Kampanye Program "Qurban Untuk Amalia"

Tuesday, March 31, 2009

Bagaimana Mungkin Menyembuhkan?

malam itu saya kedatangan tamu. Seorang bapak yang bertutur bahwa istrinya sedang sakit. Ada pertanyaan yang menarik dari beliau. 'Mas Agus, bagaimana shodaqoh bisa menyembuhkan sakit istri saya?'

'Bapak, shodaqoh itu tidak menyembuhkan penyakit bapak. Alloh SWT yang menyembuhkan penyakit istri bapak. Apapun yang diberikan oleh Alloh SWT seperti sehat atau sakit adalah karunia Alloh SWT, shodaqoh merupakan wujud rasa syukur kita atas semua karuniaNya.

'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'(Q.S. Ibrahim : 7).

'Rasa syukur terhadap karunia Alloh SWT inilah yang mempercepat proses penyembuhan sebuah penyakit' Jawab saya padanya.

Sebulan cepat berlalu, pagi ini saya mendapatkan sms dari bahwa istrinya sudah sembuh. Shodaqoh & sholat meluaskan hati kami, itulah yang membuat istri menjadi cepat sembuh. terima kasih ya mas agus.

--
Obatilah orang-orang yang sakit dengan shodaqoh dan bentengilah harta-harta kalian dengan zakat dan siapkan untuk menolak bala' dengan doa (Hadist Riawayat Baihaqi)

Kerinduan Seorang Anak

Malam kemaren Icha sehabis mengaji bertanya, 'kak agus pernah lihat surga?' 'Belum Cha.' Jawab saya. 'Napa Kak?' tanya saya. Icha bercerita semalam dirinya melihat papah disurga, wajahnya sangat ganteng dan tersenyum pada Icha. Mendengar penuturannya tanpa terasa air mata saya mengalir. Hati saya bagaikan disayat-sayat.

Gambaran Icha bertemu papahnya disurga didalam tidurnya adalah wujud kerinduan seorang anak pada ayahnya. Anak-Anak yatim seperti Icha adalah anak-anak yang dimuliakan oleh Alloh SWT. Dalam sejarah mencatat orang-orang besar seperti Nabi Muhamad, Imam Ghozali, Ibnu Rusyd juga anak-anak yatim.

Itulah sebabnya Alloh SWT senantiasa memuliakan siapapun yang memuliakan anak yatim dan Baginda Nabi juga menyebut dirinya Abul Yatama, 'Bapak anak-anak Yatim.' Sebab anak-anak yatim seperti seekor burung yang terbang dengan satu sayap, membutuhkan bimbingan bahkan yang paling utama membutuhkan kasih sayang.

Kasih sayang itulah yang membuat saya bisa merasakan betapa Icha sedang merindukan papahnya tercinta. Papah yang senantiasa hidup didalam hatinya.

--
Bagi tiap tiap sesuatu itu ada KUNCINYA, dan kunci syurga adalah mengasihi,memberi atau membantu anak2 yatim, fakir miskin, musibah HR Ibnu Umar.

Konsep Nafs

Kata nafs digunakan al-Quran untuk menyebut manusia sebagai totalitas, baik manusia sebagai makhluk yang hidup di dunia maupun manusia yang hidup di alam akhirat. Sutar al-Ma’idah / 5: 32, misalnya menggunakan nafs untuk menyebut totalitas manusia di dunia, yakni manusia hidup yang biasa membuat kerusakan dimuka bumi, tetapi pada surat Yasin / 36:54, kata nafs di gunakan untuk menyebut manusia di alam akhirat.

Oleh karena itu Kami tetapkan (sesuatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya …(Q., s. al-Mai’dah / 5:32).

Maka pada hari ini seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan kamu tidak di balasi, kecuali apa yang telah kamu kerjakan (Q.,s. Yasin / 36:5)

Penggunaan nafs untuk menyebut totalitas manusia juga dapat dijumpai pada surat al-Baqarah / 2:61 dan 123, Yusuf / 12:54, al-Dzariyat / 52:21, dan al-Nahl / 16:111. dari panggunaan term nafs untuk menyebut manuia yang hidup dialam dunia maupun ialam akhirat malahirkan pertanyaan tentang pengertian totalitas manusia. Sebagaimana yang sudah menjadi pemahaman umum bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki dua dimensi, yaitu jiwa dan raga. Tanpa jiwa sengan fungsi-fungsinya manusia dipandang tidak sempurna, dan tanpa jasad, jiwa tidak dapat manjalankan fungsi-fungsinya. Surat Yasin / 36:54 mengisyaratkan adanya paham eskatologi dalam al-Qur’an, yakni bahwa disamping manusia hiup di alam dunia, ada dua lain, yakni alam akhirat dimana manusia nanti harus mempertanggungjawabkan perbuatannya selama di dunia. Jadi totalitas manusia menurut al-Quran bukan hanya bermakna manusia sebagai makhluk dunia, tetapi juga sebagai makhluk akhirat, yakni manusia juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya nanti di alam akhirat.

Petanyaan selanjutnya adalah bagaimana wujud kehidupan nafs di akhirat di banding dengan kehidupan di alam dunia. Alam dunia bersifat materi, dan keberadaan manusia di alam dunia juga bisa didekati dengan ukuran-ukuran materi dalam hal ini dengan panca indra meski di sisi lain manusia juga memiliki kehidupan spirituial. Alam akhirat bukan alam materi, oleh karena itu tolok ukur alam akhirat berbeda dengan tolok ukur alam dunia. Bagaimana manusia hidup di dunia sudah diketahui oleh ilmu pangetahuan, sedang bagaimana manusia hidup di alam akhirat hanya bisa didekati dengan keyakinan.

Menurut al-Qur’an, di alam akhirat nanti, nafs akan dipertemukan dengan badannya. Surat al-Takwir / 81:7 berbunyi: (Dan ketika nafs-nafs itu dipertemukan {dengan badannya}).

Kebanyakan tafsir, misalnya tafsir al-maraghi menafsirkan kalimat zuwwijat dengan arti dipertemukan dengan badannya. Penafsiran ini menunjukan pada ayat lain yang mengisyaratkan bahwa di alam akhirat manusia juga memiliki anggota badan. Surat / 36:65, misalnya berbunyi:

Pada hari ini kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan (Q., s. Yasin / 36:65).

Demikian juga ayat-ayat yang menggambarkan keadaan sorga mengisyaratkan adanya bentuk-bentuk kehidupan yang menyerupai kehidupan manusia di alam dunia, seperti adanya mata air sebagai sumber minuman dan gelas yang diperuntukkan bagi al-abrar seperti yang terdapat dalam surat al-Insan / 76:5 (ARAB)serta adanya dipan-dipan dan bidadari seperti dijelaskan ssurat al-Thur / 52:20

Jika nafs diakhirat nanti akan dipertemukan dengan badanya, pertanyaan yang timbul apakah badan yang lama, yang telah hancur menjadi tanah, atau badan baru yang dirancang untuk hidup di alam rohani. Ditinjau dari kekuasaan Allah SWT, maka mempertemukan nafs dengan badannya bukanlah masalah, karena seperti dipaparkan surat Yasin / 36:79 Allah SWT berkuasa menghidupkan yang mati sebagaimana berkuasa menghidupkan pada kali pertama. Selanjutnya hal itu kembali kepada keimanan dan kenyakinan.

Pengertian totalitas manusia juga bermakna bahwa manusia memiliki sisi luar dalam Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa nafs juga merupakan sisi dalam manusia.

Indahnya Hidup Dengan Shodaqoh

Ada seorang teman bertutur, pada satu hari ketika dirinya hendak datang kesalah satu kantor untuk menandatangani satu kontrak yang memiliki nilai milyaran, ditengah jalan raya perempatan ciledug, mobil yang ditumpangi terserempet becak. Akhirnya dia ribut dengan tukang becak itu. Mobilnya malah rusak dan kontraknya terbang melayang begitu saja.

Dia merasa terpukul sekali, apalagi kondisi istrinya sedang hamil. Di tengah kegalauannya, dia mendengarkan ceramah seorang ustadz tentang manfaat dan keajaiban sedekah dan menganjurkan untuk sedekah minimal 10% agar mendapatkan hasil dan pahala yang maksimal. Walaupun kondisinya sendiri masih kekurangan, teman itu mempraktekkan anjuran itu, dan akhirnya dia mulai mendapatkan jalan keluar. Omset bisnisnya mulai membaik dan rejeki semakin lancar.

Kalau kita mengeluh dan berputus asa maka kecenderungan yang tertarik adalah Justru apa yang kita keluhkan yakni berupa hal yang tidak kita inginkan seperti sesuatu yang tidak enak,ketidak beruntungan. Tetapi kalau kita bersyukur, benar-benar menerima dengan 'Ikhlas' yang diberikan oleh Allah SWT, serta bertawakal kepadanya, maka yang akan tertarik adalah keberuntungan dan dibukanya pintu nikmat, pintu rezeki, pintu hidayah, ampunan dan segala pintu kemaslahatan di dunia dan di akhirat.

'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'(Q.S. Ibrahim : 7)

Nikmatnya Shodaqoh

Sore itu saya kedatangan tamu. Mas Nurul bertutur bahwa shodaqoh itu nikmat. Pernah suatu hari dirinya dihubungi kakak tercintanya yang sedang ada kebutuhan mendesak. Sementara dirinya dalam ada kebutuhan. 'Saya bismillah mas. sungguh luar biasa nikmatnya shodaqoh itu.' katanya.

Tak lama kemudian mas nurul dihubungi oleh perusahaan yang dulu tempat bekerja. Ada bonus yang berlipat2 diterimanya. Shodaqoh itu bukti kebenaran Alloh SWT. Alloh SWT Maha besar dengan segala kuasaNya. 'Saya percaya shodaqoh memiliki kekuatan dalam kesuksesan hidup saya.' begitu tuturnya.

benarlah kiranya apa yang dikatakan Mas Nurul Untuk memahami bagaimana shodaqoh berperan dalam kesuksesan hidup Anda, ada baiknya Anda memahami Hukum Ketertarikan (The Law of Atrraction). “ Apa yang anda pikirkan itulah yang akan terjadi”

Obatilah orang yang sakit dengan shodaqoh, Bentengilah harta yang anda miliki dengan zakat dan tolaklah marabahaya dengan doa (HR Baihaqi).

Monday, March 30, 2009

Fungsi Qalb (Hati)

Fungsi yang utama dari qalb adalah sebagai alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai seperti yang disebut dalam surat al-Hajj / 22:46, atau pada surat al-A’raf / 7:179.

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada (Q., s. al-Hajj / 22:46).

Pada ayat ini, qalb mempunyai potensi yang sama dengan akal, atau yang dimaksud qalb di sini adalah akal. Berangkat dari fungsi utama inilah maka qalb secara sadar memutuskan sesuatu atau melakukan sesuatu, dan dari potensi inilah maka yang harus dipertanggungjawabkan manusia kepada Tuhan adalah apa yang disadari oleh qalb seperti yang disebut dalam surat al-Baqarah / 2:225 dan oleh fu’ad seperti yang disebutkan dalam surat al-Isra / 17:36.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesunguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertangggungjawabannya (Q., s. al-Isra / 17:36).

Dalam bahasa Arab, qalb dan fu’ad mempunyai arti yang sangat dekat penamaannya. Sebuah hadits Nabi mengisyaratkan kedekatan dari makna kedua term tersebut, yakni ungkapan kelembutan qalb (ARAB) dan kehalusan fu’ad.

Selanjutnya potensi-potensi dari qalb yang disebutkan al-Qur’an adalah:

1) Bahwa qalb itu bisa berpaling, seperti yang ada dalam surat al-Tawbah / 9:117.

2) Merasa kecewa dan kesal, seperti yang dipaparkan dalam surat al-Zumar / 39:45

3) Secara sengaja memutuskan untuk melakukan sesuatu, tertera surat al-Ahzab / 33:4 (ARAB), dan surat al-Baqarah / 2:225,

4) Berprasangka, terdapat dalam surat al-Fath / 48:12.

5) Menolak sesuatu, ada dalam surat al-Tawbah / 9:8,

6) Mengingkari, seperti yang ada dalam surat al-Nahl / 16:22

7) Dapat diuji, seperti tercantum dalam surat al-Hujurat / 49:3

8) Dapat ditundukan, ada dalam surat al-Hajj / 22:54,

9) Dapat diperluas dan dipersempit diuraikan pada surat al-An’am / 6:125

10) (bahkan) Bisa ditutup rapat, seperti yang terdapat dalam surat al-Baqarah / 2:7.

Tentang bagaimana qalb bisa berbalik, berpaling, berubah, menolak, memutuskan dan sebagainya, juga diisyaratkan oleh sebuah hadits:

Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati kami pada agama-Mu untuk taat kepada-Mu (H.R. Muslim dari Amr ibn ‘Ashsh).

Dokter Cilik Amalia (Docila)

Pada hari minggu setelah acara bimbingan belajar. Saya menyampaikan kepada anak-anak Amalia tentang program Docila yang kepanjangan dari 'Dokter Cilik Amalia' ratna, Mona, Piyah, Pandowo dan Farid bertugas untuk mencari bahan tentang Pertolongan pertama pada kecelakaan.

Program docila ini menarik buat anak-anak sebab diantara kakak-kakak pembina ada juga yang jadi dokter. yaitu 'Kak Nia' Kak Nia inilah yang membuat anak-anak menjadi bersemangat untuk menjadi dokter. Saya masih teringat ucapan Ratna yang mengatakan bahwa Ratna jadi percaya kelak jadi dokter. kenapa ratna? tanya saya. sebab ratna jika ada teman yang jatuh langsung menolongnya kak, jawab ratna

Dorongan ratna untuk menjadi dokter inilah disebut dengan dorongan tingkah laku. Salah satu tema pokok al-Qur’an banyak sekali disebutkan tentang tingkah laku manusia. Bahasa tentang tingkah laku anak memang menarik, karena berbeda dengan tingkah laku hewan yang hanya dipusatkan perhatiannya pada aspek lahirnya tingkah laku anak justru menarik untuk dikaji aspek batin dari tingkah laku lahir itu, karena tingkah laku anak dipandang sebagai gejala dari nafs-nya. Kajian psikologi misalnya merumuskan ciri-ciri tingkah laku anak dengan lima ciri:

1. Memiliki kepekaan sosial. Artinya anak-anak seperti ratna mampu menyesuaikan tingkah lakunya dengan harapan dan keinginan orang lain.

2. Memiliki kelangsungan. Tingkah laku atau perbuatan anak tidak terjadi secara sporadis, tetapi selalu ada kelangsungan atau kontinuitas antara satu perbuatan dengan perbuatan sebelum atau sesudahnya. anak-anak yang bercita-cita ingin menjadi dokter maka akan melakukan perbuatan-perbuatan layaknya seorang dokter sehingga hal ini akan mendorongnya untuk rajin belajar.

3. Memiliki orientasi kepada tugas. Tiap-tiap tingkah laku anak selalu mengarah kepada suatu tugas tertentu, bahkan anak yang sengaja segera pergi tidur malam ternyata memiliki orientasi kepada tugas yang akan dikerjakan pada esok harinya.

4. Mengandung nilai usaha dan perjuangan. anak yang berusaha untuk rajin belajar agar menjadi seperti yang dicita-citakan. sekalipun pilihan dalam cita-cita anak bisa jadi banyak tetapi ia hanya berusaha menjadi seseorang yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

5. Memiliki keunikan. Meski lima anak memiliki cita-cita yang sama tetapi makna dan kualitas perbuatannya berbeda karena setiap anak memiliki ciri-ciri dan sifat yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Sunday, March 29, 2009

Kegiatan Amalia Cinta Rasul Tanggal 26 Maret





Terima Kasih Kak Rahmadsyah

Terima kasih Kak Rahmad, begitulah yang diucapkan Anwar ketika mendapatkan tugas menjadi Raja dalam kegiatan Amalia Cinta Rasul. Anwar dan kelompok fathonah sedang bermain drama. sementara anak-anak lainnya menyimak dengan baik setiap drama. Setiap ada adegan yang lucu ada anak yang tersenyum simpul, ada yang tertawa geli sendirian, bahkan ada yang ngumpet. Begitulah dunia anak-anak.

Amalia Cinta Rasul, pada jam 7 kurang lima belas menit anak-anak sudah berdatangan. Kak Nia dan Kak Ali Hozi sudah datang. Menyusul Kak Nurul yakin dengan oleh-oleh jeruk medannya terasa manis disantap bersama anak-anak Amalia dan juga Kakak2 tercinta.

Pada sesi pembukaan dimulai dengan pengantar dari Kak Agus dan Kak rika dibagi menjadi perkelompok dengan nama sifat2 Rasul yaitu Siddiq, tabligh, Amanah, Fathonah dan al-amin. Tak lama kemudian Kak Rahmad dan Kak mimin akhirnya datang juga. Kakak 'Dokter' nia dan Kak rani sudah datang lebih awal juga mendapat tugas menjadi kakak pembina. Wuih seru banget, Amalia Cinta Rasul ternyata diikuti oleh 40 anak yang dibagi menjadi 5 kelompok, setiap kelompoknya ada 8 anak. Kegiatan bikin yel-yel yang bertema 'Aku Cinta Rasul' gokil abis. Sementara kak Nurul yakin sibuk mendokumentasikan kegiatan tersebut. Kak Yayan dan Kak Dayat sempat terkagum-kagum, katanya, bagaimana anak-anak Amalia ini begitu cepat belajarnya ya?

Tak lama kemudian waktu sudah hampir tiba setengah dua belas, Kakak pembina dan juga anak2 Amalia makan siang. Kak Suri dan temannya juga berkenan untuk berbagi cerita tentang sekolahnya. Kebersamaan buat kami begitu indah, dihiasi dengan tawa dan senyuman sebagai tanda cinta kami kepada baginda Nabi Muhamad SAW.

rindu kami padamu ya rasul
rindu tiada terpera
berabad jarak darimu ya rasul
serasa dikau di sini

cinta ikhlasmu pada manusia
bagai cahaya suarga
dapatkah kami membalas cintamu
secara bersahaja

Wassalam,
agussyafii

---
Tulisan ini ucapan terima kasih atas dukungan dan partisipasinya telah terlaksananya kegiatan 'Amalia Cinta Rasul' tanggal 26 maret di Rumah Amalia kepada Kak Nurul Yakin, Kak Rahmadsyah, Kak Mimin, Kak Dr Nia, Kak rani, Kak Suri, Teman Kak Suri, Kak Yayan, Kak Dayat, Kak Nia, Kak Ali Hozi yang telah berkenan hadir. Terima kasih juga Kak Nora atas dukungannya untuk adek2, Kak Martha terima kasih CD Interaktifnya Ganeca. Teriring doa Jazakumullah Khair, semoga Alloh SWT membalas kebaikan teman2 dan kakak2 semua..

Monday, March 23, 2009

Kebahagiaan Dalam keluarga

Malam sudah larut, sebelum tidur tadi Hana meminta saya menyanyi. Hampir satu jam Hana ketawa cekikikan bercanda bersama Icha sampai mamahnya ikutan ketawa melihat Hana ketawa bermain bersama Icha. Begitulah kebahagiaan yang saya alami sama seperti halnya kebahagiaan yang anda alami sekarang ini bersama keluarga anda yang tercinta.

