Yuk, wujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah

Thursday, March 29, 2012

Keberkahan Yang Tak Terduga

Pernah ada seorang bapak,  Owner Perusahaan Konsultan Manajemen SDM di Jakarta datang bersama istrinya ke Rumah Amalia. Logika duniawinya tidak pernah memahami bagaimana shodaqoh bisa menjadi pembuka pintu rizki. Saat beliau diajak istrinya untuk datang ke Rumah Amalia awalnya tidak menerima mengingat kondisi finansialnya yang tengah redup.  'Saya ini sedang dalam problem penghasilan, masa malah disuruh shodaqoh sama istri?' Begitu ucapnya. Istrinya yang mendengar komentar suami malah senyum-senyum. Lantas kami mengajaknya berdoa bersama memohon kepada Allah agar apa yang menjadi niatnya diijabah.

Alhamdulillah, dua bulan kemudian beliau mendapatkan proyek lumayan besar untuk bisa membiayai opeasional perusahaannya dibidang Konsultan Manajemen SDM, 'Alhamdulillah, Sekarang saya sedang membantu pembenahan Manajemen SDM di beberapa perusahaan Mas Agus,' tutur beliau. Pekerjaannya sebagai konsultan sampai kini menjadi padat, banyak orang yang tidak percaya. Diperkirakan perusahaannya tidak akan bertahan lama malah yang terjadi perkembangan perusahaannya boleh dibilang membaik. Orang sering mengatakan padanya bahwa sukses bisnis harus banyak jaringan, effort yang tinggi ternyata semua teori itu runtuh karena ada banyak hal yang tidak pernah diduga oleh siapapun yaitu rizki diatur oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Maka sejak itu kebiasaan bershodaqoh tidak pernah lagi ditinggalkan. Setiap bulannya senantiasa ia sisihkan dan itu membuat perusahaannya semakin maju. Bahkan kini beliau berusaha mengamalkan kebiasaan untuk memberikan harta yang dicintainya karena keyakinannya mendapatkan keberkahan yang tidak pernah diduga, keberkahan yang tidak diduganya seperti perusahaannya semakin maju, keselamatan, kesehatan dan kebahagiaan bagi beliau dan keluarganya. Pernah beliau panik ketika anaknya terkena Demam Berdarah yang hampir merenggut nyawa sang buah hati akhirnya bisa sembuh dan selamat dari kecelakaan fatal yang terjadi mobil yang dikendarainya bertabrakan, semua itu terjadi karena kasih sayang Allah pada dirinya dan keluarganya sebagai berkah dari kebiasaan bershodaqoh. Subhnallah.

Jodoh Dan Pilihan

Sahabatku, bertemunya kita dengan seseorang yang kita cintai ada unsur rasa dan ada unsur rasionalitas. Perasaan cocok sering lebih “benar” dibanding pertimbangan "logika". Jika seorang wanita dalam pertemuan pertama dengan seorang lelaki langsung merasa bahwa lelaki itu terasa “sreg” untuk menjadi pendamping hidupnya, meski ia belum mengetahui secara detail siapa identitas si lelaki itu, biasanya faktor perasaan sreg itu akan menjadi faktor dominan dalam mempertimbangkan. Sudah barang tentu ada orang yang tertipu oleh penampilan, yakni langsung tertarik oleh penampilan, padahal sebenarnya penampilan palsu. Sementara itu argumen rasionalitas berdasar data lengkap tentang berbagai segi dari karakteristik lelaki atau perempuan, mungkin dapat memuaskan logika, tetapi mungkin terasa kering, karena pasangan bukan semata masalah logika, tetapi justru lebih merupakan masalah perasaan. Ada pasangan yang bertemu yang dari segi infrastruktur logis (misalnya keduanya ganteng dan cantik, usia sebaya, rumah tempat tinggalnya bagus, penghasilan mencukupi, kelengkapan hidup lengkap) mestinya bahagia, tetapi pasangan itu justru melewati hari-harinya dengan suasana kering dan membosankan, karena hubunganya lebih bersifat formal dibanding rasa. Perasaan sreg dan cocok akan dapat mendistorsi berbagai kekurangan, sehingga meski mereka hidup dalam kesahajaan, tetapi mereka kaya dengan perasaan, sehingga mereka dapat merasa ramai dalam keberduaan, merasa meriah dalam kesunyian malam, merasa ringan dalam memikul beban, merasa sebentar dalam mengarungi perjalanan panjang. Mereka sudah menikah bahkan melewati usia 40 tahun perkawinan, tetapi serasa masih pengantin baru.

Sahabatku, jodoh memang pilihan kita namun hasil akhirnya adalah ketetapan Allah maka memperbaiki diri dengan meningkatkan kualitas sholat, puasa dan shodaqoh merupakan upaya lahir dan batin meletakkan diri pada titik terendah berserah diri hanya kepada Allah, memohon apa yang terbaik dari sisiNya sekaligus memohon ampun bila ada perbuatan yang tanpa kita sadari bahwa diri kita melakukan kemaksiatan sekecil apapun sehingga Allah menghilangkan segala penghalang dan rintangan kita bertemu dengan jodoh kita yang berkualitas, beriman dan sholeh bukan semata pasangan hidup di dunia namun juga dunia dan akhirat dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Jangan berkecil hati, tetaplah semangat dan optimis bahwa Allah menyegerakan jodoh untuk anda.

--
Sahabatku, aminkan doa bila anda ingin segera mewujudkan impian unt mendapatkan jodoh yg terbaik dari sisi Allah, mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah. 'Rabbana hablana milladunka zaujan thayyiban wayakuna shahiban lii fiddini waddunya wal akhirah' Artinya. 'Ya Tuhan kami, berikanlah kami pasangan yg terbaik dari sisiMu, pasangan yg juga menjadi sahabat kami dlm urusan agama, urusan dunia & akhirat.'

Wednesday, March 28, 2012

Keajaiban Doa Limpahkan Keberkahan

Malam temaram menyelimuti jalanan. Anak-anak Amalia sedang melantunkan ayat-suci al-Quran. Mencerahkan hati yang berserah. Disaat semua usaha sudah dicobanya. Hanya memohon kepadaNya jalan kemudian terasa mudah. Seorang Bapak malam itu didampingi oleh istri dan putranya yang duduk di kelas 1 SMP. Beliau bertutur perjalanan hidupnya yang penuh liku. Perjalanan hidupnya tak pernah disadarinya. Ditengah kebahagiaan diri dan keluarganya. Tiba-tiba terkena PHK. Perusahaannya ditutup. Usaha mencari kerja dilakukannya. Berhari-hari dirinya mencari pekerjaan tetapi selalu gagal. Beruntunglah setiap kali pulang dengan kekecewaan, istrinya selalu memberikan semangat. 'Sabar ayah, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang sedang menguji kita,' begitulah yang diucapkan oleh istrinya disaat dirinya sedang putus asa.

"Uang belanja sudah mulai menipis. Setiap kali membaca tulisan-tulisan Mas Agus Syafii seolah menyadarkan kepada saya agar mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala semua itu menenteramkan hati saya," tuturnya. Sampai kemudian beliau jatuh sakit. Didalam sakit itulah hatinya benar-benar berserah diri pada Allah dengan tetap menjalankan sholat lima waktu. Bagai mendapatkan kekuatan baru dipagi harinya tubuhnya menjadi terasa segar dan bisa kembali duduk dipembaringan. Istrinyamenyodorkan bubur ayam hangat sambil berucap, 'Sholat dan sabar. Insya Allah akan selalu ada jalan keluar, ayah.' Beliau dalam kondisi yang sulit hanya bisa berserah diri kepada Sang Khaliq. Setiap tetesan air mata dalam munajat sell dipanjatkannya. Sampai pada suatu hari ada teman lamanya meminta bantuan jasanya untuk mendapatkan pembiayaan dari bank. Berkat pengalamannya mengurus pembiayaan di Bank Syariah semuanya berjalan dengan lancar dan beliau memperoleh komisi atas jasa yang telah diberikannya.

Walaupun usaha yang dibukanya boleh terbilang sederhana menyediakan gas dan air galon, semua yang dijalaninya terasa lancar dan mudah. Ditengah usahanya yang kian menanjak semakin tekun sholat fardhu dan sholat malamnya. Ditengah ketekunannya memohon kepada Allah. Semuanya menjadi terlihat nyata. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semakin lama pelanggannya semakin banyak. Sedikit demi sedikit mampu menyewa ruko. Sampai bisa membeli kendaraan roda empat untuk keperluan usahanya. "Istri saya selalu mengingatkan agar menyisihkan rizki untuk anak-anak Amalia. Alhamdulillah, rizki terasa lebih mengalir ketika kami berbagi sekaligus membawa keberkahan dan ketenteraman hati dalam keluarga kami,' tutur beliau malam itu. Dengan hati yang berserah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala semua kesulitan telah dilaluinya dengan mudah. Subhanallah.

Tuesday, March 27, 2012

Jodoh Dan Motiv Cinta

Sahabatku, setiap orang sudah ditentukan jodohnya oleh Allah, bahkan sebelum kita dilahirkan. Menurut al Qur’an, manusia diciptakan Allah berpasangan lelaki - perempuan dan kepada mereka dianugerahi perasaan cinta dan kasih sayang, dan sudah menjadi fitrah kita ingin mencintai dan dicintai. Tercapainya kebutuhan cinta itu, jika ditunaikan secara benar maka hal itu akan membuat kita merasa tenteram , tenang dan bahagia, sebaliknya cinta yang ditunaikan tidak mengikuti prosedur akan mengantar pada penderitaan. Dalam al Qur’an perasaan cinta antar laki perempuan disebut dengan term mawaddah, rahmah, (Q/30:31) syaghafa,(Q/12:30) mail (Q/4:129), dan hubb-mahabbah (Q/12:30). Term yang berbeda-beda itu menunjuk pada rumit, mendalam dan ragamnya cinta. Cinta memang memiliki dimensi yang sangat luas dan mendalam dimana perbedaan karakteristik itu akan membawa implikasi pada perbedaan tingkah laku. Cinta itu sendiri diungkap dalam bahasa Arab dengan tiga kelompok karakteristik, yaitu (1) apresiatif (ta`dzim), (2) penuh perhatian (ihtimaman) dan (3) cinta (mahabbah). Yang pertama, orang yang dicintai itu menempati kedudukan harimau atau pedang,(yang ditakuti dan dikagumi), yang kedua seperti bencana (yang harus diwaspadai) dan ketiga seperti minuman keras (yang membuat ketagihan). Tiga kelompok karakteristik itu terkumpul dalam ungkapan mahabbah, orangnya disebut habib, habibah atau mahbub.

