Tuesday, August 31, 2010

Buanglah Perasaan Negatif

Ketika kita sedang dilanda gelisah, marah, benci, risau, dendam, putus asa, sedih kita tidak bisa memendam dalam diri kita sendiri. Apabila tidak tersalurkan akan menjadi 'bisul' bernanah dalam hati kita dan berakibat lebih buruk untuk kesehatan ruhani kita. Sangat dianjurkan untuk curhat dan berdoa. Apabila ada seseorang yang mampu membimbing kita, memberikan pencerahan maka perasaan sedih menjadi terasa lebih ringan. Jika tidak bisa dengan lisan, bisa juga secara tulisan.

Misalnya dengan menulis, seperti menulis distatus FB, menulis puisi atau irama lagu. Menulislah untuk menumpahkan isi hati. Atau dengan cara yang paling mudah anda bisa lakukan. Tentunya banyak cara yang bisa dilakukan. Jangan biarkan perasaan duka merusak jiwa kita.

Berdoa merupakan bentuk curhat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang paling efektif untuk membuang perasaan negatif dan mengubahnya menjadi perasaan yang positif. Kita bisa mencoba menguraikan perasaan sedih, ketidak berdayaan, kekecewaan, harapan, keinginan maka perasaan kita bisa menjadi lebih ringan. Itulah sebabnya berdoa sangat membantu kita. Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan membiarkan hambaNya berjalan dalam kesendirian. Allah Menyayangi dan menunjukkan solusi yang terbaik untuk kita.

Bila anda telah merasa lega, jika beban dihati sudah terangkat, jika kesedihan anda telah berkurang, ucapkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena hanya Allahlah yang memberikan kesedihan dan hanya Allahlah yang mampu mengangkat kesedihan itu dari hati anda. Bersyukurlah dan jangan sampai kembali melupakan Allah. Ingatlah, disaat sedih kita berdoa sepanjang hari agar kesedihan segera diangkat tetapi jika Allah telah mengangkat kesedihan itu janganlah menjadi lalai dan melupakan Allah.

'Dan mereka berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.' (QS. Faathir : 34).

Ya Allah, Hindarkanlah Aku Dari Su'ul Khatimah (Kematian Yang Buruk).

Setiap kali setelah selesai sholat, terkadang meneteskan air mata tidak terasa. Ada yang yang bertanya, 'kenapa menangis?' 'untuk apa menangis?' Entah kenapa rasanya tidak bisa dijelaskan kenapa kita harus menangis dan menangis untuk apa terus menangisi siapa. Hanya teringat bahwa al-Quran mengajarkan kita satu doa agar terhindar dari su'ul khatimah atau kematian yang buruk.

'Rabbana la tuzig qulubana ba'da idz hadaitana wahablana min ladunka rahmah, innaka antal wahab' 'Ya Allah, janganlah Engkau gelincirkan hati kami setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, anugerahkanlah kepada kami kasih sayangMu, Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi anugerah.'

Menangis memohon ampun agar Allah berkenan menjadikan ujung hidup kita ini dengan kebaikan bukan 'su'ul khatimah' (Kematian yang buruk). Ciri-ciri su'ul khatimah adalah mengalami bencana setelah mendapatkan anugerah, mengalami kehinaan setelah kemuliaan, mengalami kemalangan setelah keberuntungan. Di dalam al-Quran, Allah berfirman.

'Allah berikan perumpamaan satu negeri yang aman tenteram dan damai, rizkinya datang melimpah dari setiap penjuru lalu penduduk itu ingkar kepada nikmat Allah dan Allah menimpakan kepada mereka kelaparan dan ketakutan karena apa yang telah mereka lakukan. (QS. an-Nahl : 112).

Begitulah gambaran negeri yang memperoleh su'ul khatimah adalah negeri yang semula makmur, memperoleh rizki dari berbagai penjuru tetapi karena ingkar kepada Allah, mereka memperoleh bencana demi bencana. Dalam ciri yang lain adalah mengalami kedurhakaan setelah memperoleh ketaqwaan. Orang yang masa mudanya sangat taat menjalankan ibadah, banyak melakukan amal shaleh tetapi diujung hidupnya mengalir kekayaan dan kemakmuran namun malah membuat dirinya ingkar kepada Allah diakhir hidupnya justru tergelincir mengalami Su'ul Khatimah (Kematian yang buruk).

banyak kisah orang yang sholeh, akhlaknya baik dan ahli ibadah justru mengakhiri hidupnya sebagai orang yang ingkar kepada Allah. Sudah sepatutnya kita menangis, merendahkan diri dihadapan Allah dan memohon ampun kepadaNya agar kita diberi husnul khatimah (Kematian Yang Baik), akhir yang baik dalam hidup kita. Setiap air mata yang menetes dalam memanjatkan doa supaya Allah Subhanahu Wa Ta'ala meneguhkan langkah-langkah kita di jalan yang benar. Amin.

Sudahkan kita menangis?

Sunday, August 29, 2010

Manfaat Bersyukur

Hidup ini adalah anugerah Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang jauh lebih berharga daripada kebanggaan diri. Pernah ada seorang bapak yang datang ke Rumah Amalia yang merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi karena tidak ada yang bisa membanggakan dirinya karena merasa telah gagal mendidik anaknya. Saya mengatakan kepada beliau bahwa hidup ini lebih berharga daripada sebuah kebanggaan diri kita.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. ar-Rahman : 26). Allah mengingatkan kita bahwa orang yang hidupnya mencari kebahagiaan sesungguhnya orang yang tidak bahagia karena kebahagiaan itu adalah anugerah Allah yang setiap hari melimpah datang dalam hidup kita. Terkadang kita hanya perpikir apa yang hilang dan apa yang tidak ada dalam hidup kita. Cobalah berpikir apa yang ada pada diri kita maka kita ada banyak anugerah Allah yang kita bisa syukuri. Bukankah hidup ini akan menjadi lebih indah apabila kita mensyukurinya?

Jika kita mampu bersyukur dalam segala kondisi dan keadaan maka banyak manfaat kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya adalah.

Pertama, Mengucapkan puji syukur 'alhamdulillah' membuat tubuh dan jiwa kita menjadi kuat karena ucapan puji syukur 'alhamdulillah' adalah cermin sikap kita untuk rela menerima apapun keadaan yang Allah berikan kepada kita untuk membentuk dan mendewasakan diri kita. Sebagaimana Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam harus menghadapi cercaan dan makian orang-orang yang menentang beliau. Kekuatan dan keteguhan hati Nabi Muhammad yang membuatnya mampu melewati semua ujian dan cobaan dengan senantiasa mengucap puji syukur kehadirat Allah.

Kedua, Mengucapkan puji syukur 'alhamdulillah' akan mudah kita untuk memaafkan. Mengucapkan puji syukur kehadirat Allah membuat cara pandang kita terhadap orang yang menyakiti, melukai atau mengkhianati kita dengan cara pandang kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ketiga, Mengucap puji syukur 'alhamdulillah' adalah kemampuan kita membuang energi negatif di dalam diri kita dan dengan izin Allah menggantikannya dengan energi positif di dalam diri kita. Segala perasaan buruk, penyakit hati seperti marah, dengki, kecewa, dendam yang tersimpan di dalam diri kita yang harus kita buang. Membuang energi negatif bukan dengan cara menekan atau seolah merasakan tidak terjadi apapun. Membuang energi negatif di dalam diri kita adalah dengan senantiasa mengucapkan 'alhamdulillah' puji syukur kehadirat Allah berarti sebuah permohonan agar Allah berkenan mengubah energi negatif di dalam tubuh kita menjadi energi positif, yang buruk menjadi baik, yang benci menjadi cinta dan yang hina menjadi mulia.

Yuk, bersyukur...!

Saturday, August 28, 2010

Petunjuk Allah

Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan petunjuk kepada manusia melalui berbagai saluran. Pertama dan tertinggi adalah wahyu, dalam hal ini bagi seorang Muslim adalah Al Qur'an dan kemudian dijelaskan oleh hadis Nabi. Al Qur'an adalah petunjuk bagi orang yang percaya (Q/2:97), petunjuk bagi orang yang patuh dan takwa, hudan lil muttaqin (Q/2;2).

Bagi orang yang tidak percaya, al Qur'an tak berfungsi apa-apa (Q/2;6). Petunjuk Allah juga disampaikan melalui sunnatullah (hukum alam) pada alam semesta dan pada sejarah manusia, karena sunnatullah itu konsisten bagaikan hukum besi yang tak bisa ditawar dan diganti. (Q/35:43). Oleh karena itu orang yang pandai menangkap fenomena alam dan sejarah, yang mau belajar kepada alam dan sejarah manusia, ia bisa menjadi cerdas, bukan saja bisa menerangkan makna kejadian, tetapi juga mampu memprediksinya.

Dalam perspektif inilah maka sepanjang sejarah kemanusiaan selalu saja muncul orang bijak dengan kata-kata mutiaranya, muncul hukama dengan kata-kata hikmahnya. Hikmah itu sendiri kata Nabi bagaikan mutiara yang tercecer, yang bisa ditemukan entah oleh siapa saja (al hikmatudlallat al mu'min anna wajadaha), oleh karena itu kapanpun orang menemukannya, hendaknya cepat pungut, meski mutiara itu berada di lumpur. (khuz al hikmat walau min ayyi wi`a'in kharajat).

dan barang siapa beruntung dapat memungut hikmah, maka kata al Qur'an, sungguh ia bagaikan menemukan "durian runtuh" yang tak ternilai harganya (waman yu'ta al hikmata faqad utiya khairan katsiran (Q/2:269). Ali bin Abi Thalib pernah berkata; Perhatikan apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang berbicara (undzur ma qala wala tandzur man qala).

