Yuk, wujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah

Wednesday, September 29, 2010

Cinta Yang Memupus Kebencian

Ada seorang ibu yang memiliki tiga anak. Sewaktu saya on air di Radio Bahana FM Jakarta beliau SMS bahwa sudah menunggu di Rumah Amalia. Beliau mengidap insomnia. Sudah lebih dari lima tahun mengalami ketergantungan pada obat tidur. Makin lama dosis yang beliau gunakan semakin tinggi. Sampai mengalami halusinasi. Setelah dari perbincangan saya mengetahui beliau sedang dirundung masalah dalam keluarga. Suaminya telah berhubungan dengan perempuan lain.

Awalnya setiap pulang kerja selalu malam hari, tidak seperti biasa. Baginya selama dinafkahi lahir batin, sudah cukup disyukurinya. Ketika beliau bertanya kepada suaminya, sang suami tidak mengakuinya bahkan bila ditanya malah marah. Pernah sampai melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Namun semua itu ditahannya karena beliau yakin peristiwa apapun selalu ada hikmahnya. 'Mungkin orang bilang bila suami tidak betah dirumah, istrilah yang salah karena tidak bisa mengurus dengan baik,' ucapnya penuh isak dan tangis.

Saya bertanya kepada beliau apakah selama ini beliau bersama suami dan anak-anak senantiasa melaksanakan sholat lima waktu dengan baik? Beliau hanya menggeleng kepala. Saya menyarankan kepada beliau agar lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan menunaikan sholat lima waktu. 'Mengadulah dan memohonlah pertolongan kepada Allah.' Malam itu saya mengajaknya berdoa bersama anak-anak Amalia, memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar berkenan memberikan keberkahan kepada keluarga beliau. Malam itu terasa indah. Doa kami terasa hening, menyentuh hati yang sedang terluka.

Beberapa kali beliau berkenan hadir dan berdoa bersama anak-anak Amalia, beliau mengatakan, ' Saya baru menyadari, suami saya melakukan itu semua karena dia tidak mendapatkan kasih sayang Allah. Peristiwa perselingkuhan suami ini malah membuat saya mengerti betapa besarnya cinta Allah kepada keluarga kami agar kami sekeluarga kembali kepadaNya.' Wajah ibu itu terlihat bahagia karena kami semua di Rumah Amalia turut mendoakan untuk kebahagiaan beliau dan keluarganya. Dengan doa bersama, Cinta Allah hadir di dalam hati beliau, memupus kebencian kepada suami. Kabar terakhir, suaminya berjanji tidak lagi berselingkuh dan menyesali perbuatannya karena kondisi suaminya tengah terbaring sakit di Rumah Sakit.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS Ath-Thalaq 4).

Tuesday, September 28, 2010

Tersenyumlah!

Tersenyumlah! Sebab senyuman adalah doa, ketika kita selalu bersyukur atas rizki yang kita peroleh. Setiap rizki yang kita peroleh datangnya dari Allah yang telah menetapkan dan mengatur semua rizki untuk hambaNya dan kita menerimanya dengan senang hati penuh kegembiraan sekalipun rizki yang diterimanya kecil. Maka Allah akan menambahkan rizki bagi hambaNya yang bersyukur. Itulah sebabnya bagi siapa saja yang selalu bersyukur dalam bekerja, beraktifitas, berusaha, belajar, berikhtiar mencari nafkah berarti dirinya telah membuka pintu rizki dari Allah dari arah yang tidak disangka dan tidak kita duga.

Senyuman adalah shodaqoh, ketika mampu menumbuhkan kebahagiaan bagi orang lain, mampu membangun tali silaturahmi. ketulusan senyuman kita menjadi jembatan penghubung dan simpul mempererat tali silaturahmi, silaturahmi mampu mendatangkan rizki, sebagaimana dalam sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa salam.

'Barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan diperpanjang umurnya maka sambunglah tali silaturahmi (HR. Bukhari & Muslim).

Tersenyumlah! Hidup penuh senyuman, keceriaan, semangat, optimisme dan kebahagiaan lebih disukai Allah dan terbuka pintu rizki bagi kita, tanpa kita sangka dan kita duga arahnya.

Monday, September 27, 2010

Ya Allah, Engkaulah Kekasih Sejatiku

Disaat semua orang telah pergi menjauhi kita. Disaat orang yang dulu menyayangi kita gini tidak peduli lagi. Disaat orang yang dulu memuji sekarang malah menghina kita. Dunia menjadi terasa sunyi, sepi dan sendiri. Terasa tidak ada lagi yang menemani dalam hidup kita, Rasanya semuanya meninggalkan kita dalam kesendirian dan penderitaan.

Semua yang ada didunia bisa hilang kapan saja. Semua harta, anak, saudara, pasangan hidup, jabatan, kesehatan bisa meninggalkan anda tanpa mesti memberitahukan kepada anda. Namun bila kita masih memiliki iman maka ada yang tidak akan pernah meninggalkan kita, justru berada di dekat kita dan menemani kita bila kita mengalami segala kesedihan. Dia adalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kekasih sejati bagi orang yang beriman.

Adakah didunia ini yang selalu menemani kita disaat kita membutuhkan sekalipun di liang lahat? Adakah orang yang selalu menghibur kita disaat kita bersedih? Adakah yang mau mencintai kita walaupun kita tidak mencintainya? Ingatlah! Allah adalah kekasih sejati kita. Allah Maha Pengasih dan Maha Peyayang akan senantiasa menemani dan menyayangi kita kapanpun dan dimanapun.

Allah berfirman dalam hadist qudsi. 'Kalau seorang hamba-Ku mengingat-ingatKu di dalam dirinya, AKu akan mengingatnya di dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam angan-angannya, Aku akan mengingatnya di dalam angan-Ku yang lebih baik dari pada angannya. (HR. Bukhari & Muslim).

Hatinya Hancur

Malam itu di Rumah Amalia saya kedatangan tamu. Seorang laki-laki yang hatinya hancur. Laki-laki itu separuh baya. Wajahnya terlihat lebih tua daripada usianya sendiri. Awalnya ketika menikah sampai istrinya hamil dan melahirkan. Diusia anak laki-lakinya berumur sembilan bulan, istrinya meninggalkannya dan anak laki-lakinya. Istrinya meninggalkan karena kehidupan yang susah, 'aku menikah agar aku hidup bahagia bukan hidup susah.' begitu ucap istrinya.

Dalam seorang diri tanpa istri, dirinya merawat anak dan mengasuh. Apapun pekerjaan dilakukan untuk menghidupi sang buah hati. Kepergian istrinya telah membuat luka dihati, Peristiwa itu membuat dirinya menjauh dari Allah. Ibadah yang biasa dilakukan, tidak dilakukannya lagi. 'Buat apa sholat bila hidup menderita.' begitu tuturnya. Dengan hati yang terluka, perjalanan hidup ada kemudahan. Rizkinya lancar, anaknya tumbuh besar sampai menginjak kelas dua SD.

Anaknya menjadi kebanggaan. disekolah selalu ranking satu. Semua surat dalam Juz Amma' telah dihapal. Bahkan waktu masih berusia lima tahun sudah mampu membaca al-Quran dengan lancar. Kebahagiaan menyelimuti hidupnya, terkadang terselip kekecewaan, kemarahan dan perih dihatinya belumlah hilang. Sampai suatu hari anak laki-laki yang dicintainya sakit keras dan seminggu kemudian dipanggil oleh Sang Pecipta. Meninggal anak yang dicintainya benar-benar membuat hati terasa hancur, tidak ada lagi yang tersisa senyuman dibibir. Air matanya mengalir. Kepergian sang buah terasa menyayat dihati. 'Sudah tidak ada yang tersisa Mas Agus. Saya sudah tidak punya apapun dalam hidup ini.' Laki-laki mengusap air matanya.

'Saya mengira dengan cara menjauhi Allah, saya akan menemukan kembali apa yang hilang, yang saya temukan malah sebaliknya, makin banyak kehilangan demi kehilangan. Saya kehilangan Allah, saya kehilangan istri, saya kehilangan anak dan saya kehilangan diri saya sendiri.' lanjutnya. 'Maafkan aku Ya Allah. Astaghfirullah,' ucapnya lirih. Malam semakin larut. Ditengah hatinya hancur, beliau telah menemukan secercah cahaya untuk kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

--
Teman, seberat apapun dalam hidup ini, mari kita semakin mendekatkan diri kepada Allah. 'Hasbunallah wanikmal wakil' Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami.' (QS. Ali Imran : 173). Menggantungkan harapan hanya kepada Allah akan memudahkan penderitaan menjadi kebahagiaan, cobaan menjadi kegembiraan. Setiap permasalahan hidup senantiasa ada solusinya bila kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Sunday, September 26, 2010

Mengapa Takut Mati?

