Yuk, wujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah

Thursday, March 31, 2011

Terasa Perih Di Hati

Seorang laki-laki yang hatinya hancur. Laki-laki itu separuh baya. Wajahnya terlihat lebih tua daripada usianya sendiri. Awalnya ketika pernikahannya cukup membahagiakan sampai istrinya hamil dan melahirkan. Diusia anak laki-lakinya berumur sembilan bulan, istrinya meninggalkannya dan anak laki-lakinya. Istrinya meninggalkan karena kehidupan yang susah, 'aku menikah agar aku hidup bahagia bukan hidup susah.' begitu kata istrinya. Dalam seorang diri tanpa istri, dirinya merawat anak dan mengasuh. Apapun pekerjaan dilakukan untuk menghidupi sang buah hati.  Kepergian istrinya telah membuat luka dihati, Peristiwa itu membuat dirinya menjauh dari Allah. Ibadah yang biasa dilakukan, tidak dilakukannya lagi. 'Buat apa sholat bila hidup menderita.' begitu tuturnya. Dengan hati yang terluka, perjalanan hidup ada kemudahan. Rizkinya lancar, anaknya tumbuh besar sampai menginjak kelas dua SD.

Anaknya menjadi kebanggaan. disekolah selalu ranking satu. Semua surat dalam Juz Amma' telah dihapal.  Bahkan anaknya sudah mampu membaca al-Quran dengan lancar. Kebahagiaan menyelimuti hidupnya, terkadang terselip kekecewaan, kemarahan dan perih dihatinya belumlah hilang. Sampai suatu hari anak laki-laki yang dicintainya sakit keras dan seminggu kemudian dipanggil oleh Sang Pecipta. Meninggal anak yang dicintainya benar-benar membuat hati terasa hancur, tidak ada lagi yang tersisa senyuman dibibir. Air matanya mengalir. 'Sudah tidak ada yang tersisa Mas Agus. Saya sudah tidak punya apapun dalam hidup ini kecuali hanya Allah.' Ucapnya malam itu di Rumah Amalia. Matanya basah, beberapa kali ia nampak mengusap air mata yang yg mengalir dipipi.

'Saya mengira dengan cara menjauhi Allah, saya akan menemukan kembali apa yang hilang, yang terjadi malah sebaliknya, makin banyak kehilangan demi kehilangan. Saya kehilangan Allah, kehilangan istri, saya kehilangan anak dan saya kehilangan diri saya sendiri.' desahnya panjang memilukan, terasa perih dihati. 'Maafkan aku Ya Allah. Astaghfirullah,' ucapnya lirih. Malam semakin larut. Ditengah hatinya hancur, ia telah menemukan secercah cahaya, karena hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dirinya bergantung & memohon pertolongan.

'Dan kembalilah engkau kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi' (QS. az-Zumar : 54).

Wednesday, March 30, 2011

Terkabulnya Doa

Beberapa waktu yang lalu di Rumah Amalia saya kedatangan seorang bapak. Beliau bercerita tentang sakitnya penyakit radang empedu, penyakitnya sangat parah sehingga harapan hidupnya sangat menipis. Beliau menitipkan shodaqohnya untuk anak-anak Amalia dan memohon doa agar operasi yang dijalaninya berjalan dengan lancar sehingga masih ada harapan untuk berbuat baik untuk sesama. 'Saya yakin Mas Agus, hidup dan mati kita hanya ditangan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kita hanya memohon dan berdoa semoga Allah memberkahi hidup dan mati kita sebagai hambaNya yang selalu bersyukur atas karuniaNya,' begitu tuturnya, kacamatanya nampak basah tak mampu untuk ditutupinya. berkali-kali beliau mengeluarkan kain pengelap untuk membersihkan kacamatanya. Usianya yang senja namun badannya masih terlihat tegap dan gagah tak terlihat bahwa didalam dirinya ada sesuatu penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

Perjalanan waktu begitu cepat. Operasi itu berjalan dengan lancar. Beliau kembali pulih dan bugar. Beliau bercerita bahwa proses menuju kematian kita sungguh menakjubkan, dari rasa dingin naik ke kaki, betis sampai di kepala. Rasa dingin itu berjalan perlahan. 'Terbayang malaikat maut segera mencabut nyawa saya, Mas Agus..'tuturnya, wajahnya penuh ekspressi yang jernih. 'Tak lupa saya selalu mengucapkan syahadat, jangan sampai saya mati dalam keadaan sebagai orang yang ingkar,' ucapnya dengan suara pelan. Dalam keadaan antara sadar dan tidak, beliau mendengar suara anak-anak yang sedang melantunkan ayat suci al-Qur'an dan bayangan dirinya pada masa lalu semua berjalan dengan cepat dan nampak jelas semua yang telah dilakukannya, dosa-dosa yang membuat takut dirinya sendiri . Disaat itu juga beliau memohon ampun kehadirat Allah agar diberikan kesempatan untuk bertaubat.

Ketika beliau berjanji untuk bertaubat, tiba-tiba sadarkan diri. Semua operasinya dinyatakan berjalan dengan baik dan lancar. Tubuhnya kembali pulih seperti sediakala. Dari pengalaman itu beliau menjadi yakin bahwa doa yang dipanjatkan secara sungguh-sungguh dengan keikhlasan adalah sebuah keajaiban. Allah senantiasa peduli dengan apa yang kita pikirkan, kita rasakan dan apa yang kita perbuat. Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa mengabulkan doa-doa kita. 'Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku kabulkan'(QS. Ghafir (40) : 60).

--
Obatilah orang-orang yang sakit dengan shodaqoh, bentengilah harta kalian dengan zakat dan tolaklah bencana dengan berdoa (HR. Baihaqi).

Tuesday, March 29, 2011

Pengorbanan Untuk Meraih Kebahagiaan

Perhatikan bagaimana al Quran membimbing kita melihat masalah, seperti yang disebutkan dalam surat al Baqarah ayat 216, 'Boleh jadi engkau membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi engkau menyenangi sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui (Q/2:216). Renungkan pula bagaimana proses yang mengantar kita pada kebahagiaan, ternyata di sana ada pengorbanan. Kemerdekaan suatu bangsa juga harus didukung oleh pengorbanan sebagian dari warganya, yakni dengan gugurnya para pahlawan di medan perang. Disadari atau tidak, sebenarnya setiap pribadi harus bersedia berkorban demi kebahagiaan bersama.

Pengorbanan, sifat mengalah harus selalu ada pada diri kita demi mewujudnya kebahagiaan yang hakiki. Suatu bahaya yang mencekam ternyata melahirkan kebahagiaan berupa munculnya orang-orang pemberani yang berhasil mengusir bahaya itu. Pengalaman menderita sakit parah ternyata bisa mendatangkan rasa kebahagiaan, yakni ketika merasakan betapa nikmatnya kesehatan. Jika penderitaan itu terjadi karena kesalahan maka itu adalah tanggungjawab kita sebagai pilihan hidup kita tetapi bila  tidak bersalah itulah yang disebut dengan pengorbanan, maka pengorbanan kita akan dibalas oleh Allah dengan ketinggian derajat di akhirat (Q/2:155-157) . Menurut al Quran, Allah memberikan potensi kepada kita untuk mampu memikul kesedihan dan melupakannya. Dalam surat at Taghabun disebutkan 'Tidak satupun petaka yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada hatinya, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (Q/64:11).

Allah Maha Sempurna, sementara nalar kita tidak sempurna. Adakalanya kehidupan dapat dipahami oleh nalar kita dan seringkali tidak. Kita pernah diributkan oleh lirik lagu yang mengatakan bahwa takdir itu kejam, padahal takdir Allah selalu baik untuk hamba-hambaNya. Persoalan kehidupan memang bukan semata-mata problem nalar, tetapi problem juga rasa, sebagai akibat dari keinginan kita untuk selalu mendapatkan yang terbaik untuk dirinya, keluarga kita atau diri kita saja hingga melupakan yang lain. Jika problemnya demikian maka yang mampu menanggulanginya adalah  ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, berperan besar dalam mencapai kebahagiaan yang hakiki, dunia dan akherat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS Ath-Thalaq 4).

Sunday, March 27, 2011

Meraih Kebahagiaan, Menaklukkan Kesulitan

Jika hendak memilih pasangan hidup sesungguhnya, lihatlah dirinya ketika menghadapi masalah dan bagaimana cara dia menyelesaikan masalah tersebut. Sebab sosok pribadi yang sesungguhnya terlihat disaat bagaimana dia menyeselesaikan masalahnya. Imam Gazali dalam Ihya `Ulumuddin mengatakan bahwa setiap kali target ditingkatkan maka jalannya menjadi sulit, kendalanya banyak dan dibutuhkan waktu lebih lama, kullama zada al mathlub sho`uba masalikuhu wa katsura `aqabatuhu wa thala zamanuhu. Jadi tingkat kesulitan berhubungan dengan tingkat target. Jika orang ingin sekedar senang dalam hidup, maka ia dapat mencari kesenangan instan, pergi ke tempat hiburan, berfoya-foya dan berpesta pora. Tetapi jika seseorang ingin meraih kebahagiaan, maka ia justru harus siap menderita menghadapi kesulitan, melupakan kesenangan jangka pendek.

Manusia didesain oleh Allah dengan sempurna, memiliki akal sebagai alat berfikir, hati sebagai alat memahami, nurani sebagai alat interospeksi, syahwat sebagai penggerak tingkah laku dan hawa nafsu sebagai tantangan. Kesemuanya itu dirancang untuk menghadapi medan kehidupan yang sulit. Dengan akal manusia bisa memecahkan masalah yang sulit, dengan hati manusia bisa menerima kenyataan yang pahit, dengan nurani manusia bisa mundur selangkah demi memperbaiki diri, dengan syahwat membuat manusia dinamis mencari dan dengan hawa nafsu manusia menjadi tertantang untuk mampu mengendalkan diri.

