Merindukan Ayah Dan Ibu
Kepergian ayah dan ibunya tidak membuat penderitaannya berakhir, seminggu ibu meninggal, paman dan tante dari ayah mendatangi rumahnya. Mereka membicarakan harta peninggalan ayah dan ibu, "Rumah peninggalan ayah dan ibumu adalah hak kami, kamu tidak memiliki hak sama sekali atas rumah ini. Jadi, kami minta dalam seminggu ini tinggalkan rumah ini karena akan langsung dijual." ujar tante. Ucapan itu membuat ia terhenyak, tak terasa ia menjerit, air matanya meleleh. "Kalau rumah ini dijual, aku harus tinggal dimana?" Paman menjawab tanpa perasaan bersalah sedikitpun. "Ya, terserah kamu, mau tinggal dimana. itu bukan urusan kami." Ia tidak bisa mengatakan apapun. Hatinya terasa pedih, tubuhnya lemah tak berdaya. Menangis tersedu-sedu. Paman dan tantenya pergi meninggal dirinya begitu saja. Keesokan harinya tanpa harus menunggu seminggu, ia sudah meninggalkan rumah. Kesedihan terasa begitu menyakitkan karena begitu banyak kenangan manis di rumah itu. Ia hanya membawa album berisi poto-poto dengan ayah dan ibunya serta baju secukupnya. Pergi ke rumah teman karibnya. Untunglah semua cobaan itu bisa dilaluinya. Keyakinan bahwa semua itu adalah kehendak Allah yang harus dilaluinya membuat dirinya menjadi kuat dan sabar. Ibadah sholat fardhu tidak pernah ditinggalkan, memanjatkan doa kepada Allah untuk ayah dan ibu. Sampai kemudian mendapatkan pekerjaan dan sekarang sudah bisa mengontrak rumah sendiri. Subhanallah.
0 Response to "Merindukan Ayah Dan Ibu"
Post a Comment