Keluarga adalah sesuatu yang didambakan oleh setiap manusia. Keluarga juga dipandang sakral oleh semua agama. Tetapi hidup berumah tangga itu sendiri merupakan misteri dari kebahagiaan. Ada orang yang hidup dengan amat sangat sederhana, tetapi mereka merasakan kebahagiaan yang prima dalam kehidupan rumah tangganya. Sebaliknya ada orang yang memiliki kelengkapan fasilitas hidup, sandang pangan papan, hiburan, kendaraan, uang, perhiasan dan sebagainya, tetapi mereka tidak menemukan yang di dambakan, sebaliknya, semua kelengkapan materi itu justeru tak bermakna apa-apa.

Pernikahan adalah suci, sunnah Rasul dan ibadah. Oleh karena itu setiap muslim seyogyanya menikah secara Islam, berumah tangga secara Islam dan hidup secara Islam. Perselisihan dalam rumah tangga adalah sesuatu yang manusiawi belaka dalam al Qur'an menganjurkan untuk selalu memperbaiki diri, dan memilih jalan mengutamakan keluarga untuk yang terbaik.

Ubahlah Bencimu Menjadi Cinta

Berteman dengan siapapun buat saya adalah sesuatu yang menggembirakan. Banyak mutiara hikmah yang berserakan dimanapun justru yang muncul dari orang-orang yang sederhana. Salah satunya penjual sate ayam. Awalnya saya mengenalnya dibulan suci ramadhan beberapa tahun yang lalu. Orang Madura ini baik dan ramah. Itulah yang membuat dagangan satenya menjadi ramai.

Pada suatu hari dia bertutur bahwa pada saat bulan tertentu seperti bulan ramadhan dirinya bisa kuwalahan melayani pembeli. Sampai dia mengajak sanak saudaranya ikut membantunya berjualan, termasuk bapaknya sendiri. Katanya, pada satu sore para sudah banyak pembeli yang mengantri. Bapak dan saudara-saudara sibuk melayani sementara dirinya pulang untuk mengambil lontong dan sate ayam dirumah.

Sekembali ke warung dan pembeli sudah mulai berkurang. Adzan maghrib berkumandang. Sang bapak menghampiri dirinya dan mengatakan kalau kotak uang penjualan hari ini telah hilang diambil orang. Sebagai gantinya bapaknya bersedia bekerja selama ramadhan tidak usah
digaji.

Hari telah berlalu, seminggu kemudian. Abis jelang adzan maghrib ada seorang pemuda pesan sate ayam beserta lontong. Bapaknya langsung melayaninya. Orang itu dilayani dengan istimewa, membuat anaknya menjadi heran, kenapa bapak memperlakukan dia sangat istimewa. Mulai dari membakarkan sate, menyiapkan lontongnya, teh hangatnya dengan sangat ramahnya.

"Bapak, siapakah dia? Kenapa bapak melayani dengan sangat istimewa?
Apa dia pejabat kelurahan?" Katanya penuh keheranan.

"Bukan. Dia adalah yang mengambil kotak uangmu tempo hari." Jawab bapaknya.

Mendengar jawaban bapak seperti itu rasanya darah saya mendidih. Pengen rasanya saya luapkan amarah saya pada orang itu.

Tapi bapak saya mencegahnya dengan mengatakan. "Jangan kamu luapkan amarahmu. Dia adalah guru sejatimu sebab dari dialah, dirimu bisa belajar mengubah bencimu menjadi Cinta."

Saya dibuat tertegun mendengar tutur katanya. Sayapun sempat bertanya dalam hati, Mengubah benci menjadi cinta? Apakah mungkin? Bagaimana menurut anda?

---
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui' QS. Al Baqarah : 216

Panggilan Jiwa

Jumat Malam saya kedatangan tamu Mas Agus Purwanto dan pada hari minggu saya kedatangan tamu lagi yaitu mas Nurul Yakin. Kami diskusi tentang dunia pendidikan dan bagaimana konsep mendidik anak yang baik.

bagi sebagian orang, guru adalah profesi namun saya menyakini bahwa guru adalah panggilan jiwa. dimanapun kita berada jika guru merupakan paggilan jiwa maka dimanapun juga akan ada proses belajar mengajar.

Seorang pembimbing/guru yang baik akan tahu bagaimana cara mengkondisikan emosi entah naik atau turun bagi orang-orang yang sedang belajar agar tumbuh yang disebut 'willing to learn." karena prinsip pendidikan menumbuhkan keinginan untuk senantiasa belajar menjadi lebih baik, itulah yang utama. Sikap atau attitude akan terbentuk setelah para pembelajar dipersiapkan untuk belajar dengan konsep hadap masalah.

Konsep hadap masalah ini tentunya terjadi benturan, konflik, masalah, intrik yang terkadang membuat para pembelajar sakit hati, marah, dendam namun ini merupakan satu-satunya cara yang paling effektif untuk menumbuhkan penguatan didalam diri atau disebut 'soft power'. 'Soft power' yaitu sikap tegas dalam kelembutan. Kelembutan dalam ketegasan.

Penguatan didalam diri inilah haruslah dikondisikan, dibentuk dan dilakukan secara sengaja agar para pembelajar berani menghadapi realitas kehidupan yang terkadang pahit dan tidak selalu sesuai dengan harapannya, juga agar tidak terbuai atau di nina bobokkan oleh kenyamanan dalam hidup seolah tidak perlu belajar. Kalo orang sudah tidak ingin belajar, hidup sudah tidak berarti lagi.

Lantas untuk apa kita hidup?

--
Wal Ashr, Innal insyanalafi khusrin illa, illaladzi na amanu wa’amilu sholihati wa tawa saubil haqi wa tawa shoubil sobr.

--
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya dalam kesabaran.(QS. al-Ashr (103) : 1-3)

Sunday, March 22, 2009

Hidup itu Indah

Kehidupan ini buat saya bagai bunga nan harum menyebar harum mewangi. Membuat hidup saya penuh keindahan yang menyebar dihati orang-orang yang hatinya penuh cinta dan kasih sayang.

Pernah satu pagi saya didalam bis, hp saya berbunyi. Seorang bapak yang lupa memperkenalkan diri dia bertutur dengan penuh semangat. Ditengah dia bertutur suara bergetar. Katanya, tulisan anda yang berjudul kebun bunga telah menyadarkan saya. Setelah saya bertahun- tahun mengabaikan orang yang telah mendampingi saya separuh umur hidupnya. Tak tau harus bagaimana saya membalasnya. Diakhir kata dia
mengucapkan terima kasih. Sungguh indah hidup ini. Saya bisa merasakannya.

Sikap yang dalam bahasa Inggris disebut attitude dalam istilah psikologi adalah kesiapan mental seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal tertentu. Sikap bisa positif bisa juga negatif. Dalam hal sikap positif, kecenderungan tingkah lakunya mendekat, menyenangkan, dan mengharapkan terhadap terhadap objek yang membawa kebahagiaan, keindahaan dan kegembiraan. dan akan menyebarkan kebahagiaan, keindahan dan kegembiraaan pada orang lain. Sedangkan dalam hal sikap negatif, kecenderungan tingkah lakunya adalah menjauhi, menghindar, membenci, dan tidak menyukai sesuatu yang indah, membahagiakan, dan menggembirakan dan yang dilakukannya menyebarkan kebencian pada orang lain.

Sikap ada yang dianut oleh banyak orang, disebut sikap sosial; ada yang dianut hanya oleh orang tertentu saja yang disebut sikap individual. Sikap sosial adalah sikap yang ada pada kelompok orang yang ditunjukan kepada suatu objek yang menjadi perhatian oleh seluruh kelompok orang, misalnya sikap negatif kaum muslimin terhadap daging babi. Sikap individual adalah sikap yang khusus terdapat pada satu persatu orang terhadap objek yang menjadi perhatian dari orang itu, seperti sikap seseorang terhadap ulat berbulu, atau sikap seorang mahasiswi muslimah terhadap jilbab, atau sikap seseorang yang sedang sakit terhadap dukun.

Sikap tidak berdiri sendiri tetapi mempunyai objek; bagaimana sikapnya terhadap apa, dan tidak ada sikap yang tidak ditunjukan terhadap objek. Objek yang disikapi bisa berupa benda, orang tertentu, kelompok orang, pandangan hidup, nilai-nilai sosial, hukum, lembaga sosial, dan sebagainya.

Sikap tidak dibawa sejak lahir, tetapi merupakan respons yang diberikan berulang-ulang terhadap stimulus yang sama sehingga menjadi kebiasaan pikiran setiap kali menjumpai stimulus itu. Jadi, sikap terbentuk melalui interaksi sosial atau proses balajar yang terjadi pada tiap-tiap individu atau oleh pengalaman yang ditempuh seseorang sepanjang hidupnya. Karena terbentuk dari pengalaman an belajar, maka sikap seseorang dapat berubah jika berjumpa dengan pengalaman lain yang lebih berpengaruh.

Berbeda dengan pengetahuan, dalam sikap terkandung motivasi dan perasaan. Oleh kerena itu, meski sikap dapat berubah, tetapi ia lebih menetap dibanding pengetahuan. Proses perubahan sikap memerlukan waktu yang panjang. Berbeda dengan motif yang bisa hilang jika terpuasi, sikap tidak hilang dari seseorang meskipun telah dipenuhi kebutuhannya. Perhatian seseorang terhadap suatu objek akan melahirkan sikap tertentu kepadanya. Oleh kerena itu, seseorang bukan hanya memiliki satu sikap, melainkan sejumlah sikap, bergantung sejumlah objek yang menjadi perhatiannya.

Itulah sebabnya bagi seseorang yang berpikir positif bahwa kebahagiaan, penderitaan, sehat, sakit, kaya, miskin semuanya adalah kehidupan yang indah senantiasa disyukurinya. dan apapun yang dilakukannya melahirkan sikap-sikap yang membawa keindahan di dalam hidup untuk dirinya dan untuk orang lain.

Friday, March 20, 2009

Potensi Diri

Setiap Manusia memiliki potensi diri. Dalam bentuk fisik, intelektual, emosional dan spiritual yang berbeda-beda kapasitasnya. Ada orang yang sangat intelek, tetapi emosinya tidak stabil. Yang lain emosinya sangat terkendali tetapi intelektualitasnya kurang. Ada juga orang yang menonjol justeru potensi spiritualitasnya . Perilaku manusia dalam keseharian mencerminkan aktualitas dari potensi itu.

Ada orang yang berwajah garang tetapi hatinya lembut, ada orang yang fisiknya kecil dan nampak lemah tetapi hatinya bergejolak penuh dengan kebencian dan dendam. Demikian juga halnya dengan corak cinta, ada seorang lelaki yang jika jatuh cinta kepada seorang wanita, ia merasa harus menguasai dan memonopoli secara total lahir batin, tidak boleh sedikitpun si wanita memiliki perhatian kepada selain dirinya. Ia sangat pecemburu, dan jika ia gagal memiliki wanita yang dicintainya itu maka ia memilih menghancurkan sang kekasih daripada harus melihat ia dimiliki oleh orang lain. Di sisi lain, ada seorang lelaki pecinta yang sangat penuh pengertian, ia sangat memaklumi dan sangat memaafkan atas kekurangan sang kekasih.

Ia bukan saja tidak bermaksud menguasai tetapi justeru selalu ingin memberi kepada kekasihnya apa yang menjadi keinginannya,. Ia sangat berbahagia jika bisa memberikan kesenangan kepada kekasihnya, meski untuk itu ia menderita. Nah cinta itu ada di dalam hati. Hadis Nabi menyebutkan bahwa di dalam tubuh setiap manusia ada qalbu (hati) yang menjadi penentu kualitas manusia, jika qalbu nya baik maka seluruh ekpressinya baik, sebaliknya jika qalbu nya buruk maka buruk pula ekpressi orang itu. Orang suka berkata; dalamnya laut dapat di duga, dalamnya hati siapa yang tahu ?

Isi hati manusia sungguh sangat sangat banyak dan beragam, diantaranaya adalah cinta. Dapat dipastikan bahwa tidak ada satupun keterangan yang obyektip tentang hati manusia yang berasal dari manusia, karena semua manusia bersifat subyektif, oleh karena itu keterangan yang paling obyektif tentang hati manusia hanya yang berasal dari sang Pencipta hati itu sendiri, yaitu Alloh SWT, dan keterangan itu ada di dalam kitab suci Al Quran.

Thursday, March 19, 2009

Mudah Gembira, Kenapa Tidak?

Pada diri orang yang mudah gembira, dia akan sulit menderita. Tubuh kita selalu mengikuti hati kita. Jika hati kita mudah gembira akan menjauhkan diri dari penderitaan. Hati itulah sumber akhlak. Akhlak bukanlah perilaku, tetapi keadaan batin seseorang yang menjadi sumber lahirnya perbuatan dimana perbuatan itu lahir dengan mudah dan spontan tanpa berfikir untung rugi. Orang yang berakhlak mulia pastilah mulia pula perbuatannya, tutur katanya bahkan yang dituliskannya juga menentramkan hatin setiap orang yang membacanya.

banyak orang yang jika saya hari ini sudah tersenyum berapa kali. Susah menjawabnya sebab senyuman mampir menjadi barang langka, tapi tidak bagi orang yang mengerti cara menikmati hidup maka dia akan mudah tersenyum pada siapapun.

Seorang terpelajar dengan kehidupannya yang sederhana ditengah usianya yang setengah abad makin tambah kesibukkan dengan berbagai aktifitas masih juga energik. Saya tanyakan bagaimana resep menjaga staminanya. Dia katakan, "Jika kita mudah bahagia, semua kegiatan selalu menyenangkan. Semakin bertambah usia, semakin menikmati hidup. maka terjauh dari segala penyakit dan penderitaan."

--
Sudahkah anda bergembira hari ini?

Kepasrahan Diri

Berteman dengan orang yang mudah tertawa buat saya warna langit menjadi cerah dan terlihat indah. Sama ketika saya berteman Pak Haji ini selain mudah tertawa, murah senyum namun juga hidupnya yang mudah seolah tanpa beban dan masalah. Saya pernah tanyakan padanya bagaimana sedemikian indahnya hidup yang dijalaninya, apa resepnya.

"Kepasrahan diri dalam menjalani hidup. membuat hidup kita menjadi mudah dan indah. Betulkan mas..?" Katanya dengan mata berbinar-binar menandakan semangat hidup penuh kebahagiaan.

--
alhamdulillah, terima kasih ya Alloh atas semua karuniaMu dihari ini, dengan penuh kebahagiaan ijinkan saya memanjatkan doa untuk teman2 semua, semoga senantiasa sehat selalu dan dilimpahkn rizki yang barokah. amin ya robbal alamin..

Wednesday, March 18, 2009

Kala Bunga Cinta Tumbuh Mekar

Selamat Pagi Teman2 semua. semoga dipagi yang indah ini teman2 semua dalam keadaan sehat selalu dan menemukan bunga cinta di dalam hati yang senantiasa tumbuh mekar.

Di dalam hati kita selalu memiliki bunga-bunga cinta. Bunga-bunga cinta itu adalah kenangan indah tentang masa kecil kita, tentang ayah ibu kita, tentang perjalanan asmara kita, tentang anak-anak kita yang mampu membuat anda dan saya bisa menangis dan tertawa ketika kita teringat masa itu. Kenangan itu begitu mendalam dan membekas di hati sehingga kita menyebutnya bunga-bunga cinta.

Semalam disaat Hana pulas tertidur disamping ibunya, bayangan indah seperti film yang memutar kembali perjumpaan saya dengan istri, acara pernikahan kami, semuanya berlangsung begitu cepatnya sampai kabar gembira itu datang dengan kehamilan istri saya. Perjalanan hidup kami begitu indah sebab kami berdua melewatinya dengan penuh canda dan tawa. Sesekali juga kami bertengkar. Pertengkaran itu kami berdua menikmatinya sebab kami tahu pertengkaran itu memang diperlukan.

Saya ingat sebelum Hana terlahir, sepulang kami berjalan pagi, istri saya sedang hamil tua pengen tape uli, saya membelikannya dua tape ketan hitam. Nampak lahap dia memakannya, sorenya perut istri saya mules dan ternyata sudah bukaan ketiga. Pada adzan Isya' Hana terlahir dengan suara tangis merdunya. Suara tangisnya mampu membuat air mata saya menetes namun juga membuat hidup saya menjadi bersemangat. Tak terasa Hana sudah hampir menginjak usia 3 tahun. Setiap kali pulang dari kantor, Hana memiliki kebiasaan memeluk saya seolah sudah lama tidak berjumpa. Tiap pagi atau hari libur selalu mengajak saya berjalan-jalan atau sekedar menemani Hana maen.

Itulah bunga-bunga cinta yang saya miliki, tentunya anda juga memiliki bunga-bunga cinta yang jauh lebih indah. Bukalah hati anda dan temukan bunga-bunga cinta di dalam hati anda. Biarkanlah diri anda menikmati indahnya bunga-bunga itu tumbuh mekar dan menyebarkan semerbak harum mewangi seiring keajaiban hidup yang senantiasa layak anda miliki.

-------------
Dengan hati yang tulus saya berdoa semoga bunga-bunga cinta di dalam
hati anda tumbuh mekar, semerbak harum mewangi membuat hidup anda dan keluarga menjadi lebih indah dan bahagia.

Bunga Kehidupan

Masalah, persoalan, pertengkaran, permusuhan adalah bagian dari kehidupan. Namun membiarkannya berlarut-larut akan menjadi nyala api yang membakar semuanya. Bahkan menghanguskan isi bumi.

Pernah saya menjumpai seorang ayah dengan sebelas putra yang bisa membesarkan dan mendidiknya menjadi keluarga yang bahagia. Saya tanyakan padanya bagaimana dia bisa melakukan itu semua.

Katanya, “Masalah, persoalan, permusuhan adalah guru kearifan, maka hiduplah dengan kearifan. Semuanya masalah, persoalan terasa menjadi bunga kehidupan.” Terlihat wajahnya saya mencium aroma wangi bunga kehidupan yang dihiasi kearifan dalam hidupnya. Ah..sungguh indah hidup ini.

--
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yangbersih dalam ridha-Nya(QS Al Fajr [89]: 27-28).

Di Matanya Semua Orang Baik

DPada satu kesempatan saya diajak teman mendengar pengajian disalahsatu mushola diperkantoran. Sang penceramah menceritakan tentang kemuliaan hati orang-orang yang sholeh dan dirinya hampir setiap hari berjumpa dengan orang-orang seperti itu. Ceramahnya cukup penyejukkan dikala siang panas menyengat . Di sesi berikutnya pengajian dilanjutkan sesi tanya jawab.

Ada anak muda yang penuh semangat berkata bahwa kondisi negara sekarang ini sedang gawat, harga melambung tinggi, banyaknya pengangguran. Hal itu disebabkan oleh pemimpin yang korup. Yuk, kita golput. Katanya.

Sang penceramah itu mengatakan, memang ada pemimpin yang korup tapi masih banyak pemimpin yang amanah, buktinya anda yang sampai sekarang masih bisa bekerja dengan baik, kita masih bisa mengadakan pengajian hari ini, itu semua hasil dari pemimpin yang amanah.

Teman yang duduk sebelah menyikut tangan saya sambil mengatakan, “hebat juga ustadz ini, dimatanya semua orang baik dimuka bumi ya..”

