerawang tak menentu seperti mencari sesosok yang amat ia rindui kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk merayakan hari kemenangan. 'Ayahku mati syahid dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah,' tutur gadis kecil itu menjawab tanya lelaki di hadapannya tentang Ayahnya.

lelaki itu mendekap gadis kecil itu. 'Maukah engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu?' Sadarlah gadis itu bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya tak lain Nabi Muhammad SAW, Nabi anak yatim yang senantiasa memuliakan anak yatim. Begitulah lelaki agung itu membuat seorang gadis kecil yang bersedih di hari raya kembali tersenyum. Barangkali, itu senyum terindah yang pernah tercipta dari seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi anak yatim. Rasulullah membawa serta gadis itu ke rumahnya untuk diberikan pakaian bagus, terbasuhlah sudah airmatanya.

Teladan Nabi harus pula dipahami sebagai keseluruhan kepribadian Nabi dan akhlak beliau, yang dalam kepribadian dan akhlak beliau disebutkan dalam Kitab Suci sebagai teladan yang baik (uswah hasanah) bagi kita semua "yang benar-benar berharap pada Alloh pada Hari Kemudian, serta banyak ingat kepada Alloh" (Q.S. al-Ahzab 33:32). Dan beliau juga dilukiskan dalam Kitab Suci sebagai seorang yang berakhlak amat mulia (Q.S. al-Qalam 68:4). Dengan demikian Nabi, dalam hal ini tingkah laku dan kepribadian beliau sebagai seorang yang berakhlak mulia, menjadi pedoman hidup kedua setelah Kitab Suci bagi seluruh kaum beriman.

Tetapi justru karena itu maka memahami sunnah Nabi tidak dapat lepas dari memahami Kitab Suci. Sebab sesungguhnya akhlak Nabi yang mulia itu tidak lain adalah semangat Kitab Suci al-Qur'an itu sendiri, sebagaimana dilukiskan A'isyah,
isteri beliau. Dari Kitab Suci kita mengetahui lebih banyak perkembangan kepribadian Nabi yang menggambarkan pengalaman Nabi, baik yang menyenangkan atau tidak, yang keseluruhannya menampilkan sosok Nabi yang berkepribadian mulia. Dari pengamatan atas gambaran itu kita dapat memperoleh ilham tentang peneladanan pada beliau, dan keseluruhan sasaran peneladanan itu tidak lain ialah sunnah nabi. Sebagai contoh, dua surat yang termasuk paling banyak dibaca dalam sholat dapat kita renungkan maknanya di sini.

Demi pagi yang cerah dan demi malam ketika telah kelam. Tidaklah Tuhanmu meninggalkan engkau (Muhammad), dan tidak pula murka. Dan pastilah kemudian hari lebih baik bagimu daripada yang sekarang ada. Dan juga pastilah Tuhanmu akan
menganugerahimu, maka kamu akan lega. Bukankah Dia mendapatimu yatim, kemudian Dia melindungimu?! Dan Dia mendapatimu bingung, kemudian Dia membimbingmu?! Dan Dia mendapatimu miskin, kemudian Dia memperkayamu?! Maka kepada anak yatim,
janganlah engkau menghardik! Dan kepada peminta-minta, janganlah kamu membentak! Sedangkan berkenaan dengan nikmat karunia Tuhanmu, engkau harus nyatakan! (QS. al-Dhuha 93:1-11)

Bukankah Kamu telah lapangkan dadamu?! Dan Kami bebaskan bebanmu, yang memberati punggungmu?! Serta Kami muliakan namamu?! Sebab sesunggahnya bersama kesulitan tentu ada kemudahan! Maka jika engkau bebas, kerja keraslah! Dan kepada
Tuhanmu, senantiasa berharaplah! (QS. al-Syarh 94:1-8)

Para ahli hampir semuanya sepakat bahwa surat al-Dhuha turun kepada Nabi berkenaan dengan peristiwa terputusnya wahyu yang relatif panjang, sehingga menimbulkan ejekan dan sinisme kaum musyrik Makkah bahwa Alloh SWT telah meninggalkan Nabi dan murka kepadanya. Dari latar belakang turunnya, surat ini juga menggambarkan tentang suatu dinamika pengalaman Nabi dalam perjuangan beliau, sehingga seperti dikatakan Sayyid Quthub, Alloh menghibur beliau dan memberinya dorongan moral, bahwa Alloh sama sekali tidak meninggalkan beliau dan tidak pula murka.