Sulaiman bin Abdul Malik pergi menemui Abu Hazim seorang zuhud, setelah bertemu dengannya, ia bertanya. 'Wahai Abu Hazim, mengapa kita takut mati?' Abu Hazim menjawab, 'kita telah merusak kampung akherat kita dan membangun dunia, maka kita menjadi takut kehilangan kenikmatan duniawi.'

Sulaiman menjawab, 'Engkau benar, lantas bagaimana datang untuk menemui Allah?'

Dijawabnya, 'Bila seseorang yang baik, dia menemui Allah bagaikan orang yang pergi jauh pulang menemui kekasih pujaan hatinya. Namun bagi pendosa bagaikan orang yang dikejar-kejar oleh singa yang kelaparan dan pulang penuh ketakutan.'

Menangislah Sulaiman dan berkata, 'Ya Allah, bagaimana aku nanti disisiMu? aku teringat firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 'Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar dalam surga yang penuh kenikmatan dan sesungguhnya orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.' (QS. al-Infithar : 13-14).

Kemudian ia bertanya, 'Dimanakah rahmat Allah?' Abu Hazim menjawab, 'dekatlah dengan orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan), pada mereka bertebaran rahmat Allah.'

Saturday, September 25, 2010

Keajaiban Shodaqoh

Ada seorang ibu karena menjaga anaknya yang sedang sakit. Setelah anaknya sembuh, ibunya yang jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Sampai seorang dokter menghubungi sang suami karena kondisi istrinya sedang kritis, Jauh harapannya untuk bisa sembuh setelah diperiksa secara medis. Sewaktu beliau dikantor, menjadi gelisah dan tidak tenang bekerja. Teringat anak-anaknya yang masih membutuhkan kehadiran seorang ibu dan kecintaanya kepada istrinya yang telah mendampingi dalam mengarungi samudra kehidupan, baik suka ataupun duka.

Kemudian beliau datang ke Rumah Amalia. Ditengah himpitan berbagai persoalan yang dialami oleh beliau. Air matanya menetes, suaminya merasa sedih dengan kabar sang istri sedang dalam kondisi kritis. Beliau berniat bershodaqoh untuk anak-anak Amalia memohon kepada Allah agar diberikan kesembuhan untuk istrinya yang tercinta.

Ketika beliau di rumah sakit, seorang dokter perempuan yang menangani istri beliau sejak dari awal mengabarkan nampak tanda-tanda kesembuhan pada istrinya. Dari ruang ICU dipindahkan ke ruang biasa. Peralatan yang menempel ditubuhnya sudah mulai dicopotin. Setelah seminggu kemudian diizinkan untuk pulang. Pada satu kesempatan beliau bersama istri dan anak-anaknya berkenan untuk mampir ker Rumah Amalia. Suami dan istri itu tak mampu membendung air matanya, mereka menangis karena bahagia dan memuji kebesaran Allah. Sungguh benar yang disabdakan oleh Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam.

'Obatilah orang-orang yang sakit kalian dengan mengeluarkan shodaqoh dan bentengilah harta kalian dengan mengeluarkan zakat dan siapkan untuk menolak bencana dengan berdoa.' (HR. Baihaqi).

Thursday, September 23, 2010

Pentingnya Doa

Sejak alam barzah, manusia sudah didesain oleh Sang Pencipta sebagai makhluk yang mengakui adanya Allah Yang Maha Kuasa. (Q/7:172). Oleh karena itu naluri manusia cenderung mencari perlindungan kepada Yang Maha Kuat, terutama ketika sedang merasa terancam. Bukan hanya orang beragama, orang tidak percaya Tuhan-pun ketika melepas prajuritnya ke medan perang, mereka mengucapkan Semoga kalian menang. Kalimat semoga adalah ungkapan religius, ungkapan doa, yakni mengharap campur tangan kekuatan gaib yang diyakini lebih besar dibanding kekuatan manusia.

Dalam perspektif way of life seorang muslim, kehadiran manusia di muka bumi diberi status sebagai khalifah Allah, sebagai wakil Allah yang diberi amanat untuk menegakkan kebenaran dalam kehidupan manusia untuk mencapai rida Allah sebagai tujuan hidupnya. Untuk mencapai tujuan itu manusia diberi alat hidup, yaitu dirinya, fisik maupun psikis, dan harta atau alam yang memang disediakan Allah sebagai fasilitas.

Dengan potensi itu manusia menjadi makhluk yang paling besar peluangnya untuk menjadi yang terhebat di muka bumi. Akan tetapi di sisi lain, manusia juga diberi status oleh Allah sebagai `abdun, sebagai hamba, yang memiliki serba keterbatasan, dan Allah tidaklah menciptakan manusia kecuali agar mereka mengakui dirinya sebagai `abdun, yang harus meng abdi, atau beribadah, menyembah kepada Sang Pencipta (Q/51:56). Inilah status kembar manusia di hadapan Allah. Di satu sisi manusia adalah besar, memiliki tanggung jawab dan kewenangan yang besar, karena menjadi wakil dari Allah yang Maha Besar. Di sisi lain manusia adalah kecil, karena ia tak lebih hanyalah seorang hamba yang lemah, terbatas dan hidupnya sangat bergantung kepada berbagai faktor. Manusia akan menjadi kuat apabila ia menempel kepada kekuasaan Allah Yang Maha Kuat.

Itulah sebabnya kita selalu berkata bahwa tiada daya dan kekuatan yang efektif tanpa seizin Allah yang Maha Agung, La haula wala quwwata illa billah al `Aliyy al `Azim. Sebaliknya manusia akan diperdaya dan dipermainkan oleh perbuatan sendiri yang menipu, jika ia jauh dari rida dan rahmat Allah. Allah akan mengangkat martabat manusia yang rendah hati, dan akan menjatuhkan ke dalam kehinaan terhadap manusia yang menyombongkan diri. Di sinilah medan seni antara usaha dan doa. Di satu sisi, Al Qur’an banyak sekali memerintahkan manusia agar bekerja dan berusaha, tetapi di sisi lain Al Qur’an juga memerintahkan agar orang bertawakal (berpasrah diri kepada Allah) atas hasil dari pekerjaan dan usahanya. Disamping menyuruh bekerja, Al Qur’an juga menyuruh untuk berdoa kepada Allah, disertai jaminan bahwa Allah akan mengabulkan doa manusia (Q/40:60), karena Allah memang mendengarkan doa-doa hambanya (Q/14:39). Kata Nabi, doa adalah sumsumnya ibadah ad du’a mukh-khul `ibadah.

Wednesday, September 22, 2010

Ikhlas Itu Indah

Hujan rintik-rintik membasahi bumi, udara berhembus terasa segar. Seorang pemuda telah selesai menunaikan sholat dzuhur berjamaah di masjid. Pandangannya menyapu ke arah halaman masjid, tidak jauh darinya ada seorang perempuan tua yang duduk ditengah lapangan menarik perhatiannya. Tiba-tiba sebuah tas kecil dari tempat nenek itu terbang tertiup angin kencang. Segera pemuda itu memperhatikan teriakan nenek itu minta tolong, ingin tasnya diambilkan.

Merasa terpanggil pemuda itu segera berlari mengejar tas kecil, terlihat tas itu telah melesat jauh, dia berlari dengan terengah-engah kelelahan. Berlarilah pemuda itu sekuat tenaga dan tas kecil itu berhasil juga dipegangnya. Nampak keringat bercucuran, dengan hati penuh kebahagiaan dia berlari kecil mengantarkan tas kecil. Terlintas didalam hatinya lelah yang dirasakan tentunya akan disambut dengan senyuman dan ucapan terima kasih sang nenek sudah cukup sebagai balasan atas kebaikan yang telah dilakukannya.

