Sunday, October 31, 2010

Menghindari Pertengkaran

Apabila kita diuji dengan berupa pertengkaran atau perselisihan maka segeralah menyelesaikan masalah yang anda hadapi itu, jangan menjadikan problem berlarut-larut dan kegelisahan yang berkepanjangan, agar tidak melahirkan kesedihan dan kegelisahan. Dalam hal ini pintu paling terbuka untuk menyelesaikan masalah berbagai masalah adalah memberi maaf karena dengan memberi maaf, akan mendatangkan kenyamanan dan kedamaian. Allah berjanji memberikan pahala kepada orang pemaaf dalam firmanNya.

'Barangsiapa memberi maaf dan berbuat baik maka pahalanya atas Allah' (QS. As-Syuura : 40).

'Dan kamu yang memberi maaf itu lebih dekat pada ketaqwaan' (QS. al-A'raf : 199).

Apabila seseorang memaafkan, yakni melepas haknya atau sebagian dari haknya, paling tidak, dia akan selamat dari kesedihan dan penderitaan yang berkepanjangan. Dengan demikian kita akan terjaga kesehatan dan kebugaran tubuh kita. Hidup menjadi terasa nyaman karena kita tidak menyimpan berbagai kotoran dan penyakit dihati kita yang membuat tubuh kita jatuh sakit.

Saturday, October 30, 2010

Beruntunglah Orang Yang Beriman

Sesungguhnya Allah menciptakan makhlukNya tak lain untuk diberikan ujian dan cobaan, agar semakin berkualitas diri kita. Kualitas itu berupa kemampuan bersyukur ketika mengalami kesenangan dan bersabar disaat mengalami kesedihan. Ini semua tidak akan terjadi jika Allah tidak membolak balikkan keadaan hambaNya sehingga nyata kesungguhan ketaatan kita kepada Allah.

Maka sesungguhnya beruntunglah kita sebagai orang yang beriman karena segalanya baik bagi dirinya. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 'Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.' (QS. al-Mu'minuun :1).

Keberuntungan seorang mukmin adalah cara bersikap, berpikir dan merasa bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini adalah kebaikan bagi dirinya yang diberikan kepada Allah. Yaitu kemampuan bersyukur dan bersabar dalam menghadapi suka dan duka, kebahagiaan dan penderitaan. Semuanya terasa indah dan membawa kebaikan bagi dirinya.

'Sungguh mengagumkan seorang mukmin, segala urusan baik baginya dan itu tidak terjadi kepada siapapun kecuali seorang mukmin. Jika dia mengalami kesenangan, dia bersyukur maka itu menjadi baik baginya dan jika dia terkena kesedihan, dia bersabar maka itu juga baik baginya.' (HR. Muslim)

Thursday, October 28, 2010

Kebanggaan Kita

Adalah seorang hukama abad pertengahan bernama Ahnaf bin Qais, ia ditanya oleh orang-orang yang gelisah melihat perilaku masyarakatnya yang sedang sakit, yang tidak lagi mementingkan nilai-nilai kemuliaan. Wahai tuan guru, apa yang tertinggal pada kita yang masih dapat kita banggakan? ma khoiru ma yu‘tho al ‘abdu? hukama itu menjawab; akal yang jernih (‘aqlun ghoriziyyun). Orang-orang berkata, wah, sekarang sudah tidak ada orang yang akalnya masih jernih,. kalau akal jernih nggak punya lalu tinggal apa (fa in lam yakun?) tanya orang-orang. Adabun shalihun, sopan santun yang terjaga, kata hukama.

Wah, sekarang orang juga sudah tidak lagi menjaga sopan santun tuan guru! selain dua hal itu masih adakah yang dapat kita banggakan? shohibun muwafiqun; sahabat sejati, kata hukama. Orang-orangpun berkata; waduh... sahabat sejati juga susah didapat, karena orang tidak lagi membela yang benar tetapi membela yang bayar. Masih adakah selain yang tiga itu wahai tuan guru? qalbun murabithun; hati yang peka, kata hukama. Waduhh, lagi-lagi yang itu juga jarang didapat, kata orang-orang.

Sekarang kebanyakan orang hatinya gelap, tidak peka, nuraninya mati, masih adakah yang dapat kita banggakan wahai tuan guru? ada, thul as shumti, banyak diam, kata hukama. Yah, yah, yah, diam itu emas, kata orang. Tapi tuan guru, sekarang ini, semuanya berbicara meski asal bicara, dan tidak ada orang yang mau diam merenung. Kalau lima hal itu juga tidak punya, masih adakah yang dapat kita banggakan wahai tuan guru? Ada, dan ini adalah yang terakhir, yaitu mautun hadirun, Hadirnya Kematian. 'Subhanallaaah.' desah orang-orang.

Wednesday, October 27, 2010

Ketika Derita Melanda

Beberapa bulan yang lalu seorang bapak datang ke Rumah Amalia, beliau seorang pegusaha yang sukses namun menderita depresi dan insomnia. Istrinya telah mengaku memiliki laki-laki idaman lain, yang menekan perasaannya justru laki-laki itu dikenalnya. Saya mengajak beliau untuk berserah diri kepada Allah dan berdoa bersama anak-anak Amalia agar masalah yang beliau hadapi bisa diselesaikan dengan baik.

Ketiga kali sejak kedatangannya di Rumah Amalia, beliau mengirimkan SMS, 'Mas Agus Syafii, saya sudah mengerti dan bisa menerima yang Mas Agus katakan. Saya harus menerima dan saya lebih mencintai istri saya sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala mencintai kami, meski pahit saya yakin Allah memberikan yang terindah dalam keluarga kami. Terima kasih Mas Agus atas bimbingannya.'

Beliau bukan hanya keluar dari depresi dan insomnia tetapi juga belajar mensyukuri derita yang dialaminya. Kepahitan telah menjadikan semanis madu. Dengan bersyukur beliau dan mencintai dengan tulus telah mampu meluluhkan hati istrinya. Bahkan beliau lebih mencintai istri lebih dari sebelumnya.

'Dan sesungguhnya Kami berikan cobaan kepadamu dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah, mereka mengucapkan 'Kami berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya.' (QS. al-Baraqah :155-156).

Tuesday, October 26, 2010

Ujian & Cobaan Mengobati Penyakit Hati

Setiap ujian dan cobaan adalah obat paling ampuh menyembuhkan penyakit hati, kesombongan, ujub dan kekotoran hati yang ada pada diri kita. Semua jenis penyakit hati akan membawa bencana dalam hidup kita di dunia dan di akherat. Tetapi Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang dengan berbagai ujian dan cobaan menjadi benteng bagi kita terhadap kehancuran yang jauh lebih dahsyat.

