Hati Yang Teriris
Seminggu yang lalu suaminya bekerja sebagai penggali sumur telah meninggal dunia. Tanah makamnya masih basah terguyur hujan semalam. Sehari sebelumnya Mulyati datang ke rumah. Istri saya menemuinya. Mulyati bertutur sudah dua hari ini dirinya tidak memasak karena memang tidak ada yang hendak dimasak. Bergegas istri saya mengambilkan nasi, sayur dan lauk pauk. Terdengar suara anak-anak yang sedang menangis. Ucapan terima kasih meluncur begitu saja. Air mata itu disekanya. Beberapa lembar puluhan ribu diselipkan ditangannya. Perempuan muda itu pergi meninggalkan begitu saja. Hati bagaikan terasa di iris. Perih, pedih tak terungkapkan.
Tak lama kemudian ketika saya bersama Mona, Lita, Lusi, Atun dan Kak Rani sedang mempersiapkan kotak nasi untuk anak-anak. Daging Qurban sudah dimasak menjadi gule dan sate plus nasi putih dalam tempat kotak nasi itu. istri saya datang dan mengatakan, 'Mas, buat Mul dikasih duluan ya..' 'Iya, anak-anak itu biarkan makan bareng, nanti kita siapkan untuk yang dibawa pulang, 'ucap saya padanya.
Setelah semuanya terbagikan, kami makan bersama. Sementara ada juga yang pamit pulang. Terlihat 4 anak-anak perempuan itu makan dengan lahapnya. Ibunya menyuapi anaknya paling kecil. Air matanya bercucuran. Wajahnya tidak terawat, terlihat lebih tua dari usianya. Terdengar celoteh anak-anak itu. 'Enak ya..'katanya. 'Iya, apa lagi satenya, gurih,' jawab yang lainnya. Ibunya tersenyum tak mampu menyembunyikan hatinya yang teriris dalam kepedihan, duka lara ditinggal suaminya yang tercinta dengan merawat 4 anak perempuan yang masih kecil. 'Ya Alloh, Ya Rabb..Tabahkan hatinya,' ucap saya dalam hati.
----
0 Response to "Hati Yang Teriris"
Post a Comment