Namun diluar didugaannya, sang nenek segera merebut tas kecil itu dan membalikkan tubuhnya dengan wajah yang cemberut, sepintas seperti marah. Pemuda terkejut bukan main. Jangankan senyuman dan ucapan terima kasih, wajah ramahpun tidak terlihat. Pemuda itu kebingungan. 'Apa dosaku ya?' ucapnya lirih. Dia tak bisa bergerak, malu, kesal, kecewa tercampur aduk.

Berkali-kali pemuda istighfar, siang itu dirinya menemukan pelajaran yaitu makna ikhlas. Ya tentang keikhlasan. Keikhlasan berarti tidak pernah berharap apapun, bahkan balasan walaupun berupa senyuman dari yang kita perbuat. Lakukanlah segala perbuatan baik semata-mata karena Allah. Itulah yang disebut dengan ikhlas. Siang itu dihalaman masjid, pemuda itu mendapatkan pelajaran bahwa ikhlas itu indah.

'Dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka, tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakan.' (QS. At-Thuur : 21).

Tuesday, September 21, 2010

Keajaiban Bersyukur

Pernah di Rumah Amalia, saya kedatangan tamu, seorang bapak yang baru saja terkena PHK. Menurut penuturannya di kantor tempatnya bekerja sedang ada pengurangan tenaga kerja dan dirinya salah satu orang yang terkena PHK. Ada informasi bahwa masa kerja dibawah 10 tahun hanya akan mendapatkan 1 setahun gaji pesangon.

Dengan wajah yang penuh senyuman beliau mengatakan, 'Alhamdulillah, saya yakin ada rencana Allah yang terindah untuk saya dan keluarga saya dibalik PHK ini, Itulah sebabnya saya niatkan bershodaqoh untuk anak-anak Amalia agar PHK ini mendapatkan keberkahan Allah Subhanahu Wa Ta'ala bagi saya dan keluarga saya.' Ucap beliau penuh keyakinan. Mungkin PHK menjadi momok bagi orang lain namun keyakinannya ada hikmah dibalik PHK yang dialaminya, membuat hati beliau menjadi kokoh dan disandarkan hidupnya kepada Allah semata.

Hampir satu minggu menunggu kepastian uang pesangon akhirnya cair juga, yang didapatkan 75 juta. Uang itu digunakannya untuk usaha, alhamdulillah, rizki yang Allah berikan semakin melimpah dengan usaha yang sekarang dikelola semakin maju dan berkembang bahkan sudah memiliki ruko sendiri. Begitulah gambaran orang yang senantiasa bersyukur . Bersyukur adalah melihat kepada Sang Pemberi nikmat, bukan melihat kepada nikmat, Itulah keajaiban bersyukur.

'Dan barangsiapa bersyukur pasti Kami akan menambah nikmat Kami kepada kalian.' (QS. Ibrahim : 7).

Cukuplah Allah Menjadi Penolong Kami

Bila kita sedang menghadapi berbagai ujian, cobaan, musibah barulah menyadari kita memerlukan pertolongan. Kita baru tersadar bila kita tertimpa ujian dan cobaan yang bertubi-tubi, seolah terlempar ke dunia yang terasa begitu berat membuktikan bahwa kita makhluk yang lemah, tidak berdaya, kita memerlukan bantuan, kita memerlukan bantuan. Namun kepada siapa kita meminta pertolongan? Bukankah disekeliling kita juga membutuhkan pertolongan? Secercah harapan dalam hidup kita hadir bila kita menyakini 'Hasbunallah wanikmal wakil' (QS. Ali Imran: 173). Artinya, 'Cukuplah Allah menjadi penolong kami.'

Ketika Nabi Ibrahim Alaihi Salam dilempar ke dalam kobaran api, beliau mengucapkan 'Hasbunallah wanikmal wakil' Allah menjadikan api yang panas menjadi dingin sehingga Nabi Ibrahim selamat dari kobaran api yang membara. Demikian juga ketika Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam dan para sahabatnya mendapatkan ancaman juga mengucapkan 'Hasbunallah wanikmal wakil' yang membuatnya selamat dari marabahaya.

'Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia sebaik-baiknya pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana dan mengikuti keridhaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar.' (QS. Ali Imran : 173-174).

Kita tidak akan bisa mampu melawan bencana, menaklukkan semua derita dan mencegah musibah yang datangnya setiap saat dengan cara kita sendiri sebab kita memiliki kemampuan yang terbatas, kita diwajibkan berikhtiar untuk menyelesaikan setiap masalah bagaimana hasilnya selebihnya kita menyerahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jika tidak demikian, adakah jalan keluar yang lebih baik untuk kita tempuh disetiap kita menghadai ujian dan cobaan?

'Dan bertawakallah engkau hanya kepada Allah, jika engkau orang-orang yang beriman.' (QS. al-Maidah : 23).

Teman yang berbahagia, bertawakallah kepada Allah yang Maha Kuat dan Maha Sempurna yang kekuatannya begitu teramat besar tak terbatasi, jadikanlah 'Hasbunallah wanikmal wakil' sebagai amalan yang bermakna dalam setiap langkah kita. jika anda sedang terlilit hutang, menghadapi cobaan yang beruntun, kehilangan pekerjaan, rizki yang seret, dikhianati orang yang anda cintai, sedang dalam keadaan sakit parah, jika anda takut terhadap perlakuan orang berbuat dzalim, mengadu dan berharaplah kepada Allah dengan mengucap 'Hasbunallah wanikmal wakil' Insya Allah, ujian, cobaan, penderitaan dan masalah kita selesai dengan pertolongan Allah. Amin..

Monday, September 20, 2010

Peran Pemimpin Menanggulangi Krisis Bangsa

Al-Qur’an mengabadikan dalam banyak ayat-ayatnya sejumlah nama tokoh/pemimpin masyarakat dari ummat-ummat terdahulu, bukan saja pemimpin, pahlawan perjuangan kebenaran dan keadilan seperti para nabi dan rasul, tetapi juga diabadikan nama tokoh-tokoh pemimpin kezaliman (ketidakbenaran dan ketidakadilan) seperti Fir‘aun, Haman, Qorun, Namrud dan lain sebagainya. Kita semua ummat zaman akhir ini diajak berfikir dan mengambil pelajaran dari sejarah masa lalu itu, di antaranya betapa perilaku yang berubah dalam diri para pemimpin (dari komitmen idealisme ke penyelewengan) berujung pada merajalelanya kezaliman dan penindasan (ketidakbenaran dan ketidakadilan), dan akhirnya menyeret mereka bersama-sama dengan ummatnya ke dalam suatu perubahan total dimana rakyat ditelan oleh krisis, yang disadari atau tidak mereka para pemimpin telah menjadi faktor penyebabnya. Al-Qur’an kemudian menjelaskan bahwa hal yang demikian —yakni kehidupan jaya yang mereka nikmati berubah menjadi derita— terjadi disebabkan perubahan yang mereka lakukan atas sikap hidup dan perilakunya yang berujung pada kezaliman dan penindasan (Dzalika bi anna Allah lam yaku mughayyiran ni‘matan ’an‘amaha ‘ala qaumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim, al-Anfal ayat 53).

Dengan merujuk petunjuk Al-Qur’an tersebut di atas, dapat kita lihat betapa faktor peran pemimpin menjadi penting dalam suatu perubahan yang terjadi atas sesuatu masyarakat dari suatu kondisi positif beralih ke kondisi negatif. Oleh karena itu, upaya penanggulangan krisis moral yang disadari menjadi pangkal krisis-krisis lainnya yang sedang melanda bangsa dan negara kita dewasa ini, haruslah bertitik tolak dari reformasi moral kepemimpinan. Upaya ini harus dimulai dari pembersihan niat, perilaku dan moralitas pemimpin-pemimpin masyarakat/pemegang kendali di sektor-sektor kehidupan masyarakat (ulama dan umara). Mereka diharapkan mampu mengembangkan dalam kehidupan pribadinya masing-masing, pola hidup Bersih, Sederhana, dan Mengabdi. Yang lebih penting lagi bagi ulama dan umara adalah upaya menjadikan dirinya (kehidupan pribadinya) suatu keteladanan dan pencerminan yang meyakinkan bahwa penerapan pola kehidupan yang Bersih, Sederhana dan Mengabdi yang merupakan wujud nyata dari moralitas luhur (Akhlak Mulia) itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Dengan demikian, maka masyarakat akan percaya kepada pemuka atau pemimpinnya. Pola hidup BSM (Bersih, Sederhana dan Mengabdi) itu yang perlu dimasyarakatkan dengan kepeloporan para ulama dan umara hingga menjadi moral ekonomi, moral politik dan moral hukum, dan terus diupayakan pengembangannnya di sektor-sektor kehidupan lainnya sehingga pada saatnya menjadi Akhlak Bangsa dan Moral Nasional sebagai landasan Pembangunan Nasional. Umara (Pemimpin Pemerintahan) perlu berupaya menciptakan suatu iklim yang kondusif bagi pemasyarakatan dan penyebarluasan pesan-pesan moral (yang terutama ditangani para ulama). Juga dipandang perlu, ulama dan umara secara bersama-sama menyatakan perang terhadap korupsi dalam suatu kampanye anti korupsi, yang membina terus-menerus upaya menegakkan kedaulatan moral menjadi bagian dari kedaulatan rakyat. Insya Allah taufiq dan ma‘unah-Nya akan senantiasa menyertai bangsa

