Kampanye Program "Amalia Cinta Muharram"

Monday, November 30, 2009

Air Mata Umar

Cerita favorit anak-anak Amalia adalah air mata Umar Bin Khattab. Air mata Umar Bin Khattab mengisahkan tentang kebiasaan Umar Bin Khattab, sang khalifah yang pada malam hari suka berkeliling di kota Madinah untuk memantau keadaan rakyatnya. Sampailah pada suatu malam, tiba-tiba mendengar suara tangisan anak-anak disebuah gubuk., karena penasaran Umar mendekati gubuk itu,

'Assalamu'alaikum,' salam Umar Bin Khattab. Dari dalam rumah terdengar menjawab salam, Wa'alaikum salam,' jawab seorang perempuan tua dengan lembutnya sambil mempersilahkan masuk. Alangkah kagetnya Umar menyaksikan tiga anak yang terus menangis sambil memegang perut diatas dipan yang sudah reot. Melihat keadaan seperti itu air mata Umar Bin Khattab mengalir begitu saja tanpa terasa. Kemudian dia bertanya kepada perempuan tua itu. 'Mengapa mereka menangis?'

'Mereka kelaparan, kedua orang tuanya sudah tiada sementara saya sudah tidak sanggup lagi untuk membeli makanan untuk mereka. Sejak kedua orang tua mereka meninggal sudah tidak ada lagi yang menjenguknya,' ucap perempuan tua dengan wajah bersedih. 'Bukankah ibu sedang menanak makanan?' tanya Umar terheran. Lalu perempuan itu menjawab, 'Saya telah membohongi mereka, bukan gandum yang saya tanak melainkan batu agar mereka berhenti menangis.' Umar nampak terkaget-kaget.

'Batu?' kata Umar tak lagi mampu menahan perih didadanya, hatinya terluka bagai disayat menyaksikan penderitaan yang dialami anak-anak yatim paitu dan seorang nenek tua itu. Air mata itu tak terbendung lagi, Umar Bin Khattab bergegas pamit meninggalkan mereka. Disaat di rumah Umar segera mengambil air wudhu untuk sholat dan berdoa, 'Ya Alloh, ampunilah hambaMu ini yang telah melalaikan mereka, Izinkan hamba menebus semua kesalahan.' Dengan secepatnya Umar Bin Khatttab mengambil sekarung gandum, sekantong roti dan susu segar untuk diserahkan kepada anak-anak yatim piatu dan nenek yang membutuhkannya. Tak lama kemudian ketiga anak itu disuapinya oleh neneknya. Anak-anak terlihat lahap makannya. Nenek itu bercerita, ketika kedua orang tua masih hidup cinta dan kasih sayangnya kepada mereka bertiga senantiasa disuapi. Setiap suapannya dihasi dengan senyuman yang indah dari ayah dan ibunya. Sejak peristiwa itu Umar Bin Khattab berjanji tidak akan pernah ada lagi penduduk dinegerinya yang kelaparan.

Dari kisah air mata Umar Bin Khattab ini memiliki pesan bahwa perasaan bersalah pada diri Umar karena merasa lalai karena ada penduduk negerinya yang kelaparan. Perasaan bersalah inilah yang kemudian ditebus oleh Umar dengan tekadnya untuk memperbaiki sistem yang ada. Konon di masa Umar Bin Khattab inilah Baitul Mal sebagai lembaga negara berfungsi dengan baik untuk membantu mengentaskan kemiskinan pada waktu itu. barangkali banyak hal teladan dari Umar Bin Khattab yang masih relevan untuk negeri kita yang tercinta bagaimana kita menghadapi krisis dewasa ini.

Sunday, November 29, 2009

Keberkahan

Ada salah satu kerabat dekat, beliau seorang hafidz (penghapal al-Quran 30 Juz) karena sakit kemudian menderita kebutaan. Sampai pada suatu hari saya bertemu dengan beliau dan sempat bertanya, kenapa tidak berobat? bukankah sekarang teknologi sudah canggih bisa menyembuhkan kebutaannya?' Beliau hanya menjawab dengan senyuman dan berkata, 'Jika saya bisa melihat, nanti malah kebanyakan nonton maksiat, disyukuri aja..semua ini keberkahan agar hapalan saya terjaga.'

