Yuk, wujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah

Monday, October 31, 2011

Ketika Pernikahan Tak Seindah Harapan

Sahabatku, Ketika pernikahan tak seindah harapan maka anda membutuhkan kekuatan dan keberserahan diri kepada Allah untuk bisa menjalani kehidupan ini agar kepedihan yang menyelimuti tidak menjadi bara api dihati yang dipenuhi kebencian dan keinginan untuk menghancurkan apapun yang ada disekeliling kita. Tidak ada jalan apapun yang anda bisa lakukan kecuali menerima jalan kehidupan sebab apapun yang terjadi dalam hidup anda datangnya dari Allah. Allah melatih kesabaran anda agar kuat dan kokoh. Jika kita mampu mengelola emosi kita dan pilihan hidup kita, sirnanya sebuah harapan tidak akan membuat luka hati yang teramat dalam yang terus menganga.

Bahkan anda mendapatkan hikmah yang berlimpah jika anda mampu bersabar dan memiliki kekuatan di dalam diri anda maka anda melewati semua kepedihan itu dengan penuh syukur kepada Allah. Hati kita memang tersayat, luka itu begitu teramat pedih dan perih merana tatkala coban itu datang menghempas rumah tangga kita, namun apakah kita akan terpuruk dibawah timbunan keputusasaan dan rasa kecewa sepanjang hidup? Bukankah Allah Berfirman mengingatkan kita. "Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS. Yusuf : 87).Fafiru ilallah, berlarilah pada Allah, menangislah dan mengadulah pada Allah.

Sunday, October 30, 2011

Doa Untuk Ayah & Mamah

Dipagi yang indah seorang anak menulis, penuh isak dan tangis menuangkan apa yang dirasakannya. "Ayahku sayang, hari ini aku menangis melihat ayah tertidur lelap, bangun kemudian bergegas berangkat kerja tanpa menyapaku. Apakah ayah lelah mencari nafkah untuk keluarga? Berangkat pagi pulang petang, namun ayah tetap tersenyum bahagia saat menyambutku diujung senja. Meski ayah selalu membelikan apapun yang aku pinta, aku lebih suka melihat senyuman ayah.

Mamahku sayang, apakah mamah juga lelah dalam mengurusku dan merawatku? Mamah telah mempertaruhkan nyawa saat aku terlahir dan mengenal dunia ini, menjagaku siang dan malam dengan doa, selalu memasakkan kesukaanku, mengantar aku sekolah dan mengajariku penuh cinta, aku suka melihat mamah tersenyum, rasanya dunia begitu damai dan indah sepanjang masa.

Ayah, Mamah..aku takut saat senyum dan tertawa kalian terdengar getir, Ayah pergi dan tidak pernah kembali diujung senja hingga berganti malam. Lalu Mamah terus bersedih. Aku takut Ayah, Mamah pergi dan tidak pernah kembali untukku lagi. "Ya Allah, aku tidak berharap memiliki Ayah & Mamah yang sempurna, cukuplah saling setia dan selalu ada untukku."

"Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi satu keluarga, maka Allah akan memasukkan rasa kelembutan dalam diri mereka" (HR. Ahmad).

Cinta Seorang Suami

Ada seorang teman lama diundang ke Rumah untuk makan malam, teman itu begitu terkesan dengan cara teman baiknya disetiap percakapan dengan istrinya dengan selalu menyebut "sayang, istriku, Honey," Padahal usia pernikahan sudah lebih dari lima puluh tahun pernikahan Tentu saja mereka saling mencintai pada pasangan suami istri, walaupun usianya sudah senja kebahagiaan itu sangat terasa, caranya saling memandang dan melempar senyum membuat teman lamanya nampak terheran-heran.

Ketika istrinya masuk ke dapur, tengah sibuk mempersiapkan makan malam. temannya bertanya, "Sungguh saya ikut berbahagia melihat kalian begitu saling mencintai dalam perjalanan hidup rumah tangga. masih memanggil istrimu dengan begitu sangat mesra dan romantis." Tuan Rumah itu dengan mata berkaca-kaca terlihat wajahnya dipenuhi dengan kebahagiaan dan berkata, "Aku katakan sejujurnya padamu, aku mencintai istriku, sebenarnya sudah sejak lima tahun lalu aku tidak ingat lagi siapa namanya tetapi aku takut menanyakan."

Sahabatku, itu cinta seorang suami yang menjaga keutuhan rumah tangganya dalam mengarungi samudra kehidupan, tetap bersatu dalam kesetiaan di dunia bahkan bila kelak sudah tiadapun saling mendoakan. Yuk, kita menjaga & merawat pernikahan kita dengan kesabaran agar Allah melimpahkan keberkahan untuk keluarga kita. Rasulullah bersabda "Apabila seorang suami memandang istrinya dengan kasih sayang & istrinyapun memandang dengan kasih sayang maka Allah memandang keduanya dengan pandangan kasih sayang. Bila suami memegang telapak tangan istrinya maka dosa-dosa keduanya berguguran dari celah jari tangan keduanyanya." (HR. Rafi'i).

Friday, October 28, 2011

Sahabat, Aku Tunggu Undanganmu!

Kemaren pada hari Ahad di kegiatan HANIF Rumah Amalia dengan penuh kegembiraan seorang teman memberikan undangan pernikahannya. Kebahagiaan pasangan ini juga kebahagiaan buat kami di Rumah Amalia. Memang jodoh bukan semata-mata persoalan ikhtiar namun lebih pada ketetapan Allah yang akan menjadi jodoh kita. Bila anda sudah memiliki pasangan maka wajib hukumnya untuk menyegerakan pernikahan itu. Sebagaimana Rasulullah mengingatkan kita "Wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian yang sudah mempunyai ba’ah (kemampuan), maka hendaklah ia menikah, karena hal itu lebih menjaga pandangan dan kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena ia merupakan perisai."

Sahabatku yang "single" ingin segera menikah, jodoh merupakan rizki yang diberikan Allah kepada kita. Jodoh kita sudah ada, tinggal kita bagaimana menjemputnya. Berikhtiar & berserah diri kpd Allah merupakan kegiatan yg dianjurkan oleh Allah & RasulNya. Jangan berputus asa, tetaplah berikhtiar & memohon kpd Allah agar diberikan jodoh yg terbaik. Laluilah cara-cara yang syar’i, Insya Allah keluarga sakinah mawaddah warahmah akan menjadi nyata.

Sahabat, aku tunggu undanganmu!

Penyesalan Seorang Suami

Penyesalan seorang suami membuat luka hati istrinya, permintaan maaf tak juga menyembuhkan luka itu. Menjaga dan merawat cinta dan kasih sayang istri menjadi begitu bermakna bagi seorang suami. Pada sore hari, seorang istri dengan hati berbunga-bunga menanti suaminya yang hendak pulang dari kantor. Terbayang dibenak sang istri, mereka akan saling memeluk dan bertukar pikiran tentang apa yang telah terjadi siang hari. Sementara suaminya dikantor terkena marah dari atasannya, hal itu membuat shock dirinya.  Sesampai di rumah, suaminya ditegur dengan mesranya oleh sang istri. 'Sayang, apa yang sedang terjadi? Ceritakan kepadaku untuk meringankan beban dihatimu.' Wajahnya terlihat kusut, lemah lunglai dengan nada kesal suaminya menjawab, 'Mengapa kamu harus berbicara setiap saat? Apa kamu nggak bisa diam? Aku sudah bosan, aku tidak ingin mendengarkan suaramu lagi.'

Sang istri terkejut dan terpukul, hatinya tergores dan membuatnya terluka. Tak terbayangkan betapa sakitnya apa yang telah diucapkan oleh suami yang dicintainya dengan sepenuh hati. Ia berjanji untuk tidak bicara lagi dengan suaminya, 'Suamiku tidak ingin mendengarkan suaraku lagi. Aku tidak akan berbicara dengannya lagi!' Ucapnya dalam hati. Hal itu berlangsung selama 30 tahun. Suaminya penuh penyesalan. Berulangkali ia meminta maaf namun luka hati sang istri tidak pernah sembuh. Bahkan ketika sang suaminya sedang sakit keras, ia memohon agar istrinya memaafkan. penuh Isak tangis, "Istriku, biarkan aku mati dengan tenang. Sekali saja ucapkan bahwa kamu telah memaafkanku." Dan suamipun meninggal penuh dengan penyesalan yang belum termaafkan. Akankah pintu hati seorang istri tertutup pintu maaf bagi orang yang dicintai?

---
Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, pasangan hidup kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. 25:74).

Thursday, October 27, 2011

Mira Sayang Ayah

Ada seorang ayah yang selalu sibuk dengan pekerjaannya dikantor, terkadang membuatnya jarang berkumpul & bermain bersama istri & sang buah hatinya. Suatu hari dia berkata pada anaknya yang bernama Mira, "Mira, nanti hari sabtu, kita jalan-jalan ke taman yuk..!' Janji itu dipegang erat2 oleh anak perempuannya, setiap hari dia menghitung hari, dia berharap agar akhir pekan segera tiba, waktu seolah berjalan lambat. Setiap hari sang anak bertanya pada ibunya, "Ma, hari ini hari apa? Kok akhir pekannya nggak nyampe2 ya ma?"

Tibalah hari diakhir pekan, anaknya bangun pagi, sikat gigi, mandi & sarapan, dia sudah terlihat manis pagi itu. dia menunggu didepan pintu kamar ayahnya. Ketika ayahnya keluar dari kamar, anak itu segera berlari menyambut ayahnya dan berkata, 'ayah, hari ini jadikan kita ke taman?' Sang Ayah menganggukkan kepala. dia berlari riang gembira, melompat-lompat sambil berteriak, 'Yess!' Tidak lama kemudian HP sang ayah berbunyi dan dia mendengar ayahnya berkata, 'Maaf Pak, saya tidak bisa ke kantor hari ini karena saya sudah berjanji mengajak anak saya jalan-jalan.' Anaknya tahu bahwa ayahnya lebih mengutamakan janjinya untuk jalan2 ke taman dengan dirinya daripada harus ke kantor. Kegembiraan begitu sangat meluap, ciuman kecil mendarat dipipi ayahnya sambil membisikkkan kata, 'Mira sayang ayah.' Sang ayahpun tersenyum mendengarkan ucapan anaknya.

Sungguh indahnya hidup ini bila kita meluangkan waktu untuk anak-anak kita, berkumpul dan bermain. Sebagai ayah, saya bisa merasakan kebahagiaan ketika sang buah hati kita mengatakan dengan wajah yang berbinar penuh kegembiraan, 'Aku sayang ayah.' Hati terasa sejuk & indah.

Wednesday, October 26, 2011

Semakin Besar Luka, Semakin Besar Kekuatan Yang Dibutuhkan

Perih terluka karena orang yang kita cintai untuk bisa menyembuhkan membutuhkan kekuatan dalam memulihkan luka perih dihati. Semakin besar luka itu, semakin besar pula kekuatan yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka itu. Seorang Ibu bertutur bahwa pernikahannya yang sudah berlangsung sepuluh tahun, tiba-tiba suaminya bertingkah laku aneh, hampir setiap hari menelponnya justru disaat dirinya sedang dikantor, suaminya mengeluh dan menuduh sang istri tidak setia. Waktu berkenalan dulu memang suami tipe pecemburu, tentu saja cemburu itu menghilang ketika mereka sudah menikah, namun perkembangan akhir2 ini suaminya bilang tidak benar2 mencintainya, terkadang menelpon meminta doanya agar dia supaya tenang karena bila teringat sikap istrinya timbul marah lagi. Suaminya juga suka menuduh bahwa dirinya sombong karena kariernya dikantor menanjak terus sedangkan usahanya tidak maju-maju. Padahal dia tidak pernah merendahkan suaminya. Hal seperti itulah timbul pertengkaran karena kemarahan yang sudah tidak bisa terkendalikan.