Manusia di satu sisi memang menyukai stabilitas dan kenyamanan hidup, tetapi di sisi lain manusia juga menyukai kesulitan. Manusia tidak selalu lari dari kesulitan, sebaliknya justru menantang kesulitan. Jika dalam kehidupan sehari-hari hidup selalu stabil dan nyaman tanpa menjumpai kesulitan, maka dibuatlah stimulasi agar orang menaklukkan kesulitan buatan. Mahasiswa berlomba naik tebing buatan (wall climbing), pembalap mobil mencari medan berlumpur, yang berperahu mengikuti arum jeram, setiap agustusan orang ramai-ramai memanjat pohon pinang yang dilumuri olie, yang sudah punya dua kaki justeru berlomba lari dalam karung.

Banyak sekali kesulitan yang sengaja dibuat untuk ditaklukkan, mengapa ? karena manusia memang memiliki tabiat tertantang. Kesulitan buatan pada umumnya hanya melahirkan kesenangan, yakni senang menjadi juara, tetapi belum tentu sampai kepada kebahagiaan. Kesusahan biasanya menambahi kesulitan, tetapi tidak semua kesulitan membuat susah. Ada keindahan dalam kesulitan yaitu disaat kita menyandarkan semua kesulitan kepada Sang Khaliq dan kita bisa meraih kebahagiaan dengan menaklukkan kesulitan.

Saturday, March 26, 2011

Cobaan Kehidupan

Setiap manusia selalu saja datang cobban dalam kehidupan, tujuan Allah memberikan cobaan sebenarnya agar kita lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ada seorang bapak yang selama hidupnya jauh dari Allah. Sampai ada satu peristiwa yang begitu mengejutkan sehingga menyadarkan dirinya betapa Maha Besarnya Sang Khaliq telah menegur dirinya. Anaknya yang pertama, teramat dicintainya sakit. Tiba-tiba perutnya mengembung. Anaknya menangis terus menerus. Tanpa berpikir panjang dirinya segera membawa anaknya ke rumah sakit. Sebagai seorang ayah tak kuasa dirinya menahan air mata. Dokter sempat mengatakan kesempatan hidup anaknya tidak lama lagi. Tim dokter sudah dipersiapkan untuk operasi anaknya.

'Siapa yang mengatur hidup mati kita? apakah dokter itu yang mengatur?' begitu tanyanya. Sampai kemudian beliau teringat untuk bershodaqoh di Rumah Amalia. Berdoa memohon kepada Allah agar diberikan kesembuhan untuk putra tercintanya. Keesokan harinya operasi itu dilaksanakan. lampu operasi sudah menyala. Sementara seorang anak kecil tergeletak tak berdaya. Sang ayah nampak sangat gelisah. Hilir mudik didepan kamar operasi. Perkataan istrinya sudah tidak digubrisnya lagi. Sang ayah tak henti-hentinya berdoa.

Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari kamar operasi muncul didepan pintu sambil tersenyum. 'Bapak, berdasarkan hasil pemeriksaan saya, putra bapak tidak perlu dioperasi,' Beliau menganga takjub. Desah nafasnya terasa ringan. Air matanya bercucuran. Syukur alhamdulillah berkali-kali diucapkannya. Pada lantai rumah sakit dibersujud. Sujud syukur sambil menangis tak tertahankan. Alangkah nikmatnya rasanya menerima anugerah Allah justru disaat harapan sudah mulai menipis.begitulah Allah senantiasa memberikan cobaan kepada setiap hambaNya agar mendekatkan diri kepada Allah. Subhanallah..

Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu mereka yang apabila tertimpa musibah mengucapkan, 'Kami berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya (QS 2:155-156).

Thursday, March 24, 2011

Ketenteraman & Kebahagiaan Dalam Keluarga

Kualitas diri kita akan diketahui dan teruji hanya setelah kita hidup berpasangan, karena dalam hidup berpasangan akan dapat diketahui kualitas, kapasitas dan sifat-sifat kemanusiaannya. Dalam hidup pernikahan itulah seseorang teruji kepribadiannya, tanggung jawabnya, keibuannya, kebapakannya, perikemanusia­annya, ketangguhannya, kesabarannya. Begitu besar makna hidup berumah tangga sampai Nabi mengatakan bahwa di dalam hidup berumah tangga sudah terkandung separuh urusan agama. Separoh yang lainnya tersebar pada
berbagai bidang; sosial, ekonomi, politik, kebudayaan. Dalam surat ar Rum 21 tadi disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dengan setting berpasangan dalam hidup perkawinan agar pasangan itu memperoleh ke­tenteraman, memperoleh sakinah.

Dalam al Qur'an manusia disebut dengan istilah basyar dan insan. Basyar artinya manusia dalam pengerti­an persamaan fisik. Sedangkan insan mengandung pengertian psikologis. Kata insan terambil dari kata nasia yansa yang artinya lupa, dari kata `uns yang artinya mesra, juga dari kata anasa yanusu yang artinya bergejolak. Jadi manusia pada dasarnya adalah makhluk yang memiliki tabiat mesra, tetapi suka lupa dan memiliki gejolak ke­inginan yang tak pernah berhenti. Selagi manusia dalam keadaan lupa diri dan dalam pengaruh gejolak ke­ inginannya, maka ia tidak dapat merasakan ketenangan dan ketenteraman hidup. Nah dalam hidup berpasangan suami isteri itulah dimaksud supaya manusia me­nemukan ketenteraman, yang diperindah dengan kemesraan. Rumah tangga yang ideal itu bagai­kan lautan tak bertepi, segala ketegangan, kegelisahan, kecemasan, kesepian dan kelelahan akan hilang jika orang berlabuh dalam pelabuhan cinta mesra suami isteri.

Menurut Hadist Nabi, suatu rumah tangga akan mem­peroleh ketenteraman dan kebahagiaan manakala dipenuhi pilar-pilarnya, Jika Allah menghendaki suatu rumah tangga itu baik, maka Allah akan memudahkan terciptanya ke­adaan-keadaan sebagai berikut: 1. Ada kecenderungan kepada agama di dalam rumah tangga itu, 2. Yang muda menghormati yang tua, 3. Di dalam kehidupan sehari-hari mereka bergaul secara lemah lembut, 4. Sederhana dalam membelanjakan harta, 5.Mau interospeksi sehingga mereka mudah bertaubat. (H.R. Dailami)

Wednesday, March 23, 2011

Selamat Dari Badai Kehidupan

Kehidupan bagai bahtera yang mengarungi samudra. Dihempas badai & gelombang seolah tiada akhir. Hanya orang yang kokoh imannya kepada Allah yang akan selamat. Itulah yang dialami seorang ibu. Pernikahannya diujung tanduk. Hatinya menjadi galau dan gundah namun tak larut dalam kesedihan. Berkat kerja kerasnya kebutuhan anak-anaknya yang ditinggal suaminya bisa diatasinya. Seolah berjalan dengan terseok-seok perlahan-lahan kondisi ekonomi keluarganya bisa bangkit membaik.  Usaha yang dirintisnya berkembang pesat mengalami kemajuan. Karyawannya yang mula hanya tiga, kini menjadi sepuluh untuk memenuhi pesananan dari berbagai kota. Sampai pada suatu peristiwa yang membuat hatinya terkejut, putranya yang bungsu jatuh sakit kejang-kejang dan paru-parunya infeksi. Pada saat itu juga dilarikan putrAnya ke rumah sakit

Dalam keterpurukan dirinya tiada daya dan upaya kecuali hanya memohon kepada Allah. Wajahnya memerah berlinangan air mata. Hatinya begitu hancur, remuk redam. Suaminya pergi, anak sedang sakit sementara ia harus juga terus mencari nafkah untuk anak-anaknya. 'Ya Allah, begitu berat cobaan hidupku ini,' ucapnya lirih. Disaat ia sedang putus asa karena masalah tiada kunjung berakhir. Untunglah anaknya yang tertua selalu menghibur juga mengajaknya untuk bershodaqoh ke Rumah Amalia & berdoa memohon kepada Allah untuk kesembuhan adiknya.

Malam itu disaat Ibu sedang menjaga putranya di Rumah Sakit, dokter mendatanginya dan mengatakan, 'Besok putra ibu boleh pulang.' Ia merasakan bahwa semua itu terjadi atas kuasa Allah. Anugerah Allah tidak sampai disitu. Suami yang meninggalkan dirinya dan anak-anaknya tiba-tiba pulang, bersimpuh dipangkuannya meminta maaf karena telah meninggalkannya pergi. Buah ketaqwaannya kepada Allah membuat dirinya memaafkan kesalahan suami. Sejak itu kehidupan rumah tangga mereka berubah. Kesabaran ia sebagai seorang istri membuahkan hasil, anak-anak dan suaminya telah berubah menjadi lebih baik dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Banyak orang bersyukur pengorbanan dirinya terutama mampu memaafkan suami yang telah menyakiti hatinya telah menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Tuesday, March 22, 2011

Pemenang Kehidupan

Ditengah kebahagiaan. Tiba-tiba musibah datang memporakporandakan semua. Musibah menjadi terasa teramat berat karena kita sedang berbahagia. Biasanya ditengah kebahagiaan seperti itu kita lengah. Jika ada hal yang buruk kita benar-benar terhenyak dibuatnya. Sama sekali tidak kita sangka. Kebahagiaan mampu membuat diri kita mabuk kepayang. Kita tidak dalam keadaan sadar dan mawas diri dengan keadaan sekeliling kita karena kita merasakan kenikmatan yang tiada tara sehingga begitu tertimpa kepedihan membuat tubuh kita seolah terguncang hebat.  Tanpa kita sadari terucap oleh kita. 'Ya Allah, kenapa ini terjadi pada diri ku? Aku tidak lalai, tapi aku tidak siap. Aku tidak melupakan diriMu, tetapi aku sedang berbahagia.'

