Kampanye Program 'Amalia Satukan Hati'(SEHATI)"

Tuesday, February 09, 2010

Taubat

Suatu malam di Rumah Amalia terdengar suara mengaji. Anak-anak terdengar suara riuh ramai. Setelah menghapal Asmaul Husna, saya bercerita. Semua anak-anak sudah duduk melingkar. 'Malam ini judul ceritanya apa Kak?' tanya Eko. 'Taubat' Jawab saya padanya. Kemudian saya bercerita pada anak-anak Amalia.

Dizaman dahulu kala ada orang yang bernama Malik Bin Dinar. Malik Bin Dinar memiliki kebiasaan minum-minuman keras. Ia memiliki seorang anak perempuan yang cantik dan mungil. Malik sangat menyayangi buah hatinya. Ketika berusia lima tahun, Sang buah hatinya meninggal dunia. Malik sangat terpukul dan bersedih. AIr mata nyaterus mengalir tak dapat menyembunyikan kepedihan dalam hatinya.

Malamnya setelah kepergian putrinya yang dicintainya Malik minum-minuman keras. Ditengah tertidur malik bermimpi berada dalam satu tempat berkumpul dengan banyak orang. Seluruh makhluk berkumpul. Malik tiba-tiba dikejar-kejar oleh seekor ular yang sangat besar yang dari mulut mengeluarkan api. Tubuh Malik menggigil ketakutan. Sampai akhirnya Malik bertemu dengan putrinya yang disayangi. Putrinya menjelaskan bahwa ular yang mengejarnya itu adaah perbuatan buruknya yang suka minum-minuman keras.

Disaat terbangun, Malik merasa ketakutan masih terbawa, ia menumpahkan semua minuman kerasnya dan memecahkan semua botolnya. Kemudian malik bertaubat kepada Allah SWT dan menjadi taat beribadah. Allah berkuasa untuk memberikan petunjuk kepada hambaNya agar selalu berada di jalan kebenaran.

Diakhir cerita saya menjelaskan kepada anak-anak Amalia bahwa Allah SWT memiliki nama Ar-Rasyiid. Ar-Rasyiid artinya Yang Maha Pemberi petunjuk. Allah SWT Maha Pemberi Petunjuk kepada hamba-hambaNya pilihan yang bertaqwa kepadaNya, yaitu orang-orang yang mengerjakan perintahNya dan menjauhi larangan-Nya.

--
Aku mengabulkan permohonan orang yang berda apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS AL-Baqarah :186).

Air Mata Dalam Sujud

Ketika saya dalam sujud sholat malam ini, air mata mengalir begitu saja. Saya teringat wajah lucu seorang anak, saya suka memanggilnya ‘Adek’. Beberapa tahun lalu saya mengenal, wajahnya lucu, ayahnya meninggal karena kecelakaan. Adek suka bertanya pada saya, ‘Kak Agus benarkah ayah pergi ke surga?’ Saya menjawabnya dengan mengangguk. ‘Adek juga ingin ke surga,’ kata Adek berlari meninggalkan saya.

Hidup ini terkadang memang getir. Tidak saja kebahagiaan menghampiri, kedukaan dilewati begitu saja. Memaksakan diri untuk tidak merasakan apapun. Semakin ditekan sebuah perasaan, terasa semakin perih menyesak di dalam dada.

Adek enam bulan kemudian pergi ke surga menyusul ayahnya karena sakit DBD. Nyawanya tak tertolong, saya ikut mensholatkan dan juga ikut mengantarkan. Wajah Adek masih terbayang, hati bagaikan teriris. Air mata tak henti mengalir. ‘Ya Allah, terimalah Adek sisiMu..’ doa yang saya panjatkan untuknya waktu itu.

Malam ini dalam sujud entah kenapa wajahmu muncul dengan senyuman yang khas kekanak-kanakannya. Seolah mengabarkan bahwa dirinya telah berada di surga. Saya membacakan surat al-fatehah untuk Adek. Sementara itu air mata mengalir begitu saja membasahi pipi.

