KAmpanye program Kegiatan "Peduli Kasih Amalia (PKA)"

Thursday, July 02, 2009

Ketika Kebahagiaan Itu Singgah

Bila malam tiba, saya dan istri mengajar mengaji anak-anak Amalia. Istri saya suka mengajak anak-anak Amalia untuk menghapal Juz Amma' atau menghapal Asma ul Husna. Kegiatan mengajar mengaji anak-anak Amalia merupakan kegiatan yang mendatangkan kebahagiaan tersendiri sebab kami bisa berbagi ilmu dan mengajarkan untuk anak-anak Amalia. Disaat itulah kebahagiaan singgah di keluarga kami.

Ada dua ungkapan, senang dan bahagia. Senang adalah terpenuhinya tuntutan syahwat, misalnya sedang lapar menemukan makanan lezat, sedang haus menemukan minuman segar, sedang sulit menemukan kemudahan, sedang kesepian ketemu teman atau kekasih, sedang nganggur dapat pekerjaan dan sebangsanya. Adapun bahagia berhubungan dengan misteri yang sangat subyektif, tetapi intinya adalah datangnya pertolongan ilahiyah hingga memperoleh sesuatu yang dianggap sebagai kebaikan ilahiyah (al khoir).

Rasa bahagia misalnya terasa ketika anaknya lahir laki-laki setelah sekian lama mendambakan ingin mempunyai anak lelaki. Keberhasilan memeliliki anak-lelaki tidak diklaim sebagai prestasi - ini karena aku bisa bikinnya misalnya; kata sang ayah- tetapi orang yang mempunyai anak lelaki setelah hampir putus asa mendambakan kehadirannya merasa bahwa kehadiran anak lelaki itu merupakan anugerah Alloh SWT yang tak ternilai. Kebahagiaan juga terasa ketika seorang ibu yang membesarkan anak gadisnya tanpa kehadiran suami sehingga ia dalam keadaan berat selalu berharap agar anaknya memiliki masa depan yang baik. Pada saatnya anak gadisnya dipersunting oleh seorang pemuda saleh yang cerah masa depannya. Masa depan cerah anak gadisnya itu tidak diklaim sebagai prestasinya tetapi benar-benar dipandang sebagai anugerah Alloh SWT.

Jadi kebahagiaan itu datang dalam rangkaian kesulitan yang panjang tetapi ketika hadir tidak diakui sebagai prestasinya. Orang lainpun akan berkomentar, ibu itu sungguh sudah bekerja keras melampaui berbagai kesulitan dalam mengasuh anaknya sendirian, maka pantaslah jika Allah menganugerahinya kebahagiaan yang sempurna kepadanya.

Dalam bahasa Arab ada empat kata yang berhubungan dengan kebahagiaan, yaitu sa`adah (bahagia), falah (beruntung) dan najat (selamat) dan najah (berhasil). Jika saadah (bahagia) mengandung nuansa anugerah Alloh SWT setelah terlebih dahulu mengarungi kesulitan, maka falah mengandung arti menemukan apa yang dicari (idrak al bughyah). Falah ada dua macam, dunyawi dan ukhrawi. Falah duniawi adalah memperoleh kebahagiaan yang membuat hidup di dunia terasa nikmat, yakni menemukan (a) keabadian (terbatas); umur panjang, sehat terus, kebutuhan tercukupi terus dsb, (b) kekayaan; segala yang dimiliki jauh melebihi dari yang dibutuhkan, dan (c) kehormatan sosial. Sedangkan falah ukhrawi terdiri dari empat macam, yaitu (a) keabadian tanpa batas, (b) kekayaan tanpa ada lagi yang dibutuhkan, (c) kehormatan tanpa ada unsur kehinaan dan (d) pengetahuan hingga tiada lagi yang tidak diketahui.

Sedangkan najat merupakan kebahagiaan yang dirasakan karena merasa terbebas dari ancaman yang menakutkan, misalnya ketika menerima putusan bebas dari pidana, ketika mendapat grasi besar dari presiden, ketika ternyata seluruh keluarganya selamat dari gelombang tsunami dan sebagainya. Adapun najah adalah perasaan bahagia karena yang diidam-idamkan ternyata terkabul, padahal ia sudah merasa pesimis, misalnya keluarga miskin yang sepuluh anaknya berhasil menjadi sarjana semua.

Kesenangan berdimensi horizontal, sedangkan kebahagiaan berdimensi horizontal dan vertikal. Orang masih bisa menguraikan anatomi kesenangan yang diperolehnya, tetapi ia akan susah mengungkap rincian kebahagiaan yang dirasakannya. Air mata bahagia merupakan wujud ketidakmampuan kata-kata. Prof. Fuad Hasan dalam bukunya Pengalaman Naik Haji mengaku tidak bisa menerangkan kenapa beliau menangis di depan Ka`bah, karena kebahagiaan yang beliau alami berdimensi vertikal, bernuansa anugerah, bukan prestasi.