Bila Allah tidak mengobati kita dengan berbagai ujian dan cobaan niscaya kita melampaui batas, berbuat dzalim dan sewenang-wenang dimuka bumi dan menebarkan berbagai kerusakan karena tabiat kita sebagai manusia apabila mendapatkan perintah dan larangan yang menembus sampai ke hati. Toh, kita tetap saja melakukan kerusakan dan kedzaliman di muka bumi.

Allah menghendaki kebaikan bagi hambaNya maka diberi kita obat dengan ujian dan cobaan menurut kadar keadaan untuk membasmi berbagai penyakit, dengan demikian Allah berhasil membimbing kita dan membersihkan serta menjernihkan hati kita sehingga patut menerima martabat paling mulia di dunia yaitu menjadi hambaNya. Kita senantiasa diingatkan agar kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Patutlah kita menyadari, untuk apa kita berlaku sewenang-wenang dalam hidup ini? Padahal kesewenang-wenangan pasti akan musnah Bahkan banyak orang mengalami sebaliknya, Dulu berbuat dzalim kemudian didzalimi dan ditindas oleh orang lain karena Allah yang membalikkan semua kehidupan. 'Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata padanya, 'Jadilah' maka terjadilah ia. (QS. Yasiin : 82).

Betapa banyak orang yang kaya mendadak miskin. Betapa banyak orang yang berkuasa tiba-tiba menjadi narapidana. Betapa banyak orang yang sehat mendadak sakit. Betapa banyak orang membanggakan dirinya kemudian jatuh tersungkur dalam kehinaan. Maha Suci Allah yang senantiasa memuliakan Hamba-HambaNya dengan berbagai cara.

Sunday, October 24, 2010

Dibalik Derita Ada Bahagia

Di dalam kehidupan Allah tidak mentakdirkan sesuatu melainkan ada kebahagiaan untuk hambaNya karena Allah Maha Bijak dan Maha Mengetahui. Itulah sebabnya Allah tidak akan memberikan kesia-siaan. Tidak ada ketentuan Allah tanpa adanya hikmah. Betapa banyak kebaikan dan kebahagiaan yang berlimpah tersembunyi dibalik peristiwa yang menyakitkan hati tanpa kita sadari. Sebagaimana Firman Allah.

'Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS. al-Baqarah : 216).

Allah menguji kita dengan berbagai cobaan karena Allah lebih tahu kebaikan bagi kita. Jadi, cobaan dan ujian yang diberikan oleh Allah kepada kita, agar kita tercegah dari kehancuran dan azab yang jauh lebih besar. Akan tetapi seringkali kita malah berprasangka buruk kepada Allah karena ujian dan cobaan itu dan kita tidak pernah merasa bahwa sesungguhnya Allah berbuat baik kepada kita dengan cobaan dan ujian yang Allah telah berikan.

Segalanya berjalan, sesuai dengan qadha' dan ketentuanNya.
Dibalik segala peristiwa ada suka, ada duka
Apa yang selama ini ku takutkan, malah menyenangkan
Apa yang selama ini ku dambakan, malah justru menyedihkan

Sebuah Penantian

Di tangga masjid dia menatap jalanan yang penuh mobil berlalu lalang. Lampu temaram. Angin terasa dingin menggigit seluruh tubuh. Masih teringat kata-kata itu, 'aku akan datang, tunggu aku aku disini, dua hari lagi aku kembali.' Ucapan itu masih terngiang ditelinganya. Satu jam telah berlalu. Gadis manis berjilbab itu sesekali melihat jam tangan. Menanti dengan penuh kegelisahan. Handpone ditangannya beberapa kali memencet nomor yang tak pernah terjawab.

'Mungkinkah kau melupakan aku?' tuturnya lirih.

'Aisyah?' Suara itu mengagetkan dirinya.

'Iya.' Jawabnya, ada seorang laki-laki muda dengan celana jin tersenyum manis.

Hati Aisyah tergetar melihatnya. Laki-laki muda itu memperkenalkan dirinya. 'Saya Anwar, Kakaknya Andi.'

'Andi banyak bercerita tentang Aisyah.'

'Benarkah?' kata Aisyah lirih. Kecemasan itu menghinggapi hati Aisyah.

'Aisyah, saya menyampaikan pesan terakhir Andi.' ucapnya sambil menyerahkan satu kotak yang berisi satu perangkat sholat dan kitab suci al-Qur'an terbungkus rapi. 'Andi menitipkan ini sebelum meninggal, dia ingin melamarmu malam ini, Aisyah.'

'Astaghfirullah,' ucap Aisyah menangis. Malam itu Aisyah tak kuasa membendung air matanya. Terbayang wajah Andi melintas tersenyum padanya. Hatinya terasa perih mengenang Andi. Berlari berdua mengejar-ngejar bus kota di Blok M. Andi juga selalu mengingatkan bila tiba waktu sholat. Semuanya terasa indah bagi Aisyah sekaligus terasa pahit. Aisyah tak kuasa menahan tubuhnya dan jatuh tersungkur di tangga masjid.

'Aku hanya mengharap CintaMu Ya Allah.' ucapnya lirih.

Friday, October 22, 2010

Berselimut Air Mata

Malam temaram, udara dingin terasa menusuk tulang. Rumah Amalia kedatangan tamu, seorang ibu bersama dua putranya. Terdengar lantunan ayat suci al-Quran anak-anak Amalia. Beliau dan kedua putranya turut membaca Yasin. Memanjatkan untuk suaminya yang tercinta. Hampir seumur hidupnya dihabiskan untuk mengabdi kepada suaminya. Perjalanan hidupnya terjal dan berliku, penuh onak dan duri. Luka perih dihati tak tertahankan. Hidupnya bagai berselimutkan air amata.

Kisah yang dituturkan berawal dari sebuah kesuksesan yang diraih suaminya membuat hidup keluarga menjadi lebih baik. Anak-anak yang ke sekolah jalan kaki menjadi diantar pakai mobil. Rumah yang dulu panas kemudian ada pendingin. Kebutuhan hidup yang serba sulit menjadi tercukupi bahkan melimpah. 'Hidup kami bahagia Mas..'tutur beliau. Dipuncak kariernya sang suami terlihat lebih sayang kepada keluarga. Sampai kemudian dikejutkan oleh kenyataan pahit datang tiba-tiba. Suaminya meninggalkan rumah bersama perempuan lain yang justru dikenalnya. Hatinya hancur karena harus banting tulang untuk menghidupi anak-anaknya. 'Hanya pada Allahlah saya memohon dan berserah diri..' ungkap beliau. Sampai batas titik nadir Allah Subhanahu wa Ta'ala menguji dirinya.

