Yuk, wujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah

Thursday, March 11, 2010

Kebahagiaan Yang Terindah

Malam itu seorang Ibu paruh baya bersama dua anaknya hadir di Rumah Amalia. Selain ingin berbagi rizki dan berdoa bersama anak-anak Amalia, 'doa yang indah pada anak-anak Amalia membawa keberkahan dan ketentraman hati untuk kami sekeluarga..' tutur beliau.

Tiap malam Jumat di Rumah Amalia biasanya membaca Yaasin bersama. Beliau dan kedua putranya ikut membaca Yasin. AIr matanya berlinang. memanjatkan untuk suaminya yang tercinta. Hampir seumur hidupnya dihabiskan untuk mengabdi kepada suaminya.

Kesuksesan yang diraih suaminya membuat hidup keluarga menjadi lebih baik. Anak-anak yang ke sekolah jalan kaki menjadi diantar pakai mobil. Rumah yang dulu panas kemudian ada pendingin. Kebutuhan hidup yang serba sulit menjadi tercukupi bahkan melimpah. 'Hidup kami bahagia Mas..'tutur beliau.

Dipuncak kariernya sang suami terlihat lebih sayang kepada keluarga. Sampai kemudian dikejutkan oleh kenyataan yang berbeda. Suaminya meninggalkan rumah bersama perempuan lain yang justru dikenalnya. Hatinya hancur karena harus banting tulang untuk menghidupi anak-anaknya. 'Hanya pada Allahlah saya memohon dan berserah diri..' ungkap beliau. Sampai batas titik nadir Allah Subhanahu wa Ta'ala menguji dirinya.

Bertahun-tahun suami pergi meninggalkan dirinya dan anak2nya. Tiba-tiba suaminya datang kembali ke rumah dengan membawa dua anak dari istri mudanya. Suaminya bercerita bahwa istri mudanya telah meninggal dunia, usahanya mengalami kebangkrutan dan menjadi pengangguran. Dipeluk suaminya dengan tertumpah semua air mata. Didekap erat tubuh suaminya, dia bersedih sekaligus gembira karena suaminya telah kembali. Air matanya tak terbendung. Seolah penderitaan yang dialami selama ini tak sebanding dengan penderitaan yang dialami oleh sang suami.

'Rumah menjadi ramai karena anggota keluarga bertambah, biasa kami bertiga sekarang menjadi berenam,' kata beliau. 'Saya mengajarkan kepada anak-anak bagaimana mengubah benci menjadi cinta karena begitulah Nabi Muhammad mengajarkan kepada kita sampai akhirnya anak-anak saya menerima dengan baik, saudara-saudaranya dari istri muda ayahnya. Mereka berkumpul dan bermain bagai saudara sekandung.' tutur sang Ibu terlihat wajahnya yang telah termakan usia.

Setiap hari suaminya pergi mencari nafkah, berangkat pagi sampai pulang malam. Pada suatu hari suaminya sakit terkena Bronchitis dan muntah darah. Dua bulan kemudian sang suami meninggal dunia dipangkuannya. Dielus dan dibelai rambut sang suami yang telah memutih. Meninggal dengan senyuman dengan kasih sayang seorang istri. Semua anak-anaknya menangisi kepergian ayahnya. Ayah yang dicintai oleh anak-anak dan istrinya.

Malam itu beliau berpesan kepada saya, 'Mas Agus, silahkan tulis kisah saya agar bisa membantu mereka yang mengalami peristiwa seperti saya menjadi tegar dan kuat. Puluhan tahun saya benci, marah dan kesal namun saya bisa merubah menjadi cinta dan kasih sayang kepada orang yang telah menyakiti hati saya karena tiada kenal lelah saya berdoa memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar keluarga kami diberkahi dan Allah membuktikan janjiNya kepada kami, memberikan kami dan keluarga sebuah kebahagiaan yang terindah.' Ucap beliau dengan air mata yang bercucuran. Subhnallah...

---
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS Ath-Thalaq 4).

Anonymous Anonymous said.. :

MasyaAllah..sungguh saya terkesima dengan cerita ini..Ya Allah..semoga saya diberkati dengan kebahagiaan tulus sebegini. Aminnn.

Puan Ida..dari M'sia

5:02 AM  
Blogger ice said.. :

subhanallah, memang kesabaran itu tak bertepi...

6:34 AM  

Post a Comment

Home

AGUSSYAFII BLOG
2006
Proudly powered by : Blogger