Tuesday, August 05, 2008

Dengarkanlah! Nyanyian Hidup Yang Indah

Beberapa hari yang lalu Jakarta turun hujan. Mengingatkan saya waktu kecil, setiap turun hujan ibu selalu mengatakan, "dengarkan tetes air hujan itu seperti nyanyian" Nyanyian hujan bagaikan nyanyian hidup yang indah. Terdengar sangat merdu berkelana dalam imajinasi. Seolah saya dalam petualangan dongeng.

Ternyata, setiap hari kita senantiasa berkata-kata, setiap pesan selalu berpacu dengan kecepatan. Deru teknologi dan papan reklame tidak pernah memberikan ruang tata kota untuk sejenak merenung ke dalam diri.

kemanusiaan kita dipenuhi oleh budaya konsumtif dengan satu semboyan "terlahir untuk membeli" Kita mampu berkata namun kita tidak mampu mendengar. Banyak suara, namun kita tidak menangkap pesan.

Pesan ibu untuk mendengarkan terasa sangat dalam maknanya. Ditengah gerus kehidupan modernitas perkotaan aktifitas mendengarkan menjadi barang mewah. Mendengarkan berarti melangkah menuju kesadaran, menuju pemahaman "kenalilah dirimu." Mengenali diri bagai tetesan air hujan yang lenyap dalam lautan. Tetesan air hujan tidak pernah berharap apapun dari petani yang selalu berdoa meminta turun hujan. Sebagaimana kita hidup untuk diri kita sendiri setelah itu untuk memberi oranglain tanpa berharap apapun.

Itulah nyanyian hidup kita yang indah..!

No comments:

Hati Gelap Karena Perselingkuhan

Perselingkuhan adalah faktor penyebab kehancuran rumah tangga, perselingkuhan itu juga hampir menjadi penyebab kehancuran per...