Sabar menerima musibah membuat tubuh kita menjadi ringan dari penderitaan bahkan mampu menghapus dosa-dosa kita. Setiap musibah, ujian & cobaan yang datang akan disesuaikan dengan kadar kemampuan kita dalam menerimanya karena Allah sangatlah memahami seberapa kekuatan kita dalam menerimanya sehingga Allah tidak akan memberikan musibah, ujian & cobaan diluar kesanggupan kita. Musibah hadir di dalam kehidupan kita sebagai proses menyucikan kita dari segala kotoran yang melekat dalam jiwa kita sehingga dosa dan segala kotoran jiwa kita dibersihkan dengan kekuatan daya pembersihannya.

Musibah, ujian & cobaan adalah sparing partner dalam hidup ini. Bila kita memahami bahwa musibah, ujian & cobaan sebagai sparing partner di dalam kehidupan kita maka sudah sepatutnya kita mampu menyambut disetiap musibah dengan lapang dada dan rasa optimis di dalam hidup ini bahwa Allah memuliaan hidup kita dengan berbagai cara yang indah, terkadang sekalipun kita merasakan hal itu menyakitkan dan membuat hati terasa pedih karena Allah memberikan kita sparing partner yang lebih kuat & tangguh. Semakin kuat & tangguh sparing partner kita malah semakin baik agar kita menjadi kuat dan tujuannya hanya satu agar anda bisa menjadi pemenang. Pemenang yang diberikan keberkahan yang sempurna & rahmat Allah serta mendapatkan petunjuk.

Dan Sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengucapkan 'inna lillaahi wa inna ilaihi raajiuun' (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami akan kembali). Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. (al-Baqarah : 155 -157).

* Tulisan ini materi on air pada acara 'Power of Peace' di Radio Bahana 101.8 FM Jakarta Jam 7 s.d 8  Rabu Malam ini.

Monday, March 21, 2011

Perekat Kesetiaan

Ikatan keluarga juga penting sebagai perekat kesetiaan, tetapi tabiat manusia dalam ikatan kekeluargaan bersifat angin-anginan. Pameo orang Jawa berbunyi; famili itu jika berada di tempat yang jauh baunya wangi, tetapi jika berdekatan, apalagi serumah mudah berubah menjadi bau busuk. Konflik antar keluarga sering lebih sulit didamaikan dibanding konflik antar bukan keluarga.

Rumah tangga yang kesetiaannya hanya diikat oleh faktor harta benda, tunggulah kehancuran, karena tabiat harta memang curang. Ia hanya mau menemani dalam keadaan suka, sementara dalam keadaan duka harta justru sering menjadi pemicu permusuhan. Pameo orang Jakarta ada yang berbunyi: ada uang, abangku sayang, tak ada uang, abang kutendang. Ada uang berarti abang saya, tidak ada uang abang payah.

Perekat kesetiaan yang kekal abadi adalah ikatan amal saleh, ikatan kebaikan. Suami isteri yang diikat oleh nilai-nilai kesucian kebaikan biasanya tahan godaan, tahan banting, tahan ombak. Di kala suka mereka bersyukur, di kala duka mereka bersabar. Sepanjang zaman, zaman orde lama, orde baru, zaman reformasi dan zaman apa lagi nanti mereka tetap kuat, tabah dan indah dan bahkan kebahagiaan dan keindahan masih tetap terasa meski yang satu sudah mendahului berada di alam lain. Pasangan yang demikianlah yang akan dapat menjadi pasangan bukan hanya seumur hidup, tetapi pasangan dunia akhirat.

Sunday, March 20, 2011

Keluarga Yang Membahagiakan

Keluarga yang direkat oleh mawaddah dan rahmah adalah pasangan dimana masing-masing secara naluriah memiliki gelora cinta mendalam untuk memiliki, tapi juga memiliki perasaan iba dan sayang dimana masing-masing terpanggil untuk berkorban dan melindungi pasangannya dari segala hal yang tidak disukainya. Betapa banyak suami isteri yang sebenarnya kurang dilandasi oleh cinta membara, tetapi karena masih ada rahmah, ada kasih sayang, maka rumah tangga itu tetap berjalan baik dan melahirkan generasi yang terpuji. Rahmah yang terpelihara pada akhirnya memang benar-benar mendatangkan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala berupa mawaddah.

Untuk memperoleh sakinah atau ketentraman dalam hidup pernikahan, dua orang pasangan suami isteri itu harus bisa menyatu dalam satu ikatan. Menurut al Qur'an surat ar Rum. tali temali perekat pernikahan itu adalah mawaddah dan rahmah, cinta dan kasih sayang. Yang ideal adalah jika antara suami dan isteri diikat oleh perasaan mawaddah dan rahmah sekaligus. Dalam bahasa Arab, mawaddah mengandung arti kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Jadi cinta mawaddah adalah perasaan yang mendalam, luas, dan bersih dari pikiran serta kehendak buruk. Sedangkan rahmah mengandung pengertian dorongan psikologis untuk melindungi orang yang tak berdaya.

Mawaddah dan rahmah itu sangat ideal.Artinya sungguh betapa bahagianya jika pasangan rumah tangga itu diikat oleh mawaddah dan rahmah sekaligus. Sesuatu yang ideal biasanya jarang terjadi. Bagimana jika tidak? Seandainya mawaddahnya putus, perasaan cintanya tidak lagi bergelora, asal masih ada rahmah, ada kasih sayang, maka rumah tangga itu masih terpelihara dengan baik. Itulah keluarga yang membahagiakan. 'Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir' (QS. ar-Rum : 21).

Saturday, March 19, 2011

Solusi Menghadapi Masalah Keluarga

Hidup berumah tangga bagaikan mengemudi bahtera di tengah samudera luas. Lautan kehidupan seperti tak bertepi, dan medan hamparan kehidupan sering tiba-tiba berubah.  Memasuki lembaran baru hidup berkeluarga biasanya dipandang sebagai pintu kebahagiaan. Segala macam harapan kebahagiaan ditumpahkan pada lembaga keluarga. Akan tetapi setelah periode 'impian indah' terlampaui orang harus menghadapi realita kehidupan.

Sunnah kehidupan ternyata adalah 'problem'. Kehidupan manusia, tak terkecuali dalam lingkup keluarga adalah problem, problem sepanjang masa. Tidak ada seorangpun yang hidupnya terbebas dari problem, tetapi ukuran keberhasilan hidup justeru terletak pada kemampuan seseorang mengatasi problem. Sebaik-baik mukmin adalah orang yang selalu diuji tetapi lulus terus, khiyar al mu'min mufattanun tawwabun.(hadis). Problem itu sendiri juga merupakan ujian dari Allah, siapa diantara mereka yang berfikir positif, sehingga dari problem itu justeru lahir nilai kebaikan, liyabluwakum ayyukum ahsanu `amala (Q/67:2) liyabluwakum fi ma a ta kum (Q/6:165)

Menurut hadis Nabi, menemukan pasangan yang cocok (saleh/salihah) dalam hidup berumah tangga berarti sudah meraih  separoh urusan agama, separoh yang lain tersebar di berbagai bidang kehidupan. Hadis ini mengambarkan bahwa 'rumah tangga' itu serius dan strategis. Kekeliruan orientasi, keliru jalan masuk, keliru persepsi, keliru problem solving dalam hidup rumah tangga akan membawa implikasi yang sangat luas. Oleh karena itu problem hidup berumah tanga adalah problem sepanjang zaman, dari sejak problem penyesuaian diri, problem aktualisasi diri, nanti meluas ke problem anak, problem mantu, cucu dan bahkan tak jarang suami isteri yang sudah berusia di atas 60 masih juga disibukkan oleh problem komunikasi suami isteri, hingga kakek dan nenek itu pisah ranjang.

Itulah sebabnya mengarungi kehidupan tak ubahnya mengarungi samudera, terkadang lautan tenang dan angin sumilir, tetapi terkadang tanpa diduga datang ombak besar.  Bagi orang yang faham sunnatullah laut, maka ia bisa berhitung kapan musim ombak dan kapan musim tenang. Tetapi kehidupan juga sering diungkapkan sebagai 'tersandung di jalan rata', terpeleset oleh 'kerikil' kehidupan. mungkin kita  sudah banyak makan asam dan garam kehidupan. Meski begitu tetap saja kita masih dihadang oleh banyak problem. Berpikir positif dan meluruskan orientasi bahwa pernikahan adalah mencari keberkahan dan keridhaan Allah itulah solusi menghadapi berbagai masalah di dalam rumah tangga.

Thursday, March 17, 2011

Dihempas Ujian Kehidupan

Baginya dunia yang begitu indah menjadi runtuh ketika keluarganya dhempas ujian kehidupan sehingga membuatnya bingung pikirannya kacau hatinya bersedih, kondisi ditengah ke bimbangan membuat dirinya goyah. Itulah yang dialami seorang ibu. Sampai pada satu hari perusahaan yang dikelola oleh suaminya mengalami kerugian, seluruh rumah dan kekayaannya sudah dijadikan anggunan kepada Bank karena suaminya terserang sakit jantung. Praktis hanya bisa di tempat tidur dalam keadaan yang mengenaskan. Kenyataan itu mengguncang jiwanya, tangis dan air mata adalah sisa kekuatan yang terakhir dimiliki olehnya. Kemudian dia bergegas untuk menyedekahkan sebagian rizkinya untuk Rumah Amalia dengan berharap mendapatkan keridhaan dari Allah atas kesembuhan suami & perusahaannya bisa diselamatkan.