Banyak mempelai menitikkan air mata ketika akad nikah, demikian juga kedua orang tuanya, dan mereka tidak bisa menerangkan anatomi perasaan bahagianya.

Kebahagiaan berkaitan dengan tingkat kesulitan yang dialami. Kebahagiaan sesungguhynya dalam kehidupan rumah tangga bukan ketika akad nikah, bukan pula ketika bulan madu, tetapi ketika pasangan itu telah membuktikan mampu mengarungi samudera kehidupan hingga ke pantai tujuan, dan di pantai tujuan ia mendapati anak cucu yang sukses dan terhormat. Sungguh orang sangat menderita ketika di ujung umurnya menyaksikan anak-anak dan cucu-cucunya nya sengsara dan hina, meski perjalanan bahtera rumah tangganya penuh dengan sukses story. Kebahagiaan biasanya datang setelah orang sukses mengatasi kesulitan yang panjang, tetapi tidak semua kesulitan mengantar pada kebahagiaan yang sebenarnya.

Menurut hadis Nabi ada empat pilar kebahagiaan dalam hidup berumah tangga; (1) isteri/suami yang setia (2) anak-anak yang berbakti (3) lingkungan sosial yang sehat dan (4) rizkinya dekat. Kesetiaan membuat hati tenang dan bangga, anak-anak yang berbakti menjadikannya sebagai buah hati, lingkungan sosial yang sehat menghilangkan rasa khawatir dan rizki yang dekatkan optimisme, idealisme dan imajinasi.

Wednesday, July 01, 2009

Suami Yang Setia

Kesetiaan bukan hanya milik seorang istri. Kesetiaan milik setiap insan. Juga termasuk suami yang mencintai dengan tulus pasangan hidupnya. Menyambut kebahagiaan dan penderitaan dengan sukacita, menerima dengan ketulusan, segala kekurangan pasangan hidup kita. Dalam mengarungi bahtera rumah tangga menghadai badai dan gelombang kegidupan makin mengokohkan kesetiaan terhadap orang yang dicintainya. Kesetiaan itulah esensi dari sebuah keluarga.

Demikian halnya lelaki separuh baya yang saya kenal. Semenjak tiga bulan silam bersama putrinya yang berumur sepuluh tahun selalu menjenguk istri tercintanya yang terbaring diranjang. disekelilingnya ada alat pengukur tekanan nafas dan tabung untuk memeriksa kesehatan. Kadang kala saya juga ikut menemaninya ketika menjenguk istrinya di rumah sakit. Bila sampai dirumah sakit, suami yang setia itu datang menggantikan pakaian istrinya dan menanyakan keadaan istrinya. Selalu saja tidak ada perubahan sama sekali.

Kondisi istrinya tetap seperti semula. Tidak ada kemajuan atau perubahan yang membaik. Kesembuhan istrinya seolah tidak bisa diharapkan. Setelah menjenguk dan merawat istrinya, sang bapak dengan putrinya selalu memanjatkan doa kepada Alloh SWT agar memberikan kesembuhan. Setelah itu barulah meninggalkan rumah sakit. Menurut penuturan bapak itu bahwa dirinya hampir setiap hari dirinya selalu menjaga, merawat dan mendoakan istrinya yang tercinta.

Saya sangat mengagumi kesetiaannya sebagai seorang suami, selalu meluangkan waktu untuk merawat ditengah kesibukannya yang juga harus bekerja mencari nafkah. Kesediaannya merawat istri yang sedang sakit membutuhkan energi yang sangat besar. Sifat konsistensi untuk menjaga, merawat dan mendoakan istrinya yang sedang sakit sungguh sangat luar biasa. Padahal kondisi istrinya belum pulih. Bahkan ada orang yang menyarankan agar mengunjunginya seminggu sekali aja. Suami setia itu memilih tegar dan bersikukuh untuk menjaga dan merawat istrinya, 'Alloh al-Musta'an (Alloh tempat memohon pertolongan). Begitulah ucapnya berkali-kali kepada saya.

Sampai suatu hari sesaat sebelum dirinya datang, istrinya bergerak dari tempat tidur. Dia merubah posisi tidurnya. Tak lama kemudian istrinya membuka kelopak matanya. dan mencopot alat bantu pernapasan. Ternyata istrinya sudah duduk tegap. Dokterpun datang membantu menolong, meminta perawat mencpot alat-alat bantu dan membersihkan bekas alat bantu ditubuhnya.

'Begitu saya datang, saya terperanjat Mas..jantung saya seolah mau copot. Bagaimana tidak, ditengah saya kehabisan harapan, saya melihat istri saya kembali pulih.' Katanya bapak itu dengan tangis haru bercampur bahagia tidak bisa dibendung lagi. Bapak itu menangis sambil memanjatkan puji syukur kehadirat ALloh SWT yang telah memberikan kesembuhan total terhadap istrinya.