Sahabatku yang ingin segera menikah, jadikanlah mawaddah warahmah sebagai motiv cinta untuk menemukan jodoh anda, cinta yang membawa ketenteraman, ketenangan dan kebahagiaan dalam mengarungi bahtera rumah tangga hanya dengan mengharap keridhaan Allah. Jangan putus asa, tetaplah berikhitiar dan memohon kpd Allah maka Allah akan mengirimkan jodoh yg terbaik untuk anda.

Monday, March 26, 2012

Bangkit Disaat Terpuruk

Bangkit disaat terpuruk karena kehilangan orang yang kita cintai membutuhkan kekuatan yang besar. Membantu untuk bangkit dan kuat ditengah keterpurukan dengan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, itulah yang kami lakukan di Rumah Amalia pada seorang ibu. Secercah kebahagiaan itulah yang mampu mengobati rasa duka dan terkejut karena kehilangan secara tiba-tiba seseorang yang dikasihi, meskipun sudah dapat diperkirakan bahwa hal itu akan terjadi karena sakit yang diderita oleh suami. Membuatnya lupa diri dan larut dalam kedukaan yang amat parah. Penyangkalan akan kenyataan yang terjadi, penolakan dan rasa marah kepada keadaan dirinya, kepada orang lain bahkan kepada Allah karena merasa diperlakukan tidak adil, membuatnya semakin terpuruk. Secara pisik dan emosional sudah tidak terkendali lagi dan ia tidak peduli dengan dirinya, dengan anak-anaknya, dengan kehidupan sekitarnya. Suatu keberuntungan bahwa secara ekonomi ia dan anak-anaknya tidak mengalami kesulitan karena suaminya almarhum telah menyiapkan segala sesuatunya dengan cermat.

Namun kenangan akan almarhum suaminya membuat dirinya semakin sedih dan menderita. Predikat 'Single Parent' yang ditakutinya kini menjadi kenyataan. Untuk jangka waktu yang lama ia terbuai dalam kegelisahan, kesepian dan kesendirian, ingin mati dan pernah terpikir untuk bunuh diri dengan menelan obat-obat penenang. Ibu itu jatuh sakit. Dalam keadaan terbaring di Rumah Sakit mengenal banyak orang yang mengalami hal yang sama, kehilangan orang-orang yang dicintainya Dalam proses, akhirnya beliau menyadari jika suami yang telah tiada begitu sangat berharga maka yang ada juga sama bahkan lebih berharga, sampai kemudian beliau lebih menyayangi dan penuh perhatian kepada anak-anaknya yang masih ada. Begitulah, dari ketiadaan, kita bisa mengetahui betapa berharganya sesuatu yang ada setelah tiada.

Ternyata mereka mengalami hal yang sama, bahkan ada diantara mereka yang menanggung beban yang lebih berat daripada dirinya. Justru ditengah keterpurukan membuat dirinya lebih mengenal kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala. beliau menemukan kembali dirinya sendiri dan bisa mengatasi rasa duka kehilangan orang yang dicintainya. Beliau menyadari bahwa anugerah hidup yang diberikan oleh Allah harus dipergunakan untuk menjalankan tugas panggilannya sebagai ibu sekaligus sebagai ayah bagi anak-anaknya dan juga bagi sesama melalui kegiatan di Rumah Amalia. Kenangan manis akan orang yang dicintainya tetap disimpannya, rasa duka, sepi dan sendiri perlahan mencair dan beliau memperoleh secercah kebahagiaan yang telah lama menghilang.

Sunday, March 25, 2012

Senyuman Dalam Kepedihan

Siang itu saya mendapatkan janji untuk bertemu dengan seorang perempuan separuh baya di Rumah Amalia. Wajahnya nampak selalu tersenyum namun dalam hati tersimpan kepedihan yang mendalam. 'Saya sebenarnya sudah bercerai,' begitu tutur perempuan itu tentang perjalanan hidupnya. 'Saya menggugat cerai suami saya dalam proses yang panjang dan melelahkan. Orang tuanya dan dia sangat berharap bisa mengasuh Bima, putra kami sebab bagi mereka. Laki-laki adalah penerus keturunan. Perempuan hanyalah dianggap sebagai 'konco wingking' (teman dibelakang). ' Ucapnya menghela napas panjang. 'Kelima saudara laki-lakinya semuanya hanya memiliki anak perempuan. Satu-satunya garis keturunannya yang memiliki anak laki-laki hanyalah kami yaitu Bima.' Wajahnya terlihat tegar. 'Perempuan mana yang tidak ingin minta cerai? Setiap gajian, dia simpan sendiri. Sementara untuk kehidupan sehari-hari dari gaji saya, untuk membantu orang tua dan adik-adik, saya harus sembunyi-sembunyi untuk mengirimkan pada mereka.' Tutur perempuan itu. Tak lama kemudian dia meminum teh hangat yang sudah sejak tadi telah disediakan. "Barangkali gaji bapak untuk keperluan yang lebih utama seperti rumah, peralatan?' tanya saya.

'Benar Mas Agus, gajinya memang buat bayar kreditan rumah. Rumah itu sekarang dia yang meninggalinya. Sementara saya dan Bima tinggal dikontrakan.Saya dan Bima kabur dari rumah. Sejak itu dia tidak pernah mau peduli terhadap nasib kami berdua. Bahkan setiap apapun yang hendak ingin dilakukan untuk kepentingan istri dan anaknya sendiri dia selalu meminta izin ibunya. Itulah yang tidak saya suka mas,' ucapnya. Air matanya mengalir tak mampu disembunyikan kesedihan hatinya. Dalam hati saya berpikir bahwa perempuan ini mengalami problem yang begitu berat. Problem klasik antara menantu dan mertua. Memang agak jarang saya mendengar menantu laki-laki bertengkar dengan mertua laki-laki atau menantu laki-laki bertengkar dengan mertua perempuannya namun saya hampir sering mendengar menantu perempuan bertengkar dengan mertua perempuannya. Mungkin alasan yang utama mertua perempuan merasa lebih tahu segalanya daripada menantu perempuannya, maka terlihatlah mertua perempuan cerewet bila bertemu dengan menantu perempuannya. 'Apakah Ibu pernah kemukakan perasaan ibu pada bapak?' tanya saya. 'Sudah Mas Agus dan itu tak merubah apapun.' ucapnya. 'Apa yang membuat Ibu jatuh cinta pada beliau?' tanya saya kembali. 'Suami saya itu tipe ideal, ganteng, tinggi, besar. Sifatnya jujur dan setia. Saya teringat waktu kami berpacaran dia begitu sayang pada saya. Setiap kali datang selalu membawakan makanan kesukaan saya. Dia membantu tugas-tugas kuliah, juga pekerjaan rumah, dia tidak pernah menyalahkan saya, apa lagi mencela kekurangan saya. Dimata saya, dia begtiu sempurna sebagai suami namun begitu menikah semua yang terlihat sempurna itu menjadi hilang.' tuturnya.

Saya memahami apa yang diucapkan, cintanya telah melukai hatinya, cintanya telah menenggelamkan hidupnya. 'Alhamdulillah Mas Agus, hakim telah mengabulkan gugatan cerai saya dan Bima dalam pengawasan saya sebagai ibunya. Saya tidak berharap apapun pada mantan suami saya. 'Ah, bagaimana dengan Bima, Bu?' ucap saya terlontar tanpa tersadari. Apakah Sang Ibu menyadari bahwa anaknya suatu saat membutuhkan teladan dan kebanggaan dari seorang ayah. Seorang ayah yang memberikan kehangatan bagi Bima, putranya. Pelukan kasih sayang, menemaninya bermain, menjemputnya ke sekolah atau membantunya mengerjakan PR. 'Suami saya berpesan, bila nanti Bima telah besar dan menanyakan tentang bapaknya, bilang aja sudah mati!' Tutur Sang Ibu tanpa raut muka berubah, betapa tipisnya batas cinta dan benci. Saya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun tentang apa yang telah dikatakannya. Begitulah orang tua tidak pernah mau mengerti kondisi anak-anaknya. Mengorbankan anak-anak yang tumbuh dan berkembang yang membutuhkan cinta kasih, pelukan hangat, dukungan dan rasa aman bagi dirinya. Sedemikian mudahkah cinta itu tenggelam dalam perceraian? Tidak adakah jalan yang lebih baik? Saya menyarankan kepada beliau agar memberikan ruang untuk islah atau rujuk kembali karena rujuk adalah perbuatan yang diridhoi oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ucapan saya telah mampu membuat beliau nampak berpikir lama dan akhirnya menyanggupinya untuk memikirkan kemungkinan untuk rujuk kembali demi masa depan Bima, putra tercintanya.