Beliau merasa sudah tidak tahan hidup dalam rumah tangga seperti itu namun didalam lubuk hatinya tidak mau berpisah. Siang itu kedatangannya di Rumah Amalia berkenan untuk bershodaqoh dengan harapan mendapatkan keridhaan Allah sehingga mampu membukakan pintu hati suami. Tutur beliau dengan isak & tangis. Airmatanya mengalir begitu saja. Walaupun hatinya terluka perih, ibu itu berdoa. Dirinya memohon agar Allah berkenan menyejukkan hati suami yang dicintainya. Allah menjawab doanya. Tak lama kemudian komunikasi dirinya & suaminya mencair, sekalipun tidak mudah tetapi tidak ada lagi tutur kata saling menyerang bahkan suaminya mengajak untuk sholat berjamaah. Anak-anak juga merasakan kesejukan di dalam rumah. Sejak itu rumah tangga mereka berubah, kesabaran sang ibu membuahkan hasil. Ibu bersama anak-anak & suami akhirnya lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Cinta yang tulus membutuhkan pengorbanan untuk mengokohkan rumah tangganya dari hempasan badai. Subhanallah.

Tuesday, October 25, 2011

Isak Tangis Seorang Ayah

Di pagi yang indah ini ketika saya membuka email, hati saya terasa tersentak. Air mata mengalir tak tertahan. Setiap baris kalimatnya saya baca. Kata-katanya menghunjam dihati bahkan mengoyak kelubuk yang paling dalam. Beliau menuturkan sebagai berikut. 'Mas Agus, putra saya meninggal dunia di usianya dua tahun. tepat satu hari sebelum hari kelahirannya. Hari Ahad ketika saya libur, seharian kami bermain. Saya, istri dan anak bercanda seolah tiada mengerti apa yang akan terjadi. Badannya panas tiba-tiba, siang itu juga saya membawanya ke dokter. Tidak ada perkembangannya. Malamnya kembali saya membawanya ke Rumah Sakit dan anak saya yang sekecil itu harus diinfusnya dan mendapatkan oksigen. Sampai anak saya koma dan akhirnya tiada. Air mata saya tertumpah. Isak tangis tak bisa saya tahan. Saya memeluknya dan mencium wajahnya. Saya katakan pada, 'Sayang, ayah selalu mencintaimu. Kembalilah padaNya. Ayah ikhlaskan kamu..sayang.'

Dikalimat beliau selanjutnya ada kata-kata yang begitu indah namun terasa sebuah kepedihan dihati yang teramat dalam dan sebuah renungan bagi kita sebagai orang yang beriman, 'Saya yakin Mas Agus Syafii. musibah dengan meninggalnya anak saya ini adalah ladang peningkatan iman dan taqwa saya dan istri saya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.  Saya selalu ingat hadist Nabi Muhammad yang sering Mas Agus kutip. 'Sungguh menakjubkan orang yang beriman karena segala urusannya adalah baik bagi dirinya. Dalam hal ini tidak akan terdapat melainkan orang yang mukmin.  Apabila ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur karena hal itu baik untuknya. Dan apabila tertimpa musibah, ia bersabar karena hal itu baik juga untuknya. (HR. Muslim).

Sungguh hebat beliau seorang ayah yang juga sebagai seorang mukmin mampu melewati semua penderitaan dan kepedihan dihatinya, disetiap tetesan air matanya adalah ladang peningkatan iman dan taqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Itulah Air mata seorang ayah. Subhanallah.

Sunday, October 23, 2011

Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika cinta harus memilih untuk mempertahankan atau berpisah, kemudian memilih mempertahankan maka kekuatan dan kesabaranlah yang mampu membawa keluarganya kembali utuh. Cinta mengatasi luka, derita dan air mata. Kekuatan cinta justru diuji disaat orang dicintai berkhianat akhirnya justru menyesal dan kembali kepada keluarganya. Itulah yang terjadi pada seorang ibu rumah tangga yang memiliki tiga anak. Disaat rumah tangganya memasuki usia ke sepuluh tahun, parahara itu datang. Suaminya lupa diri, kariernya sedang menanjak, pulang selalu malam hari. Sholat selalu ditinggalkan. pertengkaran tak terhindarkan. Mereka memutuskan berpisah. Ibu bertugas menjaga anak-anaknya sementara suaminya bertanggungjawab memberikan nafkah setiap bulannya.

Setelah mereka berpisah, ada seorang teman mengajaknya bekerja diperusahaan garment. Meskipun sebagai orang tua tunggal menjaga anak-anak merupakan kebahagiaan bagi dirinya sebab bisa terhindar dari kekecewaan hati yang ditimbulkan akibat ulah suaminya. Namun dalam kesendiriannya bersama anak-anak merasakan kecemasan dan terserang insomnia, sering tidak bisa tidur malam. Ditengah kegelisahannya itulah kehadiran ke Rumah Amalia untuk bershodaqoh agar Allah berkenan mengembalikan keutuhan keluarganya. Allah Maha mendengar, disaat dirinya sudah putus asa, harapannya agar keluarganya rukun kembali seolah menjadi nyata. Dirinya melihat perubahan anak-anak yang cuek terhadap penderitaannya seolah mengerti apa yang sedang dirasakannya, anak-anak menjadi penurut dan baik.

Bahkan suatu hari dirinya bertemu kembali dengan sang suami, melihat perubahan sikap dan perhatiannya, suaminya mulai berusaha mendekatinya kembali, menyesali perbuatannya telah meninggalkan dirinya dan anak-anaknya. Akhirnya selama setahun perpisahnnya, kehidupan rumah tangga dapat dipulihkan kembali. Mereka sepakat untuk bersatu kembali dengan berharap keridhaan Allah. 'Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah, Engkau satukan kami kembali dalam kebahagiaan keluarga kami. Hanya kehendak Engkaulah yang merekatkan keluarga kami menjadi bersatu.' tuturnya, terlihat air mata yang mengalir. Malam itu terasa indah karena hatinya dipenuhi kebahagiaan.

---
"Apabila seorang suami memandang istrinya dengan kasih sayang & istrinyapun memandang dengan kasih sayang maka Allah memandang keduanya dengan pandangan kasih sayang. Bila suami memegang telapak tangan istrinya maka dosa-dosa keduanya berguguran dari celah jari tangan keduanyanya." (HR. Rafi'i)

Thursday, October 20, 2011

Kerinduan Pada Ayah

Sebagai seorang anak, terkadang memiliki kerinduan pada ayah. Namun sosok ayah telah membuat hatinya marah, sakit terluka dan kecewa. Begitulah penuturan seorang ibu di Rumah Amalia. Sewaktu kecil, ia mempunyai harapan yang ideal terhadap ayahnya karena belum mengerti betapa rumitnya kehidupan, ia berharap ayah yang sempurna. Kenyataan yang justru dialami adalah ayahnya justru membuat kecewa dan membuat hatinya terluka.  Disaat usia masih duduk dibangku Sekolah, dirinya menerima kenyataan pahit bahwa ayah yang diidolakan ternyata memiliki kekurangan. Ayah menikah yang kedua kali, meski semua itu telah terjadi, membuat hatinya sakit dan terluka, dirinya berusaha untuk melupakan malah membuat semakin dalam luka itu, karena kecintaan tak sanggup untuk meninggalkan ayah dan ibunya.

Sampai suatu hari sang ayah jatuh sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit, sebagai seorang anak, ia menjaga dan merawat ayahnya. Selama sakit ayahnya mengungkapkan perasaan bersalah terhadap anak-anak & istrinya. Perasaan bersalah itulah yang menyebabkan ayah jatuh sakit. Ia sebagai anak mampu memaafkan sehingga kesehatan sang ayah menjadi cepat pulih. Dulu setiap kali melihat sosok ayah selalu saja membuatnya marah.  "Alhamdulillah Mas Agus, Allah membukakan pintu hati saya sehingga menyadari ternyata memaafkan jauh lebih membahagiakan daripada membenci," tutur beliau. Perasaan benci dapatkan menghancurkan karena menimbulkan stres berkepanjangan. Ia dapat merasakan sendiri dengan meninjau ulang pandangannya terhadap ayah, ia dapat melihat kebaikan dan memaafkan kesalahan-kesalahan ayahnya, dengan demikian hatinya menjadi terasa lebih ringan dan lebih indah. Bahkan belajar dari pengalaman ayahnya tidak ada orang yang sempurna, juga tidak ada perkawinan yang sempurna, yang ada adalah keberanian dan ketabahan menghadapi ujian dan cobaan yang Allah berikan agar ia senantiasa bersyukur dan bersabar dalam hidup ini.

"Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada." (QS. an-Nur :22).

Ketulusan Seorang Suami

Ketulusan seorang suami mencintai istrinya begitu indah dan membekas dalam hati. Air matanya mengalir membasahi pipi, rambutnya telah memutih. Laki-laki itu duduk diam membisu, terdengar suara merdu itu melantunkan "Satu Jam Saja" Terbayang wajah orang yang dicintainya, ingin rasanya mengulang kembali pada masa lalu hanya untuk sejenak duduk berdua bersama istrinya yang dicintai. Kini yang telah tiada. Wajahnya, senyumnya selalu dikenang begitu manis. Sampai kemudian istrinya harus menghembuskan napas yang terakhir. Jiwanya tak tertolong lagi. Dirinya shock dan terpukul atas kebergian istri yang dicintainya. Berkali-kali jatuh pingsan, menjadi lemah tak berdaya. Sebagai suami, kini merasakan kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Air matanya mengalir deras, benda-benda kesayangan, buku-buku, poto-poto yang di dinding terlihat jelas wajah istrinya. Usapan tangan yang lembut, sapaan setiap menjelang tidur membuat dirinya tidak mau memindahkan benda atau apapun yang berkaitan dengan istrinya. Dalam kesendirian, merasuk rasa kesepian, hatinya dipenuhi dengan berbagai tanya, "Ya Allah, mengapa Engkau tidak ambil nyawaku saja? Bukankah aku yang penuh dosa ini yang pantas menghadap kehadiratMu?" Kehilangan orang dicintai menanggung beban yang begitu teramat berat. Ditengah lelah dan perih akhirnya ia menyadari apapun yang telah terjadi adalah ketetapan Allah yang harus diterimanya dengan ikhlas. Kesadaran untuk menerima ketetapan Allah itulah yang menguatkan dirinya agar tetap menjalankan tugas sebagai seorang ayah bagi anak-anaknya dan bagi sesama dengan aktifitas sosialnya di Rumah Amalia. Kenangan indah akan istri yang dicintainya tetap tersimpan dan menjadi penyembuh luka perih. Kesepian dan kesendirian perlahan menghilang. Ia menemukan makna hidup yang membuatnya semakin lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan lebih peduli terhadap penderitaan orang lain.