Pesan beliau yang saya tangkap adalah kekurangan yang ada pada dirinya bukanlah dianggap sebagai musibah atau bencana melainkan sebuah keberkahan yang patut disyukuri karena dengan tidak melihat berarti beliau bisa menjaga hapalan al-Qurannya selama 24 jam. Untuk sekedar menghapal al-Quran sangatlah mudah namun menjaga hapalan tidaklah mudah. Bahkan menurut salah satu riwayat, Imam Syafii pernah hapalan al-Qurannya hilang karena tanpa sengaja melihat betis seorang perempuan. Barangkali alasan itulah saya bisa mengerti gangguan penglihatan bagi beliau justru dianggapnya sebagai suatu berkah yang membuatnya mampu memaksimalkan waktunya dan lebih berkonsentrasi pada hapalan al-Qurannya.

Sejarah juga mencatat, banyak orang yang memiliki kekurangan fisik namun malah menjadikan keberkahan dalam hidupnya seperti Stephen Hawking menderita penyakit ALS atau degenerative disease yaitu sebuah penyakit langka yag muncul akibat kerusakan sel-sel syaraf pengontrol otot-otot tubuh, seharusnya istirahat total tetapi Stephen Hawking malah memilih tetap berkarya dan meraih sejumlah penghargaan. Stephen Hawking mengatakan selalu berusaha hidup senormal mungkin, tidak memikirkan rasa sakit maupun keterbatasan fisiknya.

Tentunya banyak diantara kita secara fisik, kecerdasan, bakat yang mengagumkan namun seringkali mudah menyerah dalam kehidupan karena hanya sebagian kecil dari kita yang bersedia memanfaatkan segala potensi yang ada dengan penuh kegigihan. Sementara beliau yang seorang hafidz ataupun Stephen Hawking merupakan teladan orang-orang yang penuh semangat yang luar biasa memanfaatkan kekurangan dan keistimewaannya untuk terus berkarya. Barangkali itulah yang disebut sebagai keberkahan.

---
Melimpahnya keberkahan dari sisi Alloh Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Mulk: 1-2).

Pesan Qurban

Pagi di hari Ahad anak-anak Amalia wajahnya tersenyum cerah. 2 ekor kambing dari dermawan terasa kebahagiaan untuk anak-anak Amalia. Tak lama kemudian Lita menyampaikan apa saja kegiatan Qurban Untuk Amalia. Diawali oleh pembacaan ayat suci al-Quran oleh Ari dan terjemahan oleh Melly. Ada Cerdas Cermat dan Tebak Makna oleh Kak Yusman bersama Kak Rani dan Kak Nia. Tibalah waktu saya menyampaikan Pesan Qurban bagi anak-anak Amalia. Wajahnya berbinar-binar mendengarkan cerita.

Ditengah kerinduan Nabi Ibrahim untuk menemui Siti Hajar, istri tercintanya dan Nabi Ismail, putranya ditengah gurun tandus. Nabi Ibrahim bertemu dengan keduanya, saling menumpahkan kerinduan yang selama ini terpendam. Tempat pertemuan Nabi Ibrahim dengan istri dan putranya sekarang di kenal dengan Padang Arofah. Sesudah mereka melepas kerinduan, mereka kembali ke Mekkah. Nabi Ibrahim nampak kelelahan. Di dalam tidurnya Nabi Ibrahim bermimpi mendapatkan perintah oleh Alloh SWT agar menyembelih putranya Nabi Ismail sebagai kurban. Ketika terbangun dari tidur Nabi Ibrahim hatinya berdebar-debar, itulah ujian yang datangnya dari Alloh SWT.