Alloh juga mengingatkan Nabi bahwa masa mendatang lebih penting daripada masa sekarang. Dalam terjemah kontemporernya, Alloh mengingatkan Nabi bahwa perjuangan jangka panjang, yang strategis lebih penting daripada pengalaman jangka pendek,
yang taktis. Oleh karena itu hendaknya Nabi tidak putus asa atau kecil hati oleh pengalaman kekecewaan jangka pendek. Sebab, perjuangan besar selalu memerlukan waktu untuk mencapai hasil dan semakin besar nilai suatu perjuangan maka semakin
panjang pula dimensi waktu yang diperlukannya. Dan dalam jangka panjang itulah, selama perjuangan diteruskan dengan penuh kesabaran dan harapan, Alloh menjanjikan untuk memberi kemenangan yang bakal membuat beliau puas dan lega. (Janji Alloh ini kelak ternyata terbukti dan terlaksana, berupa kemenangan demi kemenangan yang diraih Nabi setelah hijrah ke Madinah, dan beliau pun wafat memenuhi panggilan menghadap Alloh dalam keadaan menang dan sukses luar biasa).

Bersamaan dengan itu Alloh juga mengingatkan akan masa lampau Nabi yang penuh kesusahan seperti keadaan beliau yang yatim-piatu, bingung tentang apa yang hendak dilakukan dan miskin, dan bagaimana Alloh telah menunjukkan kasih-Nya pada
beliau dengan memberi kemampuan mengatasi kesusahan itu semua. Dan berdasarkan latar belakang itu maka Alloh berpesan agar Nabi janganlah sampai menghardik anak-yatim, atau membentak peminta-minta, dan selalu ingat dengan penuh syukur akan nikmat karunia Alloh SWT.

Sunday, November 22, 2009

Keajaiban Doa

Beberapa waktu yang lalu di kantor saya kedatangan seorang bapak, beliau mantan salahsatu wartawan senior. Beliau bercerita tentang sakitnya penyakit radang empedu, penyakitnya sangat parah sehingga harapan hidupnya sangat menipis. Beliau menitipkan shodaqohnya untuk anak-anak Amalia dan memohon doa agar operasi yang dijalaninya berjalan dengan lancar sehingga masih ada harapan untuk berbuat baik untuk sesama. 'Saya yakin Mas Agus, hidup dan mati kita hanya ditangan Alloh SWT, kita hanya memohon dan berdoa semoga Alloh memberkahi hidup dan mati kita sebagai hambaNya yang selalu bersyukur atas karuniaNya,' begitu tuturnya, kacamatanya nampak basah tak mampu untuk ditutupinya. berkali-kali beliau mengeluarkan kain pengelap untuk membersihkan kacamatanya. Usianya yang senja namun badannya masih terlihat tegap dan gagah tak terlihat bahwa didalam dirinya ada sesuatu penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

Perjalanan waktu begitu cepat. bersamaan doa anak-anak Amalia yang dipanjatkan, operasi itu berjalan dengan lancar. Beliau kembali pulih dan bugar. Wajahnya berseri sewaktu saya berkunjung ke Rumah Sakit Harapan Kita. Beliau bercerita bahwa proses menuju kematian kita sungguh menakjubkan, dari rasa dingin naik ke kaki, betis sampai di kepala. Rasa dingin itu berjalan perlahan. 'Terbayang oleh sayang malaikat maut segera mencabut nyawa saya, Mas Agus..'tuturnya, wajahnya penuh ekspressi yang jernih. 'Tak lupa saya selalu mengucapkan syahadat, jangan sampai saya mati dalam keadaan sebagai orang yang ingkar,' ucapnya dengan suara pelan.

Dalam keadaan antara sadar dan tidak, beliau mendengar suara anak-anak yang sedang melantunkan ayat suci al-Qur'an dan bayangan dirinya pada masa lalu semua berjalan dengan cepat dan nampak jelas semua yang telah dilakukannya, dosa-dosa yang membuat takut dirinya sendiri . Disaat itu juga beliau memohon ampun kehadirat Alloh SWT agar diberikan kesempatan untuk bertaubat.

Ketika beliau berjanji untuk bertaubat, tiba-tiba sadarkan diri. Semua operasinya dinyatakan berjalan dengan baik dan lancar. Tubuhnya kembali pulih seperti sediakala. Dari pengalaman itu beliau menjadi yakin bahwa doa yang dipanjatkan secara sungguh-sungguh dengan keikhlasan adalah sebuah keajaiban. Alloh SWT senantiasa peduli dengan apa yang kita pikirkan, kita rasakan dan apa yang kita perbuat. Alloh SWT selalu mengabulkan doa-doa kita yang kita panjatkan secara sadar ataupun tidak sadar, yang disengaja ataupun yang tidak disengaja sehingga patutlah kita memohon kepadaNya yang terbaik untuk kebahagiaan diri kita, keluarga kita dan bangsa yang kita cintai. Subhanallah..

--
Obatilah orang-orang yang sakit dengan shodaqoh, bentengilah harta kalian dengan zakat dan tolaklah bencana dengan berdoa (HR. Baihaqi).