Sampailah sebulan kemudian Ibu minta ketemu kembali, Katanya ada penting yang ingin disampaikannya, saya menyarankan agar ke Rumah Amalia. Malamnya di Rumah Amalia, saya dikejutkan dengan mobil hitam, terlihat Sang Ibu keluar bersama Bima putranya dan wajah lelaki yang ganteng mirip artis film tempo doeole Robi Sugara. Bima digandengnya. Tak lama Sang Ibu memberikan salam dan memperkenalkan laki-laki sudah terlihat berumur sebagai ayah kandung Bima. 'Ooo..'Ucap saya tanpa sadar. Beliau menyampaikan bahwa dirinya, Bima dan suami berkumpul kembali. 'Rujuk demi anak adalah pilihan terbaik Pak Agus,' ucapnya, wajahnya yang begitu tegar tak lagi bisa menyembunyikan air mata yang keluar. Suaminya membenarkan tentang kesepakatannya untuk rujuk kembali. 'Kami yakin inilah kesepakatan yang diridhoi oleh Allah seperti yang dianjurkan oleh Pak Agus. Kami rujuk kembali' tutur suaminya. Malam gelap terasa indah. Suara anak-anak Amalia terdengar melantunkan ayat-ayat suci al-Quran. Kebahagiaan mereka memilih jalan yang diridhoi oleh Allah juga saya rasakan. Subhanallah. "Dan perlakukanlah istri kalian dengan baik, kemudian bila kamu tidak menyukainya, maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak"(QS: An-Nisaa':19).

Saturday, March 24, 2012

Bertemu Jodoh

Diusianya yang sudah menginjak tiga puluhan telah membuat resah hatinya. Apalagi adiknya telah lebih dulu menikah. Sebenarnya secara fisik, Allah telah memberikan begitu banyak anugerah, selain cantik dan juga cerdas sehingga banyak orang yang mempertanyakan tentang kesendiriannya. Bahkan mereka berpikir dirinya terlalu banyak memilih. Terkadang yang membuat dia menangis setiap kali ibundanya melihat dirinya seolah berkata "Kapan kamu menikah anakku?" Hatinya terasa perih. Setiap malam selalu berdoa berharap agar segera hadir laki-laki yang sholeh datang untuk melamarnya. Bahkan ikhtiarpun telah dilakukan untuk menjemput jodohnya dengan bershodaqoh di Rumah Amalia. Bukan hanya sebuah harapan namun juga sesuatu yang akan menjadi kenyataan.

Haripun berlalu begitu cepat. Suatu hari tiba-tiba dirinya merasakan sakit pada perutnya. Mual yang dahsyat, muntah-muntah hebat. Sampai harus ditangani di UGD. Entah apa yang terjadi, langsung tak sadarkan diri. Ketika membuka mata terlihat wajah ibunda, bapak dan adiknya telah berada disampingnya. Terdengar isak tangis, lalu dirinya tertidur lelap. Terdengar suara lembut menyapanya, "Sudah bangun Mbak?" Dia hanya bisa tersenyum kepada dokter yang merawatnya. Wajahnya seolah tidak asing. "Sepertinya saya mengenal? Dimana ya?" gumamnya terdengar lirih. "Benar, Kita memang saling mengenal Mbak, saya adalah teman Mbak sewaktu SMA.."jawab dokter itu. "Ya Allah," teriaknya dalam hati. Dia ingat, dokter yang merawatnya adalah temannya yang cupu sewaktu duduk dibangku SMA, dia dulu pernah "menembaknya." Menyatakan cinta kepada dirinya dengan mengirimkan surat dan semua itu berlalu begitu saja.

Laki-laki itu bercerita tentang dirinya, tentang setamat SMA melanjutkan kuliah sampai perjalanannya menjadi seorang dokter. Diapun bercerita perjalanan hidupnya. Hubungan menjadi terjalin lebih dekat. Sebagai seorang dokter yang mengawasi kesehatan pasiennya membuat banyak waktu untuk berbincang. Keduanya saling menaruh hati seolah sudah saling mengetahui isi hatinya. Begitu keluar dari Rumah Sakit. Dokter yang merawatnya itu langsung melamarnya. Pernikahannya berlangsung sederhana. Baginya sangat disyukuri karena telah menjemput jodoh, sosok laki-laki yang membuat hidupnya bahagia. "Ya Allah, aku bersyukur padaMu telah memberikan aku kesabaran untuk bertemu dengan belahan jiwaku. Ternyata sakitku membawa keberkahan yang mempertemukan aku dengan jodohku. Alhamdulillah, Terima kasih Ya Allah atas semua takdirMu." Air matanya bergulir membasahi pipi bertemu dengan jodohnya yang tak diduga.

Thursday, March 22, 2012

Allah Memandang Kedua Dengan Kasih Sayang

Sahabatku, cinta yang hakiki bukan dilewati dengan pujian & sanjungan. Cinta yang hakiki justru diuji dengan berbagai peristiwa yang menyakitkan yang membuat hati kita terluka dan menderita. Allah membentuk dan melatih kita melalui luka itu, bukan pada seberapa besar luka itu tetapi seberapa besar kekuatan & kesabaran yang kita miliki untuk menjalani luka itu. Kekuatan dan kesabaran yang dihiasi kasih sayang itulah yang akan tetap membuat bahtera rumah tangga kita seindah impian sampai akhir hayat, karena Allah mencurahkan rahmat dan kasih sayangNya untuk keluarga kita. Sebagaimana Sabda Rasulullah, 'Seorang suami apabila memandang istrinya dengan kasih sayang & istrinyapun memandang dengan kasih sayang maka Allah memandang keduanya dengan pandangan kasih sayang. Bila suami memegang telapak tangan istrinya maka dosa-dosa keduanya berguguran dari celah jari-hari tangan keduanya' (HR. Rafi'i).

Sahabatku, cinta memang seindah impian bila kita memiliki kekuatan dan kesabaran untuk menjaga bahtera rumah tangga. Bahtera rumah tangga kita menjadi retak, pahit dan getir ketika menghempas justru disaat kita lemah, mudah menyerah dan tidak memiliki kesabaran didalam menghadapi berbagai kesulitan. Secercah kehidupan rumah tangga yang indah menjadi redup dan anda harus menerima kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Bagi anda yang akan atau sedang mengalami hal itu maka mohonkanlah kepada Allah agar memiliki kekuatan dan kesabaran yang besar agar mampu menjaga bahtera rumah tangga.

Wednesday, March 21, 2012

Inilah Cinta

Di Rumah Amalia, seorang Ibu bertutur, empat puluh tahun yang lalu disaat dirinya menikah dengan orang yang dicintai, "kami saling bertukar kata mutiara." Dilembar kertas itu ia mendapatkan sebuah kata mutiara yang indah dari sang suami. "aku mencintaimu karena aku mencintai Allah." Kata itu terpatri didalam hatinya sehingga mampu mengarungi bahtera rumah tangganya. Sampai satu hari suaminya jatuh sakit, terbaring lemah di rumah sakit, suaminya tak sadarkan diri. Ia selalu berada disisinya, berdoa di dalam hati memohon kepada Allah untuk kesembuhan suaminya.

Beberapa kali suaminya tersadar dan senyum seolah mendengar semua doa-doanya. Ia bersyukur disaat suaminya lemah masih selalu ingat tiba waktu sholat, selalu ingat Allah. Ia merasakan kasih sayang Allah yang begitu besar. "Mas, terima kasih atas cintamu kepadaku, karena cintamu kepada Allah." Suaminya tersenyum lemah, menggenggam erat tangannya disaat ia mengucapkan kata-kata itu. Sang suami akhirnya menghembuskan napas terakhir. Air matanya mengalir tak tertahankan. Kepedihan begitu teramat mendalam. Sekalipun suaminya telah tiada, senyumnya masih tertinggal didalam lubuk hatinya. Ia merasakan cinta yang tumbuh dihatinya berasal dari limpahan cinta Allah untuk dirinya dan suaminya.

Sahabatku, Rasulullah bersabda "Apabila seorang suami memandang istrinya dengan kasih sayang & istrinyapun memandang dengan kasih sayang maka Allah memandang keduanya dengan pandangan kasih sayang. Bila suami memegang telapak tangan istrinya maka dosa-dosa keduanya berguguran dari celah jari tangan keduanyanya." (HR. Rafi'i). Yuk, kita menjaga & merawat pernikahan kita dengan kesabaran agar Allah melimpahkan keberkahan untuk keluarga kita.

Tuesday, March 20, 2012

Kebahagiaan Dihempas Badai Kehidupan

Pernah ada seorang bapak datang ke Rumah Amalia. Beliau bertutur, hidup bagai sebuah perjalanan, begitu katanya. Ada saatnya naik dan ada saatnya turun. Diusianya hampir setengah abad, dirinya menikmati kesuksesan sekaligus menderita penyakit yang cukup berbahaya. penyakit lever yang dideritanya adalah penyakit pengantar maut. Namun pada saat yang mencekam itu suara adzan terdengar menusuk hatinya, membuka hatinya, sebuah kesadaran untuk menuju jalan yang selama ini diabaikannya. Duduk terbaring dirumah sakit tidaklah menyenangkan. Hari-harinya terasa panjang dan menjenuhkan. Tiba-tiba dirinya didatangi seorang suster menanyakan apakah ia sudah sholat.  Dirinya tak pernah mengira mendapatkan pertanyaan itu. Ia terpukul, Ia sadar bahwa dirinya bukanlah seorang mukmin yang baik namun dihati kecil hanya ada keinginan menjadi orang taat kepada Allah.

Disaat suster itu meninggalkannya, pertanyaaan itu membuatnya merenung lebih dalam. Tak tahu kenapa begitu setiap kali mendengar suara adzan hatinya bergetar. Dalam hati ia berjanji, bila sembuh akan rajin sholat lima waktu. Setelah keadaannya sembuh, Dirinya mulai belajar sholat dengan baik. Istri dan anak-anak mendukung bahkan terkadang sholat berjamaah. anak-anak suka tertawa jika dirinya menjadi imam sebab tidak biasa jadi imam sholat. Katanya bapaknya lucu kalo jadi imam.  Ditengah kebahagiaan keluarga, dirinya sedang giat belajar sholat. keluarganya diuji, dikagetkan oleh berita bahwa putra pertamanya meninggal karena kecelakaan. Ditengah dirundung duka, 'Usaha saya bangkrut dan saya memulai lagi semuanya dari nol, ' tuturnya.