Ujian ini adalah ujian yang terberat bagi Nabi Ibrahim bila dibanding dengan ujian disaat Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Alloh SWT untuk meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail di gurun yang tandus, tidak ada tanaman dan sumber air. Bagaimanapun beratnya ujian harus dilaksanakan. Kemudian disampaikanlah perintah Alloh SWT kepada putranya Nabi Ismail.

Anak-anak Amalia terlihat mendengarkan dengan khidmatnya. Tak lama terdengar suara Dani, 'Nanti Nabi Ismail diganti dengan domba..' 'Dengerin Kak Agus tuh..' kata Ari menyuruh Dani. 'Terus gimana Kak?' Tanya Egi.

Nah, selanjutnya Nabi Ibrahim menyampaikan pesannya kepada putranya Nabi Ismail. 'Hai Ismail! Tadi malam aku diperintahkan oleh Alloh SWT untuk menyembelihmu, bagaimana menurutmu, nak? Nabi Ismail menjawab tanpa ragu, 'Wahai ayahanda, sekiranya itu perintah Alloh SWT maka laksanakanlah apa yang telah menjadi perintahnya.' Ketika Nabi Ibrahim sudah menyiapkan pedang yang akan digunakan untuk menyembelih putranya, pedang itu sudah hendak digunakan, tiba-tiba digantikan dengan hewan ternak dan akhirnya Nabi Ismail selamat.

Pada akhir cerita saya menyampaikan untuk anak-anak Amalia bahwa Pesan Qurban dalam keterangan Surat Ash-Shoffat, 100-113, kita haruslah meneladani ketabahan seorang ayah dan putranya dalam keimanan dan berpegang teguh serta taat terhadap perintah Alloh SWT. Sekalipun sebelum peristiwa Qurban Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sudah sering diuji oleh Alloh SWT. Nabi Ibrahim yang harus diuji dengan kobaran api namun Nabi Ibrahim berserah diri kepada Alloh SWT dan selamat. Sementara Nabi Ismail dan Siti hajar, ibundanya ditinggal sendirian ditengah-tengah gurun yang tandus tanpa bekal apapun dengan penuh ketabahan dan keyakinan kepada Alloh SWT dan juga selamat. Demikian halnya kita, bila kita tabah dan yakin akan pertolongan Alloh SWT, Insya Alloh kita juga akan selamat.

------
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS Ash-shoffat:110)

Monday, November 23, 2009

Teladan Nabi

Pada suatu malam di Rumah Amalia ada salah satu anak yang bertanya kepada saya, 'Kak Agus, apakah Nabi Muhamad suka membantu orang-orang miskin dan anak yatim?' Saya kemudian menjelaskan padanya bahwa Nabi Muhamad SAW selalu menolong orang-orang miskin dan anak yatim. Kemudian saya menceritakan padanya, Pada suatu ketika ada langkah sepasang kaki terhenti oleh sesegukan gadis kecil di tepi jalan. 'apakah gerangan yang membuat engkau menangis anakku?' lembut menyapa suara itu menahan beberapa detik segukan sang gadis.

Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang menyapanya, matanya masih menerawang tak menentu seperti mencari sesosok yang amat ia rindui kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk merayakan hari kemenangan. 'Ayahku mati syahid dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah,' tutur gadis kecil itu menjawab tanya lelaki di hadapannya tentang Ayahnya.

lelaki itu mendekap gadis kecil itu. 'Maukah engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu?' Sadarlah gadis itu bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya tak lain Nabi Muhammad SAW, Nabi anak yatim yang senantiasa memuliakan anak yatim. Begitulah lelaki agung itu membuat seorang gadis kecil yang bersedih di hari raya kembali tersenyum. Barangkali, itu senyum terindah yang pernah tercipta dari seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi anak yatim. Rasulullah membawa serta gadis itu ke rumahnya untuk diberikan pakaian bagus, terbasuhlah sudah airmatanya.