Semangat Tadarus

Malam ini di Rumah Amalia sehabis sholat tarawih kami bertadarus. Tadarus merupakan kegiatan yang membawa keteduhan hati. Nampak anak-anak Amalia dengan senyum khasnya. Atun, Lusi, Mitha, Riska, Dwi, Ratih, Eko, Biyan dan anak-anak Amalia lainnya sudah siap dengan al-Qur'annya. Lantunan ayat suci al-Quran dibaca silih berganti. Itulah yang membuat kami menjadi terasa bahagia.

Sekarang ini jarang sekali menjumpai orang-orang bertadarus. Jika ada yang bertadarus hanyalah orang tua. Anak-anak muda agak sulit saya jumpai bertadarus. Mungkin kondisi sekarang memang sedikit berbeda. Zaman telah berubah. Terkadang membuat hati menjadi miris. Bila membaca al-quran sudah tidak lagi diminati oleh anak-anak muda. Tadarus diwaktu saya masih sekolah Tsanawiyah suka sekali mengaji dimasjid bersama-sama teman-teman. Kami berkelompok membaca al-quran, terkadang sampai pagi, sehabis sholat subuh kami melanjutkannya dengan berdiskusi menelaah setiap ayat yang kami baca.  Kebiasan untuk bertadarus menjadikan keindahan tersendiri. Apa lagi sejak keberadaan Hana tadarus sebelum tidur tidak bisa kami tinggalkan.

Di Rumah Amalia, kami membiasakan anak-anak Amalia agar menghapal Juz Amma' surat-surat pendek. Kami membaca bersama-sama. Membiasakan anak-anak membaca al-quran sebagai upaya agar sedini mungkin anak-anak mencintai al-quran, membaca ayat-ayat suci sekaligus menggali maknanya. Untuk menumbuhkan rasa kecintaan terhadap al-quran tidak bisa sendirian, haruslah terbangun kondisi yang dilakukan secara terus menerus agar terbentuk pembiasaan yang menyenangkan. Sebab tadarus selain dimaknai dengan membaca al-quran namun juga mengkaji dan menelaah.

Maka alangkah indahnya bila semangat tadarus adalah semangat menjadikan al-quran sebagai bacaan kita setiap muslim melalui gerak hati dengan nafasnya dalam setiap langkah kegiatan kita dalam kehidupan sehari-hari untuk senantiasa menyebarkan cinta dan kasih sayang bagi sesama.

Friday, August 27, 2010

Rizki Allah

Dalam kitab al-Isti'adzah diceritakan Imam Ja'far ash-Shidiq didatangi seseorang yang mengeluh kemiskinan dan kesulitan hidupnya. Imam Ja'far berkata padanya, 'Bila engkau sudah kembali nanti sewalah sebuah tempat untuk berjualan dan duduklah di dalamnya.' Imam Ja'far kemudian menyerahkan sedikit uang. Laki-laki itu menjawabnya, 'Ya Imam Ja'far, aku tidak bisa berjualan.'

Imam Ja'far mengatakan,'Tenanglah dengan rizki Allah, Allah lebih menyayangi hambaNya dan tidak akan melupakanNya.'

Kemudian laki-laki itu kembali ke Kufah. Menyewa sebuah tempat untuk berjualan dan duduk didalamnya. Beberapa waktu kemudian datanglah seseorang yang berkata kepadanya. 'aku punya barang dagangan yang baik, maukah kau membelinya?' Laki-laki itu menjawab,'Kalo aku punya uang, aku akan membelinya.' 'Ambillah barang dagangan ini dan pajanglah. Kapanpun laku ambillah keuntungan dan bayarkan kepadaku sesuai harga barang dagangan ini.'

Laki-laki itu setuju dan memajang barang dagangannya. Dalam waktu singkat datang beberapa orang tertarik untuk membelinya. Sampai barang itu habis terjual. Beberapa hari kemudian Pemilik barang dagangan itu datang, laki-laki itu membayar semua barang dagangan yang terjual. Laki-laki itu mendapatkan rizki dari Allah untuk memenuhi kebutuhannya, Keadaannya semakin baik sesuai harapannya. Menggantungkan harapan hanya kepada Allah untuk mendapatkan limpahan rizki. Allah telah memberikannya rizki yang tidak terduga. Subhanallah.

'Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki.' (QS. Ar-Ruum : 40).

Rasa Malu

Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam mengingatkan kepada kita bahwa cabang iman adalah iman kepada Allah dan salah satu cabang iman adalah al-haya' atau rasa malu. Malu merupakan bagian dari kemuliaan pada diri seorang Muslim. 'Setiap agama memiliki etika dan etika Islam adalah rasa malu .'(HR. Ibnu Majah).

hadist diatas menyiratkan bahwa rasa malu merupakan penyempurnaan akhlaq. Itulah sebabnya Nabi diutus dimuka bumi untuk menyempurnakan akhlaq. Menurut pendapat Ibnu Qayyim kata al-Haya'u berarti malu sekaligus berasal dari kata al-haya' artinya kehidupan.

Rasa malu berarti dimaknai sebagai perangai yang dapat menolong kita meninggalkan hal-hal yang buruk, mencegah diri kita dari kemungkaran. Rasa malu juga membatasi diri kita karena takut kepada keburukan dan berhati-hati terhadap diri sendiri agar kita tidak mencemooh atau mengejek orang lain.

Rasa malu yang tercela adalah malu untuk belajar dan malu untuk memperbaiki diri. Imam Bukhari menyebutkan, 'Orang malu yang sombong tidak pernah mau menuntut ilmu dan tidak mendapatkan hidayah Allah.' Sedangkan malu yang memiliki kemuliaan adalah malu dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Beruntunglah kita masih memiliki malu untuk selalu bersujud dan menundukkan kepala dihadapan Allah yang senantiasa memohon dan berharap mendapatkan hidayahNya.

Wednesday, August 25, 2010

Ketika Hati Terusik

Ada seorang teman dalam kehidupan yang mapan, pekerjaan, rumah, kendaraan pribadi ada namun dalam kesendirian hatinya menjadi terusik, ketika orang tua bertanya 'kapan hendak menikah?' Dalam kehidupan masyarakat di desa ataupun dikota kehidupan berkeluarga mendapatkan tempat yang istimewa. Seseorang yang dianggap sudah dewasa dan akan dianggap menjadi insan seutuhnya jika sudah 'mentas' . Mentas artinya 'sudah berkeluarga.' mendapatkan pasangan hidup, menikah dan punya anak.

Orang tua yang mempunyai anak belum menikah meski sudah berpenghasilan sendiri merasa belum hidup bahagia dan belum rela mati meninggalkan anak-anaknya yang belum berkeluarga. Keluarga merasa malu jika ada anggota keluarga yang tidak menikah. Begitu juga jika dalam perkawinan anak-anaknya terjadi perceraian atau perpisahan mereka merasa malu dengan tetangga ataupun sanak famili.

Anggapan masyarakat pada umumnya bahwa setiap orang harus menjadi bagian dari satu pasangan agar menjadi bahagia. Apabila ada salah seorang anak dalam keluarga menikah dengan seseorang yang terpandang, kaya raya, terpelajar, keturunan darah biru, dengan berbagai kelebihannya maka harga diri dan harkat martabat keluarga menjadi terangkat namun sebaliknya jika anak dalam keluarga menikah dengan orang yang dianggap rendah maka keluarga itu merasa dipermalukan dan jatuh. Dengan segala upaya orang tua ataupun pihak keluarga akan menghalangi atau menolak karena perkawinan itu dianggap tidak seimbang atau sekelas.

Demikian pula banyak yang merasa belum menjadi insan seutuhnya tanpa adanya partner ataupun pasangan hidup. Bahkan mereka menjadi insan yang gagal apabila tidak mendapatkan jodoh atau perkawinan tidak berjalan sebagaimana semestinya. Pandangan ini tentu saja tidaklah sepenuhnya benar. Dalam masyarakat modern dimana kesibukan begitu menyita waktu kita, bahkan seorang perempuan yang bekerja dan berpenghasilan sendiri tanpa seorang partner merupakan pemandangan yang biasa. Namun disisi lain pandangan umum masyarakat kita dari dulu hingga sekarang, masih memandang dan mengharapkan perkawinan atau hidup berpasangan sebagai kehidupan yang paling sempurna dan kegagalan ataupun kesendirian dianggap 'aib' yang harus dijauhi.

Bila kita mengalami hal itu, masih dalam kesendirian atau mengalami kegagalan dalam perkawinan, tidak usah terlalu risau dan juga bukanlah aib yang harus dijauhi. Yang paling penting dekatkanlah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan penyerahan hati secara total maka membuat hati anda menjadi lebih tenang, Allah tidak akan membiarkan anda berjalan sendirian dalam kesepian.

'Apa yang disisimu akan lenyap dan apa yang disisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.' (QS. an

Tuesday, August 24, 2010

Pentas Kehidupan

Teringat lagu Achmad Albar, 'hidup ini panggung sandiwara,' maka memang sudah sepatutnya bagi kita untuk memilih peran yang baik, mudah dan membahagiakan. Meskipun semua peran dalam hidup kita selalu miliki manfaat, sepatutnya kita dapat memilih peran yang terbaik dan terhebat.