Thursday, November 19, 2009

Pada Suatu Malam

Pada suatu malam di Rumah Amalia. Terdengar suara anak-anak yang sedang membaca al-Quran. Beberapa hari ini malam turun hujan. Ada beberapa anak Amalia yang sedang sakit. Sekalipun begitu anak-anak Amalia masih tetap bersemangat untuk belajar. Saya mengatakan kepada anak-anak nanti Kak Agus mau bercerita. 'Asyik..' Teriak Fadel. 'Pasti ceritanya seru nih..'kata Adi. 'Tapi nggak boleh berisik ya..' kata Lola dengan mata melotot. Wajah mereka seolah sudah tak sabar menanti. Tak Lama kemudian setelah semua sudah membaca al-Quran saya bercerita kisah yang terjadi pada masa Nabi Sulaiman.

Di Masa Nabi Sulaiman Alaihissalam ada bayi yang diperebutkan oleh dua ibu. Keduanya mengaku sebagai ibu dari bayi itu, tidak ada yang mau mengalah dan mengakui siapa sebenarnya ibu sang bayi, karena sama-sama bersikukuh sebagai ibu maka persoalan itu dibawalah kepada Nabi Sulaiman. 'Lantas apa yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman Kak?' tanya Desi. 'Nah, yang terjadi selanjutnya Nabi Sulaiman memerintahkan kedua ibu sang bayi maju kedepan dan bertanya, siapakah ibu dari sang bayi ini? tanya Nabi Sulaiman. Keduanya menangkat tangan. karena keduanya tetap ngotot mengaku sebagai ibu sang bayi, Nabi Sulaiman berpura-pura akan membelah bayi itu agar terbagi dua.

'Wah..kasihan dong Kak, bayinya kan tidak berdosa?' teriak Egi.

'Kan Nabi Sulaiman nggak beneran belahnya..'jawab Irji.

Kalian tahu apa yang terjadi?' tanya saya. 'Tidak kak!' Jawab anak-anak Amalia serentak.

Tiba-tiba salah satu ibu yang berbadan kurus menyetujui usulan itu. Sementara ibu yang berbadan gemuk menolak usulan itu dan merelakan sang bayi itu karena tidak tega bila bayinya dibelah. Dengan berlinangan air mata ibu itu memohon kepada Nabi Sulaiman agar bayinya tidak dibelah dan dia rela menyerahkan bayi itu kepada ibu yang kurus. Akhirnya Nabi Sulaiman mengerti bahwa ibu sang bayi adalah ibu yang berbadan gemuk maka beliaulah yang berhak menjadi ibu yang sebenarnya sementara ibu yang berbadan kurus mendapatkan hukuman karena telah melakukan kesalahan akibat perbuatannya sendiri.

Diakhir cerita, saya menjelaskan kepada anak-anak Amalia bahwa kita bisa belajar menjadi orang yang memiliki sifat kasih sayang seperti ibu tadi karena sifat kasih sayangnya, ia tidak tega melihat bayinya disakiti. Ibu itu memilih untuk mengalah dan berkorban demi keselamatan bayinya. Sifat mulianya ibu dan kasih sayangnya kepada anaknya adalah cerminan dari sifat kasih sayang Alloh SWT kepada hamba-hambaNya yang beriman. Itulah sifat Alloh SWT yang disebut dengan Ar-Rahim atau Maha Pengasih.

---
Sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (QS. Annisa (4): 16).

Sunday, November 15, 2009

Faedah Membaca Ayat Kursy

Kemaren sore saya kedatangan seorang tamu. Setelah anak-anak Amalia bimbel bahasa inggris, istri saya mengantarkan pengajarnya untuk pulang, datanglah seorang teman yang terbilang cukup muda. Kami berbincang tentang banyak hal sampai kemudian dia mengatakan dirinya dihinggapi ketakutan, misal ketika dalam kegelapan atau disaat dirinya sedang sedirian. Dia bertanya 'apa yang harus saya lakukan?' Kemudian saya menganjurkan pada sebaiknya ketika dalam ketakutan, kegelapan ataupun sendirian berserah diri pada Alloh SWT dengan banyak-banyak membaca ayat kursy sebab ayat kursy juga disebut dengan asy-syifa atau obat bagi hati kita bila sedang ketakutan.

Keistimewaan al Qur’an antara lain adalah bahwa membacanya dinilai sebagai ibadah meski tidak faham artinya, berbeda dengan doa yang harus difahami artinya.. Anjuran untuk bertadarus banyak sekali dijumpai dalam ajaran Islam. Al Qur’an sendiri menyebut dirinya sebagai hudan (petunjuk), syifa (obat), rahmah (wujud kasih sayang), zikr (peringatan), tibyanan (penjelasan). Disamping itu hadis Nabi banyak menyebut keutamaan dan khasiat membaca surat atau ayat tertentu. Oleh karena itu tidak aneh jika muncul persepsi orang Islam yang menempatkan ayat al Qur’an sebagai asy-syifa atau obat. Hadis tentang khasiat ayat Kursi misalnya menyebutkan, : Jika ayat Kursi dibaca di rumah, maka syaitan terhalang tiga hari dan tukang sihir terhalang 40 hari tidak bisa masuk ke dalamnya. Hadis lain menyebut bahwa barang siapa membaca ayat Kursi setiap habis salat fardu maka ia layak masuk sorga, dan hanya orang jujur dan ahli ibadah yang bisa melakukannya, barang siapa yang membacanya setiap akan tidur maka Alloh memberikan rasa aman kepada dirinya dan kepada tetangga di sekelilingnya. Nabi sendiri pada waktu perang Badar selalu membaca ayat ini, terutama pada bagian ya Hayyu ya Qoyyum.