'Setiap kali saya menjenguk istri saya, setiap kali itu pula saya gelisah. untuk memenangkan hati saya, saya selalu menenangkan hati dengan bershodaqoh untuk anak-anak Amalia dengan tujuan taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Alloh SWT) supaya Alloh memberikan kesembuhan kepada istri saya.' ucap bapak itu sambil tersenyum.

Alloh SWT tidak menyia-nyiakan harapan dan doa sang bapak. Akhirnya istri tercintanya bersama berkumpul kembali dengan keluarga pulang ke rumah yang sudah lama menanti kedatangannya. Keceriaan, cinta, cahaya dan kegembiraan akhirnya menyinari bapak yang sekaligus suami setia menjaga, merawat dan mendoakan istrinya yang sedang sakit. Bersungguh-sungguh dalam berdoa, menunaikan sholat, bershodaqoh, ingatlah selalu bahwa Alloh SWT adalah Maha Penolong bagi hamba-hambaNya yang memohon pertolonganNya akan dikabulkan.

Indahnya Kesulitan

Ada seorang teman mengirimkan email. Bertanya kepada saya, apa makna kesulitan bagi Mas Agus? Kemudian saya menjelaskan kepadanya bahwa kesulitan adalah jalan menuju kebahagiaan. Jika kita mampu menyelesaikan setiap kesulitan hidup kita maka kita bisa menemukan kebahagiaan, itulah indahnya sebuah kesulitan, begitu jawab saya kepada teman itu.

Imam Gazali dalam Ihya `Ulumuddin mengatakan bahwa setiap kali target ditingkatkan maka jalannya menjadi sulit, kendalanya banyak dan dibutuhkan waktu lebih lama, kullama zada al mathlub sho`uba masalikuhu wa katsura `aqabatuhu wa thala zamanuhu. Jadi tingkat kesulitan berhubungan dengan tingkat target. Jika orang ingin sekedar senang dalam hidup, maka ia dapat mencari kesenangan instan, pergi ke tempat hiburan, berfoya-foya dan berpesta pora. Tetapi jika seseorang ingin meraih kebahagiaan, maka ia justeru harus siap menderita menghadapi kesulitan, melupakan kesenangan jangka pendek.

Kita sebagai makhluk yang didesain oleh Allah SWT dengan sempurna, memiliki akal sebagai alat berfikir, hati sebagai alat memahami, nurani sebagai alat interospeksi, syahwat sebagai penggerak tingkah laku dan hawa nafsu sebagai tantangan. Kesemuanya itu dirancang untuk menghadapi medan kehidupan yang sulit. Dengan akal kita bisa memecahkan masalah yang sulit, dengan hati kita bisa menerima kenyataan yang pahit, dengan nurani kita bisa mundur selangkah demi memperbaiki diri, dengan syahwat membuat kita dinamis mencari dan dengan hawa nafsu kita menjadi tertantang untuk mampu mengendalkan diri.

Kita di satu sisi memang menyukai stabilitas dan kenyamanan hidup, tetapi di sisi lain kita juga menyukai kesulitan. Kita tidak selalu lari dari kesulitan, sebaliknya justeru menantang kesulitan. Jika dalam kehidupan sehari-hari hidup selalu stabil dan nyaman tanpa menjumpai kesulitan, maka dibuatlah stimulasi agar orang menaklukkan kesulitan buatan. Mahasiswa berlomba naik tebing buatan (wall climbing), pembalap mobil mencari medan berlumpur, yang berperahu mengikuti arum jeram, setiap agustusan orang ramai-ramai memanjat pohon pinang yang dilumuri olie, yang sudah punya dua kaki justeru berlomba lari dalam karung. Pokoknya banyak sekali kesulitan yang sengaja dibuat untuk ditaklukkan, mengapa? karena kita memang memiliki tabiat tertantang. Kesulitan buatan pada umumnya hanya melahirkan kesenangan, yakni senang menjadi juara, tetapi belum tentu sampai kepada kebahagiaan. Kesusahan biasanya menambahi kesulitan, tetapi tidak semua kesulitan membuat susah.

Adapun kebahagiaan biasanya merupakan buah dari ketabahan menghadapi kesulitan panjang yang bersifat alamiah dalam kehidupan. Itulah maka hakikat kebahagiaan hidup berumah tangga biasanya baru diperoleh setelah kakek nenek, yakni ketika menyaksikan anak cucu sebagai generasi penerusnya hidup sukses dan terhormat.

Kesulitan juga harus dibedakan antara analisa dan perasaan, antara kesulitan teknis dan merasa sulit. Ada hambatan yang menurut analisa teknis masuk kategori sangat sulit dan berat, tetapi ada orang yang memandangnya ringan-ringan saja. Kenapa? karena ia merasa tertantang untuk dapat menaklukkan kesulitan dan ia menyadari bahwa kesulitan itu merupakan proses mencapai kebahagiaan. Ia tidak merasa berat dan sulit ketika menghadapi kesulitan karena ia selalu membayangkan buah kebahagiaan yang akan dipetiknya, seperti seorang petani yang belepotan lumpur di sawah, ia tidak merasa risih dengan lumpur karena ia membayangkan panennya nanti. Sedangkan merasa sulit merupakan respon psikologis terhadap problem dan perasaan itu berhu bungan dengan tingkat kapasitas kejiwaan yang bersangkutan.

