Yuk, wujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah

Monday, May 31, 2010

Memaafkan Bukan Berarti Membiarkan

Memaafkan bukan berarti membiarkan melakukan kesalahan yang sama secara terus menerus karena bila ada orang melakukan kesalahan ada kecenderungan akan melakukan kesalahan itu lagi maka selain kelembutan diperlukan sikap tegas untuk mengingatkan agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

Contohnya seorang istri yang dipukul oleh suaminya kemudian memaafkan bukan berarti membiarkan dirinya dipukuli terus menerus setiap hari. 'Kok dipukulin diam saja?' 'Kan saya sudah memaafkan.' Tindakan seperti itu disebut sebagai tindakan konyol. Memaafkan hanya cukup dilakukan sekali. jika yang diulangi lagi patutlah ada sikap tegas bahwasanya tindakan yang dilakukan memiliki sebuah konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan oleh dirinya.

Dengan demikian hati agar tetap jernih, kesehatan dan kebugaran tubuh kita menjadi terjaga tidak membiarkan kebencian dan kemarahan terpendam di dalam diri kita. Memaafkan merupakan pembersih dari segala kekotoran di dalam hati kita, sebuah perpaduan antara kelembutan dan ketegasan.

Memaafkan bukan berarti membiarkan diri kita terus menerus disakiti adalah upaya menjaga harmoni, keseimbangan dan kesetaraan inilah yang menjadikan hidup kita penuh kebahagiaan dalam rangka saling menghormati dan saling menyayangi. Kesetaraanlah membuat hati kita lapang dan bersih dalam kemuliaan yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Sunday, May 30, 2010

Memaafkan Itu Menyehatkan

Pernah saya ditanya oleh seorang teman, 'kenapa aku kok susah memaafkan kepada orang yang justru aku cintai?' 'Dia telah menduakan cintaku..' Kemudian saya balik bertanya padanya, 'Kenapa tidak bisa memaafkan?' 'Sulit Mas..' jawabnya tertunduk.

Pada dasarnya memaafkan itu mudah dan menyehatkan. Selama kita tahu alasannya bila kita memaafkan membuat tubuh kita menjadi sehat dan bugar karena dapat mengurangi beban pikiran dan perasaan maka kita dengan mudah akan memaafkan. Jika anda termasuk orang yang suka memaafkan. Berbahagialah anda!

Terbayangkah oleh kita bila kita menyimpan daftar panjang kesalahan setiap orang, yang kita anggap berdosa? Apa lagi kesalahan dan dosa orang-orang yang kita cintai? Daftar panjang kesalahan orang lain kita biarkan menumpuk dalam hati tanpa kita sadari begitu banyak yang telah kita simpan sehingga hati kita dipenuhi dengan kebencian tanpa menyisakan ruang untuk menyimpan kebaikan dan kasih sayang yang senantiasa dipancarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala secara terus menerus ke dalam hati kita.

Pancaran sinar kebaikan dan kasih sayang yang diberikan oleh Allah tidak bisa masuk ke dalam hati kita karena hati kita tertutupi oleh kebencian dengan daftar panjang kesalahan dan dosa orang lain, hal itu membuat hidup kita senantiasa diliputi oleh rasa cemas, gelisah, mencurigai orang lain, menganggap dunia dipenuhi dengan kepalsuan, kebencian telah membakar seluruh tubuh kita dan menyebabkan tubuh kita menjadi sakit.

Disinilah sikap memberi maaf menjadi bermakna mulia, menjadikan hidup tanpa beban, tubuh menjadi terasa ringan. Hati kita menjadi lapang, bersih dan hati kita menerima pancarana kemuliaan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala itulah sebabnya bagi orang-orang yang memaafkan mampu membuat tubuhnya menjadi sehat dan bugar.

Pertanyaan berikutnya, lantas bagaimana dengan orang yang terus menerus berbuat kesalahan kepada kita? Pada dasarnya hati kita tidak boleh dipenuhi oleh dendam dan kebencian namun juga tidak menjadikan diri kita membiarkan orang tersebut kembali melakukan kesalahan hal yang sama secara terus menerus maka diperlukan sikap lembut sekaligus tegas agar tidak mengulangi kesalahannya lagi karena sikap ini diperlukan agar kita mampu menjaga hati tetap jernih dan tubuh kita tetap sehat serta bugar.

Friday, May 28, 2010

Hati Yang Diuji

Sore hari anak-anak Amalia bergembira. Kebahagiaan terlihat nampak diwajah mereka. Buku-buku dan majalah tergeletak dimana-mana. Anak-anak Amalia melahap berbagai buku bacaan anak-anak. Setelah itu mereka mendapatkan tugas untuk membuat rangkumannya. Disaat bersamaan, di Rumah Amalia kedatangan seorang Ibu.

Beliau bertutur betapa tidak mudahnya memaafkan sebuah kesalahan yang dilakukan oleh suaminya. Namun dengan memaafkan justru membuat kebahagiaan terasa indah bagi dirinya, suami dan anak-anaknya. Membuang benci dan kemarahan justru membuat dirinya merasa lega. Dirinya menyakini bahwa hidup tidak sempurna. suami juga bukan makhluk yang sempurna termasuk dirinya. Suami menyadari kesalahannya telah menduakan cintanya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Sekalipun sulit, dirinya rela memaafkan demi menjaga keutuhan rumah tangga menjadi sebuah prioritas utama dalam hidupnya.

Ditengah kebahagiaan itu hadir disaat di dalam keluarganya. Suaminya mengeluh ada yang tidak beres di dalam pencernaannya. ia merasa susah buang air. Kesehatan suaminya terganggu. Begitu pemeriksaan dokter selesai. Dokter memberitahukan suaminya menderita kanker usus. Diperkiraan hidupnya tinggal tiga bulan lagi. Ya Allah, cobaan apa yang Engkau berikan kepada keluarga kami? tuturnya.

Jantungnya berdetak keras. Dulu suami telah mengkhianatinya. Kini ketika dirinya sudah mampu memaafkan dan keluarganya kembali berkumpul, Allah memberikan ujian lagi dengan kenyataan bahwa suaminya menderita sakit yang tidak pernah disangkanya. Sementara itu suaminya dengan penuh berlinangan air mata mengatakan bahwa sakitnya untuk menghapus dosa-dosa yang telah dilakukan. 'Ikhlas saja Mah, ini semua untuk menghapus dosa-dosa yang pernah ayah lakukan terhadap mamah,' ucap suaminya. Mendengar ucapan sang suami, dirinya tak kuasa membendung air mata yang terus berlinang.

Disaat hatinya tengah galau itulah beliau hadir ke Rumah Amalia berniat shodaqoh untuk kesembuhan suaminya dan kebahagiaan rumah tangga yang telah lima belas tahun dijalaninya. Doa yang dipanjatkan anak-anak Amalia untuk memohon kesembuhan suami dan kebahagiaan rumah tangganya seiring usahanya memberikan harapan yang terindah. Lama berselang setelah pemeriksaan dokter, sang dokter terkaget-kaget, setengah percaya, setengah tidak. Penyakit yang diderita suaminya menjadi rontok. mengeluarkan gumpalan daging dalam jumlah banyak dari pembuangan suaminya.

Subhanallah, Setelah pemeriksaan terakhir itu dokternya menyatakan suaminya sembuh dari sakitnya kanker usus. Sejak itu suaminya sudah sehat dan bugar lagi dan bekerja seperti sediakala. 'Alhamdulillah Mas Agus Syafii, setelah peristiwa itu membuat kami sekeluarga lebih bersemangat menyisihkan rizki kami untuk bershodaqoh bagi anak-anak Amalia. Hanya kehendak Allah yang membuat suami saya sembuh dan keluarga kami rukun kembali.' tuturnya sore itu.

---
Obatilah orang yang sakit dengan shodaqoh, bentengilah harta kalian dengan zakat dan tolaklah bencana dengan berdoa (HR. Baihaqi).

Kata-Kata Indah

Seorang ibu muda bertutur bahwa dirinya menyukai sekuntum mawar yang indah dan memberikannya kepada teman-temannya, kerabat atau tetangga. Pada satu hari dirinya memetik sekuntum mawar yang terindah dikebunnya, sempat terpikir olehnya ingin memberikan kepada seorang temannya. Dia bergegas mengambil vas dan menulis pesan singkat 'Tersenyumlah!.'

Kemudian melintasi jalan untuk diberikannya kepada seorang teman baiknya dan meletakkannya di depan pintu rumahnya. Setelah senja tiba temannya itu menghubungi dirinya. Katanya, bunga itu hadiah yang telah menghiburnya dan suaminya. Malam itu teman dan suaminya bertengkar hebat. Bahkan pertengkaran itu membuat tidak saling menyapa diantara keduanya.

Paginya sebelum berangkat ke kantor sang suami menemukan vas bunga dan menyerahkan kepada istrinya, kata-kata di dalam secarik kertas yang berbunyi 'Tersenyumlah! membuat mereka berdua saling memandang dan tersenyum. Pertengkaran hebat semalam seolah telah terlupakan.

Rasakan kata-kata indah membuat tubuh kita menjadi sehat dan bugar. Jiwa kita seolah dirasuki kebahagiaan tiada tara. Jadi mulailah hari ini kita membiasakan dengan kata-kata indah dalam kehidupan sehari-hari yang membuat hidup kita dan keluarga kita menjadi bahagia. Kalau kata-kata indah membuat hidup kita bahagia, kenapa kita tidak lakukan sekarang juga?

Mari Kita Menangis

Ada satu kisah ketika Umar Bin Abdul Azis mendekati ajal, ia menangis. Lalu, ada orang yang bertanya kepadanya, Wahai Amirul Mukminin, bersyukurlah Allah telah memberikan engkau kemuliaan dan menjaminkan surga untukmu, kenapa engkau mesti menangis?'

Umar yang yang masih terus menangis mengatakan, ' aku menangis karena masih banyak orang yang menderita karena ketidakadilan, aku menangis karena orang-orang yang lapar ada dimana-mana ketika aku bersujud, aku menangis karena banyak orang yang hidup dalam kemiskinan dan kebodohan.' Bukankah aku akan berdiri di depan pengadilanNya lalu aku dimintai pertanggungjawaban tentang urusan makhlukNya? Demi Allah, aku tidak pernah yakin apakah yang pernah aku lakukan benar-benar sesuatu yang di ridhoi oleh Allah? Lalu bagaimana jika yang aku lakukan adalah perbuatan sia-sia?' Kemudian Umar Bin Abdul Azis berlinang air mata. Tidak lama kemudian akhirnya Umar meninggal dunia.

Itulah air mata seorang hamba Allah yang bernama Umar Bin Abdul Azis yang di dalam sejarah peradaban Islam telah menggoreskan tinta emas namun di dalam hidupnya penuh berlinangan air mata ketika melihat ketidakadilan, kemiskinan, kelaparan dan kebodohan karena semata-mata cintanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Sepatutnya kita menangis ditengah malam hari ini, betapa masih banyaknya saudara kita yang kelaparan disaat malam bersujud, marilah kita menangis betapa masih banyak saudara kita yang hidup dengan kemiskinan dan kebodohan. Mari kita menangis bersama-sama memohon kepada Allah agar keadilan dinegeri ini ditegakkan. Mari kita menangis dengan menumpahkan semua air mata yang kita miliki memohon kepada Allah agar tidak ada kesewenang-wenangan negara kepada rakyatnya dinegeri ini. Mari kita menangis bersama-sama dalam setiap sholat tahajud kita memohon kepada Allah agar negeri ini damai dan sentosa sehingga kemiskinan dan kebodohan tidak ada lagi membelenggu negeri yang kita cintai.

