Yuk, wujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah

Thursday, August 18, 2011

Bahagianya Menjadi Penyelamat Keluarga

Sungguhnya bahagianya di dalam hidup ini apabila kita bisa menjadi penyelamat bagi keluarga kita. Ditengah bahtera keluarga kita yang mengarungi samudra kehidupan dihempas badai, kita merasa tak sanggup menanggung beban yang menekan diri kita. Kita sakit, terluka dan menderita akibat pengkhianatan, penghinaan dari pasangan hidup kita, kita ingin segera semua berakhir dengan cara meninggalkannya. Begitulah banyak orang yang lebih suka mengambil jalan pintas. Bukankah hidup ini jauh lebih indah dan membahagiakan apabila kita menjadi penyelamat bagi keluarga kita dengan memaafkan, menguatkan dan memberikan semangat agar tidak terperosok pada lubang yang sama, karena kekuatan cinta sanggup memulihkan orang yang kita cintai dari keterpurukan. Itulah yang dialami seorang ibu. Pernikahannya diujung tanduk. Hatinya menjadi galau dan gundah namun tak larut dalam kesedihan. Berkat kerja kerasnya kebutuhan anak-anaknya yang ditinggal suaminya bisa diatasinya. Seolah berjalan dengan terseok-seok perlahan-lahan kondisi ekonomi keluarganya bisa bangkit membaik.  Usaha yang dirintisnya berkembang pesat mengalami kemajuan.

Sampai pada suatu peristiwa yang membuat hatinya terkejut, putranya yang bungsu jatuh sakit kejang-kejang dan paru-parunya infeksi. Pada saat itu juga dilarikan putranya ke rumah sakit. Dalam keterpurukan dirinya terasa sakit, menyesakkan. Wajahnya memerah berlinangan air mata. Hatinya begitu hancur, remuk redam. Suaminya pergi, anak sedang sakit sementara ia harus juga terus mencari nafkah untuk anak-anaknya. 'Ya Allah, begitu berat cobaan hidupku ini,' ucapnya lirih. Dia sedang putus asa karena masalah tiada kunjung berakhir. Pada saat itu kedatangannya ke Rumah Amalia untuk bershodaqoh, memohon kepada Allah untuk kesembuhan putranya dan keutuhan keluarga.

Keajaiban itu terjadi ketika dirinya sedang menjaga putranya di Rumah Sakit, dokter mendatanginya dan mengatakan, 'Besok putra ibu boleh pulang.' Ia merasakan bahwa semua itu terjadi atas kehendak Allah. Anugerah Allah tidak sampai disitu. Suami yang meninggalkan dirinya dan anak-anaknya tiba-tiba pulang, bersimpuh dipangkuannya meminta maaf karena telah meninggalkannya pergi. Buah ketakwaannya kepada Allah membuat dirinya memaafkan kesalahan suami. Sejak itu kehidupan rumah tangga mereka berubah. Kesabaran ia sebagai seorang istri membuahkan hasil, anak-anak dan suaminya telah berubah menjadi lebih baik dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Banyak orang bersyukur pengorbanan dirinya terutama mampu memaafkan suami yang telah menyakiti hatinya telah menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Post a Comment

Home

AGUSSYAFII BLOG
2006
Proudly powered by : Blogger