Peran terbaik dan terhebat bukan pada jenis pekerjaan dan profesi seseorang melainkan profesi dan pekerjaan apapun, bila kita kerjakan dengan kesungguhan hati dan ketulusan akan menghasilkan karakter pada diri kita yang hebat. Kehebatan peran juga tidak terletak pada banyaknya pujian dan decak kagum dari orang lain. Yang paling mendasar dalam menjalankan peran adalah totalitas dalam memenuhi semua aturan main yang telah ditetapkan oleh Sang Sutradara Kehidupan.

Untuk memulai menjalani peran yang baik kita harus mampu meyeleksi dan mengaudisi diri sendiri, manakah yang layak untuk kita kerjakan atau tidak layak kita kerjakan. Hati kita merupakan medan pertempuran antara hawa nafsu dan nurani. Bila hawa nafsu yang menang maka seluruh peran yang kita lakoni tidak mengindahkan norma dan aturan. Namun bila nurani mampu mengalahkan hawa nafsu maka peran kita menjadi indah dan bermanfaat bagi orang-orang disekeliling kita.

'Katakanlah, 'Hai hamba-hambaKu yang beriman, bertaqwalah kepada Tuhanmu' orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapatkan kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tiada batas.' (QS. Az-Zumar : 10).

Monday, August 23, 2010

Hati Yang Bersahaja

Di Rumah Amalia ada seorang ibu yang bertutur pada saya, ketika dua puluh tahun perkawinan berjalan wajar pada umumnya, ada godaan, pertengkaran, cobaan. Terlebih suaminya ganteng dan simpatik. Sebagai seorang perempuan tentu saja ada kecemburuan, takut suaminya tergoda oleh perempuan lain yang mengejarnya kemudian meninggalkan anak dan istri. Beruntunglah suaminya tidak menjadi sombong dan aji mumpung karena wajahnya yang tampan. Suaminya selalu mengatakan bahwa kecantikan dan ketampanan hanyalah sementara, yang paling penting adalah akhlak yang baik dan ketaqwaannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Sampailah suaminya jatuh sakit selama bertahun-tahun, menurut dokter ia menderita sakit paru-paru. 'Kami sudah berusaha dengan perawatan medis namun keputusan akhirnya tetaplah di tangan Allah.' tutur beliau. Sampai kemudian suaminya meninggal dunia, meninggalkan dirinya dan empat orang anaknya. Rasa sedih, kedukaan, khawatir menatap masa depan yang nampak buram. Dirinya benar-benar tidak bisa menerima kenyataan bahwa orang yang menjadi sandaran hidupnya, yang sangat dicintainya telah diambil oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Meninggalkan keluarga untuk selamanya.

'Mengapa kebahagiaan itu begitu singkat?' 'Hanya dua puluh tahun kami bersama. Dimanakah letak keadilan Allah?' 'Apakah Allah tidak menghendaki kebahagiaan bagi hambaNya?' ucap beliau lirih, suaranya parau. Dirinya dan anak-anak meratapi kepergian suami tercinta. Dasar keimanan dan adanya kesadaran bahwa setiap manusia akan kembali kepada Allah membuat dirinya dan anak-anaknya menjadi kuat dan tabah, tidak membuatnya menjadi depresi ataupun marah kepada Allah.

Dengan uang pensiun yang tidak seberapa beliau berusaha mempertahankan hidup, karena tidak adanya kepandaian dan ketrampilan khusus yang dimilikinya maka yang ditumpuhnya membuat makanan kecil, gorengan yang dititipkan ke warung-warung kecil disekitar tempat tinggalnya. Melihat kehidupannya yang menderita ada saja yang menaruh kasihan dan bersedia menjadi suami sekaligus bapak bagi anak-anaknya. Namun semua itu ditolaknya. Beliau tetap bertahan dalam kesendiriannya demi membesarkan anak-anak yang dicintainya. Setiap pagi selesai sholat subuh kemudian belanja ke pasar, terus membuat gorengan. terkadang juga menerima cucian baju tetangga. Seperti itulah aktifitasnya setiap hari.

Setelah menamatkan SMA ketiga anaknya langsung bekerja. Mereka membantu menyekolahkan adiknya yang bontot. Bahkan anaknya yang pertama bertekad tidak akan menikah sebelum adiknya menyelesaikan sekolahnya. Ia menepati janjinya. sampai adiknya selesai kuliahnya, kakaknya baru menikah. Harapannya adalah anak-anaknya semua sehat walfiat serta dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Doa Sang Ibu dikabulkan oleh Allah seperti yang diharapkan, anak-anaknya mendapatkan jodoh yang sholeh dan sholehah, hidup berkeluarga dengan baik bahkan sudah memiliki rumah tinggal sendiri.

'Mas Agus, saya bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala karena mereka menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah, memperoleh pekerjaan yang bisa menghidupi keluarga masing-masing. Seperti doa yang saya panjatkan kepada Allah setiap malam setelah sholat tahajud.' Tutur beliau, seorang Ibu dengan hati yang bersahaja telah menghantarkan anak-anak menjadi 'orang' yang selalu di jalan Allah Subhanahu Wa ta'ala.

Air Mata Abdullah Bin Rawahah

Abdullah Bin Rawahah dan istrinya menangis maka ia bertanya kepada istrinya, 'Mengapa engkau menangis?' Istrinya menjawab, 'saya menangis karena saya melihat engkau menangis.'

Abdullah Bin Rawahah berkata, 'saya sudah tahu bahwa saya akan melintasi neraka tetapi saya tidak tahu apakah saya akan selamat atau tidak. karena turun satu ayat kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam dari Allah, yang memberitahukan bahwa saya akan melintasi neraka tetapi tidak ada berita, apakah saya selamat atau tidak.'

Ayat yang dimaksud Abdullah Bin Rawahah adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 'Dan tidak ada seorangpun dari padamu melainkan mendatangi neraka itu' (QS. Maryam : 71).

Teman yang berbahagia, Abdullah Bin Rawahah adalah salah satu dari sahabat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam dari kaum Anshar, air matanya senantiasa menetes disetiap malamnya untuk memohon ampun kepada Allah karena takut tidak selamat melintasi neraka. Lantas bagaimana dengan kita? Mampukah kita menangis malam ini untuk memohon ampun kepada Allah?

Sunday, August 22, 2010

Penderitaan Sebagai Penyembuh Penyakit Hati

Jika di dalam hidup kita merasakan penuh kebahagiaaan, maka bisa kita bayangkan kita tidak pernah ditimpa kesulitan, cobaan dan penderitaan sedikitpun di dunia ini, tentunya akan membuat kita sombong dan takabur. Allah sengaja mendatangkan musibah, bencana, ujian, cobaan, penderitaan dalam hidup kita sebagai penyembuh dari penyakit hati yang akan menghancurkan kehidupan kita yang teramat dalam di dunia dan diakherat.

Banyak orang yang merasa dirinya hebat atau merasa mendapatkan apapun dalam hidupnya. Dia merasa sudah paling hebat karena status sosial, jabatan, kekayaan, wajah yang sempurna, kesehatan, pasangan hidup. Jika tergambar kesempurnaan seperti itu tidak pernah ditimpa penderitaan maka membuat dirinya menjadi angkuh, sombong dan merasa tidak membutuhkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

'Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.' (QS. Luqman : 18).

Untuk itulah Allah sengaja sedikit memutar roda kehidupannya. Mungkin seseorang yang telah berada di atas akan diputar hingga berada di bawah. Semua ini bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan kita melainkan menyembuhkan hati kita yang mulai sombong agar menyadari bahwa semua yang dimilikinya itu milik Allah, bahwa semua keduniawiannya itu bersifat sementara.

Terlihatlah bahwa Allah bersifat sangat Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba-hamba yang dikasihiNya. Dengan diberi masalah dan penderitaan, sebenarnya Allah ingin memperbaiki diri kita, ingin melindungi hati kita agar tidak dicemari oleh penyakit-penyakit hati yang dapat mengikis iman maupun taqwa kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

'Tidak ada satu musibah itu datangnya yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.' (QS. at-Taghaabun : 11).

Saturday, August 21, 2010

Air Mata Untuk Adek

Ketika saya dalam sujud sholat tarawih malam ini, air mata mengalir begitu saja. Saya teringat wajah lucu seorang anak, saya suka memanggilnya 'Adek'.  Beberapa tahun lalu saya mengenal, wajahnya lucu, ayah meninggal karena kecelakaan. Adek suka bertanya pada saya, 'Kak Agus benarkah ayah pergi ke surga?' Saya menjawabnya dengan mengangguk. 'Adek juga ingin ke surga,' kata Adek berlari meninggalkan saya.

Hidup ini terkadang memang getir. Tidak saja kebahagiaan menghampiri, kedukaan dilewati begitu saja. Memaksakan diri untuk tidak merasakan apapun. Semakin ditekan sebuah perasaan, terasa semakin perih menyesak di dalam dada.

Adek enam bulan kemudian pergi ke surga menyusul ayahnya karena sakit DBD. Nyawanya tak tertolong, saya ikut mensholatkan dan juga ikut mengantarkan. Wajah Adek masih terbayang, hati bagaikan teriris. Air mata tak henti mengalir. 'Ya Allah, terimalah Adek sisiMu..' doa yang saya panjatkan untuknya waktu itu.

Malam ini dalam sujud sholat tarawih entah kenapa wajahmu muncul dengan senyuman yang khas kekanak-kanakannya. Seolah mengabarkan bahwa dirinya telah berada di surga. Saya membacakan surat al-fatehah untuk Adek. Sementara itu  air mata itu mengalir begitu saja membasahi pipi.