Beberapa hari kemudian Allah memberikan kesembuhan bagi suaminya. Kondisi kesehatan suami berangsur pulih kembali. Sehatnya suami bisa kembali bekerja mengurus & mengelola perusahaan menjadi terhindar dari kerugian yang lebih besar. Roda perusahaan berputar bahkan menjadi lebih baik. Badai yang menguncang yang dialaminya telah menyadarkan dirinya dan suami bahwa selama ini jauh dari Allah dan mereka mengabaikan untuk berbagi rizki kepada sesama. 'Sebagai manusia mungkin saya & suami pernah melakukan banyak hal yang dilarang oleh Allah sehingga Allah memberikan cobaan kepada kami sekeluarga. Saya harapkan bahwa semua cobaan, ujian dan musibah yang saya alami makin menguatkan iman saya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala,' ucap tuturnya, bersama suami dan anaknya di Rumah Amalia.

'Alhamdulillah, Allah masih sayang pada kami sekeluarga dengan diberikan anugerah yang lebih baik dari sebelumnya. Saya dan keluarga lebih mendekatkan diri kepada Allah,' lanjutnya. Peristiwa yang menimpanya bertubi-tubi menjadikan jiwa semakin tegar. Menjadikan dirinya dan keluarganya semakin yakin bahwa semua cobaan itu agar dirinya semakin kuat imannya dan kuat hatinya menuju jalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 'Tidak ada satu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.' (QS. at-Taghaabun : 11).

Wednesday, March 16, 2011

Resah

Siapapun orang hatinya akan resah bila orang yang dicintai sikapnya tiba-tiba berubah. Itulah yang terjadi pada seorang ibu dengan suami & anak-anaknya yang sudah beranjak dewasa, lebih dari lima belas tahun perkawinannya. Kehidupan rumah tangga yang selama ini baik-baik saja, suami penuh kasih sayang dan perhatian kepada dirinya dan anak2, belum pernah sekalipun melihat suami bertingkah aneh atau disebut puber kedua. Namun seminggu terakhir suaminya sering mengirim & menerima SMS dari seorang perempuan satu perusahaan tapi beda departemen.

Hal itu diketahuinya tanpa sengaja ia menggunakan HP suaminya & menemukan SMS dari perempuan itu yang nada penuh kehangatan & akrab. 'Titi DJ ya..Hati2 di jalan teriring doa selamat sampai tujuan, jangan lupa oleh2nya.' Ia teringat pada hari itu suaminya sedang bertugas keluar kota. Ternyata ditemukan setiap hari ada SMS. Sebagai istri pernah dirinya bertanya pada suami, apakah dia sering SMSan dengan perempuan itu. Dengan marah suaminya menjawab agar dirinya tidak berpikir buruk tentang perempuan itu hanya teman dikantor. Tentu sebagai seorang istri melihat kondisi itu membuat hatinya tidak nyaman, mengapa suami tidak bercerita siapa perempuan itu? mengapa tidak terbuka? Dan mengapa mesti marah? Pertanyaan2 itu selalu muncul sampai mengganggu tidurnya. 'Mas Agus, apa sebaiknya yang saya lakukan?'

Saya menjelaskan padanya bahwa ujian & cobaan datangnya dari Allah. Kecintaan kita kepada suami yang berlebihan maka Allah akan menguji kita melalui suami. Dari rumah tangga sudah terbangun lebih dari lima belas tahun tanpa hambatan kemudian datang badai menghantam, tentunya sangat mengejutkan dan menganggu tidur. Apa yang dilakukan olehnya sebagai istri dengan menanyakan SMS memanglah benar adanya. Namun sebaiknya tidak menjadikan hal itu untuk menyerang sehingga menyulut pertengkaran. Akan lebih indah bila membicarakan hal itu dari hati ke hati dengan perasaan empatik untuk memahami, kondisi suami ditempat bekerja yang memang membutuhkan interaksi dengan orang lain. Cobalah melihat ke dalam diri, mungkin saja rumah tangga sepuluh tahun dengan kepadatan kegiatan kerja dan keluarga telah mengikis keintiman, rasa kasih sayang dan saling perhatian. Cari cara untuk mengejutkan suami sebagai ungkapan cinta yang masih hidup didalam hati seperti jalan berdua atau menemani hobi suami, kalo diperlu ajak anak-anak dalam kegiatan bersama keluarga dengan makan bersama atau berkunjung ke rumah saudara atau teman.

Selain dengan upaya mencari cara untuk memulihkan dan juga sungguh indahnya apabila kecintaan terhadap suami lebih didasarkan pada kecintaan dirinya kepada Allah sehingga yang ada hanyalah memberi. Memberi dengan setulus hati hanya berharap apa yang dilakukan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Bila itu yang terjadi rumah tangga seberat apapun masalah yang membuatnya resah, tidak akan membuat hati terluka, marah & kecewa tetapi juga bisa bersabar, memaafkan dan mencintai dengan bersandar hanya pada Allah. Di Rumah Amalia terlihat beliau air matanya sedang mengalir mendengarnya, berkali-kali mengucapkan syukur 'alhamdulillah'

'Maka mereka kembali dengan nikmat & karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana & mereka mengikuti keridhaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar.' (QS. ali-Imran : 174).

Tuesday, March 15, 2011

Air Mata Untuk Ayah

Di Rumah Amalia ada satu sesi yang disebut dengan Muhasabah. Salah satu bentuk dari muhasabah dengan cara menulis itulah sebabnya saya mengajarkan menulis untuk anak2 Amalia sekalipun hanya satu atau dua baris tidaklah masalah yang paling penting anak-anak terbiasa melatih menuangkan pikiran dalam sebuah tulisan. Tulisan juga bisa sebagai terapi. Tulisan adalah bentuk curhat dari apa yang dirasakan di dalam hatinya.

Pagi ini tanpa sengaja saya menemukan sebuah kertas yang berisi tulisan, berkali-kali saya membacanya, tak terasa air mata saya berlinang disaat membaca tulisan ini, sebagai seorang ayah tulisan ini menusuk hati, mampu menggores luka yang teramat dalam karena saya memahami kerinduan seorang anak kepada ayah yang dicintainya. Tulisan itu judulnya 'Air Mata Untuk Ayah'

'Ayah, lihatlah air mataku. Air mata anakmu yang selalu mencintaimu. Ayah selalu bilang sayang padaku tetapi ayah tidak menjaga kesehatan, membuat ayah menjadi sakit, kenapa yah? Aku juga mencintaimu, Aku tidak ingin ayah pergi. Jika aku menangis, siapa yang akan mengusap air mataku? Jika aku kangen, siapa yang memelukku? Ayah tidak pernah menjawab setiap kali aku bertanya, ayah hanya tersenyum. Hatiku perih, ayah. Semua kenangan itu, senyuman itu selalu membuat berlinang air mataku, tidak ada seorangpun yang dapat menghentikannya , karena aku rindu padamu, Ayah... Air mata ini untuk ayah.

Monday, March 14, 2011

Senyuman Yang Indah

Senyuman yang indah hadir ketika kita bisa melewati berbagai ujian dan cobaan di dalam hidup ini sebagai wujud rasa syukur kita kepada Allah. Banyak orang yang lulus disaat mendapat ujian dalam penderitaan namun justru gagal ketika diuji dengan anugerah dalam bentuk kekayaan, wajah yang rupawan, kecerdasan yang menyebabkan lalai dan jauh dari Allah sampai kemudian jatuh sakit, begitulah kasih sayang Allah yang senantiasa mengingatkan hambaNya. Bersyukurlah bila kita termasuk orang yang lulus melewati berbagai ujian dan cobaan didalam hidup ini. Sebagaimana seorang pemuda yang datang ke Rumah Amalia. Dibalik anugerah kecerdasan dan pandai bergaul membuat hidupnya begitu mudah meraih impiannya. Begitu lulus kuliah bisa langsung bekerja. Entah bagaimana dari kecil orang tuanya mendidik dan hidup dilingkungan orang-orang yang taat beragama, tiba-tiba dirinya terjerumus ke dalam lembah hina. Godaan hawa nafsu tak mampu dikendalikannya. Imannya benar-benar diuji. Kian hari kian asyik dalam kenikmatan dunia yang semu. Terperosok ke dalam lumpur dosa. Tenggelam dalam kehidupan malam. Pergaulan bebas dan Minuman keras sudah menjadi teman karibnya. Bahkan sholat lima waktu sudah lama tidak pernah lagi dikerjakan. Badannya kurus, wajahnya pucat, tak bergairah dalam menjalankan aktifitas, hidupnya terasa hancur. Setiap malam hatinya selalu cemas & was-was, ketakutan seolah membayangi disetiap langkahnya.

Suatu ketika mendengarkan suara adzan Isyak, membuat hatinya tersiksa. Merinding bulu romanya. Hatinya terasa hancur bagai tertimpa beban yang berton-ton yang membuat remuk seluruh tulangnya. Air matanya mengalir. Menangis terisak karena hati begitu terasa perih bagai tersayat-sayat, tanpa terasa terucap lirih, 'Astaghfirullah al adzim, Ya Allah Ampunilah hambaMu ini..' Ditengah kondisi tubuhnya yang melemah, di dalam tubuhnya terdapat benjolan ditubuhnya. Benjolan kecil awalnya cuman dua kemudian menjadi empat dan berikutnya delapan. Benjolan itu dibawanya berobat di rumah sakit. Dokter menggelengkan kepala, dipikirnya sejenis kutil namun jenis seperti ini tidak dikenalnya. Air matanya diusapnya berkali-kali. Dalam kondisi hati yang penuh galau, rizki yang selama ini hanya digunakan untuk mencari kenikmatan yang semu, ia bertekad bershodaqoh untuk Rumah Amalia dengan memohon keridhaan Allah.

Sejak dari Rumah Amalia, dengan kesungguhan menjalankan ibadah sholat sekalipun senantiasa berperang melawan hawa nafsu, meninggalkan semua kebiasaan buruknya. Tak lama kemudian benjolan-benjolan itu mengecil dan menghilang sekalipun masih terlihat bekasnya. Tubuhnya sudah terlihat bugar dan sehat, penuh semangat dalam menjalan aktifitasnya. Semua noda dan dosa yang selama ini melekat dalam tubuhnya seolah rontok. 'Segala Puji Engkau Ya Allah, yang telah menyembuhkan segala penyakit tubuh dan hatiku.' tuturnya dengan penuh air mata yang berlinang.