Wednesday, October 19, 2011

Berdzikir Bebaskan Dari Gangguan Kecemasan

Pernah ada yang bertanya pada saya kenapa bila dirinya cemas bisa sampai berkeringat dingin seluruh tubuhnya, "Saya kayak mau mati Mas." Dalam penjelasannya, berawal dari ke dokter dan dokter itu mengatakan bahwa ia menderita hipertensi, sejak itu ia merasakan bibirnya pecah-pecah, kering dan dada seperti sesak, kondisi itu terjadi bila ia sedang berada dalam keramaian, segera minum air, setelah itu merasa lega, gangguan itu menghilang namun gangguan itu bisa muncul kapan saja bahkan sekarang terbilang sering sampai ia takut untuk beraktifitas, takut kehabisan air, takut mati dijalan. Itulah gambaran gejala kecemasan dan kepanikan yang makin banyak diderita oleh masyarakat dengan intensitas kerja yang begitu tinggi. Gangguan cemas berat yang berulang, tidak terbatas pada situasi atau rangkaian peristiwa tertentu, karena datangnya tanpa kita duga sebelumnya. Gejala kecemasan atau ketakutan terhadap sesuatu akan terjadi, takut kehilangan pekerjaan, takut ditinggal oleh pasangan, takut dicopot dari jabatan menyebabkan timbulnya somatik seperti berdebar-debar, nyeri hati, badan sakit. Gejala yang lainnya seperti napas memendek, lemah, leher terasa tercekik, kepala pusing, berkeringat, tubuh bergetar, perasaan mual, gangguan pada perut, terhuyung-huyung, mau pingsan. Hal itu terjadi hanya selama beberapa menit, terkadang bisa juga lama. Siapapun yang mengalami serangan kecemasan dihinggapi ketakutan, terburu-buru meninggalkan tempat tertentu seperti kerumunan orang banyak, di dalam bus atau pasar bahkan kalo yang sudah berat bisa langsung pingsan.

Pertanyaannya lantas bagaimana kita agar terbebas dari kecemasan seperti itu? Pertama, bila dimungkinkan hindarilah minum obat penenang. obat hanya menghilangkan gejalanya, tidak menyembuhkan. kesembuhan datang dari cara kita mendekatkan diri kepada Allah. Itulah sebabnya dzikir adalah obat yang paling ampuh mengatasi kecemasan dalam hidup kita. Kedua, Dzikir sebagai media bersyukur. Bersyukurlah disetiap perubahan hidup kita, perubahan yang membuat kita senang atau bersedih, bahagia atau menderita harus kita syukuri. Ketiga, berdizikir sebagai bentuk kepasrahan kepada Allah. Apapun yang terjadi serahkan semua itu kepada Allah maka sikap berserah diri kepada Allah membuat hati kita menjadi tenang dan menghilangkan kecemasan. Sebagaimana Firman Allah, "Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. ar-Raad : 28).

Doa Tia Untuk Bapak

Malam hari di Rumah Amalia terdengar lantunan ayat suci al-Quran, suara itu begitu menyejukkan hati. Tiba-tiba Tia datang menghampiri saya, memeluk dan meminta dipangku. "Tia kangen ama Bapak.." Matanya jernih, berkaca-kaca. Udara terasa dingin, hujan mengguyur membasahi jalanan. "Apa Bapak Tia kedinginan Kak Agus?" Tutur kata dari bibir mungilnya tentang kerinduan pada bapaknya, membuat saya terdiam, seluruh tubuh saya menjadi lemas. Entah kenapa air mata itu mengalir begitu saja.

"Tia kangen ya ama bapak? Yuk kita berdoa untuk Bapak Tia agar tidak kedinginan, Doa Tia untuk bapak seperti lampu yang membuat rumah bapak menjadi terang benderang, tidak sendirian dan tidak kedinginan karena doa Tia." Malam itu kami berdua berdoa untuk almarhum bapaknya. Dalam doa Tia ada kerinduan seorang anak pada bapaknya. Air matanya yang basah diusap dengan tangannya. senyum kecilnya menghiasi wajahnya yang cantik. "Bapak Tia ganteng kayak Kak Agus" Kata Tia berlari penuh kegembiraan membiarkan saya dalam kesendirian.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak yang sholeh" (HR. Muslim ).

Tuesday, October 18, 2011

Mengapa Doa Kita Terkabul?

Ada seorang bapak yang memiliki seorang putri, istrinya yang dicintainya sedang sakit keras tergolek di rumah sakit, setiap hari beliau datang ke rumah sakit menggantikan bajunya dan juga berbincang. Dokternya seolah kehilangan harapan namun beliau sebagai suaminya yakin akan kesembuhan sang istri. Sampai pada suatu hari, beliau melihat sebuah kenyataan istrinya tubuhnya sudah pulih kembali bahkan beberapa hari kemudian dinyatakan telah sembuh dari sakitnya. Beliau bertutur, 'Saya yakin Allah akan Mengabulkan doa-doa saya.' Keyakinan itulah yang menyebabkan doa2 beliau begitu mudah dikabulkan. Di dalam kehidupan sehari-hari banyak di dalam hidupnya mendapatkan kemudahan dan sering dikabulkan doa-doanya.

Ada tiga kunci terkabulnya sebuah doa:

1. Kualitas diri yang berdoa. Doa setiap hamba kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan dikabulkan sangat tergantung pada kualitas hambanya yang berdoa. Allah senantiasa menguji dan melatih kesabaran setiap hambaNya. Bagi hambaNya yang lulus melewati setiap ujian yang Allah berikan maka Allah mengabulkan permohonan yang dipanjatkan oleh hambaNya. Ada seorang gadis yang berdoa ditengah malam senantiasa diiringi dengan tetesan air mata untuk agar segera diberikan jodoh yang terbaik dari sisi Allah dengan berbagai amal kebaikan lainnya dilakukan setelah melalui ujian yang diberikan oleh Allah akhirnya gadis itu mendapatkan jodohnya.

2. Kualitas ketakwaan yang berdoa. Setiap orang yang akan berdoa hendaknya meningkatkan keimanan dan ketakwaanNya sehingga jika doa kita dikabulkan memang karena patut untuk dikabulkan. Saya pernah bertemu dengan seorang pengusaha yang mengalami kemajuan pesat didalam usahanya, beliau menuturkan bahwa kemajuan dibidang usaha berbanding lurus dengan kemajuan spiritualitas. Sholatnya ditingkatkan, shodaqohnya ditingkat, kepedulian terhadap karyawan ditingkatkan maka dengan sendirinya perusahaan meningkat pesat seiring meningkat pesat kesejahteraan karyawannya sehingga semua karyawan bekerja secara optimal dan berdoa untuk kemajuan perusahaan.

3. Amal kebaikan yang berdoa. Sebelum kita meminta dalam doa. Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan mengabulkan permintaan kita, jika memang kita memang telah pantas menerima nilai yang seharusnya kita terima. Berilah kontribusi lebih besar dari apa yang kita inginkan dalam doa. Amal kebaikan yang telah kita lakukan salah satu faktor penyebab dikabulkan sebuah doa. 'Dan Allah senantiasa memberi pertolongan kepada HambaNya selama hambaNya itu suka menolong sesamanya' (HR. Muslim).

Maka tidaklah mustahil mengapa ada orang yang berdoa senantiasa mudah dikabulkan oleh Allah karena orang itu sudah mencapai taraf disayang bahkan sudah menjadi kekasih Allah. Sebagai seorang kekasih apapun yang diminta oleh pujaan hatiNya, apapun yang diminta akan selalu diberi. Bahkan sebelum memintapun sudah diberi karena baginya apapun yang Allah berikan selalu diterima dengan penuh syukur. "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS Al Baqarah :186).

Dunia Serasa Milik Berdua

Bila pasangan suami istri begitu lembut dan bersahaja maka hidup menjadi indah, dunia serasa milik berdua, orang lain dianggap ngontrak semua. Bahkan ketika seorang suami yang melihat debu dimata istrinya langsung mengungkapkan dengan penuh cinta, 'Istriku, ada debu di matamu' Istripun dengan manja menjawabnya. 'Tiupin dong abang, biar debunya terbang.' Manis, sahdu dan membahagiakan bahkan seperti lirik lagu Iwan Fals 'Jalan bergandengan tak pernah ada tujuan' Kemana-mana jalan bergandengan, berduaan tanpa tujuan hanya untuk menghabiskan waktu dan hari bersama dengan orang yang dicintai dan dikasihi. Kebahagiaan meraih impian bersama orang yang dicintai memaknai keindahan yang diselimuti ambisi dan perasaan yang tulus begitu cepat bertabrakan dengan kerasnya cadas kenyataan kehidupan. Suatu kenyataan yang kacau balau. Sebuah realitas dimana masalah dan problem hidup sehari-hari menjadi rumit seperti onak dan duri.

Pernikahan memang seindah impian bila kita memiliki kekuatan dan kesabaran untuk menjaga bahtera rumah tangga. Bahtera rumah tangga kita menjadi retak, pahit dan getir ketika menghempas justru disaat kita lemah, mudah menyerah dan tidak memiliki kesabaran didalam menghadapi berbagai kesulitan. Secercah kehidupan rumah tangga yang indah menjadi redup dan anda harus menerima kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Bagi anda yang akan atau sedang mengalami hal itu maka mohonkanlah kepada Allah agar memiliki kekuatan dan kesabaran yang besar agar mampu menjaga bahtera rumah tangga.

Sebab cinta yang hakiki bukan dilewati dengan pujian & sanjungan. Cinta yang hakiki justru diuji dengan berbagai peristiwa yang menyakitkan yang membuat hati kita terluka dan menderita. Allah membentuk dan melatih kita melalui luka itu, bukan pada seberapa besar luka itu tetapi seberapa besar kekuatan & kesabaran yang kita miliki untuk menjalani luka itu. Kekuatan dan kesabaran yang dihiasi kasih sayang itulah yang akan tetap membuat bahtera rumah tangga kita seindah impian sampai akhir hayat, karena Allah mencurahkan rahmat dan kasih sayangNya untuk keluarga kita. Sebagaimana Sabda Rasulullah, 'Seorang suami apabila memandang istrinya dg kasih sayang & istrinyapun memandang dg kasih sayang maka Allah memandang keduanya dg pandangan kasih sayang. Bila suami memegang telapak tangan istrinya maka dosa-dosa keduanya berguguran dari celah jari-hari tangan keduanya' (HR. Rafi'i).

Monday, October 17, 2011

Senyum Seorang Istri

Senyum seorang istri begitu tulus dan indah sekalipun hatinya perih terluka. Air matanya telah mengering. Sebagai seorang istri, hatinya terpukul ketika mengetahui suaminya memiliki cinta pada perempuan yang lain. Meskipun suaminya menyadari kesalahan dan telah bertaubat serta meminta maaf namun rasa perih terluka, marah dan kecewa masih berkecamuk dihatinya. Itulah sebabnya rumah tangga yang dibina seperti api dalam sekam. Terlihat harmonis dari luar, tetapi di dalam berlangsung perang dingin. "Setiap teringat penyelewengannya, hati saya bagai tersayat perih. Bila dia tersenyum, saya membayangkan senyuman itu dilontarkan untuk perempuan lain. Setiap dia membelai, saya terbayang suami saya membelai perempuan lain, Emosi saya tertahan dan setiap saat meledak." tuturnya ditengah rasa sakit hati yang terluka. Ditengah kegalauan, dirinya berkenan bershodaqoh ke Rumah Amalia, memohon kepada Allah agar diberikan ketenangan hati. Allah menjawabnya, tiba-tiba dirinya merasa bersyukur bahwa cobaan untuk keluarganya datang dari sang suami sehingga bila dia memaafkan bukan hanya keluarga yang menjadi utuh tetapi dia juga mendapatkan pahala.