“Sebaiknya kita memang harus begitu kan?” jawab saya.

--
Kebencian, berburuk sangka dan berpikir negatif hanya akan meracuni hati kita. Sebab itulah, ketika Orang-orang Yahudi mengumpat Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam yang sedang duduk santai bersama Aisyah Radhiyallahu `Anha, dan Aisyah terpancing dengan balas menyumpahi mereka; Rasulullah segera mengingatkan Aisyah, "Kamu tidak perlu begitu, karena sesungguhnya Allah menyukai kesantunan dan kelemah-lembutan dalam segala hal." (Riwayat Al- Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Ra.).

Kapasitas Kejiwaan Pada Anak

Dalam konsep pendidikan Amalia, yang paling penting adalah memberikan tanggungjawab. Anak haruslah diberikan kesempatan untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab untuk mengurus dirinya sendiri sebab itu bentuk pelatihan yang perlu pembiasaan agar kelak mereka menjadi manusia yang bertanggungjawab. Tentunya tugas dan tanggungjawab anak disesuaikan dengan kapasitas dirinya.

Menurut Alquran, Allah menciptakan manusia baik individu maupun sosial, dari keadaan lemah, kemudian berproses menjadi kuat, dan kemudian lemah kembali (Q / 30:54). Kelemahan itu berupa keterbatasan fisik, psikis, intelektual, dan spiritual.

Tiap orang memiliki kapasitas fisik, psikis, intelektual dan spiritual yang berbeda-beda. Deskripsinya sebagai berikut:

1. Kelemahan fisik mewujud pada ketergantungan dengan unsur lain seperti makanan, minuman, istirahat, pengobatan dan lainnya, dan berujung pada kematian. Proses dari lemah menjadi kuat dan kembali menjadi lemah adalah hukum kehidupan yang juga dialami oleh tumbuh-tumbuhan, dari biji, bersemi, menjadi pohon, merindang, berbuah, kembali layu dan kering (Q / al Waqi’ah:63-70).

2. Kelemahan dan keterbatasan psikis manusia mewujud dalam bentuk tidak mampu mengendalikan diri (tidak sabar), emosi, takut, terkejut, dan sedih. Alquran menyebutkan bahwa manusia diciptakan dengan memiliki keluh kesah dan kikir; jika ditimpa kesusahan ia mengeluh, jika ia memperoleh keberuntungan ia malah kikir (Q / 70:19-21). Jika sedang senang ia berpaling dan sombong, tetapi ketika sedang susah ia putus asa (Q / 17:83).

3. Kelemahan intelektual mewujud pada keterbatasan pengetahuan manusia atas realitas. Ada manusia yang mampu memilah-milah banyak masalah, tetapi ada yang sangat terbatas; ada yang mampu melihat masalah untuk tiga-empat dimensi, tetapi ada yang hanya mampu melihat satu dimensi. Dalam surat Luqman disebutkan bahwa ada lima hal yang tidak bisa diketahui oleh intelektual manusia, yaitu:

(1) Kapan terjadi hari kiamat;

(2) Kapasitas hujan;

(3) Masa depan janin manusia yang masih dalam kandungan; dan

(4) Apa yang akan diperoleh di hari esok, dan (5) dimana manusia akan mati (Q / 31:34).

Alquran juga menyebutkan bahwa manusia tidak akan mampu mengetahui ruh, karena ruh itu urusan Allah SWT dan manusia hanya diberi sedikit pengetahuan tentangnya, misalnya fenomena (Q / 17:85).

4. Keterbatasan kekuatan spiritual mewujud dalam ketidak mampuan manusia memandang dimensi gaib, apa yang akan terjadi di masa depan, apa yang ada pada ilmu Allah (Q / Yunus:49) dan Q / al An’am:50). Dalam perspektif spiritualitas, seseorang bisa mencapai tingkat dekat dengan Allah hingga ia bisa melihat dengan “penglihatan” Allah, bisa mendengar dengan “telinga” Allah. Akan tetapi, spiritual adalah olah rasa. Oleh karena itu, hal ini merupakan pengalaman subjektif spiritual seorang muslim, kendati mereka justru merasakan sebagai hal yang paling objektif.

Sebagaimana tersebut di atas, kapasitas setiap manusia, (fisik, psikis, intelektual, dan spiritual) kenyataannya berbeda-beda. Perbedaan kapasitas ini membawa implikasi kepada perbedaaan tanggung jawab dan bobot kewajiban. Sudah barang tentu tidak adil jika kewajiban manusia disamakan sementara kapasitas mereka berbeda-beda. Oleh karena itu, Alquran menyebutkan bahwa Allah tidak membebani kewajiban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya, la yukallifa Allah nafsan ila wus’aha (Q / 2:286). Allah tidak membebani kewajiban kepada seseorang kecuali sekadar apa yang telah Allah berikan kepadanya, la yukallifa Allah nafsan illa ma ataha (Q / 65:7). Orang juga tidak akan memikul dosa yang diperbuat orang lain, wala taziru waziratun wizra ukhra (Q / 6:164).

Prinsip hubungan ini kemudian mewujud dalam hukum fiqh; dalam hal ini, orang yang sakit dibedakan keharusannya dengan orang sehat; orang miskin dibedakan kewajibannya dengan orang kaya; orang gila dibedakan dengan tanggung jawabnya dengan orang waras; anak kecil dibedakan tanggung jawabnya dengan orang dewasa; orang tidur dan orang lupa dibedakan tanggung jawabnya dengan orang jaga atau orang yang sadar; dan orang yang berbuat secara sengaja dibedakan dengan yang tidak sengaja.

Tuesday, March 17, 2009

Mengubah Kesadaran Anak

Konsep pendidikan Amalia adalah melakukan perubahan pada sisi dalam atau kejiwaan anak. Mendidik anak sejak dini akan lebih mudah daripada orang dewasa. Misalnya menerangkan bahaya merokok akan lebih dicerna dengan baik bagi anak-anak yang belum pernah merasakan enaknya merokok. Sisi dalam kejiwaan anak-anak inilah yang menjadi konsens kami untuk melakukan perubahan.

Manusia adalah makhluk yang berpikir, merasa, dan berkehendak. Apa yang dilakukannya mencerminkan apa yang dipikir, dirasa dan dikehendakinya. Mengubah tingkah laku masyarakat hanya dimungkinkan dengan mengubah cara berpikir dan cara merasa mereka. Jika cara berpikirnya tidak berubah maka upaya mengubah perilaku masyarakat tidak akan berhasil, karena perubahan perilaku lahir merupakan wujud dari perubahan cara berpikir (batin).

Perubahan sosial yang direncanakan hanya mungkin dilakukan dengan mengubah budaya masyarakatnya. Kebudayaan adalah konsep, nilai, dan kenyakinan yang dianut oleh masyarakat dalam waktu lama. Transfer kebudayaan kepada masyarakat hanya mungkin dilakukan dengan pendidikan yang sistematik, kontinyu dan konsisten. Konsisten antara yang diketahui (kognitif) dan yang dirasakan (afektif).

Menurut Alquran, Allah SWT tidak akan mengubah keadaan satu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada dalam “sisi-dalam / jiwa mereka; inna Allah la yughayyiru ma bi qaumin hata yughayiru ma bi anfusihim” (Q / ar Ra’d:11). Allah juga tidak akan mengubah (meningkatkan ) kesejahteraan suatu bangsa kecuali mereka mau mengubah “sisi dalam atau jiwa mereka. Dzalika bi ann Allah lam yaku mughyyiran ni’matan an’amaha ‘ala qaumin hatta yughayyiru ma bi anfisishim” (Q / al Anfal:56).

Monday, March 16, 2009

Minum Susu Ama Icha

Hari Sabtu sore saya, istri, Icha dan Hana membeli baju baru. sudah lama kami ingin membelikan baju baru untuk sehari-hari. setelah membelikan baju baru istri saya mengingatkan bahwa Icha harus diantar ke rumah sebab neneknya kangen ama Icha. Begitu sampai kami mengantar Icha ke rumah neneknya kami langsung pulang.

Sesampai di rumah istri saya menyiapkan susu buat Hana. 'Hana minum susu ya..' kata istri saya. 'Minum susu ama Icha.' jawab Hana. Setelah kesel istri saya mengatakan kak Icha pulang besok, sekarang minum susu. Hana masih menjawab minum susu ama Icha.

Minggu paginya setelah sarapan bersama, istri saya menawarkan untuk membuatkan susu. 'Minum susu ama Icha' jawab Hana. Sampai malam Hana ternyata nggak mau minum susu. Icha baru pulang minggu malam, Hana yang tertidur bangun langsung memeluk Icha. 'Hana kangen'

Senin paginya Icha dan Hana minum segelas susu. Aku berdiri terpaku dan aku menangis menyaksikan mereka berdua bercanda sambil susu. 'bidadari kecilku, tolong ajarkan aku tentang kasih.'

Model Pembelajaran

Bakda Adzan maghrib terdengar, Rizki datang pertama kali. walau turun hujan anak-anak pengajian hadir dengan penuh semangat. Atun, Lusi, Piyah, Ratna, Novi. sambil tertawa badannya sedikit basah kuyup. Berikutnya satu persatu nampak datang. Kegiatan Amalia bagi anak-anak adalah bagian dari model pendidikan yang sangat dibutuhkan sekarang ini.

ada 3 faktor yang mempengaruhi kondisi pertumbuhan anak. pertama, keluarga. kedua, sekolah. dan yang ketiga, lingkungan. Tempat mengaji di Amalia mengambil bagian pada pembentukan lingkungan yang kondusif.

Metode pembelajaran Akselerasi yang digunakan di Amalia adalah metode belajar yang menyenangkan bagi anak-anak karena baginya belajar tak ubahnya bermain. Oleh sebab itu setiap harinya materi selalu berbeda setiap harinya. Dan kegiatan pembelajaran selalu menggembirakan.

Jadwal pelajaran setiap harinya. Setelah mengaji Al-Quran/ Iqro' anak-anak menghafal juz Amma setelah sampai batas yang dihafal baru menambah hafalan berikutnya, metode seperti ini bagi anak2 sangatlah penting, pertama selain untuk mengingat-ingat surat yang dihafal (takrir) agar tidak cepat lupa, juga untuk mendekatkan jiwa kebersamaan terhadap teman-temannya.

Setelah mengaji Al-Quran/Iqro' anak-anak diberi pelajaran doa-doa dan juga harus dihafalnya, kalau yang Al-Quran tingkatan hafalannya lebih tinggi seperti menghafal ayat Kursi, doa habis adzan. Sedangkan yang tingkatan Iqro' yang dihafalnya yang mudah-mudah saja misalnya doa mau tidur, mimpi buruk/ baik, berpakaiaan. Doa-doa seperti ini tujuan untuk membiasakan anak-anak untuk biasa berdoa setiap waktu. Inilah bagian yang paling penting dalam menanamkan nilai pada anak-anak Amalia dan yang paling penting bagi anak-anak semuanya dilakukan dengan riang gembira.

Berubah Bacaan

Saya suka sekali membaca sebab membaca berarti bertambah ilmu juga bertambah wawasan, sewaktu saya hendak disunat mendapatkan hadiah dari kakek sebuah buku yang berjudul Bulughul marom, bukan main senangnya. Banyak juga orang yang suka membaca.

Salah satu orang yang saya kenal dengan baik profesinya sebagai tukang becak. Dulu hampir tiap hari dia suka sekali membaca Kho Ping Ho, belakangan saya ketemu bacaannya sudah berubah buku-buku Imam Ghozali sempat saya tanyakan kenapa bacaannya berubah. Dia katakan kalo membaca buku kho ping ho bertambah umur tidak akan membuat dia jadi pandai bersilat namun jika membaca bukunya Imam Ghozali bertambah umur semakin bertambah ilmu agamanya.

---
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).(surat al-alaq 1-5)

Ibu Penjual Kopi

Setiap bepergian jika belum sarapan pagi saya selalu menyempatkan diri untuk mampir ke warung sekedar mencari pengganjal perut. Pagi itu saya mampir ke waarung kopi, terlihat gorengan dan ketan. Sambil menunggu kendaraan saya sempat berbincang dengan ibu penjaga warung kopi. 'Ibu ini keliatan selalu ceria. Gimana sih biar selalu ceria?'

'Hidup ini sudah susah, kenapa mesti dibuat susah. Ya harus ceria selalu to mas..mas ini ada-ada saja pertanyaannya..'katanya sambil terkekeh sendiri. Melihat ketawa ibu penjaga warung kopi hidup menjadi terasa indah pagi ini biarpun sarapan pagi cuman dengan gorengan dan ketan.

Hidup ini selalu indah dengan selalu mensyukuri. Kala senja tidak memiliki apapun hidup terasa ringan karena bersyukur dan senantiasa ikhlas menjalani sebagaimana pemilik warung.

Q.S. Ibrohim (14): 7 'Jika kamu bersyukur pasti akan aku tambah (nikmat-Ku) untukmu dan jika kamu kufur maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih'

Sunday, March 15, 2009

Halaqah dan Ilmu pengetahuan

Istilah halaqah bukanlah sesuatu yang asing. Dalam bahasa Arab, halaqah artinya lingkaran, tetapi sebagai istilah, halaqah digunakan untuk menyebut sebuah forum atau majlis. Pada zaman klassik Islam, majlis pengajian Imam Ghazali misalnya juga disebut halaqah Imam Ghazali, dinisbahkan kepada bentuk dimana guru duduk di tengah dan murid-muridnya duduk melingkar di sekelilingnya.

Bentuk halaqah juga diberlakukan di pesantren-pesantren salafi Jawa sebelum dikenal sistem kelas pada pengajian bandungan, dimana kyai duduk di tengah dan para santri duduk melingkari guru. Dalam konsep pendidikan salafi, belajar itu bukan transfer pengetahuan dari guru ke murid, tetapi lebih merupakan proses mencari berkah guru (tabarrukan). Oleh karena itu masa belajar tidak dibatasi oleh jenjang-jenjang kelas hingga tammat, tetapi sepuas-puas murid hingga merasa memperoleh berkah ilmu dari sang guru. tidaklah heran jika di pesantren ada murid yang menammatkan ngaji satu kitab hingga mengulang tiga kali, karena pada kali tammat pertama dan kedua rasanya belum memperoleh berkah kyai.

Berkah itu sendiri artinya terdayagunanya anugerah Alloh SWT secara optimal (al barakatu tajammu` al khair al ilahiy katajammu` al ma’ fi al birkati). Menurut paradigma pendidikan Islam klassik, ilmu itu bukan sekedar pengetahuan, tetapi juga bermakna cahaya ketuhanan, oleh karena itu, cahaya ketuhanan (ilmu yang membawa berkah) tidak mungkin dicapai oleh orang yang durhaka kepada Tuhan, seperti yang tertulis dalam kitab Ta`lim al Muta`alim; wa akhbarani bi anna al `ilma nurun- wa nurullahi la yuhda li`ashi. Selanjutnya bagi santri yang dipandang sudah layak mengajarkan ilmu dari guru, diberi ijazah atau diijazahi oleh kyai. Ijazahnya bukan berujud selembar kertas, tetapi berupa akad dimana dengan bersalaman guru membolehkan murid untuk mengajar. Kata ijazah itu sendiri berasal dari kata ajaza-yujizu-ijazatan artinya membolehkan atau perkenan, sama seperti konsep magister (guru) dalam tradisi keilmuan Eropa.

Sejalan dengan perkembangan zaman, forum halaqah juga berkembang, bukan saja lingkaran dalam satu ruang, tetapi juga lingkaran pembaca (koran), lingkaran pemirsa (TV), lingkaran pendengar (radio) dan lingkaran pengunjung (internet).

Al Qur’an banyak sekali mengingatkan manusia agar menggunakan akalnya untuk berfikir dan bertafakkur; afala tatafakkarun, afala ta`qilun, awala yatadabbarun. Manusia memang adalah hewan yang berfikir ( al insanu hayawanun nathiqun). Pada manusia, berfikir merupakan proses keempat setelah sensasi, persepsi dan memori yang mempengaruhi penafsiran terhadap suatu stimulus. Dalam berfikir orang melibatkan sensasi, persepsi dan memori sekaligus (istilah psikologi). Dalam kehidupan, berfikir diperlukan untuk (a) memecahkan masalah atau problem solving, (2) untuk mengambil keputusan, decision making, dan (3) untuk melahirkan sesuatu yang baru (creatifity).

Semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin rumit cara berfikirnya. Ada orang yang hanya bisa melamun, ada yang berfikir tetapi tidak realistis, dan ada yang berfikir realistis, ada yang berfikir ngawur, ada yang berfikir nalar (dari kata Arab nadzara). Ada orang yang selalu berfikir (failasuf), ada orang yang hanya mau berfikir jika merasa perlu (tehnokrat), dan ada yang kadang-kadang saja berfikir (penganggur).

Orang pandai berfikir secara bersistem, misalnya berfikir deduktif (mengambil kesimpulan khusus dari pernyataan umum), atau sebaliknya berfikir induktip (mengambil kesimpulan umum dari pernyataan khusus. Tetapi terkadang ada masalah yang tidak bisa dipecahkan dengan berfikir, maka bagi orang yang sangat pintar ia memakai metode yang disebut berfikir kreatip (creatip thinking).

Berfikir kreatif adalah berfikir dengan menggunakan metode baru, konsep baru, penemuan baru, paradigma baru dan seni yang baru pula. Urgensi pemikiran kreatip bukan pada kebaruannya tetapi pada relefansinya dengan pemecahan masalah. Karena kebaruan dan tidak konvensional, maka orang yang kreatip sering tidak difahami oleh orang kebanyakan, tak jarang dianggap aneh atau bahkan dianggap gila (berfikir gila). Orang besar sering mengemukakan ide-ide gila karena jarak orang besar dengan orang gila memang sangat tipis. Proses berfikir kreatip itu melalui lima tahapan : (1) orienstasi, yakni merumuskan dan mengidentifikasi masalah.(2) preparasi, yakni mengumpulkan sebanyak mungkin informasi, (3) inkubasi, yaitu berhenti dulu, tidur dulu, cooling dawn dulu.(4) iluminasi, yakni mencari ilham, dan (5) verifikasi, yakni menguji dan menilai secara kritis.

Saturday, March 14, 2009

Pembiasaan kepada Pola Tingkah Laku Konstruktif

Dalam pembahasan yang keempat adalah Pembiasaan kepada Pola Tingkah Laku Konstruktif. Membentuk pola anak agar menjadi Insan Mulia paling tidak ada 4 infrastruktur, Yaitu:

1.penanaman nilai

2. Lingkungan yang Kondusif

3. Membangun Tokoh Idola

4. Pembiasaan kepada Pola Tingkah Laku Konstruktif.
Pembiasaan kepada Pola Tingkah Laku Konstruktif penjelasannya sebagai berikut. Bahwa Transfer ilmu pengetahuan yang dapat dilakukan melalui pengajaran dengan pembentukan pola tingkah laku merupakan tujuan dari pendidikan yang berupa transfer budaya. Kebudayaan masyarakat manapun mengandung unsur-unsur, seperti akhlak atau etik, estetika, ilmu pengatahuan, dan teknologi.