artinya ayat Kursy,
Alloh, tiada Tuhan selain Dia, yang Hidup dan terus menerus mengurus (makhluk Nya), tidak mengenal ngantuk, apalagi tidur, bagi Nya segala apa yang ada di langit dan di bumi, tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Alloh tanpa izin Nya, Alloh mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan apa-apa yang ada di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Alloh kecuali apa yang dikehendaki Nya, Kursi Alloh meliputi langit dan bumi, dan Alloh tidak repot mengurusi keduanya, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Dari ayat itu sekurangnya ada empat hal bisa didalami maknanya. (1) bahwa Alloh itu hayyun dan qayyum, yakni hidup dan aktif mengurusi alam semesta (2) Alloh memiliki dan menguasai langit dan bumi dengan segala isinya, (3) Alloh mengetahui se detail-detailnya tentang apa dan siapa, dan (4) Manusia tidak dapat menggapai ilmu Alloh kecuali sekedar yang dikehendaki oleh Nya. Diantara yang penting untuk difahami dari kandungan ayat Kursiy adalah batasan ilmu manusia dan kehendak Alloh.

Friday, November 13, 2009

Angin Yang Berhembus

Malam turun hujan rintik-rintik, angin yang berhembus sejuk menyapa anak-anak Amalia yang sedang belajar. Raut wajahnya penuh kegembiraan, matanya berbinar-binar mendengarkan saya bercerita tentang Nabi Musa. Ketika Nabi Musa dan para pengikutnya berlari meninggalkan Mesir, Raja Fir'aun dan pasukannya mengejar dengan persenjataan yang lengkap. Raja Fir'aun dan pasukannya mengejar nabi Musa dan pengikutnya.

'Lantas apa yang terjadi Kak?' tanya Adit.

Nah Adit, setelah Nabi Musa ditepi Laut Merah, jelas saya pada anak-anak Amalia. Tampak dari kejauhan pasukan Fir'aun semakin mendekat. Melihat hal itu pengikut Nabi Musa ketakutan. Mereka menghadapi situasi tidak mudah dan berbahaya. Mereka tidak mampu menghadapi Raja Fir'aun dan pasukannya karena kaumnya Nabi Musa terdiri dari laki-laki tidak bersenjata, perempuan dan anak-anak.

'Wah seru nih,' kata Irji. Lola menyuruh diam Irji dengan menaruh telunjuk jarinya dibibir. 'Kaumnya Nabi Musa tentunya kalah ya kalo menghadapi pasukannya Nabi Musa?' tanya Irji. 'Ya kalah dong..' kata Lola. Begitulah anak-anak Amalia tengah asyik didalam imajinasinya sendiri dengan saling berdiskusi.

Kemudian Alloh SWT mewahyukan kepada Nabi Musa agar memukul tongkatnya ke tanah. Tiba-tiba laut terbelah menjadi dua bagian sehingga dibagian tengahnya dapat dilewati. Nabi Musa dan pengikutnya segera melewati lautan. Fir'aun dan pasukannya ikut menyusul menyeberangi lautan yang terbelah, namun ditengah menyeberangi lautan Alloh SWT mengalirkan kembali air lautnya sehingga Fir'aun dan pasukannya tenggelam.

Diakhir cerita saya menjelaskan kepada anak-anak Amalia bahwa kita harus yakin bahwa Alloh SWT akan selalu menjaga dan memelihara hamba-hambaNya yang beriman seperti kita, anak-anak Amalia karena Alloh SWT tidak akan membiarkan hamba-hambaNya yang beriman menghadapi kesulitan maupun kesukaran. Salah satu sifat Alloh SWT adalah Al-Wakil, Al-Wakil artinya Maha Pemelihara semua makhlukNya sehingga tidak ada satupun makhluk yang terlepas dari urusanNya.

--
Demikian itu adalah Alloh, Tuhan kamu, Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. dan Dia adalah Maha Pemelihara segala sesuatu (QS: Al-Anam:102).