'Janganlah engkau bersikap lemah & jangan pula bersedih hati, padahal engkaulah orang2 yg paling tinggi derajatnya, jika engkau orang2 yg beriman.' (QS. Ali Imran : 139).

Sunday, March 13, 2011

Keindahan Keluarga

Keluarga nampak terlihat indah bila kita mampu melewati setiap ujian. Bila mampu melewati setiap ujian dengan bersandar kepada Allah maka menjadi keluarga sakinah, mawaddah warahmah. Itulah yang terjadi pada seorang ibu muda yang sudah menikah dua tahun dengan suaminya dan dirinya sedang hamil muda. Ia tidak yakin apakah ia cinta kepada suami atau tidak karena pertama kali mengenal suami waktu kuliah, begitu baik dan banyak pengorbanan yang dilakukan sehingga begitu dirinya lulus kuliah mengajak menikah.

Awalnya waktu itu belum ingin menikah karena ingin menikmati masa muda & membahagiakan orang tua karena mereka hanya hidup dengan berjualan warung kecil dipinggir jalan sampai sekarang tetapi karena merasa tidak enak kepada calon suami akhirnya ia memilih menikah. Sekarang justru menyesal karena melihat orang tua yang harus terus membanting tulang dengan warung kecilnya dan uangnya merasa tidak cukup untuk membantu mereka dan dirinya tidak mampu untuk membantu orang tua, 'Mas Agus, apa yang harus saya lakukan? Saya ingin bercerai, apakah hal itu lebih baik?

Sore itu ibu muda itu bersama suaminya di Rumah Amalia, saya kemudian menjelaskan padanya bahwa sesungguhnya masalah itu bersumber dari kebingungan dirinya sendiri dalam menentukan sikap. Disatu sisi ia inginkan berbuat baik dengan membantu orang tua dengan memberi materi sementara kemampuannya terbatas. Disisi lain sebagai seorang istri memiliki tanggungjawab mengurus keluarganya sendiri. Bila melalaikan kewajiban utama sebagai seorang istri dengan alasan ingin membahagiakan orang tua tentu saja hal itu tidak dibenarkan. Apakah dengan alasan sudah tidak cinta lagi dengan suami dapat bercerai begitu saja? Lantas bagaimana dengan anak yang dikandungnya? Saya mengajaknnya agar berpikir dengan jernih bahwa apakah yang dilakukan sebenarnya egoisme atau kemuliaan yang mendorong dirinya untuk bercerai dari suami? Bagaimana dengan anak yang dikandungnya, masa depannya masih panjang dan membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Lantas bagaimana dengan suami yang mencintainya setulus hati, tentunya saja hatinya terluka dengan keputusan itu.

Cinta senantiasa akan tumbuh berkembang bila senantiasa dipupuk dan disirami, ia akan bisa menumbuhkan cinta didalam hatinya jika berusaha sungguh-sungguh, tidak ada manusia yang sempurna, begitupun dengan suami bukanlah manusia yang sempurna, juga bisa melakukan kesalahan. namun jika ia bisa melihat dari sisi kelebihan dan kebaikan maka sebagai istri mampu melihat dari sisi positif. Demikian juga bila ia hanya melihat kekurangan maka yang terlihat hanya negatifnya aja. Niat baiknya untuk membantu orang tua tentu saja bukan berarti kemudian mengorbankan rumah tangganya dan saya mengingatkan agar tidak meremehkan warung kecil dipinggir jalan yang dimiliki orang tuanya sebab pintu rizki terbuka darimana saja. Pekerjaan apapun yang dilakukan oleh orang tuanya adalah pekerjaan mulia dan sebagai orang tua, beliau juga tidak ingin menjadi beban bagi anak-anaknya, usaha yang dilakukan bukan saja untuk mencari nafkah namun juga ada nilai ibadah. Tentunya orang tua mana yang tidak menangis jika mengetahui bahwa anaknya bercerai karena alasan ingin membahagiakan mereka. Orang tua berharap pernikahan anaknya menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah.

Saya menganjurkan kepada pasangan suami istri itu untuk memohon ampun kepada Allah dan untuk tetap menjaga keutuhan rumah tangganya agar dilimpahkan keberkahan oleh Allah. Juga kepada Ibu sebagai istri lebih mendekatkan diri kepada Allah agar anak yang dikandungnya senantiasa dalam keadaan sehat dan kelak menjadi anak yang sholeh. Keinginannya membantu orang tua tentu saja hal itu tetap bisa dilakukan atas persetujuan suami tanpa harus mengorbankan keutuhan rumah tangganya. Pasangan suami istri itu nampak diwajahnya terlihat senyuman. Ada sebuah kelegaan memahami permasalahan rumah tangga yang dihadapinya. Kebahagiaan itu hadir pada diri mereka, tak lupa mereka memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

'Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri2 dari jenismu sendiri supaya engkau cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar2 terdapat tanda2 bagi kaum berpikir.' (QS. ar-Rum : 21).

Saturday, March 12, 2011

Cinta Yang Menenteramkan

Cinta yang menenteramkan bila cinta kita hanya untuk Allah sebab cinta kepada Allah adalah cinta yang hakiki. Cintailah pasangan hidup kita karena cinta kita kepada Allah. Bila kecintaan kita kepada pasangan melebihi cinta kepada Allah maka ujian akan datang dari orang yang kita cintai, sebagaimana seorang ibu yang telah dua belas tahun mengarungi rumah tangga dirinya mengkayuh dengan susah payahnya. Bangunan rumah tangga diatas pondasi kasih sayang yang rapuh. Pernikahannya penuh dengan pertanyaan yang tiada akhir benarkah dirinya adalah belahan jiwa dari suami yang dicintainya?Ditengah usia yang semakin tua tanpa ada pilihan lainnya yang memaksa dirinya untuk menikah dengan laki-laki yang datang melamarnya. Pernikahanpun dilaksanakan dengan meriah. Kebahagiaanpu hadir.

Ditengah kehidupan dengan mengalirnya waktu, materi dan karier telah mengubah seorang laki-laki. Semenjak bekerja dengan kariernya yang menanjak bagus. Kehidupan rumah tangganya mendadak berubah. Segala bentuk keresahan yang setiap dirasakan betapa ganasnya kota Jakarta menjadi sirna. Segalanya menjadi mudah. Dari menempati rumah kontrakan yang bocor, sering tergenang banjir. Disaat itulah hatinya menjadi sakit dan penuh penderitaan ketika mendapatkan perempuan lain dengan mudah hadir didalam hati suaminya. Justru ketika rumahnya sudah tidak lagi bocor dan tergenang banjir. Rumah besar dan nyaman dibilangan elit di kota jakarta. Suaminya mengakui semua perbuatannya karena telah jatuh cinta pada perempuan lain dan mengaku bahwa hal itu semata-mata khilaf namun hatinya terlanjur terluka.

Ditengah penderitaan ada sebuah kesadaran bahwa apa yang telah terjadi dalam hidupnya seolah membukakan mata hatinya betapa lemahnya manusia dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 'Mas Agus, betapa tidak berdaya kita dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala..' ucapnya lirih. 'Disaat saya begitu bangganya kepada suami seolah Allah menyentil saya agar mencintai Allah dengan sepenuh hati. Cinta suami adalah cinta yang ilusi sedangkan cinta kepada Allah adalah cinta yang hakiki.' lanjutnya, air mata itu bagai bendungan yang sudah tidak mampu ditahannya. Mengalir dengan derasnya. Semuanya terhenti disaat anak-anak Amalia sedang berdoa.

Dengan berbagi dan berdoa bersama di Rumah Amalia telah menenteramkan dan menyembuhkan luka dihatinya. Nampak wajahnya terurai airmata. Ada sebuah kelegaan sekaligus kedamaian. Tanpa terasa terucap puji syukur kehadirat Allah atas semua anugerahNya dan disaat itulah keikhlasan menerima apapun kesalahan suami mencair di dalam hatinya. Malam itu bersama suami dan anak-anaknya telah menemukan kembali kebahagiaan yang telah lama menghilang.

Thursday, March 10, 2011

Air Mata Kebahagiaan

Air mata kebahagiaan seorang suami menjadi terasa indah ketika sedang diuji oleh Allah, Apakah cintanya terhadap pasangan hidupnya dilandasi karena kecintaannya kepada Allah? Sungguh begitu indahnya air mata kebahagiaan seorang suami yang tulus mencintai istrinya karena Allah. Itulah yang terjadi pada seorang bapak yang diuji oleh Allah dengan istrinya sakit. Sampai suatu ketika istrinya mengeluh, dia ada yang dirasakan sakit untuk buang air karena itulah ia mengajak untuk ke dokter, begitu diperiksa dokter meminta untuk diopname karena istrisakit kanker usus. Dan dikatakan oleh dokter, istri tercinta hidupnya tidak lama lagi, 'astaghfirullah..'dalam hening dirinya berdoa, Ya Allah, cobaan apa yang Engkau berikan kepada kami?'

Dalam kondisi sakit seperti itu istrinya mengatakan bahwa kebahagiaan itu hadir sebab karena sakit inilah malah membuat kami sekeluarga rajin beribadah dan malah dekat kepada Allah Sampai akhirnya istri yang tercinta menjalani operasi, ia menyaksikan langsung gumpalan darah yang sebesar telur ayam telah dikeluarkan dalam jumlah banyak. Ia berusaha menguatkan hati ketika senyum istri menghiasi wajahnya dan mengatakan, 'ayah sabar ya..semuanya serahkan kepada Allah.'