Bahaya Dengki

Diantara penyakit yang merusak pahala puasa adalah dengki, dalam bahasa Arab disebut hasad. Dengki adalah perasaan tidak senang atas keberuntungan orang lain disertai usaha menghilangkan dan memindahkan keberuntungan itu kepada diri sendiri (an tatamanna zawala ni`mat al mahsud ilaika). Adapun menginginginkan hal yang serupa dengan yang diperoleh orang lain tidak termasuk dengki, karena al Qur’an bahkan menyuruh kita berlomba meraih kebajikan (fastabiq al khoirat).

Mengapa orang mendengki ? Dasar dari sifat dengki adalah adanya keinginan orang untuk menjadi orang nomor satu, menjadi orang yang terhebat, terkaya, terhormat dan ter-ter yang lain, yang berkonotasi rendah. Dalam bahasa agama, dunia dengan segala urusannya adalah sesuatu yang rendah. Dalam bahasa Arab, dun ya artinya dekat atau rendah atau hina. Jadi orang hanya mendengki manakala yang diperebutkan itu sesuatu yang rendah, hina dan berdimensi jangka pendek, ibarat `orang yang memasuki lorong sempit yang hanya muat satu orang. Ruang sempit itulah yang menyebabkan para peminat harus berdesakan dan saling menyikut. Selanjutnya jika ada satu orang yang telah berhasil memasuki lorong dan berhasil menduduki kursi duniawi yang diperebutkan, kursi presiden misalnya, maka orang yang belum berhasil memandang orang yang telah berhasil sebagai hambatan yang harus disingkirkan, sementara orang yang telah berhasil menduduki kursi itu memandang orang lain yang berminat sebagai ancaman yang juga harus dihambat.

Adapun jika memperebutkan sesuatu yang besar, mulia dan berdimensi panjang hingga akhirat, maka diantara para peminat justeru terdapat hubungan. Orang yang merindukan derajat takwa misalnya, ia akan senang jika ada orang lain yang bermaksud sama. Demikian juga orang yang ikhlas berdekah, maka ia sangat senang jika ada orang lain yang juga gemar bersedekah. Jika diantara orang yang ingin menjadi orang dekat presiden terdapat saling iri, saling menjegal dan sebagainya, hal itu adalah karena sempitnya ruang untuk menjadi orang dekat presiden, Tetapi jika ingin menjadi orang yang dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka seberapapun banyaknya orang yang menginginkan, disana tersedia ruangannya, karena Allah Maha Luas rahmat Nya.

Dengki itu sangat berbahaya, bukan hanya bagi diri pemiliknya tetapi juga bagi masyarakat luas. Dengki itu kata hadis nabi ibarat setitik api yang dapat membakar kayu bakar seberapapun banyaknya. Ia juga bagaikan pisau cukur yang bisa mencukur bersih amal seseorang. Kata Nabi, hanya dua hal orang boleh iri; yakni jika ada orang yang dikaruniai ilmu banyak, ia dapat mengajarkan kepada orang lain dan juga yang bersangkutan mengamalkannya. Kedua, jika ada orang yang dianugerahi banyak harta, tetapi ia membelanjakannya di jalan yang benar hingga habis, Wallohu a`lamu bissawab.

Sunday, September 19, 2010

Keajaiban Berbagi

Pada suatu hari ada seorang laki-laki muda datang ke Rumah Amalia. Siang itu di depan pintu pagar memberikan salam, 'Assalamu'alaikum, Mas Agus Syafiinya ada?' katanya. Hana berlari memanggil, 'Wa'alaikum salam..Ayah, ada tamu.' Saya bergegas menyambutnya. pemuda itu memperkenalkan dirinya. Dia memperkenalkan dirinya sebagai salah satu penggemar tulisan saya, kehadirannya siang itu kami berbincang banyak hal. pemuda itu bercerita pernah mengalami sendiri tentang keajaiban berbagi. 'Saya sendiri mengalaminya Mas, seperti yang Mas Agus pernah tulisa tentang rizki yang tidak terduga. Saya yakin Allah mendengar doa saya ketika saya sudah melakukan dengan ikhlas berbagi dengan orang lain ketika dalam kesusahan.'

Dalam penuturannya bahwa dirinya pernah mengalami keputusasaan. Setelah lulus kuliah, hampir dua tahun menganggur, sudah mencoba kesana kemari melamar pekerjaan tidak membuahkan hasilnya. Sampai suatu hari ditengah ikhtiarnya berusaha mencari pekerjaan. Ditengah lelah dan letih, sudah capek keliling Kota, istirahat minum dipinggir jalan terminal Pulo Gadung, dia bertemu dengan seorang ibu dengan membawa pakaian ditawarkan kepada setiap orang yang ditemuinya. Ibu itu menawarkan dengan harga lima ribu rupiah. Sementara uang yang tersisa tinggal sepuluh ribu rupiah. Di depannya sang ibu berkata, 'Mas, mau nggak beli pakaian bekas saya? Anak saya rewel dari pagi belum makan, saya mau beli makan nggak punya uang..' Tanpa berpikir panjang pemuda itu memberikan uangnya lima ribu rupiah, 'Ibu ambillah uang ini untuk beli makan putra ibu dan bawa kembali pakaiannya.' ucapnya. Ibu itu mengucapkan terima kasih berkali-kali kemudian pergi meninggalkannya.

Seminggu kemudian, dia mendapatkan panggilan kerja diperusahaan telekomunikasi, setelah menunggu dua tahun akhirnya mendapatkan panggilan kerja disebuah perusahaan yang diharapkannya. Keberkahan dari perbuat baik yang dilakukan membuat doanya diijabah oleh Allah Subahanahu Wa Ta'ala. 'Allah dengan begitu indahnya mengambilkan doa saya, dengan keikhlasan memberikan uang lima ribu rupiah apa yang saya harapkan diijabah oleh Allah.' tuturnya. 'Bahkan sampai sekarang saya masih bekerja diperusahaan itu Mas dengan gaji lumayan cukup memenuhi kebutuhan saya.' Subhanallah..

Saturday, September 18, 2010

Jas Hujan

Setiap kali melihat jas hujan, saya selalu teringat seorang teman yang bercerita tentang jas hujan, teman itu bertutur, Mas Agus, setiap kali turun hujan saya selalu meneteskan air mata. Dulu sewaktu saya kecil, saya selalu ingin mempunyai jas hujan. Waktu saya kelas Tiga SD hampir semua teman-teman telah memiliki jas hujan. mereka terlihat gagah dengan jas hujannya. semuanya berwarna cerah nan indah. tetapi ibu tak punya cukup uang untuk membelinya. Walaupun kesal dan kecewa, saya harus tetap menahan keinginan untuk memiliki jas hujan.

Sampai pada suatu hari kekecewaan itu memuncak, ketika saya pulang sekolah, hujan turun deras, saya kecewa dengan ibu sebab jika saya mempunyai jas hujan saya tidak perlu basah kuyup kena hujan dan bisa berlarian bersama teman-teman yang lain. Disaat teman-teman tertawa menikmati hujan, saya harus berjalan pulang dengan tubuh basah kuyup. Ditengah jalan saya bertemu dengan ibu. Ibu membawakan payung untuk saya, karena sudah terlanjur marah, tak terima dengan payung itu kemudian ngambek.