Teladan Nabi harus pula dipahami sebagai keseluruhan kepribadian Nabi dan akhlak beliau, yang dalam kepribadian dan akhlak beliau disebutkan dalam Kitab Suci sebagai teladan yang baik (uswah hasanah) bagi kita semua "yang benar-benar berharap pada Alloh pada Hari Kemudian, serta banyak ingat kepada Alloh" (Q.S. al-Ahzab 33:32). Dan beliau juga dilukiskan dalam Kitab Suci sebagai seorang yang berakhlak amat mulia (Q.S. al-Qalam 68:4). Dengan demikian Nabi, dalam hal ini tingkah laku dan kepribadian beliau sebagai seorang yang berakhlak mulia, menjadi pedoman hidup kedua setelah Kitab Suci bagi seluruh kaum beriman.

Tetapi justru karena itu maka memahami sunnah Nabi tidak dapat lepas dari memahami Kitab Suci. Sebab sesungguhnya akhlak Nabi yang mulia itu tidak lain adalah semangat Kitab Suci al-Qur'an itu sendiri, sebagaimana dilukiskan A'isyah,
isteri beliau. Dari Kitab Suci kita mengetahui lebih banyak perkembangan kepribadian Nabi yang menggambarkan pengalaman Nabi, baik yang menyenangkan atau tidak, yang keseluruhannya menampilkan sosok Nabi yang berkepribadian mulia. Dari pengamatan atas gambaran itu kita dapat memperoleh ilham tentang peneladanan pada beliau, dan keseluruhan sasaran peneladanan itu tidak lain ialah sunnah nabi. Sebagai contoh, dua surat yang termasuk paling banyak dibaca dalam sholat dapat kita renungkan maknanya di sini.

Demi pagi yang cerah dan demi malam ketika telah kelam. Tidaklah Tuhanmu meninggalkan engkau (Muhammad), dan tidak pula murka. Dan pastilah kemudian hari lebih baik bagimu daripada yang sekarang ada. Dan juga pastilah Tuhanmu akan
menganugerahimu, maka kamu akan lega. Bukankah Dia mendapatimu yatim, kemudian Dia melindungimu?! Dan Dia mendapatimu bingung, kemudian Dia membimbingmu?! Dan Dia mendapatimu miskin, kemudian Dia memperkayamu?! Maka kepada anak yatim,
janganlah engkau menghardik! Dan kepada peminta-minta, janganlah kamu membentak! Sedangkan berkenaan dengan nikmat karunia Tuhanmu, engkau harus nyatakan! (QS. al-Dhuha 93:1-11)

Bukankah Kamu telah lapangkan dadamu?! Dan Kami bebaskan bebanmu, yang memberati punggungmu?! Serta Kami muliakan namamu?! Sebab sesunggahnya bersama kesulitan tentu ada kemudahan! Maka jika engkau bebas, kerja keraslah! Dan kepada
Tuhanmu, senantiasa berharaplah! (QS. al-Syarh 94:1-8)

Para ahli hampir semuanya sepakat bahwa surat al-Dhuha turun kepada Nabi berkenaan dengan peristiwa terputusnya wahyu yang relatif panjang, sehingga menimbulkan ejekan dan sinisme kaum musyrik Makkah bahwa Alloh SWT telah meninggalkan Nabi dan murka kepadanya. Dari latar belakang turunnya, surat ini juga menggambarkan tentang suatu dinamika pengalaman Nabi dalam perjuangan beliau, sehingga seperti dikatakan Sayyid Quthub, Alloh menghibur beliau dan memberinya dorongan moral, bahwa Alloh sama sekali tidak meninggalkan beliau dan tidak pula murka.

Alloh juga mengingatkan Nabi bahwa masa mendatang lebih penting daripada masa sekarang. Dalam terjemah kontemporernya, Alloh mengingatkan Nabi bahwa perjuangan jangka panjang, yang strategis lebih penting daripada pengalaman jangka pendek,
yang taktis. Oleh karena itu hendaknya Nabi tidak putus asa atau kecil hati oleh pengalaman kekecewaan jangka pendek. Sebab, perjuangan besar selalu memerlukan waktu untuk mencapai hasil dan semakin besar nilai suatu perjuangan maka semakin
panjang pula dimensi waktu yang diperlukannya. Dan dalam jangka panjang itulah, selama perjuangan diteruskan dengan penuh kesabaran dan harapan, Alloh menjanjikan untuk memberi kemenangan yang bakal membuat beliau puas dan lega. (Janji Alloh ini kelak ternyata terbukti dan terlaksana, berupa kemenangan demi kemenangan yang diraih Nabi setelah hijrah ke Madinah, dan beliau pun wafat memenuhi panggilan menghadap Alloh dalam keadaan menang dan sukses luar biasa).