Monday, February 08, 2010

Ketenangan Hati

Ditengah kesibukan dan arus kehidupan yang memiliki tantangan seperti kondisi sekarang ini, betapa ketenangan hati menjadi begitu sangat penting, yang akan menolong kita dari keterpurukan dan kesedihan, yang akan membantu kita mencari jalan-jalan kemudahan sehingga Allah SWT telah menegaskan perlunya menata hati dan sikap yang penuh ketenangan sebagaimana dalam firmanNya:

Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman (QS: At-Taubah: 26).

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ketetapan yang teguh itu dalam kehidupan dunia dan akhirat (QS. Ibrahim:27).

Ketenangan berarti sebuah cermin ikhtiar dan usaha dalam membangun makna kehidupan dengan dasar keyakinan kepada Allah SWT. Ketenangan sebuah proses mencerminkan harmonisasi dan keseimbangan yang berjalan secara konstan, konsisten, sehat, cerdas dan penuh keteguhan dalam keyakinan.

Banyak hal yang membuat hati kita tidak tenang namun ketidak tenangan itu pula membangun kesempatan kita untuk melatih secara terus menerus agar kita mampu menenangkan hati, ujian, cobaan memang kita perlukan sebagai latihan untuk membangun ketenangan hati kita. Hanya jiwa-jiwa yang tenanglah yang akan mampu mengenggam dunia.

Jadi jangan bersedih, jangan khawatir, jangan terburu-buru, jangan takut, jangan rendah diri, jangan patah semangat dan jangan pula memandang atau mengukur segala sesuatunya dengan ukuran duniawi yang fana dan rapuh, melainkan dengan senyuman, keikhlasan, kesabaran, perencanaan dan tetap semangat dalam menggapai berkah dan ridho Allah SWT.

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Raad 28)

Wednesday, February 03, 2010

Manfaat Doa

Satu hari ada seorang teman bertanya bagaimana mungkin doa bisa menyembuhkan sakit seseorang? saya katakan padanya jaringan syaraf menunjukkan bahwa doa mengaktifkan sistem limbik otak yang mengatur kesadaran seseorang akan diri, waktu dan lingkungan. Metabolisme tubuh secara menyeluruh juga bergerak menuju keseimbangan sekaligus mewujudkan kesembuhan.

Menggali sumber-sumber psikoterapi dalam doa dapat dilihat dalam formula yang dibaca dalam doa dapat mendatangkan ketenangan jiwa, ketenangan jiwa inilah yang menyembuhkan dari penyakit.  Hal ini disebabkan orang yang memanjatkan doa yakin Allah SWT mengabulkan permintaannya.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah  mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS.  Al- Baqarah:186).

Dalam Kitab Al-Hakim, Ibnul Qayyim al-Jauziyah diriwayatkan hadist dari Ibnu Umar RA bahwa Nabi Muhamad SAW bersabda,

'Doa itu bermanfaat bagi musibah yang telah turun dan yang belum turun. Oleh karena itu wahai hamba Allah, kalian harus berdoa.' (HR. Bukhari & Muslim).

Diriwayatkan Aisyah RA, bahwa Nabi Muhamad SAW bersabda,

'Kewaspadaanmu tidak ada gunanya dalam menghadapi takdir. Berdoalah yang berguna untuk mengantisipasi musibah yang turun maupun yang belum turun. Sesungguhnya musibah ketika turun dihadapi oleh doa dan keduanya bertarung hingga hari kiamat.' (HR. Bukhari & Muslim).

Hubungan doa dengan musibah yang menimpa manusia dikategorikan menjadi tiga yaitu:

1. Doa lebih kuat maka musibah dapat ditolak.

2. Doa lebih lemah dari musibah, walaupun doa lebih lemah meringankan perasaan dan membentuk ketenangan jiwa.

3. Doa dan musibah sama-sama kuat, keduanya saling menolak.

doa yang diterima adalah doa dengan sungguh-sungguh dan memenuhi syarat dan adab maupun etika. Diriwayatkan Aisyah RA, Nabi Muhamad SAW bersabda,

'sesungguhnya Allah menyukai orang yang bersungguh-sungguh dalam doa.'