Bertahun-tahun suami pergi meninggalkan dirinya dan anak2nya. Tiba-tiba suaminya datang kembali ke rumah dengan membawa dua anak dari istri mudanya. Suaminya bercerita bahwa istri mudanya telah meninggal dunia, usahanya mengalami kebangkrutan dan menjadi pengangguran. Dipeluk suaminya dengan tertumpah semua air mata. Didekap erat tubuh suaminya, dia bersedih sekaligus gembira karena suaminya telah kembali. Air matanya tak terbendung. Seolah penderitaan yang dialami selama ini tak sebanding dengan penderitaan yang dialami oleh sang suami.

'Rumah menjadi ramai karena anggota keluarga bertambah, biasa kami bertiga sekarang menjadi berenam,' kata beliau. 'Saya mengajarkan kepada anak-anak bagaimana mengubah benci menjadi cinta karena begitulah Nabi Muhammad mengajarkan kepada kita sampai akhirnya anak-anak saya menerima dengan baik, saudara-saudara dari istri muda ayahnya. Mereka berkumpul dan bermain bagai saudara sekandung.' tutur sang Ibu terlihat wajahnya yang telah termakan usia. Setiap hari suaminya pergi mencari nafkah, berangkat pagi sampai pulang malam. Pada suatu hari suaminya sakit terkena Bronchitis dan muntah darah. Dua bulan kemudian sang suami meninggal dunia dipangkuannya. Dielus dan dibelai rambut sang suami yang telah memutih. Meninggal dengan senyuman dengan kasih sayang seorang istri. Semua anak-anaknya menangisi kepergian ayahnya. Ayah yang dicintai oleh anak-anak dan istrinya.

'Mas Agus, Puluhan tahun saya benci, marah dan kesal. Allah menyentuh hati saya agar saya bisa memaafkan, mengasihi dan menyayangi kepada orang-orang yang telah menyakiti hati saya bahkan tiada kenal lelah saya berdoa memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar keluarga kami diberkahi dan Allah mengabulkan doa saya, memberikan kami dan keluarga sebuah kebahagiaan' Ucap beliau dengan air mata yang bercucuran. Subhnallah...

---
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS Ath-Thalaq 4).

Wednesday, October 20, 2010

Prahara Mengguncang

Pernah datang seorang Ibu ke Rumah Amalia, bercerita prahara datang mengguncang rumah tangganya. Hatinya yang perih terlihat dari setiap tetes air matanya yang berlinang. Malam itu beliau sengaja berbagi rizki dan berdoa bersama anak2 Amalia, 'saya hanya memohon kepada Allah agar keluarga kami diberikan keberkahan dan keselamatan..' ucapnya lirih.

Tak kuasa hatinya menanggung sakit karena suaminya berselingkuh. Bertahun-tahun dirinya melalui pahit getirnya kehidupan berjuang mendampingi suami tercintanya untuk mencapai puncak karier, Namun kini setelah mencapai impian, beliau sebagai istri dicampakkan begitu saja hanya karena seorang perempuan lainnya. Keadaan itu nyaris membuatnya putus asa dan sempat terpikir untuk mengakhiri hidup. 'Saya teringat tulisan Mas Agus yang mengatakan bahwa hidup ini adalah anugerah dan bunuh diri adalah perbuatan dosa yang tak terampuni,' ucapnya getir. Beliau mengunci diri di dalam kamar untuk menghindar dan tidak ingin bertegur sapa dengan siapapun karena pengkhianatan yang dilakukan sang suami.

Diawal perkawinannya semua terasa indah. Kekurangan dan kelebihan menghiasi hidupnya. Suami melanjutkan studi S2, karier di kantor semakin cemerlang. Tiba-tiba prahara itu datang mengguncang. Dirinya menemukan sebuah akun FB gambar suami bersama perempuan lain yang mengaku sebagai istrinya. Prahara itu telah mencabik-cabik hatinya. Pertengkaran hebat terjadi. Suami meninggalkan pergi dirinya dan anaknya. Ditengah prahara itu anaknya jatuh sakit. Pontang panting dalam kesendirian membawa anaknya ke rumah sakit justru telah membuat beliau menjadi tegar dan kuat. 'Saya tahu setiap ujian yang diberikan Allah kepada hambaNya agar kita menjadi kuat dan tegar.' tutur beliau dengan penuh tetesan air mata.

Allah menjawab doa kami. Tidak sampai seminggu kemudian putra tercinta sudah diperkenankan keluar dari Rumah sakit. Anugerah Allah tidak berhenti disitu saja, Allah membukakan pintu hati suami untuk pulang ke rumah dan telah menyadari kesalahan. Kebahagiaan itu hadir ditengah keluarga beliau dan beliau semakin yakin bahwa Allah senantiasa miiliki anugerah yang terindah dalam hidupnya dan keluarganya.

Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. (QS. Ath-Thalaq : 2-3).

Sunday, October 17, 2010

Cinta Itu Indah

Di pagi yang indah sebelum berangkat kerja saya sempat sarapan ditemani dengan secangkir teh manis. saya bilang sama istri saya agar menjauh dari saya. Hah! istri saya sempat tercengang, 'kenapa mas saya mesti menjauh?' katanya penuh keheranan. Saya katakan padanya, 'tehnya sudah manis, nanti jadi tambah manis jika melihat senyummu yang manis itu..' Mendengarkan jawaban saya, istri saya menjadi tersipu malu.

Itulah cinta yang kita miliki, selalu hadir penuh keindahan di pagi hari. Cinta yang indah selalu terwujud di dalam rumah tangga. Bahkan pergaulan dalam rumah tangga juga membutuhkan suasana dinamis, dialog dan saling menghargai. Kekurangan keuangan keluarga misalnya, oleh orang bijak dapat dijadikan sarana untuk menciptakan suasana dinamis dalam keluarga.

Sebaliknya suasanya mapan yang lama (baik mapan cukup maupun mapan dalam kekurangan) dapat menimbulkan suasana rutin yang menjenuhkan. Oleh karena itu suami isteri harus pandai menciptakan suasana baru, baru dan diperbaharui lagi, karena faktor kebaruan secara psikologis membuat hidup menjadi menarik. Kebaruan tidak mesti dengan mendatangkan hal-hal yang baru, tetapi bisa juga barang lama dengan kemasan baru agar cinta di dalam rumah selalu nampak indah bagi para penghuninya.