Tuesday, November 10, 2009

Tanda Syukur

'Bagaimana kita mensyukuri atas nikmat dan karuniaNya?' 'Apa yang harus kita kerjakan?' 'Bukankah sholat merupakan sebagai tanda syukur kita kepada Sang Khaliq atas semua limpahan nikmat yang kita terima sebagai hamba?' Begitulah kira-kira yang dilontarkan oleh seorang bapak dengan raut muka yang bersahaja. Sore itu beliau sudah berjanji ingin bersilaturahmi ke Rumah Amalia. Kunjungannya yang tidak begitu lama namun banyak mutiara-mutiara hikmah yang saya dapatkan dari beliau yaitu tentang tanda syukur. Sebagai seorang insan yang begitu besar dikarunia limpahan nikmat beliau sering melakukan perjalanan untuk kegiatan usahanya namun disisi lain kegiatan ibadah terlupakan. Setiap kali berkuamndang adzan staf dan karyawannya menunaikan sholat, malah dirinya sebagai atasan tidak pernah mengerjakan sholat.

'Bapak sudah sholat?'tanya salahsatu stafnya ketika semua stafnya hendak menunaikan sholat. Saya memang tengah berjalan lambat laun untuk menghindar, dengan rikuh segera saya menjawab bahwa saya sudah sholat, tuturnya. Begitulah setiap saat jawabannya. Saya sebenarnya tapi apa boleh buat, saya tidak mungkin mengatakan kepada staf dan karyawan saya jika saya tidak bisa sholat? ucap beliau lirih. Sambil menunggu orang-orang sedang sholat, saya duduk terdiam sendirian. Tak berapa lama saya tersentak kaget. Saya merasa pipi saya ada yang menampar dengan keras, belum habis keheranan saya, ketika terdengar suara, 'Begitu besar karunia yang diberikanNya kepadamu, kenapa kamu tidak pernah bersyukur?' bisik suara itu yang terdengar keras ditelinganya. Saya mencari sumber suara itu, suara siapakah gerangan? Saya juga tidak tahu, tuturnya.

Tak ada orang disekitar saya dan memang kehadiran suara itu tidak begitu menjadi pikiran, yang ada justru saya merasa terbangun dari sebuah mimpi buruk yang berkepanjangan. Saya meratapi diri, saya malu terhadap diri sendiri sebagai seorang pimpinan sebuah perusahaan setiap kali mengucapkan salam, doa untuk keselamatan bagi setiap orang yang saya jumpai. 'Ya Alloh..' desisnya pelan menengadahkan kepala dengan mata berkaca-kaca. 'Apa artinya segala yang telah saya lakukan selama ini?' Padahal Engkau telah melimpahkan rahmat yang begitu besar pada hambaMu ini, memberi materi, anak-anak yang sehat, istri yang setia, Engkau pula yang telah memberikan usia yang panjang. Tapi pernahkah hambaMu ini ingat akan bekal untuk menghadapMu?' ucapnya.

Kejadian demi kejadia tergambar begitu nyata dimatanya. Sampai tak sadar bahwa orang-orang dikantornya telah selesai sholat. Buru-buru saya mengusap air mata dan bergabung kembali dengan mereka. Hari itu juga dengan niat sungguh-sungguh saya harus membangun tiang agama sebagai tanda syukur atas semua nikmat dan karuniaNya.

'Saya merasa malu terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain, dalam seusia saya setengah abad ini, saya baru sadar dan mau belajar sholat. a[akah tidak terlambat mas agus? tanyanya.

'Tidak Pak..Tidak ada kata terlambat dalam berbuat kebaikan,' jawab saya kepada beliau. Sore itu menjadi teramat indah. Di Rumah Amalia bunga-bunga dihalaman nampak bermekaran, burung-burung beterbangan seolah bersenandung memanjatkan kebesaranNya. Hidayah telah membukakan pintu hatinya, kehidupan menyambutnya penuh sukacita. Kalaulah batin manusia yang dahaga, telah beberapa tahun kering kerontang tak pernah mendapatkan setetes airpun lalu mendapatkan segelas air segar. Beliau menemukan kesejukan dan kesegaran menjalankan ibadah sebagai tanda syukur terhadap semua nikmat dan karuniaNya.

----
'Ya Tuhanku. Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat.' (QS. Ibrahim: 40).

Berdalih

Pada suatu hari Pak Lurah memberikan petunjuk teknis kegiatan kerja bakti. 'Sebelum saya memulai menjelaskan petunjuk teknis dan peran warga pada kegiatan kerja bakti kita dihari ini, mohon bapak-bapak dan ibu-ibu yang membawa HP dimatikan. Semua warga merogoh kantong kemudian mengeluarkan HPnya dan mematikan.

'Terima kasih bapak-bapak, ibu-ibu. Jadi sekarang kita bisa segera memulai..' kata Pak Lurah.

Tiba-tiba terdengar ada HP yang berbunyi suara Wulan Jamila 'akulah gadis yang paling seksi ao..ao..' ;Sekali lagi saya ingatkan, mohon HPnya dimatikan.' kata Pak Lurah dengan nada suara tinggi. Semua warga kasak kusuk, memeriksa HP masing-masing, semua sudah merasa mematikan. Pak Lurah baru sadar ternyata yang berbunyi HP yang dikantongnya sendiri.

