Monday, September 21, 2009

Makna Pendidikan Kita

Disaat Hari Raya Idul Fitri ada seorang turis Amerika sedang berjalan-jalan di kota Jakarta, turis Amerika ini belajar bahasa Indonesia nampak sedang kebingungan. Mengapa orang Indonesia selalu menjawab pertanyaan itu berbeda-beda seperti yoi, iya dan ya begitulah. Lalu bule itu bertanya kepada salah seorang polisi lalu lintas yang berada diperempatan jalan raya.

'Pak Polisi kenapa ya orang Indonesia selalu menjawab dengan yoi, iya dan ya begitulah?' tanya Turis Amerika.

Pak Polisi menjelaskan bahwa bila orang tidak berpendidikan maka menjawabnya 'yoi,' bila orangnya sekolah SMA maka menjawab 'iya.' dan bila orangnya sarjana maka menjawabnya 'ya begitulah.' Kata Pak Polisi menjelaskannya penuh kebanggaan dan kepercayaan diri.

Turis itu mengangguk-ngangguk tanda mengerti sambil berkata, 'Ooo..begitu ya?'

Terdengar suara Pak Polisi itu menjawab, 'Yoi..'

Mohon maaf buat Pak Polisi untuk tidak tersinggung dengan cerita ini, cerita ini bermaksud menjelaskan bahwa pendidikan pada dasarnya adalah pembiasaan. Kebiasaan-kebiasaan membangun pribadi seseorang. Bila pikiran-pikiran kita terbiasa dengan pola meng'copy' pikiran orang lain maka yang tercermin bukanlah diri kita yang sebenarnya. Melainkan wajah kita sebagai tukang 'poto copy.'

Ada seorang teman bertanya, 'Apakah karena kita beranggapan pendidikan sekolah di Indonesia buruk, maka kita perlu mengadopsi pendidikan sistem Amerika atau sistem Eropa?'

Saya menjawabnya 'Tidak,' Sistem apapun bila hanya membuat kita menjadi 'pengekor ' maka itu wajah terburuk kita. gedung, guru, kepala sekolah, perpustakaan, labolatorium, kurikulum semuanya adalah perangkat sekunder. Perangkat primernya adalah terletak pada membangkitkan motvasi agar setiap siswa/setiap orang mau belajar dan mencari. Dengan meletakkan ilmu lebih ditempatkan sebagai pertanyaan terbuka daripada sebuah jawaban yang tertutup. Maka kita membiasakan mendidik anak-anak kita dengan menempatkan diri kita sebagai tempat bertanya, Kebiasaan terbuka, egaliter memang beresiko karena kita, para orang tua & guru juga harus terus belajar untuk update informasi maupun belajar lebih banyak sabar karena jawaban kita banyak dibantah oleh anak-anak kita dan mereka berani menyalahkan bila memang salah. Hal itu lebih baik bagi anak-anak kita membangun dunianya sendiri dengan daya kritis tanpa harus menjadi peng'copy' atau pengekor dari pendapat orang lain yang lagi trend.

Sudah saatnya kita menghapus wajah kita dan wajah anak-anak kita sebagai wajah tukang poto copy, mari kita ajarkan anak-anak kita punya kepercayaan diri penuh kebanggaan terhadap pendapatnya sendiri, dunianya sendiri dan wajahnya sendiri. Itulah makna pendidikan bagi kita.

No comments:

Hati Gelap Karena Perselingkuhan

Perselingkuhan adalah faktor penyebab kehancuran rumah tangga, perselingkuhan itu juga hampir menjadi penyebab kehancuran per...