Saturday, October 16, 2010

Kasih Sayang Seorang Ayah

Seorang ayah memiliki hati yang penuh kasih untuk anak-anaknya. Hati seorang ayah akan tahan menderita bila sakit untuk dirinya sendiri, namun tidak akan tahan disaat melihat buah hatinya yang menderita. Bahkan jika sakit itu bisa digantikannya, ayah bersedia menggantikan sakit anaknya. Itulah hati seorang ayah.

Saya mengenal seorang teman yang juga seorang ayah. Saya biasa memanggilnya Mas Jay. Kami biasa berdiskusi lewat milis dan malam itu Mas Jay berkunjung ke Rumah Amalia. Mas Jay bertutur mulanya dirinya orang yang ‘jauh dari Allah’ tidak memiliki keyakinan yang mantap dan tetap. Ketertarikan belajar sholat secara serius ketika ajakan yang begitu menyentuh dari anaknya yang masih TK. Anak yang masih relatif kecil setiap hari selalu mengajaknya untuk mengerjakan sholat. Awalnya dirinya menanggapi hal itu sebagai biasa saja.

Ajakannya itu terasa betul-betul menampar hatinya. Begitu sangat berharga dan membuatnya menangis meraung-raung justru ketika anaknya sedang sakit masih sempat mengajaknya sholat Isya’. Katanya, ditengah malam anak saya suhu badannya panas tinggi dan perutnya mengeras. Anaknya menangis tak henti-hentinya merengek mengajak saya sholat. Tanpa berpikir panjang saya memenuhi permintaannya untuk mengambil air wudhu. Setelah mengerjakan sholat, kami bergegas menuju Rumah Sakit.

Setelah diperiksa ternyata putranya harus dioperasi. Karuan saja dirinya menjadi panik. Bagaimana mungkin anaknya yang masih kecil itu dengan kekuatan fisiknya yang masih lemah untuk menghadapi operasi. ‘Saya hanya bisa berserah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, saya berjanji jika anak saya sembuh. Saya akan rajin melaksanakan sholat seperti yang dimintanya.’

Mas Jay menuturkan sebelum anak saya masuk ruang operasi masih sempat bertanya pada dirinya, ‘ayah sudah sholat belum.’ Kata-kata itu begitu mengiris-iris hati saya. Dulu bila mendengar ajakan teman-temannya untuk sholat selalu menolaknya karena keengganan untuk melaksanakan sholat. Sekarang kata-kata itu justru muncul dari anak yang disayanginya, bagaimana mungkin dirinya bisa menolaknya, lanjutnya. Mas Jay tak bisa menyembunyikan airmatanya yang terus bercucuran.

‘Saya menunggu putra saya didepan kamar operasi’ tuturnya. Ketika lampu operasi menyala. Dirinya bersama istri tercinta tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya, hilir mudik didepan kamar operasi. Waktu seolah berjalan lama sekali. ‘Segala macam doa yang saya tahu saya panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala’ Setelah begitu lama, kamar operasi itu terbuka. Seorang dokter muncul dari pintu. Mencopot sarung tangannya. ‘Operasinya berjalan dengan baik, anak bapak sekarang perlu istirahat setelah itu boleh pulang.’ Mas Jay menangis bahagia. ‘Alangkah nikmatnya anugerah Allah yang diberikan kepada saya disaat harapan mulai memudar, Allah menyelamatkan putra saya,’ tuturnya. ‘Dan sejak itu saya lebih giat untuk melaksanakan sholat karena saya harus memenuhi janji saya,’ kata Mas Jay malam itu. Saya bisa merasakan apa yang terjadi pada dirinya. Begitulah hati seorang ayah yang penuh kasih untuk sang buah hatinya.

Friday, October 15, 2010

Kuatkan Diri Anda

Anak kecil yang baru bisa berdiri atau berjalan senantiasa membutuhkan orang lain untuk berpegangan sebab belum dapat melakukannya sendiri, karena ada rasa takut dan khawatir. Perlahan dengan latihan setiap hari dengan bimbingan orang tua mulailah timbul kepercayaan diri untuk melakukan. Demikian halnya kita, orang yang dewasa, banyak hal di dalam hidup ini kita tidak melakukan segala hal seorang diri. Kita membutuhkan orang lain, dan bergantung kepada seseorang yang kita anggap kuat. Rasa kepercayaan diri bahwa kita sanggup mengerjakan sendiri terkadang tidak terpikirkan. Sebelum mencoba kita sudah merasa lumpuh tidak berdaya, lemah dan yakin kita jatuh tersungkur.

Namun ketika kenyataan yang tak terelakkan, orang yang menjadi sandaran telah tiada, terenggut dari sisi kita karena kematian atau perpisahan dan kita merasa sendiri tanpa ada tempat pegangan dan sandaran. Apakah kita akan terus duduk termenung atau berbaring menunggu seseorang yang menuntun kita untuk bangkit dan berjalan lagi? Apakah kita akan terus menangis sampai orang mendengarkan suara kita dan menghapus air mata kita? Apakah kita tidak mencoba menggerakkan kaki dan tangan kita? berdiri dan berjalan, beberapa kali kita jatuh dan bangun lagi. Tiba waktu untuk bangkit, cukup kuat berdiri dan berjalan. Kekuatan anda bergantung pada sandaran kokoh, kuat dan abadi. Sandarkan diri kepadaNya.

Allah mengangkat segala bentuk yang lemah, tidak berdaya. Anda dibangkitkan dengan penuh Kasih SayangNya dengan berbagai jalan kehidupan yang terjal berliku. Tertumpah setiap tetes air mata dan hati yang penuh luka. Anda sanggup untuk berdiri menghadapi kehidupan, berjalan dan berlari, terbukti bahwa anda masih diberikan untuk bisa bernapas menghirup udara segar dan menikmati indahnya matahari disiang hari. Kita telah diberikan kesanggupan untuk mengurus keluarga, membagikan cinta dan kasih sayang untuk anak-anak kita. Itu bertanda Allah telah memberikan kita kesanggupan dan kekuatan kepada kita sebagai pengatur yang handal. Nah, mengapa bakat dan kemampuan tidak kita sadari dan berkembang disaat tidak ada seorangpun yang menopang hidup kita? Tunjukkan bahwa ada ataupun tiada seorangpun yang menopang anda tetap seorang pemimpin yang baik, bagi kehidupan anda, untuk anak-anak dan untuk siapapun yang membutuhkan pertolongan anda.