Friday, August 20, 2010

Mengingat Kematian

Imam Syafii pernah ditanya seseorang, 'Apa itu kematian?' Beliau menjawab, 'kematian itu layaknya tidur yang mendatangi kalian setiap malam. Hanya saja waktunya sangat panjang, tak terbangunkan sampai kiamat. Dalam tidur saja orang bisa bermimpi indah melihat hal yang menyenangkan atau mengerikan maka keadaan gembira atau keadaan sedih ketika tidur. Inilah makna kematian, Maka bersiap-siaplah kalian. Bagi seorang Mukmin kematian adalah keindahan.

"Ingatlah sesungguhnya kekasih Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akherat. (QS. Yunus : 62-64).

Imam Shiddiq pernah diminta gambaran tentang kematian, beliau menjawab, 'Buat orang yang ingkar kematian seperti terkena payukan ular atau sengatan kalajengking namun bagi orang yang beriman kematian layaknya seperti mencium parfum terwangi yang dicium, lalu tertidur pulas karena wanginya dan luluhlah seluruh rasa letih dan penatnya.'

Yaitu orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan kepada mereka, 'Salaamun 'alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.' (QS. An-Nahl : 32).

Teman yang berbahagia, mari dibulan suci Ramadhan ini kita sama-sama mengingat kematian sebab bagi seorang Mukmin mengingat kematian membuat kita bergegas untuk melakukan kebaikan, sebagaimana Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam bersabda, 'Barang siapa yang waspada terhadap kematian, niscaya dia akan bergegas melakukan kebaikan.' (HR. Abu Dawud).

Wednesday, August 18, 2010

Ya Allah, Kenapa Ini Terjadi?

Ya Allah, kenapa ini terjadi? Kenapa Engkau menimpakan kesedihan ini dalam hidupku? Sanggupkah aku menahan penderitaan ini Ya Allah? Begitulah kita merintih ketika masalah menghampiri hidup kita. Apabila kita diberi kenikmatan dan kebahagiaan oleh Allah maka kita menganggap Allah menyayangi kita tetapi jika kita diberi masalah dan kesalahan maka kita menganggap Allah kejam pada diri kita.

'Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakanNya dan diberiNya kesenangan maka ia berkata 'Tuhanku telah memuliakanku' tetapi apabila Tuhannya mengujinya dengan memberi kesedihan, maka ia berkata 'Tuhanku telah menghinakanku' (QS. al Fajr : 15-16).

Bila kita diberikan berkelimpahan kenikmatan begitulah cara Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberi kebahagiaan sekaligus ujian dalam hidup kita tetapi bila kita diberikan masalah dan kesedihan bukan berarti Allah murka, bukan pula Allah membenci. Allah tidak pernah menganiaya kita melainkan diri kita sendiri yang menganiaya.

'Sesungguhnya Allah tidak menganiaya manusia sedikitpun akan tetapi manusia itulah yang menganiaya diri mereka sendiri.' (QS. Yunus : 44).

Itulah sebabnya setiap masalah dan penderitaan yang Allah berikan kepada kita pada dasarnya wujud kasih sayang Allah agar kita bermuhasabah atau instropeksi diri. agar kita melihat dan memperbaiki diri kemudian meningkatkan kualitas hidup kita menjadi lebih baik untuk menggapai kebahagiaan yang hakiki dunia dan akherat.

Tuesday, August 17, 2010

Dimanakah Kebahagiaan?

Pernah ada satu kisah seorang petani miskin, karena hidupnya menderita maka memutuskan untuk mencari emas diseluruh pelosok negeri tetapi apa yang dilakukannya sia-sia belaka dan akhirnya petani itu kembali ke kampungnya dan bekerja seperti biasanya. Sampai pada satu hari ketika sedang mencangkul di halaman belakang cangkulnya mengenai benda yang sangat keras. Ternyata benda keras itu adalah bongkaran emas. Petani itu tidak pernah menyangka apa yang dicarinya selama ini ditemukannya dihalaman rumahnya sendiri.

Begitulah perumpamaan kebahagiaan. Dimanakah kebahagiaan itu berada? Begitu kita keliling dunia untuk mencari kebahagiaan, ternyata kebahagiaan itu kita temukan di dalam diri kita sendiri.

Semua yang menjadi milik kita di dunia ini seperti harta, pasangan hidup, jabatan adalah sementara. Kita hanya bisa merasakan kebahagiaannya sebentar saja yaitu sepanjang hidup kita. Lantas dimanakah kebahagiaan yang sejati itu? Dimanakah kebahagiaan yang sesungguhnya bagi kita?

Bagi sebagian orang yang percaya bahwa hidup itu hanyalah kehidupan di dunia dan tidak percaya adanya kehidupan akherat maka hidupnya akan menghabiskan waktunya hanya untuk bersenang-senang, justru diliputi kecemasan karena takut kehabisan waktu untuk menikmati hidupnya. Mereka akan melakukan apapun asal 'bahagia' untuk mendapatkan yang mereka inginkan namun yang terjadi hanya mendapatkan siksaan dan penderitaan. Sedangkan bagi orang yang beriman, kebahagiaan di dunia adalah semu. Kebahagiaan yang hakiki adalah berada disisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

'Di Tempat yang sungguh bahagia, disisi Tuhan Yang Menguasai segala-galanya,' (QS. al-Qomar : 55).

Rintihan Ibu Tak Tergantikan

Ada seorang pemuda menemui Rasulullah dan berkata, 'Wahai Rasul, ayah saya kini telah tiada, sedangkan ibu saya sudah tua. Kalau makan, saya haluskan dulu makanannya kemudian saya letakkan makanan itu ke dalam mulutnya, tak ubahnya anak kecil. Saya letakkan beliau dalam ayunan kain seperti bayi dan setelah itu saya mengayunnya sampai tertidur.'

 Mendengar penuturan Rasulullah meneteskan air mata seraya mengatakan, 'Wahai anak muda, engkau telah mendapatkan keberhasilan yang sangat layak karena engkau memohon kepada Alloh dengan hati yang bersih dan niat yang tulus dan Alloh telah mengabulkan doamu.'

Anak muda itu bertanya, 'Wahai Nabi, apakah saya sudah dapat menggantikan jerih payah ibu saya?'

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam Bersabda, 'engkau takkan pernah bisa menggantikan semua jerih payahnya bahkan satu rintihan di antara rintihan-rintihannya pada saat melahirkan.  Didunia ini tidak ada yang bisa bekerja keras yang melebihi dari yang dilakukan oleh seorang ibu.' (HR. Muslim).

Teman yang berbahagia, Itulah sebabnya menghormati ibu adalah sebuah keharusan. Rintihan ibu ketika melahirkan diri kita, rintihan ibu di kala malam tiba dan bermunajat untuk anaknya akan selalu didengarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kesuksesan seorang anak berarti munajat yang dipanjatkan ibu. Mari kita muliakan Ibu yang setiap rintihannya tak akan pernah kita sanggup untuk menggantikannya.

Kemenangan

Sudah beberapa hari puasa di bulan suci Ramadhan, seorang suami hendak berangkat ke kantor, istrinya berpesan.

'Pak, beras sudah habis.'

'Iya Bu.'

'Aku butuh duit buat belanja Pak.'

'Iya Bu.'

'Jangan cuman iya Pak, anak-anak butuh baju baru, juga buat pulang kampung, tiga bulan kita belum ngasih uang buat orang tua, beli oleh-oleh, nanti sore aku mau masak opor ayam.'

'Iya Bu.'

'Pokoknya hari ini uangnya sudah harus ada Pak.'

'Iya Bu.'

'Juga pesan sekarang carter mobil untuk pulang kampung lebaran Pak..'

'Iya Bu.'

Sesampai di kantor Sang Bapak kedatangan tamu.

'Apa kabar Pak?'

'Alhamdulillah, baik..'

Puasa hari ini Pak?'

'Alhamdulillah, puasa.'

Sebuah amplop coklat tebal tergeletak di mejanya, Tamu itu menyodorkan sambil berkata, 'Maaf Pak, ini ada sedikit rejeki buat lebaran..'

Sang Bapak, matanya terpaku. Tangannya gemetar dan bertanya, 'Maaf apa ya..?'

'Mohon diterima Pak, sekalian ucapan terima kasih.' Mendengar ucapan tamu itu, air mata Sang Bapak meleleh karena pesan istri dan amplop coklat telah menyiksa hidupnya.

Sore hari Sang Bapak bergegas pulang, beliau sudah bersiap-siap berbuka puasa dengan nasi dan rendang semalam plus tangisan istrinya. Masih terbayang-bayang dipelupuk matanya amplop coklat tebal berisi uang yang telah ditolaknya. Itulah kemenangan.

--
Dan sungguh akan Kami berikan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan 'Kami milik Allah dan kepadaNya juga kami kembali' Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. (QS. al-Baqarah : 155-157).

Sunday, August 15, 2010

Kesedihan

Orang yang sedang dirundung kesedihan pikirannya akan selalu terisi bayangan-bayangan yang buruk. Bila kita dalam kesendirian maka pikiran kita teringat sesuatu yang membuat hati kita menjadi sakit. Untuk bisa melupakan kesedihan tentunya tidaklah mudah. Biasanya bayangan itu muncul dikala kita dalam kesendirian atau tidak adanya aktifitas. Jadi salah satu cara mengobati luka dihati adalah dengan melakukan aktifitas yang menyibukkan diri.