Padahal hatinya terasa diiris-iris oleh pisau, sakit dan tidak karuan. Dalam kondisi seperti itu istrinya mengatakan ingin menunaikan ibadah umrah bersamanya. Masya Allah...walaupun hati dibuat tegar namun airmatanya tak mampu ditahan, airmata itu mengalir begitu saja dengan derasnya. Setelah operasi dokter hanya mengatakan, hanya Allahlah yang akan memberikan keajaiban. Itulah sebabnya ia dan anak-anak selalu mengajak ke Rumah Amalia, berniat untuk bershodaqoh, memohon kepada Allah untuk kesembuhan istrinya.

Lima bulan setelah operasi, berat tubuhnya menjadi naik. Dokter menyarankan agar istrinya mempertahankan berat tubuhnya. dokter yang menangani istrinya geleng-geleng kepala, dokter itu mengatakan hal ini sungguh keajaiban. Dirinya dan keluargana menangis bahagia karena bersyukur kehadirat Allah. 'Iman saya makin kuat, saya jadi tambah yakin dengan KemahabesaranNya, hanya mengabdi hidup dan mati saya untuk Allah. Bagi saya hanya satu, doa dapat mengubah yang buruk bisa menjadi baik dan yang salah menjadi indah dalam hidup ini.' Begitu tuturnya, tutur seorang suami yang penuh keikhlasan menjaga istrinya diketika sakit. Subhanallah..

--
Barang siapa menggembirakan hati istri, maka seakan-akan menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Alloh memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan istri (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami & istri itu dari sela-sela jarinya. [HR. Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Al-Khudzri].

Wednesday, March 09, 2011

Kemudahan Dalam Hidup

Ketika kita menghadapi kesulitan dalam hidupnya niscaya berusaha mencari jalan pemecahannya. Dalam hal ini ada yang tetap memperhatikan nilai-nilai kebaikan, tetapi ada juga yang menghalalkan segala cara. Menurut Alquran, sesulit apapun keadaan, jika dalam pemecahan masalah itu mengikuti jalan ketaqwaan, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar yang aman, dan bahkan didijamin akan memperoleh rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka. 'wa man yattaqillah yaj 'al lahu makhraja wa yarzuqhu min haytsu la yahtasib (QS / 65:2).

Ayat ini berhubungan dengan problem keluarga. Dalam problem bangsa atau masyarakat luas, sumberdaya alam menjadi tidak relevan dengan kemakmuran, jumlah peralatan menjadi tidak relevan dengan kesuksesan dalam pekerjaan. Menurut Alquran hal ini disebabkan dicabutnya keberkahan pada diri kita.

Keberkahan adalah terkumpulnya kebaikan ilahiyyah pada sesuatu, pada seseorang, pada suatu waktu, pada suatu tempat, sehinggga nikmat Allah terdayaguna secara optimal. Menurut Alquran, hilangnya keberkahan itu berkaitan dengan perilaku masyarakat yang tidak lagi mencerminkan iman dan taqwa adalah kejujuran, tanggung jawab, amanah dan keadilan. Jika nilai-nilai tersebut diabaikan oleh masyarakat maka sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya lainnya tidak akan fungsional bagi kesejahteraan hidup bagi kita. Sebagaimana Firman Allah, 'Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi; tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu; maka, kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.' (QS. al-A'raaf : 96).

Tuesday, March 08, 2011

Pancaran Kebahagiaan

Pancaran kebahagiaan diwajah kita adalah cermin dari hati yang bahagia ketika hidup penuh syukur mendapatkan nikmat dan bersabar dikala mendapatkan ujian. Begitulah yang dirasakan seorang Ibu dengan tiga putrinya. Di dalam hidupnya harus melewati ujian kehidupan yang sebelumnya tidak pernah disadarinya. Setelah pernikahannya dua puluh tahun dikaruniai dengan tiga putri yang sudah beranjak dewasa dikejutkan oleh kenyataan pahit, tiba-tiba suami menggugat cerai. Sampai beliau berpikir, apa yang salah dari dirinya sampai suaminya tega melakukan itu. Beliau sempat depresi, bingung tak tahu apa yang harus dilakukan. Apa lagi sang buah hati mereka sangat mengidolakan ayah dan bundanya. Mesti begitu dirinya tidak membiarkan ketiga putrinya terlihat dalam masalah orang tuanya.

Ketidak mengertian atas sikap suaminya karena selama ini kehidupan rumah tangga sangatlah tenteram dan bahagia, tidak pernah bertengkar dan keributan dan tidak ada alasan yang utama yang bisa dijadikan gugatan cerai oleh suaminya karena selain istri sangat menghormatinya dan tidak ada gelagat atau perilaku yang aneh. Suaminya yang sangat santun dan penuh perhatian pada anak istrinya. Ditengah kegalauannya beliau datang ke Rumah Amalia untuk bershodaqoh & berdoa bersama. 'Syukurlah alhamdulillah, dengan berdoa paling tidak telah membuat hati saya menjadi sejuk, bisa menerima dengan lapang dada, hati yang bersih dan ikhlas dalam menghadapi hidup ini,' tuturnya.

Ditengah dirinya sudah berserah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mencoba untuk instropeksi diri atas semua kekurangannya. Disaat itulah kebahagiaan itu hadir dan meluluhkan hati suami tercintanya kembali pulang ke rumah dan telah mencabut gugatan cerainya. 'Sungguh Mas Agus Syafii, hati saya sangat bahagia karena Allah telah membuat keluarga kami bisa berkumpul kembali.' tuturnya. Malam itu hatinya penuh kebahagiaan tak henti mengucapkan puji syukur kehadirat Allah. 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.' (QS. Faathir : 34).

Monday, March 07, 2011

Dihempas Cobaan

Entahlah bagaimana rasanya bila hati yang bahagia tiba2 datang menghempas cobaan. Cobaan datang bertubi-tubi.Terasa perih, hatipun bertanya, Mengapa ini terjadi? Mengapa harus aku? Itulah yang dialami seorang ibu, ketika dirinya mendapatkan tugas keluar kota dari kantor, suami dan anaknya ikut mengantarkan ke bandara dan melambaikan tangan kepadanya. Hal itu tidak pernah dilakukan, hatinya bertanya-tanya, entah kenapa suaminya melakukan hal itu, sampai pesawatnya berangkat. Sore harinya kakak memberitahukan suaminya mendapatkan serangan jantung dan dirawat di ICU di rumah sakit tak lama kemudian mendapatkan kabar bahwa suami tercinta telah berpulang kepada Allah.

Cobaan itu cukup membuatnya lemah dan tak berdaya, orang yang mendampingi hidupnya puluhan tahun meninggalkan dirinya dan anak-anaknya tanpa ada pesan apapun. Ditengah kegalauan hati, sampai suatu pagi kendaraannya mengalami kecelakaan, anaknya selamat namun dirinya harus terbaring di rumah sakit selama satu minggu. Air matanya habis terkuras, tidak lagi sanggup untuk berpikir bagaimana harus menjalani kehidupan bahkan tidak lama setelah bekerja kembali, perusahaannya bekerja akan ditutup dan dirinya kena PHK. Terasa lengkap sudah kemalangannya sampai menjerit kepada Allah dalam doa, 'Ya Allah, aku tidak sanggup lagi!' Disaat dirinya benar-benar hancur dan habis. Kasih sayang Allah menghampiri dirinya, semua cobaan, musibah dan ujian yang dihadapinya telah membuat dirinya semakin dekat kepada Allah. Sholat fardhu yang dulu seringkali ditinggalkan, sekarang lebih giat dikerjakan. Bersama anak-anaknya senantiasa mengingatkan bahwa hanya Allahlah tempat untuk bergantung dan memohon pertolongan. Peristiwa yang telah dilalui oleh dirinya dan anak-anaknya telah menumbuhkan empati terhadap penderitaan orang lain.

Akhirnya beliau mendapatkan pekerjaan dengan fasilitas yang jauh lebih baik lagi. Bahkan kondisinya sekarang justru lebih dekat kepada Allah dan anak-anak lebih bisa mensyukuri hidup apapun yang Allah telah anugerahkan bagi keluarganya. 'Alhamdulillah, melalui Rumah Amalia perjalanan hidup yang penuh cobaan saya bisa merasakan kesejukan & melewati semua itu dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah. saya bisa berbagi dengan orang yang pernah mengalami penderitaan seperti saya.' Tutur beliau sore itu, air matanya nampak mengalir, wajahnya terlihat penuh syukur kepada Allah.

'Tidak ada satupun musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatunya.' (QS. at-Taghaabun : 11).

Sunday, March 06, 2011

Menguatkan Hati

Di dalam keluarga, pasangan hidup senantiasa saling menguatkan hati. Bila suami sedang bersedih maka tugas istri untuk menguatkan hati suami, demikian juga sebaliknya. Pernah ada seorang ibu yang menuturkan bahwa disaat suaminya memiliki jabatan di kantornya sehingga kondisi keuangan keluarga baik dan tidak kekurangan. Namun belakangan ini suaminya bercerita kalo dia mendengar desas desus dirinya segera dipindahtugaskan bahkan ada kemungkinan akan dirumahkan, hal inilah yang membuatnya uring-uringan terus. Sampai istri sudah berusaha menghibur dengan mengatakan bahwa semua itu adalah bagian dari resiko pekerjaannya. Namun semakin hari sepertinya suami semakin tambah stress. Bahkan istri juga ikut-ikutan tegang karena setiap pulang kantor selalu bertanya-tanya apalagi yang akan menjadi obyek kemarahannya, 'Mas Agus, bagaimana saya harus bersikap untuk menghibur suami agar tidak selalu uring-uringan?'