Kenalilah perasaan-perasaan diri kita sendiri, rasa takut, khawatir akan hidup sendiri, rasa tidak percaya bahwa kita sanggup melakukan segala sesuatunya sendiri. Rasa takut dan khawatir ini menghambat kepercayaan diri kita, membuat kita tidak akan melangkah maju dalam kehidupan, Kita terpaku pada keadaan sekarang, terbenam dalam penderitaan dan kesedihan yang kunjung berakhir dan kita tidak keluar dari kubangan lumpur yang membenamkan kita jika kita tidak keluar. Kuatkan diri anda dengan memohon kekuatan kepada Allah agar diberikan kesanggupan memikul beban yang sudah menjadi tugas kita pada saat ini untuk menuju kehidupan yang lebih baik, lebih indah dan mulia.

'Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.' (QS. Ali Imran : 139).

Thursday, October 14, 2010

Selamat Dari Belitan Hutang

Selepas maghrib, anak-anak Amalia berdoa bersama. Tak lama kemudian kami kedatangan seorang tamu. Ibu muda menyapa kami. Saya mempersilahkan duduk. 'Mas Agus masih ingat saya?' katanya. Samar-samar saya agak lupa. Dengan cepat dia mengingatkan saya kembali. 'Saya enam bulan yang lalu pernah datang kemari untuk bershodaqoh, alhamdulillah sekarang saya sudah terbebas dari belitan hutang.'

Ibu muda itu bertutur bahwa telah mengikuti saran saya agar selamat dari belitan hutang dengan bershodaqoh dan tidak menutup hutang dengan berhutang sebab hutang menutup pintu rizki dan menutup terijabahnya pintu doa. 'Maka saya jual ruko yang saya miliki untuk menutup hutang dan sisanya saya gunakan untuk usaha kembali.' ucap beliau dengan mata berkaca-kaca. Air matanya mengalir. Ujian itu datang bertubi-tubi menimpa hidupnya. Terasa menyesakkan didada. Sejak suaminya meninggal dunia, dia menjadi tulang punggung untuk anak-anaknya dan keluarga karena tidak ada yang mengingatkannya disaat ada orang yang menawarkan pinjaman tanpa berpikir panjang langsung menerima tawaran itu. Sampai terjebak belitan hutang riba yang mencekik lehernya.

Sekarang rumah makannya sudah memiliki tiga cabang dan telah memiliki dua ruko. Kejadian yang telah lalu menjadi pelajaran yang teramat berharga, semakin mendekatkan diri kepada Allah dan semakin mencintai sang buah hatinya. Maka beliau bersyukur telah bershodaqoh untuk anak2 Amalia, atas izin Allah telah menyelamatkan dirinya dari belitan hutang dan beliau berjanji tidak akan pernah berhutang lagi dalam menjalankan usahanya. Hutang menyebabkan tertutupnya pintu rizki dan terhalangnya pintu ijabah doa yang kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

--
Obatilah orang yang sakit dengan bershodaqoh, bentengilah harta kalian dengan zakat dan tolaklah bencana dengan doa.' (HR. Baihaqi).

Tuesday, October 12, 2010

Keajaiban Bersyukur

Masalah, ujian dan derita menjadi terasa berat apabila kita tidak pernah tahu bagaimana caranya bersyukur. Syukur menjadi sebuah keajaiban ditengah luka, perih dan air mata karena syukur wujud cinta kita kepada Allah. Cara kita mencintai Allah dan cara Allah mencintai kita hadir ketika kita mampu bersyukur. Bersyukur dengan penuh kecintaan kita kepada Allah sebagaimana kecintaan Allah kepada kita sehingga hidup kita menjadi terasa indah dan bahagia. 'Jika engkau bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmatKu padamu.' (QS. Ibrahim :7).

Bagaimana cara yang paling mudah agar kita bisa selalu bersyukur. Ada tiga hal.
Pertama, Berprasangka baik kepada Allah. Kedua, berprasangka baik pada manusia. Ketiga, petik hikmahnya. Berprasangka baik kepada Allah & manusia, sekaligus memetik hikmahnya akan membuat kita merasa aman dan nyaman. membuat hidup kita bahagia.

Apa manfaat syukur? Manfaat syukur ada tiga hal. pertama, kita menyadari bahwa hidup ini tidak ada yang kebetulan, semua apa yang kita alami adalah anugerah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kedua, bersyukur berarti kerelaan kita untuk menerima apapun yang telah menjadi tetapan Allah atas hidup kita. Ketiga, bersyukur berarti memaafkan kesalahan orang lain yang pernah menyakiti hati kita.

Monday, October 11, 2010

Badai Itu Datang Menghempas

Angin berhembus menusuk tulang. Air mata itu mengalir tiada henti. Sosok perempuan yang tak mampu menyembunyikan kesedihannya ketika badai itu datang menghempasnya. Suara anak-anak Amalia yang sedang melantunkan ayat suci al-Quran terasa merdu, mengobati hati yang sedang terluka. Sekian lama dalam penuturannya berkisah tentang perjalanan hidupnya.

Awalnya pernikahannya dengan laki-laki yang jauh lebih tua membuat ketakutan menjadi 'single parent' menghantui dirinya sejak lama. Mempersiapkan diri melayani suami dengan baik, sabar, cinta dan kasih sayang membuat keluarganya terasa indah. Dirinya merasakan kasih sayang seorang suami dan ayah bagi anak-anaknya. Meski menderita darah tinggi namun kata-katanya lembuat dan tidak pernah menyakiti hati.

Sampai kemudian ketakutan itu benar-benar terjadi, serangan penyakit yang tak tertolong oleh dokter dan rumah sakit telah merenggut suaminya yang dicintainya. Semua terpukul dengan kepergiannya. Dirinya shock dan depresi. Berkali-kali jatuh pingsan. kehilangan sesuatu yang berharga di dalam hidupnya. Putus asa dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. Anak-anaknya yang masih kecil begitu sedih kehilangan ayahnya. Terus menangisi kepergian sang ayah begitu menyayanginya.

Setiap hari dirinya lebih suka duduk, menangis memandangi kursi tempat dimana suaminya suka duduk dikursi itu. Setiap memandangi poto suaminya selalu saja menangis. Air matanya mengalir deras. Barang-barang dan benda kesayangannya seolah hadir seperti usapan tangannya yang lembut. Bayangannya sering melintas dihadapannya namun ketika hendak dipeluknya, bayangan itu menghilang, lenyap tak membekas. Dirinya menjerit dan anak-anak hanya duduk terheran melihat ibunya. Makan minum sudah tidak lagi berselera. Dirinya sering lemas dan tidak bergairah bekerja. Menjadi mudah marah dan membenci siapapun. Termasuk membenci dirinya sendiri.