Sambutlah Hari Penuh Sukacita!

menyambut hari penuh sukacita. Tersenyum. Tertawa penuh kebahagiaan. Sambil nyapa hari penuh kehangatan. Membiarkan tubuh dan pikiran mengalir ditengah rutinitas hidup membuat hidup ini lebih bergairah dan bersemangat. Banyak makna kehidupan yang saya temukan dimana-mana. Berserakan dimana-mana. Salahsatu saya menemukan makna kehidupan ketika saya bersama Hana putri saya.

Malam itu selepas belajar mengaji Hana memanggil saya. 'Ayah..ayah, maen yuk..' kata Hana. Sebelumnya pagi itu saya membelikan mainan untuk Hana. Mainan itu perlengkapan kedokteran. Kata mamahnya sejak siang Hana bermain sendiri. Malam ini Hana mengajak bermain bersama saya.

'Boleh sayang.' Jawab saya.

'Asyik..' kata Hana.

'Terus ayah disuruh ngapain nih..'tanya saya

'Ayah duduk aja..nggak usah ngapain-ngapain.' Jawab Hana.

Tak lama Hana memeriksa tubuh saya. Menjepitkan termometer di tangan saya. Ditengah Hana yang sibuk bermain. Sejenak saya merenungkan apa yang telah diucapkan oleh Hana, 'Ayah duduk saja..nggak usah ngapain-ngapain.' terasa teramat dalam maknanya bagi saya. Bila kehidupan ini memang tidak ada yang perlu dikerjakan, ya nggak usah ngapain-ngapain. Duduk saja menikmati indah hidup dengan senantiasa mensyukuri nikmat Alloh SWT.

Seringkali kita terjebak dalam rutinitas diri. Seolah tercebur dalam ombak yang kuat. Menyeret tubuh kita ketengah lautan. Kita baru menyadari bahwa arus itu begitu ganas. Mencoba berenang melawan arus hanya akan membuat kita tenggelam. Bersikap santai, melepas, mengalir bersama arus akan menghindarkan diri kita dari ganasnya ombak.

Bila arus kehidupan begitu kuat, membiarkan tubuh dan pikiran kita mengalir mengikuti arus adalah cara yang sederhana untuk selamat. Namun bila sudah tiba saatnya kita bertindak, kerahkanlah segala upaya yang kita miliki untuk mencapai kesuksesan. Sungguh indahnya hari ini, menyambut hari penuh sukacita.

Yuk, kita sambut hari penuh suka cita!

Tuesday, June 30, 2009

Mengubah Bara Api Menjadi Air

Kondisi lingkungan kita bagaikan bara api. Mudahnya kita menemukan sesuatu yang terbakar. Di jalanan, di kantor, dirumah bahkan dipelataran parkir sekalipun. Ketakutan terhadap kegagalan, ketakutan terhadap masa tua, takut terhadap kesuksesan orang lain bertemu dengan lingkungan bara api menjadikan mudahnya tersulut kehidupan kita. merubah lingkungan yang penuh bara api tentunya tidaklah mungkin namun meredam bara api diri kita dengan menjadikannya air yang menyejukkan bukanlah hal yang mustahil. Termasuk meredam bara api didalam keluarga untuk diubah menjadi air yang menyejukkan bagi keluarganya. Kisah ini sebuah pengalaman menarik bagaimana tidak mudahnya mengubah bara api menjadi air dalam sebuah keluarga.

Ada seorang ibu muda. mempunyai tiga orang anak, dua orang duduk di SMA dan satu orang kelas III SMP, suaminya seorang pejabat, datang kepada saya mengajukan pertanyaan yang sangat definitif. Mas Agus, saya sudah kemana-mana, tetapi selalu disuguhi teori. Saya tidak membutuhkan teori, tetapi butuh jawaban praktis. Menurut pandangan agama Islam, apa yang harus saya lakukan dalam menghadapi problem yang sedang saya hadapi?

Ibu itu menceriterakan bahwa suaminya telah kawin lagi dengan janda muda usia 17 tahun yang ditemukan di Panti pijat. Sekarang sudah dibelikan rumah, bahkan ibu dari isteri mudanyapun sudah di bawa ke Jakarta, tingal di rumah baru itu menemani anaknya. Yang tidak bisa difahami oleh ibu kepala sekolah tadi adalah sikap anak-anaknya, yaitu semuanya membela bapaknya, bahkan mereka mengancam, jika ibu macam-macam kepada Bapak, nanti kami semua mau pindah saja ke rumah ibu tirinya, padahal sepengetahuannya, dalam setiap kasus poligami, anak-anak selalu membela ibunya. Karena ibu itu seorang muslimah, dan kenal dengan saya dalam sebuah pengajian, maka pertanyaannya 'Apa yang harus saya lakukan menurut tuntunan agama Islam?'