Mari kita menangis di dalam tahajud, untuk negeri yang kita cintai ini.

Mengenal Akhlak

Pada dasarnya menngenal akhlak mengenali keadaan batin seseorang, oleh karena itu marah belum tentu bermakna benci, menolak belum tentu bermakna tidak simpati, tidak mau memberi belum tentu bermakna tidak mencintai, membiarkan belum tentu bermakna tak peduli, meninggalkan belum tentu bermakna marah, diam belum tentu bermakna ngambek.. Di mata Allah Subhanahu Wa Ta'ala, nilai suatu perbuatan bukan pada perbuatan itu sendiri, tetapi pada apa yang ada di balik perbuatan itu, yakni niatnya, keikhlasannya, kesabarannya, ketabahannya dan hal-hal lain yang bersifat rohaniah.

Untuk menilai kualitas akhlak seseorang bisa dilakukan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

Pertama: Konsistensi antara yang dikatakan dengan yang dilakukan, satunya kata dengan perbuatan. Orang yang berakhlak baik jika berbicara maka ia menyadari betul apa yang dikatakan, menyadari betul apa implikasi dan konsekwensi dari apa yang dikatakan. Oleh karena itu keputusan yang diambil juga sejalan dengan apa yang telah dikatakan. Untuk mengetahui konsistensi seseorang tidak cukup hanya dengan melihat satu kasus, tetapi beberapa kasus dan dalam waktu yang lama, karena adakalanya seseorang dalam satu hal nampaknya tidak konsisten, tetapi setelah dianalisis dengan banyak hal yang dilakukan jauh sebelumnya ternyata itu merupakan konsistensi. Orang awam memandangnya sebagai inkonsistensi, tetapi orang 'arif justeru memandangnya sebagai konsistensi.

Kedua: Konsistensi orientasi, yakni antara pandangannya dalam satu hal dengan pandangannya dalam bidang lain. Seorang yang memiliki sikap pemihakan kepada orang lemah, maka sikapnya itu akan nampak ketika berurusan dengan segala bidang, ekonomi, hukum, sosial dan juga politik. Seorang humanis akan selalu mengorientasikan perhatiannya pada masalah humanisme yang berjangka jauh, berbeda dengan politisi yang sering mengukurnya dengan kepentingan politis jangka pendek.

Ketiga: Konsistensi pola hidup. Orang yang berakhlak baik pada umumnya pola hidupnya tidak mudah berubah. Jika ia menempuh pola hidup sederhana, maka baik ketika ia miskin maupun setelah menjadi kaya raya, pola hidupnya tetap hidup sederhana. Ketika ia menjadi pemimpin pun ia tetap bertingkah laku sederhana, mudah dihubungi, tetap santai dan tidak jaim didepan bawahannya.

Thursday, May 27, 2010

Kasih Sayang Terindah

Ada seorang teman yang bertutur tentang kasih sayang terindah di dalam hidupnya. Kasih sayang yang diperolehnya dari seorang ayah. Dalam penuturannya menceritakan, sepanjang hidupnya semasa pertumbuhan menjadi dewasa tidak pernah mendengar ayahnya mengucapkan 'aku sayang padamu.' Didalam sepanjang hidup semakin sulit bagi ayahnya untuk mengucapkan hal itu pada dirinya. konflik, pertengaran, kebencian dengan ayahnya terjadi berlangsung tidak sementar. Sampai dirinya lulus kuliah dan kemudian bekerja.

Pernah suatu ketika dirinya memberanikan untuk mengatakan pada ayahnya, 'Ayah, aku sangat sayang ama ayah.' Ayahnya hanya menjawab, iya, sama..ayah juga sayang ama kamu.'

Kemudian dengan tertawa lepas mengatakan kepada ayahnya. 'Ayah, sebenarnya aku tahu ayah sayang sama diriku dan aku tahu ayah juga akan mengatakan hal itu.' Ibu menatap kami berdua, ayah dan anak dengan mata yang aneh, 'tidak biasa kamu mengatakan itu ada ayah..'

Sampai pada suatu hari dirinya pergi keluar kota karena ada tugas di kantor, ayahnya mengakhiri percakapan dengan kata-kata, 'Nak, ayah menyayangimu..' Disaat dia mendengarkan kata-kata itu air matanya mengalir dengan derasnya. Itulah kasih sayang terindah yang pernah diberikan sang ayah pada dirinya. Dirinya dan ayahnya sama-sama menangis menyadari bahwa pertengkaran dan kebencian hanya ketidak mengertian bagaimana cara mencintai antara anak dan ayah. Mereke berdua menyadari bahwa sebenarnya saling mencintai.

Tidak lama kemudian setelah peristiwa itu ayah jatuh sakit karena sakit kanker yang dideritanya. Operasi yang dilakukannya hampir menghilangkan nyawanya. Dia menuturkan, 'Jika seandainya aku tidak mengatakan padanya, betapa aku sayang ama ayah, sampai ayah meninggal dunia, maka yang ada hanyalah kebencian diantara kami berdua.'

Wednesday, May 26, 2010

Pengabdian Seorang Suami

Ditengah ramai anak-anak Amalia sedang bertadarus. Suara indah melantunkan ayat suci al-Quran membawa kesejukan dihati. Kesejukan dihati itu hingga meresap di dalam jiwa. Sementara ada seorang bapak yang hadir di Rumah Amalia air matanya mengalir bertanda hatinya yang penuh kebahagiaan. Semua penderitaannya telah dilalui dengan tegarnya. Hatinya perih namun sudah terobati.

Dalam penuturan beliau, pernikahannya pernah menggores luka dihatinya. Disaat dirinya dan keluarga penuh kebahagiaan dengan lahirnya sang buah hati tiba-tiba dikejutkan oleh mertuanya agar menceraikan istrinya dengan alasan yang tidak pernah dimengertinya, dengan berat hati dirinya menceraikan istrinya. Tak kuasa pedih dan perih luka dihati dia rasakan dalam kesendirian dengan mengasuh sang buah hati.

Seiring dengan waktu beliau mengetahui bahwa istrinya masih mencintai dirinya dan sang buah hati. Sampai ayah mertuanya meninggal dunia. Atas restu dari ibu mertua mereka rujuk kembali. Kebahagiaan itu hadir tidaklah lama. Disaat kerinduan yang lama terpendam beliau harus menerima kenyataan yang pahit bahwa istrinya memiliki penyakit jantung keturunan dan harus mendorong dengan kursi roda.

Beliau mengatakan merasa bersyukur dengan apapun yang terjadi pada dirinya dan keluarganya. Ditengah semua kesulitan yang dihadapi sekalipun terasa perih dan pedih dihati ternyata membawa kebahagiaan bahwa hidup pada hakekatnya adalah sebuah pengabdian kepada Allah. Rasa cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala diwujud dengan pengabdian kepada istri dan sang buah hatinya.

'Istri saya terlihat menyerah Mas dan penuh keputusasaan bahkan telah kehilangan semangat hidup. Saya tak membiarkan hal itu terjadi. Saya selalu memberikan semangat hidup dan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan di setiap sholat saya selalu memohon kesembuhan untuk istri saya.' tuturnya.

Dalam kondisi ditengah himpitan persoalan. Justru karier menanjak dengan pesat. Beliau mendapatkan promosi jabatan yang lebih tinggi yang memaksanya harus tinggal diluar kota, berarti itu meninggal istri dan buah hatinya. Keadaan seperti itu beliau dihadapkan kepada pilihan yang teramat berat, promosi jabatan yang lebih tinggi atau mengabdi dalam keluarga. Ditengah pilihan hidup yang sulit akhirnya dengan penuh kesadaran beliau memilih pengabdian kepada keluarga. Menjaga dan merawat istri dan anaknya.

Berbagai ujian telah dilewati, semakin meneguhkan kesadarannya bahwa tidak ada kekuatan selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Selain berbagai peristiwa itu memang untuk menguji kesabarannya namun juga telah mengantarkan dirinya untuk mengabdi kepada istri dan sang buah hati dengan dilandasi cintanya kepada Allah semata. Subhanallah.

--
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal kebaikan. Sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baiknya pembalasan bagi orang-orang yang beramal, yaitu yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya.' (QS. al-Ankabuut : 58-59).

Kemenangan Sebuah Perjuangan

Di dalam setiap perjuangan yang paling penting adalah kemenangan. Kemenangan dalam perjuangan seorang mukmin yaitu mampu meringankan beban bagi sesamanya sehingga cara terbaik dalam membela agama adalah bekerja keras secara produktif dan kemampuan untuk saling berbagi.

Perjuangan atau yang kita mengenal dengan istilah jihad fi sabilillah, berjuang dijalan Allah merupakan kewajiban kita seorang mukmin, menuntun kita agar giat bekerja dan bersemangat tinggi, berkarya dibidangnya masing-masing. Nabi senantiasa mengingatkan kepada kita bahwa Allah mencintai seorang mukmin yang giat bekerja.

'Sesungguhnya Allah mencintai seorang mukmin yang giat bekerja.'(HR. Thabrani).

Bila tiap diri kita mampu bekerja dan produktif maka hasilnya akan bisa dinikmati oleh banyak orang termasuk keluarga kita, orang-orang disekeliling kita dan umat. Upaya pemerataan kesejahteraan terhadap umat inilah yang harus diperjuangkan karena apa yang kita kerjakan mampu meringankan beban hidup semua pihak. Kemampuan untuk bekerja secara produktif dan kemampuan untuk saling berbagi itulah kemenangan sebuah perjuangan atau kemenangan jihad.

Makna Kebahagiaan

Ketika malam Hana dan Hisyam, anak-anak kami tertidur lelap. Ibunya selalu memandangi wajahnya. Malam itu istri saya mengatakan, "Mas, Kalo melihat Hana sedang tertidur lelap begini rasanya saya bahagia.." mendengar kata-kata istri saya, saya bisa membayangkan kebahagiaan seorang ibu yang setiap hari menjaga dan merawat Hana dan Hisyam dengan setulus hatinya, tentunya semua hal yang dilakukan seorang ibu mengasuh dan merawat anaknya memiliki makna kebahagiaan.

Ada dua ungkapan, senang dan bahagia. Senang adalah terpenuhinya tuntutan syahwat, misalnya sedang lapar menemukan makanan lezat, sedang haus menemukan minuman segar, sedang sulit menemukan kemudahan, sedang kesepian ketemu teman atau kekasih, sedang nganggur dapat pekerjaan. Adapun bahagia berhubungan dengan misteri yang sangat subyektif tetapi intinya adalah datangnya pertolongan ilahiyah hingga memperoleh sesuatu yang dianggap sebagai kebaikan ilahiyah (al khoir).

Seperti Rasa bahagia terasa ketika anaknya lahir laki-laki setelah sekian lama mendambakan ingin mempunyai anak lelaki. Keberhasilan memeliliki anak-lelaki tidak diklaim sebagaiprestasinya – "ini karena aku bisa bikinnya" kata sang ayah tetapi orang yang mempunyai anak lelaki setelah hampir putus asa mendambakan kehadirannya merasa bahwa kehadiran anak lelaki itu merupakan anugerah Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang tak ternilai.

Kebahagiaan juga terasa ketika seorang ibu yang membesarkan anak gadisnya tanpa kehadiran suami sehingga ia dalam keadaan berat selalu berharap agar anaknya memiliki masa depan yang baik. Pada saatnya anak gadisnya dipersunting oleh seorang pemuda saleh yang cerah masa depannya. Masa depan cerah anak gadisnya itu tidak diklaim sebagai prestasinya tetapi benar-benar dipandang sebagai anugerah Allah. Itulah makna kebahagiaan.