Dengan mengisi keseharian kita dan pikiran dengan aktifitas. Menyibukkan diri setiap menitnya kehidupan kita dengan bekerja sehingga tidak ada ruang bagi kesedihan hinggap di dalam benak kita. Jika kita bekerja terus memadati kehidupan kita dari pagi hingga sore. Seperti di bulan suci Ramadhan sekarang ini dengan bekerja, pulang sampai rumah kemudian berbuka puasa, sholat tarawih, kita menjadi lelah dan langsung tidur dengan pulasnya maka tidak ada waktu lagi untuk memikirkan kesedihan.

Bila di hari ilbur, pergilah bersama teman-teman atau menjadi relawan pada aktifitas sosial yang paling penting tidak membiarkan diri kita dalam kesedirian sebab kesendirian inilah yang membuat kita tenggelam dalam kesedihan itulah sebabnya isilah selalu diri anda dengan aktifitas, pekerjaan, kesibukan dan teman yang memiliki energi positif.

Jangan pernah membiarkan diri tenggelam dalam kesedihan, salurkan semua energi untuk beraktifitas dan bekerja agar kesedihan tidak masuk ke pikiran kita. Bekerja juga membuat hidup kita berarti, tidak peduli apapun pekerjaan kita, yang penting halal dan di ridhoi oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jangan menganggur! Menganggur akan membuat pikiran kita hanya diisi bayangan buruk dan merusak. Lakukan pekerjaan apapun yang membuat diri anda berarti dan mampu mensyukuri hidup ini.

'Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka didunia. Dan sesungguhnya pahala akherat adalah lebih besar kalau mereka mengetahui, yaitu orang-orang yang bersabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakal. (QS. an Nahl : 41-42).

Teman yang berbahagia, Mari kita sama-sama berdoa memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

'Segala puji bagiMu Ya Allah, Engkau tak pernah berhenti menyertaiku. Engkau selalu menerima dan mencintaiku, Tak henti-hentinya Engkau memberikan Kasih sayang-Mu untuk membuatku menerima keadaan hidupku penuh syukur, bekerja dan berbagi dengan orang lain di bulan suci Ramadhan ini.' Amin Ya Robbal Alamin

Friday, August 13, 2010

Rindu Ayah

Di Rumah Amalia seringkali kami mengajarkan menulis sekalipun hanya satu atau dua baris tidaklah masalah yang paling penting anak-anak terbiasa melatih menuangkan pikiran dalam sebuah tulisan. Tulisan juga bisa sebagai terapi. Bagi anak-anak, tulisan adalah bentuk muhasabah atau refleksi dari perjalanan hidup.

Di pagi hari tanpa sengaja saya menemukan selembar kertas yang berisi tulisan, berkali-kali saya membacanya, tak terasa air mata saya berlinang disaat membaca tulisan ini, sebagai seorang ayah tulisan ini menusuk hati, mampu menggores luka yang teramat dalam karena saya  memahami kerinduan seorang anak kepada ayah yang dicintainya. Tulisan ini tanpa  nama yang berjudul 'Kenangan Seorang Ayah.'

'Ayah selalu bilang sayang padaku tetapi ayah tidak menjaga kesehatan, membuat ayah menjadi sakit, kenapa yah? Aku juga mencintaimu, Aku tidak ingin ayah pergi. Jika aku menangis, siapa yang akan mengusap air mataku? Jika aku kangen, siapa yang memelukku?

Ayah tidak pernah menjawab setiap kali aku bertanya, ayah hanya tersenyum.  Hatiku perih, ayah. Semua kenangan itu, senyuman itu selalu membuat berlinang air mataku,  tidak ada seorangpun yang dapat menghentikannya , karena aku rindu padamu..Ayah...

aku rindu sekali padamu..Ayah

Thursday, August 12, 2010

Ramadhan Perekat Silaturahmi

Seperti biasanya di bulan suci Ramadhan kita seringkali mendapat undangan untuk berbuka puasa bersama. Momen buka puasa bersama hanya ada dibulan suci Ramadhan sebagai agenda perekat silaturrahmi antar keluarga, tetangga, sanak family atau teman sekantor. Bila dalam keseharian kita sibuk mengejar materi melupakan ikatan sosial, Ramadhan merupakan momen yang tepat untuk perekat silaturahmi kita.

Kebersamaan tidak selalu dalam bentuk melakukan aktifitas bersama-sama namun kebersamaan kita menemukan jalinan kehangatan hati dalam rupa persamaan. Pada bulan Ramadhan ini kita bisa bertegur sapa dengan tetangga sebelah rumah ketika sama-sama hendak pergi berangkat sholat tarawih. Bahkan bila ada tetangga yang malas sholat berjamaah di masjid, kita tidak sungkan untuk mengajaknya karena memang bulan Ramadhan momen yang tepat untuk mengajak dalam kebaikan dan keikhlasan dalam berbagi akan makin mempererat silaturahmi kita serta menghapus dosa-dosa kita. Sebagaimana Sabda Rasulullah.

'Tidaklah dua orang Muslim bertemu lalu bersalaman, melainkan dosa keduanya diampuni sebelum keduanya berpisah.' (HR. Abu Dawud).

Teman yang berbahagia, mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai perekat silaturahmi kita sebagai sama-sama hamba Allah yang mensyukuri berkah Ramadhan sehingga memunculkan perasaan tenang dan nyaman pada diri kita juga pada diri orang lain sehingga kita bisa menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan ini dengan khusyuk dan nyaman untuk menggapai ridha Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Amin

Kesembuhan Membawa Kebahagiaan

Ada seorang anak yang terpaksa divonis oleh dokter agar segera operasi karena sakit yang dideritanya ginjalnya terserang tumor dan harus segera dirawat. Setelah dilakukan pemeriksaan dokter itu mengatakan kepada ayahnya bahwa harus segera dioperasi agar memiliki harapan kesembuhan. 'Hanya Allahlah yang mampu menyembuhkan,' tutur sang dokter kepada ayahnya.

Pernyataan itu tentu saja membuat sang ayah terpukul. Dirinya teringat betapa sangat mencintainya akan sang buah hati. Beliau kemudian berinisiatif untuk bershodaqoh, memohon kepada Allah atas kesembuhan anak yang dicintainya. Beliau berkenan hadir bertemu dengan saya di Rumah Amalia. Kami bersama-sama berdoa memohon kepada Allah untuk kesembuhan putranya.

Beberapa hari kemudian saya mendapatkan kabar bahwa operasinya dilaksanakan dan berjalan dengan baik. Dokter memberitahukan kepada sang ayah bahwa sang buah hatinya berangsur sembuh dan keadaanya semakin membaik. Akhirnya, anaknya pun keluar dari rumah sakit dalam keadaan sehat walfiat. Sampai pada satu kesempatan ayah, ibu dan juga bersama anaknya berkunjung ke Rumah Amalia. Kami semua sangat bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas kesembuhannya dan kasih sayang yang Allah yang membawa kebahagiaan bagi keluarganya.

Teman yang berbahagia, tanamkanlah kesabaran dalam menghadapi segala kesulitan, cobaan dan penderitaan. Kesabaran merupakan salah satu akhlak yang paling mulia. Bersandarkanlah diri kepada Allah dan mintalah perlindunganNya dari segala bencana dan marabahaya. Jangan mengharap dan perlindungan kecuali hanya kepada Allah. Lakukanlah sebagaimana yang Rasulullah ajarkan kepada kita, sebagaimana sabda beliau.

'Obatilah orang-orang yang sakit dengan shodaqoh, bentengilahh harta kalian dengan mengeluarkan zakat dan tolaklah bencana dengan doa.' (HR. Baihaqi).

Wednesday, August 11, 2010

Puasa Meruntuhkan Derita

Apa yang membuat kita menderita dalam hidup ini? Penderitaan itu hadir ketika keinginan kita tidak terwujud. Semakin kuat keinginan kita atau semakin kuat ambisi kita mencapai sesuatu dan hal itu tidak tercapai maka semakin membuat kita menderita. Di dalam puasa kita diajarkan agar kita mampu menerima dan mensyukuri apapun yang diberikan oleh Allah karena bila kita sangat bernafsu dan cenderung meminta lebih tanpa kita sadari terjangkit penyakit virus kerakusan.

Bila virus rakus menyebar maka kita akan merasa dengki bila ada orang lain mendapatkan rizki yang berlimpah dan ujung-ujungnya kita selalu cemas dan was-was atas setiap hasil yang kita dapatkan tidak akan bisa mencukupi kebutuhan kita.

'Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah engkau mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadaMu supaya kamu bersyukur.' (QS. al-Baqarah : 185).

Puasa berarti kita menanamkan rasa syukur di dalam hati kita. Bila hati diselubungi dengan rasa syukur akan menaungi semua ruang dihati kita sehingga memunculkan kelapangan dan optimisme. Bahkan kita mampu untuk berbagi sesama maka dengan demikian puasa kita mampu meruntuhkan tembok derita dengan kemampuan untuk senantiasa mensyukuri apapun yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan pada diri kita.

Teman yang berbahagia, mari kita jadikan puasa ramadhan kita pada hari ini sebagai moment meruntuhkan tembok derita yang ada pada diri kita dengan bersyukur. Seseorang dapat menderita sepanjang hidupnya bila dirinya dikuasai oleh rakus, dengki dan cemas maka lawanlah dengan rasa syukur. Rasa syukur diekspresikan dengan mengucapkan terima kasih dan mengucap alhamdulillah ketika kita mendapatkan nikmat, puncak ekspresi syukur yang paling nyata adalah berbagi. Alangkah indahnya Ramadhan hari ini bila kita mampu berbagi untuk sesama.