Tingkah laku manusia tidak selamanya logis, sebaliknya sebagian besar perilaku manusia justeru terbangun melalui pembisaan. Orang yang sudah biasa bangun pagi tetap saja bangun pagi meski tidurnya terlambat. Enaknya masakan pedas bagi seseorang, misalnya, bukanlah masalah logis tidak logis, melainkan lebih pada pembiasaan rasa. Demikian juga rasa bersih, rasa tertib, dan rasa disiplin tertanam melalui proses pembiasaan. Orang yang telah memahami logika kejujuran tidak otomatis menjadi orang jujur, sebaliknya boleh jadi pengetahuan itu justru digunakan untuk mengelabui orang lain yang berpikir jujur. Sopan santun yang tidak mesti logis juga terbentuk melalui pembiasaan.

Dalam pembentukan karakter seseorang, hal yang perlu dijadikan kebiasaan tingkah laku, antara lain sopan santun atau etiket.

Pembiasaan Tingkah Laku Sopan

Sopan santun atau etiket adalah akhlak yang bersifat lahir. Ukurannya bertumpu pada cara padang suatu masyarakat. Artinya, suatu tingkah laku yang dipandang sopan oleh suatu masyarakat mungkin dipandang sebaliknya oleh masyarakat lain, disebabkan cara pandang yang berbeda.

Sopan santun diperlukan ketika seseorang berkomunikasi dengan orang lain, dengan penekanan terutama kepada:

1. yang lebih tua, orang tua, guru, atasan;
2. yang lebih muda; anak, murid, atau bawahan; dan
3. yang sebaya; setingkat status sosial.

Friday, March 13, 2009

Membangun Tokoh Idola

Dalam pembahasan yang ketiga adalah membangun Tokoh Idola. Membangun tokoh Idola membentuk pola anak agar menjadi Insan Mulia paling tidak ada 4 infrastruktur, Yaitu:

1. penanaman nilai

2. Lingkungan yang Kondusif

3. Membangun Tokoh Idola

4. Pembiasaan kepada Pola Tingkah Laku Konstruktif.


Pada masa anak dn remaja, motif imitasi dan identifikasi sedang dalam pertumbuhan dan mencapai puncaknya ketika masa kanak-kanak, ayah adalah tokoh identifikasinya. Bagi kanak-kanak figur ayah adalah tokoh yang terhebat dalam alam psikologinya. Seorang ayah yang bisa memenuhi motif identifikasi anaknya hingga anak itu meningkat remaja, ia akan tetap menjadi tokoh idola anaknya. Di mata anak, ayah tetaplah besar meski secara sosial mungkin tidak. Sebaliknya seorang ayah yang gagal menjadi tokoh idola anaknya ketika masih anak-anak dan remajanya, di mata anak, ayah tetap tidak besar meskipun boleh jadi secara sosial ia adalah tokoh besar.

Seorang anak membutuhkan ayah sebagai ayahnya sendiri, bukan ayahnya orang banyak. Dalam perspektif ini, seseorang yang tidak mengenal siapa ayahnya (atau siapa ibunya) mengalami krisis identitas, karena ia kehilangan tokoh idola. Untuk bisa menjadi idola anaknya, seorang ayah juga harus mempunyai konsep tentang anak, apa yang diinginkannya tentang anaknya, mau dibentuk menjadi apa dan siapa. Tanpa konsep itu maka seorang ayah tidak bisa mendesain kapasitas dan corak moralitas anaknya. Pada usia sekolah kedudukan orang tua disaingi oleh guru. Terkadang seorang anak lebih memperhatikan apa kata guru dibanding apa kata ibunya di rumah.

Meningkat menjadi remaja, tokoh identifikasinya berubah kepada tokoh-toko “selebriti” terkenal, mungkin artis, olahragawan, atau tokoh apa saja yang melambangkan kehebatan dan keterkenalan. Mereka suka memasang poster tokoh yang menjadi idolanya dikamar tidur, meniru gaya rambutnya, mode pakaiannya, dan asesoris lainnya. Pada umumnya dalam usia remaja mereka mengambil tokoh idola tanpa memahami substansi kehebatan tokoh idolanya.

Dalam usia mahasiswa ketika mereka sudah bisa berpikir logis dan dapat membandingkan berbagai aliran pemikiran dari literatur yang dibaca tokoh idola yang dipilih, pada umumnya, adalah tokoh yang memiliki gagasan yang kuat, khas, menonjol, melawan arus, atau yang telah membuktikan mamapu melahirkan karya-karya besar. Baik orang itu masih hidup atau sudah menjadi catatan sejarah. bagi orang dewasa seusia mahasiswa, tokoh idola sangat berperan dalam membangun cita-cita masa depan pemikiran besar dari orang besar itu mengilhami orang muda untuk beerpikir besar. Orang besar adalah orang yang ruang lingkup pemikirannya luas melampaui ruang sosial, ruang geografi, serta ruang zaman tempat orang besar itu hidup. Tokoh-tokoh besar dunia yang banyak dijadikan idola pemuda dapat disebutkan, sperti Hitler, Napoleon, Gamal, Abdul Nasser, Soekarno, Imam Khomeini, dan Kaddafi.

Pengenalan kepada orang besar itu bisa dilakukan dengan membaca biografinya atau mengunjungi jejak sejarah tokoh tersebut. Dalam perspektif ini menjadi sangat penting penulisan biografi pelaku sejarah. Perlu disebarluaskan kepada generasi muda; misalnya biografi para pahlawan nasional RI, biografi tokoh bisnis, tokoh pemuda, dan tokoh keilmuan. Dari biografi itu generasi muda dapat mengetahui bagimana mereka mengalami pasang surut kehidupan, bagaimana mereka merespons perkembangan, dan bagaimana mereka berpikir menembus ruang dan waktu sehingga mereka tampil sebagai tokoh. Orang besar adalah orang yang bisa “bermimpi” tentang suatu hal yang mustahil, tetapi semua karya besar pada mulanya secara sinis dipandang orang sebagai impian kosong. Kajian tentang tokoh juga perlu di galakkan dalam bentuk seminar, dalam penelitian mahasiswa untuk penulisan skripsi, tesis, atau disertasi.

Lingkungan yang Kondusif

Pada tulisan yang lalu sudah dibahas mengenai bagaimana Penanaman tentang nilai yang agar Anak-Anak menjadi Insan Mulia (Amalia).Dalam pembentukan pola anak agar menjadi Insan Mulia paling tidak ada 4 infrastruktur, Yaitu:

1. penanaman nilai

2. Lingkungan yang Kondusif

3. Membangun Tokoh Idola

4. Pembiasaan kepada Pola Tingkah Laku Konstruktif.

berikut ini pembahasan yang kedua, yaitu Lingkungan yang Kondusif bagaimana anak menjadi Insan berakhlak Mulia.

Penelitian yang dikutip prof. Dr. Zakiah Darajat, menyebutkan bahwa perilaku manusia 83% dipengaruhi oleh apa yang dilihat, 11% oleh apa yang didengar dan 6% sisanya oleh gabungan dari berbagai stimulus. Dalam perspektif ini pengaruh lingkungan terhadap pembentukan kepribadian sangat besar. Suasana rumah tangga akan menjadi pemandangan setiap hari anak-anak. Jika rumah tangga tidak kondusif, anak menjadi tidak betah di rumah, lari keluar rumah dan bergabung dengan teman sebaya. Jika teman-teman sebayanya juga mereka yang tidak betah di rumah, mereka akan membentuk komunitas tersendiri yang pada umumnya rentah terhadap pengaruh negatif. Banyak orang menyediakan untuk anak-anak dan keluarganya sarana fisik yang sangat lengkap di dalam rumahnya, tetapi lupa menyediakan sarana psikologis. Padahal anak-anak dalam masa pertumbuhan psikologis sangat membutuhkan kehadiran ayah sebagai “tuhan” yang “sempurna”, berperan, dan membanggakan serta kehadiran ibu sebagai “lautan” kasih sayang yang tidak bertepi.

Lingkungan keluarga yang kondusif bagi pembentukan kepribadian anak-anak dan anggota keluarga lainnya adalah lingkungan psikologis, meski lingkungan fisik juga doperlukan. Kehadiran ayah sebagai idola bagi anak-anak akan menanamkan konsep diri positif sejak dini, sementara kehadiran ibu sebagai lautan kasih sayang akan mengikat pikologi anak pada cinta keluarga dan keindahan hidup. Pada keluarga muslim, kebiasaan ayah mengimami salat di rumah dan kebiasaan ibu menanyakan PR sekolah serta kemampuan kedua orang tua mencarikan solusi dari problem belajar maupun problem pergaulan anak akan menanamkan bibit kredibilitas moral anak. Secara psikologis, rumah yang ideal bagi anak-anak adalah rumah yang terdapat unsur kehadiran ayah dan ibu, dan ditambah kehadiran seorang om atau paman, yakni orang dalam usia dewasa tetapi jaraknya tidak terlalu jauh, yang berfungsi sebagai pelarian psikologis ketika ada hal-hal yang tidak dipenuhi oleh ayah dan ibu. Peran paman bisa dilakukan oleh adik ayah atau adik ibu. Bisa juga oleh famili lain atau oleh sopir atau pembantu rumah tangga yang tidak terlalu bodoh dan dedikatif terhadap keluarga di tempati ia bekerja. Sebagai kelengkapan psikologis dari suatu rumah, sangat indah jika anak-anak masih memiliki kakek / nenek yang bisa dikunjungi secara berkala. Peran kakek / nenek juga bisa diganti oleh saudara kakek atau oleh orang yang dituangkan.

Lingkungan hidup anak di samping didalam rumah juga di luar rumah, yakni masyarakat di lingkungan tempat mereka bertempat tinggal. Banyak orang memusatkan perhatian pada ingkungan rumah dan mengabaikan lingkungan di luar rumah, termasuk jalan becek didepan rumah yang setiap hari dilewatinya. Setiap keluarga seyogianya ikut aktif membenuk lingkungan sosial bagi anak-anak mereka misalnya ikut memikirkan sarana bermain, sarana belajar, sarana organisasi, sarana olah raga, sarana sisial, sarana pribadatan, dan sarana aktualisasi diri lainnya yang cocok bagi lingkungan warga. Keterlibatan remaja dalam perkumpulan semacam remaja masjid atau klub olah raga atau klub studi akan mengikat remaja pada imajinasi yang positif, sekaligus menepis godaan liar yang biasanya menarik remaja pada usia pubertas.

Kelalaian orang tua memikirkan lingkungan sosial hidup untuk anak-anaknya terkadang berakibat fatal dan menghilangkan makna dari jerih payah kesungguhan membentuk karakter anak di dalam rumah, karena psikologis godaan negatif (yang datang dari lingkungan sosial) itu lebih kuat pengaruhnya di banding ajakan positif (yang dibangun didalam lingkungan rumah) meski sudah lama ditanamkan. Pengaruh buruk lingkungan sosial yang kuat terhadap ketahanan keluarga bagaikan setitik nilai yang merusak susu sebelanga.

Tamsil perumpamaan kekuatan lingkungan disebutkan dalam hadis Nabi yang mengatakan bahwa bergaul dengan orang baik itu seperti orang yang bedekatan dengan penjual minyak wangi, meskipun tidak membeli tetap dirinya ikut berbau wangi karena watak penjual minyak wangi itu selalu menempelkan minyak wangi yang diajakannya itu kepada setiap orang yang datang mendekat (sebagai promosi). Sementara bergaul dengan orang yang menyebar kebencian itu ibarat berakrab-akrab dengan tukang pandai besi (yang sedang bekerja), kalau tidak terpercik apinya, hampir pasti abunya akan mengotori pakaiannya.

Thursday, March 12, 2009

Penanaman Tentang Nilai

Dalam pembentukan pola anak agar menjadi Insan Mulia paling tidak ada 4 infrastruktur, Yaitu:

1. penanaman nilai

2. Lingkungan yang Kondusif

3. Membangun Tokoh Idola

4. Pembiasaan kepada Pola Tingkah Laku Konstruktif.

Tulisan berikut ini akan membahas bagaimana Penanaman tentang nilai yang agar Anak-Anak menjadi Insan Mulia (Amalia).

Tingkah laku Insan Mulia dipengaruhi oleh aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Jika seseorang memiliki kapasitas yang seimbang dari ketiga aspek tersebut, teorinya ia dapat hidup harmoni dengan lingkungan dan dengan dirinya karena kemampuannya mengamati dan merespons permasalahan secara benar dan proporsional.

Pengetahuan tentang nilai akhlak itu sangat besar pengaruhnya dalam pembentukan kepribadian terutama bagi anak yang memiliki fitrah bawaan yang baik. Pengetahuan tentang nilai-nilai akhlak bisa disampaikan, antara lain, oleh orang tua dan guru:

1. Orang tua dapat melakukannya sejak dini melalui dongeng sebelum tidur dan nasihat rutin. Dapat juga berupa nasihat khusus sehubung dengan kejadian-kejadian penting, misalnya ketika akan berangkat merantau, dalam proses memilih jodoh, ketika menemui hidup berumah tangga, ketika memduduki suatu jabatan;

2. Guru sekolah menyampaikannya dalam proses belajar mengajar melalui pelajaran akhlak atau budi pekerti yang pada umumnya lebih berpengaruh pada aspek kognitif dan sedikit pengaruh pada aspek afektif. Disiplin sekolah yang bermuatan nilai akhlak meski boleh jadi tidak disukai oleh murid, cukup besar pengaruhnya dalam diri si murid, sekurang-kurangnya merasuk ke alam bawah sadar.

3. Ulama atau orang bijak menyampaikannya sesuai salat berjamaah atau dalam pengajian, atau dalam pertemuan khusus.

4. Cendekiawan menyampaikannya melalui forum diskusi.

5. Melalui literature yang terprogram.

6. Dapat juga diproleh seseorang dari peristiwa yang mengesankan hati yang kemudian dijadikan pelajaran.

Bagi anak-anak, pengetahuan tentang nilai akhlak bersifat normatif. Akan tetapi, pada orang dewasa, pengetahuan tentang nilai akhlak harus disampaikan dalam forum yang memungkinkan terjadinya dialog karena tujuan pemberitahuan tentang nilai bukan sekadar informatif, melainkan diharap berakhir dengan penghayatan nilai.

Ibunya Rizki menangis

Malam itu anak-anak Pengajian Amalia sedang bersemangat menghapalkan surat-surat pendek penuh semangat. Tak lama kemudian Ibunya Rizki datang. Kami berbincang bersama. Anak-anak tetap belajar mengaji diajar oleh Lusi. Istri saya menyapa, ”Apa kabar Ibunya Rizki?” ”Alhamdulillah baik kak.”jawabnya.

”Rizki sekarang sudah hapal surat2 pendek.” kata Ibunya Rizki. ”Saya aja dulu waktu sebesar Rizki belum hapal loh kak surat2 pendek itu.” Rasa haru bercampur bangga menyelimuti Ibunya Rizki. ”Bahkan sekarang Rizki semangat untuk belajar.” Terlihat Air mata itu mengalir. Air Mata seorang ibu yang mensyukuri nikmat Alloh SWT diberi anugerah oleh Alloh anak yang sholeh seperti Rizki.

Cerita ini adalah gambaran Program Pendidikan Amalia adalah Program beasiswa bagi anak-anak tidak mampu dan anak-anak yatim di Amalia yang duduk dibangku sekolah SD & SMP, Selain membiayai kegiatan sekolah anak-anak juga melakukan pembinaan melalui Pendidikan Al-Quran. Program pendidikan sudah berjalan setiap harinya dari hari senin hingga Ahad.

Program ini dengan pola terpadu disekolah, pengajian dan orang tua yang bertujuan untuk membentuk karakter anak-anak menjadi Insan Mulia.

kepribadian anak merupakan interaksi dari kualitas nafs, qalb,’aql dan bashirahnya; interaksi antara jiwa, hati, akal, dan hati nuraninya. Kepribadian seseorang disamping bermodal kapasitas fitrah bawaan sejak lahir dari warisan genetika orang tuanya, juga terbentuk melalui proses panjang riwayat hidupnya, proses internalisasi nilai pengetahuan dan pengalaman dalam dirinya. Dalam perspektif ini, agama yang diterima dari pengetahuan maupun yang dihayati dari pengalaman rohaniah masuk kedalam struktur kepribadian seseorang. Orang yang menguasi ilmu agama atau ilmu akhlak (sebagai ilmu) tidak otomatis memiliki kepribadian yang tinggi, karena kepribadian bukan hanya aspek pengetahuan.

Obsesi membentuk Insan (sebagai inividu) yang berkepribadian atau yang berkarakter bisa dimiliki oleh orang tua atas anaknya, guru atas anak didiknya, atau oleh seseorang yang memiliki perhatian khusus kepada orang-orang / anak-anak tertentu. Membangun kepribadian bukanlah pekerjaan yang mudah. Anak-anak membutuhkan situasi psikologis dan sugesti yang kondusif bagi internalisasi nilai. Infrastruktur yang disediakan bagi Program Pendidikan Amalia untuk membentuk insan yang berkepribadian yaitu:

1. penanaman nilai

2. Lingkungan yang Kondusif

3. Membangun Tokoh Idola

4. Pembiasaan kepada Pola Tingkah Laku Konstruktif.

Program yang sudah dilaksanakan setiap hari Senin sampai dengan Ahad adalah:

1. Taman Hafidz al-Quran (penghapalan al-quran untuk anak2 surah2 Juz Amma’).

2. Taman Cinta Ilmu (Kegiatan keilmuan dengan metode accelerated).

3. Taman Munajat Ilahiah ( bersama).

4. Taman Muhasabah (Kegiatan penanaman nilai Islam).

5. Bimbingan Belajar (dilaksanakan tiap hari ahad, bahasa inggris)

Wednesday, March 11, 2009

jaka Ingin bantu Emak, Kak

Sore itu saya jaka ke rumah. Lama sekali saya tidak bertemu dengannya. Jaka bertemu dan bersalaman dengan saya. Kata ibunya paru-paru sakit, tidak boleh terlalu capek atau angkat barang berat. Saya melihat wajahnya begitu tegar.

Ayahnya meninggal sewaktu Jaka masih kecil. "Jaka, tidak boleh lari-larian nanti terlalu kecapekan ya.."kata saya padanya. "Iya kak."jawab Jaka. Badannya kurus namun selalu bersemangat dalam hidupnya. Senyum itu terurai dengan sebuah harapan akan masa depannya.

saya bisa rasakan pada diri jaka. Bahkan seolah saya berada waktu yang sempit untuk menggapai sebuah impian. Impian untuk impian untuk membantu anak-anak yatim, impian untuk membantu banyak anak memiliki sebuah harapan agar tidak mudah putus asa dalam hidupnya.

---------------------
Rasulullah SAW bersabda, "Rumah tangga yang paling dicintai oleh Alloh SAW yaitu rumah tangga yang di dalamnya ada anak yatim yang dimuliakan." (HR. Ath-Thabarani dan Asbahani).

Kearifan

Saya biasanya menemukan kearifan dimana-mana justru pada orang-orang biasa bukan orang yang luar biasa atau orang yang hebat. Seperti itu karena kebiasaan yang tanpa saya sadari yang diajarkan oleh bapak. setiap hari bapak selalu mempersilahkan mampir dan menjamu siapa aja orang-orang yang kebetulan lewat.