Tuesday, May 25, 2010

Musibah Sebagai Jembatan Kemuliaan

Ditengah kebahagiaan hadir. Tiba-tiba musibah datang memporakporandakan semua. Musibah menjadi terasa teramat berat karena kita sedang berbahagia. Biasanya ditengah kebahagiaan seperti itu kita lengah. Jika ada hal yang buruk kita benar-benar terhenyak dibuatnya. Sama sekali tidak kita sangka.

Kebahagiaan mampu membuat diri kita mabuk kepayang. Kita tidak dalam keadaan sadar dan mawas diri dengan keadaan sekeliling kita karena kita merasakan kenikmatan yang tiada tara sehingga begitu tertimpa kepedihan membuat tubuh kita seolah terguncang hebat. Tanpa kita sadari terucap oleh kita.

'Ya Allah, kenapa ini terjadi pada diri ku? Aku tidak lalai, tapi aku tidak siap. Aku tidak melupakan diriMu, tetapi aku sedang berbahagia.'

Sabar menerima musibah membuat tubuh kita menjadi ringan dari penderitaan bahkan mampu menghapus dosa-dosa kita. Setiap diri kita senantiasa memiliki potensi untuk datangnya musibah dan musibah yang datang akan disesuaikan dengan kadar kemampuan kita dalam menerimanya karena Allah sangatlah memahami seberapa kekuatan kita dalam menerima setiap musibah sehingga Allah tidak akan memberikan musibah diluar kesanggupan kita. Cuman seringkali kita tidak peka dan segera mencari akar musibah sehingga kita menyelesaikan musibah atas petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Musibah hadir di dalam kehidupan kita sebagai proses menyucikan kita dari segala kotoran yang melekat dalam jiwa kita sehingga dosa dan segala kotoran jiwa kita dibersihkan dengan kekuatan daya pembersihannya. Bahkan sebagian kalangan ulama mereka terkadang memohon kepada Allah agar diberikan musibah dan penderitaan sebagai wujud pembersihan diri atau yang disebut dengan 'Tazkiyatun Nafs.' sebab baginya musibah adalah jembatan menuju kemuliaan dalam hidup ini.

Bila kita memahami bahwa musibah sebagai jembatan menuju kemuliaan di dalam kehidupan kita maka sudah sepatutnya kita mampu menyambut disetiap musibah dengan lapang dada dan rasa optimis di dalam hidup ini bahwa Allah memuliaan hidup kita dengan berbagai cara yang indah, terkadang sekalipun kita merasakan hal itu menyakitkan dan membuat hati terasa pedih.

---
Dan Sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengucapkan 'inna lillaahi wa inna ilaihi raajiuun' (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami akan kembali). Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. (al-Baqarah : 155 : 157).

* Tulisan ini materi on air pada acara 'Power of Peace' di Radio Bahana 101.8 FM Jakarta Jam 6 s.d 7 Rabu Malam ini.

Indahnya Sakit

Malam seolah berlalu bersama tenggelamnya matahari. Angin berhembus terasa dingin sekali. Malam itu anak-anak Amalia terilhat sibuk membuat 'MADING.' (Majalah Dinding). Wajah mereka terlihat gembira. Kegembiraan diwajah mereka terdengar suara riuh bertanda hadirnya kebahagaiaan. Lantunan shalawat nabi oleh Eko terdengar sahdu.

Malam itu di Rumah Amalia kedatangan seorang tamu. Beliau seorang Wirausaha yang sukses. Beliau sangat peduli dengan kesejahteraan karyawannya, semua karyawan mengorhormatinya namun disisi lain dirinya adalah orang yang jauh dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sampai datanglah 'sentilan' Allah untuknya. Tiba-tiba tubuhnya limbung dan jatuh sakit. Harta yang dimilikinya menjadi tidak berarti dokter sudah angkat tangan, pertanda menyerah. Sebuah keajaiban itu hadir justru dengan doa dan ibadah, dirinya menjadi sembuh.

Setelah hampir lima bulan sakit, kemudian berobat ke Singapura bahkan ke Australia sakitnya para dokter tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya terasa lemas dan tidak berdaya. Pernah sampai pada suatu malam salahsatu putranya mengatakan karena ayah jauh dari Allah sakitnya jadi tambah parah. Ucapan itu membuat hatinya bagai 'tersentil' dan merenungkan, barangkali apa yang diucapkan putranya memang benar. Sampai kemudian beliau memutuskan untuk menjalankan sholat lima waktu dengan tertib ditengah sakitnya.

Malam hari disaat menunaikan sholat tahajud, beliau menangis tersedu-sedu ingat akan dosa-dosa yang telah lalu sangat jauh dari Allah. Kehidupannya semakin sukses justru membuat dirinya lupa akan bersyukur atas Karunia Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Air mata itu bagaikan merobek-robek hatinya yang mengalirkan semua dosa-dosanya dimasa lalu. Tak kuasa menahan semua derita dari akibat kesalahan yang pernah beliau lakukan.

Setiap menjalankan sholat lima waktu dan sholat tahajud tanpa terasa sudah sampai beberapa bulan. Keajaiban itu hadir tanpa disadarinya, tubuhnya mulai bisa digerakkan, tangan bisa diangkat untuk bertakbir. Tubuhnya untuk sujud sudah tidak lagi merasa sakit lagi. Dokter yang mengobatinya mengira sakitnya sudah tidak bisa disembuhkan. Anak-anak dan istrinya bahkan sampai syukuran di Rumah Amalia atas kesembuhan beliau.

Malam itu beliau mengatakan kepada saya, 'Sakit itu indah. karena sakit berasal dari Allah dan sembuh juga berasal dari Allah dan saya ikhlas menerima sakit karena selama ini jauh dariNya, satu-satu harapan kesembuhan, saya memohon kepada Allah.' Tutur beliau malam itu. Air matanya mengalir dengan penuh haru. Bersyukur kepada Allah atas kesembuhannya. Itulah Indahnya sakit bagi beliau. Subhanallah.

----
'Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu pedoman dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosamu (QS. al-Anfal : 29).

Membalas Keburukan Dengan Kebaikan

Malam itu sehabis sholat maghrib dimasjid ramai dibicarakan, ada seseorang mantan napi yang menyelamatkan pelajar dari keroyokan para preman. Padahal mantan napi itu tahu kalo pelajar itu anak seorang polisi yang dulu pernah menangkapnya dan memfitnahnya.

Banyak orang yang mengatakan bahwa perbuatan terpuji itu patut diteladani. Salah seorang teman berkomentar kalo perbuatan itu sekedar mencari sensasi belaka untuk mencari popularitas karena pelaku kebaikan itu mantan napi.

"Tentu saja saya tidak setuju dengan komentarmu itu." Jawab sesepuh masjid.
padanya. "Sebab jika saja dirimu memiliki setan, sebesar setan yang dimilikinya. Dirimu akan merasakan bahwa perbuatan itu sangat luar biasa sulit. Tidak mudah melakukan perbuatan kebaikan kepada orang yang pernah mencelakakan dirinya seperti yang dilakukan mantan napi itu." lanjut sesepuh masjid.

Cerita diatas dapat dipetik bahwa membalas perbuatan buruk dengan kebaikan tidaklah mudah. Apalagi sampai pernah dipenjara karena difitnah oleh orang lain. hanya orang-orang yang mampu memaafkan dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang mampu membalas keburukan dengan kebaikan seperti yang dilakukan oleh mantan napi tersebut.

---
"Dan orang-orang yang menahan kemarahannya dan memaafkan kesalahan orang. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS.Ali Imron:134).

Monday, May 24, 2010

Jiwa Yang Sehat

Sebuah pohon yang memiliki akar dan batang yang sehat, pada suatu hari terserang badai, buahnya berjatuhan, daunnya berguguran, rantingnya patah, udara dingin menyengat daunnya berguguran, burung-burung memakan buah-buahan yang tersisa. Banyak orang mengatakan 'sungguh malang pohon itu.' namun semua itu tidaklah membuat pohon itu sendiri bersedih karena pohon itu dalam keadaan sehat maka dalam waktu singkat, pohon itu berdaun kembali, berbunga dan berbuah.

Pada dasarnya kita tak ubahnya seperti pohon itu. Jika jiwa kita sehat maka berdaun lebat, berbunga dan berbuah, menjadi tempat berlindung orang-orang yang tersengat panasnya matahari. Bahkan kita juga bisa seperti pohon yang dilempar batu orang yang lewat, pohon itu membalas dengan buahnya yang manis. Itulah pertanda jiwa yang sehat pada diri kita.

Bertahun-tahun kita bersusah payah dan sedikit demi sedikit mengumpulkan jerih payah namun terjadi peristiwa yang tak terduga seluruh jerih payah dan keringat menjadi sirna. Kefakiran telah menjadikan diri kita tidak berdaun dan tidak berbunga. Peristiwa kehilangan kekayaan, terbakarnya harta benda, dan banyak sekali peristiwa pahit walaupun mendatangkan kekecewan dalam hidup kita bagi jiwa yang sehat dan penuh dengan pengharapan tidak akan mendatangkan kesedihan yang berkepanjangan.

Musibah benar-benar terjadi tatkala merusak akar pohon. Jika itu yang terjadi maka melindungi tangkai buah dan daun tidaklah berguna. Demikian juga kita, jika jiwa yang sakit dilanda perasaan apatis, hidup sudah tidak berguna lagi, mudah menyerah, berprasangka buruk, merasa tidak memiliki teman sebagai tempat curhat, mencurigai siapapun, merasa sunyi ditengah keramaian, dilanda kegelisahan terus menerus. bila kita menjadi orang yang seperti ini kita tidak akan bisa memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Di dalam al-Quran menjelaskan bahwa kerugian yang sebenarnya adalah ketika kita kehilangan dimensi spiritual di dalam diri kita. Kehilangan harta, kita masih bisa cari. Namun bila kita kehilangan harapan dalam hidup maka sungguh sangat memprihatinkan. Terlebih lagi kehilangan keimanan maka itu menjadi bencana bagi kehidupan seseorang sebab iman adalah sumber pengharapan.

Keimanan menciptakan percaya diri, tawakal, dan optimisme dalam diri kita. Seseorang yang beriman menyikapi hidup penuh dengan harapan, setiap dalam sholatnya senantiasa berucap 'Hanya kepadaMu, Ya Allah kami menyembah dan hanya kepadaMu, Ya Allah kami memohon pertolongan.' Ketika seorang mukmin mengalami peristiwa yang menyakitkan sekalipun maka tidak membuatnya menjadi bersedih hati karena mampu bersabar dan mengatakan 'Ya Allah, kepadaMu kami berserah dan kepadaMu kami kembali.' Itulah yang disebut dengan jiwa yang sehat.

---
'Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.' (at-Thalaq: 2-3).

Sunday, May 23, 2010

Hati Yang Menderita

Malam terdengar sayu-sayu suara anak-anak Amalia sedang melantunkan ayat suci al-Quran. Suara itu menenteramkan hati ditengah penderitaan kehidupan. Hujan rintik membasahi bumi. Seorang Ibu duduk termenung menatap air yang menetes diatap Rumah Amalia. Beliau bertutur kepada saya.

Dua belas tahun mengarungi rumah tangga dirinya mengkayuh dengan susah payahnya. Bangunan rumah tangga diatas pondasi kasih sayang yang rapuh. Pernikahannya penuh dengan pertanyaan yang tiada akhir benarkah dirinya adalah belahan jiwa dari suami yang dicintainya?