Bersamaan dengan itu Alloh juga mengingatkan akan masa lampau Nabi yang penuh kesusahan seperti keadaan beliau yang yatim-piatu, bingung tentang apa yang hendak dilakukan dan miskin, dan bagaimana Alloh telah menunjukkan kasih-Nya pada
beliau dengan memberi kemampuan mengatasi kesusahan itu semua. Dan berdasarkan latar belakang itu maka Alloh berpesan agar Nabi janganlah sampai menghardik anak-yatim, atau membentak peminta-minta, dan selalu ingat dengan penuh syukur akan nikmat karunia Alloh SWT.

Sunday, November 22, 2009

Keajaiban Doa

Beberapa waktu yang lalu di kantor saya kedatangan seorang bapak, beliau mantan salahsatu wartawan senior. Beliau bercerita tentang sakitnya penyakit radang empedu, penyakitnya sangat parah sehingga harapan hidupnya sangat menipis. Beliau menitipkan shodaqohnya untuk anak-anak Amalia dan memohon doa agar operasi yang dijalaninya berjalan dengan lancar sehingga masih ada harapan untuk berbuat baik untuk sesama. 'Saya yakin Mas Agus, hidup dan mati kita hanya ditangan Alloh SWT, kita hanya memohon dan berdoa semoga Alloh memberkahi hidup dan mati kita sebagai hambaNya yang selalu bersyukur atas karuniaNya,' begitu tuturnya, kacamatanya nampak basah tak mampu untuk ditutupinya. berkali-kali beliau mengeluarkan kain pengelap untuk membersihkan kacamatanya. Usianya yang senja namun badannya masih terlihat tegap dan gagah tak terlihat bahwa didalam dirinya ada sesuatu penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

Perjalanan waktu begitu cepat. bersamaan doa anak-anak Amalia yang dipanjatkan, operasi itu berjalan dengan lancar. Beliau kembali pulih dan bugar. Wajahnya berseri sewaktu saya berkunjung ke Rumah Sakit Harapan Kita. Beliau bercerita bahwa proses menuju kematian kita sungguh menakjubkan, dari rasa dingin naik ke kaki, betis sampai di kepala. Rasa dingin itu berjalan perlahan. 'Terbayang oleh sayang malaikat maut segera mencabut nyawa saya, Mas Agus..'tuturnya, wajahnya penuh ekspressi yang jernih. 'Tak lupa saya selalu mengucapkan syahadat, jangan sampai saya mati dalam keadaan sebagai orang yang ingkar,' ucapnya dengan suara pelan.

Dalam keadaan antara sadar dan tidak, beliau mendengar suara anak-anak yang sedang melantunkan ayat suci al-Qur'an dan bayangan dirinya pada masa lalu semua berjalan dengan cepat dan nampak jelas semua yang telah dilakukannya, dosa-dosa yang membuat takut dirinya sendiri . Disaat itu juga beliau memohon ampun kehadirat Alloh SWT agar diberikan kesempatan untuk bertaubat.

Ketika beliau berjanji untuk bertaubat, tiba-tiba sadarkan diri. Semua operasinya dinyatakan berjalan dengan baik dan lancar. Tubuhnya kembali pulih seperti sediakala. Dari pengalaman itu beliau menjadi yakin bahwa doa yang dipanjatkan secara sungguh-sungguh dengan keikhlasan adalah sebuah keajaiban. Alloh SWT senantiasa peduli dengan apa yang kita pikirkan, kita rasakan dan apa yang kita perbuat. Alloh SWT selalu mengabulkan doa-doa kita yang kita panjatkan secara sadar ataupun tidak sadar, yang disengaja ataupun yang tidak disengaja sehingga patutlah kita memohon kepadaNya yang terbaik untuk kebahagiaan diri kita, keluarga kita dan bangsa yang kita cintai. Subhanallah..