Ia goyah, ia terguncang, berpikir begitu lama. Banyak pertanyaan yang muncul dikepalanya, kenapa disaat ingin menjadi orang yang taat, Allah Subhanahu Wa Ta'ala malah memberikan ujian seberat ini? Ia menjadi teringat sewaktu keluar rumah sakit, ia memohon agar diberikan kekuatan maka Allah memberikannya kesulitan dan kesulitan itu yang membuatnya menjadi kuat untuk bisa menjalankan perintahNya. Dulu ia gemar minum-minuman keras bahkan ia tergolong pecandu berat namun sejak bertaubat dirumah sakit, ia tidak pernah lagi minum-minuman keras hingga sekarang tidak pernah tergoda. iman dihatinya telah memberikan ketentraman bahkan dikeluarganya lebih bahagia ketika kumpul bersama. Walaupun kebahagiaannya dihempas badai semakin mengokohkan keimanannya kepada Allah. 'Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah segala karuniaMu,' tuturnya malam itu di Rumah Amalia.

Thursday, March 15, 2012

Disaat Hati Tergores

Sore fajar menyingsing. di Rumah Amalia temaram. Langit terlihat memerah. Sosok laki-laki terbilang muda, sebagai kepala rumah tangga tentunya selalu berharap untuk tegar dan kuat. Ia bertutur, dirinya ingin selalu tegar dan kuat dalam menjalani hidup, namun kehilangan istri dan anak disaat berturut-turut sungguh membuat hatinya tergores luka dan perih. Air matanya menetes. dirinya hampir kehilangan kekuatan hidup. Kisah itu diawali dengan pernikahannya yang sederhana. Kehidupan rumah tangga penuh kebahagiaan, restu kedua orang tua, sahabat kerabat dan teman-teman selalu menghiasi bahtera rumah tangganya. Sekalipun orang tuanya menawarkan untuk tinggal bersama, dengan ketulusan hati mereka berdua sepakat untuk hidup mandiri sekalipun harus tinggal dipetakan rumah yang sempit. Alhamdulillah, pernikahannya benar-benar membawa berkah bagi dirinya dan istri. Rizki mengalir begitu berlimpah. Kondisi makin membaik sehingga bisa mempunyai rumah mungil sederhana.

Allah seperti melimpahkan begitu banyak anugerah, istrinya hamil. Sekalipun dalam keadaan hamil, istri memilih untuk tetap bekerja. diusia kandungan sudah tua istri mengambil cuti. Beberapa hari mengambil cuti perutnya terasa mulas bergegas dibawa ke rumah sakit. Sesampai rumah sakit sudah mencapai bukaan kelima hingga bayinya terlahir dengan selamat tanpa harus operasi. Kebahagiaan terpancar diwajah. Kehadiran sang buah hati adalah kebahagiaan dirinya, istri dan kedua keluarga besar. Sampai satu pagi disaat dirinya hendak ke kantor terdengar suara teriakan keras istrinya. Ia berlari menuju kamar, terlihat wajah sang istri kesakitan kesulitan bernapas. Ia berlari kencang dengan membopong tubuh istrinya dimasukkan ke dalam mobil menuju rumah sakit. Tiada henti memohon kepada Allah agar istri diselamatkan. Namun Allah punya rencana lain. Dokter menyatakan nyawa istrinya sudah tidak tertolong lagi. Air matanya meleleh membasahi pipi bersimpuh dilantai rumah sakit. hatinya menjerit. "Ya Allah, betapa berat cobaan hidup ini!"

Disaat kehilangan istri, setiap kali melihat wajah bayi mungilnya tak ingin membuat anaknya yang sudah kehilangan ibu juga kehilangan ayahnya yang terus terpuruk. Diasuh bayi itu dengan kebahagiaan. Di rumah jika ia pergi ke kantor, bayinya diasuh oleh baby sister yang sudah berpengalaman. Hari-harinya berlalu begitu cepat, luka dihati akibat kehilangan istri belumlah sembuh. Hampir setiap hari selalu menggendong bayinya yang lucu. Siang itu ia sang buah hati tertidur lelap dipangkuannya, dengan berhati-hati menaruhnya di dalam tempat tidur. Selepas sholat dzuhur bagaikan tersambar petir disiang hari. Betapa shock dirinya bayi bungil dan lucu sudah tak bernapas lagi. Putrinya meninggal dunia sebulan setelah ibundanya. Oleh dokter disebutnya akibat SIDS, Sudden Infant Death syndrome atau Sindroma kematian bayi mendadak. Ia raih bayinya, ditimang dan dicium pipinya dengan menjerit histeris. Ya Allah, Engkau ambil istriku! Sekarang Engkau ambil juga putriku!" dipeluk erat sambil memanggil namanya, ia berharap anaknya akan bangun namun tubuh mungil itu tetap diam membisu. Disaat itulah dirinya benar-benar hancur dan terpuruk. Allah membimbing dirinya, agar lebih mendekatkan diri kepadaNya. Sekaranh justru ada kerinduan untuk senantiasa dekat dengan Allah. Alhamdulillah melalui Rumah Amalia ia bisa berbagi dan ia menyadari lebih banyak orang yang lebih menderita daripada dirinya.

 --
Sahabatku, aminkan doa ini agar kita diberi kekuatan & keikhlasan menerima ketetapan Allah. "Ya Allah, Engkaulah Sumber Kebahagiaan kami. Tolonglah kami, kuatkan kami dg cintaMu, menjadi sadar akan cinta kami, kehilangan kami, kedukaan kami, mengatasi perasaan marah, kecewa, luka perih dihati, agar kami rela menerima ketetapanMu yg membentuk pribadi kami menjadi lebih kuat & sabar dlm menjalani kehidupan ini"

Tuesday, March 13, 2012

Keajaiban Doa, Selamat Dari Musibah

Di Rumah Amalia ada seorang bapak yang juga pengusaha yang taat dalam menjalankan ibadahnya. beliau suka hadir ditengah kami bersama anak-anak Amalia untuk bershodaqoh. Penampilannya begitu sederhana, terkadang maen ke rumah Amalia dengan mengendarai motor atau vespanya. Beliau pernah bertutur berbagi pengalaman yang merubah orientasi hidupnya kala dirinya berada diujung lorong kematian. "Mungkin, mas agus syafii tidak percaya dengan cerita saya ini tapi itulah kenyataan yang saya alami.'katanya. Beliau mengidap radang kantung empedu. penyakitnya sangat parah, bahkan dokter mengatakan hidupnya hanya tinggal 25%. Awalnya merasakan rasa dingin di kakinya naik ke paha, perut hingga ke ubun-ubun. Rasa dingin itu seolah berjalan begitu perlahan. 'Saya membayangkan nyawa saya sudah berada diujung kematian' katanya dengan berlinang air mata. 'Semua perbuatan kotor saya seperti terlihatkan, hanya satu yang saya inginkan. Mati dalam keadaan bersyahadat' tutur beliau tanpa ekpresi.

Sejak kecil beliau di didik dilingkungan pesantren. Setelah selesai SMA dirinya mengadu nasib di Ibukota namun perjalanan hidupnya tidak seperti yang ia bayangkan. Awalnya berdagang pakaian di Pasar Jakarta Selatan. Usahanya sukses namun semakin sukses dirinya semakin jauh dari agama. Kehidupan malam dan minuman keras terasa nikmat. Beliau menjadi tersadar justru setelah sakitnya parah. Yang paling ditakutkan oleh dirinya kehilangan momen membaca kalimah syahadat dipenghujung hayatnya. dirinya mengalami diujung lorong batas antara kematian dan kehidupan. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, dirinya melihat bayangannya sendiri. Beliau bergerak melakukan apa yang pernah dia perbuat di masa lalu. 'Saya seperti melihat film yang aktornya adalah diri saya sendiri.'katanya, 'semua saya melihatnya dengan jelas, saya pernah menyia-nyiakan anak dan istri saya hanya karena menuruti kesenangan, sampai saya menangis meraung-raung menyesali semua kebodohan yang saya pernah saya lakukan.' lanjutnya.

Ketika beliau melihat semua dosa-dosanya yang menakutkan disaat itu juga dirinya memohon ampun kepada Allah, tuturnya,'begitu saya memohon ampun kepada Allah, saya berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Disaat itu semua yang menyeramkan hilang semua.' Dirinya merasakan melewati sebuah lorong gelap sampai menuju tempat yang begitu indah dan nyaman. tempat itu seperti dikampung halamannya waktu beliau dimasa kecil. Dari yang dialami beliau itu pandangan hidupnya telah berubah. kehidupan yang bergelimang maksiat dirinya menjadi lebih mencintai Allah dan menjalankan semua perintahNya serta menjauhi laranganNya. 'dan itu tidak mudah mas agus syafii.'katanya. Untuk mencintai Allah kita harus menghadapi tantangan. Tantangan itu untuk membuktikan apakah kita benar-benar mencintai Allah atau tidak.' tutur beliau dpenghujung malam perjumpaan kami. Airmatanya benar-benar telah mengalir untuk Sang Khaliq, Allahyang Maha Besar.

Monday, March 12, 2012

Jodoh, Cinta Dan Hati

Sahabatku, apakah untuk menjemput jodoh cukup dengan cinta? Ternyata jodoh tidak cukup dengan cinta namun juga ketulusan hati. Jangan terkecoh dengan sosok atau penampilan. Setiap orang memiliki potensi, fisik, intelektual, emosional dan spiritual yang berbeda-beda kapasitasnya. Ada orang yang sangat intelek, tetapi emosinya tidak stabil. Yang lain emosinya sangat terkendali tetapi intelektualitasnya kurang. Ada juga orang yang menonjol justeru potensi spiritualitasnya. Perilaku manusia dalam keseharian mencerminkan aktualitas dari potensi itu. Ada orang yang berwajah garang tetapi hatinya lembut, ada orang yang fisiknya kecil dan nampak lemah tetapi hatinya bergejolak penuh dengan kebencian dan dendam. Demikian juga halnya dengan corak cinta, ada seorang lelaki yang jika jatuh cinta kepada seorang wanita, ia merasa harus menguasai dan memonopoli secara total lahir batin, tidak boleh sedikitpun si wanita memiliki perhatian kepada selain dirinya.