Awalnya dirinya sangat mencintai seorang laki-laki namun laki-laki itu jatuh cinta justru kepada perempuan lain yang dikenal sebagai teman baiknya sewaktu SMA. Ditengah kegagalan membuat hidupnya menjadi resah dan galau. Kegalauannya menyebabkan dirinya bagai tenggelam diarus sungai yang deras. Siapapun yang bisa digapainya menjadi tambatan hatinya. Sampai berganti-ganti pasangan. Ditengah usia yang semakin tua tanpa ada pilihan lainnya yang memaksa dirinya untuk menikah dengan laki-laki yang datang melamarnya. Pernikahanpun dilaksanakan dengan meriah. Kebahagiaanpu hadir.

Ditengah kehidupan dengan mengalirnya waktu, materi dan karier telah mengubah seorang laki-laki. Semenjak bekerja dengan kariernya yang menanjak bagus. Kehidupan rumah tangganya mendadak berubah. Segala bentuk keresahan yang setiap dirasakan betapa ganasnya kota Jakarta menjadi sirna. Segalanya menjadi mudah. Dari menempati rumah kontrakan yang bocor, sering tergenang banjir. Disaat itulah hatinya menjadi sakit dan penuh penderitaan ketika mendapatkan perempuan lain dengan mudah hadir didalam hati suaminya. Justru ketika rumahnya sudah tidak lagi bocor dan tergenang banjir. Rumah besar dan nyaman dibilangan elit di kota jakarta.

Suaminya mengakui semua perbuatannya dan mengaku bahwa hal itu semata-mata khilaf namun luka dihatinya telah membuat hidupnya menjadi menderita. Ditengah penderitaannya ada sebuah kesadaran bahwa apa yang telah terjadi dalam hidupnya seolah membukakan mata hatinya betapa lemahnya manusia dihadapan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

'Betapa tidak berdaya kita dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala ya Mas Agus..' ucapnya lirih. 'Disaat saya begitu bangganya kepada suami seolah Allah menyentil saya agar mencintai Allah dengan sepenuh hati. Cinta suami adalah cinta yang ilusi sedangkan cinta kepada Allah adalah cinta yang hakiki.' lanjutnya, air mata itu bagai bendungan yang sudah tidak mampu ditahannya. Mengalir dengan derasnya. Semuanya terhenti disaat anak-anak Amalia sedang berdoa.

Ditengah doa anak-anak Amalia telah menenteramkan hatinya dan telah menyembuhkan luka dihatinya. Nampak wajahnya terurai di hiasi senyuman. Ada sebuah kelegaan, ada sebuah kedamaian dihatinya. Tanpa terasa terucap puji syukur kehadirat Allah atas semua anugerahNya dan disaat itulah keikhlasan menerima apapun kesalahan suami mencair di dalam hatinya. Subhanallah.

--
Dan mengapa mereka tidak berpikir tenteng kejadian diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apapun yang diantara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan Sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya (QS. ar-Ruum ; 8).

Fadhilah Istighfar

Pernah suatu ketika Imam Hasan al-Basri didatangi oleh tamu. Tamu pertama, menyampaikan perihal kekeringan, Tamu kedua, perihal hutang, tamu ketiga, perihal keturunan. Imam Hasan al-Basri menjawab semua keluhan ketiga tamunya dengan membacakan satu ayat di dalam al-Quran.

'Mohon ampunlah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebatnya, melimpahkan harta dan anaka-anak bagimu, serta mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu. (QS. an-Nuh: 10-12).

Paling tidak ada empat fadhilah Istighfar yang terkandung di dalam tiga ayat di dalam surat Nuh. Mari kita kita perhatikan fadhilah istighfar berikut dibawah ini.

Pertama, orang yang memiliki kebiasaan beristighfar tidak akan mengalami kekeringan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan selalu melimpahkan air hujan tanpa harus menjadi banjir atau mencana bagi orang tersebut.

Kedua, orang yang memiliki kebiasaan istighfar, Allah akan senantiasa mengucurkan rizki dan menghindarkan diri kita dari lilitan hutang sehingga harta yang kita miliki menjadi membawa berkah bagi diri kita dan keluarga kita maupun untuk orang-orang sekeliling kita.

Ketiga, orang yang memiliki kebiasaan istighfar, Allah akan memberikan momongan atau anak-anak yang sholeh dan berbakti kepada kedua orang tuanya sehingga di dalam keluarga memiliki ketenteraman dan kebahagiaan selalu.

Keempat, orang yang memiliki kebiasaan istighfar, Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan memberikan kita tempat usaha yang diberkahi dengan digambarkan dengan memberikan kebun dan sungai-sungai dengan pemandangan yang indah.

Dari keempat fadhilah istighfar diatas bahwa beristighfar adalah kemampuan kita untuk melakukan instropeksi diri atau yang disebut dengan 'Muhasabah' maka kita mengetahui penyebab akar masalah sekaligus kita menemukan solusi dari masalah itu sendiri. Itulah makna fadhillah istighfar.

Menyiksa Diri

Pada suatu hari di Rumaha Amalia, saya bertemu dengan seorang laki-laki muda. Dia bertutur, Katanya orang yang berbuat baik akan dibalas kebaikan? Kenapa setiap aku berbuat baik, aku selalu dikhianiati? Setiap kali aku berbuat baik untuk teman, kenapa dibalas dengan keburukan? Kenapa aku berbuat begitu? Kenapa orang-orang disekelilingku selalu menyakitkan hati? Bodoh sekali aku! ucapnya setengah berteriak.

Itulah kata-kata yang terlontar seorang pemuda ketika ditimpa kemalangan dan kesedihan. Semua yang terjadi dianggapnya karena kebodohan dirinya dan tidak mengantisipasinya. Tidak mempersiapkan diri dengan baik. Bila kita menyadari bahwa hidup ini sempurna, menganggap teman, pasangan hidup atau orang disekelilingnya orang yang tidak akan mengecewakan hatinya dan dianggapnya tidak akan pernah berbuat kesalahan kemudian bertemu dengan sebuah realitas bahwa teman, pasangan hidup atau orang yang disekelilingnya berbuat kesalahan dan mengecewakan hatinya, disaat itulah dirinya menjadi terhenyak.

Kemudian mencarilah kelemahannya, mulailah dirinya menyalahkan kebodohannya sebenarnya belum tentu hal itu menjadi sebab utama kemalangan dirinya. Bila kita menjadi orang yang seperti maka kita akan mengganggap diri kitalah sumber dari penderitaan yang terjadi pada diri kita. Jika menemukan ketidaksempurnaan pada pasangan hidup atau teman melakukan keburukan terhadap diri kita maka kita merasa bahwa kitalah penyebab dari semua masalah itu karena kita menganggap kita berbuat sesuatu yang tidak benar. Ujungnya kemudian menyiksa diri, duduk termenung dan menghukum dengan memaki-maki diri sendiri setelah itu ada kelegaan bila sudah menyiksa diri dalam kemarahan.

Terbayangkah oleh kita, menyiksa bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Entah sebenarnya kita salah atau mungkin juga kita benar. Tindakan menyiksa diri bukanlah sebuah solusi, malah membuat kita semakin menderita dan sakit. Apakah anda menghendaki menderita dan sakit seumur hidup anda? Apakah anda akan menghukum diri anda selamanya sampai akhir hayat anda?

'Tentunya saja tidak Mas Agus Syafii!' Jawabnya dengan lantang. Makanya jangan menyiksa diri. Untuk apa kita menyakiti diri sendiri. Bila anda tidak menyayangi diri sendiri, jangan berharap orang lain menyayangi anda.

Bila memang merasa telah melakukan kesalahan. Kita sebagai manusia memang tidaklah sempurna dan kita juga memandang bahwa orang lain juga tidak sempurna. Mohon ampunlah kepada Allah, kemudian minta maaflah bila telah menyakiti diri sendiri atau bila kita telah menyakiti orang lain. Yakinlah sesungguhnya kita telah berusaha sebaik mungkin namun hasilnya tidaklah seperti yang kita harapkan.

'Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosanya mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.' (QS. ali-Imran : 135).

Berilah ruang pada diri sendiri, setiap selesai sholat luangkan waktu untuk refleksi diri dengan memperbanyak istighfar memohon ampun kepada Allah sekaligus meminta maaf pada diri sendiri maka tubuh kita menjadi ringan semua beban dihati bagai terangkat. Menjalani hidup membuat kita lebih mudah.

'Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan atau menganiaya diri sendiri kemudian memohon ampun kepada Allah nicaya ia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' (QS. an-Nisaa' :110).

Langit sore itu cerah. Wajahnya yang murung telah berlalu. Beberapa kali anak muda itu mengucap istighfar. Senyumnya mengembang seperti hatinya telah melepaskan beban yang begitu berat. Ucap puji syukur kehadirat Ilahi Robbi. 'Alhamdulillah, beban hati seolah menghilang Mas Agus, peristiwa ini menyadarkan hanya kepada Allahlah tempat bergantung dan memohon pertolongan bukan menyiksa diri sendiri,' ucapnya diperjumpaan terakhir kami. Subhanallah.

Saturday, May 22, 2010

Cinta Dan Kedamaian

Bila kita menyebarkan cinta untuk orang disekeliling kita maka kita akan merasa damai dimanapun kita berada karena dengan cinta kita mampu membebaskan diri dari kebencian. Kebencian membuat hidup kita menderita. Tidur tak nyenyak, makanpun tidak enak. Dimanapun kita berada kita cemas dan penuh ketakutan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan kita agar kita mencintaiNya. Cara mudah agar kita bisa mencintaiNya adalah dengan menyebarkan cinta untuk orang-orang disekeliling kita, lingkungan dan masyarakat. karena pada dasarnya alam semesta adalah Tajalli-Nya.

Sebagaimana Sabda Nabi, Kalau kalian mencintai Allah, ikutlah aku (HR. Muslim). Seperti kita tahu bahwa Nabi Muhammad mencintai sesamanya dengan setulus hati dengan membebaskan masyarakat dari perbudakan dan kebodohan. Akhlak dan perilaku Nabi sangat menghormati orang lain dengan istilah lainnya memanusiawikan manusia. inilah makna perintah 'Amar Ma'ruf.' Mengajak dalam kebaikan.

Maka perintah 'Amar Ma'ruf atau mengajak dalam kebaikan berarti sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi, sebagai bukti cinta kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah mencintai sesama dengan setulus hati. Menyebarkan virus cinta untuk orang-orang disekeliling kita, lingkungan dan masyarakat dan akhirnya memberikan kedamaian untuk alam semesta.

Friday, May 21, 2010

Bekerja Penuh Cinta

Apa kabar teman dipagi hari yang indah ini? Semoga dipagi ini anda dan keluarga sehat selalu dengan dihiasi hidup penuh cinta.

Ketika kita melakukan aktifitas, lakukanlah dengan penuh riang gembira dan penuh syukur kehadirat Allah. Bila aktifitas itu adalah memasak maka masakannya akan terasa lezat dan menyehatkan tubuh. Pekerjaan apapun bila kita melakukannya dengan senang hati bahkan pekerjaan berat sekalipun akan menjadi terasa ringan.

Secara hakiki bekerja adalah mengerahkan segala upaya kita segala upaya apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta'ala anugerahkan kepada kita. Kita menyadari bahwa bekerja merupakan kegiatan memfungsikan limpahan nikmatNya. Barangkali sebuah kebahagiaan di dalam hidup kita karena telah dapat menggunakan sesuatu yang diberikan oleh yang Maha Pengasih.