Ibu mendekap tubuh saya dengan memayungi agar tidak terlalu basah kuyup, hujan makin deras dan kami berjalan pulang sekalipun saya ngambek dan menolak untuk dipayungi. Sesampai di rumah ibu dengan membawa handuk, ada kehangatan yang segera menyergap, saya menjadi tenang. tak ada kata-kata yang keluar dari ibu selain menghangatkan saya dengan handuk, tangannya membersihkan setiap air hujan yang melekat ditubuh. Disekanya kepala saya agar nanti tidak sakit, masih dengan diam ibu menggantikan pakaian, setelah itu ibu membuatkan secangkir teh hangat dan menyodorkannya untuk saya, saya bergegas meminumnnya. Kehangatan terasa hadir didalam badan saya. Walaupun saya tidak pernah tahu, saya yakin ada kehangatan lain yang diberikan ibu pada saat itu.

Mas Agus, begitulah ibu tidak mampu membelikan saya jas hujan seperti yang saya harapkan namun payungnya telah membuat saya aman. Ibu tidak mampu membelikan saya jas hujan tetapi dekapan ibu membuat saya terhindar dari sakit. Ibu memang tidak bisa membelikan jas hujan namun usapan lembut ibu adalah segalanya bagi saya. Lingkaran tangannya ditubuh saya adalah dekapan yang paling indah. Secangkir teh manis telah menghangatkan tubuh saya. Ya, rintik hujan selalu membuat saya menangis karena teringat ibu. Terima kasih ibu.. yang tidak membelikan saya jas hujan karena apa yang telah diberika ibu selama ini telah membuat hidup saya bahagia.

Thursday, September 16, 2010

Itulah Yang Terbaik Bagiku

Bila hidup terasa berat menjalaninya, Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam adalah contoh sempurna dari insan yang mengalami penderitaan dan bagaimana beliau menghadapinya serta perkembangan setelah kehilangan dan penderitaan. Kerendahan hati Nabi patut menjadi teladan kita. Dalam kebahagiaan dan kegembiraan, mendengar pujian, sanjungan dan makian apapun beliau tetap rendah hati dan memuji Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ketaatan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam pada kehendak Allah merupakan cermin iman yang luas biasa. Berbagai penderitaan tidak membuat beliau putus asa, lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah. Dari semua kedukaan dan penderitaan yang dialami setiap insan, tidak ada yang melebihi kesedihan dan penderitaan Nabi, Tak seorangpun di dunia ini mengalami kisah hidup seperti Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam yang sejak kecil sudah sebagai yatim piatu. Maka meneladani Nabi berarti menyatukannya kehilangan, penderitaan, kesedihan, tekanan kejiwaan dan berbagai kesulitan yang kita alami.

Dengan penderitaan, kita persembahkan semuanya untuk kemuliaan Allah, kita memohon bantuanNya agar dalam mengatasi semua penderitaan hidup kita bisa bersikap sabar, tawakal, tabah, ikhas, berani berharap dan senantiasa sanggup menjalani hidup dengan memohon padaNya, 'Ya Allah, aku ini adalah hambaMu. Terjadilah padaku menurut kehendakMu. Itulah yang terbaik bagiku..'

Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. ( QS. 65: 2-3).

Wednesday, September 15, 2010

Sholat Sebagai Mi'raj Seorang Mukmin

Pandangan bahwa sholat adalah mikrajnya kaum beriman merujuk pada pendapat yang kedua, yakni bermi`raj secara spiritual. Sholat yang khusyu` dimungkinkan dapat mengantarkan orang mukmin berjumpa, ber muwajahah, ber muhawarah dan ber munajat, berkomunikasi secara intens dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala Bagaimana caranya?

Imam Gazali dalam Ihya `Ulumuddin menyebut enam makna batin yang dapat menyempurnakan makna sholat, yaitu ; (1) kehadiran hati, (2) kefahaman, (3) ta`zim, mengagungkan Allah, (4) segan, haibah, (5). Berharap, raja, dan (6) malu.

1. Yang dimaksud dengan kehadiran hati (hudur al qalb) dalam sholat ialah bersihnya hati dari hal-hal yang tidak semestinya terlintas di dalam sholat, sinkron antara apa yang diucapkan dalam sholat dengan apa yang difikirkan.

2. Yang dimaksud dengan kefahaman, tafahhum, adalah faham terhadap makna dari apa yang diucapkan dalam sholat. Kefahaman akan makna yang dibaca akan dapat membantu menghadirkan hati.

3. Yang dimaksud dengan ta`zim ialah sikap hormat kepada Allah. Ta`zim merupakan buah dari dua pengetahuan, yaitu pengetahuan penghayatan atas kebesaran Allah dan kesadaran akan kehinaan dan keterbatasan dirinya sebagai makhluk.

4. Yang dimaksud dengan haibah ialah perasaan takut kepada Allah yang bersumber dari kesadaran bahwa kekuasaan Allah itu amat besar dan efektif serta menyadari bahwa hukum Allah atau sunnatullah itu pasti berlaku. Oleh karena itu ia sangat takut melanggar hukun-hukumnya, karena akibatnya merupakan satu kepastian.

5. Yang dimaksud dengan raja’, penuh harap, adalah selalu berfikir positif bahwa Allah Maha lembut dan luas kasih sayangNya. Di dalam sholat, perasaan harap dan cemas silih berganti, cemas takut melanggar, dan berharap memperoleh rahmatNya.

6. Sedangkan perasaan malu, haya’ kepada Allah bersumber dari kesadaran akan banyaknya kekurangan pada dirinya dalam menjalankan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala..

Menurut Imam Gazali, jika ke enam hal itu berkumpul pada orang sholat, maka hatinya akan menjadi khusyu` karena seluruh cita rasanya, seluruh kesadarannya, tertuju hanya kepada Yang Satu, Yang Maha Agung, yang dihormati, ditakuti, tapi menjadi tumpuan harapannya. Aisyah pernah menceriterakan bahwa di luar sholat, Nabi biasa berbincang-bincang akrab dengan siapapun, tetapi ketika sedang sholat, beliau seakan-akan tidak mengenal orang lain, dan Aisyahpun bersikap seperti tidak mengenal beliau.

Khusyu akan mudah dicapai oleh orang yang lurus pandangan hidupnya, karena kekeliruan pandangan hidup akan menyulitkan pemusatan perhatian dalam beribadah. Kelezatan bermunajat hanya dimiliki oleh orang yang sudah tidak lagi mencintai harta benda duniawi, karena seperti yang dikatakan oleh al Gazali bahwa orang yang masih bergembira dengan harta benda, apalagi yang masih mencampur adukkan kebaikan dengan keburukan, ia tidak dapat bergembira dalam bermunajat kepada Allah. Cinta harta dan cinta kepada akhirat tidak bisa menyatu dalam satu wadah.

Hadirnya Sang Buah Hati

Disaat hari raya Idul Fitri, kami di Rumah Amalia saya mendapatkan kunjungan dari seorang sahabat bersama istri dan putrinya yang cantik yang berumur satu tahun. Setelah menginjak sebelas tahun pernikahannya namun buah hati yang dinantikan akhirnya terwujud.

Diawal pernikahannya belum dikaruniai anak tentunya mereka risau dan gelisah. Kondisi seperti ini biasanya setiap pasangan menjadi merasakan beban paling berat. Padahal semua itu bukanlah kesalahan suami atau istri, melainkan karena Allah memang belum berkenan menitipkan momongan. Berjalan seiring waktu, ikhtiar juga dilakukan, mereka berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan kondisi dinyatakan sehat. Dokter memberikan beberapa obat untuk memperbaiki vitalitas namun sayang pengobatan oleh dokter belum membuahkan hasil.

Sebagai gantinya beralih dengan pengobatan herbal dan alternatif lainnya, tetapi sayang semuanya tidak menampakkan hasil. Seiring perjalanan waktu, kesabaran dan pasrahan kepada Allah tertanam dilubuk hatinya. Pasangan itu menyadari hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang berkuasa memberikan keturunan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Keinginan untuk memiliki anak tak pernah terhenti dan tetap bedoa, menyerahkan urusannya hanya kepada Allah.

Sampai suatu hari beliau bersama istri tercinta berkunjung ke Rumah Amalia. Berniat untuk bershodaqoh dan berdoa bersama anak-anak Amalia agar Allah berkenan mengabulkan doanya untuk segera mendapatkan momongan. Namun tak disangka-sangka, Allah berkenan mengabulkan doanya yang beliau panjatkan, terlebih saat berdoa di Rumah Amalia.