Siang itu di Rumah Amalia saya menjelaskan padanya bahwa tugas kita senantiasa mendampingi pasangan hidup kita dalam suka maupun duka, menjadi penghibur suami ketika bersusah hati dan menjadi penopang suami ketika sedang limbung atau merasa kehilangan kepercayaan diri. Reaksi suaminya yang sering uring-uringan merupakan reaksi yang sangat manusiawi karena siapapun yang menghadapi ancaman kehilangan jabatan atau PHK cukup memberikan tekanan yang berat pada suami sekaligus seorang ayah yang bertanggungjawab terhadap keluarganya. Rasa tanggungjawab itulah yang memberikan tekanan psikologis yang berat bagi dirinya sehingga bila istri menghibur dengan tutur kata yang lembut masih dirasa belum cukup maka cobalah dengan tindakan seperti berhemat atau sudah mulai dengan berpikir mencari alternatif usaha mandiri atau berwirausaha sebab dengan cara ini menjadi kegiatan yang bisa menghibur suami bahwa masa depan dan rizki yang mengatur Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ketakutan akan kehilangan pekerjaan tentu saja akan berimbas pada semua anggota keluarga, tentu saja perlu didiskusikan bersama dengan suami dan harus diingat jika suami sedang sensitif, bila tidak bijak mengkomunikasikan tentunya malah hanya menimbulkan pertengkaran maka istri harus menjadi tegar dalam menerima kemungkinan yang terburuk suami bila sampai dirumahkan dari kantor tempatnya bekerja. Jadikanlah kondisi yang dialami ini sebagai momen untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan banyak bersyukur atas semua nikmat dan anugerahNya dengan lebih giat melaksanakan sholat fardhu dengan tepat waktu. Mengajak suami dan anak-anak agar sabar & ikhlas menerima ketetapan Allah bahwa apapun yang terjadi, Allah senantiasa memiliki rencana yang terindah bagi keluarganya sehingga kebahagiaan dan ketenteraman hadir ditengah keluarga ketika dilanda guncangan hidup yang hebat.

Saturday, March 05, 2011

Dihempas Gelombang Kehidupan

Perjalanan hidup seseorang tidak pernah ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Gelombang kehidupan menghempas siapapun. Demikian juga yang terjadi pada seorang bapak. Ditengah kebahagiaan diri dan keluarganya. Tiba-tiba terkena PHK. Perusahaannya ditutup. Usaha mencari kerja dilakukannya. Berhari-hari dirinya mencari pekerjaan tetapi selalu gagal.  Beruntunglah setiap kali pulang dengan kekecewaan, istrinya selalu memberikan semangat. 'Sabar ayah, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang sedang menguji kita,' begitulah yang diucapkan oleh istrinya disaat dirinya sedang putus asa. Sampai kemudian dirinya jatuh sakit. Didalam sakit itulah hatinya benar-benar berserah diri pada Allah. Istrinya dengan sabar setiap hari menyuapi bubur ayam hangat senantiasa mengingatkan agar bersabar dan berharap pertolongan Allah. Sampai kondisinya telah pulih kembali. Pada suatu hari istri mengajak ke Rumah Amalia untuk bershodaqoh dengan harapan agar Allah berkenan memberikan kemudahan atas kesulitan yang dihadapinya.

Sampai keesokan harinya ada teman lamanya meminta bantuan jasanya untuk mendapatkan pembiayaan dari bank. Berkat pengalamannya mengurus pembiayaan di Bank Syariah semuanya berjalan dengan lancar dan dirinya memperoleh komisi atas jasa yang telah diberikannya. Dari komisi inilah ia membuka usaha menyediakan gas dan air galon, semua yang dijalaninya terasa lancar dan mudah. Ditengah ketekunannya memohon kepada Allah. Semuanya menjadi terlihat nyata. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semakin lama pelanggannya semakin banyak. Sampai bisa membeli kendaraan roda empat untuk keperluan usahanya.

'Istri saya selalu mengingatkan agar menyisihkan rizki untuk anak-anak Amalia. Alhamdulillah, rizki terasa lebih mengalir ketika kami berbagi sekaligus membawa keberkahan dan ketenteraman hati dalam keluarga kami,' tuturnya. Dengan hati yang berserah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala semua kesulitan telah dilaluinya dengan mudah. 'Dan barangsiapa berserah diri kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, nicaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam segala urusannya.  (QS. 65 :2-3)

Friday, March 04, 2011

Menyejukkan Hati

Malam belum begitu larut. Seorang istri menunggu suaminya pulang kerja. Membantu sang buah hati mengerjakan PR. Terdengar suara motor. Pertanda suaminya telah pulang. Disambut dengan penuh suka cita. Berebut menyambut kedatangannya. Wajahnya terlihat letih dan lelah. Sepanjang hari pekerjaan menumpuk. bukan senyuman yang didapat. Suami itu membentak istrinya. Istrinya membalas dengan senyuman. mencium tangan suami tercinta. 'Ayah, sudah saya siapkan air hangatnya,' kata istrinya.

Suaminya bergegas mengambil handuk. Suaminya terheran. Bentakannya dibalas dengan senyuman. Setelah usai mandi dan sholat. Letih dan penat telah hilang. Suami menghampiri istrinya. Ditelinga membisikkan kata, 'Mah, maafin ayah ya..'  Suami istri itu saling berpandangan. Anaknya memeluk ibundanya dari belakang. Terdengar suara tertawa riuh. Air mata itu mengalir. Terasa damai dihati.

Ketika kita melakukan perbuatan baik tetapi dibalas dengan cacian, berarti kita telah memasuki gerbang maaf, ikhlas, cinta dan kasih sayang. Maka tersenyumlah sebab keikhlasan adalah anugerah yang terindah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena Allah menempatkan diri kita pada derajat sebagai kekasihNya. Kemampuan kita untuk menyejukkan hati membuat keluarga menjadi indah. 'Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. an-Nahl : 128).

Thursday, March 03, 2011

Indahnya Keharmonisan

Sungguh indahnya bila di dalam keluarga terlihat harmonis. Rukun dan bahagia selalu. Keharmonisan di dalam rumah tangga sangat ditentukan dengan komunikasi diantara anggota keluarga. Belum lama ini ada seorang ibu bersama dua anaknya datang ke Rumah Amalia. Pernikahannya selama delapan tahun dengan suami yang baik dan memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Menurut penuturannya, saking baiknya rumah masih tinggal ngontrak, perabotan seadanya, bahkan tidur dibawah, terima tamu dibawah, semua dibawah karena tidak memiliki meja dan kursi. Jika istri minta dibeliin meja kuri, suami selalu menolak dengan alasan untuk keperluan yang lain. Tetapi jika untuk keperluan temannya yang butuh uang, suami biasanya memberikan dengan mudah.

Pernah kakaknya terkena masalah keuangan, suami mengurusnya, membayar semua hutang kakaknya, entah suami dapat uang dari mana. Awalnya istri bisa menerima tetapi ketika uang sekolah anak terpakai, istri mulai marah dan kecewa. Sudah setahun suami digrogoti oleh ibu dan kakaknya. Semua apapun yang diminta oleh ibu dan kakaknya selalu saja suami mengabulkan. Bahkan ketika istri mengatakan 'tidak.' Ibu mertua marah dan berteriak, menyalahkan dirinya karena menghalangi anaknya berbakti pada ibunya. Padahal ia tidak bermaksud buruk, tetapi bila sudah terus menerus meminta bantuan keuangan, sementara keluarga keteteran, apakah sebagai istri harus diam saja?

Sampai suami kemudian berhenti untuk tidak memberi bantuan kepada Ibu dan kakaknya karena sudah memiliki rasa tanggungjawab kepada keluarga sehingga mampu mengatakan 'tidak' kepada ibu dan kakaknya. Sekarang yang menjadi ganjalan adalah pada dirinya sebagai istri, bukan kepada suami melainkan kepada Ibu mertua dan kakak suaminya. Dirinya menjadi malas berbincang & bertemu dengan ibu mertua. 'Mas Agus, bagaimana saya harus bersikap agar kami sekeluarga kembali hidup tenteram bersama keluarga besar suami?

Saya kemudian menjelaskan padanya bahwa sepatutnya hidup ini bersyukur kepada Allah karena dengan adanya berbagai masalah justru suami berperan sebagai penyelamat ibu dan kakaknya dan masalah itu bisa diselesaikan dengan baik. Daripada pikiran hanya tercurah pada ganjalan rasa marah dan kecewa pada mertua yang menghabiskan banyak energi lebih baik memfokuskan untuk upaya mempertahankan keterbukaan komunikasi dengan suami agar suami tidak terhambat untuk bercerita padanya atau meminta pendapatnya tanpa harus merasa berbicara kepada istri hanya akan membuat diri suami menjadi susah. Masalah keuangan di dalam keluarga memang topik yang sensitif untuk banyak pasangan karena sikap adil seorang suami menjadi penting antara kebutuhan untuk rumah tangga dan memberi dukungan keuangan orang tua, saudara atau untuk kepentingan pribadinya sehingga keterbukaan dan komunikasi lebih memudahkan terjadinya kesepakatan bersama.

Termasuk membangun komunikasi dengan keluarga besar suami. Bila tidak ada komunikasi dengan mereka yang terbentuk kemudian adalah prasangka dan opini dan biasanya penuh dengan hal-hal negatif. Sekali waktu berbincang bersama dengan ibu mertua dan kakak ipar di rumah. Keadaan rumah bisa dilihat dengan nyata, agar mengerti kalo rumah masing ngontrak, tidak ada kursi, meja dan yang lebih baik lagi untuk membangun empati. Makin banyak informasi tentang kita, makin realistis gambaran diri kita dipahami oleh orang lain. Makin terbuka diri kita, makin besar peluang untuk merasa dekat satu dengan yang lainnya. Dan dalam proses seperti ini mungkin saja dirinya juga akan menjadi berpandangan yang berbeda tentang ibu mertuanya, yang awalnya kecewa dan marah berubah menjadi sayang dan kasihan ternyata kehidupan ibu mertua memang membutuhkan pertolongan. Saya berharap agar dirinya tidak menghindari bila ibu mertua menghubunginya, hadapi, bicara, dengarkan sehingga suami juga bisa melihat bahwa dirinya punya itikad baik kepada ibunda tercinta, setelah komunikasi dengan suami menjadi lebih baik dengan hilangnya prasangka. Hal inilah yang menjadikan kebahagiaan kembali hadir dalam keluarga. Tidak ada lagi prasangka kepada suami, Ibu mertua, kakak ipar, demikian juga sebaliknya keluarga besar suami juga memahami kondisi batin gejolak hati yang dirasakannya sebagai seorang istri.