Maka tersenyumlah dan bergembiralah! Dengan memanjatkan puji kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, mari kita lakukan pekerjaan kita dengan penuh cinta dan suka cita. Bila pekerjaan diiringi dengan pujian kepada Allah tentu akan menghasilkan sebuah pekerjaan yang maksimal dan membawa keberkahan. Bila pekerjaan itu dilakukan oleh seorang ibu yang memasak untuk keluarganya maka masakannya menjadi terasa lezat. Anak-anak dan suami menikmatinya dengan lahap.

Menghormati Orang Tua

Al-Qur'an secara tegas mewajibkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tuanya (Q/17:23). Berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) merupakan alkhoir, yakni nilai kebaikan yang secara universal diwajibkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Artinya nilai kebaikan berbakti kepada orang tua itu berlaku sepanjang zaman dan pada seluruh lapisan masyarakat. Akan tetapi bagaimana caranya berbakti sudah termasuk kategori al ma'ruf, yakni nilai kebaikan yang secara sosial diakui oleh masyarakat pada suatu zaman dan suatu lingkungan.

Dalam hal ini al Qur 'anpun memberi batasan, misalnya seperti yang disebutkan dalam surat al Isra, bahwa seorang anak tidak boleh berkata kasar apalagi menghardik kepada kedua orang tuanya(Q/17:23). Seorang anak juga harus menunjukkan sikap berterima kasihnya kepada kedua orang tua yang menjadi sebab kehadirannya di muka bumi. Di mata Allah sikap terima kasih anak kepada orang tuanya dipandang sangat penting, sampai perintah itu disampaikan senafas dengan perintah bersyukur kepadaNya (anisykur li wa liwa lidaika (Q/31:14)). Meski demikian, kepatuhan seorang anak kepada orang tua dibatasi dengan kepatuhannya kepada Allah.

Jika orang tua menyuruh anaknya melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah Allah, maka sang anak dilarang mematuhi perintah orang tua tersebut, seraya tetap harus menghormatinya secara patut (ma'ruf) sebagai orang tua (Q/ 31:15). Seorang anak, oleh Nabi juga dilarang berperkara secara terbuka dengan orang tuanya di forum pengadilan, karena hubungan anak —orang tua bukan semata-mata hubungan hukum yang mengandung dimensi kontrak sosial melainkan hubungan darah yang bernilai sakral.

Sementara itu orang tua harus adil dalam memberikan kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Diantara kewajiban orang tua kepada anak-anaknya adalah; memberi nama yang baik, menafkahi, mendidik mereka dengan agama (akhlak kehidupan) dan menikahkan jika sudah tiba waktunya.

Adapun jika orang tua sudah meninggal, maka kewajiban anak kepada orang tua adalah (a) melaksanakan wasiatnya, (b) menjaga nama baiknya, (c) meneruskan cita-citanya, (d) meneruskan silaturahmi dengan handai tolannya, (e) memohonkan ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Thursday, May 20, 2010

Ketenteraman Hati

'Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati kita menjadi tenteram. (QS. ar-Raad : 28)

Mengingat Allah membuat hati kita menjadi tenteram. Mengingat Allah berarti kita menyadari dan merasakan cahaya kasih sayang dan keberadaan Allah dihati kita. Hadirkan kesadaran itu dari pikiran, mata, mulut, tangan, tubuh dan kaki kita sebagai sebuah aktifitas penyebar kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Coba rasakan apa yang terjadi pada tubuh kita disaat kita menebarkan Kasih SayangNya. Melempar sebuah senyuman. Bertegur sapa dengan tetangga. Membezuk teman yang sakit. Menghadiri acara pernikahan teman. Membantu seorang nenek menyeberangkan jalan. rasanya seluruh tubuh kita dipenuhi dengan rasa hangat dan nyaman. Metabolisme tubuh kita terasa bugar, hati terasa tenteram dan hidup seolah berada ditaman bunga, penuh kebahagiaan.

Coba bayangkan bila hati kita dipenuhi dengan amarah, kebencian dan kedengkian. Ketika hati penuh kebencian, amarah dan kedengkian senantiasa kita melihat persoalan dengan sudut pandang negatif. Ibaratnya bila kita menggunakan kacamata hitam apapun yang kita lihat semuanya terasa gelap sekalipun di ruang yang terang benderang. Maka membuat hati kita menjadi sakit. hati yang sakit selalu sesungguhnya hati yang gelap. Kegelapan yang menyelimuti hati karena dikotori oleh hawa nafsu dan ego yang tiada henti. Padahal dalam hati senantiasa hadir cahaya kasihNya yang memberi penerangan. Maka buanglah bencimu.

Hidup dengan penuh kasih sayang Allah adalah hidup yang terindah. Menyadari dan merasakan Kasih-Nya. Dengan demikian menyadari dan merasakan Kasih Sayang-Nya telah membuat hati kita menjadi tenteram sehingga muncul kelapangan dan rasa optimis di dalam hidup kita bahkan kemudian kita melanjutkan Kasih SayangNya yang kita rasakan dengan berbagi dan peduli terhadap penderitaan sesama. Itulah yang membuat hati kita menjadi tenteram.

Mampukah Kita Menangis Malam ini?

Duhai malam perlahan semakin kelam, Ketika manusia tidur, air mataku bercucuran, jiwaku dirundung kesedihan dan penderitaan. Hilanglah kebahagiaan dalam kegelapan Air mataku bercucuran, teringat beban dosa-dosaku yang telah mengabaikan rahmatMu..

Itulah yang diucapkan oleh Ali Bin Abi Thalib dalam kitab 'Arwa al Asrar', Ali Bin Abi Thalib senantiasa menunaikan sholat malamnya bersama para sahabatnya di Kufah. Saat itu beliau sebagai Amirul Mukminin, tatkala selesai sholat beliau duduk meneteskan air mata, penuh isak tangis dan wajahnya diselimuti dengan kesedihan, Orang-orang yang berada disekitarnya tidak beranjak sedikitpun sampai tiba waktu sholat subuh hingga terbit matahari.

Selesai sholat, Ali menggelengkan kepala, dengan berderai air mata dan penuh kesedihan sambil mengucap, 'Demi Allah, aku telah melihat Rasulullah, apa yang aku lihat hari ini adalah sama halnya yang dilakukan oleh Rasulullah, disetiap sholat malam dimatanya basah dengan linangan air mata dan terdapat bekas-bekas tanda sujud kepada Allah sepanjang malam, Rasulullah senantiasa membaca al-Quran, apabila mengingat Allah sampai condong tubuhnya seperti meliuknya pohon dihembus angin. Rasulullah juga bercucuran air mata sehingga membasahi pakaiannya.

Itulah tangisan orang yang sholeh berharap rahmat Allah bahkan dahsyatnya tangisan itu mampu membuat tubuhnya tersungkur karena takut akan kehilangan rahmat Allah pada dirinya. Begitulah hamba-hamba Allah yang mampu meneteskan air mata penuh harap atas rahmatNya. AIr mata itu tidak akan menetes bila hati kita mengeras.

Mampukah kita menangis malam ini?

Wednesday, May 19, 2010

Indahnya Kedamaian

Dalam bahasa arab kata 'Iman' memiliki akar kata dengan kata 'aman' yang berarti seorang mukmin sudah selayaknya mendatangkan rasa 'aman' dan melahirkan kedamaian di dalam hatinya, lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Kedamaian hanya akan dimiliki oleh orang yang mampu berpikir dan bertindak secara proaktif bukan bersifat reaktif, dalam al-Quran surat Ali-Imran ayat 110 Allah berfirman.

'Engkau adalah umat yang terbaik diantara manusia untuk mengajak dalam kebaikan (ma'ruf) dan mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah.'

Kata 'amar ma'ruf' atau mengajak kebaikan maknanya adalah memanusiakan manusia, sedangkan 'nahi mungkar' lebih dimaknai sebagai pembebasan dari kemiskinan dan kebodohan dan 'tu'minuna billah' artinya dimensi keimanan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ketika kita mengaku beriman, ada dua prinsip penting yang kita telah nyatakan, Pertama diri kita percaya secara total kepada Allah semata. Kedua, pernyataan iman berarti menjadikan diri kita adalah pribadi yang dipercaya oleh sesama. Aspek pertama bahwa sikap dan kepatuhan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan aspek kedua, implikasi dari kepatuhan kita kepada Allah melahirkan rasa aman dan damai terhadap sesama, lingkungan dan masyarakat.

Bila kita orang yang beriman menebarkan rasa aman dan kedamaian maka tidak ada ruang di dalam hati kita untuk marah, bertindak anarkhis bahkan menghancurkan dan yang lebih esensial seorang mukmin berjuang membebaskan masyarakat dari belenggu penindasan kebodohan dan kemiskinan sebagaimana Nabi Muhammad membebaskan masyarakat jahiliyah di kota Mekah dari ketertindasan kebodohan dan kemiskinan. Betapa indahnya kedamaian bila insan yang beriman dan dengan keberimanannya menebarkan rasa aman dan kedamaian bagi sesamanya.

Cinta al-Quran

Setiap malam di Rumah Amalia. Anak-anak Amalia (Anak Insan Mulia) selalu menyempatkan diri bertadarus bersama dengan dibagi berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari 7 orang. Malam itu sangat menggembirakan bagi anak-anak Amalia karena anak-anak menyukai tadarus. Itulah salah satu upaya kami bagaimana anak-anak Amalia mencintai al-Quran.'

Tadarus adalah mendekat diri untuk bisa mencintai al-Quran. Untuk mencintai al-Quran memanglah tidak mudah apalagi bisa menjadikan al-Quran sebagai sahabat dikala suka maupun duka. Namun jika seseorang tahu akan manfaat bersahabat dengan al-Quran tentunya orang akan banyak memilih untuk bersahabat dengan al-Quran. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam.

'Bacalah Al-Quran karena ia akan memberikan syafaat kepada para sahabatnya. Bacalah 'dua bunga' surat Al-Baqarah dan surat Ali Imran, sebab pada hari kiamat nanti keduanya akan datang seolah-olah dua gumpalan awan, atau seperti dua bayang-bayang, atau seperti dua gerombol burung-burung yang berbaris yang akan memberi syafa'at kepada para sahabatnya. Bacalah surat Al-Baqarah, karena jika kita mengambilnya (membaca/menghafal) merupakan suatu keberkahan dan meninggalkannya merupakan suatu kerugian. Perkara ini tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang yang batil.' (HR. Muslim).

Tantangan terberat bagi orang yang ingin mencintai al-Quran pada era modern ini adalah aktifitas yang hanya mengarah kepada kepentingan duniawi dan melupakan fitrah kemanusiaan kita. Waktu kita hampir terkuras dengan urusan dunia dan nafsu materi. Kita sering kali tidak sadar bahwa kita sudah terhipnotis oleh aneka macam kepalsuan dan tipu daya yang terus menjerumuskan diri kita.

Bagi kita yang menyadari bahwa dunia ini adalah ladang memperbanyak amal kebaikan sebagai bekal kembali menuju kampung akhirat. Nah, salah satu cara untuk membangunkan kesadaran fitrah diri kita yaitu mencintai al-Quran dan menjadikan al-Quran sebagai sahabat di dalam kehidupan sehari-hari.

Meruntuhkan Tembok Penderitaan

Ditengah hidup bergelimangan materi dan kesuksesan karier seorang teman pernah bertanya kepada saya, 'bagaimana caranya untuk meruntuhkan tembok derita?' saya kemudian menjawabnya, 'Runtuhkan dengan syukur, sabar dan perbanyak shodaqoh.'