Dirinya teringat bagaimana Rasulullah yang begitu mulia, mau memaafkan kesalahan orang lain. Keikhlasannya untuk memaafkan dan menerima ketetapan Allah, tiada cobaan yang diberikanNya melainkan untuk kebaikan baginya dan keluarganya. Serta tidak ada cobaan yang diberikan oleh Allah yang tak akan sanggup dijalaninya. Akhirnya hubungan dirinya dan suaminya telah pulih kembali, sebagai seorang istri, dia bersyukur bahwa Allah telah memberikan petunjuk pada suaminya sehingga menyadari kesalahannya dan mau bertaubat. "Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan." (QS. an-Nur :22).

Rawatlah pernikahan Anda!

Rawat dan jagalah pernikahan anda seperti merawat dan menjaga taman bunga. Ketika menjelang pernikahan, biasanya keluarga besar nampak heboh, sibuk menyiapkan pesta pernikahan, terpukau dalam gebyar pesta namun tenggelam setelah perjalanannya, pernikahan tidak terawat dengan baik. Akhirnya cinta itu memudar, kasih sayang menjadi hilang. Pernikahan menjadi hambar. Seorang suami diawal pernikahannya sangat mencintai istrinya tetapi setelah menjalani 15 tahun pernikahan, dia lebih senang dalam kesibukan daripada berdua sama istri.  Bila pernikahan tidak pernah terawat selama bertahun-tahun sehingga  bukan hanya menjadi  tidak indah lagi pernikahannya namun juga bisa saling melukai pasangan. Menurut al Quran surat ar Rum :21,  untuk merawat pernikahan itu adalah mawaddah dan rahmah, cinta dan  kasih sayang.  Idealnya jika antara suami dan  isteri diikat oleh perasaan  mawaddah dan rahmah sekaligus. Mawaddah  mengandung arti kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Jadi cinta mawaddah adalah perasaan yang mendalam, luas, dan bersih dari pikiran serta  kehendak buruk. Sedangkan rahmah mengandung pengertian dorongan psikologis untuk melindungi orang yang tak berdaya.

Rumah tangga yang direkat oleh mawaddah dan rahmah adalah pasangan dimana masing-masing secara naluriah memiliki gelora cinta mendalam untuk memiliki, tapi juga memiliki perasaan iba dan sayang dimana masing-masing terpanggil untuk berkorban dan  melindungi pasangannya dari segala hal yang tidak disukainya. Sesuatu yang ideal biasanya jarang terjadi. Bagimana jika tidak? Bila mawaddahnya putus, perasaan cintanya tidak lagi bergelora, asal masih ada rahmah, ada kasih sayang, maka rumah tangga itu masih terpelihara dengan baik. Betapa banyak suami isteri yang sebenarnya kurang dilandasi oleh cinta membara, tetapi karena masih ada rahmah, ada kasih sayang, maka rumah tangga itu tetap berjalan baik dan melahirkan generasi yang terpuji. Rahmah yang terpelihara pada akhirnya memang benar-benar mendatangkan rahmat Allah berupa mawaddah.

Sunday, October 16, 2011

Bangkit Disaat Terpuruk

Bangkit disaat terpuruk karena kehilangan orang yang kita cintai membutuhkan kekuatan yang besar. Membantu untuk bangkit dan kuat ditengah keterpurukan dengan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, itulah yang kami lakukan di Rumah Amalia pada seorang ibu. Secercah kebahagiaan itulah yang mampu mengobati rasa duka dan terkejut karena kehilangan secara tiba-tiba seseorang yang dikasihi, meskipun sudah dapat diperkirakan bahwa hal itu akan terjadi karena sakit yang diderita oleh suami. Membuatnya lupa diri dan larut dalam kedukaan yang amat parah. Penyangkalan akan kenyataan yang terjadi, penolakan dan rasa marah kepada keadaan dirinya, kepada orang lain bahkan kepada Allah karena merasa diperlakukan tidak adil, membuatnya semakin terpuruk. Secara pisik dan emosional sudah tidak terkendali lagi dan ia tidak peduli dengan dirinya, dengan anak-anaknya, dengan kehidupan sekitarnya. Suatu keberuntungan bahwa secara ekonomi ia dan anak-anaknya tidak mengalami kesulitan karena suaminya almarhum telah menyiapkan segala sesuatunya dengan cermat.

Namun kenangan akan almarhum suaminya membuat dirinya semakin sedih dan menderita. Predikat 'Single Parent' yang ditakutinya kini menjadi kenyataan. Untuk jangka waktu yang lama ia terbuai dalam kegelisahan, kesepian dan kesendirian, ingin mati dan pernah terpikir untuk bunuh diri dengan menelan obat-obat penenang. Ibu itu jatuh sakit. Dalam keadaan terbaring di Rumah Sakit mengenal banyak orang yang mengalami hal yang sama, kehilangan orang-orang yang dicintainya Dalam proses, akhirnya  beliau menyadari jika suami yang telah tiada begitu sangat berharga maka yang ada juga sama bahkan lebih berharga,  sampai kemudian beliau lebih menyayangi dan penuh perhatian kepada anak-anaknya yang masih ada. Begitulah, dari ketiadaan, kita bisa mengetahui betapa berharganya sesuatu yang ada setelah tiada.

Ternyata mereka mengalami hal yang sama, bahkan ada diantara mereka yang menanggung beban yang lebih berat daripada dirinya. Justru ditengah keterpurukan membuat dirinya lebih mengenal kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala. beliau menemukan kembali dirinya sendiri dan bisa mengatasi rasa duka kehilangan orang yang dicintainya. Beliau menyadari bahwa anugerah hidup yang diberikan oleh Allah harus dipergunakan untuk menjalankan tugas panggilannya sebagai ibu sekaligus sebagai ayah bagi anak-anaknya dan juga bagi sesama melalui kegiatan di Rumah Amalia.  Kenangan manis akan orang yang dicintainya tetap disimpannya, rasa duka, sepi dan sendiri perlahan mencair dan beliau memperoleh secercah kebahagiaan yang telah lama menghilang.

Saturday, October 15, 2011

Meraih Cinta Memperindah Jiwa

Dalam hidup ini yang membuat indah dan bahagia karena kita meraih cinta meperindah jiwa. Jiwa yang indah ketika mampu mencintai pasangan kita dengan setulus. Pernahkah anda dengan tulus mengungkapkan isi hati anda kepada orang yang anda cintai, "Betapa aku mencintaimu."  Haruskah anda mengungkapkan perasaan anda itu setelah orang yang anda cintai itu telah pergi?" Allah melatih kita dengan berbagai cobaan dan ujian yang penuh luka, perih dan air mata agar kita memiliki kekuatan dan kesabaran di dalam mengarungi bahtera kehidupan sekaligus agar kita berhati-hati dan berani untuk mengkoreksi diri kita sendiri.  Ujian dan cobaan yang kita hadapi juga wujud kasih sayang Allah yang mengingatkan kita atas perbuatan bila ada yang kurang tepat dari yang kita kerjakan.

Seringkali kita begitu percaya diri dalam menghadapi ujian dan cobaan, kita menganggap bahwa diri kita sudah benar dan kita menganggap diri kita sudah menjadi orang baik serta kita sudah berbuat yang terbaik dan benar untuk keluarga kita. Padahal kita adalah orang yang begitu teramat miskin dengan rasa penghargaan. Kita hanya bisa menghargai orang yang kita cintai setelah kita kehilangan, atau ketika kita sakit dan membutuhkan keberadaannya disisi kita. Bukankah hidup ini menjadi lebih indah apabila kita menyuburkan rasa cinta dan kasih sayang itu disaat hubungan kita ditengah kemesraan dan kehangatan? Sikap menghargai disaat keluarga harmonis, anak-anak penuh kebahagiaan adalah wujud rasa syukur kita kepada Allah yang menjadi kekuatan kita jika badai itu datang menghantam keluarga kita.

Ucapan  "Betapa aku mencintaimu" menggambarkan pengakuan yang tulus dan ikhlas namun juga disisi lain menyiratkan pernyataan bahwa kecintaan anda kepada orang yang anda cintai karena kecintaan kepada Allah. Bila di dalam sebuah rumah tangga, kecintaan kita kepada pasangan kita dilandaskan karena cinta kita kepada Allah maka Allah akan melimpahkan keberkahan dan kebahagiaan sepanjang hayat. Sebagaimana Rasulullah, "Apabila Allah menghendai kebaikan bagi sebuah keluarga maka Allah memasukkan rasa kelembutan di dalam diri mereka." (HR. Imam Ahmad).

Thursday, October 13, 2011

Keajaiban Doa Seorang Suami Ditengah Cobaan

Keajaiban doa seorang suami telah mampu menyelamatkan keluarganya ditengah cobaan hidup. Peristiwa itu begitu nyata ada di depan matanya. Laki-laki separuh baya matanya menerawang menatap kedepan. Tak ada suara dan kata yang terucap, Wajahnya nampak sejuk dan damai. Air matanya mengalir begitu saja tanpa terasa. Air mata seorang suami yang mencintai istri dan anaknya. Tak ada hidup yang sempurna tanpa ujian dan cobaan.  Awal perjalanan hidupnya datar dan lurus lalu menanjak mencapai kesuksesan dalam karier, Allah memberikan kemudahan. Pernikahannya penuh kebahagiaan. terasa semakin lengkap dengan kehamilan istri tercintanya. Buah hati yang didambakan bagi seluruh anggota keluarganya namun toh, Allah memiliki rencana lain.

Putra pertamanya, hanya bertahan 24 jam berjuang bertahan hidup. Kejadian itu benar-benar membuat hidupnya merasa terpuruk dalam kubangan yang penuh lumpur, terasa sesak untuk bernapas dan membuat perih dihati. Selama berbulan-bulan beliau mengurung diri meratapi sang buah hatinya yang telah pergi. Sungguh tak terduga. Kehilangan itu terjadi justru dipuncak kesuksesan kariernya. Kejadian itu menguji keimanannya bahkan terkadang menggugat keberadaan Allah, 'Kenapa Allah tidak adil pada kami?' begitu ucapnya. Ujian keimanan berikutnya, justru menimpa pada istrinya. Istrinya terserang kista dirahimnya. Dokter memvonis istrinya berisiko tinggi jika hamil lagi. Tentu saja sebagai suami hal itu membuatnya sangat terpukul dengan pernyataan itu. Dia teringat bagaimana masa2 indah dilalui berdua & dirinya sangat khawatir terhadap kondisi sang istri. Kemudian dia berinisiatif untuk berbagi ke Rumah Amalia. Sungguh menakjubkan, ternyata kista istrinya bisa sembuh tanpa harus operasi. Terlebih kehamilan yang kedua telah membuat hidupnya menjadi terasa bahagia. Kelahiran anak yang dinanti memhiasi indah hidup ini dengan penuh syukur.