Dalam penuturannya, perih dihati membuatnya jauh dari Allah. Enggan lagi berdoa bahkan di dalam benaknya banyak pertanyaan. 'Berdoa untuk apa? Kalo Allah Maha Baik, mengapa Allah membiarkan aku kehilangan orang yang aku cintai dengan cepat justru ketika aku masih membutuhkan kehadirannya? mengapa kebahagiaan itu begitu singkat? Bagaimana dengan anak-anak? Mengapa Allah memberikan ujian yang melebih kekuatanku? Apakah aku bersalah? Lalai memberikan menjaganya waktu itu? Mungkinkah ada kata-kata dan sikapku yang telah membuatnya sakit hati? Begitulah pertanyaan itu selalu muncul di dalam pikirannya.

Pada suatu hari anak-anaknya ke sekolah, dirinya sedang di rumah. Tidak merasakan apa-apa tersadar di ruang Unit Gawat darurat . Ketika tersadar dan mendengar tetangga bercerita ibu itu menangis sejadi-jadinya. 'Mengapa saya tidak mati saja?' tuturnnya. Beberapa hari terbaring lemah di rumah sakit, telah pulih kembali dan diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Itulah sebabnya beliau berkempatan untuk ke Rumah Amalia. Saya membantu beliau untuk berserah diri kepada Allah. Berserah diri pada Allah berarti menerima kehilangan orang yang dicintainya. Keberserahan diri kepada Allah itulah yang telah menyadarkan beliau bahwa tidaklah sepatutnya menjadi marah kepada siapapun terlebih kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang begitu sangat mencintainya dan keluarganya. Tidak pantas untuk berputus asa dan berharap kematian karena hal itu tidak menyelesaikan masalah dan tidak akan mengembalikan yang sudah tiada. Beliau menjadi tersadar akan tanggungjawab kepada anak-anaknya yang masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian yang lebih besar. Anak-anak adalah bukti karunia Allah yang harus disyukuri dalam hidup ini. Anugerah Ilahi yang tidak boleh disia-siakan.

Harapan itu bersemi kembali. Kesadaran bahwa Allah masih memberikannya kesempatan hidup merupakan anugerah yang terindah yang diterimanya dan diisi dengan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, anak-anaknya dan sesama. Akhirnya keceriaan itu muncul kembali dengan penuh kebahagiaan. 'Ya Allah, aku mohon ampun atas dosa-dosaku yang telah meragu akan CintaMu..' tutur beliau penuh kebahagiaan bersama anak-anaknya di Rumah Amalia malam itu. Subhanallah.

Dan kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong. (QS. Az-Zumar : 54).

Sunday, October 10, 2010

Solusi Mengatasi Perih di Hati

Salah satu kedukaan di dalam hidup kita adalah kehilangan sesuatu yang berarti tentu saja membuat kita merasa perih dihati. Terlebih kehilangan orang yang kita cintai dan kita harapkan. Apalagi sampai kita begitu sangat bergantung kepada kehadirannya, maka rasa perih dihati yang mengiringi kepergiannya terasa amat sakit dan mudah untuk disembuhkan luka itu. Setiap benda atau hal yang mengingatkan kita kepada orang tersebut membuat luka hati menganga kembali dan rasa sakit yang menyayat terasa begitu nyeri.

Sejauh mana kenangan itu tersimpan, tergantung hubungan kita dengan orang yang pergi. Cinta dan kasih sayang yang begitu mesra menimbulkan kenangan manis, sedangkan hubungan yang penuh pertengkaran atau penghianatan menimbulkan kebencian yang membara dan setiap tempat, benda, orang dan masalah yang berkaitan dengan orang tersebut menimbulkan rasa nyeri dihati dan kenangan pahit tak terlupakan.

Apa saja yang pernah kita alami baik atau buruk, manis atau pahit tentu saja akan membuat kita teringat oleh kita meski sudah berlangsung sekian tahun yang lalu. Kenangan akan sesuatu adalah bagian dari memori hidup kita yang cepat atau lambat akan berlalu. karena perasaan apapun yang anda miliki boleh saja, bukan benar atau salah melainkan sejauh mana anda bisa mengatasi luka dan perih dihati.

Rasa sakit dan perih kita bisa atasi dan mempergunakan setiap kenangan yang terlintas dipikiran kita terhadap seseorang yang telah meninggalkan kita untuk hal-hal yang positif dan produktif bukan untuk merusak diri kita sendiri. Berserah dirilah pada Allah maka hati akan terisi dengan kebaikan, prasangka baik, dengan kesucian, dengan keyakinan bahwa hidup ini adalah anugerah Allah yang terindah sehingga luka itu tidak terasa perih lagi. Keberserahan diri kepada Allah membuat pikiran-pikiran positif dan produktif, prasangka baik,. Hati dan pikiran yang penuh dengan sifat baik dan mulia, anda akan ikut berubah total. Anda menjadi kuat dan sanggup memikul beban hidup ini menjadi terasa ringan serta mengatasi rasa perih dihati, sebagaimana Allah mengingatkan kita.

'Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang mulia kepada mereka didunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar kalau mereka mengatahui. Yaitu orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka berserah.' (QS. an Nahl : 41-42).

Wednesday, October 06, 2010

Nikmatnya Sakit

Ada seorang bapak yang untuk kesekian kali datang ke Rumah Amalia. Beliau mengatakan kepada saya bahwa hanya dekat dengan Allah lah hatinya menjadi tenang. 'Itulah nikmatnya sakit' tuturnya. 'Dalam tekanan hidup membuat saya mencari Allah, meski saya pernah marah dan meninggalkanNya namun Allah tidak pernah meninggalkan saya.'

Pukulan pertama diterimannya. Awalnya tahun lalu istrinya yang dicintai masuk rumah sakit ketika beliau sedang berada di luar kota karena tugas kantor. Tidak lama kemudian sang istri dipanggil oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ditengah kesedihannya beliau jatuh dari kamar mandi yang membuat terbaring di rumah sakit. Terbaring selama satu bulan. Begitu sudah bekerja kembali, pimpinan perusahaan tempatnya bekerja dirinya di PHK. Dalam upaya mencari pekerjaan baru, beliau mencoba untuk berwirausaha namun usahanya tak membuahkan hasil.

Sampai titik nadir, rasa sakit yang dialaminya. menjerit dalam hati 'Ya Allah, aku tidak sanggup lagi.' Pada kesempatan itulah beliau mendengarkan Radio Bahana 101.8 FM Jakarta, kemudian menghubungi saya dan akhirnya berkunjung ke Rumah Amalia. Tidak lama setelah itu beliau mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik daripada sebelumnya. Sekarang justru beliau semakin dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 'Saya selalu rindu padaNya sebab kasih sayang Allah menerangi jalan hidup saya Mas Agus.' tutur beliau.

--
'Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatunya. (QS. at-Talaaq : 3).