--
Obatilah orang-orang yang sakit dengan shodaqoh, bentengilah harta kalian dengan zakat dan tolaklah bencana dengan berdoa (HR. Baihaqi).

Thursday, November 19, 2009

Pada Suatu Malam

Pada suatu malam di Rumah Amalia. Terdengar suara anak-anak yang sedang membaca al-Quran. Beberapa hari ini malam turun hujan. Ada beberapa anak Amalia yang sedang sakit. Sekalipun begitu anak-anak Amalia masih tetap bersemangat untuk belajar. Saya mengatakan kepada anak-anak nanti Kak Agus mau bercerita. 'Asyik..' Teriak Fadel. 'Pasti ceritanya seru nih..'kata Adi. 'Tapi nggak boleh berisik ya..' kata Lola dengan mata melotot. Wajah mereka seolah sudah tak sabar menanti. Tak Lama kemudian setelah semua sudah membaca al-Quran saya bercerita kisah yang terjadi pada masa Nabi Sulaiman.

Di Masa Nabi Sulaiman Alaihissalam ada bayi yang diperebutkan oleh dua ibu. Keduanya mengaku sebagai ibu dari bayi itu, tidak ada yang mau mengalah dan mengakui siapa sebenarnya ibu sang bayi, karena sama-sama bersikukuh sebagai ibu maka persoalan itu dibawalah kepada Nabi Sulaiman. 'Lantas apa yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman Kak?' tanya Desi. 'Nah, yang terjadi selanjutnya Nabi Sulaiman memerintahkan kedua ibu sang bayi maju kedepan dan bertanya, siapakah ibu dari sang bayi ini? tanya Nabi Sulaiman. Keduanya menangkat tangan. karena keduanya tetap ngotot mengaku sebagai ibu sang bayi, Nabi Sulaiman berpura-pura akan membelah bayi itu agar terbagi dua.

'Wah..kasihan dong Kak, bayinya kan tidak berdosa?' teriak Egi.

'Kan Nabi Sulaiman nggak beneran belahnya..'jawab Irji.

Kalian tahu apa yang terjadi?' tanya saya. 'Tidak kak!' Jawab anak-anak Amalia serentak.

Tiba-tiba salah satu ibu yang berbadan kurus menyetujui usulan itu. Sementara ibu yang berbadan gemuk menolak usulan itu dan merelakan sang bayi itu karena tidak tega bila bayinya dibelah. Dengan berlinangan air mata ibu itu memohon kepada Nabi Sulaiman agar bayinya tidak dibelah dan dia rela menyerahkan bayi itu kepada ibu yang kurus. Akhirnya Nabi Sulaiman mengerti bahwa ibu sang bayi adalah ibu yang berbadan gemuk maka beliaulah yang berhak menjadi ibu yang sebenarnya sementara ibu yang berbadan kurus mendapatkan hukuman karena telah melakukan kesalahan akibat perbuatannya sendiri.

Diakhir cerita, saya menjelaskan kepada anak-anak Amalia bahwa kita bisa belajar menjadi orang yang memiliki sifat kasih sayang seperti ibu tadi karena sifat kasih sayangnya, ia tidak tega melihat bayinya disakiti. Ibu itu memilih untuk mengalah dan berkorban demi keselamatan bayinya. Sifat mulianya ibu dan kasih sayangnya kepada anaknya adalah cerminan dari sifat kasih sayang Alloh SWT kepada hamba-hambaNya yang beriman. Itulah sifat Alloh SWT yang disebut dengan Ar-Rahim atau Maha Pengasih.

---
Sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (QS. Annisa (4): 16).
AGUSSYAFII BLOG
2006
Proudly powered by : Blogger