Tuesday, August 10, 2010

Menggapai Rahmat Allah

Malam ini malam pertama kami di Rumah Amalia melaksanakan sholat tarawih, sekalipun para makmumnya yang terdiri anak-anak Amalia. Sholat tarawih dilaksanakan dengan tertib. Sholat tarawih bagi anak-anak Amalia begitu sangat indahnya. Saya teringat bahwa Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam bersabda,

'Barang siapa melaksanakan Qiyam Ramadhan (Sholat Tarawih) karena Allah dan mengharapkan ridhaNya maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari & Muslim).

Selepas sholat tarawih, kami tadarus bersama. Tadarus berasal dari kata 'tadarrosa, yatadarrosu berarti mengkaji atau menelaah. Selain membaca al-Quran dengan memakai ilmu tajwid, kefasihan kalimat namun juga mencoba berdiskusi dalam wacana anak-anak yang sederhana substansi al-Quran untuk menjawab persoalan kehidupan kita sehari-hari. Itulah yang terasa membawa ketenangan dihati kami dan juga dihati anak-anak Amalia.

'Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu Rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya diantara mereka kecuali turunlah ketenangan atas mereka, mereka diliputi rahmat dan dikelilingi malaikat serta disebut-sebut oleh Allah kepada para Malaikat dihadapannya. (HR. Abu Dawud & Muslim).

Teman yang berbahagia, sepuluh hari pertama di bulan suci Ramadhan adalah Rahmat. Kita harus mempersiapkan diri untuk menerima rahmat Allah. Mengirimkan kepada kita. Jika kita mengambilnya dan menaruh di dalam hati kita maka hati kita akan bersinar dan berkilau. Hal itu hanya akan mungkin terjadi bila kita bersungguh-sungguh dalam berjihad melawan hawa nafsu kita. Mari kita menggapai Rahmat Allah.

Monday, August 09, 2010

Mulianya Memaafkan

Seorang laki-laki muda baru selesai takziyah di makam ayahnya mampir ke Rumah Amalia. Sore itu kami berbincang. Anak muda itu sangat mengagumi sosok ayahnya. Dalam penuturannya ayahnya adalah seorang guru Sekolah Dasar. 'Sama persis 'Umar bakri' seperti yang dinyanyikan Iwan Fals,' ucapnya. Selesai mengajar ayahnya menjadi guru mengaji anak-anak dan para ibu & bapak di masjid.

Kebaikan dan kemuliaan budi pekerti sang ayah inilah yang membuat dirinya dan orang-orang disekelilingnya menaruh hormat dan menganggap sebagai panutan. Tak heran semasa hidup beliau masjid di tempatnya begitu makmur, banyak orang yang sholat berjamaah di masjid itu. Semua orang hormat kepada beliau karena akhlaknya yang selalu mengucapkan salam kepada siapa saja anak-anak sampai orang dewasa. Kesholehan dan kesederhanaan beliau inilah yang sangat dikagumi oleh banyak orang.

Namun apa yang dilakukan oleh beliau bertolak belakang dengan istrinya bahwa kebahagiaan terletak pada materi berlimpah. Tuntutan istri tak membuatnya terpengaruh. Beliau tetap istiqomah menjalankan aktifitas keseharian dan ibadah, dirasakan dapat membuat hidupnya menjadi tenteram. Ternyata cobaan itu tidak hanya datang dari tuntutan istrinya. Pada suatu hari beliau kaget mendengar tetangganya ribut-ribut menyebut nama istrinya. Ternyata diketahui bahwa istrinya tertangkap basah berselingkuh dengan tetangganya. Dengan sigap beliau meredam emosi mengambil air wudhu dan beristighfar.

Kejadian itu menjadi buah bibir masyarakat. Banyak orang menjadi simpati kepada beliau. Menurut beliau memaafkan dan membina istri untuk bertaubat masih lebih baik daripada menceraikan istrinya dalam keadaan tidak memiliki harta dan tidak memiliki ketrampilan dalam mencari nafkah. Menceraikan dalam keadaan seperti itu malah akan menjerumuskan ke dalam lembah penderitaan yang lebih dalam. Beberapa tahun kemudian beliau meninggal. Rumahnya yang sempit tidak mampu menampung untuk pelayat yang hadir, terus berdatangan. Dari para muridya dan para santri mengaji, para orang tetangga yang mengagumi kesabaran beliau, mensholatkan secara bergantian di masjid.

Kata 'memaafkan' telah mampu merubah akhlak istrinya. Dimata Allah dan di mata masyarakat perbuatan beliau sungguh mulia. Banyaknya orang yang datang melayat dan mensholatkan beliau sekalipun beliau pertanda rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah terlimpahkan untuk beliau. 'Mas Agus, begitulah ayah saya dengan 'memaafkan' kesalahan ibu beratus orang datang, mendoakan kebaikan, rahmat dan ampunan untuk beliau,' ucap anak muda itu dengan air mata berlinang dipipinya mengenang sosok sang ayah. Itulah makna 'mulianya memaafkan'. Subhanallah.

--
'Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (QS. Ali- Imran : 134).

Sunday, August 08, 2010

Apa Makna Memaafkan?

Sebelum memasuki bulan suci Ramadhan saya suka mengirimkan dan banyak mendapatkan email maupun sms dari teman2 ucapan mohon maaf lahir batin. Mohon maaf merupakan tanda cinta dan kasih sayang kita sebagai sesama saudara. Namun memaafkan juga indah dan menenteramkan di dalam hati kita. Lantas pertanyaannya, 'Apa makna memaafkan?'

Memaafkan adalah gerbang kedamaian dan ketenteraman dalam hidup kita. Pintu gerbang itu kecil sekaligus sempit dan hanya bisa dimasuki dengan menundukkan kepala kita. Tidak mudah untuk menemukannya namun bila kita sungguh-sungguh untuk mencarinya maka kita akan menemukannya. Memaafkan hampir tidak pernah kita temukan dalam keadilan hidup didunia, yang memaksa kita agar membalas sakit dengan sakit, memaafkan hanya kita akan temukan bila kita mampu menyingkirkan rasa sakit.

Disaat kita memaafkan seseorang untuk tindakan yang menyakitkan, kita terkadang masih bisa menghargainya namun bila teringat rasa sakit malah mengobarkan kebencian yang kita tumpahkan dengan menyerang. Bila kita lihat lebih mendalam dengan memperbaiki hubungan dengan orang tersebut, barangkali memaafkan tidak bisa menghilangkan luka dihati namun tindakan memohon maaf akan menghilangkan perangkap spiral kebencian yang terjadi terus menerus. Memaafkan juga menjaga diri kita dan keluarga kita agar kita tidak melampiaskan marah dan menyakiti orang lain.

Bila kita tersakiti maka kita akan selalu mengingat kesalahan orang lain, rasa sakit itu berubah menjadi benci. Tidak peduli penyebab luka itu apakah benar-benar ada atau tidak, secara perlahan luka itu menggerus hati kita kemudian keluar dari tubuh kita dan merusak sekitar, orang-orang disekeliling kita untuk menyebarkan kebencian. Kita semua tahu bahwa bila kita terserang rasa kebencian. Maka kita memiliki ingatan yang luar biasa sampai hal terkecil yang dibencinya juga masih diingatnya. daftar panjang dimilikinya karena ruang hatinya menjadi penuh sesak dengan kebencian, tidak menyisakan ruang untuk cinta dan kasih sayang. Memaafkan dan memohon maaf berarti membersihkan diri dari segala kotoran hati seperti kebencian, kemarahan, dengki dan rasa sakit. Sehingga ruang hati kita tumbuh semangat dan motivasi hidup yang positif dan kasih sayang untuk sesama. Makna Memohon maaf dan memaafkan keduanya sama-sama indah karena perbuatan baik dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

'Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (QS. Ali- Imran : 134).

Membersihkan Diri

Dosa apapun yang kita lakukan pasti meninggalkan kotoran dan kegelapan dalam hati kita dan selanjutnya akan melemahkan motivasi dan semangat berbuat kebaikan. Sebaliknya keinginan berbuat keburukan dan kejahatan yang akan menguat di dalam diri kita, Jika kesadaran iman, ibadah dan dzikir kepada Allah sudah tumbuh dan tertanam di dalam diri kita maka semangat dan motivasi berbuat baik akan berlipat ganda. Dorongan untuk berbuat keburukan dan kejahatan semakin menyusut. Kesadaran itu mengikis kotoran akibat berbuat dosa, kemudian kita akan melakukan amal dan perbuatan baik.

Dalam kitab 'Nahj al Balaghah' Sayidina Ali Bin Abi Thalib menyerukan kepada kita agar kita mendirikan sholat, menunaikan zakat dan puasa di bulan suci Ramadhan. Setelah menunaikan ketiga ibadah itu beliau berpesan.

'Dengan sholat, zakat dan puasa di bulan suci Ramadhan , dosa-dosa berguguran seperti daun-daun yang berguguran, melepaskan seperti anak panah yang dilepaskan. Rasulullah mengumpamakan sholat dengan mata air yang memancar di rumah seseorang. Lima kali sehari ia mencuci diri dengan mata air itu sehingga tak sedikit pun kotoran pada dirinya. Zakat mensucikan harta, puasa di bulan suci Ramadhan mensucikan jiwa dari segala kotoran hawa nafsu.'

'Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (QS. Asy- Syams (91) : 9-10).

Saturday, August 07, 2010

Mengapa Kita Menangis?