Penderitaan tidak mengenal orang muda, tua. Kaya atau miskin. Laki-laki atau perempuan. Begitu manusia terlahir hidup didunia kita merasakan penderitaan. Bahkan terkadang kita merasa diri kitalah yang paling menderita sedunia. Padahal masih ada juga milyaran manusia yang juga merasa hidupnya paling menderita.

Pada dasarnya penderitaan berpangkal dari nafsu duniawi yang tidak pernah terpuaskan. Kebutuhan materi dan ingin memiliki yang tidak pernah mengenal rasa cukup. Kita seolah mengejar bayang-bayang fatamorgana, begitu dikejar, dipegang ternyata semua itu menghilang. Begitu bangun tidur sampai mata terpejam di dalam tubuh kita dipenuhi dengan berbagai hasrat nafsu duniawi yang tak pernah tercukupi.

Sebagai hamba sudah sepatutnya kita merasa ridha dengan apa yang kita dapatkan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sikap ridha di dalam kehidupan seharia-hari maka yang ada didalam diri kita adalah syukur dan sabar. Sebagaimana Rasululullah menyebutkan diri kita sebagai orang yang menakjubkan.

'Sungguh menakjubkan seorang mukmin. Apabila ia mendapatkan nikmat, ia bersabar dan itu baik baginya. Apabila ia mendapatkan ujian, ia bersabar dan itu baik baginya. (HR. Muslim).

Bila kita bernafsu dan selalu meminta maka virus keserakahan masuk kedalam tubuh kita. Bila nafsu keserakahan telah menyebar keseluruh tubuh kita maka kita akan merasa dengki bila melihat orang lain mendapatkan kemajuan atau kesuksesan dan akhirnya kita merasa cemas dengan apa yang kita peroleh.

Bila kita membentengi diri kita dengan tembok syukur dan sabar maka yang ada di dalam diri kita adalah kata cukup. Seberapapun nikmat dan rizki yang kita terima senantiasa kita syukuri sehingga memunculkan kelapangan dan optimisme dalam hidup. Bahkan semangat hidup kita adalah semangat berbagi kepada sesama sebagai bentuk ekspresi syukur. Bukan hanya mengucapkan 'Terima kasih Ya Allah,' atau 'Alhamdulillah' namun kita menjadi perpanjangan rahmat Allah bagi orang lain atau kita yang menebarkan kebahagiaan membantu saudara-saudara kita yang tengah membutuhkan pertolongan sebagai wujud sifat Maha Kasih Allah Subhanahu Wa Ta'ala bagi umat manusia.

*Tulisan ini materi on air di Radio Bahana FM 101.8 FM Jakarta dengan tema 'Meruntuhkan Tembok Penderitaan.' Malam ini 19/Mei/2010 jam 6 s.d 7 Malam

Tuesday, May 18, 2010

Fadhilah Sholat Fardhu

Pada suatu malam di Rumah Amalia ada seorang bapak bertutur. Ketika usaha itu menanjak dirinya lalai beribadah. hidupnya menjadi terasa hampa. Rumah dan tanahnya sempat ditawarkan untuk dijual. Istrinya mengingatkan agar dirinya kembali mengerjakan sholat dengan tekun, dirikanlah sholat, jangan bolong-bolong, upayakan untuk sholat tepat waktu Mas,' ucap istrinya.

Hatinya tergugah ketika mendengar suara adzan dari masjid. Seluruh bulu kuduknya berdiri terasa meremang mendengar ajakan sholat maghrib. Segera dipenuhinya ajakannya. Bahkan di dalam dirinya berjanji untuk tekun kembali menjalankan sholat fardhu. Diusahakannya agar sholat tepat lima waktu.

setiap sholat jumat selalu dipenuhinya dimanapun dirinya berada. Alhamdulillah, sejak itu usahanya menjadi lancar lagi. Sampai ada seseorang yang datang berniat untuk membeli rumahnya tetapi tawaran itu ditolaknya dengan halus sebab dirinya sudah tidak berniat untuk menjualnya.

Allah Maha Pengasih, rizkinya makin bertambah. Pemasarannya semakin luas. Kendaraan roda empat telah dimilikinya. Sekali jalan beliau sudah mampu mengirimkan barang dalam jumlah banyak. Jelas itu semua merupakan fadhilah sholat fardhu yang dijalankan secara sungguh-sungguh. Ketekunannya menjalankan sholat fardhu membuat setiap langkahnya semakin mantap.

--
Barangsiapa yang brtakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” ( QS. Ath-Thalaq 2-3).

Akhlak Yang Mulia

Suatu hari datang utusan kepada Nabi dan mereka bertanya, Wahai Rasulullah, siapa hamba Allah yang paling dicintainya? beliau menjawab, 'yang paling mulia akhlaknya.' (HR. Imam Ahmad & Ibnu Majah).

Disuatu ketika Nabi bertanya, 'Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?' 'Tentu, Wahai Rasulullah.' Jawab mereka. Beliau kembali bertanya, 'Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?' 'Tentu Wahai Rasulullah,' jawab mereka lagi. Lalu beliau menegaskan, 'Orang yang paling mulia akhlaknya.' (HR. Imam Ahmad).

Orang yang memiliki akhlak mulia mendapatkan kehormatan sebagai orang yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan RasulNya. Bahkan Nabi menjamin bukan hanya dicintai oleh Allah dan Rasulnya aja namun juga dicintai oleh setiap orang yang mengenalnya.Sebagaimana Sabda Nabi,

'Kalian disenangi oleh manusia bukan karena harta kalian namun oleh wajah ceria dan akhlak yang mulia.' (HR. al-Bazzar & Abu Ya'la).

Wajah ceria dan akhlak mulia yang kita miliki bagai air yang selalu memberikan kehidupan. Ia menyuburkan tanah dan pepohonan. Kehadiran kita mampu memberikan kesegaran dan kesejukan untuk orang-orang disekeliling kita. Menjadi energi dan rahmat Allah bagi semesta Alam. Sungguh indahnya hidup ini bila kita mampu menjadi orang yang dicintai oleh Allah, RasulNya dan orang-orang disekeliling kita yang kehadirannya adalah rahmat Allah bagi semesta Alam. Ketika meninggal dunia, langit dan bumipun menangis karena kehilangan dirinya.

Monday, May 17, 2010

Hati Yang Bahagia

Hati yang bahagia selalu hadir ketika hati penuh syukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika mendapatkan ujian. Begitulah yang dirasakan seorang Ibu dengan tiga putrinya. Malam itu mereka berkunjung ke Rumah Amalia dengan hati yang penuh kebahagiaan dan wajah dengan senyuman. Sang Ibu bertutur bahwa dalam hidupnya harus melewati ujian kehidupan yang sebelumnya tidak pernah disadarinya.

Setelah pernikahannya dua puluh tahun dikaruniai dengan tiga putri yang sudah beranjak dewasa dikejutkan oleh kenyataan pahit, tiba-tiba suami menggugat cerai. Sampai beliau berpikir, apa yang salah dari dirinya sampai suaminya tega melakukan itu. Beliau sempat depresi, bingung tak tahu apa yang harus dilakukan. Apa lagi sang buah hati mereka sangat mengidolakan ayah dan bundanya. Mesti begitu Sang Ibu tidak membiarkan ketiga putrinya terlihat dalam masalah orang tuanya.

Ketidak mengertian atas sikap suaminya karena selama ini kehidupan rumah tangga sangatlah tenteram dan bahagia, tidak pernah bertengkar dan keributan dan tidak ada alasan yang utama yang bisa dijadikan gugatan cerai oleh suaminya karena selain istri sangat menghormatinya dan tidak ada gelagat atau perilaku yang aneh. Suaminya yang sangat santun dan penuh perhatian pada anak istrinya.

Sampai pernah malam hari beliau datang ke Rumah Amalia untuk membaca Yasin bersama dan berdoa agar suaminya kembali. Keberadaannya dengan berdoa di Rumah Amalia memberikan kesejukan hatinya ditengah kegalauan. 'Syukurlah Allah menjawab doa-doa saya, paling tidak telah membuat saya menerima semuanya dengan lapang dada, hati yang bersih dan ikhlas membuat saya survive menghadapi hidup ini,' tutur beliau.

Ditengah dirinya sudah berserah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mencoba untuk instropeksi diri atas semua kekurangannya dan menyibukkan dirinya dengan memulai usaha kecil-kecilan yang dicoba untuk merintisnya. Disaat itulah keajaiban datang dan meluluhkan hati suami tercintanya kembali pulang ke rumah dan telah mencabut gugatan cerainya. 'Sungguh Mas Agus Syafii, hati saya sangat bahagia karena Allah begitu Maha Pengasih dan Maha Penyayang mengijabah doa saya dan doa anak-anak Amalia sehingga keluarga kami bisa berkumpul kembali.' tutur Sang Ibu. Malam itu hatinya penuh kebahagiaan tak henti mengucapkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Subhanallah..

--
'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.' (QS. Faathir : 34).

Memberi Dengan Kasih

Pada suatu malam di Rumah Amalia, anak-anak sedang mendapatkan tugas menulis apa yang telah dilakukannya pada siang hari. Mayang terlihat kebingungan tidak memiliki pensil. Syifa mengeluarkan pensilnya dan memberikan salah satu pensilnya untuk Mayang. Wajah Syifa tersenyum dan Mayang tak lupa mengucapkan 'Terima kasih ya Syifa.'

Betapa indahnya saat tangan diatas sedang memberi disertai dengan senyuman yang tulus. Untuk bisa memberi dan berbagi pada orang lain, barangkali kita tidak perlu menunggu untuk menjadi orang kaya terlebih dahulu. Memberi dan berbagi adalah wujud dari sifat ar-Rahim, Maha Kasih dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Terbayangkah oleh kita bila memberi disertai dengan cacian dan hinaan? Tentunya itu sangat menyakitkan bagi yang menerima. Maka memberi saja tidaklah cukup, mesti dibarengi dengan sifat kasih yang diwujudkan dalam bentuk seuntai senyuman.

Pemberian yang indah adalah pemberian yang disertai dengan kasih, seuntai senyuman membuat orang yang menerima merasa bersyukur dan berterima kasih kepada yang memberi. Sesungguhnya disaat kita memberi dan berbagi sebenarnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala sedang memberikan kesempatan kepada kita mewakili sifat RahimNya, Maha KasihNya. Sebab Allah berkenan memberikan kita kekuatan hingga kita mampu memberi dan berbagi kepada orang lain.

--
'Sesungguhnya Allah hanya merahmati hamba-hambaNya yang penuh kasih.' (HR. Bukhari).

Kebencian

Sehabis sholat maghrib. Di masjid saya bertemu seorang anak muda yang marah berat ketika laptopnya diambil pencuri. Dia mengajak saya mencari pencuri tersebut. Setelah bercerita panjang lebar, ingin mencelakakan pencuri laptopnya.

sampai ada sesepuh masjid yang mengatakan padanya, 'Siapa gurumu yang mengajarkan dirimu untuk mencintai laptopmu itu sehingga begitu sangat membenci berlebihan pada pencuri itu sampai ingin mencelakakannya? padahal dia juga hamba Allah? Bukankah gurumu yang telah mengajarkan kebencian itulah yang sepatutnya dipidana?' Pemuda itu tak menjawab dan pergi begitu saja meninggalkan masjid tanpa permisi.