"Nah, inilah bapak-bapak, ibu-ibu kepada anak kita juga mesti bersikap tegas mengingatkannya, 'Nak, Kalo mau berubah nada ringstone bapak, bilang-bilang dong..'

Begitulah jika kita menjadi pemimpin suka sekali berdalih. Bahkan semakin tinggi kekuasaan seseorang, semakin canggih cara berdalihnya. Terkadang kita sebagai orang awam dibuatnya tidak mengerti apa yang disampaikan benar atau salah. Kecanggihan berdalih bisa memutarbalikkan fakta, yang benar bisa dibuat salah dan yang salah bisa dibuat menjadi benar.

--
“Tidak ada yang bisa benar-benar istiqomah (dalam kebaikan) melainkan orang-orang besar.” (Disebutkan oleh an-Nawawi dalam Syarh Muslim).

Monday, November 09, 2009

Lupa Diri

Johan baru saja mendapatkan promosi atas jabatan diperusahaannya bekerja karena prestasinya yang gemilang, Johan mendapatkan mobil baru. Dia setiap saat mengendarai mobil barunya, dia selalu merasa bahagia, terkadang lupa akan sekelilingnya.

Pada suatu hari Johan sedang dalam perjalanan pulang dari Town Square. Ditengah-tengah asyiknya mengendarai mobil, Johan merasa ada yang kurang. 'Sepertinya ada yang kurang, apa ya?' bisiknya dalam hati. Johan kemudian meminggirkan mobilnya, dia periksa semua belanjannya tetapi tidak ada yang kurang. Johan periksa dompet dan handphone, semuanya ada. Akhirnya dengan mantap dan penuh percaya diri, Johan pulang dengan hati penuh kegembiraan.

Ketika sesampainya dirumah, putrinya yang cantik telah lama menunggu berlarian dan memeluknya.. Putrinya terheran dan bertanya, 'Ayah, mamah mana?'

Begitulah kita, biasanya ditengah puncak karier ataupun puncak kejatuhan memperlihatkan wajah diri kita yang sebenarnya, wajah 'lupa diri.' Lupa diri adalah lupa akan diri sendiri, lupa betapa kita juga membutuhkan orang lain, lupa akan makna kehidupan yang hakiki. Lupa bahwa hidup didunia hanya sebentar. Jadi, menjaga kesadaran diri bagian yang paling penting dalam hidup kita senantiasa tetap mengingat dari mana kita berasal dan kemana kita akan kembali agar kita tidak lupa diri.

--
Sesungguhnya kita berasal dari Alloh dan kepada-Nya kita kembali (QS.Al-Baqarah : 156).

Sunday, November 08, 2009

Orang Miskin

Di satu daerah kompleks perumahan seorang anak kecil berlarian sambil berteriak pada ibunya, 'Mamah..mamah.' Mamahnya yang sedang sibuk didapur terkejut mendengar teriakan anaknya. 'Ada apa, dek?' tanya mamahnya.

'Kayaknya tetangga kita, rumah sebelah orang miskin deh..mah.' kata sang anak.

'Ah, masa sih dek?' tanya mamahnya.

'Iya mah..masa karena anaknya menelan uang logam 500 rupiah aja sudah pada ribut.' jelas sang anak pada mamahnya.

Begitulah anak-anak berpikir dengan logikanya sendiri. Bila menelan uang 500 rupiah nilainya kecil maka dianggapnya sebagai orang miskin, mungkin bila yang ditelan uang 50.000 rupiah bisa jadi dianggapnya sebagai orang kaya. Namun begitulah kita sering kali kita juga menilai diri kita sendiri dan orang lain dari jumlah kekayaan yang dimiliki bukan dari kecukupan dan kebersyukuran.

Saya teringat diwaktu masih SMP memahami makna kecukupan dan kebersyukuran melalui penjelasan bapak saya. Bapak saya begitu sangat menghormati penjual sayur yang dipandang miskin, saya pernah bertanya padanya kenapa bapak sangat menghormatinya.

Bapak saya mengatakan, 'Apakah dia masih sholat?'

'Masih pak,' jawab saya.

'Pernahkah kita mendengar kabar dia mengambil milik orang lain?' tanya bapak.

'Tidak pak,' jawab saya.

'Pernahkah kita mendengar dia mengeluh karena kemiskinannya?' tanyanya lagi.

'Tidak pernah pak.' jawab saya.

Bapak saya kemudian menjelaskan, jika ada orang miskin yang tidak pernah meninggalkan sholatnya, tidak pernah mengambil hak orang lain dan tidak pernah mengeluh kepada orang lain karena kemiskinannya maka kita wajib menghormatinya, sebab dari merekalah kita bisa belajar tentang kecukupan dan syukur nikmat atas semua karuniaNya.