Dari kriteria itu  nampak proses psikologis yang terdapat dalam doa adalah hubungan yang kuat antara hamba dengan Sang Khaliq, proses ini dapat tercapai kalau ada kejernihan hati dan pikiran dalam doa kepada Allah SWT sehingga merangsang syaraf-syaraf parasimpatis dan menimbulkan ketenangan hati bagi yang berdoa. Semakin tinggi dan berkualitas doa yang dipanjatkan beserta terpenuhinya syarat-syarat doa maka semakin mustajab doanya.

Sementara doa yang gagal sifatnya tergesa-gesa dalam menanti terkabulnya doa. Ia merasa ijabahnya terlalu lambat datangnya hingga merasa cemas. Akhirnya ia meninggalkan doa sama sekali.

Diriwayatkan Abu Hurairah Nabi SAW bersabda, 'Akan dikabulkan doa bagi seseorang diantara kalian selama tidak tergesa-gesa. Apalagi mengatakan, 'aku telah berdoa namun belum juga dikabulkan (HR Bukhari).

Dalam pandangan Ibnul Qayyim al-Jauziyah Ada beberapa hal yang menyebabkan doa itu dikabulkan yaitu,

1. Keadaan sangat genting, terdesak, atau darurat.

2. Didahului dengan perbuatan baik pada sesama seperti bershodaqoh, membantu anak yatim, dan juga orang yang membutuhkan pertolongan.

3. Dilakukan pada saat yang tepat (waktu-waktu yang diijabah).

4. Berserah diri secara totalitas hanya kepada Allah SWT semata.

'Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila berdoa kepadaKu' (QS Al-Baqarah, 186).

Dengan demikian maka doa sangat bermanfaat dalam proses penyembuhan bagi orang-orang yang sedang sakit. Dengan berdoa berserah diri kepada Allah SWT dan senantiasa bersyukur atas semua karuniaNya proses penyembuhan, Insya Allah bisa terjadi lebih cepat. Wallahu a'lam Bissawab.

Sunday, January 31, 2010

Air Mata Syifa

Pada suatu malam, di anak-anak Amalia sedang belajar mengaji. Saya mengajar beberapa anak membaca al-Quran. Saya memperhatikan dari tadi Syifa sedang duduk terdiam. Wajahnya yang mungil tak mampu menyembunyikan kesedihan. Teman2nya mencoba menghibur tak juga dihiraukan olehnya. Terdengar suara Syifa, 'Kangen.' Semua anak-anak Amalia nampak terdiam. Syifa matanya yang bening itu meneteskan air mata. katanya, Syifa kangen ayah.' Istri saya bingung tidak tahu bagaimana harus menjelaskan tentang ayahnya yang sudah tiada.

Syifa memiliki tiga adik perempuan. Sebulan yang lalu ayahnya meninggal. Ayahnya bekerja sebagai penggali sumur. Syifa adalah anak yang tertua. Kedekatannya dengan ayahnya membuat Syifa tidak mau tidur dirumah. Katanya suka melihat ayahnya di rumah. Air mata Syifa terus mengalir. Kerinduan pada ayahnya begitu teramat dalam. Saya bisa merasakan kerinduan itu. Seperti Hana putri saya yang suka bangun tengah malam sedang mencari ayahnya.

Tak lama kemudian ibunya Syifa datang. Lalu Syifa di gendongnya. Ibunya bercerita bahwa Syifa suka kangen dengan ayahnya bahkan Syifa pernah bertanya pada Ibunya, 'kenapa ayahnya tidur tidak bangun-bangun?' Mendengar penuturan Ibunya Syifa tak kuasa saya menahan air mata. Anak sekecil itu memiliki rasa kerinduan seorang ayah. Dalam hati saya berdoa untuk Syifa, 'Ya Alloh kuatkanlah hatinya, berikanlah Syifa kemuliaan dalam hidupnya agar kelak Syifa menjadi anak yang sholehah dan tabah dalam menjalani kehidupan' Ibunya memeluk Syifa erat.

Air mata yang mengalir dipipi yang mungil itu diusapnya. Melihatnya terasa perih menggores luka di hati.