Entah pengamen, sales, penjual jamu, tukang becak, penjual bubur ayam, tukang sampah, pak erte. Kalau sudah begitu terkadang ibu suka keberatan karena kita mesti menjamu yang terkadang memang tidak ada yang bisa disuguhkan. Kalau kebetulan ada pengamen atau siapapun yang mampir ngobrol dengan bapak, yang ditanya bisa macam-macam. mulai mengapa mengamen, berapa penghasilannya, atau tinggalnya dimana sudah berkeluarga apa belum.

Pertanyaan- pertanyaan yang sebenarnya hanyalah seputar kehidupan sehari-hari. Dulu saya pernah, bertanya, apa maksudnya mengundang mereka untuk mampir. Katanya, "Karena dari mereka kita bisa banyak belajar tentang kearifan."

"Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul-albab." (QS. 2:269)

Nenek Vanny sakit

Sore itu saya, istri dan Hana menjemput Icha. Saya bertemu cici Vanny dan neneknya. Sang nenek badannya terlihat lemas. kata nenek, dirinya sudah berobat ke dokter.

Awal bulan maret saya memang mendengar kabar bahwa neneknya sakit diare. setelah hampir satu bulan ini nenek Vanny masih terserang diare. "Kata dokter, nenek mesti diopname.."kata Nenek. "Saya nitip anak-anak ya.." Istri saya tak tega melihat nenek itu dipeluknya.

"Ya Alloh, semoga Engkau sembuhkan nenek ini dari sakitnya..sebab kebahagiaannya juga kebahagiaan kami, sakitnya juga sakit kami."


--
Dari Abu Hurairah RA., dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang meringankan penderitaan seorang Mukmin di dunia, niscaya Allah akan meringankan penderitaan (kesulitan)nya kelak di hari Kiamat dan barangsiapa yang memudahkan urusan orang yang mengalami kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. (HR. Muslim)

Makna Peci

Setiap kali saya bertemu orang seperti berenang dilautan kearifan. Kearifan itu seolah menjadi satu pada diri sosok yang biasa dan tidak bernama. Pertemuan dengan orang lain buat saya berarti sama halnya mendidik diri sendiri, berempati bahkan juga terlibat dalam pergumulan batin yang melahirkan pencerahan.

Pencerahan itu juga saya dapatkan ketika saya bertemu dengan penjual peci yang beberapa hari menjelang lebaran yang lalu. Sosok raut mukanya berseri, dia bertutur bahwa sudah hampir 35 tahun dirinya berjualan peci. Saya bertanya padanya, “Bapak apa yang menarik dari menjual peci?”

Katanya menjual peci adalah pekerjaan yang mulia yang memiliki makna untuk selalu mawas diri. “adek tau apa artinya peci?” tanya si penjual peci. “Tidak pak.” Jawab saya. “Peci itu artinya pikiran suci, Maknanya agar kita menjaga kesucian pikiran kita dari belenggu dan kotoran-kotoran hawa nafsu.” Kata si penjual peci itu.

…..Sungguh, Allah cinta orang yang taubat, dan cinta orang yang bersuci diri.”

(QS. Al-Baqarah : 222)

Tuesday, March 10, 2009

Berjalan Kaki Itu Sehat

Merupakan kegiatan yang amat menyenangkan buat saya ketika hendak berangkat ke kantor. Sehabis sholat subuh, bermain sejenak dengan Hana setelah itu sarapan sambil menonton berita. Berangkat ke kantor dipagi hari berjalan kaki dengan diantar anak dan istri bertegur sapa dengan tetangga. Oleh sebab itu berjalan kaki terasa lebih bermakna sebagai silaturahmi. Sedangkan silaturahmi, menurut ajaran Nabi Muhammad SAW ada dua manfaat. Pertama, memanjangkan usia dan yang kedua menambah rizki. Berjalan kaki buat saya sebuah aktifitas yang murah dan menyenangkan.

Pernah suatu ketika saya berbincang dengan “Gondrong” Si penjual bubur, dengan bangganya dia bercerita bahwa dirinya selama 15 tahun berjalan kaki kalau pergi ke pasar atau berjualan bubur. Katanya, berjalan kaki adalah sebagai bentuk rasa syukur karena Allah SWT telah memberinya “kekayaan” dengan wujud kaki yang kuat, yang lebih
berharga dari kendaraan bermotor jenis apapun. Sejauh apapun kita jalan, kita tidak akan terasa lelah melainkan kaki bertambah kuat, badan menjadi sehat. Begitulah katanya.

Amatlah sederhana yang diucapkan “Gondrong” Si penjual bubur dengan menyebut kaki sebagai “kekayaan” yang tak ternilai harganya. Seringkali kaki diabaikan dan disepelekan begitu kehadiran kekayaan dengan wujud kendaraan membuat kita menjadi enggan dan malas berjalan kaki. Tubuh menolak, berjalan sedikitpun kaki terasa menjadi kesemutan. “Ah, buat apa berjalan kaki. Udah ada tukang ojek ini. Nyapek2in aja jalan kaki.” Begitulah kata saya pada istri kalau pas lagi malasnya datang. Sungguh betapa sulitnya mendidik diri sendiri.

Berjalan kaki buat saya kegembiraan tersendiri, biar kuat ataupun sehat tapi juga sebagai upaya mendidik diri sendiri agar senantiasa mensyukuri nikmat apa yang oleh Allah SWT telah berikan.

Ternyata berjalan kaki itu sehat dan menyenangkan ya..

Insan Mulia Dalam Konstruksi Yang Terbaik

Diskusi dengan anak-anak Pengajian Amalia selalu saja menarik, pertanyaan, "Kak agus, kenapa Allah SWT menciptakan dua telinga? kenapa tidak satu? hidung kita kenapa lubangnya dua, kenapa tidak tiga? pertanyaan-pertanyaan seperti ini hampir selalu saja saya temui setiap harinya.

Alquran juga menyebut bahwa Allah SWT telah menciptakan insan dalam kondisi mulia dengan konstruksi yang terbaik (laqad khalaqna al insane fi ahsani taqwim). Sebagian mufasir menyebut bentuk tubuh manusia sebagai tafsir dari ahsani taqwim (Q / 95:4), tetapi, sebenarnya yang lebih tepat, tafsir ahsani taqwim adalah struktur psikologis yang paling prima, karena ayat itu menyebut insan, dan bukan menyebut basyar. Sebagaimana tersebut di muka insan adalah makhluk psikologis, sementara bentuk tubuh yang indah merupakan karakteristik dari basyar.

Dalam Alquran terdapat terma al khair dan fahisyah. Al khair mengandung arti kebaikan normatif yang datangnya dari Allah SWT dan bersifat universal, seperti keadilan, kejujuran, berbakti kepada orang tua, menolong yang lemah. Pandangan ini secara fitri dimiliki oleh semua manusia sepanjang zaman, bahkan pada masyarakat primitif yang belum mengenal pendidikan. Sedangkan bagaimana cara menegakkan keadilan dan kejujuran, atau bagaimana caranya berbakti kepada orang tua, atau bagaimana caranya membela orang lemah, tidak lagi masuk kategori al khoir, tetapi masuk apa yang ada dalam Alquran disebut al ma’ruf, ya’muruna bi al ma’ruf (Q / 3:104).

Ma’ruf adalah sesuatu yang secara sosial dipandang memiliki kepantasan. Secara lughawi, al ma’ruf artinya sesuatu yang diketahui, tetapi kemudian diartikan sebagai kebaikan; mengandung makna bahwa pada dasarnya secara fitri manusia mengetahui nilai-nilai kepantasan, nilai-nilai keputusan, yang secara sosial dipandang sebagai kebaikan. Sedangkan fahisyah mengandung arti sesuatu yang secara universal dipandang sebagai kekejian. Dalam Alquran (Q / 4:15) fahisyah sering digunakan untuk menyebut perbuatan zina.

Artinya secara fitri semua manusia sepanjang sejarah kemanusiaan pada dasarnya mengerti bahwa hubungan seks diluar nikah (zina) adalah perbuatan keji. Para pezina profesional pun tersinggung jika istrinya dizinahi orang lain karena secara fitri zina adalah fahisyah, sesuatu yang jelas kekejiannya. Berbeda dengan fahisyah adalah munkar. Terma munkar disebut Alquran (wayanhauna’an al munkar) untuk menyebut perbuatan jahat yang diperdebatkan. Perbuatan munkar adalah kejahatan yang dilakukan sebagai wujud dari kecerdasan seseorang sehingga kejahatannya bisa disembunyikan atau dilapisi dengan logika, seakan perbuatan itu tidak jahat. Munkar adalah prestasi negatif dari kecerdikan. Mark up atau komisi adalah contoh perbuatan munkar, tidak nampak nyata kejahatannya, terhindar dari pasal-pasal hukum meskipun berdampak sangat buruk bagi kehidupan masyarakat.

Dalam surat as Syams ayat 9-10 tersebut di atas disebutkan bahwa sungguh beruntung manusia yang bisa memelihara kesucian jiwanya dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. Ayat ini mengandung arti bahwa desain jiwa yang sempurna dan suci ini dapat ditingkatkan hingga menjadi suci secara aktual-disebut an nafs al muthma’innah-dan bisa juga terprosok kepada kehinaan sehingga menjadi kotor dan hina; disebut an nafs al ammarah. Jarak antara an nafs al muhma’innah dan an nafs al’ammarah itulah medan jati diri insan dimana terkadang berada dalam suasana psikologi lupa, terkadang mesra, dan terkadang bergejolak.

Desain awal jiwa manusia berikut berbagai karakteristiknya merupakan konsep baku dan universal yang diciptakan Allah SWT. Allah SWT menciptakan manusia bukan tanpa tujuan. Kerumitan dan kesempurnaan jiwa (dan raga) manusia sebagai makhluk menggambarkan keagungan Sang Pencipta. Semakin diteliti secara empirik akan semakin diketahui bahwa medan yang belum dikatahui justru semakin lebar. Perkembangan teori-teori psikologi, misalnya, dari teori psikoanalisa hingga psikologi humanistik menggambarkan bagimana manusia melakukan trial and error dalam merumuskan konsepsi manusia berdasarkan temuan empirik. Manusia bagaikan kumpulan orang buta yang berusaha merumuskan karakreristik gajah berdasarkan rabaan tangan mereka.

Wacana kajian kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual mengisyaratkan betapa banyaknya rahasia desain fitrah manusia yang hingga kini belum ditemukan secara empirik. Memang dalam Islam, manusia dipandang sebagai tajalli Tuhan, sebagai perwujudan dari kebesaran Sang Pencipta. Manusia juga disebut sebagai mikrokosmos, sebagai miniatur alam semesta. Jika alam semesta bisa dipelajari hukum-hukumnya hingga Dinas Meterologi dan Geofisika bisa meramalkan kapan turun hujan, dan astronomi bahkan bisa meramalkan secara akurat kapan dan dimana terjadi gerhana total, demikian juga hukum-hukum (sunnatullah) yang berlaku pada jiwa manusia.

Tingkat pemahaman manusia terhadap anatomi manusia searti dengan kemampuannya memahami Sang Pencipta. Barang siapa bisa mengenal siapa dirinya, ia akan mengenal siapa Tuhannya, man’arafa nafsahu faqad’arafa robbahu; demikian kata bijak yang sudah dikenal sejak zaman Plato. Apa pun kata teori manusia, fitrah manusia, seperti yang disebut Alquran tidak berubah (Q / 30:30).

Secara umum fitrah sebagai potensi psikologis seperti yang disebutkan Alquran hanya disebut sebagai kemampuan memahami keburukan dan kebaikan. Akan tetapi, sesuai dengan kenyataan kehidupan bahwa manusia memang dipersiapkan Allah SWT untuk mengarungi kehidupan sebagai hamba, sebagai khalifah, sebagai makhluk sosial, sebagai makhluk yang berpasangan, sebagai makhluk yang unik, maka, dalam potensi awal itu niscaya sudah pula dipersiapkan oleh Sang Pencipta segala subpotensi yang diperlukan ketika manusia hidup secara aktual sebagai manusia di tengah masyarakat manusia. Misalnya ketika jatuh cinta, menghadapi ancaman, ketika bersaing, ketika menyadari kemampuannya, ketika menyadari kelemahannya, dan realitas lainnya.

Fitrah Anak, Insan Mulia

Semalam pengajian Anak-ANak Insan Mulia (Amalia) diskusi bersama, Icha bertanya, "Kak agus, apakah anak menanggung dosa orang tuanya?" pertanyaan ini tentunya tidak mudah untuk dijawab. Saya katakan pada Icha bahwa tidak ada dosa orang tua yang harus ditanggung oleh anak sebab pada dasarnya setiap anak yang terlahir adalah suci (fitrah).

"Semua perbuatan itu karena pilihan-pilihan hidup kita sendiri bukan karena dosa yang pernah orang tua kita lakukan." jawab saya. Setiap anak yang terlahir dengan desain jiwa yang sempurna.


Dari surat asy Syam dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki desain kejiwaan yang sempurna, memiliki potensi untuk memahami kebaikan dan kejahatan, dan bisa ditingkatkan kualitasnya menjadi suci dan dapat tercemar sehingga menjadi kotor.

Artinya:

…dan (demi) jiwa serta penyempurnaan (ciptaan-Nya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q/ 91:-10).

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa Tuhan menciptakan jiwa manusia sebagai sesuatu yang sempurna. Kata wa pada wa nafsin adalah bentuk qasam. Dalam Alquran, kata yang dijadikan sumpah Tuhan (yang didahuluinya wawu qasam), seperti wasy syamsi, wad dluha, wal’ahri mengacu kepada sesuatu yang mengandung arti dahsyat, hebat, atau rumit. Kalimat wa nafsin menunjuk bahwa nafs itu sesuatu yang memiliki kualitas hebat, dahsyat, rumit, dan sempurna.

Dalam kalimat berikutnya, yakni mawa saw waha secara tegas menyebut kesempurnaan jiwa itu antara lain diberinya potensi (ilham) untuk memahami perilaku (nilai-nilai) buruk dan membedakannya dengan perilaku takwa atau perilaku baik. Semua manusia pada desain awalnya dipersiapkan untuk mampu membedakan yang buruk dari yang baik, tetapi apakah potensi itu akan menjadi aktual atau tidak masih bergantung kepada proses berikutnya. Dalam hadist Nabi disebutkan bahwa setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah (jiwanya dalam kedaan memiliki potensi universal, dan bersih dari dosa warisan). Kedua orang tuanya (lingkungan hidup)-lah yang selanjutnya akan berperan mengaktualkan potensi fitrah itu menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi, atau yang lainnya.

Jika seekor kuda dilahirkan langsung bisa berdiri dan sebentar kemudian sudah bisa berlari, maka potensi fitrah manusia baru bisa aktual jika fungsi-fungsi kejiwaan yang lain dan fisiknya mencapai kesempurnaan. Bayi manusia secara berangsur-angsur dari bisa menangis dan menyusu sampai dapat ngoceh, merangkak, duduk, berdiri,berlari, berbicara, menghitung, berimajinasi, berfikir logis, merenung, berfilsafat, dan seterusnya, dalam waktu yang relatif panjang. Jika potensi anak kuda berhenti pada kemampuan berlari kencang, aktualisasi potensi kejiwaan manusia berkembang sangat luas seakan hampir tidak berbatas.

Dalam ayat 9 surat as Syam tersebut di atas disebutkan bahwa secara fitri Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia pengetahuan tentang keburukan (fujur) dan kebaikan (taqwa). Mengapa dalam ayat tersebut keburukan (fujur) disebutkan lebih dahulu, baru kebaikan (taqwa), bukanlah sekedar penyebutan, melainkan mengandung makna bahwa jiwa manusia lebih mudah mengenali keburukan dibanding kebaikan.

Secara fitri, manusia akan langsung mempersepsikan keburukan sebagai keburukan, karena keburukan berseberangan dengan fitrah dasar manusia sebagai makhluk yang baik. Menurut Alquran, manusia secara psikologis juga lebih mudah mengerjakan kebaikan karena sesuai dengan desain fitrahnya (laha ma kasabat); sedangkan untuk berbuat jahat manusia harus berjuang melawan suara hatinya, suara nuraninya, sehingga terasa berat (wa ‘alaiha ma iktasabat). Kalimat kasabat dan iktasabat dalam bahasa Arab mengandung arti dasar yang sama, tetapi kasabat mengandung arti mudah mengerjakannya dan iktasabat mengandung arti sulit mengerjakannya (Q / 2:286).

Monday, March 09, 2009

Ke sekolah Vanny

Ahad saya mendapatkan sms dari Vany, "Kak, Hari selasa bisa ambil nomor ujian vanny disekolah nggak?" Hari itu juga saya bertemu dengan Vanny. Menanyakan pada vanny jam berapa harus diambilnya. "Selasa pagi kak agus." jawab Vanny.

Pagi ini setelah saya mengantar Icha sekolah, bersama istri dan Hana , saya kesekolah Vanny bertemu dengan Wakil kepala sekolah yang bernama Pak Usman. Setelah bersalaman, kami berbincang banyak tentang Vanny. Ternyata pihak sekolah sama sekali tidak tahu bahwa Vanny bukan anak korban dari perceraian. "Pak Usman, Maaf. Ayah Vanny sudah meninggal dari tahun 2003 yang lalu." jawab saya.

Pak usman, matanya memerah. meneteskan air mata, "astaghfirullah, saya hampir salah menduga. Ternyata Vanny anak yatim ya pak." "benar pak." jawab saya. Akhirnya semua menjadi jelas. Pak usman menghendaki untuk bertemu dengan mamahnya. jam 9.30 saya sempat berkunjung ke rumahnya Vanny dan bertemu dengan mamahnya, saya sampaikan kalo wakil kepala sekolah ingin bertemu dengan mamahnya Vanny. alhamdulillah akhirnya Vanny bisa ikut ujian. Awalnya saya ketar-ketir Vanny tidak boleh ikut ujian.

---
“Barang siapa mencintai dan menyantuni anak-anak yatim, kelak akan hidup berdampingan bersamaku di surga.” (Al-Hadis).

Sunday, March 08, 2009

Sungguh Indahnya

Setiap orang yang hendak meninggal dunia senantiasa akan terlihat dari apa yang dikerjakan pada kehidupan sehari-harinya. saya pernah menunggu orang yang sedang sakit keras ucapan yang keluar dari bibir adalah tahmid dan tahlil tanpa ada orang yang membimbingnya. Kondisi orang yang sedang sakit memasuki alam bawah sadarnya sehingga yang terbiasa dilakukan sehari-hari nampak pada saat sedang sakit. Namun juga sebaliknya pada saat orang sedang sakit keras ada yang terucap sumpah serapah pada orang-orang sekelilingnya.

menjelang tengah malam, saya mendengar mendengar kabar seorang teman meninggal dunia, saya bergegas untuk takziyah. semua orang terkejut sebab tadi baru saja bersama sholat isya berjamaah dalam kondisi segar bugar. Namun beliau meninggal sesampai dirumah, rebahan dalam kamar. Beliau meninggal dengan memeluk alquran. kata keluarganya Sebelum meninggal masih terdengar sedang menghapal ayat-ayat suci. "Sungguh indah ya mas, bapak meninggal sebagai seorang hafidz." tutur istrinya. sayapun mengiyakannya.