---
'Dan barangsiapa yang akhirat menjadi keinginannya, niscaya Alloh kumpulkan baginya urusan(dunia)-nya dan dijadikan kekayaan di dalam hatinya dan didatangkan kepadanya dunia bagaimanapun keadaannya.' (HR Ibnu Majah)

Saturday, November 07, 2009

Belajar Di Hari Libur

Pada hari Ahad (08/11/09) jam 8 pagi Kak Nani sudah datang, sementara anak-anak Amalia juga hadir untuk belajar di hari ahad. Belajar pagi itu sangat menyenangkan bagi anak-anak. Belajar dihari libur esensi bagi anak-anak adalah bermain. Bermain yang terarah membuat anak-anak mampu berfikir secara aktif. Kak Nani membagi anak-anak menjadi tiga kelompok. Belajar secara berkelompok memudahkan anak-anak untuk berinteraksi, yang sudah mengerti bisa mengajarkan kepada yang belum bisa. Anak-anak menjadi ramai dengan suara yang riuh.

Saya teringat ada seorang ibu pernah bertanya, bagaimana anak-anak lebih menyenangi kegiatan belajar?' 'belajar akan disenangi anak-anak apabila berperan lebih aktif dalam proses pembelajaran.'jawab saya. 'bukankah hal itu sulit sekali dilakukan pada anak-anak?' tanya sang ibu. saya jelaskan pada sang ibu agar anak-anak berperan lebih aktif dalam proses pembelajaran adalah memberikan anak-anak pengalaman melalui observasi atau praktek langsung. Jika kita ingin mengajarkan anak-anak tentang transaksi, cara yang mudah adalah mengajak anak-anak datang ke super market memperhatikan setiap kegiatan yang berada di super market, kemudian kita mensimulasikan kegiatan di super market.

Berikutnya menjadi bagian yang paling penting bagi anak-anak adalah kesempatan untuk berdialog. Berdialog dengan diri sendiri dan berdialo dengan teman-temannya. Selain mengobservasi dan mencoba sendiri, anak-anak juga perlu diberikan kesempatan untuk berpikir mengenai apa yang telah diperhatikan atau yang telah ditemukan melalui kegiatan prakteknya. Anak-anak juga perlu mengekspresikan apa yang telah dipikirkannya kepada teman-temannya dan kepada gurunya, baik dalam bentuk komentar maupun pertanyaan. Melalui dialog inilah anak-anak merangkai informasi seolah merangkai puzzle. informasi yang diterima semakin utuh dan tidak mudah untuk dilupakan.

Pada dasarnya otak kita memiliki memori jangka panjang dan jangka pendek. Informasi yang tidak diolah dan disimpan dalam memori jangka pendek maka cepat terlupakan. Sedangkan kegiatan yang menyenangkan dan nyaman dengan berperan lebih aktif dalam proses pembelajaran dan dialog akan tersimpan dalam memori jangka panjang sehingga dapat diakses kembali dan digunakan disaat situasi yang relevan dilain waktu. Itulah sebabnya belajar dihari libur esensinya adalah bermain. Bermain merupakan kegiatan yang paling menyenangkan bagi anak-anak Amalia seperti pagi ini dihari Ahad.

----
'Niscaya Allah akan meninggikan orang2 yang beriman di antaramu dan orang2 yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.' (Al Mujadilah: 11).

Kegiatan Bimbel Di Hari AHad

Kegiatan anak-Anak Amalia di hari Ahad (08/11/09), Kegiatan dihari libur buat anak-anak Amalia sungguh sangat menyenangkan karena esensinya adalah bermain. Bermain yang terarah akan mampu merekam pada memori anak-anak jangka panjang.

Injakan Kaki Diatas Kepala

'Bagaimana perasaan kita jika kepala kita ada yang menginjak? apakah kita berhak untuk marah?' Begitulah yang dirasakan pemuda itu. Insiden terjadi disaat dirinya tengah mengerjakan sholat. Ketika ditengah khusyuknya dia bersujud, tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah kaki yang menginjak kepalanya. Awalnya pemuda itu marah, begitu bangun dari sujudnya seolah tersadar apa yang sebenarnya terjadi, ternyata yang menginjak kepala adalah seorang kakek yang tua renta. Lantas berkali-kali pemuda itu beristighfar hampir saja dirinya mencengkram krah baju sang kakek tua.

Air matanya terus mengalir, ditengah kegalauannya hidup, hendak memohon pertolongan kepada Alloh SWT yang terjadi malah sebuah kejadian yang menyakitkan dirinya. 'Apakah sebenarnya yang terjadi?' ucap pemuda itu. 'Apakah ini sebuah jawaban dari Alloh? Sungguh betapa hinanya aku bila tidak memahami betapa kecilnya diriku dan betapa Maha Besarnya Engkau Ya Alloh.' tuturnya dalam hati. Pemuda itu raut wajahnya berubah. Amarahnya berubah menjadi senyuman. Injakan kaki sang kakek tua itu telah menyadarkan atas kesombongan yang ada pada dirinnya. pemuda itu telah menemukan makna sujud dari peristiwa itu. Masalah hidup yang telah membuat hatinya galaupun berlalu begitu saja. Pemuda itu menyelesaikan sholat dengan hati penuh riang dan gembira. Kegembiraan itu juga dirasakan seluruh keluarganya.