 Ia sangat pecemburu, dan jika ia gagal “memiliki” wanita yang dicintainya itu maka ia memilih “menghancurkan” sang kekasih daripada harus melihat ia dimiliki oleh orang lain. Di sisi lain, ada seorang lelaki pecinta yang sangat penuh pengertian, ia sangat memaklumi dan sangat memaafkan atas kekurangan sang kekasih. Ia bukan saja tidak bermaksud “menguasai” tetapi justeru selalu ingin memberi kepada kekasihnya apa yang menjadi keinginannya, Ia sangat berbahagia jika bisa memberikan kesenangan kepada kekasihnya, meski untuk itu ia menderita.  Nah cinta itu ada di dalam hati.  Hadis Nabi menyebutkan bahwa di dalam tubuh setiap manusia ada qalbu (hati) yang menjadi penentu kualitas manusia, jika qalbu nya baik maka seluruh ekpressinya baik, sebaliknya jika qalbu nya buruk maka buruk pula ekpressi orang itu.  Orang suka berkata, dalamnya laut dapat di duga, dalamnya hati siapa yang tahu ? Isi hati kita sungguh sangat sangat banyak dan beragam,  diantaranaya adalah  cinta. Dapat dipastikan bahwa tidak ada  satupun keterangan yang obyektif tentang hati manusia yang berasal dari manusia, karena semua manusia bersifat subyektif, oleh karena itu keterangan yang paling obyektif tentang hati manusia hanya yang berasal dari sang Pencipta hati itu sendiri, yaitu Allah.

Sahabatku, cara cepat menjemput jodoh adalah Perbaikilah diri dan tingkatkan ketaqwaan anda kepada Allah. Terkadang tanpa kita sadari, kita mendikte Allah tentang jodoh kita. Bisa jadi seseorang yang kita anggap buruk, dia adalah baik untuk kita dan yang kita anggap baik, dia adalah orang yang buruk untuk kita. Maka mohonlah yang terbaik menurut Allah maka terbaik pula untuk kita.

Saturday, March 10, 2012

Jodoh Adalah Partner Bahagia Dan Derita

Bagaimana kita menemukan jodoh yang bisa menjadi partner dalam bahagia dan derita? Sahabatku, bila ingin mendapatkan jodoh yang bisa menjadi partner bahagia dan derita lihatlah keimanan dan ketakwaannya kepada Allah sebab kualitas hidup kita akan diketahui dan teruji hanya setelah kita hidup berpasangan, karena dalam hidup berpasangan akan dapat diketahui kualitas, kapasitas dan sifat-sifat kemanusiaannya. Dalam hidup pernikahan itulah seseorang teruji kepribadiannya, tanggung jawabnya, keibuannya, kebapakannya, perikemanusiaannya, ketangguhannya, kesabarannya. Begitu besar makna hidup berumah tangga sampai Nabi mengatakan bahwa di dalam hidup berumah tangga sudah terkandung separoh urusan agama. fitrah kita sebagai manusia membutuhkan sebagai pendamping hidup, sebagai partner dalam suka maupun duka sekaligus sebagai pasangan yang mampu selalu berpikir dan berkehendak baik terhadap pasangannya. Ia akan memberi dukungan jika ia merasa bahwa dukungannya itu akan membawa kebaikan pasangannya.

Sebaliknya jika pasangannya keliru jalan, ia akan berkata tidak! meski pahit diucapkan dan pahit di dengar. Pasangan yang materialistis biasanya rajin hadir dalam keadaan suka, tetapi ia segera menjauh jika pasangannya dalam kesulitan, ia pasangan hanya dalam suka, tidak dalam duka. Pasangan dunia biasanya angin-anginan, terkadang mesra, tetapi suatu ketika bisa menjadi musuh, bahkan musuh yang sukar didamaikan. Pasangan dunia adalah pasangan sehidup, tetapi belum tentu semati. Hanya pasangan dunia akhirat yang biasanya hadir dalam keadaan suka, tetapi juga hadir membela ketika dalam duka. Pasangan yang terikat oleh nilai-nilai kebaikan, ikhlas dan ibadah. Ketika kita sudah matipun pasangan sejati tetap menjaga nama baik kita, mendoakan kita. Dialah jodoh anda sehidup semati, pasangan di dunia dan pasangan di akhirat.

Sahabatku yang ingin segera menikah, carilah jodoh dunia akhirat, jodoh yang setia dalam mengarungi bahtera rumah tangga hanya dengan mengharap keridhaan Allah. bila memang ada niat & keinginan sungguh2 untuk mendapatkan jodoh. Jangan putus asa, tetaplah berikhitiar & memohon kpd Allah maka Allah akan mengirimkan jodoh yg terbaik untuk anda.

Friday, March 09, 2012

Terhenyak

Ketika pagi hari yang cerah. awan terlihat indah, ditengah menghirup udara segar. Tiba-tiba terdengar suara petir menyambar. tanpa kita duga dan kita bayangkan membuat kita terhenyak. Begitulah musibah, cobaan dan ujian hadir tanpa mengetuk terlebih dulu. Kehadirannya tanpa kita duga. Membuat hati hancur dan perih bagai teriris sembilu. Dalam kesendirian ditemani dengan kesedihan. Kesedihan adalah teman yang tidak pernah kita harapkan. Kemanapun kita pergi, dia selalu mengikuti kita. Menunggu dengan setia, menoreh luka. Dada terasa perih seperti teriris-iris. Pikiran tidak mampu lagi jernih. Apapun yang dirasakan, dilihat, didengar semuanya menusuk hati. Bila kita ditimpa kepedihan seolah dihadapan kita terhalang oleh batu yang besar. Kemanapun kita melihat yang nampak hanyalah batu tu. Tidak dapat dapat melangkah ke depan karena terhalang.  Walau kita berusaha untuk menyingkirkan, batu itu tetap tegak dan kokoh. Kita kemudian menyerah sehingga kita tidak dapat untuk bergerak melangkah, tidak dapat menatap ke depan, tidak lagi bisa berpikir jernih dan kemudian putus asa.

Bila anda merasakan semikian maka anda memerlukan pertolongan. Hal itu tidak bisa dibiarkan begitu saja, Kepedihan tidak akan hilang dengan sendirinya. Kesedihan tidak akan hilang ditelan waktu jika anda menyimpan di dalam hati. Sikap anda tidak banyak membantu bila menyalahkan orang lain, berprasangka buruk, marah dan dendam. Kita diciptakan sebagai makhluk yang sempurna, kesan hebat, kuat, sanggup menyelesaikan segala masalah namun begitu tertimpa musibah dan cobaan kita baru tersadar bahwa kita lemah. Hati tergetar hebat, rapuh dalam kesedihan yang bisa menyebabkan menuju lembah kebinasaan. Menangislah! Bila memang diperlukan untuk menangis. menangislah dihadapan Allah, keluarkan segala keluh kesah. Jangan ditahan dan disimpan dalam hati. Keluarkan semuanya bersama dengan air mata anda yang mengalir. Jika anda telah selesai menangis, menghapus air mata yang menetes dipipi. Ditengah sajadah membentang. Anda akan merasakan nikmatnya kesendirian dan ketenangan hati tiada tara. Semua masalah dan beban anda telah mengalir keluar bersamaan dengan air mata sehingga yang ada hanyalah diri anda dan kasih sayang Allah.'Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati. Padahal kamulah yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran : 139).

---
Sahabatku, aminkan doa ini agar kita diberi kekuatan & keikhlasan menerima ketetapan Allah. "Ya Allah, Engkaulah Sumber Kebahagiaan kami. Tolonglah kami, kuatkan kami dg cintaMu, menjadi sadar akan cinta kami, kehilangan kami, kedukaan kami, mengatasi perasaan marah, kecewa, luka perih dihati, agar kami rela menerima ketetapanMu yg membentuk pribadi kami menjadi lebih kuat & sabar dlm menjalani kehidupan ini."

Kebahagiaan Terindah

Kebahagiaan terindah bagi seorang suami adalah mampu mengarungi kehidupan rumah tangga bersama istri dan anak-anaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Sebuah ketulusan cinta dan kasih sayang itu diuji oleh Allah dengan berbagai derita dan air mata, apakah kita mampu melewatinya? Ataukah menyerah bahkan malah meninggalkannya? Kekuatan cinta dan kasih sayang akan terlahir dari sikap yang penuh keikhlasan dan hanya berharap keridhaan Allahlah yang mampu mengarungi samudra kehidupan yang tak bertepi, berbagai terpaan badai dan gelombang mampu dilewatinya, itulah yang mewujudkan kebahagiaan yang terindah bagi diri seorang suami. Beliau adalah seorang bapak bersama istri dan anak-anaknya. Pada suatu hari keluarganya mendapatkan ujian, istrinya tubuhnya meriang, panas tinggi bahkan disentuh saja, ia menjerit. Saat itu juga segera dilarikan ke dokter dan dokter tahu apa yang dideritanya.  penyakit yang diderita tidak mengenal watu dan tempat, bisa menyerang kapan saja. Bila penyakitnya muncul, semua persendian akan mengalami peradangan yang luar biasa sakitnya.

Peradangan ini menimbulkan memar dan panas. Sebagai seorang suami, dirinya berusaha untuk tegar, ditahan air matanya agar sang istri kuat menghadapi sakit yang dirasakan. Dengan penuh kasih sayang ia merawat istrinya, mengangkat badan perlahan-lahan, meletakkan dengan pelan saat memandikan, memakaikan bajunya. Bersama anak-anak, mereka melayani sang ibunda tercinta dengan baik. Ditengah rasa pilu dihati, sebagai suami berusaha untuk tersenyum ketika wajah istrinya tengah menahan sakit. 'Alhamdulillah, Saya beruntung mendapatkan suami seperti ayah. Sabar dan ikhlas. Insya Allah, saya segera sembuh.'  Tutur sang istri, wajahnya begitu terlihat tenang dan tidak sedikitpun mengeluhkan rasa sakit yang menderanya.