Dua cobaan hidup yang begitu terasa berat semakin menyadarkannya agar semakin mendekatkan diri kepada Allah. Terlebih dengan kehadiran sang buah hati, seolah diberikan anugerah yang terindah. Disaat dia melihat istri dan sang buah hatinya tertidur lelap. Kesejukan hatinya dipenuhi rasa syukur kepada Allah menyatu dalam cinta dan tanggung jawab sebagai seorang suami. Air matanya yang bening mengalir terlihat indah. Air mata kasih sayang seorang suami yang mencintai dengan setulus hati istri dan anaknya. Limpahan kasih sayang Allah menjadikan kebahagiaan dan ketenteraman keluarganya. "Apabila seorang suami memandang istrinya dengan kasih sayang & istrinyapun memandang dengan kasih sayang maka Allah memandang keduanya dengan pandangan kasih sayang. Bila suami memegang telapak tangan istrinya maka dosa-dosa keduanya berguguran dari celah jari tangan keduanyanya." (HR. Rafi'i)

Penjual Putu

Kemaren sore sepulang kerja istri saya minta dibelikan putu. Setiap sore hari biasanya ada penjual putu yang selalu lewat di depan rumah kami. begitu penjual putu lewat, saya langsung memesan putu, yang saya suka putunya berwarnai hijau yang terbuat dari pandan yang harum. Rasanya manis dan empuk. 'Bang Putu ya..'kata Hana. 'Baik neng.'jawab penjual putu. 'lagi rame ya bang.'tanya saya. 'alhamdulillah, rizki selalu ada mas agus.' katanya. Rasa kecukupan yang dimiliki oleh penjual putu adalah kekayaan yang teragung yang menghasilkan cinta yang teduh dan dan menyejukkan hati.

Sahabatku, Rumah yang teduh dan menyejukkan hanya akan ditempati oleh penghuninya yang memiliki 'deep listening' dan 'loving speech'.  Kemampuan untuk menjadi pendengar yang baik dan bertutur untuk membantu bukan menyakiti hati orang lain itulah yang membuat rumah menjadi indah sebab para penghuninya menghiasi dengan bertutur kata penuh kasih terhadap sesamanya yang bermuara dari rasa kecukupan terhadap semua anugerah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ada satu ungkapan 'Bila hati penuh syukur, kita menemukan cinta dimana-mana.' Kali ini saya menemukan cinta yang agung didalam hati yang penuh rasa syukur dari seorang penjual putu.

Wednesday, October 12, 2011

Cinta Itu Menyejukkan Hati

Cinta kita kepada Allah mampu menyejukkan hati ketika mengarungi samudra kehidupan. Terkadang badai dan ombak datang menghempas membuat kita terhenyak, terkejut, kaget, marah dan kecewa. Terjadi dengan tiba-tiba dan kita bertanya, "Ya Allah, mengapa semua ini harus terjadi?" Kemudian dengan cinta kita kepadaNya menyejukkan hati kita yang perih, penuh luka dan air mata. Itulah yang terjadi pada seorang Ibu. Sosoknya sederhana.  Tahapan hidupnya penuh guncangan. Bahtera keluarganya terhempas badai dan gelombang ditengah samudra kehidupan. Dirinya harus berpisah dengan suami yang sangat dicintainya.  Pengorbanan cintanya begitu luar biasa.  Rumah tangga yang dijalin selama sepuluh tahun harus kandas. Dirasakan sebagai pukulan telak. Bersamaan dengan itu jiwanya menginginkan rasa aman dan kebahagiaan. Dibutuhkan pelabuhan untuk menyandarkan keletihan dan kepiluan jiwa. Ibunya yang dicintainya berpulang ke Rahmatullah. Dia tidak tahu harus apa yang dilakukannya. "Saya yakin ini adalah wujud kasih sayang Allah kepada saya." tuturnya lirih. Airmata berlinang.  Wajahnya tertutupi oleh jilbabnya yang panjang. Angin berhembus menyegarkan seolah menyejukkan hatinya.

Terdengar suara anak-anak Amalia melantunkan ayat suci al-Quran mengalirkan perasaan sejuk. Kenangan bersama anak-anak dan suaminya hadir kembali dipelupuk matanya. Disaat dirinya membantu anak-anaknya belajar membaca al-Quran dan belajar sholat terasa indahnya. Sementara kini anak-anak semuanya ikut suaminya, hanya yang bungsu ikut bersamanya. Sore itu dirinya meneduhkan hatinya di Rumah Amalia, dengan bershodaqoh berharap memohon pada Allah agar senantiasa diberi kekuatan dan kesabaran dalam mengarungi samudra kehidupan.

Alhamdulillah, Seminggu kemudian, Allah telah mempertemukan kembali keluarga itu. Suami dan anak-anak menemui dirinya. Berkumpul dalam kebahagiaan keluarga, bersama suami dan anak-anaknya. Dirinya meminta maaf kepada suami dan anak-anaknya. Malah disambut dengan derai air mata. "Abi yang salah terhadap Umi, Abi yang semesti meminta maaf kepada Umi, " tutur suami yang sangat dikasihinya. Malah anak-anaknya yang menyemangati Abi dan Uminya agar hidup rukun kembali. Rasa syukur mereka sebagai orangtua  kepada Allah karena menyatukan dan memberikan semangat agar bersatu justru anak-anaknya. Anak-anak yang sholeh yang berharap kedua orang tua untuk tidak berpisah. Subhanallah..

Tuesday, October 11, 2011

Temukan Kebahagiaan Dalam Diri Anda

Cinta bukanlah pikiran dan perasan. Cinta bukanlah semata harapan dan keinginan, tetapi cinta adalah sebuah latihan kesabaran, sebab cinta itu memberi, cinta itu berkorban, cinta itu memaafkan. Cinta yang hakiki tidak dilalui dengan riang gembira dan canda tawa namun cinta yang hakiki dilewati dengan peristiwa yang menguras derai air mata, perih dan terluka agar anda mengerti bahwa sesungguh cinta yang hakiki hanyalah cinta kita kepada Allah, Sang Pemilik Kehidupan.  Bagi mereka yang mengejar kebahagiaan dengan berharap akan menemukan cinta yang hakiki cobaan dan ujian yang terberat adalah kehilangan. Kehilangan sesuatu yang berarti tentu saja membuat kita merasa sedih dan berduka. Terlebih kehilangan seseorang yang begitu kita cintai dan kita harapkan, bahkan seluruh hidup kita bergantung kepada kehadirannya, maka rasa perih dan terluka mengiringi kepergiannya teramat dalam dan tidak akan pernah terhapus dari ingatan kita. Setiap benda, peristiwa, jalan yang pernah kita lalui atau hal yang mengingatkan kita kepada orang tersebut membuat perih dan luka hati menganga kembali dan rasa sakit menyayat begitu perih, nyeri.

Kenangan indah, hidup penuh semerbak harum mewangi bunga, bagai di taman surga tersimpan dalam ingatan kita. Cinta dan kasih sayang, kemesraan, menimbulkan kenangan manis tak terlupakan. Sementara disisi lain kecintaan penuh muatan emosi, pertengkaran, menimbulkan luka yang teramat dalam. Setiap benda, tempat, peristiwa dengan orang yang kita cintai menimbulkan kenangan manis dan pahit juga perih. Itulah sebabnya ketika kita kehilangan orang yang kita cintai terjadi secara tiba-tiba, sama sekali tidak diduga dan tidak dikehendaki, jiwa kita memberontak, marah, tidak dapat menerima keadaan yang terjadi karena ditinggalkan.

Sahabatku, kehidupan tidak hanya dipenuhi dg kegembiraan, terkadang derita menyapa. anda tidak bisa menolak perih dan luka dihati karena kehilangan orang yg anda cintai, mau tidak mau anda harus menerima dan menghadapi duka serta melewati masa-masa berat ditinggalkan orang yg anda sayangi. Sahabatku, temukan kebahagiaan dalam diri anda. Fafiru Ilallah, Larilah pada Allah, menangis dan memohon pd Allah agar diberikan kekuatan dan kesabaran melewati masa-masa berat itu. "Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia sebaik-baiknya pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, mereka tidak ditimpa satu bencana dan mereka mengikuti keridhaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. ali Imran : 173-174).

Monday, October 10, 2011

Siramilah Hati Dengan Cinta

Tidak ada yang lebih indah di dalam hidup ini bagi orang yang menyirami hatinya dengan cinta. membuat hati berbunga-bunga, sejuta rasanya, keindahan cinta ditemukan ikatan pernikahan. Pernikahan akan menemukan ujian yang berat bila di dalamnya sudah tidak ada lagi rasa cinta. Maka saling terkait antara cinta dan pernikahan. Pernikahan yang mengolah semua bentuk ungkapan cinta antara laki-laki dan perempuan dari tutur kata, perilaku hingga sentuhan penuh romantisme. Itulah yang mampu membawa jiwa terbang ke awan, melambung tinggi seolah memasuki surga firdausy nan penuh keindahan, ketenteraman dan ketenangan jiwa. Bahkan Rasulullah menyebutkan "Tidak ada yang bisa dilihat lebih indah oleh orang yang saling mencintai seperti halnya pernikahan." (HR. al-Hakim).

Singgasana pelaminan menjadi tempat peraduan yang halal untuk tergapainya puncak asmara keabsahan bersatunya dua tubuh dengan penuh gelora kebahagiaan. Bila cinta tanpa sentuhan dan penyatuan hanya akan melahirkan penderitaan bagi jiwa yang berkepanjangan. Cinta adalah paduan antara tubuh dan jiwa. Wajah yang rupawan, fisik yang sempurna menjadi daya tarik diawal perkenalan yang menyulut adanya api asmara. Seiring waktu wajah yang rupawan dan tubuh yang sempurna mulai memudar, rambut memutih, terlihat menua pertanda fisik memiliki keterbatasan maka jiwa yang mengikat dua hati dalam satu cinta. Akan tiba saatnya dua pasangan yang saling mencinta tidur saling membelakangi, tidak lagi berselera maka disaat itulah  dibutuhkan upaya bagaimana melanggengkan cinta, yaitu dengan kelembutan tutur kata sebagai ungkapan kebaikan jiwa masing-masing. Tutur kata dengan saling mengasihi akan melanggengkan keindahan cinta.

Disaat kita sudah diusia senja. "Alhamdulillah ya mah, setelah puluhan tahun kita melewati kehidupan rumah tangga, kita bisa mengantarkan anak cucu ke gerbang pintu kebahagiaan." Sang istri menjawab, "Rasanya aku baru kemaren melahirkan, menyuapi dan meninabobokkan, sekarang kita punya cucu yang sudah besar." Sementara sang cucu tersenyum melihat Kakek dan Neneknya seperti sedang berpacaran, saling menggoda. "Ih, Kakek dan Nenek kayak anak muda aja," sindir cucunya. Kakeknya pun menjawab, "Emangnya cinta hanya milik kalian anak muda aja," Tak lama setelah itu terdengar tawa penuh kebahagiaan. Begitulah cara melanggengkan keindahan cinta hingga akhir diusia senja kita dengan menjalin hati dan kata dengan orang yang kita cintai.