Saya mengenal teman ini juga sebagai sosok yang gigih menganjurkan untuk menghapal al-quran. Katanya, "dizaman sekarang hafidz (penghapal) al-quran sudah langka. Kitalah yang harus melestarikan budaya menghapal al-quran." Beliau selain seorang hafidz juga gemar menyantuni anak yatim dan gemar bersodaqoh sehingga diakhir hidupnya meninggal dengan indahnya, tak terasa air mata saya menetes kegigihan beliau dalam menghapal al-quran yang akhirnya terlaksana juga. dan namanya harum karena kegigihannya itu.

Saturday, March 07, 2009

Keajaiban Sodaqoh

malam itu seorang teman datang ke rumah. Dia menceritakan bahwa dirinya bukanlah orang yang taat beragama. Sholatnya suka bolong-bolong. Semuanya menjadi berubah ketika satu hari dia mengalami kecelakaan di fly over Kebayoran lama. Motor yang ditumpangi disruduk oleh metromini. Dia mengalami koma beberapa hari. Istrinya dengan setia menungguinya dirumah sakit.

Katanya, Awalnya istrinya tidak percaya, setelah beberapa hari pingsan. Namun ada keajaiban bahwa dirinya bisa tersadar. Dokter terheran dan mengatakan pemeriksaan dan diagnosis terbaru menunjukkan bahwa otaknya sama sekali tidak mengalami gegar. "Kondisi anda sekarang dalam keadaan normal" Kata dokter itu.

teman itu terkejut,hampir tak percaya atas perkataan dokter, dia tidak kuasa membendung air matanya yang meleleh karena kebahagiaan. dia itu bertanya sekali lagi apakah yang didengarnya adalah benar. Dokter mengatakan semuanya benar.

Dia memanjatkan syukur alhamdulillah kepada Alloh SWT yang berkenan menyembuhkan dirinya, hal itu berkat doa anak-anak yatim yang setiap hari mendoakan dirinya ketika koma di rumah sakit. karena dirinya telah bershodaqoh kepada anak-anak yatim. Sejak itu dia berjanji bukan hanya selalu mengasihi dan menyayangi anak-anak yatim namun juga akan meningkat ibadahnya dengan baik.

--

Aswad bin Yazid meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Obatilah orang-orang yang sakit dengan bersodaqoh dan bentengilah harta anda dengan zakat dan siapkan untuk menangkal bala' dengan berdoa.

Yuk..Ikutan Jadi Relawan "Amalia Cinta Rasul" (ACR)

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Dear Sahabat yang Tercinta,

Alhamdulillah, terima kasih buat teman2 yang berkenan untuk menjadi Relawan Amalia Cinta Rasul (ACR) maka kami menginformasikan sebagai berikut:

Rumah Amalia, Jl. Subagyo IV Blok ii, 1, No.23 Rt 001 Rw 09, Komplek Peruri, Sudimara Timur, Ciledug, Tangerang, 15151.

kegiatan "Amalia Cinta Rasul (ACR)" akan dilaksanakan pada Hari Kamis (hari libur nasional), 26 Maret 2009. Jam 08.00 s.d jam 16.00 WIB.

Oleh sebab itu kami sangat berterima kasih atas peran dan partisipasi teman2 semua yang sudah berkenan untuk menjadi relawan. Selanjutnya bagi teman2 yang ingin mengajak untuk bergabung silahkan segera konfirmasikan kembali ke kami.


So....buat teman-teman yang ingin berbagi kasih pada sesama dan bersilaturrahmi, tunggu apa lagi...temukan kebahagiaan anda bersama kami.

---
Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Maka bagi mereka surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. (Q.S As Sajadah (32) :19)

Peran Bank Syariah Dalam Transformasi Ekonomi Di Indonesia (2)

Bahkan juga dapat diarahkan untuk membangun kawasan Islam di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia, dana itu bisa ditanamkan di sektor kelautan, khususnya perikanan yang sangat potensial.

Namun hingga sekarangpun belum muncul gagasan untuk membangun usaha kecil dan menangah (UKM) di Dunia Islam. Namun di Indonesia, bank-bank syari’ah, khususnya BMI, telah mengarahkan 70% dananya untuk membiayai usaha UKM.
Demikian pula lembaga-lembaga perbankan syari’ah baru seperti Bank Syari’ah Mandiri (BSM), BNI-Syari’ah dan Bank IFI-Syari’ah, telah mengarahkan sebagian besar dananya untuk UKM.

Perkembangan penting dan khas perbankan syari’ah di Indonesia adalah berkembangnya Bait al Maal wa al Tamwil dan Bait al Tamwil Muhammadiyah. Jumlahnya sekarang sudah mendekati angka 4.000 unit dan Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah (BPRS) yang jumlahnya sekitar 86 unit. Lembaga ini merupakan bentuk lembaga keuangan mikro yang sangat sukses. Dan berbeda dengan lembaga keuangan mikro atau Grameen Bank di Bangladesh, BMT dan BTM di Indonesia ini tumbuh dari bawah yang dikukung oleh deposan-deposan kecil. Walaupun tidak diakuyi sebagai bank, namun lembaga BMT-BTM ini telah menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi yang mengalola dana dari, untuk dan oleh masyarakat. Dengan perkataan lain BMT-BTM merupakan perwujudan demokrasi ekonomi. Apalagi sebagian besar BMT-BTM berbadabn hukum koperasi yang merupakan badan usaha yang berdasarkan azas kekeluargaan yang sesuai dengan Islam. Namun lembaga keuangan mikro ini masih tetap kekurangan dana disbanding dengan kebutuhan dana masyarakat.

Salah satu ciri khas lembaga keuangan Islam adalah kaitannya yang erat dengan sektor riil, sebab dalam sistem non-ribawi, penghasilan lembaga keuangan tergantung dari keuntungan, terutama yang bersumber dari nilai-tambah yang diciptakan oleh sektor riil, khususnya pertanian dan industri. Karena itu, maka pertumbuhan perbankan syariah dan lembaga keuangan mikro syari’ah perlu ditunjang dengan pengembangan bisnis.

Strategi pengembangan UKM ini erat kaitannya dengan strategi yang diusulkan oleh Samir Amin, Bung Hatta dan Sritua-Arif. Berdasarkan pengalaman yang dipelajari oleh Samir Amin, ekonom-politik Mesir, negara-negara yang sekarang telah menjadi negara industri maju, pada awal perkembangannya menempuh strategi produksi barang-barang kebutuhan rakyat banyak yang dikaitkan dan dikuti dengan pengembangan industri barang-barang modal. Baru pada tahap kedua, produksi bisa diarahkan kepada barang-barang kebutuhan golongan menengah ke atas dan yang berorientasi ekspor. Namun di Indonesia, produksi UKM bisa pula diarahkan ke ekspor dan bahkan memproduksi barang-baeah mewah, misalnya dalam bentuk kerajinan yang mengandung nilai seni. Industri mebel, baik dari rotan mapun kayu, justru memperoleh pasarnya di luar negeri dan kota-kota besar dan segmen masyarakat yang berpendapatan tinggi.

Dalam pengembangan sektor riil ini, faktor lain muncul, yaitu sumberdaya manusia (human resource). Dalam dua bukunya, “Intellectual Capital: The New Wealth of Organization” (1998) dan bukunya yang lebih baru “The Wealth of Knowledge: Intellectual Capital and the Twenty-First Century Organization” (2001), Thomas A. Stewart menyabut beberapa jenis modal (capital), misalnya, tanah (land), pabrik-pabrik (factories), alat-alat (equipment), uang tunai (cash) dan kepandaian (intellectual). Identifikasi Stewart tersebut bisa dikelompok-kelompokkan ke dalam berbagai jenis modal yang kini beragam itu. Tanah (pertanian dan pertambangan) termasuk kedalam modal alam, pabrik-pabrik dan alat-alat (termasuk mesin) ke dalam modal material (material capital), uang tunai ke dalam modal finansial (financial capital) dan kepandaian termasuk ke dalam modal intellectual (intellectual capital). Stewart dalam kedua bukunya mengatakan, bahwa di zaman modern abad ke 21 ini, peranan modal intelektual sangat penting.

Secara khusus ia menyabut peranan pengetahuan (knowledge), informasi (information), hak milik intelektual (intellectual property) dan pengalaman kolektif (collective experience) yang kesamuanya merupakan unsurp-unsur modal intelektual. Semua jenis modal itu adalah merupakan sumber penciptaan kekayaan (wealth).

Mengikuti konsep pembangunan Samir Amin yang sebenarnya pernah dikemukakan pula oleh Bung Hatta dan diulangi oleh Sritua Arief, maka yang perlu dilakukan oleh umat Isloam dan bangsa Indonesia adalah membangun industri, namun industri yang saling menunjang pertanian. Pembangunan pertanian dan pertambangan akan menggunakan modal alam. Karena pembangunan pertambagan membutuhkan modal besar, maka harus diundang modal dari Timur Tengah. Misalnya saja, dalam rangka dinarisasi mata uang, perlu dikembangkan pertambangan emas yang cukup melimpah di Indonesia. Pengembangan UKM untuk menghasilkan barang-barang kebutuhan missal itu perlu diikuti oleh pengembangan industri barang modal, walaupun dengan teknologi sedarhana mengikuti pola India, Cina ,Taiwan dan Jerman yang menghasilkan alat-alat pertanian dan industri kecil. Ini tentu saja membutuhkan teknologi yang berarti membutuhkan modal intelektual.

Pendidikan dan penelitian akan memagang peranan penting dalam penciptraan modal intelektual. Tapi lembaga pendidikan ini perlu langsung bekerjasama dengan industri dan pertanian. Disini peranan organisasi besar semacam NU, Muhammadiyah, al Irsyad, Persis, al Wasliyah atau Darul Da’wah wal Irsyad di Sulawesi Tengah, sangat penting. Sebenarnya, industri perkapalan dan dirgantara yang dikembangkan oleh BPPT perlu dipertimbangkan lagi. Amerika Serikat sangat kuat sektor industrinya karena memiliki industri yang menghasilkan teknologi, yaitu General Electric. AS juga punya industri mobil terbesar du dunia, yaitu General Motor Sedangkan Jerman memiliki Daimler Crysler, Jepang memiliki memiliki Honda atau Mitsubisi. Industri-industri itu mengandung berbagai jenis modal secara terpadu, terutama modal material dan modal intelektual.

Indonesia dan Dunia Islam dewasa ini baru dalam taraf memperhatikan modal manusia yang unsur utamanya adalah pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skill). Modal manusia yang dibutuhkan adalah wiraswasta, tenaga teknik dan manajer. Hanya saja pengembangan SDM ini membutuhkan waktu lama, karena itu perlu ditemukan bentuk-bentuk pendidikan yang lebih praktis misalnya sistem magang sebagaimana dikembabgkan di Jerman sejak abad pertengahan. Pendidikan turun menurun, melalui keluarga memerlukan perhatian dan karena itu perlu mendapatkan perhatian pemerintah.

Modal yang dimiliki oleh umat Islam dewasa ini adalah modal natural dan dalam batas-batas tertentu, modal finansial. Dalam hal ini, perlu diperhatikan temuan De Soto yang mengatakan bahwa sebenarnya penduduk negara-negara sedang berkembang yang dianggap miskin itu sebenarnya sangat besar, tapi puso (idle). Salah satu langkah yang dianjurkan adalah pengembangan hak-milik (property right). Program yang sebenarnya telah dilaksanakan di Indonesia, adalah sertifikasi tanah. Jika tanah-tanah sudah disertifikasi, maka nilai modal natural akan meningkat secara signifikan. Dengan sertifikat itu, masyarakat bisa mengakses modal dari perbankan dan lembaga keuangan mikro guna mengembangkan UKM. Lembaga keuangan juga bisa melakukan sekuritisasi hak milik tersebut, dalam rangka menghimpun modal.

Berdasarkan teori De Soto, perlu dikembangkan harta agama, khususnya zakat, sadaqah, infaq dan wakaf. Bank bisa berperan membantu usaha-usaha mobiklisasi dana ini. Baru-baru ini, oleh Prof. A. Mannan, telah dikembangkan produk wakaf tunai (cash wakaf). Berdasarkan perhitungan di atas`kertas, wakaf tunai ini sangat besar potensinya dan merupakan sumber modal financial yang sangat potensial. Namun sekali lagi hal ini memerlukan dukungan modal manusia dan modal intelektual.

Salah satu modal lain yang perlu diperhatikan adalah modal sosial yang dipropagandakan oleh Fukuyama. Sebenarnya, ajaran Islam merupakan sumber modal sosial ini, misalnya dalam ajaran amanah (trust) ta’awwun (cooperation), saling mengenai (ta’aaruf) dan banyak lagi. Hanya saja ajaran-ajaran itu belum diinterpretasikan sejalan dengan pemikiran ekonomi dan pembangunan. Sekali lagi disini sangat penting peranan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dan latihan pada umumnya. Setiap pendidikan pengetahuan dan ketrampilan, perlu ditunjang dengan pendidikan untuk menciptakan modal sosial ini, karena menurut Fukuyama, modal sosial, berdasarkan pengalaman negara-negara industri maju sekarang ini, merupakan dasar dari kemajuan.

Friday, March 06, 2009

Peran Bank Syariah Dalam Transformasi Ekonomi Di Indonesia (1)

Perkembangan perekonomian Islam dewasa ini bertumpu pada empat pilar. Pilar pertama, adalah korpus ekonomi Islam itu sendiri, yang berujud teori-teori ekonomi yang telah ditulis, baik oleh para ulama yang pada umumnya merupakan pembahasan mengenai hukum syari’ah di bidang ekonomi. Kedua, proses pendidikan dan latihan yang menciptakan tenaga-tenaga professional yang tidak saja mampu melaksanakan prinsip-prinsip ekonomi dan bisnis, tetapi juga memahami syari’ah dan lebih-lebih di bidang keuangan dan perbankan, mampu melaksanakan asas-asas prudensialitas, baik ekonomis maupun syari’ah. Ketiga, adalah perkembangan perbankan syari’ah dan lembaga keuangan syari’ah lainnya (asuransi tafakul, reksadana, obligasi, zakat dan wakaf).

Keempat, adalah perkembangan bisnis di sektor riil, seperti pertanian, pertambangan, industri, perdagangan dan jasa. Keempat pilar itu berkaitan satu dengan yang lain. Sebagai contoh, beroperasinya sistem perbankan syari’ah secara berkesinambungan (sustainable) sangat bergantung pada mutu sumberdaya manusia (human resource) sebagai modal manusia (human capital) yang dihasilkan oleh sistem pendidikan dan latihan. Selanjutnya perkembangan pendidikan dan latihan juga bersumber pada perkembangan teori-teori dan konsep-konsep mengenai keuangan syari’ah. Perkembangan sektor riil pada gilirannya ditunjang oleh sektor keuangan dan perbankan dengan modal finansial.

Lahirnya ekonomi Islam di zaman modern ini cukup unik dalam sejarah perkembangan ekonomi. Ekonomi Islam, berbeda dengan ekonomi-ekonomi yang lain, lahir karena dua faktor. Pertama, berasal dari ajaran agama yang melarang riba dan menganjurkan sadaqah. Kedua, timbulnya surplus dan yang disebut petro-dollar dari negara-negara penghasil dan pengekspor minyak dari Timur Tengah dan negara-negara Islam. Adalah suatu kebetulan, bahwa lading-ladang minyak terbesar di dunia dewasa ini berada di negara-negara Muslim.

Sebenarnya kesadaran tentang larangan riba teleh menimbulkan gagasan pembentukan suatu bank Islam pada dasawarsa kedua abad ke 20. Tapi gagasan tersebut hanya melahirkan satu dua bank kecil yang tidak berdasarkan bunga. Sebabnya mudah dipahami, yaitu karena tiadanya modal finansial yang mencukupi yang dimiliki kaum Muslim. Pada waktu itu juga sudah disadari adanya doktrin sadaqah atau zakat dan K.H. Ahmad Dahlan sudah punya gagasan untuk membentuk lembaga amil (penghimpun dan pengelola) zakat. Tapi dana yang berhasil dikumpulkan itu dibutuhkan langsung untuk dakwah dan penyantunan fakir miskin. Karena itu belum ada gagasan untuk menjadikan dana zakat sebagai modal bank.

Gagasan penghimpunan zakat untuk modal bank baru timbul di Mesir pada awal dasawarsa 60-an. Maka pada tahun 1963, atas prakarsa seorang cendekiawan Mesir Dr. Ahmad al Najjar, dibentuk bank pedesaan (rural bank) bersama Mir-Ghamr Bank. Bank itu sesungguhnya cukup sukses, namun karena tersandung oleh alasan politik pada zaman pemerintahan otoriter Jamal Abdul Nasser, bank itu ditutup pada tahun 1967. Namun eksperiman bank Mir-Ghamr itu dihidupkan kembali dalam Nasr-Social Bank, dengan sponsor Pemerintah untuk menolong masyarakat lemah sebagai bagian dari sosialisme Arab-Mesir. Namun bank tersebut tidak lama umurnya karena berhenti beroperasi pada tahun 1976.

Dalam kasus dua bank perintis Mesir tersebut dapat ditarik beberapa pelajaran. Pertama, ajaran Islam mampu menggerakkan ide sosial-ekonomi. Ide spirit yang bersumber pada ajaran agama ini, sekarang disebut juga sebagai modal sosial (social capital). Kedua peranan cendekiawan yang memiliki suatu konsep yang mengoperasionalkan ajaran agama yaitu zakat dan larangan riba. Ketiga, dalam dua kasus pendirian bank itu nampak peranan pemerintah, yang pertama bersifat negatif. Intervensi kekuasaan yang bermotif politik menyebabkan tutupnya bank Mir-Ghamr, tetepi bersifat positif dalam kasus didirikannya Nasr-Social Bank. Hanya saja, karena tiadanya sifat bisnis pada Nasr Social Bank, maka bank tersebut tidak bisa berlanjut. Sedangkan Mir-Ghamr Bank cukup sukses berkembang, karena dijalankan secara professional, walaupun mengandung unsur sosial.

Perkembangan pesat bank-bank syari’ah yang lebih lazim disebut sebagai bank-Islam terjadi pada dasawarsa ’70-an, setelah terjadinya krisis minyak yang menimbulkan oil-boom pada tahun 1971. Dengan naiknya harga minyak hingga mencapai US$ 36,- per barel, maka terciptalah surplus dolar hasil ekspor minyak. Modal itu mula-mula melayang ke Eropa Barat dan AS untuk disimpan atau dibelikan saham-saham perusahaan-operusahaan besar. Dengan adanya surplus tersebut, dan secara kebetulan lahir pula generasi sarjana Muslim hasil didikan universitas-universitas Barat, maka timbul gagasan konspiratif untuk menampung dan menyalurkan modal tersebut di Dunia Islam sendiri. Maka berdirilah beberapa bank Islam di negara-negara Timur Tengah, terutama di Sudi Arabia, negera-negara Teluk dan Mesir pada dasawarsa ’70-an misalnya Dubai Islamic Bank (1973), di kawasan negara-negara Emirat Arab,

Islamic Development Bank di Saudi Arabia (1975), Faisal Islamic Bank di Mesir (1977).Kuwait Haouse of Finmance di Kuwait (1977), atau Jordan Islamic Bank di Jordania (1978). Pada dasawarsa ’80-an timbul bank-bank Islam di negara-negara Eropa Barat, misalnya Islamic Bank Internasional di Denmark (1982), Islamic Banking System-Internasional Holding SA di Luxemburg atau Dar al Maal di Swiss. Pada tahun 1983 berdiri Bank Islam Malaysia dam di tahun yang sama juga di Pakistan, Pakistan Banking System. Baru pada tahun 1991 di Indonesia berdiri Bank Mu’amalat Indonesia (BMI).