Pernah ada yang bertanya, mengapa kita menangis? Karena Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam menganjurkan kita agar menangis. Menangislah karena Allah, sebab menangis karena Allah adalah perbuatan mulia. Bahkan Allah akan memberikan dua hal bagi orang yang menangis karena Allah.

Pertama, mendapatkan cinta Allah. Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam bersabda, 'Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah karena takut kepada Allah selain dua tetesan dan dua bekas. Yakni tetesan air mata takut kepada Allah dan tetesan darah yang mengalir di jalan Allah. Ada dua bekas yakni bekas dari jihad di jalan Allah dan menunaikan salah satu yang Allah tetapkan.' (HR. Tirmidzi).

Kedua, tidak akan dimasukkan ke dalam api neraka. Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam bersabda, 'Dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka, yakni mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang terjaga karena waspada di jalan Allah (HR. Tirmidzi).

KIta dengan segala kesibukan duniawi kita seringkali lupa diri sehingga sadar atau tidak kita melakukan dosa dan kesalahan yang menyebabkan Allah memberi kita berbagai macam ujian, cobaan dan musibah. Menangis karena Allah menjadi titik balik kesadaran kita menemukan diri sendiri. Kita menjadi manusia yang memiliki sebuah kesadaran diri bahwa dimanapun kita berada dan kapanpun, Allah senantiasa melihat apa yang kita kerjakan.

Jadi, menangislah karena Allah!

Friday, August 06, 2010

Apakah Bapak Rano Karno?

Seorang bapak sedang duduk di dalam bis kota ketika seorang anak SMP naik dan duduk di sebelahnya. Berulang kali si anak menoleh ke si bapak tadi, kemudian ia bertanya:

Anak SMP: Maaf… bapak ini Rano Karno, ya?

Bapak: Bukan… .

Selang 15 menit, si anak bertanya kembali..

Anak SMP: Bapak ini Rano Karno, ya?

Bapak: Bukan… ..

Selang 10 menit, si anak bertanya kembali..

Anak SMP: Bapak ini Rano Karno, ya?

Dengan sedikit berteriak karena marah, si bapak menjawab:
Bukan… !!!!!

Karena kesal, si bapak turun dari bis dan duduk di halte. Eh… si anak SMP ikut turun dan duduk di sebelahnya sambil bertanya lagi..

Anak SMP: Maaf… bapak ini Rano Karno, ya?

Karena kesal, si bapak menjawab: Ya, saya Rano Karno. Emangnya kenapa?

Anak SMP: Koq nggak mirip, sih??

Alhamdulillah, semoga cerita diatas mampu menyegarkan anda dipagi yang indah. Teriring doa semoga Allah melimpahkan kesehatan selalu untuk anda dan keluarga. amin

Berdoalah Untuk Kedua Orang Tua

Kalau kedua orang tua kita bangun dikeheningan malam untuk memanjatkan doa merupakan hadiah yang terindah untuk kita sebagai putranya, tidakkah kita merasa malu bila tidak menyebut nama kedua orang tua kita dalam bisik lirih dengan khusyuk dihadapanNya?

Kalaulah selama ini ini doa untuk beliau, kita ucapkan diakhir permohonan, sekarang saatnya untuk menyebut nama kedua orang tua diawal kata penuh pengharapan, memohon ampunan kepada Allah untuk beliau.

Bila beliau telah tiada jadikanlah ketiadaan beliau bukan sebagai akhir bakti kita sebagai anaknya. Jadikan ketakbersamaan itu sebagai awal kita agar hati kita selalu berbisik, memohon ampun untuk beliau. agar bibir kita senantiasa bergerak memohon rahmat bagi beliau, agar mata ini selalu basah disaat jutaan manusia tengah terlelap dalam kelam, demi memohon surga untuk beliau yaitu kedua orang tua kita.

Allahuma firli wa liwaalidayya warhamhumaa kama robbayaanii shoghiro artinya Ya Allah ampunilah dosa2 kami dan dosa kedua kedua orang tua kami, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami diwaktu kecil.

Thursday, August 05, 2010

Bergembira Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Di Rumah Amalia ada perbincangan hangat buat kami yaitu menyambut bulan suci Ramadhan. Wajah anak-anak Amalia terlihat gembira, sudah terbayang bulan suci Ramadhan dengan puasa dan sholat tarawih. 'Wah, asyik ya sebentar lagi bulan Ramadhan,' kata Ari. 'Iya asyik sebentar lagi puasa..' jawab Fadhel. Bahwasanya Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam bersabda.

Sesungguhnya telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah telah menetapkan kewajiban puasa kepada kalian, di dalam bulan Ramadhan dibuka pintu surga dan dikunci segala pintu neraka serta dibelenggu semua setan. Di dalam bulan Ramadhan ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak diberi keberkahan pada malam itu maka berarti dia tidak akan mendapatkan keberkahan (HR. Ahmad & an-Nasai).

Berdasarkan hadist diatas tentang kemuliaan da keistimewaan serta keberkahan bulan Ramadhan maka kita dianjurkan untuk tahniah, memberi ucapan selamat datang bulan suci Ramadhan. Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh at-Turmudzi, disaat Nabi melihat hilal Ramadhan Nabi membaca doa menyambut Bulan Suci Ramadhan.

Doa Menyambut Bulan Suci Ramadhan: Allahuma ahillahu 'alainaa bil yumni wal iimaani wassalaamati wal islaami robbi warobbukallah. Artinya, Ya Allah yang telah menetapkan hilal kepada kami dengan aman, iman, selamat dan Islam Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, hilal yang baik & benar (HR. at-Turmudzi).

Wednesday, August 04, 2010

Mengobati Luka Dihati

Ya Allah, mengapa Engkau ambil dia dariku? Apa yang harus saya lakukan? Begitulah jeritan hati tema diskusi kami pada acara on air di Radio Bahana Rabu Malam kemaren. Mengapa kehilangan dapat menyebabkan penderitaan pada diri kita? Ada apa dengan kehilangan itu sendiri?

Pada dasarnya keterikatan kita pada apa dan siapa yang hilang menentukan tentukan kualitas kedukaan. Semakin kita terikat kita pada diri seseorang atau sesuatu maka semakin perihnya kehilangan. Lantas apakah kita terikat dengan seseorang atau sesuatu itu salah? Tentu saja tidak salah! Sejak kita lahir, kita tergantung dan terikat oleh sosok ibu. Kita mulai beranjak dewasa, kita membutuhkan keberadaan orang lain untuk bersosialisasi. Tidak ada didalam hidup ini yang kita bisa mengerjakan semuanya dengan sendiri, kita membutuhkan orang lain. Termasuk kita butuh untuk dicintai oleh orang lain.

Kebutuhan itulah yang membuat kita menjadi terikat pada orang lain. Anak-anak muda bahkan sengaja mengikat dirinya dengan teman-temannya agar eksistensi dirinya diakui. Di Jepang bahkan ada seorang kakek rela masuk penjara hanya untuk mencari teman ngobrol. Hal itu karena kebosanan yang luar biasa dan rasa kesepian yang ada pada dirinya. Ya, daripada bengong dirumah sendiri, kan mendingan ada teman ngobrol sekalipun itu dipenjara. begitulah pikir sang kakek.

Disatu sisi kita memang membutuhkan keterikatan tetapi disisi lain keterikatan itu menyebabkan luka dihati kita karena rasa kehilangan. faktor keterikatan dan ketergantungan itulah yang mempengaruhi proses luka atau penderitaan yang kita rasakan termasuk penyembuhannya itu sendiri. Lantas bagaimana caranya kita mengobati atau menyembuhkan luka dihati?

Cara mengobatinya adalah Tawakal kepada Allah. Pahami semua yang kita anggap milik kita sebenarnya milik Allah. Apa yang melekat pada diri kita semuanya milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tawakal merupakan puncak qanaah dan pasrah bukan hanya menerima atas pemberian Allah dan ridha atas ketetapanNya namun juga yakin akan semua yang kita miliki termasuk hidup kita adalah amanah dari Allah. Bila yang Maha Pemilik Sejati memintanya kembali, kita pun ikhlas menerima sebab kita tidak memiliki apa-apa dan kita tidak dimiliki siapa-siapa melainkan Allah Semata. Itulah cara mengobati luka dihati.

Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada satu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku diatas jalan yang lurus. (QS. Hud : 56).

Tuesday, August 03, 2010

Hatinya Tersenyum

Pada malam hari di Rumah Amalia ada seorang laki-laki muda. Dalam pernikahannya yang tahun ke tiga dan telah memiliki seorang anak laki-laki yang berusia dua tahun. Malam itu dia hadir dengan putranya. Suara anak-anak Amalia sedang melantunkan ayat suci al-Quran mengobati hatinya.

Dia menuturkan bahwa sudah satu bulan ini istrinya pulang ke rumah orang tuanya. Sebagai suami, dirinya diminta untuk menceraikan istrinya dengan alasan dianggap tidak mampu mengurus keluarga. Sebagai seorang suami sudah meminta maaf dan berjanji bertanggungjawab kepada keluarga serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi kesalahan yang pernah dilakukan. Permintaan maaf itu disampaikan kepada istri dan mertuanya. 'Saya sudah berjanji untuk membina rumah tangga kembali Mas,'

Hati istrinya luluh, istrinya masih mencintai dirinya sebagai suami dan masih mencintai anak kesayangannya namun sangat disesalkan, istrinya tidak berdaya mengikuti perintah orang tuanya. Dirinya dipaksa oleh mertuanya agar segera mengurus di pengadilan agama. Itulah sebabnya dirinya berniat untuk bershodaqoh untuk anak-anak Amalia, 'Semoga Allah berkenan menyelamatkan rumah tangga saya yang diambang kehancuran.' tuturnya lirih, matanya sayu. air matanya menggenang di kelopaknya.