Setahun setelah dari Rumah Amalia, istrinya hamil dan melahirkan dengan selamat. Beliau bersama istrinya menikmati buah kesabaran dan kepasrahannya. Mereka telah dikaruniai putri yang cantik. Mereka bersyukur setelah sebelas tahun pernikahannya , akhirnya Allah melimpahkan karuniaNya berupa seorang putri yang lucu. Subhanallah..

Tuesday, September 14, 2010

Pahlawan Bagi Anak Kita

Pernah satu hari anak-anak Amalia mendapatkan tugas menggambar dengan tema cita-citaku. Salah satu anak Amalia menggambar sosok yang berdiri di depan murid-muridnya. 'Ini cita-citamu jadi apa?' tanya saya. 'Jadi guru, seperti Kak Agus.' jawabnya dengan suara yang lantang. Wajah dan gerak tubuhnya dengan penuh kebanggaan. Terdengar suara Anak-anak Amalia yang lainnya tertawa. Suara menjadi riuh ramai. Kegembiraan terpancar dari wajahnya.

Anak-anak pada dasarnya membutuhkan sosok pahlawan, yang akan membuat dirinya tumbuh menjadi dewasa sebagai pribadi yang bangga dan membanggakan. Mereka membutuhkan orang yang dikagumi. Orang yang kuat saat bersamanya dan mereka merasa terlindungi. Kehadiran sahabat yang menuntun dan mendorong mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan mandiri. Anak-anak membutuhkan teladan.

Pernah saya melihat Hana (5 th), putri saya yang menirukan cara saya berbicara di depan anak-anak Amalia. Saya sempat bertanya padanya, 'kenapa menirukan Ayah?' Hana menjawabnya, 'Ayah hebat!' Saya baru menyadari bahwa anak membutuhkan sosok pahlawan untuk dijadikan teladan.

Anak adalah amanah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jadikanlah diri kita sebagai orang tua yang mencontohkan kegembiraan dalam memenangkan kualitas hidup yang lebih baik, agar anak-anak kita juga bersemangat untuk menjadi diri mereka sebagai insan yang bahagia, tumbuh sehat, cara pandang yang lurus dan iman yang kuat. Bagi anak, sosok pahlawan adalah orang yang mampu menuntun, mendorongnya, mengokohkan jiwa dan mampu mencintainya dengan setulus hati.

Sunday, September 12, 2010

Selamat Dari Kehancuran

Di Rumah Amalia seorang bapak bertutur kepada saya, pertengkaran demi pertengkaran mewarnai rumah tangga kami, tak terelakkan lagi. Sampai pada suatu hari istrinya mengancam, memaksa minta cerai. Dalam keadaan emosi dirinya menjawab tantangan itu, 'Siapa takut? Ayo kita urus..!' Meskipun orang tua dan saudaranya menahan agar bersabar, toh istrinya tetap memaksa malam itu juga pulang ke rumah orang tuanya dengan membawa anak laki-lakinya yang baru berumur satu tahun, sementara anak laki-laki yang sulung berumur empat tahun tetap bersamanya.

Setelah bepergian istrinya, terasa betapa repotnya harus memasak, mengurus rumah tangga, mencuci, membersihkan lantai, memandikan anak, memakaikan baju, menyuapi. Padahal dirinya juga harus membuka toko yang ada di depan rumah. Rasa sepi, marah, dendam, kecewa, kesal atas semua yang terjadi bercampur aduk dalam pikirannya. Hidupnya menjadi kacau, rumah dan tokonya lama-lama tak terurus, anaknya dan dirinya terbengkalai, mulailah terseret oleh pengaruh judi dan kehidupan malam. Makin lama usahanya semakin habis. Orang tuanya marah atas semua kelakuaan dan cara hidupnya.

Matanya nampak berkaca-kaca, wajahnya terlihat letih. Malam itu di Rumah Amalia terasa hening. Tidak lama kemudian istri saya menyuguhkan teh manis dan kue. Beberapa kali terlihat tangannya menyeka air mata yang sudah berjatuhan dipipinya. Saya kemudian mempersilahkan untuk mengambil air wudhu dan mengingatkan bahwa apapun yang terjadi pada dirinya untuk mengembalikan semua masalah hidupnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan menerima dengan ikhlas apapun yang telah terjadi. 'Jemputlah istri dan meminta maaf adalah tindakan mulia agar semuanya berkumpul kembali,' pesan saya padanya sebelum akhirnya pamit pulang.

Tidak peduli akan harga diri atau kesombongan. Dirinya dan anaknya membutuhkan sosok istrinya dalam segala hal, meski dia tahu bagaimana kelakuan dan sifatnnya. Berkali-kali menjemput istrinya meskipun orang tua melarang untuk merendahkan diri sedemikian rupa. Akhirnya sang istri mau kembali ke rumah. Hari-hari berlalu jauh lebih indah dibanding sebelumnya. Keadaan ekonomi semakin membaik, kata-kata pahit yang biasa keluar sudah dilupakan. Suara lantunan ayat suci al-Quran senantiasa terdengar setiap sehabis sholat maghrib. Ujian dan cobaan yang Allah berikan pada keluargannya telah mampu dilewatinya dengan baik. Keluarganya selamat dari kehancuran dengan memohon pertolongan kepada Allah.

Di hari kemenangan, bersama istri dan anak-anaknya, beliau hadir dengan wajah penuh senyuman, senyum penuh keberkahan dan kemuliaan di Rumah Amalia. Hari yang indah terasa syahdu disaat berkumandang takbir menyentuh kalbu. Saya juga bisa merasakan kebahagiaan yang begitu indah. 'Terima kasih Mas Agus, Alhamdulillah, Segala Puji Bagi Allah. Allah begitu sangat menyayangi kami sekeluarga yang telah menyelamatkan kami dari kehancuran,' ucapnya penuh syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Subhanallah..

Memaafkan Itu Menyehatkan

'Balaslah perbuatan mereka setimpal dengan apa yang mereka perbuat kepadamu. Namun jika engkau lebih memilih menahan diri itu lebih baik.' (QS. An-nahl : 126). Penjelasan diatas bahwa obat terbaik untuk menyembuhkan sakit hati adalah tidak membalas sakit hati dengan menyakiti melainkan dengan menahan diri kemudian memaafkan. Lantas bagaimana caranya?

Pertama, sadarilah bahwa menyakiti orang lain adalah sebuah kesalahan. Membalas sakit hati dengan menyakiti berarti kita lebih buruk daripada mereka maka lebih baik menahan diri kemudian memaafkan. Kedua, Setelah kita mampu menahan diri dan ini yang paling tidak mudah adalah menyayangi orang yang menyakiti kita sebagai sesama hamba Allah.

Kapan saat yang tepat kita memaafkan? Disaat kita merasakan sakit hati maka disaat itu pula, maafkanlah!. Maaf diperlukan untuk mengobati luka hati yang kita derita begitu teramat dalam, dan berkepanjangan, tak terlupakan. Sebab jika tidak memaafkan luka itu justru akan semakin mendalam dan membusuk di hati kita. Maka memaafkan berarti menyembuhkan dan memulihkan luka dihati. Jadilah pemaaf sebab kebaikan maaf ternyata berpulang pada diri kita sendiri, orang yang pemaaf adalah orang yang hidup sehat dan bahagia, sebab memaafkan hanya akan dilakukan oleh orang yang memiliki hati yang berlimpah kebahagiaan.

Saturday, September 11, 2010

Arti Kemenangan

Ramadhan telah berlalu namun perjuangan tidak akan pernah usai. Apapun yang kita perjuangkan melalui pertarungan pasti merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kita. Sebab itu anda dikenal dari apa yang anda pertarungkan. Bila hal kecil yang tidak penting, cukup untuk anda membuat bertarung dengan orang lain maka kecil dan tidak pentinglah anda. Bila yang anda perjuangkan adalah hal-hal yang mulia dan bernilai, maka mulia dan bernilailah anda.

Contoh yang ditunjukkan Thariq Bin Ziyad dengan membakar kapal cermin dari semangat dan daya juang yang tinggi dengan pasukannya menaklukkan Spanyol. Seorang Mukmin yang memiliki semangat tinggi dalam memperjuangkan apa yang diyakininya. Daya juang yang tinggi tercermin dari kesiapan mereka untuk mengorbankan apa yang dimilikinya, harta dan jiwa untuk menggapai keridhaan Allah Subhanahu Wa ta'ala.

'Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau merasa berat dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.' (QS. 9 : 41).

Api semangat menyala-nyala dalam dada Thariq beserta segenap pasukannya, api itu membakar spirit mereka untuk mencapai apa yang diperjuangkan menjadi 'Result' yang diharapkan yaitu menaklukkan Spanyol. Karena semangat Thariq memiliki tempat yang khusus, tumbuh subur dan berkembang diranah keimanan. Keimanan kepada Allah adalah bahan bakar yang tiada habis yang menyalakan api semangat perjuangan.

Kegigihan pada perjuangan hidup yang tumbuh diatas iman akan terus tumbuh dengan dzikir, makin banyak mengingat Allah, semakin yakin akan pertolonganNya, karena orang yang gigih akan konsisten menghadapi fase-fase perjuangan dan selalu berorientasi pada hasil, 'result oriented' yaitu kemenangan yang mendapatkan keridhaan Allah.

Memang dibutuhkan sebuah keberanian untuk 'syahid' mempertahankan sebuah prinsip tetapi dibutuhkan keberanian yang jauh lebih besar lagi agar tetap hidup dan berjaya dalam sebuah prinsip dan itulah sebuah pilihan yang indah. Seperti yang diucapkan oleh Thariq Bin Ziyad yang sangat terkenal, 'Kita hadir untuk menang bukan menjadi pecundang.' Sebuah kemenangan yang mendapatkan keridhaan Allah, kemenangan mengalahkan hawa nafsu diri kita membawanya ke alam kejayaan.

Tuesday, September 07, 2010

Minal A'idin Wal Fa'izin

Insya Allah besok hari Jumat kita merayakan hari Idul Fitri. Orang akan saling bersalaman dan mengucapkan minal `a’idin wal fa’izin. Apa artinya ?Di depan kelas pak guru bertanya kepada murid-muridnya; apa artinya minal `a’idin wal fai’izin ? serempak murid-murid menjawab; Mohon maaf lahir batin. Demikianlah memang anggapan masyarakat umum atas kalimat itu, padahal salah. Kalimat minal `a’idin adalah kependekan dari do’a Allohumma ‘ij`alna minal `a’idin waj`alna minal fa’izin, artinya; Ya Allah setelah berpuasa ini, jadikanlah kami termasuk orang yang bisa kembali (ke fitrah kami) dan sukses.

Apakah fitrah itu ? kata hadis Nabi, setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah. Fitrah adalah keadaan semula jadi, atau potensi dasar insan. Seperti apa potensi itu ? Pada dasarnya jiwa manusia itu sempurna, memiliki kemampuan membedakan yang buruk dari yang baik, memiliki kecenderungan kepada agama yang benar, memiliki kecenderungan lupa, mesra juga bergolak. Fitrah dasar manusia itu dapat dilihat ada bayi yang baru lahir, simpatik, menarik, lugu dan jujur. Semua aspek dari bayi itu menarik hati, tangisnya, geraknya bahkan pipisnya. Tidak ada seorangpun yang marah jika dipipisi bayi. Akan tetapi bersamaan dengan perjalanan waktu, yakni ketika sang bayi tumbuh dan berinteraksi dengan lingkungan, beraktualisasi diri, maka mulailah terjadi distorsi dari fitrahnya. Ketika anak-anak, ia mulai bandel dan rewel, ketika remaja ia bisa berbohong dan tawuran, ketika dewasa ia bisa merekayasa segala sesuatu secara curang demi untuk kepentingan diri, dan ketika ia berada pada puncak karir, ia bisa berubah menjadi jahat dan menyebalkan.

Nah, ibadah puasa dengan segala kelengkapannya dapat secara perlahan-lahan mengembalikan penyimpangan itu mendekat kepada fitrahnya yang jujur dan simpatik. Dalam berpuasa diajarkan untuk rendah hati kepada sesama, di dalam berpuasa diajarkan untuk kembali tekun beribadah, didalam berpuasa diajarkan untuk banyak memberi kepada orang lain, diajarkan untuk tidak berkata-kata kecuali yang benar, diajarkan untuk tidak melihat kecuali sesuatu yang halal, diajarkan untuk tidak mendengar kecuali sesuatu yang halal di dengar. Bohong, bergunjing, gossip, fitnah, adu domba, bertengkar, maksiat dan semua yang tercela secara keras tidak boleh dikerjakan selagi dalam bulan puasa. Jika itu semua diperhatikan maka seorang yang sudah sangat menyebalkan bisa berubah menjadi simpatik kembali. Mungkinkah ?

Belajarlah kepada ulat bulu yang sangat menjijikkan. Ketika ia bertekad untuk berpuasa dengan masuk ke dalam kepompong, dan di dalam kepompong selama tigapuluh enam hari hanya berzikir, maka ketika keluar dari kepompong, ia sudah berubah total dari ulat bulu yang menjijikkan menjadi kupu-kupu yang sangat menarik, berwarna warni terbang kian kemari.

Monday, September 06, 2010

Silaturahmi: Selamat Mudik, Hati2 Di Jalan Ya..

Setiapkali lebaran, terminal bus, stasiun kereta dan bahkan pelabuhan dan bandara dipenuhi oleh calon penumpang. Jalan raya pantura macet total menjelang hari lebaran. Mau kemana mereka, dan apa sebenarnya yang mereka cari ? Yah mereka mau mudik, mau pulang kampung. Apa yang mendorong mereka mau bersusah payah mudik lebaran ? Ada dua hal: pertama tradisi lebaran yang sudah ratusan tahun. Tradisi mempunyai kekuatan luar biasa dalam menggerakkan aktifitas sosial. Tradisi juga menjadi benteng dari nilai-nilai budaya. Kedua; Tradisi mudik menjadi lebih kuat karena di dalamnya ada nuansa agama, yaitu silaturrahmi. Manusia adalah makhluk sosial, oleh karena itu dorongan untuk bertemu keluarga dan teman-teman lama di kampung halaman berasal dari fitrah sosialnya. Bagi santri, mudik menjadi bernuansa religius karena silaturrahmi memang perintah agama.

Secara harfiah, silaturrahmi artinya menyambung persaudaraan atau menyambung tali kasih sayang. Agama melarang jutek atau marahan. Suami isteri yang sedang marahan oleh agama ditolerir hanya selama tiga hari. Lebih dari tiga hari mereka diancam dengan dosa. Sebenarnya silaturrahmi tidak dibatasi oleh Idul Fitri. Setiap saat kita dianjurkan untuk menebar salam, menebar silaturrahmi. Dengan silaturrahmi, fitnah bisa diredam, salah faham bisa terkoreksi, permusuhan bisa menurun.

Menurut hadis Nabi, siaturrahmi mengandung dua kebaikan, yaitu menambah umur dan menambah rizki. Yang dimaksud dengan nambah umur bukan tahunnya, tetapi maknanya. Ada orang yang umurnya pendek tapi maknanya panjang, sebaliknya ada orang yang umurnya panjang tetapi justeru tak bermakna. Silaturrahmi akan menambah makna umur kita karena di dalamnya ada unsur perkenalan, publikasi, belajar, apresiasi disamping rizki. Yang kedua silaturahmi bisa menambah rizki. Rizki dari silaturrahmi bisa bisa berupa uang, makanan, persaudaraan, jaringan, pekerjaan, jodoh, besanan, pengalaman, ilmu dan sebagainya. Rizki itu sendiri artinya semua hal yang berfaedah (kullu ma yustafadu). Uang yang kita terima menjadi rizki jika ia membawa faedah. Kenaikan pangkat menjadi rizki jika membawa faedah. Isteri atau suami adalah rizki jika membawa faedah. Jika kesemuanya itu tidak membawa faedah meski jumlahnya banyak, maka itu bukan rizki, tetapi bencana. Betapa banyak orang ketika penghasilannya pas-pasan hidupnya berbahagia dengan anak isterinya, tetapi ketika naik pangkat dan penghasilannya besar justeru kelakuannya menjadi berubah dan akhirnya keluarganya menjadi berantakan. Nah naik pangkat dan uang banyak itu ternyata belum tentu menjadi rizki keluarga, sebaliknya malah menjadi bencana baginya.