Kuatkan Diri Anda

Kehidupan selalu terdiri dari senang dan sedih, bahagia dan derita, menerima dan kehilangan merupakan dua sisi dalam kehidupan sehari-hari yang kita alami. Kita tidak mungkin hanya mau bahagianya saja atau senang terus seumur hidup. Bila yang itu kita inginkan maka bersiaplah anda kecewa. Tentu saja bukan juga kita hendak ingin menderita dan bersedih namun hidup ini memang memiliki dua sisi kebahagiaan dan penderitaan. Hal itu tidak bisa kita pungkiri. kalau kita mau tetap kuat dan kokoh dalam menjalani hidup ini, kedua sisi itu haruslah diterima dengan penuh syukur. Tidak mudah memang, tetapi yakinlah, Bisa! Karena kita memiliki sumber kekuatan yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Sehingga kita menyadari kehidupan tidak hanya dipenuhi dengan kegembiraan, terkadang derita menyapa. Kita tidak bisa menolak penderitaan karena kehilangan orang yg kita cintai, mau tidak mau kita harus menerima & menghadapi duka serta melewati masa-masa berat ditinggalkan orang yg kita sayangi. Fafiru Ilallah, Larilah pd Allah, menangis & memohon pd Allah agar diberikan kekuatan & kesabaran melewati masa-masa berat itu."Janganlah kamu bersikap lemah & jangan pula kamu bersedih hati. Padahal kamulah orang2 yg paling tinggi derajatnya, jika kamu orang2 yg beriman." (QS. Ali-Imran : 139) -

Sunday, October 09, 2011

Biarkan Cinta Bersujud

Biarkan cinta bersujud kepada Allah sehingga cinta menjadi tak bersyarat, kuat & tangguh, tak lekang oleh waktu. justru Allah menguji kita melalui orang-orang yg kita cintai menyakiti, mengkhianati kita namun akhirnya kembali menyesal & meminta bantuan kita kemudian kitapun memaafkan, menguatkan & menolongnya. Itulah cinta, tak bersyarat apapun. Ada Ibu muda mengeluhkan perkawinannya yang terbilang muda sedang dihadapkan masalah. Semasa gadisnya adalah orang yang mendiam, merasa memiliki banyak kekurangan, berasal dari keluarga 'broken home.' Sampai kemudian mengenal seorang pemuda yang mampu membuatnya menjadi periang sampai kemudian menikah. Di awal perkawinan terasa indah, dengan dihiasi canda & tawa bersama-sama. Namun semua itu perlahan menjadi berubah, ditengah kesibukan masing2 bekerja, jarang ada percakapan, apalagi sampai bercanda. Bukan karena cinta telah hilang tetapi lebih karena berhati-hati agar tidak melukai perasaan suami.

Terkadang suami melontarkan kata-kata kasar.  Dia sebagai istri takut salah ngomong atau menyinggung perasaan pasangan hidupnya. Pernah dulu sewaktu belum menikah, Ibu mertuanya mengingatkan agar bersabar karena suaminya adalah orang yang temperamental karena itu istri lebih memilih diam daripada berlarut2 dalam pertengkaran.  Sang istri mengerti maksud suami mengingatkan atau menasehati tetapi seringkali istri tersakiti hatinya oleh ucapan suami yang kasar. Disaat seperti itulah istri merasa bersalah & berdosa karena telah membuat marah suami. Tak bisa memberikan support, tak bisa menjadi yang terbaik sebagai pendamping hidup bagi suaminya. "Ya Allah, Kenapa terasa berat menjalani hidup ini?" Jeritan hatinya.

Ditengah keterlukaan, perih dan kecewa. Keberserahan diri, membiarkan cintanya bersujud kepada Allah. Dalam kesendirian dia banyak berintropeksi diri, betapa dirinya jauh dari Allah. Ibadah sholat fardhu tidak pernah ditunaikan dengan baik, kehidupan rumah tangga kering kerontang dari tuntunan agama. Nikmat materi yang berlimpah tidak pernah disyukuri sehingga membuat terasa hambar didalam hidupnya. Perlahan mengokohkan imannya. Sholat fardhu dikerjakan dengan tertib. Kepedulian terhadap orang-orang yang membutuhkan lebih mudah dilakukan. Pada satu kesempatan di Rumah Amalia juga berbagi dengan berharap Allah memberikan ketenteraman & kebahagiaan pada keluarganya. Disaat cinta bersujud kepada Allah. Perangai suaminya mulai berubah. Cinta dan kasih sayang menjadi tumbuh dan berbuah. Kebahagiaan di dalam keluarga, pasangan suami istri itu menjadi kokoh mengarungi bahtera kehidupan dalam menghadapi badai & gelombang kehidupan hanya dengan menyandarkan diri kepada Allah. Komunikasi, saling menyesuaikan diri dengan pasangan, pengorbanan, ingin selalu memberi, memaklumi & memaafkan hanya akan hadir bila di dalam hati mereka ada keimanan pada Allah maka Allah melimpahkan keindahan dalam keluarganya.

"Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang2 yang sabar, yaitu orang2 yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, 'Inna lillahii wa innaa ilaihi raajiuun' (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami kembali). Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurnah & rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang2 yang mendapatkan petunjuk."(QS. al-Baqarah : 155-157).

Sayangilah Sebelum Terlambat

Pernah saya menemani seorang teman yang menangis tersedu-sedu mengiringi jenazah ibunda tercinta ke liang lahat. Satu hal yang sangat membuatnya bersedih dan perih selama ibundanya masih hidup, dia kurang memperhatikannya. Bahkan sekedar mendengarkan keluh kesah atau bertegur sapa. Dirinya terlalu sibuk dengan mengejar karier. Selama satu bulan lalu dia baru mengetahui karena ibundanya sakit kronis setelah dirawat di Rumah Sakit sampai akhirnya ibunda menghembuskan napas. Penyesalan tiada terperih. Tiada lagi kesempatan kedua kali. Masih terbayang ibundanya selalu memeluk dan mencium ketika dia masih kecil sedang sakit. Selalu membisikkan kata betapa sayang ibundanya kepada dirinya. Anak laki-laki kesayangannya. Air matanya menetes deras. Senyumnya yang tulus selalu menyambutnya sewaktu pulang sekolah. Cinta dan kasih sayang ibundanya yang begitu besar sejak ayahnya meninggal dunia diusia balita. Tangisan dan air mata penyesalan karena belum mampu membalas cinta dan kasih sayang ibunda tercintanya.

Sahabatku, Maknanya bagi kita adalah betapa berartinya kita menghargai, membahagiakan dan mencurahkan kasih sayang kepada orang-orang yang kita cintai. Kepada ayah, ibu kita, pasangan, anak dan orang-orang yang kita cintai. Jangan kehilangan kesempatan, jangan pernah menunda-nundanya, akan membuat penyesalan seumur hidup kita sebab bila orang yang kita cintai sudah menghembuskan napasnya yang terakhir, tidak akan ada yang bisa kita lakukan, kesempatan tidak akan pernah datang kembali, yang ada hanyalah penyesalan.

Friday, October 07, 2011

Jodohnya di Ujung Harapan

Jodohnya diujung harapan yang telah menipis. Dulu ia memiliki harapan sama seperti laki-laki pada umumnya ingin segera menikah dengan gadis yang dicintainya. Pada saat ia dengan gadis yang dicintainya sudah berkeinginan untuk segera menikah, ayahnya meninggal dunia. Impiannya untuk menikah menjadi sirna. Sebagai anak laki-laki yang tertua di dalam keluarga dirinya menanggung beban tanggung jawab pengganti ayah untuk mencari nafkah. Bekerja keras membiayai sekolah adik-adiknya sampai kuliah sehingga tidak sadarkan diri usianya sudah empat puluh tahun. Semua adik-adiknya telah berkeluarga dan bekerja, sementara ia masih dalam kesendirian. Terkadang kesedihan dan kebahagiaan bercampur baur menjadi satu. Kesedihan dirasakan ketika setiap kali ibunya yang selalu bertanya kapan dirinya menikah, hatinya bagai tersayat-sayat melihat ibu yang sangat berharap ia secepatnya menikah. Disisi yang lain ia merasakan pengorbanannya tidak sia-sia karena telah mengantarkan adik-adiknya kedepan gerbang pintu kebahagiaan.

Ditengah hatinya yang remuk redam berada di Rumah Amalia menyejukkan hatinya dengan berbagi berharap Allah memberikan kemudahan untuk bertemu jodohnya. Air matanya mengalir tak terasa. Kepedihan hatinya karena berharap bisa membahagiakan ibunda tercinta segera terwujud. Ia hanya bisa berserah diri memohon pertolongan pada Allah agar segera bertemu dengan jodohnya. Sampai satu hari hatinya terkesiap disaat adiknya perempuan mengenalkan temannya seorang gadis manis yang berjilbab merah muda yang sudah siap untuk walimah. Dengan penuh keraguan ia membisikan ditelinga adiknya bahwa dirinya sudah tua, gadis itu separuh dari usianya. Adiknya meyakinkan untuk meniatkan menikah karena Allah bukan karena muda, cantik atau materinya. Senyum indah menghiasi wajah adiknya. Tak kuasa lagi untuk menolak keinginan adiknya kali ini untuk segera menikah karena beberapa kali selalu menolak yang dikenalkan adiknya.

Pernikahan dilaksanakan dengan sederhana, kebahagiaan diwajah sang ibu terlihat air mata yang bening mengalir dipipinya. Pernikahan itu sebuah penantian yang panjang dan berliku. Bagai melepaskan beban yang begitu berat setelah bisa menunaikan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga untuk membesarkan adik-adiknya dan kini telah memenuhi tugasnya untuk melaksanakan Sunah rasul. Cintanya yang tulus penuh kebahagiaan mengarungi bahtera rumah tangga bersama istri yang dicintainya mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah. Jodoh adalah sebuah misteri, manusia hanya berupaya dan berikhtiar sepenuhnya jodoh seseorang tetaplah keputusannya atas kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

'Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum berpikir. (QS. ar-Ruum : 21).

Cara Memudahkan Bertemu Jodoh

Cara mudah untuk bertemu jodoh adalah menghilangkan target dibenak anda. Sebaiknya anda tidak tergesa-gesa seperti sopir angkot yang sedang kejar setoran sehingga mesti kebut-kebutan. Sejarah sudah membuktikan segala sesuatu yang dipaksakan hasilnya tidak optimal, termasuk urusan jodoh. Jodoh kita sudah ditakdirkan oleh Allah, ia tidak kemana-mana dan akan datang tiba waktunya namun bila memaksakan diri dengan target akan menjadi beban yang mempersulit diri sendiri untuk bertemu dengan jodoh kita. Sahabatku, Jangan putus asa, tetaplah berikhitiar menjemput jodoh anda & memohon kpd Allah agar diberikan jodoh yg terbaik.

Memperbaiki diri dengan meningkatkan kualitas sholat, puasa dan shodaqoh merupakan upaya lahir dan batin meletakkan diri pada titik terendah berserah diri hanya kepada Allah, memohon apa yang terbaik dari sisiNya sehingga diberikan kemudahan untuk kita bertemu dengan jodoh. Jangan berkecil hati, tetaplah semangat dan optimis bahwa Allah menyegerakan jodoh untuk anda.