Dalam percakapan yang mendalam, ibu itu akhirnya membuka seluruh permasalahan yang dihadapi. Ia menceriterakan bahwa kasus kawin lagi suaminya bukan yang pertama. Suaminya sudah sering diam-diam memiliki isteri simpanan, tetapi setiap kepergok kemudian dicerai. Ia juga mengaku bahwa suaminya termasuk 'orang kuat' di tempat tidur sehingga ia sering merasa kewalahan dalam melayaninya. Ia menduga bahwa jika suami sedang tidak mempunyai isteri simpanan, maka ia suka 'observasi' ke tempat-tempat hiburan, buktinya isteri muda yang sekarang juga ditemukan di panti pijat tradisional.

Di sisi lain ia juga mengakui bahwa suaminya itu orang baik, baik kepada keluarga dan juga kepada tetangga. Suaminya juga idola bagi anak-anaknya. Suaminya seorang muslim juga tetapi tidak rajin salat, masih rajin salat anak-anaknya. Ibu itu juga mengaku menjalankan salat tetapi sering tinggal terutama jika lagi sibuk. Sebagai suami, kata ibu itu, ia adalah suami yang penuh perhatian dan suka mengalah, terbukti setiap kali kepergok juga segera memutuskan hubungan. Tetapi dengan isteri muda yang terakhir ini, dia mengatakan bahwa ia akan menceraikan isteri mudanya nanti setelah melahirkan, karena ia sedang hamil 4 bulan.

Ibu itu bercerita bahwa terkadang ia tergoda untuk melabrak kepada madunya itu seperti yang dulu dilakukan kepada madu-madu sebelumnya, tetapi sikap anak-anaknya yang membela bapaknya membuatnya menjadi bingung. Sebagai wanita karir di kota besar, ia merasa tabah menghadapi ulah suami, tetapi menghadapi sikap anak-anaknya betul-betul membuatnya bingung. Ia tak faham apa dan siapa yang sebenarnya sedang ia hadapi, suami atau anak-anaknya. Terkadang terfikir pula untuk melaporkan perbuatan suaminya kepada atasannya karena sebagai pejabat tinggi suaminya jelas melanggar PP 10, tetapi lagi-lagi, sikap-anak-anaknya itu lebih menyita perhatiannya.

Kasus ini sebenarnya adalah problem yang berhubungan dengan kodrat kejiwaan manusia. Ibu itu mengalami konflik interest, fikiran dan perasaannya tidak sejalan, qalb, nafs, akal dan hati nuraninya tidak sedang dalam kondisi harmoni sehingga ia merasa tidak mampu membuat keputusan. Ia juga kesulitan menempatkan dirinya di antara suami, anak-anak dan Alloh SWT, tetapi ia sadar bahwa ada kekuatan yang bisa membantunya tetapi belum ditemukan. Ia sadar, bahwa sebagai muslimah ia kurang taat dalam menjalankan agama, tetapi ia berharap bahwa agama akan membantu membimbingnya dalam membuat keputusan atas apa yang akan dilakukan, sehingga pertanyaannya kepada saya juga sudah definitif, yaitu apa yang harus dilakukan menurut tuntunan agama Islam.

Karena ibu itu sudah siap menerima tuntunan agama, maka terapi psikologis yang saya sampaikan juga merupakan paket yang konkrit. Kepadanya saya menyampaikan bahwa agama memberikan kebebasan kepada ibu untuk memilih.

Pilihan pertama, labrak saja isteri muda itu dan laporkan kepada atasannya supaya kapok, saran saya. Akan tetapi ibu harus bisa membayangkan bahwa barangkali untuk kali ini suami ibu tidak akan mengalah. Jika kemudian suami ibu ditindak oleh atasan karena melanggar PP 10, maka di mata suami, ibu adalah biang keladi dari kegagalan karirnya, dan ia akan simpati kepada isteri muda yang di labrak oleh ibu, dan dalam persepsinya isteri mudanya itu teraniaya (mazlum) sementara ibu dianggap sebagai penganiaya (zalim). Pilihan pertama ini biasanya dilakukan oleh wanita kebanyakan, bukan wanita pilihan, langkah yang manusiawi, dapat dimengerti tetapi hasilnya merugikan diri sendiri.

2. Pilihan yang kedua, ibu bisa sabar menunggu sampai isteri muda itu melahirkan, dan setelah itu tagih janji suami ibu untuk menceraikannya. Langkah ini juga dapat difahami, rasional dan manusiawi, tetapi belum mengandung nuansa keindahan.

