Yuk, wujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah

Tuesday, March 10, 2009

Insan Mulia Dalam Konstruksi Yang Terbaik

Diskusi dengan anak-anak Pengajian Amalia selalu saja menarik, pertanyaan, "Kak agus, kenapa Allah SWT menciptakan dua telinga? kenapa tidak satu? hidung kita kenapa lubangnya dua, kenapa tidak tiga? pertanyaan-pertanyaan seperti ini hampir selalu saja saya temui setiap harinya.

Alquran juga menyebut bahwa Allah SWT telah menciptakan insan dalam kondisi mulia dengan konstruksi yang terbaik (laqad khalaqna al insane fi ahsani taqwim). Sebagian mufasir menyebut bentuk tubuh manusia sebagai tafsir dari ahsani taqwim (Q / 95:4), tetapi, sebenarnya yang lebih tepat, tafsir ahsani taqwim adalah struktur psikologis yang paling prima, karena ayat itu menyebut insan, dan bukan menyebut basyar. Sebagaimana tersebut di muka insan adalah makhluk psikologis, sementara bentuk tubuh yang indah merupakan karakteristik dari basyar.

Dalam Alquran terdapat terma al khair dan fahisyah. Al khair mengandung arti kebaikan normatif yang datangnya dari Allah SWT dan bersifat universal, seperti keadilan, kejujuran, berbakti kepada orang tua, menolong yang lemah. Pandangan ini secara fitri dimiliki oleh semua manusia sepanjang zaman, bahkan pada masyarakat primitif yang belum mengenal pendidikan. Sedangkan bagaimana cara menegakkan keadilan dan kejujuran, atau bagaimana caranya berbakti kepada orang tua, atau bagaimana caranya membela orang lemah, tidak lagi masuk kategori al khoir, tetapi masuk apa yang ada dalam Alquran disebut al ma’ruf, ya’muruna bi al ma’ruf (Q / 3:104).

Ma’ruf adalah sesuatu yang secara sosial dipandang memiliki kepantasan. Secara lughawi, al ma’ruf artinya sesuatu yang diketahui, tetapi kemudian diartikan sebagai kebaikan; mengandung makna bahwa pada dasarnya secara fitri manusia mengetahui nilai-nilai kepantasan, nilai-nilai keputusan, yang secara sosial dipandang sebagai kebaikan. Sedangkan fahisyah mengandung arti sesuatu yang secara universal dipandang sebagai kekejian. Dalam Alquran (Q / 4:15) fahisyah sering digunakan untuk menyebut perbuatan zina.

Artinya secara fitri semua manusia sepanjang sejarah kemanusiaan pada dasarnya mengerti bahwa hubungan seks diluar nikah (zina) adalah perbuatan keji. Para pezina profesional pun tersinggung jika istrinya dizinahi orang lain karena secara fitri zina adalah fahisyah, sesuatu yang jelas kekejiannya. Berbeda dengan fahisyah adalah munkar. Terma munkar disebut Alquran (wayanhauna’an al munkar) untuk menyebut perbuatan jahat yang diperdebatkan. Perbuatan munkar adalah kejahatan yang dilakukan sebagai wujud dari kecerdasan seseorang sehingga kejahatannya bisa disembunyikan atau dilapisi dengan logika, seakan perbuatan itu tidak jahat. Munkar adalah prestasi negatif dari kecerdikan. Mark up atau komisi adalah contoh perbuatan munkar, tidak nampak nyata kejahatannya, terhindar dari pasal-pasal hukum meskipun berdampak sangat buruk bagi kehidupan masyarakat.

Dalam surat as Syams ayat 9-10 tersebut di atas disebutkan bahwa sungguh beruntung manusia yang bisa memelihara kesucian jiwanya dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. Ayat ini mengandung arti bahwa desain jiwa yang sempurna dan suci ini dapat ditingkatkan hingga menjadi suci secara aktual-disebut an nafs al muthma’innah-dan bisa juga terprosok kepada kehinaan sehingga menjadi kotor dan hina; disebut an nafs al ammarah. Jarak antara an nafs al muhma’innah dan an nafs al’ammarah itulah medan jati diri insan dimana terkadang berada dalam suasana psikologi lupa, terkadang mesra, dan terkadang bergejolak.

Desain awal jiwa manusia berikut berbagai karakteristiknya merupakan konsep baku dan universal yang diciptakan Allah SWT. Allah SWT menciptakan manusia bukan tanpa tujuan. Kerumitan dan kesempurnaan jiwa (dan raga) manusia sebagai makhluk menggambarkan keagungan Sang Pencipta. Semakin diteliti secara empirik akan semakin diketahui bahwa medan yang belum dikatahui justru semakin lebar. Perkembangan teori-teori psikologi, misalnya, dari teori psikoanalisa hingga psikologi humanistik menggambarkan bagimana manusia melakukan trial and error dalam merumuskan konsepsi manusia berdasarkan temuan empirik. Manusia bagaikan kumpulan orang buta yang berusaha merumuskan karakreristik gajah berdasarkan rabaan tangan mereka.

Wacana kajian kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual mengisyaratkan betapa banyaknya rahasia desain fitrah manusia yang hingga kini belum ditemukan secara empirik. Memang dalam Islam, manusia dipandang sebagai tajalli Tuhan, sebagai perwujudan dari kebesaran Sang Pencipta. Manusia juga disebut sebagai mikrokosmos, sebagai miniatur alam semesta. Jika alam semesta bisa dipelajari hukum-hukumnya hingga Dinas Meterologi dan Geofisika bisa meramalkan kapan turun hujan, dan astronomi bahkan bisa meramalkan secara akurat kapan dan dimana terjadi gerhana total, demikian juga hukum-hukum (sunnatullah) yang berlaku pada jiwa manusia.

Tingkat pemahaman manusia terhadap anatomi manusia searti dengan kemampuannya memahami Sang Pencipta. Barang siapa bisa mengenal siapa dirinya, ia akan mengenal siapa Tuhannya, man’arafa nafsahu faqad’arafa robbahu; demikian kata bijak yang sudah dikenal sejak zaman Plato. Apa pun kata teori manusia, fitrah manusia, seperti yang disebut Alquran tidak berubah (Q / 30:30).

Secara umum fitrah sebagai potensi psikologis seperti yang disebutkan Alquran hanya disebut sebagai kemampuan memahami keburukan dan kebaikan. Akan tetapi, sesuai dengan kenyataan kehidupan bahwa manusia memang dipersiapkan Allah SWT untuk mengarungi kehidupan sebagai hamba, sebagai khalifah, sebagai makhluk sosial, sebagai makhluk yang berpasangan, sebagai makhluk yang unik, maka, dalam potensi awal itu niscaya sudah pula dipersiapkan oleh Sang Pencipta segala subpotensi yang diperlukan ketika manusia hidup secara aktual sebagai manusia di tengah masyarakat manusia. Misalnya ketika jatuh cinta, menghadapi ancaman, ketika bersaing, ketika menyadari kemampuannya, ketika menyadari kelemahannya, dan realitas lainnya.

Blogger Fendrri said.. :

Assalamu'alaikum
Salut sama militansi Pak Agus di dalam menulis. Tulisannya banyak sekali menginspirasi saya. Alhamdulillah.
Semoga bisa terus istiqamah di dalam menulis dan menyebar kebajikan.

Salam,
Fendrri

6:22 PM  

Post a Comment

Home

AGUSSYAFII BLOG
2006
Proudly powered by : Blogger