Ibu bukan hanya keluar dari depresinya namun juga bisa membangun keharmonisan dalam keluarga. ia bersyukur untuk memahami keadaan suami dan keluarganya serta lebih menyayangi suami & keluarga besarnya. Disisi yang lain dengan adanya masalah dan kesulitan telah membuatnya lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan sabar dan sholat. 'Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat, Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.' (QS. al-Baqarah : 153).

Wednesday, March 02, 2011

Luka Perih Dihati

Sumber penderitaan dari semua penderitaan terletak pada kehilangan. Kehilangan cinta, kehilangan hubungan dengan sesama dan kehilangan kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala. kehilangan ayah, kehilangan suami, kehilangan istri, kehilangan anak atau kehilangan orang yang kita kasihi. Terkadang kita mengabaikan keberadaan orang-orang yang mencintai kita dengan setulus hati namun mereka menjadi berarti bagi kita setelah mereka tiada. Menjaga orang-orang yang kita kasihi dan yang kita sayangi jauh lebih berarti selama mereka masih ada daripada mereka sudah tiada.

Demikian juga yang terjadi pada seorang suami yang mencintai istrinya dengan setulus hati namun istri yang dicintainya telah pergi meninggalkan dia dan sang buah hati untuk selamanya. Justru disaat cintanya semakin mendalam. Luka perih dihatinya tak tertahankan. Perasaan bersalah selalu menyelimuti dirinya. Masih teringat sewaktu pulang kerja, istrinya mengajak sholat berjamaah bersama suami dan sang buah hatinya. Istrinya selalu mengingatkan 'Ayah jangan lupa sholat ya..' Seulas senyum istrinya sambil menatap wajahnya namun tak juga dimengerti. Malam mereka membaca al-Quran bersama. Bergantian membaca dan saling menyimak. Semuanya berlalu begitu cepat. Canda dan tawa menghiasi rumah. Kebahagiaan itu hadir membawa kedamaian hati.

Pagi hari dirinya menemukan istrinya terpeleset saat mencuci. Tanpa berpikir panjang, bergegas membawa istrinya ke klinik terdekat. Sampai di klinik nyawa istrinya tak tertolong lagi.  Air matanya mengalir tak tertahan. Begitu cepat istrinya meninggalkan dia pergi. Masih teringat pesan istrinya 'Ayah, jangan lupa sholat ya.' Bagai pesan terakhir untuk dirinya. Terbayang olehnya selama ini dirinya tidak bisa menjadi imam yang baik. Ditengah kesibukannya bekerja terkadang mengabaikan sholat dan keluarganya. Begitu istrinya telah pergi selamanya dan tak akan pernah kembali, perasaan kehilangan menyelimuti dirinya.

Malam itu di Rumah Amalia, Laki-laki muda itu bersama sikecil duduk dipangkuannya. 'Mas Agus, saya belajar mengikhlaskan kepergian istri saya, sekalipun terkadang hati saya masih terasa luka perih, semua itu ketetapan Allah yang harus saya terima, membuat saya semakin dekat kepada Allah.' Malam itu kami berdoa bersama untuk istri yang dicintainya.

'Katakanlah, 'Apa yang menimpa kami ini telah Allah gariskan. Dialah pelindung kami. Hanya kepada Allah semata, semestinya orang-orang beriman itu bertawakal' (QS. al-Taubah : 51).

Tuesday, March 01, 2011

Diguncang Prahara

Dalam kehidupan tidak ada orang yang pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Seringkali kita tenggelam dalam kebahagiaan kemudian terhenyak disaat diguncang prahara. Maka disaat itulah mengubah cara pandang seseorang memahami kehidupan. Demikian halnya terjadi pada seorang bapak yang tidak menyadari, karena dianggapnya semua baik-baik saja sampai terjadi perpisahan. kesepian itu hadir setelah perceraian dengan seseorang yang semula diharapkan menjadi teman dalam perjalanan hidup ternyata menimbulkan berbagai perasaan lain yang mengiringinya. Rasa menyesal atas keputusan yang tergesa-gesa hanya terdorong rasa jengkel, marah dan benci, merasa dikhianati oleh perbuatan istri yang dinilai menjatuhkan harga dirinya. Timbul kesulitan demi kesulitan menerpa hidupnya.

Merasa bersalah karena keputusannya telah membuat diri dan anak-anaknya jatuh ke dalam keadaan yang lebih menderita. Pandangan keluarga, masyarakat, problem keuangan dan berbagai pertentangan batin membuat dirinya menjadi lebih tertekan. Namun beruntunglah ketekunannya dalam mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala membuat ia lebih tahan terhadap berbagai derita yang datang dan dalam menghadapi penilaian negatif dari siapapun juga. Justru dalam kesepian dan kesendirian , ia makin mengenal dan menemukan dirinya, makin mengenal hakekat hidup dan berusaha mengisinya dengan hal-hal yang positif bagi dirinya sendiri, bagi anak-anak dan bagi masyarakat sekitarnya. Semua itu tidak diperoleh begitu saja. Tetapi berkat ketekunan dan usahanya mendekatkan diri kepada Allah.

Kesempatan berbagai kegiatan, perkenalan dan berkumpul bersama di Rumah Amalia membuat dirinya semakin menyadari bahwa masih banyak yang bisa dilakukanna untuk kebaikan bagi sesama. Ia menyadari cobaan dan penderitaan di dalam hidup masih akan dijumpainya, namun berharap bisa melewati semua itu sampai saat akhir tiba. Tidak ada lagi rasa benci, dendam dan penyesalan, tidak ada lagi rasa sepi dan sendiri atau tertekan batin seperti dulu lagi. Pada akhirnya derita itu mengubah cara pandangnya dalam memahami kehidupan bahkan lebih mencerahkannya dalam menilai kehidupan. Senantiasa berpikir positif yaitu dengan bersyukur dan bertawakal kepada Allah.

'Katakanlah, 'Apa yang menimpa kami ini telah Allah gariskan. Dialah pelindung kami. Hanya kepada Allah semata, semestinya orang-orang beriman itu bertawakal' (QS. al-Taubah : 51).

Kebahagiaan Dalam Keluarga

Setiap orang selalu berharap ada kebahagiaan dalam keluarga. Kebahagiaan dalam keluarga tentunya harus juga diikuti dengan adanya kemandirian. Hal itulah sebagaimana yang dialami seorang bapak dalam perkawinannya selama empat tahun dengan memiliki dua orang putra bersama istrinya tinggal di rumah mertua karena kebetulan rumah orang tua istri cukup dekat dengan kantor tempatnya bekerja. Selama tinggal bersama mertua, kehidupan keluarganya baik-baik saja. Mertua yang baik dan dirinya cukup betah tinggal bersama mertua. Apalagi rumah sering kosong karena ibu dan bapak mertua memiliki usaha di luar kota, hanya pulang seminggu sekali. Mereka juga sering menjenguk anak-anaknya yang lain dan menginap beberapa hari di rumah anak-anaknya. Beberapa bulan ini orang tuanya yang hanya tinggal berdua di rumah sangat berharap dirinya dan keluarganya untuk tinggal bersama dengan mereka karena sudah tua dan sering sakit-sakitan, terutama ibunda tercinta. Rumah orang tuanya cukup jauh dari kantor, dirinya sangat ingin sekali menemani dan menjaga kedua orang tuanya disisa hidup mereka.

Pernah dirinya membicarakan dengan istri tetapi istri tidak memberikan jawaban yang pasti dan ketika ditanya malah berakhir dengan pertengkaran. 'Mas Agus, bagaimana sebaiknya kami tinggal? rumah orang tua atau rumah mertua? Apa yang harus saya lakukan Mas Agus Syafii? Saya kemudian menjelaskan padanya bahwa permasalahan kemandirian adalah faktor utama di dalam sebuah keluarga. Apalagi anak-anak akan semakin tumbuh dewasa, tentu harus dipikirkan tempat tinggal yang kondusif agar anak tumbuh dengan baik. Saat ini dengan tinggal di rumah mertua dengan alasan dekat dengan kantor. Ternyata saat bersamaan orang tua juga sudah tua. sakit-sakitan dan membutuhkan 'teman' di usia yang telah lanjut. Sebagai anak yang berbakti tentu saja hal itu adalah perbuatan yang sangat mulia. Jadi, sebaiknya musyawarah dengan istri sangatlah penting. Kemudian mengkomunikasikan hal itu dengan baik pada mertua dan orang tua apapun keputusannya yang akan diambil bersama istri tetaplah memperhatikan mertua dan orang tua dengan cara yang mampu dilakukan, apakah mengunjungi, menelpon atau bersilaturahmi.

Selanjutnya sebagai suami kemandirian dalam keluarga harus terbangun. Meski dengan mengontrak rumah. Jika diperhatikan dengan seksama selama tinggal di rumah mertua atau orang tua, ada kesan ketergantungan, Dalam jangka panjang hal ini sangatlah tidak baik namun bila hal itu dilakukan sementara waktu, tidaklah masalah. Mengapa? karena dalam jangka panjang akan menimbulkan ketidakmandirian dan kondisi rumah tangga menjadi tidak kondusif karena keterlibatan mertua atau orang tua dalam keputusan rumah tangganya secara langsung atau tidak langsung akan terlibat dan itu menjadi tidak sehat dalam berumah tangga. Keputusan apapun tentunya didasarkan pada rencana yang sudah matang, baik jangka panjang maupun jangka pendek namun sebagai ayah dan sebagai suami harus tetap memikirkan dan tempat tinggal yang mandiri untuk keluarga.
AGUSSYAFII BLOG
2006
Proudly powered by : Blogger