3. Pilihan ketiga, adalah pilihan yang biasanya dilakukan oleh wanita utama. Jika ibu memilih langkah ini, maka ibu harus memandang isteri muda suami ibu bukan hanya sebagai madu, tetapi sebagai hamba Alloh yang harus dihormati dan dibantu, sebagai makhluk yang membutuhkan pertolongan orang lain, seperti ibu juga sedang membutuhkan pertolongan orang lain. Dalam kehidupan, wanita sering tidak bisa menentukan jalan hidupnya, tetapi harus tunduk kepada tangan kokoh sistem sosial yang terkadang tidak menyenangkan.

Coba ibu renungkan, apakah wanita yang sekarang menjadi madu ibu itu senang bekerja di panti pijat, dan kira-kira apa yang akan dia lakukan jika dicerai oleh suami ibu. Untuk bisa menjadi wanita utama, ibu harus berpihak kepada wanita, peduli kepada nasib wanita. Dalam menghadapi masalah ibu, ibu dapat melakukan suatu bargaining dengan suami, misalnya nanti setelah wanita madu anda itu melahirkan, ibu bisa berkata kepada suami. Sudahlah pak, biar dia tidak usah dicerai, saya kasihan kepada masa depan dia, sebab jika dicerai hampir dapat dipastikan ia akan kembali ke panti pijat, dan selanjutnya akan ada lagi wanita lain yang menderita karena suaminya tergoda kepadanya. Akan tetapi saya punya permintaan, yaitu sejak hari ini Bapak harus taat beragama, rajin menjalankan solat, dan jauhi segala macam kemaksiatan. Doakan agar saya mampu hidup lurus dan kuat menghadapi realita ini.

Ibu, kata saya, pilihan ke tiga ini pilihan wanita utama, oleh karena itu berat dan tidak semua wanita dapat melakukannya, karena manusia itu lemah. Alloh SWT juga tahu bahwa wanita dan juga, manusia pada umumnya memiliki kelemahan, oleh karena kepada orang yang sedang mengalami persoalan seperti ibu, agama mengajarkan doa-doa untuk memperkuat diri.

Mendengar kata-kata terakhir tadi, ibu tersebut tersentak dan dengan sangat antausias minta diajarkan doa yang saya maksudkan. Rupanya kata kunci doa, menggetarkan batin ibu itu untuk berani menerima kenyataan dan siap melakukan apa yang diangap baik menurut agama meskipun berat. Kepada ibu itu kemudian saya berikan teks doa yang sebenarnya doa umum, tetapi karena kehausannya kepada hubungan dengan Alloh SWT maka doa itu dianggapnya sebagai doa khusus untuk dia sendiri.

Ketika saya tanyakan apakah ibu bisa membaca Qur'an, ia menyatakan bisa sekedarnya, ketika saya tanyakan apakah ibu suka menjalankan salat tahajjud, ibu itu mengatakan. alhamdulillah setelah ada kasus ini saya sekarang sudah kenal salat tahajud, padahal dulu boro-boro tahajud, salat lima waktu saja sering tertinggal.

Mendengar pengakuannya itu maka secara langsung saya tanamkan logika baru. 'Nah bu, sebenarnya dari dulu Alloh SWT menginginkan agar ibu menjadi manusia yang dekat dengan Nya, tapi ibu dipanggil-panggil tak mau mendengar, ibu sibuk urusan sendiri saja. Sekarang Tuhan membentak ibu dengan kasus ini, dan ibu baru mendengar panggilan Tuhan. Jadi kasus ini adalah rahmat Alloh SWT yang diberikan kepada ibu dalam bentuk tamparan agar ibu menjadi orang yang dekat dengan Nya. Jika manusia sudah merasa dekat dengan Nya, maka selain Alloh. misalnya suami, anak, jabatan dan harta menjadi urutan berikutnya. Saya yakin ibu mampu menghadapi cobaan ini, dan ibu insya Alloh akan lulus, menjadi hamba Alloh yang dekat dengan Nya, menolong seorang wanita, membuat suami rajin beribadat dan anak-anak ibu akan tetap bersama ibu.

alhamdulillah, beberapa bulan kemudian, terakhir saya mendapatkan kabar bahwa suaminya bisa berkumpul kembali dengan Sang Ibu dan anak-anaknya. Ibu itu akhirnya menerima dengan ikhlas keberadaan 'madu'nya yang baru melahirkan bahkan juga turut merawat anak dan istri 'muda' suaminya. Katanya, 'Alloh melimpahkan anugerah didalam hidup saya dengan berbagai masalah. Saya menerima ikhlas dan saya bahagia bisa membuat semua pihak menjadi lebih baik. alhamdulillah..terima kasih Mas Agus. Tuturnya dipenghujung suratnya. begitulah seorang ibu yang mengubah dirinya dari bara api menjadi air yang menyejukkan bagi keluarga tercintanya.

Monday, June 29, 2009

Temukan Kegembiraan Anda!