Satu minggu kemudian Laki-laki muda itu hadir kembali ke Rumah Amalia bersama anak dan istri mengabarkan dirinya dan putranya sudah berkumpul kembali dengan istrinya. Mertuanya hatinya telah luluh dan memaafkan atas semua kesalahan yang pernah dilakukannya. 'Subhanallah, kami turut berbahagia,' ucap saya padanya.

Kemudian saya berpesan padanya dan istrinya. 'Bila kia dirundung kesedihan karena kehilangan orang yang kita cintai sepatutnya memohonlah pada Allah agar diberikan ketenangan hati, tanamkanlah di dalam hati kita bahwa Allah adalah Sang Pemilik Sejati telah mengambil titipanNya. Dan bila Allah percaya kepada cara kita mencintai titipanNya maka Allah akan berkenan mengamanahkan kembali hamba-hambaNya yang terbaik kepada kita agar kita rawat dan kita jaga.' Malam itu matanya berbinar-binar, Wajahnya nampak bahagia. hatinya dan hati istrinya telah tersenyum kembali.

--
Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau bahwa aku memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tidak mengetahuinya dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang merugi (QS. Huud : 47).

Monday, August 02, 2010

Kerinduan

'Ma..'

'Iya Pa'

'Aku rindu sekali Ma..'

'Aku juga Pa,'

'Aku malas kerja hari ini, nggak semangat ke kantor'

'Jangan Pa, kasihan anak-anak kalo Papa ke PHK, siapa yang menghidupi anak-anak.'

'Atasanku suka marah-marah, aku merasa capek kerja terus.'

'Sabar Pa, Papa harus kuat dan tegar,'

'Mama pergi bukan karena marah sama Papa kan?'

'Bukan Pa, Mama sayang ama Papa'

'Aku ikut mama aja ya? Boleh nggak?'

'Kasihan anak-anak Pa, sendirian.'

'Aku nggak kuat Ma..' Ucap Laki-laki yang hati kepedihan yang teramat dalam, matanya memerah. Beberapa kali dia mengucapkan istighfar memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kemudian memanjatkan doa di makam istrinya. Beberapa hari lagi memasuki bulan puasa masih teringat puasa yang lalu istrinya masih menyediakan kolak kesukaannya setiap kali berbuka puasa. Kerinduannya hari ini sudah tak tertahan lagi kepada istrinya yang sudah tiada.

Tujuan Hidup

Hidup itu untuk apa? Apa yang kita cari dalam hidup ini? Apakah aku sanggup menanggung beban hidup ini? Begitulah pertanyaan yang selalu muncul ketika kita merasa ditimpa kemalangan atau beban hdiup yang terasa berat. Bagi orang yang beriman kepada Allah, tentunya beriman pada hari akhir yang dijanjikan oleh Allah bahwa ada kehidupan abadi yang lebih baik daripada kehidupan didunia ini.

'Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang kejadian diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (QS. ar-Ruum :8).

'Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main dan bahwa kamu tidak dikembalikan kepada Kami?' (QS. al-Mu'minuun : 115).

Orang yang beriman mengerti sesungguhnya hidup kita didunia ini hanyalah singgah sementara yang diibaratkan 'mampir minum' Kita semua akan melanjutkan perjalanan ke kampung akherat yang kekal. Disana tempat dimana semua perbuatan kita didunia akan dipertanggungjawabkan.

'Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalas tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya dan mereka tidak akan dirugikan.' (QS. al-Jaatsiyah : 22).

Maka bagi seorang Mukmin hidup didunia adalah kesempatan untuk mengumpulkan bekal sebaik-baiknya dengan mengisi hidupnya dengan ibadah dan amal kebaikan. Maka segala kesedihan, beban dan ujian hidup adalah salah satu cara Allah Subhanahu Wa Ta'ala menguji iman kita didunia ini. Apakah kita bisa lulus disetiap ujian dan cobaaan? Ataukah kita akan gagal? Semuanya ditentukan oleh pilihan hidup kita masing-masing. Itulah sebabnya sebuah penderitaan bagi orang yang beriman adalah krikil manis atau pahitnya coklat yang manis di dalamnya. Bukan batu besar yang menimpa tubuh kita.

Orang yang beriman menganggap setiap penderitaan sebagai ujian sekaligus pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala sehingga bila kita ditimpa penderitaan didunia kita akan menyerahkannya kembali kepada Allah penuh rasa syukur. Kita justru senang karena kita percaya dengan ujian, cobaan, beban hidup dan penderitaan ada sebuah pahala dan bekal hidup kita diakherat kelak.

Sunday, August 01, 2010

Kesungguhan

Pada suatu hari di Rumah Amalia ada seorang pemuda yang bertutur betapa kelamnya masa lalu dan masa kininya. Ia bersungguh-sungguh untuk menutup lembaran kelam dalam hidupnya dan memulai yang baru yaitu memilih jalan yang diridhai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Saya yakinkan padanya langkah pertama yang harus dilakukan adalah 'Komitmen' terhadap diri sendiri dan Usahakan untuk memberitahukan kepada orang-orang disekelilingnya bahwa 'anda adalah bukan orang yang dulu lagi!'

Saya memuji kesungguhannya dalam pilihan hidupnya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bila kita memang ingin memulai hidup baru dibutuhkan komitmen dan kesungguhan. Arahkan, kerahkan sekuat tenaga dan pusat pikiran kita ada disitu, dan hanya di situ! Harus diakui hal itu tidaklah mudah. Dari yang tidak pernah sholat sama sekali, tiba-tiba sholatnya bersemangat lima waktu bahkan sholat tahajud, sholat dhuha dijalaninya. Hidup baru berarti berubah. Bila tidak bersungguh-sungguh paling banter cuman sehari bisa bertahan.

Kita harus berubah, bukan yang dulu lagi. Ini adalah jati diri kita. Dari kebiasaan kita yang lama, kita mesti berhenti. Alangkah tidak mudahnya mengubah jati diri dan kebiasaan lama karena memang sulit Itulah sebabnya menjadi penting agar kita mengerahkan sekuat tenaga dan pikiran, seluruh komitmen dan kesungguhan kita untuk hijrah menuju jalan Allah, jalan yang diridhaiNya.

Menurut Ibnu Taimiyah, sekali orang mengambil keputusan menuju jalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sebaiknya ia memberikan seluruh komitmennya. Pantang mundur atau menariknya kembali. Cuma ada dua kemungkinan, laksanakan semua atau tidak sama sekali. jangan biarkan pintu terbuka! Tutuplah lorong yang memungkinkan kita untuk melarikan diri kembali ke masa kegelapan.'

--
Berangkatlah engkau baik dalam keadaan ringan maupun berat dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah, yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui (QS. At-Taubah : 41).

Mengapa Kita Sholat?

Pertanyaan, mengapa kita sholat? Apakah Allah membutuhkan untuk disembah oleh hambaNya? Pada dasarnya Allah tidak membutuhkan untuk disembah oleh hambaNya. Mau disembah atau tidak, Allah tetaplah Maha Besar. Kitalah sebagai hamba yang membutuhkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kita membutuhkan waktu untuk mengadu segala permasalahan kita, kita meminta tolong dan memohon ampunan atas segala dosa yang kita lakukan sehingga amal yang dihisab pertama kali dalam hidup kita adalah sholat.

Amal yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah sholat. Bila sholat seseorang baik seluruh amalnya juga baik. Demikian juga sebaliknya jika seseorang sholatnya buruk maka akan buruk seluruh amalnya (HR. Thabrani).

Oleh sebab itu kita harus melaksanakan dengan sungguh-sungguh karena sholat mempengaruhi dalam kehidupan kita sehari-hari. Sholat pula juga menjadi pilar terakhir dalam kepribadian kita. Sholat juga menjadi sumber cinta dan kasih sayang pada diri kita yang mampu mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar.

Sesungguhnya pilar-pilar Islam akan runtuh satu persatu. Ketika runtuh pilar pertama maka manusia akan berpegang teguh pada pilar berikutnya. Keruntuhan pilar Islam berawal dari diabaikannya hukum-hukum Islam dan pilar terakhir yang akan runtuh adalah sholat (HR. Ibnu Hibban).

Sejenak mari kita bertanya pada diri sendiri, dimanakah kita meletakkan sholat dalam kehidupan kita? sejauh mana kita menjaganya? Sudahkah Melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan mengintegrasikan semua bacaan yang terkandung di dalam kehidupan sehari-hari?

Betapa pentingnya sholat hingga Allah mengingatkan di dalam al-Quran berkali-kali hal yang tidak boleh terlupakan. Allah dalam ayatNya selalu mengingatkan agar kita mendirikan sholat bukan mengerjakan sholat. Mendirikan bermakna ruh kesadaran terbangun di dalam diri kita. Ada kesungguhan dan keseriusan untuk melaksanakan. Bukan hanya melaksanakan dan menggugurkan kewajiban namun tertanam di dalam diri kita makna sholat yang sesungguhnya yaitu tiada diri dan ego kita, yang ada hanya Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang yang berkehendak pada seluruh hidup kita. Itulah sebabnya mengapa kita sholat.

Hati Gelap Karena Perselingkuhan

Perselingkuhan adalah faktor penyebab kehancuran rumah tangga, perselingkuhan itu juga hampir menjadi penyebab kehancuran per...