Ikhlas, Sabar Dan Cerdas

Malam terdengar suara mengaji anak-anak Amalia. Suara cengkrama anak-anak terdengar ramai. Berkelompok mereka sedang menghapal surat al-Lail, seorang anak muda sehabis maghrib bertanda ke Rumah Amalia. Kami berdiskusi hangat tentang kehidupan. Anak muda itu bertanya tentang mukhlis, shabur dan halim. Saya jelaskan bahwa Mukhlis itu artinya orang yang ikhlas, Shabur artinya orang yang sabar dan Halim artinya orang yang cerdas secara emosional dan spiritual.

‘Mas Agus, bisakah menjelaskan ketiga hal tadi?’ tanyanya.

Kemudian saya jelaskan padanya, Nampak anak muda itu mendengarkan dengan seksama. Ada anak Amalia terlihat sedang memperhatikan apa yang menjadi perbicangan kami.

‘Nah, mari kita pahami terlebih dahulu arti mukhlis,’ tutur saya padanya. Mukhlis, artinya orang yang ikhlas. Seorang dengan kualitas mukhlis adalah orang yang hatinya bersih dari keinginan memperoleh pujian. Semua perbuatannya, perkataannya, pemberiannya, penolakannya, perkataannya, diamnya, ibadahnya dan seterusnya, semata-mata dilakukan hanya untuk Allhh SWT. Oleh karena itu baginya pujian orang tidak membuatnya berbangga hati, dan kekecewaan serta caci maki orang tidak membuatnya surut. Dari deretan predikat kualitas yang dicontohkan Nabi dengan urutan Muslim, Mu'min, 'Alim (orang terpelajar), Amil (yang beramal) dan Mukhlis, maka selain mukhlis, mereka masih berpeluang mengalami kesia-siaan (halka).

Manusia dengan kualitas mukhlis adalah orang yang paling produktif bagi dirinya, meski boleh jadi tidak diakui oleh orang lain. Sementara seorang 'alim yang 'amil (orang pandai yang banyak berbuat) tetapi tidak mukhlis adalah kontra produktif bagi dirinya, meski boleh jadi memperoleh banyak penghargaan dari masyarakat. Seorang mukhlis lebih suka menyembunyikan perbuatannya dari penglihatan orang lain, sedangkan kebalikannya yaitu orang yang riya, ia hanya mau melakukan sesuatu jika diketahui orang, atau diliput berita. Orang mukhlis berbuat sesuatu demi Alloh, sedangkan orang riya melakukannya demi pujian orang.

Adapun shabir atau shabur, artinya adalah orang yang sabar atau penyabar. Menurut Imam Ghazali, sabar artinya tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi cobaan dan rintangan, dalam jangka waktu tertentu, dalam rangka mencapai tujuan. Jadi orang yang bisa sabar adalah orang yang selalu ingat kepada tujuan, karena kesabaran itu diperlukan adalah justru demi untuk mencapai tujuan. Orang yang tidak sabar biasanya, karena lupa tujuan akhir, ia mudah terpedaya untuk melayani gangguan-gangguan yang tidak prinsipil, sehingga apa yang menjadi tujuan terlupakan, sebaliknya ia melakukan sesuatu yang justeru mempersulit tercapainya tujuan.. Sabarpun mengenal batas waktu, oleh karena itu jika suatu ketika mengalami kegagalan, sudah diulang gagal, diulang lagi gagal lagi, maka orang yang sabar hams berfikir mencari alternatif, karena boleh jadi sumber masalahnya justru pada keputusan awal yang kurang tepat.

Manusia dengan kualitas penyabar adalah sosok manusia yang ulet, tak kenal menyerah, tak kenal putus asa, dan tak kurang akal. Ia bukan hanya mampu mengatasi kesulitan yang datang dari luar, kesulitan tehnis misalnya, tetapi juga mampu mengatasi kesulitan yang datang dari diri sendiri, kebosanan, kemalasan atau syahwat misalnya. Al Qur'an menghargai manusia unggul yang penyabar, yakni yang sabar dan memiliki kecerdasan intelektuil, Emosionil dan Spirituil (IQ, EQ dan SQ) ,setara dengan seratus orang kafir (yang sombong, emosionil dan tak mempunyai nilai keruhanian) (Q/al Anfal, 65). Dalam keadaan normal, Al Qur'an menghargai peribadi penyabar setara dengan dua orang biasa (Q/8: 66).