Pelajaran yang kita bisa dari cerita diatas adalah ketika kita kehilangan sesuatu yang kita cintai, entah benda atau yang lainnya, sepatutnya tidak membuat kita membenci secara berlebihan kepada orang lain sehingga kita tidak bisa berlaku adil. Berlakulah secara proporsial, bencilah secara proporsional agar hati kita tidak diliputi kebencian yang berlebihan justru membuat hati kita kotor dan melupakan bahwa setiap peristiwa selalu ada hikmahnya yang makin meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

--
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.' (QS Al-Maidah, 5:8).

Sunday, May 16, 2010

Menebarkan Kasih Sayang

Hamba ar-Rahman (Maha Penyayang) adalah mereka yang berjalan diatas muka bumi dengan rendah hati, jika diajak bicara oleh kaum yang jahil mereka mengucap 'Salam Sejahtera.' (QS. al-Furqan : 63).

Ayat diatas menyiratkan bahwa menebarkan kasih sayang dengan kerendahan hati akan memberikan rasa damai pada orang lain. Dampaknya akan mendorong orang lain juga melakukan hal yang sama. MIsalnya, bila kita hendak berangkat ke kantor atau memulai aktifitas memberikan salam dan senyuman kepada pasangan hidup kita atau kepada anak kita tentunya akan memberi kedamaian dihatinya sehingga orang-orang yang kita tinggalkan juga dengan mudah menyebarkan rasa damai itu untuk orang-orang disekelilingnya.

Berbeda bila kita menyebarkan energi kebencian. Justru akan menyumbat saluran kasih sayang dan rasa kedamaian dihati orang-orang sekeliling kita. Misalnya, sewaktu kita berangkat kerja sambil marah-marah dengan pasangan hidup kita atau anak kita selain mereka menjadi sebel dengan kita, kita bekerja juga tidak nyaman karena dihati merasa ada yang mengganjal.

Alangkah indahnya bila hidup kita menyebarkan kasih sayang pada semua. Kasih sayang memberikan dampak kedamaian dan ketenteraman bagi orang lain sehingga dampaknya orang lainpun juga menyebarkan kasih sayang bagi orang sekelilingnya. Sebagai hamba ar-Rahman tugas kitalah menyebarkan sifat ar-Rahman. karena energi kasih sayang senantiasa akan memantulkan kepada semua yang ujungnya berimbas pada diri kita.

Yuk, tebarkan kasih sayang..

Saturday, May 15, 2010

Keajaiban Disaat Kehilangan Harapan

Jumat malam di Rumah Amalia kedatangan seorang bapak bersama anak dan istrinya. Kehadirannya di Rumah Amalia biasanya sekali waktu mampir untuk berbagi rizki untuk anak-anak Amalia. Kebahagiaan dimalam hari memberikan warna hidup lebih cerah. Menurutnya shodaqoh itu seperti keajaiban dalam hidupnya.

Pernah beliau mengalami putrinya yang berusia dua tahun tiba-tiba sakit keras. Suhu badannya panas meninggi. Tubuhnya sempat kejang-kejang. Sampai akhirnya bergegas menuju Rumah Sakit Umum di Jakarta. Setelah diperiksa ternyata putrinya harus dioperasi tetapi harus terlebih dahulu hasil 'check up' Karuan saja sebagai seorang bapak yang bertanggungjawab terhadap keluarganya membuatnya panik. Tentunya fisik yang lemah tidak mungkin untuk operasi.

'Saya hanya bisa memohon kepada Allah agar putri saya bisa selamat dan tidak perlu untuk operasi sampai saya berjanji bila anak saya sembuh akan lebih giat lagi untuk bershodaqoh.'

Disaat beliau sedang panik dan tidak hentinya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala seorang dokter muda menghampiri beliau dan mengatakan bahwa hasil 'check up'nya putrinya tidak perlu dioperasi. Beliau ternganga takjub. Bersyukur kepada Allah. Air matanya mengalir begitu saja tanpa terasa. Tangisannya sampai terdengar. Disaat dirinya tidak lagi berharap, Allah melimpahkan karuniaNya yang begitu besar.

Jumat malam beliau memenuhi janjinya untuk berbagi rizki untuk anak-anak Amalia sebagai tanda syukurnya kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala karena putri yang dicintainya sehat kembali tanpa harus dilakukan operasi. Terlihat putrinya berlarian bersama Hana. terdengar suara anak-anak Amalia sedang membaca surat al-Fatehah. Terlihat mata beliau berkaca-kaca penuh rasa syukur kehadirat Ilahi Robbi. Subhanallah..

----
'Obatilah orang yang sakit dengan shodaqoh, bentengilah harta kalian dengan zakat dan tolaklah bencana dengan berdoa (HR. Baihaqi).

Friday, May 14, 2010

Cermin adalah Hati

Pagi-pagi sekali istri saya sudah sibuk me-lap cermin. Saya bertanya padanya, 'ngapain sih tiap hari cerminnya harus dibersihkan?' Katanya, Kalo tidak dibersihkan tiap hari cerminnya kotor dan gelap jadi nggak kelihatan ganteng deh ayah..'

Cermin tak ubahnya seperti hati. Cermin memiliki karakter dan refleksi yang sama apa saja yang ada di depannya. namun cermin tidaklah sempurna memantulkan gambar atau wajah dengan baik bila cerminnya kotor dan menjadi gelap.

Membersihkan cermin sama dengan membersihkan hati seolah menjadi tugas kita setiap hari tanpa henti. Tidak mengenal hari libur atau bersantai, sekali hati kita kotor maka seluruh tubuh kita menjadi kotor dan gelap. Sepanjang tarikan napas kita dengan segala keyakinan yang kita miliki senantiasa berupaya membenahi diri agar senantiasa hidup kita menkadi berarti. Semua yang dilakukan demi mendapatkan gambar dan wajah secara sempurna itulah hati. hati hanya bisa dibersihkan oleh 'Sang Maha Pemilik Hati.'

Bila pikiran kita adalah wuju cipta sedangkan hati adalah rasa. Maka yang bisa kita lakukan hanya berserah diri dalam keheningan cipta. Kemudian kita memohon kepadaNya Sang Maha Pemilik Hati agar berkenan membimbing hati kita dan berkenan membersihkan hati kita dari segala kotoran. Begitulah cara kita membersihkan hati.

'Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati.' (HR. Bukhari & Muslim).

Kekayaan Hati

Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati. (Bukhari - Muslim) .

Hadist diatas menyiratkan bahwa kekayaan bukan pada harta benda namun pada kekayaan hati. Betapa indah dan mulianya bila hati penuh kekayaan yang berwujud cinta kasih dan senyuman pada sesama sehingga tidak ada ruang untuk membenci dan menyakiti siapapun.

Siapa yang tidak ingin tampil menawan? Seburuk apapun kita berusaha untuk bisa tampil mempesona namun pesona tubuh dan wajah tidak pernah abadi. Seiring waktu fisik kita makin melemah dan wajah tampak tidak lagi menawan. Hanya kecantikan batin yang bisa abadi. Itulah hati yang terindah tampil penuh pesona.

Kekayaan hati bisa diperoleh siapapun. Tidak peduli apapun kedudukannya, wajahnya ganteng atau jelek. Bila seseorang memiliki hati yang indah dan mulia dari dalam bisa memancar keluar menebarkan cinta kasih dan senyuman pada sesama sehingga dimanapun kita berada, kita memberikan rasa damai kepada siapapun yang berada disisi kita. Itulah makna kekayaan hati.

Thursday, May 13, 2010

Kehampaan

Pada suatu hari di Rumah Amalia saya pernah kedatangan seorang tamu remaja putri yang 'broken heart' dan kedua orang tuanya sering bertengar, setiap hari menyaksikan pertengkaran dan kepedihan karena dikhianati kekasihnya. pertanyaan-pertanyaannya meluncur begitu saja dari bibirnnya.

'Diriku sudah hancur Mas..sudah hancur!'
Lebih baik sekalian saja aku rusak diriku.'
'Apa gunanya aku hidup terus?'

Itulah kehampaan yang dirasakannya. Tingkat keputusasaan yang paling tinggi. Jika keadaa benar-benar sulit semuanya terasa gelap dan bila hati tidak tahu harus berbuat apa, kondisi iman sangat lemah maka kehampaan menimbulkan niat ingin mengakhiri hidup.

Tentunya hal ini bisa dimengerti bahwa masalah yang dihadapi tidaklah ringan dan kita seringkali tidak mampu untuk menanggungnya. Atau merasakan hidup kita tidaklah ada artinya lagi. Kita merasa tidak bisa berbuat apa-apa dan merasa sudah sudah tidak ada gunanya lagi hidup terus. Dan Allah mengingatkan kita dalam firmanNya.

'Dan janganlah engkau membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang padamu dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya maka kelak Kami akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.' (QS. an-Nisaa: 29 -30).

Bila kita merasakan kehampaan dan keinginan mengakhiri hidup. Cobalah untuk mengheningkan hati dan pikiran. Kita memohon kepada Sang Pemilik Kehidupan agar memberi bimbingan dan membersihkan hati kita. Kemudian menanam kebaikan dan keindahan kepada orang lain. Semuanya menjadi nyaman dan damai. Lalu penuh ketulusan hati kita sirami pohon-pohon kebaikan yang membawa manfaat bagi orang-orang disekeliling kita.

Itulah yang saya tawarkan kepada remaja putri tadi agar bersedia mengajar untuk teman-temannya di Rumah Amalia. Kehampaannya diisi dengan menanam kebaikan dan keindahan sehingga wajahnya yang murung sudah berubah dengan wajah yang ceria penuh kegembiraan dengan penuh suka cita hidupnya dipenuhi kebahagiaan.

'Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah sedang dia berbuat kebaikan maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allahlah kemudahan segala urusan. (QS. Luqman : 22).

Wednesday, May 12, 2010

Hati Yang Tergores

Pada suatu hari sekitar jam tiga sore, tiba-tiba di Rumah Amalia kedatangan seorang perempuan muda. Penampilannya modis dan trendy namun cukup berpendidikan dilihat dari cara bicaranya. Mendengar penuturannya dengan suara terbata-bata dan berlinangan air mata bahkan hampir saja memilih jalan untuk bunuh diri karena merasa sudah tidak sanggup menghadapi hidup ini. Sampai membiarkannya menumpahkan isi hatinya. Dalam penuturannya berkisah tentang bahtera rumah tangga diterjang ombak kehidupan membuat hatinya tergores perih, membuatnya terluka.

Diawal pernikahannya, dirinya dan suaminya menikmati indahnya pernikahan. Selama lima tahun pernikahannya sangatlah manis dan penuh kebahagiaan sampai kemudian dirinya mengetahui bahwa suami yang dicintainya terseret 'affair' dengan teman sekantornya. Suatu ketika dirinya dan suami sedang perang dingin akibat akumulasi masalah yang berlarut-larut. Disaat itu suaminya ternyata mendapat perhatian dan teman curhat. Teman perempuannya itu seolah menjadi 'penyelamat' bagi suaminya. Menjadi pendengar yang baik dan penuh perhatian sampai terjadi hati suaminya bergetar dan lama kelamaan makin berkembang dan tidak lagi mengeremnya.

Sampai kemudian gosip perselingkuhan itu menjadi perbincangan seluruh kantornya dan dirinya adalah orang yang terakhir mendengar gosip perselingkuhan yang dilakukan istrinya. Dunia terasa seperti kiamat. Rumah tangganya goyah dan tidak sanggup lagi bagaimana cara mengatasinya. Air matanya mengalir tak kuasa dibendungnya. Istri saya menyediakan teh hangat dan kue kering. Mempersilahkan untuk menikmatinya. Ia menganggukkan kepala sambil meminum secangkir teh hangat.