Tentu saja ucapan sang istri membuat hatinya terasa perih, ia teringat bagaimana dulu ketika mereka bertemu dan kemudian memutuskan untuk menikah, diawal pernikahannya pahit getir kehidupan berumah tangga mampu dilewati bersama sampai kemudian anak-anaknya terlahir dan mengasuhnya hingga dewasa, tanpa terasa air matanya menetes, rasa takut kehilangan tiba-tiba muncul menghinggapi dirinya, mampu ditepisnya dengan berserah diri kepada Allah. Ditengah kecemasan itulah beliau datang ke Rumah Amalia untuk bershodaqoh ke Rumah Amalia agar Allah berkenan memberikan kesembuhan bagi istri yang dicintainya. Beberapa hari kemudian , dokter memberitahukan kepada beliau bahwa istrinya memiliki harapan untuk sembuh dan kondisinya semakin membaik. Bahkan diperkenankan oleh dokter untuk pulang ketika istrinya dinyatakan dalam keadaan sehat walfiat. Dirinya  bersama anak-anaknya merasakan kebahagiaan, dengan penuh rasa syukur kepada Allah atas kesembuhan dan kasih sayang yang diberikan Allah bagi keluarganya. 'Terima kasih Ya Allah, atas limpahan kasih sayangMu untuk kami,' tuturnya dengan penuh linangan air mata.

Thursday, March 08, 2012

Nikmat Ruhani

Nikmat ruhani adalah latihan kesabaran yang Allah berikan kepada hambaNya yang disayangi. Latihan kesabaran dengan berbagai bentuk rasa kecewa, marah dan sakit. Salah satu kedukaan di dalam hidup kita adalah kehilangan sesuatu yang berarti tentu saja membuat kita merasa perih dihati. Terlebih kehilangan orang yang kita cintai dan kita harapkan. Apalagi sampai kita begitu sangat bergantung kepada kehadirannya, maka rasa perih dihati yang mengiringi kepergiannya terasa amat sakit. Setiap benda atau hal yang mengingatkan kita kepada orang tersebut membuat luka hati menganga kembali dan rasa sakit yang menyayat terasa begitu nyeri. Itulah yang terjadi pada seorang bapak yang mengatakan bahwa hanya dekat dengan Allahlah hatinya menjadi tenang. "Itulah nikmat ruhani' tuturnya. 'Dalam tekanan hidup membuat saya mencari Allah, meski saya pernah marah dan meninggalkanNya namun Allah tidak pernah meninggalkan saya."

Pukulan pertama diterimanya. Awalnya tahun lalu istrinya yang dicintai masuk rumah sakit ketika dirinya sedang berada di luar kota karena tugas kantor. Tidak lama kemudian sang istri dipanggil oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ditengah kesedihannya, ia jatuh dari kamar mandi yang membuat terbaring di rumah sakit selama satu bulan. Begitu sudah bekerja kembali, pimpinan perusahaan tempatnya bekerja dirinya di PHK karena dianggap telah melalaikan tugas kantor. Dalam upaya mencari pekerjaan baru, ia mencoba untuk berwirausaha namun usahanya tak membuahkan hasil. Selalu saja mengalami kegagalan.Sampai batas titik nadir, rasa sakit yang dirasakan membuatnya menjerit dalam hati 'Ya Allah, aku tidak sanggup lagi.'

Pada malam itu ia mendengarkan Radio Bahana FM Jakarta di acara "Power of Peace" kemudian menghubungi Radio Bahana dan akhirnya berkunjung ke Rumah Amalia, kebahagiaan itu terpancar dari wajahnya. Tidak lama setelah itu beliau mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik daripada sebelumnya. Sekarang justru dirinya semakin dekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. "Saya selalu rindu padaNya sebab kasih sayang Allah menerangi jalan hidup saya, Mas Agus dan alhamdulillah, melalui Rumah Amalia saya bisa berbagi kebahagiaan," tuturnya. Itulah yang dirasakan bahwa tawakal kepada Allah telah menjadi kekuatan dalam hidupnya.

Seni Merawat Kasih Sayang

Ketika menjelang pernikahan, biasanya keluarga besar nampak heboh, sibuk menyiapkan pesta pernikahan, terpukau dalam gebyar pesta namun tenggelam setelah perjalanannya, pernikahan tidak terawat dengan baik. Akhirnya cinta itu memudar, kasih sayang menjadi hilang. Pernikahan menjadi hambar. Bahkan ada seorang suami yang bertutur, 'Mas Agus Syafii, diawal pernikahan saya sangat mencintai istri saya tetapi setelah menjalani 15 tahun pernikahan, saya lebih senang dalam kesibukan daripada berdua sama istri.  Inilah salah satu contoh pernikahan yang tidak pernah terawat selama bertahun-tahun sehingga  bukan hanya menjadi  tidak indah lagi pernikahannya namun juga bisa saling melukai pasangan. Menurut al Quran surat ar Rum :21,  untuk merawat pernikahan itu adalah mawaddah dan rahmah, cinta dan  kasih sayang.  Yang ideal adalah jika antara suami dan  isteri diikat oleh perasaan  mawaddah dan rahmah sekaligus. Dalam bahasa Arab, mawaddah  mengandung arti kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Jadi cinta mawaddah adalah perasaan yang mendalam, luas, dan bersih dari pikiran serta  kehendak buruk. Sedangkan rahmah mengandung pengertian dorongan psikologis untuk melindungi orang yang tak berdaya.

Rumah tangga yang direkat oleh mawaddah dan rahmah adalah pasangan dimana masing-masing secara naluriah memiliki gelora cinta mendalam untuk memiliki, tapi juga memiliki perasaan iba dan sayang dimana masing-masing terpanggil untuk berkorban dan  melindungi pasangannya dari segala hal yang tidak disukainya. Mawaddah dan rahmah itu sangat ideal. Artinya sungguh betapa bahagianya jika pasangan rumah tangga itu diikat oleh mawaddah dan rahmah sekaligus. Sesuatu yang ideal biasanya jarang terjadi. Bagimana jika tidak? Seandainya mawaddahnya putus, perasaan cintanya tidak lagi bergelora, asal masih ada rahmah, ada kasih sayang, maka rumah tangga itu masih terpelihara dengan baik. Betapa banyak suami isteri yang sebenarnya kurang dilandasi oleh cinta membara, tetapi karena masih ada rahmah, ada kasih sayang, maka rumah tangga itu tetap berjalan baik dan melahirkan generasi yang terpuji. Rahmah yang terpelihara pada akhirnya memang benar-benar mendatangkan rahmat Allah berupa mawaddah. Di samping mawaddah dan rahmah, Nabi menggaris bawahi dengan pernyataan bahwa pernikahan adalah amanah. Sabda Nabi wa akhaztumuhunna bi amanatillah, artinya, 'Kalian mengambil pasanganmu sebagai  isteri (atau suami) adalah berdasar amanah Allah."

Wednesday, March 07, 2012

Jodoh Diujung Harapan

Jodohnya diujung harapan yang telah menipis. Dulu ia memiliki harapan sama seperti laki-laki pada umumnya ingin segera menikah dengan gadis yang dicintainya. Pada saat ia dengan gadis yang dicintainya sudah berkeinginan untuk segera menikah, ayahnya meninggal dunia. Impiannya untuk menikah menjadi sirna. Sebagai anak laki-laki yang tertua di dalam keluarga dirinya menanggung beban tanggung jawab pengganti ayah untuk mencari nafkah. Bekerja keras membiayai sekolah adik-adiknya sampai kuliah sehingga tidak sadarkan diri usianya sudah empat puluh tahun. Semua adik-adiknya telah berkeluarga dan bekerja, sementara ia masih dalam kesendirian. Terkadang kesedihan dan kebahagiaan bercampur baur menjadi satu. Kesedihan dirasakan ketika setiap kali ibunya yang selalu bertanya kapan dirinya menikah, hatinya bagai tersayat-sayat melihat ibu yang sangat berharap ia secepatnya menikah. Disisi yang lain ia merasakan pengorbanannya tidak sia-sia karena telah mengantarkan adik-adiknya kedepan gerbang pintu kebahagiaan.

Ditengah hatinya yang remuk redam berada di Rumah Amalia menyejukkan hatinya dengan berbagi berharap Allah memberikan kemudahan untuk bertemu jodohnya. Air matanya mengalir tak terasa. Kepedihan hatinya karena berharap bisa membahagiakan ibunda tercinta segera terwujud. Ia hanya bisa berserah diri memohon pertolongan pada Allah agar segera bertemu dengan jodohnya. Sampai satu hari hatinya terkesiap disaat adiknya perempuan mengenalkan temannya seorang gadis manis yang berjilbab merah muda yang sudah siap untuk walimah. Dengan penuh keraguan ia membisikan ditelinga adiknya bahwa dirinya sudah tua, gadis itu separuh dari usianya. Adiknya meyakinkan untuk meniatkan menikah karena Allah bukan karena muda, cantik atau materinya. Senyum indah menghiasi wajah adiknya. Tak kuasa lagi untuk menolak keinginan adiknya kali ini untuk segera menikah karena beberapa kali selalu menolak yang dikenalkan adiknya. Pernikahan dilaksanakan dengan sederhana, kebahagiaan diwajah sang ibu terlihat air mata yang bening mengalir dipipinya.

Pernikahan itu sebuah penantian yang panjang dan berliku. Bagai melepaskan beban yang begitu berat setelah bisa menunaikan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga untuk membesarkan adik-adiknya dan kini telah memenuhi tugasnya untuk melaksanakan Sunah rasul. Cintanya yang tulus penuh kebahagiaan mengarungi bahtera rumah tangga bersama istri yang dicintainya mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah. Jodoh adalah sebuah misteri, manusia hanya berupaya dan berikhtiar sepenuhnya jodoh seseorang tetaplah keputusannya atas kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Tuesday, March 06, 2012

Keajaiban Doa, Sembuh Disaat Hendak Operasi

Ketika sakit mendera, keputusasaan, kehilangan harapan membuat hidup menjadi tersiksa.  Keresahan menyelimuti hatinya. Itulah yang dirasakan seorang bapak. Suhu badannya meninggi, perutnya mengeras. Setelah diperiksa kemungkinan besar harus dioperasi, tetapi menunggu hasil ronsen. Karuan saja hal itu membuatnya menjadi panik. bagaimana mungkin tidak operasi, tubuhnya masih terasa sakit. Ia teringat betapa selama ini dirinya dan keluarganya begitu banyak nikmat yang melimpah yang diberikan oleh Allah kepadanya, terkadang lupa untuk bersyukur maka ia bergegas bersama istri dan anak-anaknya untuk berbagi di Rumah Amalia. Kebahagiaan itu terpancar dari wajahnya dan keluarganya Pada saat di Rumah Sakit, lampu sudah menyala, operasi seolah sudah pasti dilakukan. Ia tiada henti membaca takbir, tahmid, tahlil.