Setiap kali pulang kerja, bersama Hana dan istri saya suka menjemput sore hari dengan berjalan-jalan keliling kampung. Menikmati indahnya sekeliling. Bertegur sapa dengan setiap orang yang bertemu dijalan. Terkadang orang yang tidak kami kenalpun, kami suka menyapanya. Bila berjalan jauh terasa melelahkan kami berhenti. Menikmati kelapa muda atau duduk ditaman sambil maen ayunan bersama Hana. begitulah menanamkan kegembiraan di dalam pikiran kita. Mensyukuri kehidupan dengan suka cita.

Kedamaian, keindahan dan kemeriahan dengan melakukan aktifitas berjalan kaki merupakan kegiatan yang paling sederhana, murah dan meriah. Tujuan utama menggali kegembiraan. Tidak harus ke mall atau ke tempat wisata yang harus mengeluarkan uang. kegembiraan itu terletak ada di dalam pikiran kita. Bila didalam pikiran menemukan kegembiraannya aktifitas apapun terasa menyenangkan, Makan enak, tidurpun nyenyak.

Seringkali saya, Hana dan istri melakukan aktifitas bersama. Meminimalisir kegiatan menonton TV. Membaca koran. Bahkan saya menghindari dan tidak memperkenalkan game online untuk Hana dan anak-anak Amalia. Sebab sekali menanamkan game didalam pikiran anak-anak berarti menjerumuskan mereka. Pernah ada seorang ibu datang ke Rumah Amalia dengan menangis tersedu-sedu karena anaknya tidak mau sekolah, tidak mau mandi bahkan susah makan. maunya setiap hari didepan layar monitor untuk maen Game online. Bila sudah tertanam game online pada pikiran anak-anak, lantas bagaimana anak-anak bisa menemukan keindahan dalam hidupnya?

Pikiran-pikran kita banyak dipenuhi dengan lembaran berita dari koran, TV, internet tentang perselingkuhan, politik penyebar kebencian, fitnah, Skandal seperti sampah yang menjejal didalam kepala kita. Jika kita menjadikan pikiran kita sebagai tempat sampah dengan berbagai sampah-sampah informasi maka kita tidak akan pernah menemukan kegembiraan dalam hidup kita, kedamaian alam, indahnya matahari pagi, bertegur sapa dengan orang-orang disekitar kita dan nikmatnya menjemput sore hari.

Sebaiknya hindarkanlah menjadikan pikiran-pikiran kita menjadi tempat sampah, maka kita akan menemukan kegembiraan hidup!

Air Matanya Telah Mengering

Air matanya sudah lama tidak bisa mengalir. Sejak kehidupan yang dialaminya kekecewaan yang selalu didapatkan. Adiknya yang dibantu malah merebut pasarnya. istri yang dicintainya meninggalkannya justru ditengah dirinya terpuruk. untungnya anak-anaknya masih setia menemaninya. Mas Izul suka sekali berkumpul dengan anak-anak Amalia. terkadang hari jumat ikut yasinan bersama kami. Katanya, air mata saya telah lama mengering. Hanya kepada Sang Khaliqlah saya memohon pertolongan.

Mas Izul begitu kuat dan tegar. Bila bukan karena keyakinannya dia sudah jatuh tersungkur. Malam itu Mas Izul bercerita. Dirinya jatuh sakit. Dari hasil pemeriksaan ternyata dia mengalami pembengkakan empedu dan harus dirawat dirumah sakit. untuk dirawat. Ditengah ketidak berdayaannya, dengan berbaring. Saya melaksanakan sholat fardhu. dilanjutkan dengan berzikir dan berdoa. Memohon kepada Alloh SWT agar diberikan kesempatan untuk menebus semua dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Saya tidak bisa meninggalkan warisan apapun kepada anak-anak. Saya hanya memohon diperkenankan oleh Alloh SWT memberikan waktu agar saya bisa memperbaiki kesalahan-kesalahn saya. Agar bisa membimbing anak-anak.

Sungguh luar biasa. Setelah berdoa tubuh saya agak pulih. Namun kesembuhannya harus ditebusnya dengan menghadapi tiga kali pisau bedah para dokter. Operasi demi operasi harus dilaluinya. Sampai kemudian Mas Izul sembuh total. Malam itu Mas Izul menangis dengan derai air mata. katanya sungguh nikmat orang bisa menangis. dirinya sudah lupa kapan terakhir menangis. Air matanya wujud kebahagiaan dirinya. 'Air mata ini sebagai tanda saya tidak pernah menyesali penderitaan yang telah saya lalui. Cobaan itu justru membuat saya semakin nikmat menghadapi hidup. Sesungguhnya Alloh SWT tidak memberikan cobaan diluar batas kemampuan hambaNya untuk menerima.'

'Untuk saya Alloh SWT memberi cobaan, tetapi didalamnya Alloh juga memberikan hikmah yang teramat besar agar saya memahami makna hidup ini. Tutur Mas Izul dalam kebahagiaan itu. Malam itu Mas Izul sudah bisa menangis lagi setelah lama air matanya mengering dalam duka. Dalam nestapa banyak karunia hidup yang diterima dari Sang Khaliq. Suara anak-anak Amalia terdengar nyaring membaca surat Yaasin. Dan kami memanjatkan doa kebahagiaan untuk semua insan.