Dalam pembentukan bank-bank di negara-negara Timur Tengah sangat berperan orang-orang kaya yang dekat dengan raja, dengan demikian pemerintah ikut berperamn mendukung. Sumber dananya berasal dari minyak yang dikuasai oleh keluarga raja. Ini berbeda dengan bank-bank di negara-negara industri maju yang berasal dari badan-badan usaha besar milik swasta. Di Indonesia, peranan pemerintah sangat penting yang ikut menghimpun dana dari BUMN.

Dewasa ini, menurut International Association for Islamic Bank, jumlah bank-bank Islam di seluruh Dunia Islam, yang mencakup 40 negara-negara Muslim mauopun non-Muslim sudah lebih dari 200 unit, padahal pada tahun 1986 baru berjumlah 35 unit, dengan aset sebesar US$200,- miliar, di antaranya deposito sebesar US$ 80,- miliar. Di antara bank-bank itu muncul kelompok trans-national group, yaitu Darl al Mal al Islamy dan al Baraqah-Dallah Group. Satu di antaranya adalah Islamic Development Bank (IDB), yang sahamnya dimiliki oleh negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI (Organisasi Konperensi Islam). Setiap negara Muslim punya hak untuk meminta bantuan dana dari IDB ini, di antaranya Indonesia telah memperoleh dana melalui BMI yang memperoleh modal sehingga IDB ikut memiliki 35% saham BMI dan baru-baru ini BMI juga memperoleh dana tambahan sebesar US$ 100,- juta guna memperkuat permodalannya. Selain itu, Reksadana Syari’ah yang dulu dipimpin olkeh Iwan Poncowinoto, telah memperoleh pinjaman sebasar US$ 100,- miliar dan telah berhasil dikembalikan. Tapi secara umum Indonesia belum mamanfaatkannya secara maksimal.

Dari perjalanan perbankan dan lembaga keuangan Islam itu dapat ditarik katerangan, bahwa, perekonomian Islam yang selama ini berkembang dimulai modal fisik (physical capital) atau modal alam (natural capital), khususnya yang berasal dari minyak bumi. Dari hasil surplus ekspor minyak bumi ini terbentuk modal financial (financial capital).

Pola perkembangan ini sebenarnya juga terjadi dalam perekonomian AS yang kaya sumberdaya alam, terutama minyak dan emas. Demikian pula pola perkembangan negara-negara Eropa Barat. Hanya saja negara-negara Eropa Barat mengeksploitasi sumberdaya alam negara-negara jajahan melalui kolonialisme dan imperialisme.

Namun demikian, modal finansial tersebut belum berhasil menumbuhkan sektor riil, khususnya di bidang pertanian dan industri, walaupun telah menimbulkan industri pertambangan yang oil-related (seperti petro-kimia). Hal ini disebabkan karena dua hal. Pertama, belum adanya konsep pembangunan yang komprehensif, kecuali misalnya di Iran yang mengarah kepada pembangunan pertanian dan industrialisasi. Sebenarnya dana petro-dolar tersebut bisa dipergunakan untuk membangun pertanian di Mesir, Sudan dan beberapa negara Afrika Utara yang cukup berpotensi (misalnya di bidang hortikultura).

Pandangan Hidup Insan Mulia

Ummat manusia sepanjang sejarahnya mencatat banyak ragam pandangan hidup, baik yang dikenal sebagai filsafat maupun yang dikenal sebagai ajaran leluhur, maupun yang dikenal sebagai agama/ajaran Tuhan. Dalam Islam, pandangan hidup itu disebut aqidah (suatu keyakinan yang mengikat batin manusia). Karena mengikat batin maka aqidah menjadi pegangan hidup. Aqidah Islam memperkenalkan kepada manusia tentang Tuhan, tentang alam raya dan tentang makhluk manusia, dimana setiap individu termasuk di dalamnya.

Semua manusia secara naluriah mengenal dirinya dan alam sekitarnya sampai kepada alam raya. Secara naluriah manusia juga mengenal Alloh SWT (sekalipun dalam berbagai macam persepsi) dan pengenalannya itu saat menjadi keyakinan, memberikan pandangan hidup tertentu yang dijadikannya pegangan hidup bagi dirinya. Pandangan hidup yang diajarkan Islam menjelaskan kepada manusia bahwa ke-HIDUP-an itu adalah sesuatu yang amat mulia dan amat berharga. Hidup yang dianugerahkan Allah kepada manusia merupakan modal dasar untuk memenuhi fungsinya dan menentukan harkat dan martabatnya sendiri.

Oleh karena itu pesan-pesan al Qur’an dan hadis Rasulullah sendiri memberikan banyak peringatan kepada manusia supaya menggunakan modal dasar tersebut secermat mungkin dan jangan sekali-kali menyia-nyiakannya, karena ia sangat terbatas, baik waktunya maupun ruangnya. Lebih jauh lagi dijelaskan tentang adanya dua jenis ke-HIDUP-an, yaitu kehidupan manusia di bumi yang sangat terbatas ruang dan waktunya, dan karena keterbatasannya itu ia tidak bersifat kekal abadi, namun sifatnya nyata sehingga setiap orang mudah mengenalnya dan merasakannya.

Pada dasarnya kehidupan ini menyenangkan bagi manusia, karena bumi dan alam sekitarnya sudah dipersiapkan sedemikian rupa oleh Allah untuk mendukung kehidupan manusia. Ciri kesenangan inilah kemudian mendominasi pandangan hidup kebanyakan orang sehingga menjadikan “kesenangan” itu sebagai identifikasi dari kehidupan itu sendiri. Pandangan yang demikian itu direkam dalam surah al Hadid; di mana digambarkan bahwa yang dianggap kehidupan yang sesungguhnya ialah; permainan, senda gurau, kemegahan, perlombaan memperkaya diri, dan memperbanyak keturunan/pendukung (Q/57:20).

Hal ini lebih diperjelas dalam surat Ali `Imran dimana digambarkan bahwa manusia menjadi tertarik mencintai segala yang menggiurkan, diantaranya; wanita-wanita, putera-puteri, emas dan perak yang bertumpuk-tumpuk, kendaraan pilihan, ternak dan sawah ladang. Semua itu adalah kenyataan-kenyataan yang sudah sangat dikenal oleh semua manusia, dan sebagian mereka sempat merasakan nikmatnya.
Pada dasarnya hal itu semua tidak pada tempatnya untuk dibenci atau diremehkan, karena kese¬muanya itu adalah sebahagiaan dari nikmat Alloh SWT yang dipersiapkan untuk mendukung kehidupan manusia. Namun pemanfaatannya harus sesuai dengan petunjuk penggunaannya, dan ini terkait dengan pola hidup.

Selanjutnya jenis kehidupan lain yang diperkenalkan Islam adalah kehidupan di alam akhirat yang mutunya lebih tinggi, karena tidak terbatas dan bersifat kekal abadi. Segala kenikmatan yang ada di dalam kehidupan akhirat adalah lebih sempurna. Kedua jenis kehidupan tersebut itu bukan berdiri sendiri-sendiri, tetapi yang kedua merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari yang pertama. Alam akhirat merupakan tempat dan saat perhitungan akhir, dan penentuan nilai tetap bagi setiap manusia yang pernah menjalani kehidupan di alam dunia. Alam akhirat bukan lagi tempat dan waktu bekerja dan berbuat, tetapi hanyalah tempat dan saat menerima hasil akhir kerja dan perbuatan yang telah dilakukan sebelumnya, yaitu selama kita hidup di bumi ini. Dengan demikian, nyatalah bahwa kehidupan sebelumnya itu (yakni di dunia) sangat penting artinya. Kesempatan bekerja dan berbuat hanyalah didapatkan dalam kehidupan di alam dunia ini saja. Jadi benar-benarlah bahwa kehidupan di alam dunia ini merupakan modal dasar bagi manusia.

Terapy Shodaqoh

Malam belum begitu larut.Fitri mengabarkan ibunya masuk rumah sakit. Sudah beberapa lama sakit. saya sempat bertanya padanya bagaimana sakit ibunya. Teman itu bertutur bahwa Ibunya terkena stroke, tidak bisa berbicara dan sulit bergerak.

Fitri menyampaikan padanya atas keinginannya untuk shodaqoh pada anak-anak pengajian Amalia. "Mas Agus, Mohon doanya anak-anak Pengajian Amalia ya..untuk kesembuhan ibu saya."

Pagi tadi hari kemudian saya dihubungi fitri. mengabarkan bahwa ibunya sudah mulai bisa bergerak dan berbicara. Hal itu sangat mengejutkan baginya. Saya bertanya padanya kapan ibunya mulai sadarkan diri. Dia menjawab, Setelah bersodaqoh itu saya berdoa kepada Alloh "Dengan perantara sodaqoh ini Semoga Engkau menyembuhkan sakit ibu ya Alloh." " Hari itu juga Ibu sadarkan diri. Padahal saya hampir putus asa mas.."

Obatilah orang-orang yang sakit dengan shodaqoh dan bentengilah harta-harta kalian dengan zakat dan siapkan untuk menolak bala' dengan doa (Hadist Riawayat Baihaqi)

Thursday, March 05, 2009

Aldy, Usaplah Air Matamu

Malam itu ibunya Aldy datang menjemput. Aldy menangis dari sejak datang ke tempat pengajian. Anak-anak Pengajian Amalia (Insan Mulia) menemani Aldy. Ibunya bilang Aldy sedang kangen pada bapaknya.

Dulu bapaknya adalah seorang security di salah satu perkantoran di Jakarta. Meninggalnya begitu cepat, tanpa ada keluhan sedang sakit sesuatu sehingga bagi keluarga kepergian bapaknya Aldy sangat mengejutkan.

Ibunya Aldy bertutur, Jika Aldy kangen dengan bapaknya Aldy langsung lari ke kamar dan mencari baju almarhum bapaknya dan memakainya sampai Aldy tertidur. "itulah Kak, saya suka tidak tahan melihat seperti itu, rasanya pengen nangis." Lanjut Ibunya Aldy. Ibunya Aldy memanggil, "Aldy usaplah air matamu, nak..." kata ibunya Aldy. Mereka berdua berpelukan.

Subhanallah... Moga Aldy & Ibunya diberi ketabahan oleh Alloh SWT...

Tuesday, March 03, 2009

Kala Malam Turun Hujan

Begitu lebat, Jakarta bagai padang luas yang disirami. Didalam angkutan umum anak kecil menyanyikan lagu tombo ati, sambil mengusap ingusnya. Nyanyian itu nyanyian hati ditengah duka ibukota. Anak kecil itu tak mengerti tentang duka, yang dia tahu setelah menyanyi berharap ada uang receh yang didapat. Nyanyian tombo ati bagai air hujan yang menyirami hati yang terluka akibat duka yang berkepanjangan.

Sebuah pertanyaan sempat terlontar. Sudahkah kita membaca duka dengan memahami makna dibalik semua ini? Apa ya kira-kira hikmahnya? Kita terkadang buta untuk membaca makna. Mudahnya kita terjebak. Bila kebenaran adalah kesalahan dan kesalahan adalah kebenaran, lantas apa yang disebut benar? dan apa yang disebut salah? Yang Nampak hanyalah ilusi dari pikiran-pikiran kita.

Kesibukan mencari kebenaran terasa hambar, namun kesibukan untuk mendidik diri sendiri jauh memiliki makna. Gurunya, ya muridnya, ya bukunya, ya kepala sekolahnya semuanya adalah sang aku. Menengok kedalam diri sebagai proses pembelajaran. Lihat semua, hadapi semuanya. Ambil keputusan terus jalani hidup.

Pernah dulu, saya melihat seorang kyai yang memiliki pesantren dengan santri ribuan dan pesantrennya dibubarkan. Santrinya disuruh pulang, belajarlah dirumah, kata pak kyai. Alasannya sepele, tidak ingin kecintaannya pada pesantren sehingga melupakan cintanya pada Alloh SWT. Pak Kyai kemudian dihujat, dicaci maki, dikatain gendeng, gila, sedeng. Toh, semuanya dihadapinya. Belakangan saya tahu Pak Kyai itu sedang mendidik dirinya sendiri.

Malampun mulai sayup, angin terasa dingin. Bersamaan laju kencang kendaraan. Nyanyian Lagu tombo ati terdengar bagaikan doa penyembuh dari bocah pengamen bagi mereka yang hatinya terluka.

--
"Maka barangsiapa yang berpaling dari mengingat Aku (berdzikir kepada-Ku), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan kumpulkan mereka di hari qiamat nanti dalam keadaan buta." (Q.S. Thaha:124)

4 Konsep Dakwah

Berbicara tentang hakikat adalah berbicara sesuatu secara mendasar. Seorang penyanyi dangdut dengan lenggak lenggok erotik di atas panggung menyanyikan lagu ajakan berbakti kepada Alloh SWT, adakah ia seorang da’i ? Jawabannya jelas, yaitu bahwa penyanyi itu membawakan lirik-lirik dakwah, tetapi pada hakikatnya ia tidak sedang berdakwah. Dakwah bukan hanya bunyi kata-kata, tetapi ajakan psikologis yang bersumber dari jiwa da’i. Gebyar-gebyar aktifitas dakwah banyak kita jumpai, tetapi hakikinya, itu belum tentu suatu dakwah, sebaliknya boleh jadi justeru kontra dakwah. Lalu dakwah itu apa? Hakikat dakwah bisa dilihat dari sang da’i, bisa juga dari makna yang dipersepsi oleh masyarakat yang menerima dakwah.

1. Dakwah sebagai tabligh. Tabligh artinya menyampaikan, orangnya disebut muballigh. Dakwah sebagai tabligh wujudnya adalah muballigh menyampaikan materi dakwah (ceramah) kepada masyarakat. Materi dakwah bisa berupa keterangan, informasi, ajaran, seruan atau gagasan. Tabligh biasanya dilakukan dari atas mimbar, baik di masjid, di majlis taklim atau di tempat lain. Pusat perhatian tabligh adalah pada menyampaikan, illa al balagh, setelah itu bagaimana respond masyarakat sudah tidak lagi menjadi tanggungjawab muballigh. Bagi masyarakat, tabligh yang tidak jelas hanya bermakna bunyi-bunyian, tabligh berupa informasi akan menghasilkan pengertian, tabligh berupa renungan bisa menjadi penghayatan, dan dakwah berupa gagasan bisa menggelitik masyarakat untuk terus berfikir.

Bagi muballigh, menyampaikan materi pesan Islam yang ia sendiri tidak faham, pada hakikatnya ia adalah kaset yang tak berjiwa. Kekuatan tabligh adalah jika sang muballigh benar-benar menjadi fa‘il (subyek), menjadi pelaku yang merasa ter¬panggil tanggung jawabnya untuk melakukan tabligh. Banyak muballigh yang tidak menjadi fa‘il, tetapi menjadi maf‘ul (obyek), Ia tidak memiliki program tetapi diprogram oleh orang lain. Ia hanya bekerja memenuhi pesanan pasar, yakni menunggu undangan tabligh. Fa‘il jelas prestasinya, tetapi maf‘ul susah diukur prestasinya.

2. Dakwah Sebagai Ajakan. Orang akan tertarik kepada ajakan jika tujuannya menarik. Oleh karena itu da’i harus bisa merumuskan tujuan kemana masyarakat akan diajak. Ada dua tujuan, makro dan mikro. Tujuan makro cukup jelas yaitu mengajak manusia kepada kebahagiaan dunia akhirat. Da’i dan muballigh pada umumnya tidak pandai merumuskan tujuan mikro, tujuan jangka pendek yang mudah terjangkau, yang menarik hati masyarakatnya.

3. Dakwah sebagai pekerjaan menanam. Berdakwah juga mengandung arti mendidik manusia agar mereka bertingkahlaku sesuai dengan nilai-nilai Islam. Mendidik adalah pekerjaan menanamkan nilai-nilai ke dalam jiwa manusia. Nilai-nilai yang ditanam dalam dakwah adalah keimanan, kejujuran, keadilan, kedisiplinan, kasih sayang, rendah hati dan nilai-akhlak mulia lainnya. Laiknya pekerjaan menanam, benihnya harus unggul, tanahnya harus subur, disiram dan di¬jauhkan dari hama serta butuh waktu lama hingga benih itu tumbuh berkembang menjadi rumput hijau yang indah atau menjadi pohon tinggi yang rindang dan berbuah. Guru di sekolah (dan lembaga pendidikkannya) adalah da’i yang berdakwah berupa menanam. Sudah barang tentu tidak semua guru menjadi da’i. Guru yang da’i adalah guru yang sudah bisa menjadi pendidik, bukan guru yang sekedar menjadi pengajar. Pengajar hanya mentransfer pengetahuan, sedangkan pendidik mentranfer pola tingkah laku atau kebudayaan.

4. Dakwah berupa akulturasi budaya. Dakwahnya Wali Songo di Pulau Jawa merupakan contoh konkrit dakwah akulturasi budaya. Para Wali tidak mengubah bentuk-bentuk tradisi masyarakat Jawa, tetapi mengganti isinya. Tradisi selamatan tiga hari, tujuh hari, seratus hari, dulunya adalah tradisi masyarakat Jawa jika ada keluarganya yang me¬ninggal dunia. Dalam acara itu diisi dengan begadang, makan, judi dan minuman keras. Oleh para wali, bentuknya dipertahankan, makannya dipertahankan tetapi yang maksiat diganti dengan hal-hal yang Islami, yakni membaca kalimah-kalimah tahlil. Makananyapun diganti berupa nasi tumpeng yang melambangkan tauhid, dan setiap orang pulang dari tahlilan dengan membawa brekat (berkah). Dengan akulturasi budaya, orang Jawa tanpa disadari kemudian telah menjadi Islam. Kelemahannya, sinkretisme tidak bisa dihindar.

5. Dakwah berupa pekerjaan membangun. Secara makro dakwah juga bermakna membangun, membangun apa? Sebagaimana dicontohkan dalam sejarah, dakwah juga bisa dimaksud untuk membangun tata dunia Islam (daulah Islamiyah), lebih kecil lagi membangun negara Islam (nasional), lebih kecil lagi membangun masyarakat Islam atau Islami, dan lebih kecil lagi membangun komunitas Islam. Dalam membangun sering tak bisa menghindar dari membongkar bangunan lama, dan ini sering bermakna konflik. Laiknya pekerjaan mendirikan bangunan, dakwah dalam bentuk membangun harus melalui tahapannya. Pertama ada desain atau maket dari bangunan yang akan didirikan. Kedua, harus dilakukan uji tata guna tanah (land use), dalam hal ini budaya setempat, yang akan menjadi pijakan berdirinya sebuah bangunan.