Tak lama kemudian ada seorang dokter masuk, membawa hasil ronsen. Mencopot sarung tangan dan Dokter itu mengatakan padanya.  'Bapak, menurut hasil pemeriksaan. Bapak tidak perlu dioperasi.' 'Subhanallah' Ia hampir tidak percaya. Sungguh menakjubkan. Ia menangis tersedu-sedu bahagia. Alangkah indahnya hidup ini menerima anugerah  disaat harapan itu mulai sirna. matanya nampak berkaca-kaca penuh keharuan. 'Allah telah menyembuhkan sakit saya, Alhamdulillah, Segala Puji Bagi Allah.' Tak henti ucapkan hamdalah malam itu di Rumah Amalia . Ia menangis karena sangat bahagia dan memuji kebesaran Allah. Sungguh benar kiranya sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam, 'Obatilah orang yang sakit dengan shodaqoh, Bentengilah harta dengan zakat dan tolaklah marabahaya dengan doa (HR Baihaqi).

Monday, March 05, 2012

Tia Kangen Bapak

Malam hari di Rumah Amalia terdengar lantunan ayat suci al-Quran, suara itu begitu menyejukkan hati. Tiba-tiba Tia datang menghampiri saya, memeluk dan meminta dipangku. "Tia kangen ama Bapak.." Matanya jernih, berkaca-kaca. Udara terasa dingin, hujan mengguyur membasahi jalanan. "Apa Bapak Tia kedinginan Kak Agus?" Tutur kata dari bibir mungilnya tentang kerinduan pada bapaknya, membuat saya terdiam, seluruh tubuh saya menjadi lemas. Entah kenapa air mata itu mengalir begitu saja.

"Tia kangen ya ama bapak? Yuk kita berdoa untuk Bapak Tia agar tidak kedinginan, Doa Tia untuk bapak seperti lampu yang membuat rumah bapak menjadi terang benderang, tidak sendirian dan tidak kedinginan karena doa Tia." Malam itu baru pertama kalinya saya mendengar Tia kangen sama Bapaknya. Kerinduan seorang anak pada bapak yang begitu sangat disayanginya. Air matanya yang basah diusap dengan tangannya. senyum kecilnya menghiasi wajahnya yang cantik. "Bapak Tia ganteng kayak Kak Agus" Kata Tia berlari penuh kegembiraan membiarkan saya dalam kesendirian.

Baju Untuk Ayu

Belum genap setahun hidup dilaluinya di Ibukota bersama putrinya. Hidupnya tak menentu dan berpindah-pindah. Air matanya sudah kering mengalir dia tumpahkan dalam pengaduan kepada Sang Khaliq setiap sholat di masjid Istiqlal. Poto wajah kecil Ayu putri kesayangannya selalu tersimpan di dompetnya sebagai tanda cinta. Bajunya teramat lusuh. Wajahnya terlihat kuyuh dengan sepatu yang berlobang diujungnya. Kulitnya hitam legam terbakar sinar matahari. Setiap hari menyusuri jalanan untuk mengais rizki. Terkadang memaksa dirinya untuk mengemis demi sesuap nasi. Suara bising, asap knalpot sudah menjadi menu sehari-hari. Kakinya perih penuh luka kebanyakan jalan kaki. Batuknya beberapa kali terdengar. Hari makin tambah panas, belum sesuap nasi mampir ke perutnya. Matanya melelehkan air mata membayangkan wajah cantik putrinya yang berlari-lari menyambut dirinya pulang sementaranya perutnya melilit menahan lapar.

Sambil duduk dia keluarkan secarik kertas tulisan tangan putrinya. 'Ayah, kalo ayah udah dapet duit jangan lupa beliin Ayu baju ya..ayah.'  Kertas itu kemudian dilipat dan dimasukkan ke kantong celana. Tangannya mengucap keringat dan air mata yang menyatu dipipinya. Direlung hatinya terasa perih bagai teriris sembilu. Wajah anaknya yang sedang tersenyum bagai pisau menusuk sampai ke hulu hatinya. Sejak istrinya meninggal dunia, hidup anaknya penuh penderitaan karena mempunya seorang ayah seperti dirinya. Keinginan untuk membahagiakan putrinya belum juga mampu diwujudkan. Pikirannya menjadi kalut tidak tahu bagaimana mendapatkan baju untuk putrinya. Matanya memandang kepada sebuah Supermarket diseberang jalan. Dia mendatangi Supermarket itu dengan wajah memelas mencoba berharap belas kasihan setiap pengunjung. Wajahnya yang kurus tak  terawat tak membuat orang menaruh kasihan pada dirinya. bahkan orang yang melihat malah tidak menoleh sedikitpun. Tak seorangpun peduli padanya. Hatinya semakin perih dan menangis. Kakinya gemetar menahan lapar. Tubuhnya terasa rapuh. Wajah putrinya terlintas di dalam benaknya. Rengekan Ayu terngiang ditelinganya. 'Ayah, Ayu mau baju baru..'

Tanpa disadarinya matanya melihat sebuah dompet tergeletak dimeja kasir. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri mengawasi orang-orang disekeliling dengan penuh keyakinan dia ambil dompet itu. Sekuat tenaga dia berlari menuju pintu keluar. Seorang Ibu berteriak, 'Jambret...jambret...' Orang-orang disekeliling Supermarket terkejut dengan teriakan itu. Beberapa orang berlari mencoba untuk mengejarnya. Nampak satu dua orang menghadang. Perutnya yang seharian lapar membuatnya tak berkutik. Bogem mentah dilayangkan diwajahnya. Mata berkunang-kunang. darah mengucur dibibirnya. Orang-orang yang sudah terbakar amarah tidak mempedulikan teriakannya meminta ampun. Bahkan sebagian orang meludahi wajahnya. 

 Wajahnya tersungkur menyentuh trotoar. Teriakan orang-orang tidak terdengar lagi. Terkapar tubuhnya dijalanan. Tidak tahu berapa lama dirinya pingsan. Kumandang adzan itu membangunkan dirinya seolah Sang Khaliq menyapa hati dan tubuhnya yang penuh luka. Berkali-kali dirinya beristighfar memohon ampun kepada Allah atas semua kekhilafan yang telah dilakukannya. Terucap kata lirih disaat wajah putrinya yang sedang tersenyum menyambutnya pulang. 'Ayu, maafkan ayah belum bisa membelikan baju baru buat Ayu.' Ayu sang buah hati memeluknya, mencium mesra pipi ayahnya. Pertanda Ayu mengerti apa yang sedang terjadi. Malam kelam dibawah kolong mereka berdua menikmati singkong bakar, begitu terasa nikmatnya. Mensyukuri hidup dengan penuh kasih sayang. Sekalipun hari itu Ayu belum memakai baju baru.

Sunday, March 04, 2012

Cinta Yang Menenteramkan

Cinta yang menenteramkan bila cinta kita hanya untuk Allah sebab cinta kepada Allah adalah cinta yang hakiki. Cintailah pasangan hidup kita karena cinta kita kepada Allah. Bila kecintaan kita kepada pasangan melebihi cinta kepada Allah maka ujian akan datang dari orang yang kita cintai, sebagaimana seorang ibu yang telah dua belas tahun mengarungi rumah tangga dirinya mengkayuh dengan susah payahnya. Bangunan rumah tangga diatas pondasi kasih sayang yang rapuh. Pernikahannya penuh dengan pertanyaan yang tiada akhir benarkah dirinya adalah belahan jiwa dari suami yang dicintainya?Ditengah usia yang semakin tua tanpa ada pilihan lainnya yang memaksa dirinya untuk menikah dengan laki-laki yang datang melamarnya. Pernikahanpun dilaksanakan dengan meriah. Kebahagiaanpu hadir.

Ditengah kehidupan dengan mengalirnya waktu, materi dan karier telah mengubah seorang laki-laki. Semenjak bekerja dengan kariernya yang menanjak bagus. Kehidupan rumah tangganya mendadak berubah. Segala bentuk keresahan yang setiap dirasakan betapa ganasnya kota Jakarta menjadi sirna. Segalanya menjadi mudah. Dari menempati rumah kontrakan yang bocor, sering tergenang banjir. Disaat itulah hatinya menjadi sakit dan penuh penderitaan ketika mendapatkan perempuan lain dengan mudah hadir didalam hati suaminya. Justru ketika rumahnya sudah tidak lagi bocor dan tergenang banjir. Rumah besar dan nyaman dibilangan elit di kota jakarta.  Suaminya mengakui semua perbuatannya karena telah jatuh cinta pada perempuan lain dan mengaku bahwa hal itu semata-mata khilaf namun hatinya terlanjur terluka.

Ditengah penderitaan ada sebuah kesadaran bahwa apa yang telah terjadi dalam hidupnya seolah membukakan mata hatinya betapa lemahnya manusia dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 'Mas Agus, betapa tidak berdaya kita dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala..' ucapnya lirih. 'Disaat saya begitu bangganya kepada suami seolah Allah menyentil saya agar mencintai Allah dengan sepenuh hati. Cinta suami adalah cinta yang ilusi sedangkan cinta kepada Allah adalah cinta yang hakiki.' lanjutnya, air mata itu  bagai bendungan yang sudah tidak mampu ditahannya. Mengalir dengan derasnya.  Semuanya terhenti disaat anak-anak Amalia sedang berdoa. Dengan berbagi di Rumah Amalia telah menenteramkan dan menyembuhkan luka dihatinya. Nampak wajahnya terurai airmata. Ada sebuah kelegaan sekaligus kedamaian. Tanpa terasa terucap puji syukur kehadirat Allah atas semua anugerahNya dan disaat itulah keikhlasan menerima apapun kesalahan suami mencair di dalam hatinya. Malam itu bersama suami dan anak-anaknya telah menemukan kembali kebahagiaan yang telah lama menghilang.