Sunday, June 28, 2009

Power of Peace

Power of Peace adalah tema program on air di Radio Bahana, biasanya saya sebagai narasumber program 'Power of Peace.' setiap Rabu malam. Selain bekerja di Mubarok Institute, mengajar anak-anak Amalia, juga sesekali sebagai narasumber di sebuah seminar maupun pelatihan merupakan kegiatan dalam keseharian yang saya jalani. Namun kegiatan sebagai narasumber program radio merupakan kebahagiaan tersendiri buat saya. Selain bisa berbagi ilmu namun juga bisa belajar banyak kearifan dari orang lain.

Pernah suatu ketika pada program 'Power of Peace' mengambil tema Keajaiban Hidup. Tak lama kemudian ada salah satu pendengar setia Radio Bahana yang menelpon saya menanyakan alamat rumah. Ternyata setelah kami berbincang Sang Bapak mengidap penyakit kanker darah. Katanya setelah medengar program acara 'Power of Peace' membuat hidupnya lebih bersemangat. Sakitnya membukakan pintu pencerahan untuk lebih bersemangat berbuat baik kepada orang-orang disekelilingnya.

Semua pertanyaan sangat menarik. tentang makna hidup. Bagaimana cara hidup berbahagia, ada juga salah seorang penelpon yang bertanya, 'Mas Agus Syafii, saya seorang ayah yang hidup bahagia dengan istri yang cantik dan dua putri yang mungil, tetapi saya telah berselingkuh dan istri saya tidak tahu. apakah itu salah mas agus?' Saya katakan pada sang penelpon jika perbuatan itu tidak salah, bapak pasti tidak akan menelpon saya.

Banyak orang yang bertanya seperti itu. Mereka tahu bahwa perbuatan itu salah namun dengan bertanya kepada narasumber agar mendapatkan pembenaran terhadap apa yang dilakukan. Kita tahu perbuatan yang benar dan perbuatan yang salah. Sekalipun tanpa bertanya kepada orang lain. Kita hanya membutuhkan pembenaran dari sikap kita.

Itulah Power of Peace bagaikan telaga ditengah padang pasir, tempat singgah masyarakat perkotaan ditengah kemacetan yang haus mencari spiritualitas. Jangan lupa untuk selalu mendengarkan Radio Bahana ya..101.8 FM Jakarta

Menunggu Bus Lewat

Setiap kali menunggu bus dalam keadaan buru-buru. Bus yang ditunggunya lama banget. Hati suka bicara sendiri. 'Lama banget ya..kok nggak lewat-lewat.' Namun bila tidak sedang menunggu bus yang kita cari. Bus yang kita cari malah sering lewat. Biasanya agar mendapatkan bus, saya berhenti sejenak. menikmati sarapan pagi dengan minum secangkir teh sambil menyantap pisang goreng. Menghirup udara pagi. Memandangi mentari pagi. sambil tidak terlalu berharap bus akan lewat. Busnya justru seolah menghampiri saya.

Kata kuncinya berharap. Berharap terhadap apapun secara berlebihan selalu membuat hati kita menjadi mudah kecewa. Suami yang berharap terhadap istrinya tampil sempurna, selalu saja suaminya kecewa karena bukan istrinya yang membuat dirinya kecewa tetapi lebih karena harapannya yang berlebihan membuat sang suami menjadi mudah kecewa. Demikian halnya orang tua yang berharap anak bisa tampil hebat. Bukan kehebatan anaknya yang didapat malah kekecewaan yang didapat oleh orang tuanya. Begitu pula ada seorang pemuda yang berharap menjadi pengusaha sukses melahap buku apapun agar menjadikan dirinya pengusaha sukses malah berujung pada kekecewaan..

Disaat kita berada dipersimpangan jalan. Masalah menumpuk. Kepala pusing. Tak tahu yang harus dilakukan. Sebaiknya berhentilah sejenak. Nikmati musik. Minumlah secangkir teh. Hiruplah segarnya udara pagi. Biasanya disaat kita tak berharap apapun. Solusi malah datang menghampiri. Jika memang itu sebuah solusi yang anda butuhkan. Silahkan gunakan solusi tersebut. Jika tidak, tunggulah akan ada solusi yang lain saatnya tiba.

Itulah yang terindah dalam hidup saya, menunggu bus lewat. Menunggu bus lewat menjadi teramat berarti didalam hidup saya. Banyak pelajaran yang saya bisa petik hikmahnya. Termasuk bagaimana caranya menyelesaikan masalah atau menemukan solusi. Ternyata hal itu sangat sederhana dan saya ingin membagikan untuk anda. Sesuatu yang indah akan datang pada hidup kita, asal kita tetap sabar. Biasanya dia datang justru pada saat tak disangka-sangka, ketika kita tidak memikirkannya.
AGUSSYAFII BLOG
2006
Proudly powered by : Blogger