Lalu bagaimana caranya bersilaturahmi ? ada empat cara . Pertama dengan kirim salam. Kedua bisa dengan kirim sms atau email. Ketiga berkunjung, bertatap muka. Ke empat, meski tidak mudik tetapi jika bingkisannya nyampai, weselnya nyampai, itu juga silaturrahmi. Nah yang paling sempurna adalah gabungan dari empat cara itu; jauh-jauh sudah kirim salam, kemudian disusul sms atau telpon bahwa akan mudik, tolong di jemput di stasiun, ketiga benar-benar mudik sekaligus membawa tentengan. Selamat bersilaturrahmi, minal `a’idin wal fa’izin, kullu `amin wa antum bi khoir, taqabbalallahu minna wa minkum.

Sunday, September 05, 2010

Penderitaan Membuat Kita Menjadi Kuat

Pernahkah anda ketika sedang bersemangat menjalankan ibadah dan merasa nyaman sebagai orang yang beriman malah datang ujian dan cobaan yang bertubi-tubi. Tanpa kita sadari dihati kecil mengatakan, ' Ya Allah bukankah aku sedang berusaha menjadi hambaMu yang taat, kenapa Engkau malah mengirimkan ujian dan cobaan dalam hidup? Setiap hari aku berdoa, sholat dan berpuasa dibulan suci ramadhan ini, kenapa Engkau berikan penderitaan dalam hidupku?

Semakin tinggi iman seseorang bukanlah berarti sudah tidak ada lagi ujian, cobaan dan penderitaan yang terjadi malah semakin berat ujian yang Allah berikan kepada kita. Semua itu bertujuan agar kita menjadi kuat. Iman yang kuat tidak akan roboh oleh ujian, cobaan dan penderitaan malah semakin mengokohkan di dalam hati kita bahwa hidup kita berada di dalam kuasa dan kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tetapi bila iman hanya sebatas bibir, sedikit ujian akan membuatnya jatuh tersungkur dan kembali kufur.

'Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang yang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan dengan berbagai macam cobaan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, 'Kapankah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu sangatlah dekat. (QS. al-Baqarah : 214).

Oleh sebab itu Allah menimpakan penderitaan kepada hambaNya untuk membuktikan apakah iman anda benar-benar kuat ataukah hanya sebatas bibir saja. Apakah anda ingin mendapatkan cinta Allah agar mencapai kebahagiaan yang hakiki? Semua itu tidaklah mudah. Kita harus menjalani kehidupan yang berat ini. Setiap tetesan air mata adalah permata dan setiap penderitaan adalah kekuatan. Berkah ini adalah rahmat yang besar dari Allah bagi orang-orang yang beriman.

'Tidaklah seorang Muslim menderita karena kesedihan, penderitaan, kesusahan, kepayahan, penyakit dan gangguan dari yang menusuk tubuhnya kecuali dengan itu Allah mengampuni dosa-dosanya.' (HR. Bukhari).

Jadi sebenarnya anda harus bersyukur jika diberi ujian, cobaan dan penderitaan. Itu bertanda Allah telah memilih anda untuk menjadi kuat, agar membimbing dan menuntun orang lain menuju jalan yang benar, dijalan yang diridhoi oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Friday, September 03, 2010

Ampunilah dosa-dosa hambaMu ini Ya Allah...

Abu Abdurrahman al-Asadi bertanya kepada Said Bin Abdul Azis, 'Tangisan apa ini yang terdengar ketika engkau sholat?' Said balik bertanya, 'Kenapa Engkau bertanya seperti itu?'

Abu Abdurrahman menjawab, 'Wahai saudaraku semoga Allah memberikan hidayah untukku dengan pertanyaan itu.' Said mengatakan, 'Setiap saya sholat selalu membayangkan siksa api neraka bila Allah tidak mengampuni dosa-dosa yang pernah saya lakukan.'

Itulah tanda-tanda orang yang khusyuk dalam sholatnya, Allah berfirman 'Sesungguhnya, beruntunglah mereka yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya (al-Mukminun : 1-2).

Khusyuk di dalam sholat memaksa jatuhnya air mata karena kecintaan dan takut dosanya tidak diampuni oleh Allah serta membayangkan siksa api neraka di depan mata kita disetiap sholat. Sementara ada orang yang sholat hanya mekanistik, tiada sebuah kesadaran. Hanya menggugurkan kewajiban semata, sesungguhnya sholat seperti ini adalah badan yang mati, berbeda dengan orang yang sholat memiliki sebuah kesadaran diri untuk Menangis dan meneteskan air mata memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ampunilah dosa-dosa hambaMu ini Ya Allah...

Thursday, September 02, 2010

Buanglah Dendam anda!

Bila kita disakiti oleh orang biasanya kita ingin membalas perbuatan orang yang menyakiti kita. Hati kita dikotori dengan nafsu dendam. Hati kita sering berkata-kata sendiri, 'Kamulah yang menyebabkan saya seperti ini! Aku akan balas perbuatanmu! Aku akan hancurkan kamu! Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengingatkan betapa mulianya orang yang mampu memaafkan.

'Dan bagi orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan dzalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan yang serupa maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berbuat dzalim. (QS. asy-Syuura : 39-40).

Bila anda disakiti oleh orang yang anda cintai atau orang lain berarti anda termasuk orang yang diberikan rahmat oleh Allah karena orang yang teraniaya sebenarnya diuji sekaligus diberikan pahala yang besar oleh Allah. Ujian itu memberikan kita pilihan, pertama, kita akan membalas perbuatan mereka atau kita memaafkannya. Bila kita mampu bersabar dan memaafkan maka Allah melimpahkan pahala yang besar sekali.

Memang sulit untuk memaafkan orang yang telah menyakiti hati kita, namun cobalah untuk memaafkan, Insya Allah hati kita menjadi tenteram dan bahagia. Bahkan Allah berkenan mengijabah doa yang kita panjatkan. 'Berhati-hatilah kalian, janganlah menganiaya orang lain karena doa orang yang teraniaya tidak ada lagi penghalang antara dirinya dengan Allah.' (HR. Muslim).

Bila anda sedang disakiti oleh orang lain atau didzalimi maka Allah membukakan pintu terkabulnya doa bagi anda. Maka pergunakanlah kesempatan itu untuk berdoa dan memohon kepada Allah untuk bisa menggapai kemuliaan dan kebahagiaan dalam hidup kita.

Jadi, Buanglah dendam anda!

Wednesday, September 01, 2010

Menggapai Kasih Sayang Allah

Betapa indah dan mulianya hidup kita bila memiliki hati yang tidak punya ruang untuk membenci dan menyakiti orang lain. Yang ada hanya ruang senyuman dan cinta kasih yang tidak pernah kering, senantiasa berlimpah mengalir untuk sesama. Senyuman dan cinta kasih menyegarkan jiwa siapapun yang mendapatkannya. Alangkah indahnya hidup ini bila kita menjadi sumber mata air yang melimpahkan senyuman dan cinta kasih.

Setiap orang selalu ingin tampil cantik atau tampan. Sesederhana apapun kita selalu berusaha tampil indah mempesona, sedap dipandang mata. Namun kecantikan dan ketampanan tidaklah kekal dan abadi. Seiring waktu tubuh kita melemah dan tidak menawan lagi. Hanya kecantikan batinlah yang bisa menjadi abadi. Itulah kecantikan hati.

Kecantikan Hati bisa menjadi milik siapapun. Tidak peduli semenarik apapun dirinya dan sesederhana apapun penampilannya. Bila ada orang yang memiliki hati yang indah akan memancarkan pada wajah, perilaku dan tutur katanya, banyak sekali teman-teman yang datang untuk menghampiri dirinya, sekedar untuk singgah dan mendapatkan kesejukan jiwa. Semua menjadi terasa indah dipandang karena kekuatan keindahannya ada di dalam diri yang memancar keluar. Pancaran keindahan hati yang banyak dicari karena bersumber dari Kasih Sayang Allah.

Apabila bibir kita tersenyum, mampukah hati kita juga tersenyum? Disaat tangan memberi, apakah hati kita dengan tulus untuk berbagi? Jadikanlah hati kita memancarkan keindahan yang melimpahkan senyuman dan kasih sayang bagi sesama, sebab hanya dengan melimpahnya kasih sayang bagi sesama kita bisa menggapai kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
AGUSSYAFII BLOG
2006
Proudly powered by : Blogger