Pekerjaan pertama dan kedua bisa bertukar tempat urutannya, artinya ada konsep dulu baru mencari tempat atau konsep dibangun sesuai dengan keadaan tanah. Ketiga, harus ada tenaga ahli, dari arsitek hingga kenet tukang batu, dan keempat tersedianya bahan bangunan. Membangun negara Islam tanpa konsep yang telah diuji sahih hanya akan melahirkan madlarrat, sebagaimana juga membangun tanpa tenaga ahli dan biaya. Bagi kaum muslimin Indonesia, yang paling relevan adalah membangun komunitas Islam dan masyarakat Islam atau masyarakat Islami, karena Indonesia tanahnya (budayanya) kondusif, konsepnya tinggal menyempurnakan, tenaga SDM nya relatif ada dan biaya tidak terlalu mahal. Wallohu a‘lam.

Sungguh Indah Hidup Ini

Sore itu hp saya berbunyi, seorang teman mengatakan, "alhamdulillah mas agus, setiap kali saya menjadi relawan pada kegiatan Amalia menjadikan hidup saya lebih indah. Sungguh indah hidup ini mas.."

"Bolehkah saya mengajak teman untuk menjadi relawan?" tanyanya.

"silahkan aja mas, semakin banyak malah semakin bagus." jawab saya.

Saya bisa merasakan kebahagiaan itu. Ditengah kesibukan kerjanya. Kegiatan untuk berbagi sesama merupakan kegiatan refreshing sekaligus kegiatan untuk berbagi kasih sayang untuk sesama.

”Apabila anak Adam telah meninggal dunia, maka putuslah segala amal perbuatannya, kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau seorang anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Mengalirkan pahala shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan juga anak yang sholeh merupakan keberkahan dalam hidup kita yang terus mengalir. keberkahan dalam hidup mendatang kebahagiaan buat kita dan juga teman2 yang menjadi relawan anak-anak Amalia. Dalam keheningan saya suka memanjatkan doa. "Ya Alloh, jadikanlah umur kami bermanfaat dengan berbuat kebaikan pada sesama."

alhamdulillah, kami mengucapkan jazakumullah khair, terima kasih buat teman2 dari balik papan, surabaya, dan di jakarta sekitarnya yang tidak bisa kami sebutkan
satu persatu. yang telah berkenan berpartisipasi dalam rangka kegiatan sebelumnya
maupun persiapan kegiatan "Amalia Cinta Rasul (ACR)"

apapun bentuk dukungan dan perhatian teman2 yang terus mengalir baik dalam bentuk teman2 yang telah bersedia menjadi relawan dan yang telah mewaqafkan buku2,– Majalah – Komik – Novel – Cerpen – Kaset –VCD, CD, DVD ( ISLAMI ) – IPTEK – buku Pelajaran sekolah – Komputer - baju layak pakai dan juga membantu dalam bentuk sembako.

Bagi teman2 yang telah berkeinginan berwaqaf pada kegiatan "Amalia Cinta Rasul (ACR)" silahkan kirimkan:

Rumah Amalia, Jl. Subagyo IV Blok ii, 1, No.23 Rt 001 Rw 09, Komplek Peruri, Sudimara Timur, Ciledug, Tangerang, 15151.

kegiatan "Amalia Cinta Rasul (ACR)" akan dilaksanakan pada Hari Kamis (hari libur nasional), 26 Maret 2009. Jam 08.00 s.d jam 16.00 WIB.

Dengan setulus hati Kami berdoa, "Semoga Alloh, senantiasa melimpahkan kesehatan & Rizki untuk teman2 semua.." Amin ya robbal 'alamin.

Monday, March 02, 2009

Baju Seragam Buat Bejo

Malam itu anak-anak pengajian Amalia sedang mengaji. Bejo datang ke rumah. Bejo mengabarkan bahwa dirinya sekarang telah bekerja disalah satu Bank Nasional di Jakarta. Saya turut berbahagia mendengar kabar gembira itu. Bejo adalah salah satu santri di pengajian. Sejak tamat SMA Bejo langsung bekerja dan kuliah pada malam hari. Ditengah kesibukannya pada saat hari-hari libur Bejo suka datang ke pengajian bahkan suka membantu mengajar anak-anak.

Sekian tahun yang lalu Bejo adalah seorang anak kecil kelas 5 SD yang menangis dijalan. Sejak ayahnya meninggal Bejo tidak lagi mau sekolah, katanya malu dengan teman-temannya karena baju seragamnya sudah jelek, sampai pada satu malam saya membawakan baju seragam sekolah buatnya. Matanya berbinar-binar dan Bejo berjanji untuk sekolah lagi. Pada malam itulah Bejo berjanji untuk tidak menangis lagi. Bahkan baju seragam SD itu hingga kini masih tersimpan dengan baik. Emaknya Bejo pernah mengatakan pada saya bahwa baju seragam itu sengaja disimpan sebagai kenangan indah.

“Kak Agus, baju seragam itulah yang menyelamatkan saya dari ejekan teman-teman. Dan karena baju seragam itulah teman-teman mau maen bersama saya lagi.” Kata Bejo malam itu. Nampak mata Bejo memerah. Berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Peristiwa kecil hanya baju seragam yang dialami oleh Bejo bisa mempengaruhi konsep dirinya tentang masa depan yang kelak menjadikan mereka sebagai orang-orang yang besar. Orang-orang yang besar adalah orang-orang yang selalu membawa kebaikan bagi orang banyak. Sebagaimana sabda Baginda Nabi Muhamad, Khairunnas anfa’uhum linnas (Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain).

Kiat Mendidik Anak Menjadi Insan Mulia

Satu malam datang seorang Ibu bersama suami tercintanya. Ibu ini bertanya pada saya bagaimana mendidik anak menjadi insan mulia. Saya katakan padanya, anak akan menjadi insan mulia jika anak diperlakukan dengan penuh kemuliaan. Pendidikan yang memuliaan anak berarti meningkatkan kualitas spiritual pada diri anak. Maka perlu pendidikan spiritual bagi anak agar kelak mereka menjadi insan mulia.

Tidak ada yang mengingkari bahwa kualitas manusia itu diukur dari kualitas jiwanya, moralnya atau akhlaknya, meski masih pula terdapat kelompok manusia yang lebih menghargai dimensi jasmaninya. Kesehatan jasmani manusia tumbuh bersama gizi yang dikonsumsi sebagaimana kesehatan jiwa juga tumbuh bersama konsumsi rohaniah. Dalam perjalanan hidupnya manusia selalu berjumpa dengan konflik yang berkesinambungan; konflik antara dorongan instink, syahwat dan hawa nafsu dengan nilai-nilai akumulatif akidah, konflik antara kejujuran dengan kebohongan, antara kebaikan dengan kejahatan, antara egoisme dengan mementingkan orang lain (itsar).

Akal dapat berfikir, membantu manusia memecahkan masalah (problem solving), dan untuk meningkatkan kualitas akal (intelektualnya) dapat diupayakan melalui pendidikan yang bersifat kognitip. Hati atau kalbu (qalb), meski karakternya tidak konsisten, tetapi ia dapat membantu manusia memahami peristiwa yang rumit. Lebih dari itu manusia masih memiliki hati nurani yang konsisten menyuarakan kebenaran dan kejujuran. Meski demikian, tetap saja ada (bahkan kebanyakan) manusia yang bodoh, tidak berperasaan dan nuraninya mati.

Dulu orang mengedepankan kecerdasan intelektual sebagai kunci kesuksesan. Belakangan orang menganggap peran kecerdasan intelektual (IQ) itu hanya 20 %, selebihnya oleh kecerdasan emosional (EQ). Terakhir orang lebih menengok kecerdasan Spiritual (SQ) sebagai penentu yang dominan. Ketika bangsa Indonesia terpuruk pada krisis yang memalukan seperti sekarang ini, orang menyalahkan sistem pendidikan nasional sebagai penyebab, yakni pendidikan yang terlalu mengedepankan aspek kognitif, mengabaikan aspek afektif. Jika krisis ekonomi dapat diperbaiki dalam waktu singkat, tidak demikian dengan krisis moral, apalagi jika krisis itu sudah mencapai keruntuhan moral bangsa. Mendidik moral manusia membutuhkan waktu yang panjang, konsistensi, konprehensif dan berkesinambungan. Masyarakat Indonesia dewasa ini sudah sangat mendesak kebutuhannya pada pendidikan spiritual.

Pendidikan adalah satu proses yang bertujuan membentuk pola perilaku; misalnya pendidikan kemiliteran, pendidikan kewiraswastaan, pendidikan agama. Proses itu biasanya membutuhkan peran seorang pendidik, tetapi manusia juga bisa mendidik diri sendiri setelah berjumpa dengan pengalaman yang mendidik.

Oleh karena itu pendidikan spiritual lebih menekankan pada pemberian kesempatan agar anak mengalami sendiri suatu pengalaman spiritual. Jika bercermin kepada perilaku Nabi Muhammad, maka nampaknya lembaga pendidikan spiritual yang dialami oleh Muhammad bertafakkur, mengasah nurani, menajamkan hati, dan mengelola emosi serta mengendalikan nafsu.

Dalam perspektif Islam, Pendidikan spiritual adalah proses tranformasi sistem nilai Qur’ani ke dalam potensi kejiwaan pada anak melalui perjuangan dan pelatihan jiwa (mujahadah) agar setiap kali merespon stimulus dalam kehidupan, jiwanya tunduk kepada nilai-nilai tersebut dengan tenang, senang dan yakin. Wujud mujahadah itu adalah zikir, puasa sunnat, sholat dhuha.

Maka anak yang telah memiliki kecerdasan spiritual disebut sebagai ‘arif atau min al ‘arifin, secara sosiologis sering disebut sebagai yang arif bijaksana. Ma‘rifat tidak menetap, melainkan sesaat-sesaat (sa‘atan sa‘atan), seperti disebut dalam hadis riwayat Hanzalah, tetapi pengaruhnya menghunjam dalam kejiwaan pada anak, mempengaruhi persepsi dan mewarnai perilaku. Kelak anak menjadi insan mulia. Insya Alloh.

Makna Shalawat

Sehabis membaca dua kalimah syahadat, chatib pasti membaca shalawat kepada Nabi, Allohumma shali `ala sayyidina Muhammad………dst. Shalat dan shalawat terjemahan harfiahnya sebenarnya sama yaitu doa, tetapi shalat dalam arti ritual ibadah (shalat maghrib misalnya) adalah ritual ibadah yang terdiri dari gerak, bacaan dan doa. Sedangkan shalawat Nabi adalah doa yang secara khusus diperuntukkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan keluarganya.

Mengapa Nabi Muhammad yang sudah dibebaskan dari dosa (ma`shum) masih harus didoakan segala oleh kita, bukankah itu sudah tidak perlu ? Konsep shalawat adalah konsep syafa`at. Dalam teologi Islam dikatakan bahwa Nabi Muhammad memiliki “otoritas” syafa`at, yakni perlindungan kepada ummatnya kelak nanti di hari kiamat, ketika tidak ada lagi yang bisa memberikan perlindungan.

Orang yang berpeluang memperoleh syafa’at Nabi adalah orang yang mencintainya. Wujud dari cinta Rasul dibuktikan dengan membaca salawat itu. Nabi sendiri secara konsepsional sudah tidak memerlukan doa dari ummatnya, jadi shalawat itu bukan untuk kepentingan Nabi, tetapi kepentingan kita. Jika Nabi diibaratkan sebuah gelas, ia sudah penuh dengan air putih bersih, nah orang yang membaca shalawat Nabi ibarat menambahkan air ke dalam gelas yang sudah penuh itu dengan harapan memperoleh luberannya, yakni luberan syafa`atnya. Jangankan kita manusia, menurut al Qur’an, Allah dan malaikatpun membaca salawat kepada Nabi sehingga orang beriman juga diperintahkan untuk bersalawat dan salam kepadanya; Innalloha wa mala’ikatahu yushalluna `alan nabiy, ya ayyuhalladzina amanu shallu `alaihi wa sallimu taslima (Q/33:56).

Pembacaan shalawat Nabi sebagai ekpressi cinta kepada Rasul kemudian melahirkan kreatifitas seni. Bukan saja dalam teks-teks doa shalawat dibaca, tetapi juga dalam nasyid, dalam syair, dalam lagu. Dalam teks doa, banyak sekali format salawat dibuat, misalnya ada shalawat Nariyah, shalawat tunjina, shalawat anti kezaliman. Dalam seni ada sebuah karya epik sejarah Nabi , terkenal dengan Barzanji atau orang Betawi menyebutnya Rawi. Di dalam kitab Barzanzi, riwayat Nabi dikisahkan dalam kalimat yang sangat indah, enak dibaca dan enak di dengar. Demikian juga kasidah Barzanji yang berisi shalawat dan pujian kepada Nabi disusun dalam karya seni yang sangat tinggi kualitasnya. Buku kasidah Barzanji atau Rawi adalah karya seni yang terbanyak pembacanya dan karya seni yang tidak pernah basi hingga hari ini, hingga pada segmen masyarakat tertentu, kitab Barzanji bagaikan kitab suci kedua... Barzanji dibaca oleh bangsa-bangsa muslim di Asia dan Afrika, ritmenya bisa didendangkan dengan berbagai lagu. Mari bersalawat dan bersalam kepada Nabi ;

Ya Nabi salam `alaika –ya Rasul salam `alaika –
ya habib salam `alaika—shalawaatulllah `alaikaaaaaa……….

hayo…barengg…..

Sunday, March 01, 2009

Fadhillah Membaca Surat Yasin

Sore itu sepulang kantor ada seorang teman yang sudah menunggu. Teman itu bersama suaminya. Pernikahannya sudah berlangsung satu bulan yang lalu. "Assalamu'alaikum Mas Agus.." katanya sambil memperkenalkan suaminya. "Wa'alaikum salam..mbak.." saya berbincang bersama istri, Hana dan Icha. Keluarga baru nampak bahagia. Dia menceritakan bagaimana proses perkenalannya. Rasa haru dan bahagia turut menyelimuti hati saya.

Saya teringat awal pertama kali teman itu bertanya bagaimana untuk mendekatkan pada jodohnya. Saya katakan jodoh kita adalah watak dan perbuatannya sama seperti diri kita. Jika kita menginginkan pasangan hidup yang baik dan sholeh/sholehah maka kita punya kewajiban meningkatkan kualitas ibadah dan ketaqwaan kita. Tingkatkan kualitas yang sudah menjadi kewajiban kita seperti sholat fardhu, tidak lupa ibadah sunah juga dijalankan. Juga membaca surat Yasin jika sehabis sholat maghrib sambil menunggu waktu tiba Isya.

"Mas Agus dan anak-anak pengajiannya juga mohon bantu saya ya.."katanya. Akhirnya saya menyanggupinya. Pada malam harinya kami bersama-sama anak-anak pengajian Amalia membantu berdoa untuknya agar didekatkan pada jodohnya. Tiga bulan kemudian saya mendapatkan kabar bahwa dirinya sedang ta'aruf dengan seorang ikhwan. enam bulan berikutnya undangan pernikahan sudah sampai dirumah kami.

Sore itu pertemuan kami menjadi terasa bermakna. keluarga baru begitu indah, dunia bagaikan milik berdua, yang lainnya seolah dianggapnya numpang aja. Sampai akhirnya mereka berpamitan dan mengatakan, "Alhamdulillah mas agus, fadhillah surat yasin telah mempertemukan kami berdua semata karena Alloh SWT dan setiap kami berdua ada waktu kami selalu membacanya agar Alloh SWT senantiasa menunjukkan kami ke jalan yang benar."

----
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS Al Baqarah 2:186).

Pendidikan Anak Insan Mulia

Pendidikan anak untuk menjadi Insan Mulia tentunya didasarkan pada Akhlak. Akhlak adalah keadaan batin seseorang yang menjadi sumber lahirnya perbuatan dimana perbuatan itu lahir dengan mudah tanpa memikirkan untung rugi. Orang yang berakhlak baik, melakukan kebaikan secara spontan tanpa pamrih apapun, demikian juga orang yang berakhlak buruk, melakukan keburukan secara spontan tanpa mempertimbangkan akibat bagi dirinya maupun bagi yang dijahati. Manusia tidak ada yang secara tiba-tiba menjadi orang bijak atau tiba­tiba menjadi penjahat besar. Untuk menjadi orang bijak atau menjadi penjahat besar manusia butuh proses yang mengantarnya pada keadaan itu.

Proses itu bisa berwujud dinamika kehidupan, bisa keadaan yang menakjubkan, yang mengecewakan atau yang dirancang untuk membentuk pola-pola perilaku tertentu. Jadi secara teori, manusia bisa dibentuk untuk menjadi orang baik sebagaimana juga bisa dibentuk untuk menjadi orang jahat. Karena akhlak adalah keadaan batin, maka pendidikan akhlak obyeknya adalah batin seseorang. Meski demikian bukan berarti menafikan yang lahir, karena antara lahir dan batin ada hubungan saling mempengaruhi. Orang yang hatinya baik, pada umumnya perilaku lahirnya (sopan santunnya) baik, tetapi tidak semua orang yang memiliki sopan, santun akhlaknya baik.

Penanaman disiplin atau pembiasaan pola tingkah laku lahir yang baik (sopan santun), pada orang tertentu dapat menjadi proses pembentukan akhlak yang baik, tapi pada orang lain bisa juga menumbuhkan sifat munafik (pura-pura baik). Demikian juga pembiasaan pola tingkah laku buruk, pada seseorang bisa menjadikannya orang jahat, tetapi pada orang lain mungkin malah akan melahirkan sikap resistensi secara ektrim kepada keburukan. Hal itu disebabkan karena setiap orang sebenarnya memiliki "modal" kepribadian atau kapasitas yang berbeda- beda, ada yang kuat dorongan kebaikannya dan ada yang sebaliknya.

Anak yang kuat dorongan pada kebaikan inilah yang menjadikan anak menjadi Insan Mulia. Anak-anak Insan mulia berarti berakhlak mulia yang condong pada kebaikan dan kemuliaan hidup sebagaimana yang diteladankan oleh Nabi Muhamad SAW dengan sifat-sifatnya siddiq (jujur), tabligh (menyampaikan yang benar), amanah (dapat dipercaya), fathonah (cerdas).

Harta Kita Sebenarnya

Setelah kami selesai mengajar mengaji. saya dan istri berdiskusi banyak hal. Malam itu saya ditanya, "Harta apa yang sesungguhnya kita cari didalam hidup ini?" Sejenak lama berpikir.

Akhirnya saya menjawabnya juga. "Ya uang yang banyak buat masa depan Hana. Biar punya rumah sendiri. Biar punya kendaraan sendiri"

"Salah Mas.."Katanya istri saya.

"Trus apa dong?" Tanya saya.

"Harta yang kita cari sebenarnya adalah hati yang tenang." Begitu
jawab istri saya.

Jawabn itu Membuat saya sejenak terdiam. Kata-katanya menyentuh. Bagaimana tidak, harta yang berlimpah namun hati senantiasa diliputi dengan kecemasan, was-was, kegelisahan, tidur tak nyenyak, makan tak enak tentunya harta yang berlimpah menjadi tidak berguna. Namun jika hati tenang, tidur nyenyak, makanpun enak. bekerja juga menjadi giat. Harta yang dicari bisa terkumpul dengan baik. Malampun semakin larut. Hana tertidur pulas dengan mimpi indahnya. Ketenangan hati adalah harta yang sejati dalam hidup kita.

--
Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”, (Q.S Al Fajr [89]: 27)
AGUSSYAFII BLOG
2006
Proudly powered by : Blogger