Ketika Ajal Menjemput Kita

Malam dingin udara terasa menusuk. Air mata menetes, mengalir begitu saja. Mengingat kematian bisa hadir kapan saja. Bahkan bila Allah menakdirkan detik ini kita meninggal dunia, maka detik inipun kita meninggal dan kita tidak dapat menolaknya. Kita tidak bisa berbuat apapun, sekalipun kita berlari keujung dunia, kematian tetap menjemput kita.

Rumah tiba-tiba penuh dengan tangisan. Anak-anak kita menangis. Pasangan hidup kita menangis. Orang tua kita menangis. Teman kantor, kerabat, tetangga, mereka semua menangis. Kita hanya bisa membisu, jasad kita dimandikan, dikafani, kemudian disholatkan. Selesai sholat tubuh kita dimasukkan keranda. Diangkat dan digotong keliang lahat. Diringi isak tangis orang-orang yang kita kasihi.

Tubuh kita diturunkan diliang lahat seukuran tubuh kita. Dimiringkan ke arah kiblat. Ditutup dengan papan. Tinggallah diri kita dalam kegelapan, sendirian dan kesepian. Tiada seorangpun yang mau menemani diri kita. Bahkan orang paling mencintai kita sekalipun pergi meninggalkan kita. Hanyalah amal kebaikan kita selama hidup didunia yang menemani kita. Amal kebaikan itulah yang menjadi bekal kita.

'Apabila nafas seseorang telah mendesak sampai dikerongkongan dan dikatakan kepadaNya. 'Siapakah yang dapat menyembuhkanmu?' dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan dengan dunia telah tiba dan tautan betis kiri dan betis kanan. kepada Tuhanmu-lah pada hari itu kamu dihalau.' (QS. al-Qiyamaah : 26-30).

Sudahkah kita siap bila detik ini ajal tiba?

Monday, October 04, 2010

Cara Mengatasi Kesepian Dan Tekanan Kejiwaan

Sesudah kehilangan sesuatu yang kita cintai, hidup kita biasanya berubah. Kebiasaan hidup yang awalnya bersama dengan seseorang tiba-tiba harus berubah karena kepergiannya. Dapat dimaklumi adanya perubahan ini namun hendaknya tidak terlalu drastis dan mendadak. Seperti, biasanya orang yang periang, ramah dan mudah bergaul, tiba-tiba menjadi pemurung, penyendiri, pendiam dan tidak mau ketemu dengan siapapun setelah kehilangan orang yang dicintai atau perginya pasangan hidup kita. Bila hal terjadi waktu sementara dan kembali berangsur kembali tentunya dapat dimaklumi. Namun bila berlangsung bertahun-tahun tetap mengurung diri di kamar tentunya bisa berakibat mengalami tekanan kejiwaan.

Terlebih dulu kita harus mengenali sebab-sebab kesepian dan tekanan kejiwaan serta mencari cara yang tepat untuk mengatasinya.

1. Harapan Orang Disekeliling Kita. Kita malu dan kecewa disebabkan kenyataan hidup kita tidak sesuai dengan harapan keluarga, termasuk orang tua, saudara dam juga harapan teman-teman kita sehingga tidak dapat membanggakan diri dihadapan mereka. Kita bisa memahami dan memaklumi apa yang menjadi harapan mereka, tentunya kita juga tidak dapat menyenangkan hati semua orang. Anda sudah sampai pada satu kondisi harus menghadapi dan mengatasinya. Sebaiknya mampu melepaskan diri dari pendapat dan harapan orang lain, berusaha untuk bangkit dan tetap tegak dalam menjalani hidup ini.

2. Keuangan dan Aktifitas. Bila kondisi perpisahan dan kehilangan maka terjadi perubahan keuangan keluarga, terlebih jika sumber pendapatan adalah orang yang meninggalkan kita. Kesulitan keuangan tidak pernah terpikirkan dan tidak mempersiapkan diri sama sekali, tentunya hal ini membuat kita menjadi tertekan dan teramat menderita. Kesulitan ini haruslah diatasi dengan aktifitas yang bisa menambah penghasilan agar tetap bertahan hidup. Kondisi seperti ini bisa jadi sangatlah menguntungkan karena membuat kita menjadi lebih mandiri.

3. Perasaan Bersalah. Mungkin saja anda merasa bersalah atas terjadi meninggalnya atau perpisahan orang yang anda cintai. 'Ah, seandainya aku tidak berbuat itu, mungkin saja dia masih hidup.' 'Andaikan aku tak terburu-buru untuk bercerai, tentunya akan menjadi lain.' 'Andaikan saja aku tidak kehilangan, hidupku akan bahagia.' Berpikir seandainya tentu saja tidak akan memecahkan persoalan dan rasa bersalah yang menghantui kita tidak akan mengurangi rasa kesepian dan tekanan kejiwaan yang kita derita., juga tidak akan mengembalikan apa yang telah hilang bahkan menambah derita. Apapun yang terjadi, tidak perlu anda begitu tertekan dan terus menyesali apa yang telah terjadi karena memang tidak membawa perbaikan.

Menerima kehidupan, apapun yang telah terjadi sebagai sebuah ketetapan Allah adalah cara yang paling mudah agar kita mengatasi rasa kesepian dan tekanan kejiwaan. Berdoa mengajukan permohonan-permohonan positif kepada Allah dan penyerahan diri secara total kepadaNya mengurangi tekanan kejiwaan yang kita alami sekaligus menghilangkan rasa kesepian. Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak akan membiarkan anda berjalan dalam kesendirian dan kesepian.

'Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku adalah dekat. AKu mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu dalam kebenaran.' (QS. al-Baqarah : 186).

Sunday, October 03, 2010

Makna Keridhaan

Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 216).

Ayat ini memiliki makna tentang indahnya keridhaan. Makna ridha dengan pemberian yang telah Allah tetapkan kepada kita merupakan kunci sukses dalam meraih kebahagiaan. Sesungguhnya keridhaan itu memiliki buah yang melimpah berupa keimanan. Orang yang ridha dengan ketetapan Allah akan terangkat ditempat yang mulia. Hal itu mempengaruhi keyakinannya menjadi dalam dan memiliki akar yang kuat, tertanam dalam hati.

Barangsiapa yang hatinya penuh dengan ridha terhadap ketetapanNya. Allah akan memenuhi hatinya dengan kekayaan, rasa aman, serta qonaah, selanjutnya Allah menjadikan hatinya penuh cinta, inabah, tawakal kepadaNya, bagi orang yang tidak memiliki keridhaan terhadap ketetapan Allah, hatinya penuh dengan kebencian, kemungkaran, dan kemarahan, dirinya sibuk dengan hal-hal yang sifatnya mencari kesalahan pada orang lain. Sikapnya cenderung reaktif, sensitif terhadap apapun yang membuatnya terjauh dari kebahagiaan dan keberuntungan.