Thursday, October 06, 2011

Ya Allah, Kuatkan Hati Hamba

Baginya kebahagiaan dan kesedihan bercampur baur menjadi satu. Kebahagiaan itu hadir ketika putra yang selama ini diidamkan telah lahir sementara kesedihan yang dirasakan karena dirinya bersama istri dan buah hatinya masih tetap tinggal dikontrakan.  Bahkan nyaris dirinya dan keluarganya hampir terusir dari kontrakan karena nunggak dua bulan. Ditambah lagi usaha yang dijalankan sedang seret. Hanya dekat dengan Allah saja yang membuat hatinya menjadi tenang. Tekanan hidup yang begitu berat telah menyebabkan dirinya mencari Allah, meski pernah marah kepada Allah, tidak membuatnya sampai menghalalkan apapun untuk mencari nafkah untuk keluarganya. Kesabarannya memang sedang benar-benar diuji.

Pukulan iman berikutnya terjadi, anaknya jatuh sakit, dipagi hari badannya panas. Bergegas dibawanya ke puskesmas. Dokter bilang terkena muntaber dan harus rawat inap. Dalam hatinya menjerit melihat istrinya menangis tersedu-sedu merasakan bagaiaman perihnya hati istri yang dicintainya. 'Ya Allah, Kuatkan hati hambaMu.' Air matanya bercucuran. Menahan rasa sakit dihatinya. Namun semuanya mampu dilaluinya. Bergegas dirinya ke Rumah Amalia, berdoa bersama memohon kepada Allah untuk kesembuhan bagi anak yang dicintainya. Disaat dirinya benar-benar hancur. Disitulah Allah campur tangan yang semakin membuatnya dekat dengan Allah melalui cobaan ini. Alhamdulillah, dua hari kemudian anaknya sembuh dari muntaber dan boleh pulang.

Seminggu kemudian datang kakaknya membawa kabar gembira untuknya dan keluarganya, kakaknya menawari menempati rumah sederhana yang baru dibeli. Sekalipun rumahnya kecil namun cukup untuk ditempati. Semua itu membuat gembira bagi dirinya juga istrinya. Kesabarannya telah berbuah manis. Cobaan yang bertubi-tubi telah membuatnya semakin yakin atas Kasih Sayang Allah kepada dirinya dan keluarganya. Kesabaran itu begitu terasa indah. Usahanya kios Jual Beli Hape & Pulsa lebih maju. Sang buah hatinya sehat, istrinya lebih bahagia dan hatinya lebih tenang karena tidak lagi bingung untuk membayar kontrakan tiap bulannya sehingga bisa menabung untuk masa depannya yang lebih baik.. 'Sekarang saya justru semakin dekat dengan Allah, saya selalu rindu di Rumah Amalia saya bisa berbagi.' Tuturnya.

'Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberi rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. ath-Thalaq : 2-3).

Wednesday, October 05, 2011

Rizki Yang Halal Mendatangkan Kebahagiaan

Pada satu hari di Rumah Amalia ada seorang bapak bertanya, Mengapa anak-anak saya nakal? Tidak pernah mau sholat? Bahkan melawan kepada kedua orang tuanya? Padahal fasilitas semuanya telah tercukupi, uang saku yang lebih, disediakan kendaraan, pendidikan tinggi. Apa semua ini karena harta saya yang berasal dari sumber yang tidak bersih?" tuturnya, air matanya berlinang. Sesekali menyeka air matanya. Kepedihan hati seorang ayah diusianya yang sudah senja merasa dirinya gagal telah mendidik anak-anaknya dijalan Allah. Beberapa istighfar, memohon ampun kepada Allah.

Sahabatku, apakah susu dari hasil uang kotor nilai gizi dan vitaminnya menjadi tercemar? Apakah beras dari uang yang halal dan uang yang haram rasanya berbeda? Secara gizi dan rasa tentu saja tidak ada bedanya namun yang membedakan keduanya adalah keberkahan. Rizki yang halal mendatangkan keberkahan sedangkan rizki yang kotor sekalipun berlimpah tidak membawa keberkahan. Keberkahan adalah sebuah energi yang dapat membentuk kekuatan, kesehatan dan kebahagiaan dalam tubuh kita. Hanya susu yang halal yang diperoleh dengan jalan yang halal yang mempunyai keberkahan. Dari keberkahan itu lahirlah keselamatan, keshalehan dan kebahagiaan.

"Ya Allah, berkahilah rizki yang Engkau berikan kepada kami dan lindungilah kami dari api neraka."

Mencintai Setulus Hati

Ketika kehidupan bagai bahtera yang berlayar ditengah samudra. Waktu terasa cepat berlalu, dilewati dengan manis, pahit, getir, penuh tawa dan derai air mata semua seolah berlarian, melompati kebahagiaan dan penderitaan. Kisah itu begitu nyata dalam  perjalanan hidup kita. Kita menyukai kelembutan mata pasangan kita, kedamaian disetiap belaiannya hingga tahun berganti tahun dan pesonanya perlahan memudar, terkikis kisaran emosi, hempasan derita, ujian, cobaan dan air mata yang membuat kerutan-kerutan diwajah orang yang kita cintai. Termangu dalam kesendirian, terhanyut dalam kelembutan sinar kedua bola matanya. Pada keceriaan di setiap derai tawa orang yg kita cintai. Kehadirannya membawa nuansa jingga dan ungu dikehidupan penuh warna.  Kita merindukan akan ketenteraman, kasih sayang dan kebahagiaan. Namun yang terjadi justru kita mudah terluka dan menderita karena orang yang kita cintai. Kita menjadi sakit dan penuh derai air mata karena orang yang kita kasihi. Itulah Cobaan yang paling berat di dalam kehidupan, maka kita harus memiliki sebuah kekuatan dan kesabaran yang besar agar kita bisa memaafkan.

Memaafkan hanya bisa dilakukan oleh orang yang mencintai pasangan karena cintanya kepada Allah. Itulah sebabnya memaafkan menjadi obat mujarab bila kita sedang terluka dan menderita karena cinta. Menyentuh hati yang paling dalam, menyejukkan dari keresahan dan kegelisahan. Ketika kaki kita menginjak bumi, meraih jemari, rebah dalam kehangatan pelukan menyembuhkan luka. Tidaklah berarti apapun luka yang kita rasakan karena bukan seberapa besar luka dan derita namun seberapa besar kekuatan dan kesabaran yang kita miliki untuk menanggung luka dan derita itu. Bila kekuatan dan kesabaran yang kita miliki kecil dan rapuh maka luka kecilpun kita sudah merasa begitu teramat menderita.  Jika kita memiliki kekuatan dan kesabaran yang besar, sebesar apapun luka dan derita itu tidak akan berarti apapun bagi kita, karena Allah melimpahkan kelembutan dan kasih sayang di dalam diri kita. Sebagaimana sabda Rasulullah. "Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi satu keluarga, maka Allah akan memasukkan rasa kelembutan dalam diri mereka" (HR. Ahmad).

Tuesday, October 04, 2011

Dalam Air Mata Ada Bahagia

Dalam air mata yang menetes selalu ada bahagia. Bila kita memiliki kekuatan dan kesabaran untuk melewati setiap peristiwa yang membuat kita terluka dan kecewa. Begitulah seorang Bapak diusianya yang separoh baya mendapatkan cobaan, dirinya dihinggapi sakit darah tinggi, kepalanya mudah pusing ditambah lagi dengan diabetes. Oleh dokter disarankan agar menjaga kesehatan sebab bila tidak, akan menimbulkan penyakit berbahaya yaitu stroke.  Ia berupaya untuk menjaga kesehatan namun kesibukan kantor dan makan tidak beraturan sehingga terjatuh dari kursi kantor, terserang stroke. Untunglah rumah sakit tidak jauh dari kantornya sehingga tidak terjadi kelumpuhan. Namun kondisi itu menyebabkan dirinya tidak bisa melaksanakan tugas sebagai suami. Istrinya memang setia, tidak pernah mengeluh dan selalu mensyukuri apapun bila membawa rizki yang dibawanya pulang ke rumah.

Pada suatu hari bagaikan tersambar petir disiang bolong dikejutkan istrinya meminta bercerai, dengan alasan bahwa dirinya sudah tidak sanggup menahan derita, gejolak batin tak terpenuhi. Mendengar penuturan istrinya, ia hanya bisa duduk diam dan membisu. Pikirannya berkecamuk, ia hanya bisa pasrah. Ia masih menyayangi istri dan anak-anaknya. Air matanya meleleh namun ditengah sakitnya darah tinggi dan diabetes yang dialaminya, imannya masih kokoh. Sholat fardhu masih dilaksanakan dengan tekunnya sehingga ditengah kegundahan, kekecewaan dan kesedihan ditumpahkannya hanya kepada Allah. Sampai pada satu kesempatan beliau berkenan untuk berbagi di Rumah Amalia memohon keridhaan Allah agar diberi kekuatan dan kesabaran dalam menjalani hidup ini. Dua anak laki-lakinya memberikan semangat, cinta dan kasih sayang mereka terus menerus mengobarkan semangat hidup dan menjadi penyejuk hatinya.

Sepekan kemudian, ketika istrinya datang menjenguk dirinya dan kedua anak laki-lakinya berlarian memeluk sang ibu. Ibunya mencium pipi kedua anak itu. Anaknya yang bungsu menangis, "Mamah, jangan bercerai dengan Papah ya Mah, baikan lagi ya..Ya Mah?" Mendengar permintaan anakny, membuat terdiam membisu seribu bahasa. Tak kuasa ibunya menahan air mata, menanggukkan kepala memenuhi permintaan sang buah hatinya. Istrinya menghampiri dirinya dan memeluk "Maafin Mamah.." ucap istrinya dengan mengusap air mata yang berjatuhan dipipinya, keduanya menangis berderai air mata. Kedua anak-anaknya berlarian penuh kegirangan memeluk mamah dan papah mereka. Istrinya memilih untuk membatalkan niatnya untuk berpisah. Berkumpul bersama suami dan anak-anaknya adalah kebahagiaan bagi dirinya sebagai seorang istri yang sholehah, inilah jalan yang terbaik yang telah dipilih untuk menggapai keridhaan Allah.

Resep Hidup Sehat

Pernah di Rumah Amalia kedatangan seorang bapak yang usianya hampir mendekati 73 tahun namun badannya masih sehat dan kekar. Saya sempat bertanya pada beliau, "Bapak usia sudah hampir 73 tahun tapi masih sehat dan kekar, apa sih resepnya?" Beliau tersenyum dan mengatakan, "Resep hidup sehat itu adalah nrimo ing pandum."

Istilah "Nrimo ing pandum" artinya menerima apapun yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, apa yang menjadi hak kita, tidak serakah dan tidak mengambil punya orang lain. Berdasarkan riset atau penelitian tingkat harapan hidup yang tertinggi bukan hanya pola konsumsi makan namun lebih kepada gaya hidup, ternyata ditemukan selain konsumsi makanan serat melalui buah dan sayuran, pola hidup menerima dan mensyukuri kehidupan bisa membuat tubuh lebih sehat dan bugar.

Kehidupan modernitas yang dipenuhi dengan ambisi, keserakahan, tidak puas dengan yang ada, iri terhadap apa yang orang lain capai dan bernafsu terhadap apapun adalah awal kehancuran diri seseorang. Mudah jatuh sakit dan depresi, itulah pola hidup yang keliru. Pola hidup sehat, kiranya kita diberikan kemampuan bisa menerima apa adanya, bersyukur dengan apa yang kita punya dan menjauhkan diri dari iri dengki terhadap orang lain dan menjauhkan diri dari keinginan untuk memiliki apapun yang bukan menjadi hak kita.