Sang Khaliq selalu hadir dengan yang dipahami maupun yang tidak bisa dipahami oleh kita. Alloh SWT Yang Maha Besar hadir dengan cara yang tidak terbatas. Kewajiban kita adalah selalu merasakan kehadiranNya dibalik setiap peristiwa. Ada kehadiranNya dibalik nikmat, Ada kehadiranNya dibalik kesusahan. Ada kehadiranNya dibalik senyuman dan ada juga kehadiranNya dibalik 'injakan kaki' diatas kepala kita. Dia Yang Maha Agung juga hadir dalam keindahan lautan, dalam hutan nan hujau, maupun dalam setiap peristiwa besar yang kita alami sekarang ini bahwa bencana alam yang terjadi secara berturut-turut menyadarkan diri kita ada bencana sosial ditengah kehidupan bangsa ini. 'Apakah kita menyadari hal ini adalah sebuah injakan kaki dikepala agar kita kembali kepadaNya?'

---
'Sesungguhnya kami hanyalah milik Alloh dan sesungguhnya hanya kepadaNyalah kita akan dikembalikan. “Ya Alloh, berilah kami pahala dalam musibah ini dan berilah kepada kami gantinya dengan yang lebih baik daripadanya.' (HR. Muslim).

Menggemari Buku

Sabtu pagi jam 9, anak-anak Amalia berangkat bersama-sama ke Indonesia Book Fair, JCC, Senayan. Bersama Lusi, Atun, Mona, Rizki, Novi, Ari, Egi dan Hana penuh kegembiraan. Kegembiraan itu terpancar dari raut wajahnya dengan senyuman. Begitu kami sampai anak-anak sudah berlarian. Indonesia Book Fair nampak meriah, banyak orang-orang yang memenuhi setiap stan bahkan disalahsatu stan Hana sibuk dengan komputer interaktifnya. Sementara kakak-kakaknya sedang asyik membaca. Rizki menggemari buku yang berjudul 'Master Sulap.' Rizki sedang membayangkan dirinya seolah Dedy Corbuzse Sang Master. Mona dan Lusi membaca buku resep makanan, Novi terlihat lebih asyik dengan komik bergambar.

Biasanya kami di Rumah Amalia senantiasa menugaskan anak-anak agar membaca salahsatu buku kemudian merangkum. Setelah merangkum maka mereka menceritakan pada teman-temannya dengan demikian anak-anak menjadi menggemari buku. Menggemari buku akan membuka cakrawala anak-anak untuk meluaskan pemikiran. membaca, menulis dan bermain merupakan sebuah rangkaian belajar yang tidak pernah berhenti. Bagian yang paling penting dari proses belajar secara terus menerus.

Saya teringat ketika Baginda Nabi Muhamad SAW menerima wahyu pertama kali yang berbunyi, Iqra bismirrobikal ladzi kholaq, 'Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan.' Pesannya adalah agar kita senantiasa membaca. Membaca buku, membaca rangkaian setiap peristiwa yang berada disekeliling kita agar kita menjadi orang yang selalu peduli. Dengan menggemari buku maka anak-anak mengasah kepekaan pikiran dan perasaan yang ada pada dirinya.

Itulah sebabnya kepergian kami ke Indonesia Book Fair merupakan upaya agar anak-anak Amalia menggemari buku dan kami juga sempat sejenak mendengarkan diskusi menarik tentang buku 'Api Sejarah' namun saya lupa nama penulisnya. Berbagai buku dilahapnya sampai habis bahkan ada buku yang menarik, disebutnya dengan 'Talking Book.' Buku yang bisa berbicara, Hana putri saya mencoba 'Talking Book' mudah dan sederhana karena ada peralatan elektroniknya namun sayang masih terasa mahal untuk kami. Pada sesi terakhir kami memasuki salahsatu stan dan anak-anak mendapatkan buku serta majalah komik gratis sebagai hadiah untuk anak-anak Amalia yang selalu menggemari buku. 'terima kasih kak..' ucap anak-anak Amalia dengan wajah tersenyum penuh kebahagiaan.

---
'Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Alloh dan mereka itulah ulul albab' (QS. 3:7).

Friday, November 06, 2009

Anak-anak Amalia ke Indonesia Book Fair

Pada hari sabtu jam 9 pagi kami berangkat ke Indonesia Book Fair JCC Senayan, ternyata acara Indonesia Book Fair sangat meriah sekali. Lihat nih Lusi, Atun, Mona, Novi, Rizki, Egi, Ari dan Hana lagi sibuk berkeliling penuh semangat mencari dan membaca buku-buku baru, Hana lagi asyik nih maen komputer.
AGUSSYAFII BLOG
2006
Proudly powered by : Blogger