Saturday, March 03, 2012

Cinta Itu Menyejukkan

Cinta kita kepada Allah mampu menyejukkan hati ketika mengarungi samudra kehidupan. Terkadang badai dan ombak datang menghempas membuat kita terhenyak, terkejut, kaget, marah dan kecewa. Terjadi dengan tiba-tiba dan kita bertanya, "Ya Allah, mengapa semua ini harus terjadi?" Kemudian dengan cinta kita kepadaNya menyejukkan hati kita yang perih, penuh luka dan air mata. Itulah yang terjadi pada seorang Ibu. Sosoknya sederhana. Tahapan hidupnya penuh guncangan. Bahtera keluarganya terhempas badai dan gelombang ditengah samudra kehidupan. Dirinya harus berpisah dengan suami yang sangat dicintainya. Pengorbanan cintanya begitu luar biasa. Rumah tangga yang dijalin selama sepuluh tahun harus kandas. Dirasakan sebagai pukulan telak. Bersamaan dengan itu jiwanya menginginkan rasa aman dan kebahagiaan. Dibutuhkan pelabuhan untuk menyandarkan keletihan dan kepiluan jiwa. Ibunya yang dicintainya berpulang ke Rahmatullah. Dia tidak tahu harus apa yang dilakukannya. "Saya yakin ini adalah wujud kasih sayang Allah kepada saya." tuturnya lirih. Airmata berlinang. Wajahnya tertutupi oleh jilbabnya yang panjang. Angin berhembus menyegarkan seolah menyejukkan hatinya.

Terdengar suara anak-anak Amalia melantunkan ayat suci al-Quran mengalirkan perasaan sejuk. Kenangan bersama anak-anak dan suaminya hadir kembali dipelupuk matanya. Disaat dirinya membantu anak-anaknya belajar membaca al-Quran dan belajar sholat terasa indahnya. Sementara kini anak-anak semuanya ikut suaminya, hanya yang bungsu ikut bersamanya. Sore itu dirinya meneduhkan hatinya di Rumah Amalia, dengan bershodaqoh berharap memohon pada Allah agar senantiasa diberi kekuatan dan kesabaran dalam mengarungi samudra kehidupan.

Alhamdulillah, Seminggu kemudian, Allah telah mempertemukan kembali keluarga itu. Suami dan anak-anak menemui dirinya. Berkumpul dalam kebahagiaan keluarga, bersama suami dan anak-anaknya. Dirinya meminta maaf kepada suami dan anak-anaknya. Malah disambut dengan derai air mata. "Abi yang salah terhadap Umi, Abi yang semesti meminta maaf kepada Umi, " tutur suami yang sangat dikasihinya. Malah anak-anaknya yang menyemangati Abi dan Uminya agar hidup rukun kembali. Rasa syukur mereka sebagai orangtua kepada Allah karena menyatukan dan memberikan semangat agar bersatu justru anak-anaknya. Anak-anak yang sholeh yang berharap kedua orang tua untuk tidak berpisah. Subhanallah..

Friday, March 02, 2012

Perih Mengoyak

Kenapa ini harus terjadi? Kenapa harus aku yang mengalaminya? Begitulah pertanyaan yang terlontar seorang laki paruh baya, ia tidak pernah tahu penyebabnya bagaimana peristiwa itu terjadi, ia juga tidak bisa menentukan apa yang terjadi, walau ia berusaha semaksimal mungkin sesuatu terjadi diluar kemampuan dirinya. Sore itu ia bertutur di Rumah Amalia, dirinya mengalami kecelakaan fatal yang nyaris merenggut nyawanya, walau selamat, ia mengalami guncangan yang teramat berat, jiwanya yang kuat terkadang tidak mampu menanggung beban sebesar itu. Setiap kali sendiri, selalu saja muncul kegelisahan hatinya, apakah yang dilakukan di dalam hidupnya selama ini sudah benar? Teringat masa muda yang bergelimang dosa, jauh dari Allah. Anak dan istrinya menderita karena tidak terurus dengan alasan sibuk kerja.

Air matanya mengalir, terucap lirih, 'Ya Allah ampunilah hambaMu ini'  Ia masih teringat ketika mengendarai mobilnya, ia sudah berhati-hati, ia membawa mobilnya dengan baik, tetapi entah kenapa masih saja ia mengalami kecelakaan? Ia sudah mengantisipasi semua hal, tetap juga kena musibah. Peristiwa yang dirasakan membuat ia tenggelam dalam kesedihan, tidak mengerti kenapa semua itu terjadi pada dirinya. Adakah yang bisa menjawabnya,  Ribuan pertanyaan, dirinya tidak pernah menemukan jawabannya. Mengapa musibah ini membuat hidupku menderita?  Hanya Allahlah mengetahui jawabannya, kita hanyalah aktor yang telah ditetapkan oleh Allah untuk mengikuti skenarionya.  Allah telah menyiapkan alur cerita, ada bagian cerita yang indah, ada cerita yang penuh isak dan tangis. Beberapa hari kemudian setelah pulang dari Rumah Sakit, Istri & anaknya telah meninggalkan rumah. Air matanya yang mengalir setiap malam tidak membuat anak dan istrinya kembali. Kepahitan hidup yang bertubi-tubi yang dihadapinya membuatnya lebih mendekatkan diri kepada Allah & bisa lebih bersabar dalam menjalani hidup. Sholat fardhu senantiasa dikerjakan tepat waktu. Kepahitan hidup telah membuatnya tersadar akan cinta & kasih sayang anak & istrinya, ia telah menyesali apa yang telah dilakukannya, memohon ampun kepada Allah atas kesalahan yang pernah dilakukannya.

Thursday, March 01, 2012

Dua Ujian Terberat

Laki-laki separuh baya matanya menerawang menatap kedepan. Tak ada suara dan kata yang terucap, Wajahnya nampak sejuk dan damai. Hatinya tersenyum seolah bicara, tak ada hidup yang sempurna tanpa ujian. Sebagai seorang muslim beliau banyak diberikan kemudahan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kehidupan datar dan lurus lalu menanjak mencapai kesuksesan dalam karier. Pernikahannya penuh kebahagiaan. terasa semakin lengkap dengan kehamilan istri tercintanya. Buah hati yang didambakan bagi seluruh anggota keluarganya namun toh, Allah memiliki rencana lain. Putra pertamanya, hanya bertahan 24 jam berjuang bertahan hidup. Kejadian itu benar-benar membuat hidupnya merasa terpuruk dalam kubangan yang penuh lumpur, terasa sesak untuk bernapas dan membuat perih dihati. Selama berbulan-bulan beliau mengurung diri meratapi sang buah hatinya yang telah pergi. Sungguh tak terduga. Kehilangan itu terjadi justru dipuncak kesuksesan kariernya. Kejadian itu menguji keimanannya bahkan terkadang menggugat keberadaan Allah, 'Kenapa Allah tidak adil pada kami?' begitu ucapnya.

Ujian keimanan berikutnya, justru menimpa pada istrinya. Istrinya terserang kista dirahimnya. Dokter memvonis istrinya berisiko tinggi jika hamil lagi. Tentu saja sebagai suami hal itu membuatnya sangat terpukul dengan pernyataan itu. Dia teringat bagaimana masa2 indah dilalui berdua & dirinya sangat khawatir terhadap kondisi sang istri. Kemudian dia berinisiatif untuk bershodaqoh ke Rumah Amalia. Sungguh menakjubkan, ternyata kista istrinya bisa sembuh tanpa harus operasi. Terlebih kehamilan yang kedua telah membuat hidupnya menjadi terasa bahagia. Kelahiran anak yang dinanti memhiasi indah hidup ini dengan penuh syukur. Dua ujian berat semakin menyadarkan beliau dan keluarganya agar semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Terlebih dengan kehadiran sang buah hati, seolah diberikan anugerah yang tiada tara. Sehingga beliau berjanji tak akan pernah berhenti untuk bersyukur. Dengan bershodaqoh sebagai ungkapan syukur kepada Allah. Beliau bertutur malam itu di Rumah Amalia, ' Saya sadar, Allah itu Maha Baik. Allah selalu memberikan apapun yang kami mohonkan.' Subhanallah..

Masih Punya Allah

Pernah pada malam Jumat di Rumah Amalia sedang Yasinan bersama, kami kedatangan seorang Ibu. senyumnya yang lembut menyapa setiap orang dijumpainya. Tak lama kemudian saya menyapa beliau. "Ibu ini orang ceria ya..selalu tersenyum, kayaknya nggak pernah bersedih?" Beliau menjawab, "Pernah dulu, setahun yang lalu. Ketika saya kehilangan suami dan anak saya karena kecelakaan." Kami terdiam mendengarnya. "Lantas sejak kapan Ibu kembali tersenyum?" tanya saya. Beliaupun menjawabnya, "Sejak saya menyadari bahwa saya tidak sendiri, saya masih punya Allah."

Sahabatku, disaat cobaan dan penderitaan datang bertubi-tubi, kehilangan, kegagalan, difitnah, dicaci maki, dikhianati yang menyesakkan dada. Anda merasa tidak sanggup lagi menghadapi semua itu. Maka ingatlah, anda tidak sendiri. Anda masih punya Allah yang menemani anda dalam hidup ini. Datang, menangislah & memohonlah kepada Allah sehingga luka dan derita anda berubah menjadi senyum kebahagiaan. "Dan bertawakallah kamu hanya kpd Allah, jika kamu orang yang beriman." (QS. al-Ma'idah :23)
AGUSSYAFII BLOG
2006
Proudly powered by : Blogger