Sedangkan manusia dengan kualitas halim, Al Qur'an memberi contoh sosok Nabi Ibrahim. Dia adalah pribadi yang awwahun halim (Q/ at Taubah: 114) Al hilm itu sendiri dapat diartikan sebagai akal, tetapi akal bukan sebagai problem solving capasity, melainkan akal sebagai akumulasi seluruh kecerdasan, intelektual, emosional dan spiritual.

Nabi Ibrahim sebagai sosok model seorang yang berkualitas halim, memang sangat tepat, karena pada dirinya terkumpul sifat-sifat kecerdasan, kelembutan hati, belas kasih, dan perasaan mengkhawatirkan keadaan orang lain. Ibrahim tidak memiliki perasaan marah dan benci termasuk kepada orang yang memusuhinya. Ketika Nabi Ibrahim lapor kepada Alloh SWT tentang kaumnya yang patuh dan yang durhaka, Nabi Ibrahim memohon kepada Alloh agar mengampuni dan menyayangi kaumnya yang durhaka (faman tabi'ani fa innahu minni , waman 'asoni fa innaka ghofu run rohiem (Q/14:36).

Tuesday, January 26, 2010

Berkah Sholat Fardhu

Malam sehabis maghrib sekitar jam 7 malam saya kedatangan tamu. Awalnya saya mengenalnya lewat milis. Seorang bapak muda yang istrinya sedang mengandung. Lewat email dia bertanya, istri saya sedang hamil sungsang Mas Agus..apa ya yang harus dilakukan?' Saya kemudian menceritakan bahwa Adik perempuan saya dulu pernah mengalami kehamilan seperti itu, cobalah sholat fardhu dan ketika waktu sujud agak lama.

'Satu hal lagi yang paling penting, cobalah meminta maaf pada ayah dan ibu. Barangkali ada sesuatu yang disengaja atau tidak disengaja berbuat khilaf kepada ayah dan ibu, mohon maaflah kepada mereka. Insya Alloh akan membantu mempermudah kelahiran putra anda, Mas' jawab saya waktu itu.

Terdengar suara anak-anak Amalia sedang mengaji. Beberapa anak sibuk menghapal hadis Nabi. Sementara yang lainnya mengerjakan tugas untuk menulis surat-surat pendek. Sang Tamu nampak tersenyum berseri. Istri saya menyuguhkan secangkir teh hangat. 'Silahkan Mas, dinikmati dulu teh manis,' kata saya padanya.

Setelah menikmati teh hangat, Beliau bercerita. 'Setelah kemaren Mas Agus menyarankan sholat fardhu dan sujudnya agak lama, alhamdulillah anak saya bisa terlahir dengan normal, tidak perlu harus sampai sesar.'

'Saat istri saya sedang hamil dan divonis oleh bidan bahwa istri saya akan mengalami kesulitan saat melahirkan karena posisi atau kondisi bayi yang sungsang menurut bidan, saat mendengar tersebut setiap malam istri saya menjalankan sholat fardhu dan berdoa memohon kepada Alloh SWT agar diberikan yang terbaik, memohon maaf kepada kedua orang tua, bila ada kekhilafan dan alhamdulillah saat melahirkan berjalan normal sehingga bidan yang menanganinya terheran - heran kalau istri saya melahirkan normal. itulah pengalaman yang sangat berharga buat saya, Mas Agus.'

'Saya yakin bahwa benar adanya doa dalam sholat fardhu dengan keyakinan dan kekhusuan maka Allah akan mengabulkannya.' Ucapnya, Malam begitu larut. Terasa menjadi hening. Berkah sholat fardhu terasa begitu nyata. Subhanallah..
AGUSSYAFII BLOG
2006
Proudly powered by : Blogger