Monday, October 03, 2011

Fafiru Ilallah (Larilah Pada Allah)

Ditengah hempasan kehidupan yang membuat terpuruk, perih dan terluka. Sudah tidak ada lagi daya dan upaya kecuali hanya berlari pada Allah, memohon pertolonganNya. Keajaiban ditengah cobaan itu begitu nyata. Allah memberikan pertolongan bagi hambaNya yang memohon. Itulah yang terjadi pada seorang ibu bahwa disaat dirinya dan keluarga dihempas dengan berbagai ujian & cobaan. Rumahnya akan disita oleh bank. Tinggal beberapa hari lagi petugas bank akan melakukan penyitaan. Dirinya bersama keluarga hanya bisa menangis penuh kesedihan. 'saya harus tegar, menukar kesedihan dengan harapan' katanya. 'Harapan satu-satunya hanya berdoa kepada Allah, memohon pertolongan kepadaNya. selain sholat fardhu, saya sholat tahajud setiap malam sampai airmata rasanya sudah mengering.' isak tangisnya terdengar memilukan.

Pagi itu semua keluarga diliputi oleh tangis sendu di teras rumah, sambil menunggu detik-detik penyitaan rumah kami. Kami ingin menyaksikan rumah kami untuk terakhir kalinya. Rumah dimana anak-anak lahir dan dibesarkan penuh cinta serta kasih sayang. Para tetangga tak kuasa menahan haru melihat kami. Para tetangga hadir menunggu petugas bank hadir. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh kedatangan surat pembatalan sita. Subhanallah, Maha Suci Allah. Dirinya menjerit kegirangan. Doanya didengar oleh Allah. Suaminya selalu mengingatkan bahwa pada tahap seperti ini ujian dan cobaan selalu datang silih berganti. Entah benar atau tidak kata suami, peristiwa ini semakin mengokohkan dirinya dan keluarganya untuk mantap dijalan yang diridhai oleh Allah. Ujian berikutnya menyusul, putranya mengalami pembengkakan dikelopak matanya. Menurut pemeriksaan dokter dia harus dioperasi. Waktunyapun sudah ditentukan, beberapa hari lagi. Secara medis dia percaya bahwa operasi adalah satu-satunya jalan untuk menyembuhkan sakit putranya. Namun tak lupa dirinya memanjatkan doa kepada Allah. Setiap malam dirinya menjalankan sholat tahajud.

'Subhanallah, sebelum jatuh tempo operasi. Penyakit yang berada dikelopak mata putra saya menghilang dan sembuh. Awalnya saya ragu, bagaimana mungkin bisa sembuh? kami kemudian pergi ke dokter ahli dan putra saya dinyatakan sembuh sampai si dokternya juga bingung dan menanyakan apakah saya telah pergi ke dokter lainnya?' tuturnya dengan mengusap airmatanya yang terus menetes. Allah memang benar-benar sedang menguji dirinya dan keluarga, ketika sudah melewati semua itu kehidupan rmah tangganya begitu terasa indah dan kini sebagai pemilik rumah makan yang cukup ramai, kini hidupnya & keluarga menjadi lebih tentram dan bahagia. Meski kerja keras merupakan kebiasaannya namun kewajiban sholat lima waktu semakin membuat dirinya dan keluarga semakin bersemangat untuk melaksanakannya. 'Dan saya sudah sepakat bersama suami dan anak-anak untuk menyisihkan penghasilan rumah makan kami untuk Rumah Amalia. Rasanya rizki yang kami peroleh makin melimpah & hidup kami menjadi berkah, penuh ketenteraman.' Tutur beliau.

'Obatilah orang yang sakit dengan shodaqoh, bentengilah harta kalian dengan zakat dan tolaklah bencana dengan berdoa (HR. Baihaqi)

Sudah Cukupkah Bekalku?

Malam ini terhenyak ketika ada yang mengabarkan bahwa teman baik kami meninggal dunia. Kemaren kami sempat berbincang. Dirinya terlihat sehat. Kami berbincang banyak hal. Tidak ada tanda-tanda mengeluh badannya sakit. Begitu pulang, kata istrinya selesai sholat Isya, pamit tidur dan biasanya sholat tahajud, malam tidak bangun, dengan penuh isak tangis menceritakan bahwa suaminya meninggal dalam keadaan mengenakan sarung dan baju koko yang hendak bersiap sholat tahajud. Peristiwa itu membuat diri berkontemplasi, entah bagaimana sebuah pertanyaan terlontar. "Sudah cukupkah bekalku?"

Begitulah kehidupan yang sangat rapuh. Kita berada dibawah bayang-bayang kematian, setiap saat ajal bisa menjemput siapapun tanpa permisi dan tak mengenal muda, tua, sehat atau sakit bahkan ketika dipuncak karier dan disaat tubuh terlihat masih sehat, maut datang menjemput. Pertanyaan, "Sudahkah cukup bekalku?" Merupakan sebuah kesadaran di dalam kehidupan kita ada kematian yang datangnya tiba-tiba menjemput. Justru akan mendorong kita untuk menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Tidak menunda-nunda bila tiba waktu sholat, tidak menunda-nunda bila menolong sesama. Tidak menunda-nunda kesempatan untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Bahkan ketika menulisnya malam ini, tak terasa air mata mengalir, "Sudah cukuplah bekalku? Ya Allah.."

Sunday, October 02, 2011

Deritanya Berakhir Bahagia

Mengapa terkadang Allah membiarkan kita terluka dan menderita yang seolah tiada akhir, begitu teramat berat dan penuh tetesan air mata? Terluka itu indah, sebab luka dan derita adalah wujud Kasih Sayang Allah yang melatih kita agar bersabar dalam hidup ini, dengan kesabaran Cinta Allah menopang dan menguatkan kita menjalani "duri-duri" tajam taman bunga kehidupan sehingga deritanya berakhir bahagia. Begitu juga seorang perempuan muda yang hatinya terluka, air matanya menetes. Perjalanan hidupnya tidak selalu indah namun hatinya tegar bagai batu karang. Begitu sangat terpukul dengan keputusannya sendiri setelah memaksa minta cerai dari suaminya. Meskipun menang dalam keputusan sidang pengadilan dan berhak atas dua anaknya, rasa sepi dan sendiri, tertekan batin dan kekosongan pasca perceraian tetap menghantuinya.

'Saya menangis setiap kali mengingat kata-kata suami saya yang sangat menyakitkan hati, tetapi saya mencoba untuk memaafkan tetapi sangatlah sulit.' tuturnya. Untuk menghilangkan rasa perih dihati dirinya bekerja. Menyibukkan dengan berbagai kegiatan, malah membuat jauh dari Allah dan berlumuran dosa. Kehadiran laki-laki lain telah mengisi hatinya, tersadar atas semua perbuatan, Apakah Allah akan mengampuni dosa-dosa saya? Begitu tuturnya. Tidak lama kemudian, orang yang dicintainya malah memukulinya dan menginjak-nginjak harga dirinya. 'Saya hampir bunuh diri karena tidak sanggup menanggung derita ini Mas Agus, saya mencoba meminum racun serangga tapi teringat anak-anak ama siapa mereka kalo ibunya mati?'

Hari itu kedatangannya di Rumah Amalia untuk berbagi memohon Allah agar semua masalahnya bisa selesai. Air matanya mengalir dengan derasnya. Beberapa kali tisu digunakan untuk mengusapnya. Tak kuasa menahan kesedihan yang teramat dalam. 'Alhamdulillah, hati saya menjadi tenang.' ucapnya. Sebulan setelah itu dirinya bertemu dengan mantan suaminya. ' Sungguh ajaib, saya merasa sangat merindukan dia. Tidak ada lagi kebencian dihati saya.' Doa itu telah didengar oleh Allah, cintanya telah disatukan kembali. Akhirnya mereka sepakat untuk ishlah atau rujuk dan berkumpul kembali dalam mahligai rumah tangga penuh dengan kebahagiaan. Itulah bukti cintanya kepada Allah, deritanya berakhir bahagia.

Ya Allah, Kabulkanlah Doaku..

Dari Abu Sa'id, Rasulullah bersabda, "Tidak ada seorang Muslim yang berdoa dengan suatu doa didalamnya tidak ada unsur perbuatan dosa atau memutuskan silaturahim kecuali Allah akan memberikan kepadanya tiga pilihan, pertama segera mengabulkan doanya, kedua menyimpannya untuknya diakhirat dan ketiga melepaskannya dari kesulitan atau semisalnya." (HR. Hakim).

Rasulullah menerangkan kepada kita bahwa Allah mengabulkan doa setiap hamba yang berdoa kepadaNya selama dirinya tidak bergelimang dengan hal-hal yang diharamkan, tidak meminta sesuatu yang mengandung dosa dan tidak memutuskan tali silaturahim. "Rasulullah menyebutkan bahwa seorang laki-laki yang menempuh perjalanan jauh rambutnya penuh dengan debu. Dia mengangkat tangannya ke langit sambil berkata, "Ya Rabbi! Ya Rabbi! sedangkan makanannya haram, minumannya haram maka bagaimana mungkin doanya dikabulkanNya?" (HR. Muslim).

Sahabatku, ditengah rasa perih dan terluka, jangan pernah putus asa dan putus harapan. Yakinlah Allah akan mengabulkan doa anda karena Allah akan memberikan yang terbaik menurut caraNya bukan menurut apa maunya diri kita. Maka kembalilah kepada Allah sepenuh hati. Serahkan beban hidup anda padaNya. Biarkan Allah memberikan yang terbaik untuk anda. "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam surgaKu." (QS. al-Fajr : 27-30).

Saturday, October 01, 2011

Melihat Sisi Baiknya

Satu malam di Rumah Amalia ada seorang sahabat kami bertutur bahwa dirinya sewaktu menuju ke Rumah Amalia dengan mengendara sepeda motor diperempatan lampu merah ada seorang laki-laki separuh baya yang meminta paksa uang. Apa boleh buat sahabat kami memenuhi permintaan mereka. "Terus apa yang terjadi Mas?'" tanya saya. "Alhamdulillah Mas Agus, hanya uang yang diminta, bukan motornya. Semoga saja uang itu berkah bila digunakan untuk membeli makan anak istri mereka."

Sahabatku, begitulah disetiap peristiwa buruk ataupun yang membuat kita menangis, perih terluka yang kita alami selalu ada sisi baiknya. Syaratnya adalah bila kita tidak terjebak dalam kemarahan dan kekecewaan yang berkepanjangan. Menjalani apapun yang terjadi dengan "sumeleh" atau penyerahan diri kepada Allah secara total dan keyakinan bahwa dibalik semua itu selalu ada hikmahnya sehingga kita senantiasa bisa menjalani hidup ini dengan syukur yang membuat hidup kita dipenuhi dengan kebahagiaan, terjauhkan dari segala penderitaan hidup.

"Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan mereka tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala diakhirat adalah lebih besar kalau mereka mengetahui, yaitu orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakal (QS. an-Nahl : 41-42).
AGUSSYAFII BLOG
2006
Proudly powered by : Blogger