Harapan Itu Bersemi Kembali
Hati terpuruk, perih terluka, air mata mengalir setiap malam ketika bermunajat kepada Allah, resah, rindu galau menyatu dalam kepedihan yang dirasakan. Teman karibnya mengingatkan, "Sampai kapan ukhti mau terus seperti itu?" Malah disambut dengan tangisan yang tak terbendung lagi. Menyerah pasrah kepada Allah hanyalah pilihan yang dimilikinya. Kesibukan kerja jadi pelipur lara dan juga hadir di Rumah Amalia membuatnya tenteram dan menyejukkan. Senyuman dan sapaan anak-anak telah menguatkan hatinya, Rumah Amalia bagai ruang belajar untuk mengerti makna keikhlasan menjalani kehidupan adalah sebuah garis ketetapan Allah. Rasa pahit dan getir dalam mengarungi samudra kehidupan tidak dirasakannya sendirian bahkan ada yang lebih menderita daripada dirinya, hal itu telah membuatnya tersadar agar selalu lebih kuat dan bersabar dalam hidup ini. Sejak itu senyumnya telah mengembang kembali, Allah telah mengirimkan ikhwan untuk mengisi lubuk hatinya. Harapan meraih impian mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah segera ditunaikan. Subhanallah.
0 Response to "Harapan Itu Bersemi Kembali"
Post a Comment