Saya bertanya padanya, Apakah Ibu bisa membaca al-Quran? Ia mengatakan tidak begitu lancar membaca al-Quran. Kemudian saya bertanya kembali, 'Apakah Ibu pernah menjalan sholat tahajud?' Ia menjawab hampir tidak pernah sama sekali. 'Jangankan sholat tahajud Pak Agus, sholat lima waktu aja saya jarang melaksanakan.' ucapnya lirih.

Mendengar penuturan itu saya sampaikan kepadanya, Ibu sebenarnya Allah sayang kepada Ibu, bahtera rumah tangga ibu dengan diterjang ombak. Allah menginginkan agar Ibu mendekatkan diri padaNya. Ketika ibu dipanggil oleh Allah Ibu sibuk dengan kegiatan sendiri sampai kemudian ombak itu datang menterjang rumah tangga ibu. Saya yakin ibu mampu mengatasi masalah ini. Bangunlah rumah tangga dengan pondasi ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Insya Allah, Rumah tangga masih bisa diselamatkan. Suami masih bisa kembali kepada keluarga. Ajak suami untuk beribadah kepada Allah agar keluarga senantiasa mendapatkan keberkahan.'

Sebulan kemudian Ibu dan suaminya datang ke Rumah Amalia, dengan wajah tersenyum. Kebahagiaan karena telah melewati terjangan ombak pada keluarganya dan yang paling utama adalah telah menyadarkan betapa pentingnya pondasi ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala bagi keluarganya. 'Alhamdulillah, saya dan suami sudah berkumpul kembali. Kami sama-sama instropeksi diri kekurangan-kekurangan kami selama ini jauh dari Allah. Masalah ini kami semakin meningkat ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan yang paling penting sholat lima waktu tidak pernah terlewatkan bagi kami berdua.' tuturnya. Subhanallah..

---
'Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki yang tidak disangka-sangkanya.' (QS. ath-Thalaq: 2-3).

Mengolah Kebencian Menjadi Cinta

Disaat kehidupan penuh kebahagiaan, tiba-tiba dihempas oleh peristiwa yang mengejutkan. Kita kehilangan orang yang kita cintai atau kehilangan kedudukan, mungkin jabatan. Tanpa kita sadari kemudian kita mencari kambing hitam. Mencari seseorang yang patut kita persalahkan. Kebencian menjadi nyata. Kemarahan tak terelakkan. Dendam menjadi menguat dalam hati.

Tapi pernah kita menyadari bahwa peristiwa itu sesungguhnya telah mengantarkan jiwa ke pintu gerbang kemuliaan. Dengan melalui berbagai penderitaan, ujian, kecemasan dan kesedihan sesungguhnya Allah telah meletakkan diri kita sebagai kekasihNya. Kekasih yang memahami makna cinta. Kita sebagi wujud wakil diriNya, penyebar cinta dan kasih sayang. Perwujudan dari sifat Rahman dan RahimNya. Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Kebencian pada dasarnya wujud manusiawi pada diri kita ketika kita sedang ditimpa ujian dan penderitaan karena kita memang merasa perlu mencari orang lain yang dipersalahkan. Membiarkan diri penuh kebencian di dalam hidup justru menambah penderitaan dengan derita. menyiram luka dengan air garam. Menambah perih dengan keperihan yang lebih dalam. Air mata menetes tanpa muara.

Mengolah kebencian menjadi cinta, kita maknai bahwa setiap peristiwa apapun yang terjadi pada diri kita adalah sebagai perwujudan kita sebagai seorang Mukmin. Nabi Muhammad menyebutkan sebagai sesuatu yang menakjubkan pada diri seorang mukmin sebab peristiwa apapun yang terjadi pada dirinya semuanya terasa indah. Mendapatkan nikmat dirinya bersyukur, mendapatkan musibah dirinya bersabar.

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Bila mendapatkan nikmat, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya. Bila mendapatkan cobaan, ia bersabar dan sabar itu baik baginya. (HR. Muslim).

Tidak ada kebencian. Tidak ada kemarahan. Tidak ada dendam karena seorang mukmin menyakini bahwa semua itu wujud kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bila kita tahu semua itu adalah wujud kasih sayang Allah, lantas kenapa kita harus membenci makhluknya? Itulah cinta kita sebagai wujud kasih sayang Allah kepada diri kita.

*Materi On Air 'Power of Peace' di Radio Bahana Jakarta 101.8 FM dengan Tema 'Mengolah Kebencian Menjadi Cinta' jam 6 s.d 7 malam ini, tanggal 12 Mei 2010.

Tuesday, May 11, 2010

Akhirnya Doa Itu Terjawab

Sudah sejak lama kehadirannya di Rumah Amalia selain bersilaturahmi, berbagi rizki dan kebahagiaan juga berdoa bersama agar mendapatkan keturunan karena sudah sekian tahun menikah namun juga belum memiliki keturunan. Ikhtiar sudah dilakukan hampir semua dokter mengatakan bahwa beliau dan istrinya dalam keadaan sehat dan tidak ada masalah.

Setahun dua tahun proses ini djalaninya. Hari-harinya diisi dengan aktifitas rutin pergi ke Rumah Sakit. Semua itu terkadang melelahkan. Bukan karena fisik melainkan lebih kepada kondisi batin yang melelahkan. Bahkan setiap hari istrinya senantiasa puasa di dalam hatinya dengan harapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala berkenan memberikan keturunan dalam rumah tangganya.

Keluarga besarnya sangat mensupport agar tidak berputus asa, mereka tetap tekun mendukung dan menguatkannya. Bahkan kedua orang tuanya sempat menganjurkan agar berhenti untuk berobat dan mengadopsi anak saja karena kedua orang tuanya tidak tega melihat penderitaan dengan berbagai macam pemeriksaan dan tindakan operasi terhadap istrinya. Sampai dirinya dan istrinya sudah menyerah dan berpasrah kepada Sang Khaliq. Pada awal bulan tahun lalu istrinya mengalami keterlambatan menstruasi dan hasilnya dinyatakan positif. Kemudian beliau mengantar istri ke dokter kandungan melakukan pemeriksaan rutin. Mengkonsumsi makanan dan minuman bergizi, memperbanyak sayuran dan buah-buahan adalah menu wajib bagi pasangan suami istri.

Sampai dikejutkan diusia kandungan empat minggu timbul flek. Setelah dilakukan USG, dokter mengatakan bahwa kandungannya akan keguguran. Istri menangis, bersedih dan putus asa. Kemudian beliau memutuskan untuk beralih ke dokter kandungan lainnya untuk mendapatkan 'Second Opinion' dan disitulah seolah Allah menunjukkan kasih sayangNya kepada dirinya dan istrinya dokter kandungan yang ditemuinya mengatakan janin yang dikandungan istrinya masih dapat dipertahankan karena denyut jantungnya terdengar kuat.

Semua peristiwa itu membuat dirinya dan istrinya yakin bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala benar-benar telah menguji iman dan kesabarannya. 'Mas Agus Syafii, Selama kehamilan istri saya hanya dua hal yang saya lakukan, Memperbanyak istighfar dan shodaqoh.' tuturnya. Air matanya mengalir di pipinya. Wajah haru dan penuh syukur menyelimutinya. Akhirnya penantian yang panjang dan perjuangan yang cukup melelahkan selama enam tahun, istrinya kemudian melahirkan seorang putri yang sehat, cantik dan mungil. Kebahagiaan itu hadir ditengah keluarganya, disambutnya penuh suka cita. 'Terima kasih Ya Allah atas karuniaMu,' tuturnya terucap lirih. 'Subhanallah..

Ps. Bagi setiap pasangan yang juga belum mendapatkan momongan atau keturunan, jangan putus asa tetaplah memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena tidak ada yang mustahil bagiNya. dengan kesungguhan kita memohon kepada Allah. Allah akan mengabulkan apa yang kita mohonkan.

--
diriwayatkan oleh Jabir ada seseorang datang kepada Nabi Muhammad dan berkata, ‘Rasulullah, aku belum dikarunia anak sama sekali dan sampai saat ini aku belum punya anak.’ Rasulullah lalu bersabda, ‘Jika engkau memperbanyak istighfar dan shodaqoh, engkau akan diberi rizki disebabkan oleh keduanya.’ Lelaki itu pun memperbanyak shodaqoh dan istighfar, Jabir berkata, ‘Akhirnya, orang itu mempunyai sembilan orang anak laki-laki.’

Manfaat Tahajud Menjemput Jodoh

Bila malam tiba, saatnya bertahajud. Sholat Tahajud adalah sholat sunah yang memiliki keutamaan terbesar setelah sholat fardhu. Siapa saja yang memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan dikabulkanNya. Demikian juga dengan jodoh. Sholat tahajud merupakan sarana menjemput jodoh kita. Ingatlah bahwa jodoh kita sudah ditentukan oleh Allah. Sepatutnya kita menjemput jodoh kita dengan sholat tahajud.

Selain berikhtiar dengan berusaha mencari jodoh dan memohon kepada Allah dengan melalui sholat tahajud akan semakin mendekatkan diri kita dengan jodoh. Dengan penyerahan diri dan keikhlasan dalam menjalani hidup merupakan kekuatan yang hanya dimiliki oleh hamba-hamba yang dicintaiNya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa memuji bagi hamba-hambaNya yang memohon kepadaNya agar diberikan pasangan hidup yang sholeh. Mohonlah apa yang menjadi niat dan keinginan kita. Sholat Tahajud menjadi sebuah sarana yang efektif karena mengandung banyak keutamaan dihadapan Allah. Termasuk memohon agar diberikan jodoh yang baik dan keluarga yang menenteramkan hati kita.

'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai menyenangkan hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. al-Furqan : 74).

Monday, May 10, 2010

Membalas Cacian Dengan Senyuman

Malam belum begitu larut. Seorang istri menunggu suaminya pulang kerja. Membantu sang buah hati mengerjakan PR. Terdengar suara motor. Pertanda suaminya telah pulang. Disambut dengan penuh suka cita. Berebut menyambut kedatangannya. Wajahnya terlihat letih dan lelah. Sepanjang hari pekerjaan menumpuk. bukan senyuman yang didapat. Suami itu membentak istrinya. Istrinya membalas dengan senyuman. mencium tangan Sang Suami tercinta.

'Ayah, sudah saya siapkan air hangat untukmu,' kata Sang Istri.

Suaminya bergegas mengambil handuk. Suaminya terheran. Bentakannya dibalas dengan senyuman. Setelah usai mandi dan sholat. Letih dan penat telah hilang. Suami menghampiri istrinya. Ditelinga membisikkan kata, 'Mah, maafin ayah ya..' Suami istri itu saling berpandangan. Anaknya memeluk ibundanya dari belakang. Terdengar suara tertawa riuh. Air mata itu mengalir. Terasa damai dihati.

Ketika kita melakukan perbuatan baik tetapi dibalas dengan cacian, berarti kita telah memasuki gerbang maaf, ikhlas, cinta dan kasih sayang. Maka tersenyumlah sebab itu adalah anugerah yang terindah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena Allah menempatkan diri kita pada derajat sebagai kekasihNya yang mampu mengolah kebencian menjadi kesejukan hati, mengolah cacian menjadi senyuman. Maka hidup ini terasa indah. Tersenyumlah!

'Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. an-Nahl : 128).
AGUSSYAFII BLOG
2006
Proudly powered by : Blogger