Keridhaan akan mengosongkan hati dari berbagai keterikatan, ketergantungan. Hati dibiarkan hanya untuk Allah. Sikap tidak menerima terhadap qodo' atau ketetapan Allah akan menguras isi hati dari segala sesuatu hal yang bersangkutan dengan Allah. Selalu mengeluh tidak mampu merasakan karunia yang Allah berikan kepadanya, dimatanya hanyalah rizki yang tidak pernah cukup, nasib yang tidak baik, musibah yang tak pernah kunjung usai. Dirinya merasa berhak untuk mendapatkan yang lebih dari semua itu. Dimatanya apa yang menimpa dirinya adalah Allah yang telah memberikan nasib sial. Allah dianggapnya yang bertanggungjawab atas penderitaan yang dialaminya, sebab Allah yang selalu memberikan ujian, musibah, cobaan dan bencana padanya.

Itulah sebabnya menjadi penting untuk kita bersikap ridha atau menerima ketetapan Allah sekalipun ketetapan Allah terkadang pahit rasanya. Keridhaan hati menghilangkan kesedihan, menjauhkan dari bencana, mendapatkan kenikmatan dan karunia yang besar sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala. ' Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah. mereka tidak ditimpa bencana dan mengikuti keridhaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar.' (QS. Ali Imran : 174).

Ketakutan Dalam Kesepian

Ketakutan yang terbesar dari orang-orang yang mengalami kesepian yang hebat adalah depressi atau kehilangan keseimbangan emosional untuk sementara waktu atau lama. Banyaknya pertimbangan sangatlah menentukan kepastian, harga diri, nilai dan pandangan hidup terhadap realitas yang ada. sering membuat orang menjadi terombang ambing dan menjadi merasa 'gila.' Hal itu bukan berarti kesepian adalah penyakit psikologis. Dr. Robert S Weiss dari Kedokteran Universitas Harvard menyebutkan bahwa kesepian adalah tanggapan normal dari kurangnya dua kebutuhan pokok sosial yang utama.

1. Bila kita memiliki ikatan dilengkapi hubungan akrab dengan pasangan atau seseorang yang kita cintai.

2. Rasa berkelompok dilengkapi dengan jaringan teman-teman yang ikut berbagi kepentingan yang sama dalam masalah tertentu.

Dua kebutuhan pokok inilah yang menjadi pondasi diri kita. Bila kita kehilangan salah satunya maka hal itu menyebabkan kita menjadi kesepian. Pengobatannya bisa melalui cara mengaktifkan atau mencari hubungan yang lebih berarti dan mengisi hari-hari yang ada dengan pekerjaan atau aktifitas yang menyenangkan. Meski kesepian bukan penyakit mental namun bisa berakibat buruk terhadap kesehatan fisik dan emosional seseorang bahkan berakibat kematian dini.

Kesepian dapat melemahkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Angka kematian yang tinggi dari mereka yang mengalami kesepian secara terus menerus selama 6 bulan sesudah kehilangan seseorang yang dicintainya. Kesepian seperti itu berakibat seseorang mengalami stress atau tertekan sekaligus dapat untuk bisa mengenali diri kita yang hakiki. Betapapun sakitnya kesepian itu adanya namun dapat menjadi sebuah pencarian batin yang efektif, saatnya untuk mencari makna hidup dan yang paling penting adalah mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala. Dengan berdoa dan penyerahan diri secara total maka beban hati anda tersalurkan dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak akan membiarkan anda berjalan dalam kesendirian dan kesepian.

'Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.' (QS. Yusuf : 86).

Friday, October 01, 2010

Datangnya Kesembuhan

Ada seorang bapak masuk rumah sakit karena menderita tumor pada organ tubuhnya. Setelah melewati pemeriksaan medis. Para dokter menyimpulkan sangat kecil kemungkinan untuk sembuh dari sakitnya. Tak lama kemudian seorang dokter menemui istrinya dan mengatakan sakit yang diderita oleh suaminya. 'Ibu, sangat kecil kemungkinan untuk sembuh dan hanya Allahlah yang bisa memberikan keajaiban.'

Sang ibu merasa bersedih dengan kondisi suami yang sedang sakit parah dan anaknya yang semata wayang terlibat pemakaian obat terlarang. Beliau berusaha mengatasinya sendiri, membawa anaknya ke pusat rehabilitasi. Disaat Ibu tengah terpuruk dengan persoalan yang kian menumpuk. Beliau hadir ke Rumah Amalia. Kemudian beliau bershodaqoh untuk kesembuhan suami dan putrinya. beliau meyakini bahwa Allah Subhanahu Wa Ta;ala akan menyembuhkan suami dan anaknya. 'Saya benar-benar berharap, Allah mendengar doa saya..Mas Agus,' tutur sang ibu, terlihat air mata yang mengalir dipipinya.

Ditengah kegaluan hati yang dirasakan ibu dalam kesendirian dan kesunyian. Biasanya ada tawa dan canda bersama suami dan anak yang dicintainya. Saya senantiasa mengingatkan bahwa masih ada Allah yang selalu hadir ketika kita dalam kesendirian. Wajahnya terlihat lelah. Berkali-kali beliau mengucap istighfar, memohon ampun kepada Allah. Malam itu kami berdoa bersama anak-anak Amalia, memohon kepada Allah untuk kesembuhan suami dan anaknya. Angin malam terasa sejuk. Dengan doa yang dipanjatkan seolah rintik menyirami yang menyirami bumi.

Ditengah ketidakberdayaan dan keberserahan dirinya kepada Allah, dokter di rumah sakit tempat suaminya dirawat mengabarkan kepada ibu bahwa ada harapan suaminya sembuh kembali. Kondisi suaminya sedikit demi sedikit telah pulih kembali sehingga tak sampai satu bulan suaminya sudah diperkenankan untuk dirawat di rumah. Sementara anaknya juga sudah keluar dari pusat rehabilitasi. Beliau bersama suami dan anaknya senantiasa memuji Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan bersyukur atas kesembuhan dan kasih sayangNya. Semakin mendekatkan mereka kepada Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Subhanallah.

'Obatilah orang yang sakit dengan bershodaqoh, bentengilah harta kalian dengan zakat dan tolaklah bencana dengan doa.' (HR. Baihaqi)

Hati Gelap Karena Perselingkuhan

Perselingkuhan adalah faktor penyebab kehancuran rumah tangga, perselingkuhan itu juga hampir menjadi penyebab kehancuran per...