Yuk, wujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah

Sunday, May 23, 2010

Hati Yang Menderita

Malam terdengar sayu-sayu suara anak-anak Amalia sedang melantunkan ayat suci al-Quran. Suara itu menenteramkan hati ditengah penderitaan kehidupan. Hujan rintik membasahi bumi. Seorang Ibu duduk termenung menatap air yang menetes diatap Rumah Amalia. Beliau bertutur kepada saya.

Dua belas tahun mengarungi rumah tangga dirinya mengkayuh dengan susah payahnya. Bangunan rumah tangga diatas pondasi kasih sayang yang rapuh. Pernikahannya penuh dengan pertanyaan yang tiada akhir benarkah dirinya adalah belahan jiwa dari suami yang dicintainya?

Awalnya dirinya sangat mencintai seorang laki-laki namun laki-laki itu jatuh cinta justru kepada perempuan lain yang dikenal sebagai teman baiknya sewaktu SMA. Ditengah kegagalan membuat hidupnya menjadi resah dan galau. Kegalauannya menyebabkan dirinya bagai tenggelam diarus sungai yang deras. Siapapun yang bisa digapainya menjadi tambatan hatinya. Sampai berganti-ganti pasangan. Ditengah usia yang semakin tua tanpa ada pilihan lainnya yang memaksa dirinya untuk menikah dengan laki-laki yang datang melamarnya. Pernikahanpun dilaksanakan dengan meriah. Kebahagiaanpu hadir.

Ditengah kehidupan dengan mengalirnya waktu, materi dan karier telah mengubah seorang laki-laki. Semenjak bekerja dengan kariernya yang menanjak bagus. Kehidupan rumah tangganya mendadak berubah. Segala bentuk keresahan yang setiap dirasakan betapa ganasnya kota Jakarta menjadi sirna. Segalanya menjadi mudah. Dari menempati rumah kontrakan yang bocor, sering tergenang banjir. Disaat itulah hatinya menjadi sakit dan penuh penderitaan ketika mendapatkan perempuan lain dengan mudah hadir didalam hati suaminya. Justru ketika rumahnya sudah tidak lagi bocor dan tergenang banjir. Rumah besar dan nyaman dibilangan elit di kota jakarta.

Suaminya mengakui semua perbuatannya dan mengaku bahwa hal itu semata-mata khilaf namun luka dihatinya telah membuat hidupnya menjadi menderita. Ditengah penderitaannya ada sebuah kesadaran bahwa apa yang telah terjadi dalam hidupnya seolah membukakan mata hatinya betapa lemahnya manusia dihadapan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

'Betapa tidak berdaya kita dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala ya Mas Agus..' ucapnya lirih. 'Disaat saya begitu bangganya kepada suami seolah Allah menyentil saya agar mencintai Allah dengan sepenuh hati. Cinta suami adalah cinta yang ilusi sedangkan cinta kepada Allah adalah cinta yang hakiki.' lanjutnya, air mata itu bagai bendungan yang sudah tidak mampu ditahannya. Mengalir dengan derasnya. Semuanya terhenti disaat anak-anak Amalia sedang berdoa.

Ditengah doa anak-anak Amalia telah menenteramkan hatinya dan telah menyembuhkan luka dihatinya. Nampak wajahnya terurai di hiasi senyuman. Ada sebuah kelegaan, ada sebuah kedamaian dihatinya. Tanpa terasa terucap puji syukur kehadirat Allah atas semua anugerahNya dan disaat itulah keikhlasan menerima apapun kesalahan suami mencair di dalam hatinya. Subhanallah.

--
Dan mengapa mereka tidak berpikir tenteng kejadian diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apapun yang diantara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan Sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya (QS. ar-Ruum ; 8).

Blogger indramsy Weblog said.. :

kisah yang inspiratif..

8:45 AM  

Post a Comment

Home

AGUSSYAFII BLOG
2006
Proudly powered by : Blogger